A/N : Langsung balas review, word udah terlalu banyak untuk chapter ini
Balas Review :
hanazawa kay :
Nggak-nggak! Aku nggak bakal deh tuh nyatuin si rambut pinky sama Sai..
Pokoknya Sai itu cinta ma Naru, ga bakal nyakitin dia.
Makasih reviewnya ^^
miszshanty05 :
OK! Makasih reviewnya!
key-kouru :
Mau M-Preg?
Wani piro~ #plaak!
Hehehe,, liat aja ntar ok!
Makasih reviewnya ^^/
laila. r. mubarok :
Kyuu itu selalu galau kok! Apalagi di chapter ini! #plakkk!
Makasih reviewnya ^^
kkhukhukhukhudattebayo :
Kalau keguguran salahin Sasu kenapa tuh mainnya kekencengan! XD
Tau dia hamil itu... um sebulan setelah jadian,.. XD #plakkk!
Makasih sudah review ^^
nasusay :
ItaKyuuShizu no comment
Tapi di sini Kyuu makin galau aja nih harus pilih yang mana~ #pllakkk!
Makasih sudah review ^^\
devilojoshi :
Lah,, Kyuubi kan nggak tau dia itu lagi kena rencana Itachi -_-"
Yang penting aku ini suka bikin chara dalam fanfikku itu pada galau bwahahaha XD #gampared!
Lagi diketik DID-nya~ #jduak!
Makasih sudah reciew ^^
sheren :
Jangankan Naru, aku juga yang ngetik atit ndili bacanya *kenapa jadi cadel?!*
Makasih reviewnya *,*
ainiadira :
Kamu suka NejiGaa ya? Di sini Neji Gaa sedikit kubanyakin nih! Silahkan nikmati! :D
Kamu tega amat bilang Naru kanker otak T,Ta
Makasih sudah review ^^
DL-Akevi II :
Lihat warning! XD
Neji memang aku nistakan, dia kan tokoh yang sangat jaga image di Naruto! Kali-kali lah~ iya nggak!
ItaKyuu makin rumit di sini ^^
Makasih reviewnya!
Kim Ri Ha :
No. Itu sedikit melenceng dari celana –eh rencana XD
makasih reviewnya!
dame dame no ko dame ku chan :
Hhheee.. ItaKyuu itu pasangan yang sangat demen aku siksa di setiap ficku XD
maKasih sudah review XD
Gunchan CacuNalu Polepel :
Huweeee! Gunchan! Di chapter ini Sakura juga nongol! hiks,,, nggak rela! *kenapa dimunculin!*
Untuk KyuuShizu ntu buat tambahan doang kok!
Makasih sudah review XD
onyx shappireSEA :
Iyoy dong! So pasti!
Untuk ItaKyuu mah sengaja ku bikin rumit di awal... XD
Makasih reviewnya! ^^
kinana :
Tenag, udah nggak WB lagi kok!
Nih, author-authornya baru pada apdet! Sama kayak aku XD
Makasih sudah review ^^
Uciha Tiffany :
Hieeeee! ItaKyuu nyebelin?! gomen TAT mereke memang bagian apesnya di cerita ini..
Untuk Naru masalahnya itu timbul di tengah-tengah jadi yah lama deh!
Makasih reviewnya! ^^
Indahyeojasparkyuelfsaranghae Kim Hyun Joong :
Iya, panjang dan kecew~ #plakkk!
Naruto sakit apa, liat warning aja !
Makasig reviewnya!
NiMin Shippers :
Makasih -/- jadi malu aku #plakkk! *Alay gila!*
Makasih reviewnya! ^^
Dee chan - tik :
Ok! Makasih reviewnya! ^^
Misa-Kun :
Jawabannya ada dichapter ini! Baca ya! makasih reviewnya! ^^
virgi. :
Hheehe.. iya dunT.. aku kan cantik! #plakkk! *PD gila!*
Makasih sudah review ^^
kang eun hwa :
Ok! Makasih reviewnya! ^^
Uzumaki Scout 36 :
Makasih semangatnya!
Liat warning aja, nanti kamu pasti tahu!
Makasih reviewnya! ^^
SasuNaru :
Nih! Baca ya! Makasih reviewnya! ^^
Kitsune Fuyuki :
Ok! Makasih reviewnya! ^^
Hakumi Uchiha :
Sudah dibales lewat PM.. makasih reviewnya!
Princess Love Naru Is Nay :
Jiah -_-"a
mending KyuuKaga XD #ditabok!
Makasih sudah review ^^
LadySaphireBlue :
Hhheee.. XD
tenang aja.. Ita mulai melancarkan serangannya kok di chapter ini!
Makasih reviewnya!
Let's Enjoyed!
Sasuke : 17 tahun
Naruto : 24 tahun
Itachi : 25 tahun
Kyuubi : 25 tahun
Neji : 17 tahun
Gaara : 19 tahun
Deidara : 24 tahun
Sasori : 25 tahun
Sakura : 17 tahun
Shukaku : 19 tahun
Shizune : 22 tahun
Minato : Terserah reader mau umurnya berapa ^^
Mikoto : Ini juga terserah readers ^^a
Kabuto : 28 tahun
Disclaimer : Masashi Kishimoto sama
Genre : Romance(?), Drama(?)
Rate : M artinya Mature buat dewasa, yang anak kecil kayak author dilarang masuk!
Pairing : SasuNaru, ItaKyuu
Slight : NejiGaa, SaiNaru.
Warning : Yaoi, Sho Ai, Lemon kurang hot, M-Preg, aneh, gaje, Typo dan kawan-kawan sebangsanya.
!DON'T LIKE DON'T READ!
But,
You can try to read and don't flame!
Sequel My Lovely Doctor
Uzumaki Kagari present My Lovely Actor
.
*##########*###########*##############*########### ####*###############*##########*
o.O. Kagari Hate The Real World.O.o
.
Seminggu sudah pemandangan baru di rumah sakit Konoha berlangsung, pemandangan yang hampir mirip dengan beberapa waktu yang lalu saat penghuni rumah sakit harus menyaksikan bagaimana nista sekaligus kasihannya sulung dari keluarga Uchiha harus merengek-rengek pada sulung Namikaze dengan berbagai macam bunga dan kata-kata manis namun tak mempannya.
Sekarang, selama seminggu ini terjadi hal yang sama namun sedikit berbeda. Yaitu dengan seseorang memberikan berbagai macam bunga, mengikuti kemana pun seorang pemuda berambut merah bata pergi, mengatakan berbagai macam gombalan yang nampak sangat tidak ada manjur-manjurnya pada pemuda itu.
Siapa lagi jika bukan Hyuuga Neji, yup! Sudah seminggu lebih pemuda ini terus mendatangi rumah sakit Konoha hanya untuk bertemu dengan sang pujaan hati yang nampak sangat dingin dan tak peduli pada keberadaanya. Informasi yang ia tahu dari seminggu ia mengikuti pemuda itu adalah Gaara merupakan nama kecilnya, untuk marga sepertinya ia harus berusaha sedikit lebih keras karena pihak rumah sakit tidak ingin membocorkan apa pun tentangnya, entah ada apa gerangan dengan namanya itu. Sedang menjalani study di Universitas Konoha jurusan kedokteran, usia sembilan belas tahun dan yang tepenting adalah pemuda yang lebih tua dua tahun darinya itu masih single alias jomblo alias tidak memiliki kekasih. Yah, meski pun pemuda itu mempunyai kekasih mungkin dengan sangat terpaksa Neji harus menendang jauh-jauh kekasihnya itu.
"Gaa chan, mau makan siang bersamaku?"
Gaara yang tengah membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja di depannya hanya terus melanjutkan tugasnya tanpa menanggapi pertanyaan pemuda di sampingnya. Tidak ada gunanya ia mengatakan agar pemuda itu pergi atau jangan mengikutinya lagi karena ia tahu jika pemuda itu tidak akan mau menuruti keinginannya. Ia tahu kenapa pemuda yang lebih mirip gadis ini terus mengikutinya, tapi ia sama sekali tak tertarik dengan yang namanya hubungan sesama jenis atau menjalin hubungan dengan anak SMA.
Lagi pula dari perlakuan dan sikap pemuda itu padanya, sepertinya pemuda itu ingin menjadikan ia 'perempuan' dalam hal ini. Maaf saja, meski pun ia lebih pendek beberapa centi –yang terpaksa harus diakuinya- dari pemuda itu ia sama sekali tidak akan pernah mau berada di 'bawah'.
"Gaa chan, bagaimana kalau hari ini kencan denganku?"
Gaara menghela napasnya, ia menaruh tumpukan berkas di tangannya pada meja persegi depannya dan menatap pemuda di sampingnya. "Hyuuga san, aku hanya mengatakan hal ini satu kali padamu." Ucap Gaara, "Aku sama sekali tidak tertarik untuk menjalani hubungan dengan seorang laki-laki."
"Aku harus melanjutkan tugasku, permisi." Gaara mengangkat tumpukan berkas itu kembali ketangannya dan berjalan melewati Neji.
Bibir tipisnya menyunggingkan senyum mendengar ucapan pemuda manis bersurai merah'nya'. Bersikap tidak peduli dan langsung menolak, memangnya hanya dengan itu bisa membuatnya menyerah. Pikiran pemuda itu terlalu mudah ditebak, atau ia sengaja memberikan tantangan padanya.
"Well, Gaa chan. Bagaimana jika aku bisa membuatmu menyukaiku?" Neji menyeringai begitu melihat Gaara menghentikan langkahnya. "Apa kau akan menyerah?"
"Dalam mimpimu, Hyuuga san."
Blam!
Neji menatap pintu yang baru saja ditutup Gaara, "Yeah, thats my dreams and I'll make sure my dreams come true."
.
*##########*###########*##############*########### ####*###############*##########*
o.O. Kagari Hate The Real World.O.o
.
Senyuman terkembang diwajah manis berkulit tan Naruto setiap mendengar penuturan dari wanita cantik bersurai merah muda di depannya. Ucapannya begitu santun dan amat sangat bersahabat, ia yang biasanya hanya bisa melihat wanita di depannya ini di layar televisi, kini tengah berbincang berhadapan dengannya. Wajahnya yang cantik dihias oleh riasan sederhana a la remaja memberikan pencitraan gadis periang yang melekat padanya.
"Saya memang gadis yang penuh semangat, Namikaze san." Ucap Sakura, nama gadis itu dengan senyum yang senantiasa menghiasi wajahnya.
"Ya, aku bisa melihat itu." Ucap Naruto membalas senyum Sakura, "Tapi, terima kasih kau sudah mau melakukan ini untukku dan juga Sasuke." Ia menatap pemuda raven yang duduk di sampingnya.
"Benarkan Sasuke?" Tanya Naruto.
"..." Sasuke menatap gadis merah muda di seberang mejanya dengan datar dan melirik Naruto yang nampak tersenyum padanya.
"Hn." Jawab Sasuke , tersenyum tipis.
Sakura tampak menarik sebelah ujung bibirnya, matanya berkilat melihat senyum yang tidak pernah ia lihat dari Sasuke, lalu melihat laki-laki yang duduk di sampingnya. Laki-laki bersurai pirang yang tengah tersenyum pada Sasuke.
Kasihan sekali, sebentar lagi senyum itu tidak akan pernah nampak diwajah manisnya dan ia bisa pastikan hal itu benar-benar akan terjadi. Bahkan tidak akan lama lagi. Sakura merogoh tas kecil di kursi samping kanannya, tangannya seperti mencari-cari sesuatu di dalam sana.
"Ah, sepertinya aku meninggalkan dompetku." Ucapnya dengan tangan yang masih berada di dalam tas kecilnya.
"Ada apa Haruno san?" Tanya Naruto melihat gadis di depannya seperti kebingungan.
Sakura melihat Naruto yang bertanya padanya, "Bukan apa-apa, hanya saja dompetku tertinggal di mobilku." Jawabnya dengan senyuman.
"Aku permisi sebentar untuk mengambilnya." Ucap Sakura.
"Jangan, kau di sini saja Haruno san." Cegah Naruto, "Biarkan Sasuke yang akan mengambilkannya untukmu." Ucap Naruto.
"Kenapa harus aku?" Sasuke terlihat tak terima dengan keputusan Naruto, enak saja. Memangnya perempuan itu siapa sampai ia harus mengambilkan dompetnya. Namun tatapan Naruto padanya membuat ia akhirnya dengan terpaksa beranjak dari tempat duduknya.
"Ini kuncinya, dompetku ada di jok depan." Ucap Sakura seraya menyerahkan kunci kecil dengan bandul topi rajutan ketangan Sasuke. Ia hanya tersenyum ketika Sasuke mengambil kunci ditangannya dengan kasar dan melangkah cepat meninggalkan ia dan Naruto.
"Sasuke memang seperti itu, kuharap kau bisa memakluminya."
Sakura menatap Naruto yang berbicara padanya, ia tersenyum mendengar itu. Apakah laki-laki ini merasa dirinya tahu semua tentang Sasuke. Betapa naifnya jika laki-laki ini memang beranggapan seperti itu.
Sakura tertawa pelan yang berhasil menyita perhatian Naruto, "Anda benar-benar naif Namikaze san." Ia menghentikan tawanya dan beralih menatap laki-laki di depannya.
"Boleh saya tanya sesuatu pada anda?" Ucap Sakura.
Naruto tersenyum, "Silahkan, apa yang ingin kau tanyakan Haruno san?"
Gadis bersurai merah muda itu terdiam sejenak menatap Naruto yang tersenyum padanya, "Apa seorang dokter terhormat seperti anda tidak merasa malu telah berhubungan dengan laki-laki yang jauh lebih muda dari anda?"
Alis Naruto berkerut, "Maaf?"
"Sadarkan diri anda Namikaze san, anda pikir Sasuke benar-benar menyukai anda?"
Naruto sedikit bingung dengan ucapan gadis di depannya, "Maaf, tapi aku tidak mengerti yang kau bicarakan Haruno san."
"Lihat diri anda Namikaze san. Seperti ini kah seorang dokter terhormat, memaksakan kehendaknya pada seseorang dengan alasan cinta." Ucap Sakura.
"Haruno san, sebenarnya kemana arah pembicaraan kita ini?" Tanya Naruto.
"Seharusnya anda sadar Namikaze san, Sasuke itu seorang aktor muda berbakat. Seorang idola yang dipuja-puja banyak orang." Ucap Sakura, "Dan anda dengan keegoisan anda telah mengancam semua karier yang telah dicapainya."
"Maaf, tapi aku benar-benar tidak mengerti maksud pembicaraan ini." Naruto terlihat masih berusaha tersenyum meski sedikit bingung dengan ucapan gadis di depannya.
Sakura menatap datar Naruto, "Apa anda tidak mengerti juga, kukatakan yang sejujurnya pada anda Namikaze san." Gadis itu tersenyum, memberikan jeda pada ucapannya.
"Sasuke tidak mencintai anda." Ucap Sakura.
Naruto terdiam mendengar ucapan Sakura, ia menatap lurus iris emerald Sakura. Seakan mencari-cari jika dugaannya ini salah. Ia tahu, sangat tahu apa yang tengah dibicarakan gadis ini padanya. Tapi ia tidak ingin berpikiran negatif, mungkin perkataan gadis ini hanya untuk mengujinya saja. Bukan sesuatu yang ia takutkan.
"Sasuke telah salah menafsirkan perasaannya pada anda sebagai rasa suka." Ucap Sakura.
"Haruno san, kenapa kau mengatakan hal ini padaku?" Tanya Naruto, pembicaraan gadis ini membuat dirinya tidak nyaman.
"Kenapa?" Sakura tersenyum, "Akan kubuat Sasuke sadar jika perasaannya padamu itu salah. Bahwa dia tidak mencintaimu."
"Aku tidak tahu apa yang ada dalam kepalamu Haruno san, tapi aku tahu jika Sasuke mencintaiku." Ucap Naruto.
"Benarkah? Kalau begitu kenapa Sasuke memintaku untuk menjadi kekasihnya?" Tanya Sakura.
"Anda tidak merasa aneh dengan itu, apa menurutmu ia tipe orang yang akan meminta bantuan pada orang lain?"
"Saya mengatakan ini untuk kebaikan Sasuke, saya mohon pada anda untuk melepaskannya. Jangan kekang Sasuke dengan keegoisan anda Namikaze san." Puas, Sakura ingin sekali tertawa melihat diamnya dokter itu mendengar kata-katanya.
Pintu cafe yang terbuka mengalihkan perhatiannya ketika dilihatnya Sasuke yang berjalan kearahnya.
"Ah! Anda pikir begitu? Sasuke memang seorang aktor yang berbakat." Ucap Sakura, ia tersenyum melihat Sasuke yang kini berada di dekat mejanya. "Sasuke kun, kau sudah kembali." Sikapnya langsung berubah, menjadi aktris yang memainkan perannya.
Naruto sedikit tersentak mendengar nama Sasuke, ia menoleh ke belakang dan menemukan Sasuke yang kini berdiri di belakangnya.
"Hn." Sasuke mendudukan dirinya di samping Naruto, ditangannya terdapat dompet kecil berwarna pink yang ia serahkan pada Sakura. Lalu ia kembali menatap Sakura yang tersenyum manis padanya.
"Terima kasih Sasuke kun." Ucap Sakura, mengambil dompet yang ada ditangan Sasuke dan memasukannya ke dalam tas kecilnya.
Sakura melihat jam tangan berlapis berlian ditangannya, "Ah! Sepertinya aku harus pergi, satu jam lagi aku harus melakukan pemotretan." Ucap Sakura, "Tidak apa kan jika aku pergi?" Tanya Sakura.
Sasuke menatap heran pada Naruto yang sejak ia kembali terus saja diam, ia mengangkat tangannya untuk menyentuh pundak Naruto. "Dobe?"
Naruto sedikit terkejut dengan tepukan pelan dipundaknya, ia tersenyum melihat Sasuke yang tampak mengerutkan alisnya. "Ah, maaf. Tidak apa-apa." Jawab Naruto.
Sakura berdiri dari kursinya, "Kalau begitu aku permisi, Sasuke kun, Namikaze san." Ucap Sakura.
"Namikaze san, pikirkan baik-baik ucapanku." Ucap Sakura sebelum melangkah pergi.
"Sasuke, antarkan Haruno san sampai ke mobilnya."
Manik kelam Sasuke tampak melirik Naruto, "Hn." Ucapnya seraya berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Sakura yang tersenyum manis kearahnya.
"Tunggu di sini." Naruto hanya mengangguk mendengar ucapan Sasuke sebelum kekasihnya itu melangkah menjauhinya. Matanya nampak memandang datar Sasuke yang berjalan dengan Sakura, apa nanti juga ia harus melihat apa yang dilihatnya sekarang.
.
.
"Apa yang dia katakan padamu dobe?"
Naruto menatap bingung kekasihnya, "Apanya yang dia katakan Sasuke?" Tanya balik Naruto, ia melirik Sasuke yang duduk di sampingnya, sekarang mereka tengah berada di dalam mobil dengan Naruto yang tengah mengendarainya.
"Apa yang dikatakan gadis itu saat aku tidak ada?" Tanya Sasuke.
"Kekasihku ini tidak sedang cemburu kan?" Naruto tertawa pelan melihat pandangan tajam Sasuke padanya. "Tidak ada, dia hanya menceritakan pengalamannya selama bermain film denganmu." Ucap Naruto bohong, ia tidak mungkin menceritakan semua kata dan ucapan gadis itu pada Sasuke bukan?
Tangan Naruto terangkat untuk mengacak rambut raven Sasuke yang langsung mendapatkan protes dari kekasihnya itu.
"Ck! Jangan mengacak rambutku. Aku ini seme." Protes Sasuke.
"Memang apa hubungannya mengacak rambut dengan kau sebagai seme, heh?" Tanya Naruto menatap Sasuke yang tampak merengut, jika sedang seperti ini Sasuke terlihat seperti anak kecil yang tengah merengek padanya.
"Seharusnya aku yang melakukan itu padamu." Ucap Sasuke.
"Walau pun kau itu seme, aku tetap lebih tua darimu bocah." Ucap Naruto, ia langsung tertawa lepas melihat Sasuke yang semakin menatapnya dengan tajam.
"Aku bukan bocah dobe!" Ucap Sasuke.
"Bukan, kau lebih mirip kakek-kakek." Ucap Naruto disela tawanya.
"Dobe!"
"Baiklah-baiklah aku berhenti." Naruto menghentikan tawanya saat melihat Sasuke yang makin merengut karena ucapannya. "Tapi sikapmu itu benar-benar seperti anak-anak."
"Do-"
Cup
Sasuke terdiam saat Naruto dengan tiba-tiba mencium bibirnya kilas, ia menatap Naruto yang menjauhkan wajahnya. Naruto yang tersenyum dengan tulus padanya.
"Karena itu aku menyukaimu." Ucap Naruto menatap Sasuke lekat sebelum mengembalikan perhatiannya pada jalanan di depannya. Walau bagaimana pun ia sedang menyetir dan berbahaya jika saja ia tidak memperhatikan jalan atau pun kendaraan lain yang berada di sekitarnya.
Naruto sedikit melirik kearah Sasuke, melihat kekasihnya itu tengah memalingkan wajahnya ke samping. Ia tersenyum karena sempat melihat semburat merah yang dipipi porselen Sasuke walau hanya sekilas.
"Berhenti." Naruto sedikit menoleh pada Sasuke, sepertinya ia sedikit tidak paham dengan ucapan kekasihnya itu.
Sasuke menatap Naruto, "Hen. ti. kan. mo. bil. nya. Do. be."
"Hah? Untuk apa?" Tanya Naruto.
"Hentikan, atau kau lebih memilih aku merapemu saat ini juga." Ucap Sasuke yang lebih seperti ancaman ditelinga Naruto.
"Hah?! Jangan bercanda 'Suke, kau mau mati apa? Lagi pula aku sudah terlambat." Ucap Naruto, ia benar-benar tak habis pikir dengan pikiran mesum dari semenya ini.
"Satu."
"Sasuke, aku benar-benar sudah terlambat ke rumah sakit." Ucap Naruto.
"Dua." Sasuke mulai memiringkan tubuhnya kearah Naruto.
"Hentikan teme, ini tidak lucu! Jangan bercanda lagi, aku sedang menyetir tahu!" Ucap Naruto, semakin panik saat tubuh Sasuke mulai condong kearahnya.
"Ti-"
"Iya! iya! Aku berhenti!" Pada akhirnya dengan sangat terpaksa Naruto menuruti keinginan Sasuke, lebih baik dari pada ia harus mati karena Sasuke yang meloncat kearahnya dan menghalangi pandangannya terhadap jalan. Terima kasih, ia masih sayang pada dua nyawa yang ia miliki.
Setelah memasang tanda untuk merapat kearah kiri (A/N : Lupa namanya. -,-a), Naruto mengendarai mobilnya dengan sepan dan akhirnya berhenti di tepian jalan. Mobilnya berhenti agak sedikit jauh dari sisi jalan.
Naruto memiringkan tubuhnya dan menatap sedikit kesal pada kekasihnya itu, "Apa maumu tem-nnnh...!"
Ucapan Naruto tergantikan dengan erangan, manik sapphirenya menatap sebuah tangan yang kini tengah meremas sesuatu diantara selangkangannya. "Sa-sukeh..." Naruto menggenggam pergelangan tangan Sasuke yang berada diselangkangannya.
"Hmm?" Gumam Sasuke, ia mengelus wajah Naruto yang nampak menggigit bibir bawahnya. "Kau harus dihukum karena mengataiku, dobe." Ucap Sasuke.
Tangan Naruto berusaha untuk menyingkirkan tangan Sasuke yang semakin meremas miliknya. "Te-me, lepash... nnnh!..."
Sasuke menyeringai mendengar erangan Naruto yang semakin keras, rasanya ingin sekali menjahili kekasihnya ini. Dengan teganya, Sasuke meremas kejantanan Naruto dengan keras hingga si empunya menjerit tertahan karena perlakuannya itu.
"Te...meh!" Geram Naruto, matanya yang sedikit tertutup memandang kesal Sasuke.
"Apa~ dobe?" Tanya Sasuke dengan nada yang menggoda, bukan Uchiha sekali.
"Ja-jangan permainkan ah-kuh... Annh!" Ucap Naruto dengan susah payah.
Seringai diwajah Sasuke telah tergantikan oleh senyum yang lebih mencurigakan, tubuhnya semakin lebih condong pada Naruto. "Aku tidak mempermainkanmu." Sasuke menjilat pipi kiri Naruto, 'Manis.'. "Tapi aku hanya memainkanmu." Dengan itu Sasuke meraup bibir kemerahan Naruto melumat bibir ceri yang selalu membuatnya bernafsu itu dengan rakus.
Tangan Sasuke yang bebas beralih menekan belakang kepala Naruto, memperdalam ciuman yang dilakukannya. Ia memberikan sedikit remasan diselangkangan Naruto agar kekasihnya itu membuka mulutnya karena desahan.
Tidak disia-siakan oleh Sasuke, Naruto yang membuka mulutnya menjadi jalan bagi Sasuke untuk menikmati lembabnya rongga mulut Naruto. Ia melesakan lidahnya, menjilat sisian bibir dan langit-langit dirongga basah itu.
"Ngh...!" Naruto perlahan mengalungkan kedua tangannya pada leher Sasuke, menarik tubuh yang sedikit lebih besar darinya itu agar lebih dekat. Tidak ada gunanya menolak jika ia juga menginginkannya bukan? Yah, meski ditempat yang kurang tepat.
Sasuke tersenyum di tengah cumbuannya, mendapati Naruto yang tampak sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukannya. Tangannya yang berada ditengkuk Naruto mulai bergerilya menyusuri leher dan dada Naruto, mengelus dan sesekali memelintir nipple yang masih berbalut kemeja abu-abu yang dipakai Naruto.
Naruto mendesah, pagutan antara lidahnya dengan lidah Sasuke semakin liar dengan tangannya yang ikut menyelinap masuk pada kerah kaus yang dikenakan Sasuke. Jemarinya mengelus kulit halus dipunggung Sasuke, membuat kekasihnya itu merinding merasakan setiap sentuhan dikulitnya.
Bibir mereka berpisah hanya untuk mengambil beberapa kali napas dan langsung kembali menyatu dengan ciuman yang lebih liar. Lebih kasar dengan gigi-gigi yang saling bergemeletuk diantara ciuman mereka.
"Mmmh... 'Suke..."
"Kau selalu bisa membuatku 'berdiri' Naruto." Sasuke berbisik ditelinga Naruto.
Wajah Naruto memerah, ucapan Sasuke benar-benar membuatnya merasa malu sekaligus terangsang. Terlebih dengan hembusan napas hangat yang nampak sengaja Sasuke hembuskan disekitar tengkuknya benar-benar membuatnya seluruh tubuhnya merinding.
Menginginkan Sasuke untuk menyentuhnya lebih dari ini. "More... Sasuke..." Pinta Naruto, mata sapphirenya terlihat sedikit meredup dengan kabut nafsu yang menyelubunginya.
Andai saja Sasuke bukan Uchiha, bukan seseorang yang selalu memasang wajah stoik. Sudah dipastikan sekarang ia akan langsung mengucurkan darah dari hidungnya. Melihat kekasihnya yang sudah terlihat sangat pasrah dengan wajah bak memelas yang dihiasi rona merah dan manik sapphire yang menatapnya dengan pandangan memohon sangatlah membuatnya sulit mempertahankan kata stoik diwajahnya.
Ia benar-benar ingin menerjang dan membuat tubuh tan di depannya terhentak-hentak saat ia menggerakan kejantanannya keluar masuk dibagian belakang tubuhnya. Mendengar desahan erotis yang semakin menambah gairahnya. Membasahi lubang itu dengan cairan putih miliknya.
"This is punishment, aku tidak akan memasukimu jika kau mendahuluiku Naruto." Mata Naruto terlihat membulat.
"But –AHHH! St-stop!" Naruto menjambak rambut Sasuke dengan keras ketika kekasihnya itu dengan tiba-tiba menunduk dan menggigit kencang kejantanannya yang masih berbalut celana jeans. Matanya melotot dengan kesal pada Sasuke yang kini tengah menyeringai padanya.
"Kau tidak berniat mencabut rambutku kan, dobe?" Tanya Sasuke.
"Kau tidak berniat mencabut milikku kan, teme?" Naruto tersenyum dengan kedutan besar didahinya, kejantanannya kini terasa sakit setelah digigit Sasuke. Ia sangat yakin jika gigitan itu akan meninggalkan lengkungan pada kejantanannya meski celana yang ia gunakan cukup tebal.
Apa Sasuke pikir miliknya itu makanan main gigit-gigit saja, harusnya dia tidak melakukan itu pada mahkota seorang laki-laki.
"Kalau aku bisa, sudah kucabut dan kubawa pulang milikmu ini." Jawab Sasuke dengan tangannya yang lagi-lagi meremas selangkangan Naruto yang jelas-jelas masih sangat kesemutan akibat gigitannya.
"Gaah! Teme! Apa yang kau lakukan?! Itu sakit –Hmmmph?! Nnnah! Kubilangh.. hentihkhan...!"
Naruto mendorong tubuh Sasuke yang mulai menindihnya agar menjauh, ia menekan dada Sasuke untuk mendorong pemuda itu namun hal itu malah membuatnya terhimpit diantara pintu mobil dan Sasuke yang ada di depannya.
"Nnnnh...?!"
Melihat dobenya yang terkesan menolak membuat Sasuke ingin mengerjai ukenya itu lebih lama lagi. Ia menangkap kedua tangan Naruto yang berada didadanya dan menyatukan kedua tangan itu, mengikatnya dengan dasi yang dipakai Naruto tanpa melepaskan dasi itu dari kerahnya.
Naruto meronta, ia tak terima jika tangannya harus diikat seperti ini. Matanya memandang kesal pada Sasuke yang terus menciumi bibirnya dengan rakus meski tangannya sibuk dengan hal lain. Leher Naruto ikut tertarik saat Sasuke menarik kedua pergelangan tangannya. Ia semakin menggeram kesal ketika tahu kini kedua tangannya bukan hanya diikat menjadi satu tetapi juga diikat pada setir mobil yang memaksa Naruto untuk membungkuk kearah samping.
Setelah mengikat kedua tangan Naruto pada setir mobil, Sasuke kembali mengarahkan tangannya menyusuri lekuk tubuh Naruto. Membelai pangkal bahu Naruto dan sedikit menyibak kerah kemeja yang sudah nampak berantakan untuk melihat leher jenjang yang dipenuhi bercak merah, hasil dari karyanya. Benar-benar indah menghiasi kulit tan eksotis Naruto.
Sasuke melepaskan bibir Naruto, ia tersenyum melihat Naruto yang sudah seperti ikan koi dengan mulutnya yang terbuka dan menutup dengan cepat. Layaknya ikan yang mencari air.
"Kau...hah...hah...dasar.. me..mesum..!" Ucap Naruto dengan masih terengah-engah.
"Hormon remaja." Ucap Sasuke cuek, ia langsung menyerang leher Naruto yang terlihat jelas karena si empunya tengah memiringkan wajahnya ke samping. Menciumi leher yang yang telah basah oleh peluh itu dengan bibir lembutnya.
"Kkeh... 'Suke... lepaskan tangankuhh..." Naruto mengerang, setiap sentuhan yang dilakukan Sasuke mmbuat ia merasakan sengatan-sengatan nikmat yang menjalar sampai ke ujung kakinya. Tubuhnya ini sudah begitu sensitif dengan sentuhan Sasuke.
Sasuke tersenyum dan memandang wajah Naruto, "Tidak akan." Ucapnya.
Remaja berumur tujuh belas tahun itu menjilat memanjang leher Naruto, terus turun menyusuri tulang belikatnya. Lidahnya berhenti dan memberi kecupan di sana lalu kembali turun bersamaan dengan tangannya yang membuka setiap kancing pada kemeja yang dikenakan Naruto.
Desahan kembali terdengar dari bibir Naruto, dadanya yang kini tengah diemut oleh Sasuke benar-benar membuatnya semakin gila. Ia bahkan merasakan celana dalamnya yang sudah sangat sempit dan basah di bawah sana.
"Ah! 'Su-Suke..."
Sasuke hanya bergumam mendengar Naruto yang memanggil namanya dalam desahan. "Hurry, i-inside me..." Pinta Naruto, ia sudah tidak bisa menahan gejolak nafsu pada tubuhnya. Sudah ia bilang, tubuhnya semakin sensitif dengan sentuhan Sasuke.
Sasuke menjilat nipple kiri Naruto sebelum melepaskan titik kecil yang sudah menegang itu. "Kau mulai nakal dobe." Ucap Sasuke, ia tersenyum mengejek kearah Naruto.
"Aku ha-harus bilang apa, kau yang membuatku seperti i-ini." Ucap naruto, ia menggigit bibir bawahnya dengan sensual ketika jemari Sasuke mengelus pipinya.
Senyum kecil menghiasi wajah Sasuke, "Well, as your wish my doctor."
Bibir Sasuke mengecup pipi, bibir dan berlanjut terus ke bawah hingga berhenti di perut ramping Naruto. Sasuke sedikit heran, kenapa perut ini tak juga membesar padahal yang ia tahu Naruto selalu makan dalam porsi besar ditambah lagi dengan ramen yang menjadi makanan kesukannya.
"So sexy." Ucap Sasuke, ia menyeringai begitu melihat Naruto memalingkan wajah darinya.
"A-apa sih! Jangan mengatakan ha-hal yang memalukan seperti itu!" Ucap Naruto, ia benar-benar ingin memukul kepala semenya yang malah menyeringai jahil itu.
Kancing dan resleting celana jeans Naruto sudah terbuka entah sejak kapan, menampakan kejantanannya yang menggembung di balik celana dalamnya. Sasuke menyentuh gundukan pada celana itu, membuat Naruto mendesah karenanya.
"Kau basah." Ucap Sasuke.
Lidah Sasuke menjilat gundukan itu dan memasukannya ke dalam mulutnya. Membasahi kain celana yang menutupi kejantanan Naruto itu dengan salivanya. "Aah! Stop! 'Suke..."
"I tell you, don't cum." Titah Sasuke, Naruto hanya bisa meneguk ludahnya paksa saat melihat mata Sasuke yang begitu serius.
"But- AH! Wait! 'Suke AAH...!"
Sasuke melepaskan celana Naruto dengan sekali tarikan, membuat celana jeans abu-abunya kini terlihat menggantung dikedua kakinya dan langsung meraup kejantanan Naruto. Mata Naruto mendelik kesal, apa yang diinginkan semenya ini sebenarnya. Menyuruh ia untuk tidak klimaks tapi terus merangsangnya dengan sentuhan-sentuhan yang, ah! Kau pasti gila jika tidak klimaks saat itu juga!
"Nnneeh! Ah! A-AH! 'Suke, ja-jangan!" Naruto meracau, mendongakan kepalanya ke atas. Ia tak bisa mentolerir rasa nikmat yang menjalar dari kejantanannya. Lidah Sasuke yang amat sangat terlatih itu tengah bergerak-gerak pada batang kejantanannya yang ditawan mulut Sasuke. Melumuri kejantanannya dengan lelehan saliva, benar-benar cara memijat yang sangat sensual.
Desiran kenikmatan benar-benar membutakan Naruto, Sasuke benar-benar tahu cara membuatnya mendesah keras.
"AH! Su-sudah! Aku..akan AH! AAAAH!"
Gyuut
"AAH! I-ITAI!" Naruto menjerit keras, ia benar-benar merasakan sakit yang amat sangat pada kejantanannya hingga kedua matanya sedikit mengalirkan air. Kejantanannya yang diikat oleh sebuah sabuk kulit pada bagian bawahnya dengan kencang membuat ia tak bisa klimaks. "Apa yang hah... ka-kau lakukan? Le-lepas!"
Sasuke menyeringai, "Sudah kubilang, jangan keluar sebelum aku."
Sasuke membalikan tubuh Naruto, membuat Naruto harus bertumpu pada satu lututnya yang berada di jok mobil dan kakinya yang lain menapak di lantai mobil.
"Now, lets play~" Ucap Sasuke yang diikuti dengan desahan keras Naruto karena ia yang tiba-tiba memasukan jari telunjuknya ke dalam rektum Naruto.
"No, AAH! D-don't play with me! 'Suke..." Naruto semakin mendesah dengan keras. Ia sudah tidak tahan, tidak lagi bisa menahan nafsu yang menyelubungi pikirannya. Wajahnya yang memerah benar-benar membuatnya malu saat wajahnya terpantul di kaca mobil, wajah yang terlihat penuh peluh dan lelehan liur yang menetes di dagunya. Sekarang ia benar-benar tampak sangat 'mengundang'.Rektumnya yang tengah dipersiapkan Sasuke berkedut dengan tidak sabaran, menginginkan sesuatu yang lebih dari sebuah jari.
"Pleasehh... NNNHH! I-inside me." Naruto menatap manik Sasuke, membuat kekasihnya itu menyeringai. Sasuke langsung menarik kembali jarinya, ia membuka kancing dan resleting celana miliknya. Mengeluarkan kejantanannya yang sudah menegang dibalik celana dalamnya.
Sasuke meremas kedua pantat Naruto, memperlihatkan sebuah lubang sempit yang berkedut tak sabaran. Menginginkan sesuatu untuk dilahapnya. Sasuke memposisikan kejantanannya di depan rektum Naruto, sedikit menggesekan kejantanannya untuk memberikan sedikit getaran halus yang menyentuh miliknya.
"NNG!" Kejantanan Sasuke perlahan mulai memasuki anus sempit Naruto hingga otot-otot ketat itu melahap ujung kepala dari kejantanannya. Pemuda tujuh belas tahun itu mendesah, ia tak bisa memungkiri jika anus yang tengah ia masuki ini sangatlah nikmat, anus yang selalu memberi dia kenikmatan.
"Ahh... kau selalu sempit lovely." Ucap Sasuke tepat disebelah telinga Naruto.
Tangan Naruto meremas setir mobilnya dengan kencang, annusnya benar-benar terasa panas dan sakit disaat bersamaan. Ia berusaha menahan sakit itu karena ia tahu setelah ini ia akan merasakan kenikmatan yang tak akan tertandingi.
"AAAH!" Teriakan keras terdengar dari Naruto saat Sasuke dengan sekali hentakan memasukan seluruh kejantanannya. Napas Naruto terengah-engah, kekasihnya ini memang suka sekali mempermainkan dirinya. "Thats hurt!" Kesal Naruto.
"But you only like it."
Naruto memalingkan wajahnya, ucapan Sasuke memang benar adanya. Ia menyukai rasa sakit dan nikmat yang diberikan Sasuke padanya. "Bergerak." Ucap Naruto.
Pinggul Sasuke bergerak mundur, menarik keluar kejantanannya yang tadi tertanam sempurna dianus Naruto. Ia melenguh merasakan setiap pijatan dari dinding-dinding rektum itu. Gerakannya berhenti sejenak lalu kembali mendorong pinggulnya maju, memasukan kembali miliknya.
"Nnnh! A...h! Fa-fasterh 'Suke..." Naruto memejamkan matanya erat, menikmati setiap sodokan yang Sasuke lakukan dibagian bawah tubuhnya. Apalagi saat Sasuke mulai mempercepat gerakannya, tubuhnya yang terhentak-hentak ke depan karena anusnya yang ditubruk kasar Sasuke.
"AH! AH...! AAH!"
Tubuh Sasuke membungkuk, memeluk tubuh Naruto dengan kedua tangannya. Mengecup punggung halus Naruto dengan sesekali meninggalkan bekas kemerahan di sana.
"AH! HA...H! AH! 'Suke aku m-mau..." Naruto menggelengkan kepalanya, kejantanannya sudah memerah merekah menahan begitu banyak cairan sperma yang ingin keluar.
"Tidak akan." Ucap Sasuke, ia menampar pantat Naruto hingga Naruto mengerang dengan keras. Naruto menyukainya.
"Nnnh! AH! AH! Ja-jangan sentuh!"
Tangan sasuke mengelus kejantanan Naruto yang sudah sangat mengerat dan menampakan urat-uratnya yang menegang, ujung kejantanan itu terlihat mengeluarkan sedikit cairan percum yang menetes membasahi jok mobil. "Hmm? Bukankah kau menyukainya dobe?" Tanya Sasuke.
Naruto menggeleng keras, ia benar-benar harus mengeluarkan cairannya sekarang. Jika tidak mungkin kejantanannya itu akan meledak –itu kiasan-.
"Ku-ku moho –aAAH!" Naruto mendesah keras, tubuhnya dibalik dengan cepat oleh Sasuke hingga harus terlentang di atas kursi mobil yang sempit dengan Sasuke yang tak sekali pun berhenti atau memeperlambat gerakan di bagian bawahnya.
"Sasuke! AH!...NnnaAH!"
"Sebentar lagi Naruto." Sasuke berdesis, ia mempercepat gerakan maju mundurnya. Menghujami rektum Naruto dengan gerakannya yang semakin cepat. Tubuh Naruto sendiri sedikit ia angkat untuk mempermudah gerakannya.
"Ha-AH! 'Suke!"
Merasakan cairan yang mulai mengalir pada kejantanannya, tangan Sasuke melepaskan ikatan pada kejantanan Naruto dan memberikan sodokan terakhirnya bersamaan dengan banyaknya cairan yang menyembur dari kejantanan Naruto. Cairan putih itu membasahi wajah dan rambut hitamnya.
Napas Sasuke terengah-engah, ia melepaskan kejantanannya yang sudah sedikit melemas dari anus Naruto. Sasuke sedikit merapikan celananya lalu duduk kembali di samping kursi kemudi. Matanya tak lepas menatap Naruto yang masih mengatur napasnya dengan dada yang naik turun dengan cepat. Peluh membasahi seluruh tubuh dokter itu. Mulai dari rambutnya yang sudah turun semua dan sebagian menempel pada dahinya karena lepek terkena keringat. Juga wajahnya yang kelelahan, tak lupa dengan bagian dadanya yang terekspos jelas. Peluh mengucur dengan indahnya diantara puting kecoklatan Naruto.
Sasuke mengusap wajahnya yang sedikit lengket terkena cairan Naruto, ia tidak boleh bersikap egois dengan kembali menyerang ukenya saat ini. Meski pun keadaan Naruto benar-benar membuatnya terangsang kembali.
"Istirahatlah, biar aku yang menyetir." Ucap Sasuke, tangannya mengusap peluh yang mengalir dipelipis Naruto.
Naruto memandang kesal Sasuke, "No. And thanks." Ucap Naruto.
"Aku yang menyetir dan cepat lepaskan tanganku!" Kesal Naruto, ia benar-benar tidak habis pikir dengan semua kemesuman dari kekasihnya ini. Ini di jalan, dan mereka baru saja melakukan itu di dalam mobil. Kami sama, mimpi apa Naruto semalam hingga ini terjadi padanya.
"Kau itu lelah, aku yang menyetir." Ucap Sasuke seraya melepaskan tangan Naruto yang masih terikat pada setir mobil.
"Tidak. Tetap aku yang menyetir." Kukuh Naruto, selelah dan jika pun ia sangat ingin mengistirahatkan tubuhnya ia tidak akan membiarkan Sasuke menyetir mobilnya.
Naruto membenahi pakaiannya yang sudah acak-acakan dan hanya menempel pada tubuhnya. Menyisir ke belakang rambut pirangnya dan kembali memegang kemudi.
"Dobe, biarkan aku yang menyetir."
"Tidak akan. Aku masih ingin hidup tahu." Ujar Naruto, menolah keinginan Sasuke. Benar sekali, ia masih ingin hidup dan menatap hari esok dan jika ia membiarkan Sasuke menyetir mobilnya maka jangankan menatap hari esok, menatap satu menit ke depannya saja ia tak akan bisa mengingat betapa ugal-ugalannya kekasihnya itu saat mengendarai mobil.
"Aku yang menyetir dobe."
"Aku bilang tidak."
"Dobe, kau istirahat saja."
"Tidak mau! Yang ada aku malah istirahat selamanya jika aku mengijinkanmu menyetir mobilku!"
"Dobe!"
"Teme!"
Tinggalkanlah pasangan yang baru saja melakukan kegilaan ini dan beralih pada pasangan lain dalam cerita ini.
.
*##########*###########*##############*########### ####*###############*##########*
o.O. Kagari Hate The Real World.O.o
.
Entah apa yang ada dipikirannya sekarang hingga ia kembali ketempat ini, berdiri tepat di depan pintu besar berwarna coklat gelap yang menjadi awal mula dari rasa sakit yang ia rasakan sekarang. Awal dari semua ketidak pastian yang ada dalam pikirannya. Membuat ia merasa bukan dirinya.
Kyuubi terlihat ragu, ia menatap kosong lantai di bawah kakinya seakan apa yang dilihatnya itu lebih menarik dari pintu besar di depannya. Kenapa ia harus kembali kemari dan mengingatkan ia pada betapa sakitnya ia melihat pemandangan itu di depan matanya sendiri. Seseorang yang selalu mengganggu pikirannya tengah dalam keadaan yang pastinya semua orang jika melihat keadaannya akan berpikiran sama dengannya.
Ia menghela napasnya, ia ke sini hanya untuk memberikan undangan atas pertuangannya dengan Shizune. Setelah itu ia langsung pergi, tidak ingin berlama-lama ditempat ini. Tangan Kyuubi terangkat, mengetuk pintu coklat berdaun dua di depannya.
"Ya, mohon tunggu sebentar."
Terdengar suara seseorang dari dalam dan tak lama pintu itu pun terbuka dengan seorang maid berpakaian hitam dengan renda putih sederhana yang berdiri dibaliknya.
"Namikaze sama." Maid itu menunduk begitu melihat Kyuubi.
Kyuubi menyodorkan selembaran undangan yang ada ditangannya pada maid itu, "Ini undangan pertunanganku, sampaikan ini pada majikanmu." Sudah ia putuskan untuk menyerahkannya pada orang pertama yang membuka pintu dan ia akan pergi setelahnya.
"Namikaze sama, tapi..."
"Siapa yang datang?"
Deg!
Kyuubi mematung mendengar suara bariton yang sudah lama tak terdengar ditelinganya, ia menatap pemuda berambut raven yang kini berdiri di belakang maid. Pemuda yang sudah lama tidak ditemuinya.
"Kyuubi?"
"Baiklah, aku permisi." Kyuubi berbalik bersiap untuk melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
Grep
"Tunggu dulu."
Ia merasakan pergelangan tangannya yang diremas pelan, kepalanya terus tertunduk tanpa berani sekali pun menatap seseorang yang tengah menahan tangannya itu. "Lepaskan." Ucap Kyuubi.
"Kita harus bicara." Ucap Itachi.
"..." Kyuubi terdiam, ia tak tahu harus berkata seperti apa atau pun bersikap seperti apa di depan pemuda bersurai raven ini. Sekarang yang ia rasakan adalah sakit, entah kenapa dadanya terasa sangat sakit. Ia hanya ingin cepat-cepat pergi dari sini.
"Kyuubi."
Lihat, tidak. Mendengar pemuda itu menyebut namanya dengan datar membuat hatinya lebih sakit. Bukankah dulu, bisa kah beberapa Minggu yang lalu itu disebut dulu? Laki-laki di depannya ini selalu memanggil namanya dengan lembut, selalu menyebut namanya dengan penuh rasa sayang meski ia terus mengacuhkannya.
"Lepas." Kyuubi berucap dengan tak kalah datarnya. Ia berusaha menarik tangannya yang masih ditahan Itachi.
"..."
"Lepaskan tanganku Itachi."
"Tidak, sebelum kau mau bicara denganku." Itachi mengeratkan pegangan tangannya pada pergelangan tangan Kyuubi.
Kesal, Kyuubi menatap Itachi. "Tidak ada yang perlu dibicarakan Itachi." Ucap Kyuubi.
"Sekarang lepaskan tanganku."
Baiklah, sudah cukup. Itachi tak bisa lagi mentolerir kekeras kepalaan Kyuubi. Dengan sekali tarikan, Itachi menarik tubuh Kyuubi padanya. Menggendong tubuh yang terhuyung kearahnya itu dan berjalan masuk ke dalam mansion, tidak mempedulikan protesan mau pun teriakan Kyuubi yang nampak tak terima dengan perlakuannya.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Itachi turunkan aku!" Teriak Kyuubi, ia benar-benar terkejut dengan Itachi yang tiba-tiba saja menggendongnya bak karung beras. Tangannya memukul-mukul punggung berbalut setelan T-shirt hitam Itachi, memberontak dengan kakinya yang terus menendang-nendang kesegala arah.
Itachi menulikan telinganya dari teriakan Kyuubi yang tepat di sebelah telinganya, ia terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion. Melewati ruang tamu keluarganya, ia sempat melihat ibunya yang tengah berbincang dengan seseorang dengan ponsel yang berada ditelinganya.
"Oh, Kyuubi kun. Datang berkunjung ya?" Kyuubi merasakan bulir keringat besar yang mengalir di belakang kepalanya mendengar pertanyaan sang nyonya dari keluarga Uchiha itu padanya. Bagaimana pun, keadaannya yang digendong Itachi dengan dirinya yang tengah memberontak itu bukan kah sesuatu yang jelas-jelas tidak seperti kunjungan dan malah tidak wajar?
Blam!
Kyuubi terkejut dengan suara pintu yang ditutup dengan sedikit keras, ia melihat dirinya yang sudah berada disebuah ruangan yang didominasi oleh warna biru tua dengan kasur besar di tengah ruangan itu. Ia tidak sadar jika dirinya sudah berhenti memberontak karena perhatiannya teralih pada kejadian tadi.
Brugh!
"Auch! Shit! Tidak perlu melemparku Itachi!" Teriak Kyuubi, meski pun ia tak merasakan sakit karena tempat tidur tempatnya jatuh sangat empuk tetap saja dilempar itu tidak enak.
Tak mendengarkan protesan Kyuubi, Itachi mendorong tubuh Kyuubi hingga terlentang dan menahan kedua tangan pemuda itu di atas kepalanya.
"Lepaskan aku!"
"Kyuubi."
"Menyingkir dari tubuhku Itachi!"
"Kyuubi."
"Menyingkir!"
"Kyuubi!"
Kyuubi langsung terdiam mendengar bentakan Itachi, iris rubynya menatap lurus manik kelam pemuda yang kini tengah menatapnya dengan tajam. Apa yang pemuda ini inginkan darinya. Sudah cukup ia memikirkan semuanya, sudah cukup ia memikirkan betapa pikirannya tidak bisa lepas dari sang pemuda raven. Ia lelah dengan isi kepalanya yang terus menyerukan hal-hal yang ia sendiri tak mengerti apa.
"Lepaskan aku." Ucap Kyuubi dingin.
"Dengarkan aku Kyuubi-"
"Lepaskan aku."
"Apa kau akan terus seperti ini Kyuubi, membohongi dirimu sendiri." Itachi menatap penuh keyakinan pada iris ruby itu. "Kau mencintaiku." Tegas Itachi.
Senyum sinis menghiasi wajah Kyuubi, "Aku tidak pernah mencintaimu."
Itachi menggeram, ia mengencangkan cengkraman tangannya hingga mata Kyuubi sedikit menyipit merasakan kedua pergelangan tangannya yang saling beradu. "Kau cemburu saat aku bersama Deidara, Kyuubi?"
Wajah Kyuubi mengeras, ia tidak suka saat Itachi menyebut nama laki-laki itu. Dadanya seakan sesak saat bibir itu berucap. "Cemburu? Memangnya apa hubunganku denganmu sampai aku harus cemburu?" Tanya Kyuubi.
"Memangnya apa hakku untuk cemburu dengan siapa yang dekat denganmu?! Haruskah aku merasa cemburu?! Memangnya aku siapa hingga merasakan cemburu?!"
"Bukankah aku ini bukan siapa-siapa bagimu?! Untuk apa aku merasa cemburu pada Deidara? Untuk apa aku merasa cemburu pada kekasihmu?! Untuk apa aku merasa cemburu pada laki-laki itu hah?!" Bentak Kyuubi.
"Kyuubi, Deidara bukan kekasihku." Jelas Itachi.
"Bukan kekasihmu? Memangnya aku buta! Aku melihatmu dengan mata kepalaku sendiri! Kau! Dengan laki-laki itu!" Kyuubi tak tahu apa yang sudah diucapkannya, ia hanya ingin mengeluarkan semua pemikiran semerawut dalam otaknya.
"Sesak Itachi! Melihat kau dengan laki-laki itu, aku bahkan sulit untuk bernapas karena setiap kali aku meremas kencang dadaku dengan tanganku!"
"Sakit Itachi! Betapa aku menginginkan jantungku berhenti jika sakit itu datang!"
"Berkali-kali aku mencoba untuk memikirkan hal lain, tapi kau selalu muncul Itachi!"
Grep
"Aku tau. Aku mengerti." Itachi mendekap tubuh Kyuubi, tangan yang tadi mencengkram pergelangan Kyuubi telah beralih pada tengkuk dan punggung Kyuubi. Menarik tubuh itu untuk lebih erat padanya. Itachi membiarkan Kyuubi yang terus berbicara, mengeluarkan semua perasaannya.
"Tidak! Kau tidak akan mengerti! Kau tidak tahu!" Kyuubi memberontak, ia berusaha menyingkirkan tangan Itachi yang melingkar ditubuhnya. "AKU MEMBENCIMU! KAU MEMBERIKAN RASA SAKIT INI PADAKU!"
"Ambil! AMBIL KEMBALI SEMUANYA! PERGI! PERGI DARIKU! AKU BENCI PADAMU!"
"Kau mencintaiku Kyuubi." Ucap Itachi seraya mengeratkan pelukannya.
"Aku harap kau mati agar aku tak perlu memikirkanmu lagi! Agar aku bisa kembali menjadi diriku!"
"Kau mencintaiku."
"No! Aku membencimu!"
"Kau mencintaiku, kau mencintaiku Kyuubi."
"Berhenti mengatakan aku mencintaimu! Kau...kau bajingan!"
"Kau mencintaiku."
"Hentikan! Aku tidak mau dengar!" Kyuubi menutup kedua telinganya, menggelengkan kepalanya keras berharap agar ia tak mendengar ucapan Itachi.
"Kau mencintaiku, Kyuubi. Kau mencintaiku."
"I hate you!"
"Kau mencintaiku."
"Kubilang hentikan Itachi!"
Itachi melonggarkan pelukannya, ia menatap dalam-dalam mata Kyuubi yang kini memandangnya dengan tajam. "Tatap mataku Kyuubi, jujurlah pada perasaanmu." Ucap Itachi.
"Aku sudah mengatakannya, aku membencimu Uchiha!" Kyuubi berteriak, napasnya memburu karena terus-terusan bicara dengan nada tinggi.
Tatapan Itachi berubah sendu, "Kau membenciku, tapi aku sangat mencintaimu Kyuu."
Kyuubi terdiam, ia menatap mata Itachi yang memancarkan luka pada iris onyxnya.
"Sebegitu bencinya dirimu padaku hingga kau melakukan ini padaku Kyuubi." Itachi menatap lurus Kyuubi.
"Aku lebih sakit darimu."
Kyuubi tertawa sinis mendengar ucapan pewaris kekayaan Uchiha itu, "Sungguh, ucapanmu tidak lucu Uchiha." Ucap Kyuubi. "Sakit seperti apa yang kau rasakan eh?"
"Lebih sakit dariku?"
Uchiha sulung menatap dalam-dalam iris ruby di depannya, "Sakit saat kau tidak mau memaafkanku, aku sakit saat kau terus-terusan menolakku, aku sakit saat kau terus menjauhiku, aku sakit melihatmu bersama wanita jalang itu-"
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Itachi, Kyuubi tidak segan-segan menampar wajah porselen itu saat telinganya mendengar sesuatu yang membuatnya tidak bisa menahan emosinya. "Lancang sekali orang sepertimu menyebut Shizune seperti itu! Dia adalah wanita baik-baik! Sadarkan dirimu! Kau itu rendah! Menjijikan! Kau dan laki-laki itu yang pantas disebut jalang!" Teriak Kyuubi nyalang.
Wajah Itachi mendatar(?), ia menatap Kyuubi yang kini memandang tajam dirinya. Ia tak peduli dengan pipinya yang kini memerah dan sedikit darah yang mengalir disudut bibirnya.
Seet
Itachi merangkak menjauhi Kyuubi, ia melangkah turun dari tempat tidurnya. Tangan kanannya merogoh kantung celananya dan mengambil ponsel hitamnya. Sedikit mengutak atik ponsel itu sebelum mendekatkan ketelingannya.
"Hei, kau dimana?" Tanya Itachi.
"Temani aku, aku butuh hiburan." Ucap Itachi, "Baiklah, aku ke sana Dei-"
Praak!
Itachi menatap Kyuubi yang memandang marah padanya lalu melirik ponselnya yang tadi tiba-tiba saja direbut Kyuubi dan sekarang ponsel itu telah teronggok di lantai setelah menghantam dinding dengan beberapa bagiannya yang terpisah. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Itachi datar.
Mata Kyuubi memandang dengan tajam Itachi, dadanya naik turun menahan amarahnya. Kenapa Itachi harus menghubungi laki-laki itu, apa kurang bagi Itachi untuk menyakiti dirinya. Harus bagaimana lagi Kyuubi mengatakan jika dirinya sakit.
"Sebaiknya kau segera pergi, aku juga akan pergi dengan Deidara." Kyuubi merasakan dadanya berdenyut sakit. Ia tak bisa mengucapkan satu kata pun dari bibirnya, ia hanya menatap Itachi yang entah sejak kapan matanya ini mulai berkaca-kaca seakan ada sesuatu yang melesak memaksa keluar. Ia tak bisa memungkiri lagi hal ini, ia sudah tidak bisa menahannya.
Perlahan Kyuubi melangkahkan kaki berbalut sepatu kets hitamnya, ia berjalan kearah dimana Itachi berada hingga ia berdiri tepat di depan pemuda itu. "Jangan..." Ucap Kyuubi, suaranya terdengar sedikit serak.
Kyuubi meremas kaus yang menutupi dada Itachi. Mendongakan wajahnya hingga ia dapat melihat wajah Itachi yang menatap datar dirinya. Kakinya berjinjit agar bisa menyamakan tinggi mereka.
"Jangan temui dia..." Remasan pada T-shirt Itachi mengencang.
Kyuubi merasakan ada tangan yang menangkup jemarinya, melonggarkan remasan jari-jarinya dari kaus Itachi. "Aku lebih rendah, bukankah kau bilang aku menjijikan?" Tanya Itachi.
Kepala Kyuubi tertunduk, helaian rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya. Menyembunyikan iris merahnya yang mulai mengalirkan air.
"Pulanglah Kyuubi." Ucap Itachi, ia membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju pintu. Namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan melingkar dipinggangnya. Kyuubi yang memeluknya dari belakang.
"Aku...jangan temui dia..." Itachi menangkup tangan yang berada dipinggangnya dan berusaha menyingkirkan tangan itu, namun tangan yang lebih kecil darinya itu malah lebih erat memeluk tubuhnya.
"Lepaskan, Kyuubi." Ucap Itachi, ia sedikit terkejut merasakan punggungnya yang sedikit basah.
Kyuubi membenamkan wajahnya pada punggung Itachi, hatinya sakit. Sebesar dan sekeras apa pun ia menyangkal ia tahu perasaannya pada Itachi takkan bisa ia hilangkan. Ia sudah terjerat, sangat lama bahkan sebelum Uchiha sulung itu mengatakan jika dia tertarik padanya.
Itu lebih dari sepuluh tahun yang lalu dan Kyuubi terus merasakan rasa itu semakin besar dan kuat. Tapi ia selalu menyangkalnya, menyatakan itu hanyalah karena ia membenci sang Uchiha. Karena ia yang selalu kalah olehnya.
Tapi sekali lagi, rasa itu terus tumbuh meski jarak antara mereka tak lagi dekat. Ia rindu, ia selalu ingin melihat Itachi meski pemuda itu tak sekali pun melihat kearahnya. Meski ia hanya bisa melihat pemuda itu dari kejauhan.
Lalu setelah lama ia kembali bertemu dengannya, bertemu seorang pemuda yang telah membuatnya merasakan cinta untuk pertama kalinya. Apa yang ia lakukan? Kenapa ia terus menyangkal ketika laki-laki yang telah membuatnya jatuh cinta membalas perasaannya dan apakah ini balasan baginya, laki-laki itu menjauhinya. Akankah ia ditinggalkan lagi, apa harus ia tetap bersikap seperti ini. Menyangkal perasaannya sendiri.
"Aku..." Kyuubi mencengkram erat kaus bagian depan Itachi, "...jangan pergi..." Lirih Kyuubi, air matanya tak lagi bisa ia bendung. Mengalir begitu saja membasahi punggung Itachi dan pipinya.
Itachi masih membungkam bibirnya, ia melirik ke samping. Menatap helaian surai yang terus bergerak-gerak dengan tubuhnya yang gemetaran. "Aku harus pergi Kyuubi." Ucap Itachi, ia menghela napas ketika Kyuubi tak juga mau melepaskan tubuhnya.
Kyuubi tidak tahu apa yang dilakukannya ini benar atau malah suatu kesalahan, yang ia tahu ia tidak ingin kehilangan Itachi, tidak ingin laki-laki di depannya meninggalnya. Tapi, jika ia melakukan itu ia akan menyakiti seseorang yang sangat mencintainya. Seseorang yang bahkan tidak tahu apa-apa. "Aku... tidak bisa..." Ucap Kyuubi, ia menggigit bibirnya dengan keras.
Begitu cepat ia merasakan tangannya hampa, tak ada lagi yang bisa dicengkramnya saat Itachi menghentakan tangannya begitu saja dan berlalu pergi.
Blam!
.
.
Bagaimana ia bisa seperti ini, ia yang lagi-lagi melihat punggungnya menjauh. Meninggalkan ia sendiri dengan air mata yang terus membasahi pipinya. Kaki gemetarnya tak mampu lagi menahan beban tubuhnya hanya bisa merosot dan terduduk di atas lantai dingin ruangan itu. Apa ia salah? Apa dirinya telah melakukan kesalahan?
Kenapa ini begitu sakit?
Entah seberapa kencang ia meremas dadanya, rasa sakit itu terus terasa. Menghujami jantungnya, membuatnya begitu sesak.
Apa ini yang terbaik?
Sungguh dirinya tidak tahu, apa ini yang diinginkannya. Apa dengan ini ia tidak bisa lagi melihat pemuda itu. Kenapa harus seperti ini.
"Hiks..."
Ingin sekali ia tertawa, menertawakan dirinya yang terisak. Begitu lemah dan menyedihkannya ia sekarang.
"It's... hurt." Ia meremas dadanya kencang, menarik balutan kemeja yang menutupi dadanya hingga kusut.
"Why?... why it's so hurt..."
"Kyuubi kun?" Kyuubi merasakan sebuah tangan yang mendekapnya, mengelus punggungnya dengan lembut penuh dengan kasih sayang. "Kenapa kau tidak jujur pada perasaanmu?" Kyuubi hanya diam dengan sesekali isakan yang keluar dari belahan bibirnya, tak menanggapi sang nyonya Uchiha yang memandangnya penuh khawatir.
Ia tak sekali pun bisa memberikan jawaban dari pertanyaan itu, tidak bisa. Karena walau bagaimana pun dirinya tidak ingin menyakiti dia. Dia yang sangat ia kenal selama ini. "It's hurt..." Lirih Kyuubi, "Why Mikoto san... hiks... my heart's hurt."
Mikoto hanya bisa memeluk erat tubuh gemetar Kyuubi, menenangkan pemuda yang tengah menangis itu dengan penuh rasa keibuan. Dalam hatinya ia sangat meruntuki anak sulungnya yang telah berani membuat pemuda ini begitu sedih, begitu rapuh seperti ini.
"Kau akan terus sakit jika memendamnya, katakan agar sakit itu hilang Kyuubi kun." Ucap Mikoto, ia benar-benar akan memarahi anaknya setelah ini. Tidak akan pernah ia biarkan Itachi menyakiti Kyuubi seperti ini.
Kyuubi perlahan mengangkat tangannya, merengkuh tubuh wanita yang tengah memeluknya dengan erat. Ia butuh sandaran setelah semua yang dialaminya. Butuh seseorang untuk membuatnya tetap bertahan.
'Itachi, I really...'
.
*##########*###########*##############*########### ####*###############*##########*
o.O. Kagari Hate The Real World.O.o
.
Mari lupakan sejenak kegundahan dari Namikaze sulung kita dan beralih pada seorang pemuda bersurai coklat panjang dengan mata limited edition-nya.
Hyuuga Neji, pemuda bersurai coklat panjang yang kali ini menguncir tinggi rambut panjangnya itu kini tengah bersandar pada mobil Sport berwarna silvernya di depan sebuah gerbang bertuliskan Unitersitas Konoha di atasnya. Ia terlihat sangat santai dengan T-shirt ungu bertuliskan make me yours pada bagian depannya dan jeans biru tua yang terlihat sangat pas dikaki jenjang model kita satu ini.
Ia terlihat tengah tebar pesona pada kumpulan mahasiswi yang mengerubuninya sejak ia datang beberapa puluh menit yang lalu. Adakah dari kalian yang bertanya kenapa remaja yang sekaligus berpropesi sebagai model majalah ini berada di Universitas Konoha?
Jawabannya yah tentu saja karena ia mendapatkan kabar jika sang (calon) uke tengah berada di sana karena suatu keperluan yang mengharuskan ia untuk izin dari magangnya di rumah sakit.
Hal itu tentu saja tidak disia-siakan Neji untuk menemui sang (calon) uke tercinta di tempatnya menimba ilmu itu. Tapi dimana kiranya sang (calon) uke yang tengah dengan secara sepihaknya ia klaim itu sekarang? Baiklah, sepertinya kita tinggalkan dulu Neji yang tengah tersenyum dengan menggodanya pada para mahasiswi untuk menengok dimanakah gerangan Gaara berada.
Well, di sinilah Gaara. Tengah merapikan buku-buku kedokterannya yang telah ia tinggalkan selama beberapa bulan ini, bukunya sedikit berdebu layaknya tak pernah disentuh selama bertahun-tahun. Aneh sekali, hanya beberapa bulan dan sudah berdebu. Ah, Gaara saat ini berada di depan lokernya dan mengambil beberapa keperluan dari dalam lokernya yang terbuka.
"Ada apa dengan gadis-garis itu, kenapa mereka berlarian keluar begitu sih?"
Suara barusan membuat Gaara melirik kearah sampingnya, dimana seseorang bersurai cream keemasan panjang yang seluruh rambutnya itu dikepang longgar tengah bersandar pada loker dengan mata yang menatap puluhan gadis yang baru saja melewati mereka.
"Hei Gaara, kira-kira mereka kenapa ya?" Tanya orang itu lagi.
Gaara hanya menatap bosan lokernya yang kini sudah tertutup dan berjalan menjauh. Yah, mengacuhkan dua pertanyaan yang sepertinya diarahkan padanya tadi.
Pemuda bersurai cream keemasan layaknya warna pasir itu mengejar Gaara yang mulai menjauh. "Gaara! Hei! Kenapa sih denganmu? Kau makin dingin setelah magang di rumah sakit." Ujar pemuda itu heran.
"Kau cerewet Shu."
Ucapan Gaara barusan membuat pemuda bernama Shukaku itu merengutkan bibirnya, sepertinya ia sedikit kesal dengan ucapan si panda tak beralisnya itu. Ah! Tunggu, sepertinya ada kata-kata yang sedikit tabu dalam pendeskripsian barusan. Tapi yah sudahlah, kita lupakan saja. Ok?
"Hei Gaara, lihat itu!" Shukaku menarik lengan Gaara, membuat pemuda bersurai merah bata itu mendekat pada jendela dengan tampang ogah-ogahan. "Pantas saja gadis-gadis itu berebut ingin keluar. Ternyata ada model nyasar di kampus kita." Ujar Shukaku, sedikit terkekeh diakhir ucapannya.
Alis –err tak terlihat Gaara sedikit terangkat saat matanya menangkap sosok seorang pemuda yang menjadi pusat kerumunan mahasiswi di bawah sana. Pemuda bersurai coklat yang tampak tengah tersenyum kikuk kearah gadis-gadis di depannya. Pemuda yang selama beberapa hari ini terus mengganggunya dengan rayuan gombal amatir. Hyuuga Neji.
"Aneh, kenapa model majalah remaja seperti dia ada di sini ya?" Shukaku bergumam tanpa tahu jika ucapannya itu membuat Gaara sedikit kesal. Terbukti dari tangannya yang masih digenggam Shukaku dihentakan begitu saja dan berlalu pergi.
Shukaku sendiri lagi-lagi mengejar Gaara yang mendahuluinya, "Hei! Gaara, kenapa kau selalu meninggalkanku sih?!" Ucapnya sedikit keras.
.
.
Senyum Neji melebar saat ia melihat seseorang yang sejak tadi ditunggunya tampak dalam penglihatannya. Ia sedikit bersusah payah keluar dari kerumunan 'kakak-kakak' mahasiswi yang mengelilinginya.
"Ladies, sorry. But, I must go now. Can I?" Ucap Neji sopan dengan senyuman sejuta wattnya yang berhasil memunculkan semburat kemerahan diwajah gadis-gadis yang ia yakini semuanya lebih tua dari dirinya itu.
"Why? Neji chan, kami ingin berfoto denganmu!" Senyum Neji terlihat agak kikuk mendengar namanya yang diakhiri dengan embel-embel 'chan'. Rasanya ia ingin sekali meledak saat ini juga. Dari mananya dari dirinya yang bisa disebut 'chan'? Tubuhnya kah? Tentu bukan, karena tubuhnya yang sudah kotak-kotak layaknya balok ini tidak mungkin. Wajahnya kah? Ayolah, wajah setampan dan seaura seme ini tidak akan pernah membuatnya sampai diberi julukan 'chan'. Atau rambutnya? Err baiklah, rambutnya memang panjang. Tapi bukankah banyak seme yang berambut panjang seperti dirinya? Seperti Itachi, kakak dari sahabatnya misalnya. Atau malah pemuda berambut cream keemasan yang saat ini tengah berjalan bersama ukenya juga mempunyai rambut panjang kan?
"..."
Senyum diwajahnya senantiasa hilang menyadari apa yang terlintas dipikirannya barusan. Neji mengarahkan pandangannya pada seseorang yang terlihat tertawa dan merangkul seenak jidat lebarnya uke 'miliknya'.
"Neji kun?"
Neji kembali tersenyum, namun senyumnya kali ini terlihat seperti serigala yang kehilangan anaknya. Mengerikan.
"Ladies." Ucap Neji, "I have to go, now." Neji segera melesat pergi tanpa mempedulikan teriakan kekecewaan dari para mahasiswi itu. Yang ada dalam pikirannya kini adalah mengetahui siapa gerangan pemuda yang begitu terlihat –sangat- dekat dengan ukenya tadi.
Neji berjalan sedikit cepat namun tetap dengan menjaga imagenya mendekati dua pemuda yang terlihat tengah membicarakan sesuatu dengan akrabnya. Membuat matanya iritasi melihat betapa dekatnya jarak mereka berdua.
"Gaa chan?"
Panggilan Neji barusan mengalihkan perhatian dua pemuda yang kini berdiri tak jauh di depannya. Neji tersenyum dengan seksinya kearah Gaara dan melirik tajam pemuda yang tengah berdiri di samping Gaara.
"Hyuuga san, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Gaara, seakan dia tak tahu kenapa pemuda itu jauh-jauh datang ke kampusnya.
"Tentu saja untuk bertemu denganmu." Jawab Neji, "Dan... siapa dia?" Tanya Neji seraya menunjuk pemuda disebelah Gaara, tidak ada sopan-sopannya.
"Hei! Hei! Sopanlah sedikit pada yang lebih tua, dasar anak SMA." Ucap Shukaku, sepertinya ia tidak terima dengan sikap pemuda di depannya yang tiba-tiba saja mengintrupsi pembicaraannya dengan Gaara.
Neji memandang datar Shukaku, "Aku bertanya pada Gaa chan, bukan padamu." Ucap Neji yang membuat Shukaku tambah kesal.
"Heh, Gaara. Kau kenal bocah ini? Bilang padanya kalau bicara itu sopan sedikit! Dan lagi kenapa dia memotong namamu dan memberikan embel-embel chan padamu seperti itu?!" Kesal Shukaku.
Gaara melirik Shukaku dan kembali menatap Neji, "Hyuuga san, aku sudah menolakmu kemarin." Ucap Gaara yang langsung menohok Neji yang senyumnya kini tengah berkedut setengah hati.
"Bwahaha... he-he's gay? Gaara ternyata aura ukemu memang sangat kuat ya!" Shukaku tertawa terbahak-bahak hingga tubuhnya terbungkuk menahan sakit diperutnya. Namun ia langsung meringis saat sebuah buku besar menimpa kepalanya.
"Shit! That's hurt!" Ringis Shukaku.
Neji menatap datar pemuda bersurai cream keemasan itu, 'Dasar bodoh.' Pikir Neji. "Gaa chan, bukan kah sudah kubilang juga. Aku tidak akan menyerah?" Ucap Neji.
Pemuda bersurai coklat panjang itu berjalan mendekati Gaara dan seenak udelnya mengecup punggung tangan Gaara. Yah, si empunya tangan juga sepertinya tidak keberatam. Melihat Gaara hanya diam atas perlakuan Neji yang bak seorang putri itu padanya.
"Wow, tunggu sebentar bocah. Apa yang kau lakukan? Seenaknya saja mencium tangan Gaara seperti itu." Shukaku berdiri dihadapan Neji dan melepas tangan Gaara yang digenggam pemuda itu.
"..." Neji terdiam dengan mata yang memandang lurus iris hitam yang err terlihat sedikit aneh dengan pupil membentuk empat sudut runcing di tengah bulatan emas –layaknya mata Shukaku di canon-. Neji sedikit heran, apa pemuda ini memakai softlens atau apa dimatanya itu.
"Kau sendiri siapa hingga menghalangi jalanku?" Tanya Neji, ah sepertinya ia tak mau kalah arogannya dengan pemuda berambut kepang di depannya.
Shukaku tertawa mengejek, "Heh, model remaja labil! Seharusnya aku yang bertanya padamu, siapa kau dan kenapa kau mencium tangan Gaara seperti itu?"
Neji membalas dengan senyuman terindahnya, "Seharusnya kau tahu aku jika punya televisi di rumahmu." Jawab Neji, "Dan kenapa aku mencium tangannya itu bukan urusanmu bukan?" Tanya Neji.
"Kau-"
"Cukup Shukaku." Shukaku menatap Gaara yang menghentikan tangannya yang mencengkram kerah Neji.
"Gaara, kenapa kau-"
"Ini ruang publik, aku tidak ingin kalian menarik perhatian lebih dari ini." Ucap Gaara, Shukaku dan Neji terdiam dan mengarahkan pandangannya kesekeliling, sedikit terkejut karena ternyata mereka sudah menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa di sana.
'Gawat!'
Neji terlihat memalingkan wajahnya dan sedikit tertunduk, bisa gawat jika kejadian ini sampai tersebar di media. Ia meruntuki dirinya karena begitu bodohnya ia sampai melupakan dimana ia berada sekarang.
Gaara yang melihat melihat gelagat aneh Neji segera tahu jika pemuda itu tengah berusaha menyembunyikan wajahnya. "Shu, antarkan ini ke rumahku." Ucap Gaara, ia menyerahkan buku-buku yang berada ditangannya pada Shukaku dan tanpa menunggu jawaban dari pemuda itu Gaara segera melangkahkan kakinya mendekati Neji.
Pluk!
Sebuah topi kini bersarang di atas kepala Neji, "Ikut aku." Ucap Gaara.
"He-hei! Gaara!" Shukaku berteriak memanggil Gaara yang terus berjalan menjauh dari kerumunan. Dengan tampang kesal ia beranjak pergi dari tempat itu. 'Awas kau.'
.
.
Mata tak berpupul Neji menatap pergelangan tangannya yang tengah digengam oleh tangan putih Gaara dengan Gaara yang berjalan menuntun –menyeret-nya. Neji tersenyum melihat Gaara yang tampak terburu-buru membawanya pergi menjauhi kerumunan.
.
.
Keduanya terlihat diam, tak ada yang memulai pembicaraan sejak mereka memasuki mobil sport silver Neji dan menjalankan mobilnya menjauhi area kampus hingga mobil itu berhenti di sebuah taman. Hanya Neji yang sesekali melirik Gaara yang terlihat diam seraya menatap lurus ke depan. Menatap hamparan bunga tulip merah di seberang taman.
"Terima kasih."
Gaara melirik Neji saat telinganya mendengar suara bariton khas dari pemuda itu. "Aku hanya tidak ingin kau melakukan hal bodoh." Ucap Gaara datar.
Neji menampakan senyumnya dengan setengah hati, kenapa ucapan Gaara selalu saja menohok dirinya. "Kukira kau khawatir padaku," Ucap Neji. "Sepertinya aku harus lebih berusaha lagi."
Gaara terdiam, ia kembali menatap deretan bunga tulis di seberang taman dan mengawali keheningan diantara keduanya lagi. Kali ini Neji juga terlihat tidak mau mengusik kesunyian diantara mereka. Ia hanya diam dan menatap kearah yang sama dengan Gaara.
.
*##########*###########*##############*########### ####*###############*##########*
o.O. Kagari Hate The Real World.O.o
.
Langkah kaki seorang dokter muda dengan parasnya yang di atas rata-rata menyusuri koridor rumah sakit dengan wajahnya yang sedikit tersirat gurat kelelahan. Ia bahkan sesekali berhenti saat rasa pegal pada pundak dan bagian pinggangnya terasa sangat menyerang tubuhnya. Apalagi ditambah dengan beban dari tumpukan berkas rumah sakit yang harus ia bawa ke lantai teratas rumah sakit. Beginilah nasibnya jika tidak ada sang assisten, ia sendiri tidak tahu sejak kapan ia menjadi sangat bergantung pada Gaara.
"Kenapa tubuhku lelah begini..." Gumam Naruto, ia tengah duduk di kursi yang ada di lorong koridor. 'Apa gara-gara aku terlalu membebaskan dia ya?' Pikir Naruto.
Dia memang melakukan itu tadi pagi dengan Sasuke, tapi seberapa kali pun ia melalukan itu biasanya tidak akan selelah ini. 'Apa ini karena kau ya, aku jadi cepat lelah seperti ini?' Pikirnya lagi.
"Naruto?" Naruto menolehkan kepalanya saat mendengar seseorang memanggil namanya. Melihat seseorang yang tengah tersenyum kearahnya.
"Ah, Itachi san." Ucap Naruto, "Ada apa anda kemari?" Tanya Naruto pada pemuda yang menjadi kakak dari kekasihnya itu.
Itachi mengacak surai pirang Naruto, "Tidak usah seformal itu denganku, panggil aku Itachi nii. Kau kan sudah jadi adik iparku sekarang." Ucap Itachi.
Semburat kemerahan terlihat menghias wajah tan Naruto saat Itachi menyebutnya 'adik ipar', "I-itu...Itachi nii..." Naruto menggaruk tenggkuknya.
"Ya sudah, lama-lama kau juga akan terbiasa kalau memanggilku begitu." Ucap Itachi.
Naruto hanya tersenyum untuk menanggapi ucapan Itachi, namun alisnya sedikit berkerut melihat sedikit memar dipipi kiri Itachi. "Apa yang terjadi dengan wajahmu?" Tanya Naruto dengan nada khawatir.
Tangan Naruto menyentuh wajah Itachi yang sedikit memar, membuat pemuda itu sedikit meringis. Walau bagaimana pun tamparan telak dari Namikaze sulung sangatlah keras dan Itachi juga tidak bisa menyangkal pipinya yang terasa sakit karena hal itu.
Eh, tunggu-tunggu. Ada yang bertanya-tanya mengapa Itachi ada di rumah sakit dan bukan pergi menemui Deidara? Tentu saja karena saja jawabnya adalah Itachi tidak pernah berniat untuk menemui Deidara dan itu hanya suatu kebohongan yang ia ucapkan untuk sang Namikaze sulung. Tujuannya, yah untuk membuat Kyuubi sadar dengan perasaan Itachi yang tidak pernah main-main terhadapnya.
"Bukan apa-apa, hanya kecelakaan kecil." Jawab Itachi.
Naruto menarik tangan Itachi, "Tidak bisa begitu, walaupun hanya luka kecil tetap harus diobati." Ucap Naruto.
"Dasar dokter." Ucap Itachi, Naruto tertawa kecil mendengar ucapan Itachi dengan terus berjalan kesalah satu pintu yang ada di koridor itu –ruangan pribadinya-.
Naruto membuka pintu ruangannya, "Tunggu di sini." Ucapnya, ia menyuruh Itachi untuk duduk di atas tempat tidur pasien. Sedangkan ia berjalan menuju lemari putih besar dengan banyak obat-obatan di dalamnya dan kembali mendekati Itachi.
"Itachi nii, seharusnya lebih hati-hati dengan luka diwajah." Ucap Naruto, ia membuka kotak putih ditangannya dan mengambil antiseptik, kapas dan semacam krim dingin dari kotak itu. Dengan hati-hati ia mengoleskan antiseptik disekitar memar yang ada dipipi dan sudut bibir Itachi.
"Kau itu pemimpin sebuah perusahaan, apa kata para klienmu kalau melihat mitra mereka mempunyai bekas memar diwajah. Mungkin mereka akan menganggapmu tukang berkelahi." Ucap Naruto, tangannya dengan cekatan mengoleskan krim bening pada bagian yang memar.
Itachi tersenyum mendengar ucapan Naruto yang terdengar seperti tengah menasehatinya itu. "Andai Kyuubi sepertimu Naruto." Ucap Itachi.
"Dari pada menasehati, mungkin Kyuu nii malah akan memarahimu dengan tambahan sumpah serapahnya." Naruto tertawa kecil membayangkan jika sekarang Kyuubi yang tengah mengobati Itachi, pastilah pemuda yang lebih tua satu tahun darinya ini bukannya sembuh malah akan mendapatkan memar baru.
"Aku juga berharap kalau Kyuubi bisa –hoek!" Naruto segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya dan berlari mendekati washtafel yang ada disisi lain tempat tidur. Ia segera menundukan kepalanya dan langsung memuntahkan isi perutnya di sana. "Hoek! Keh.. Hoek!"
Itachi nampak khawatir melihat Naruto yang terus-terusan memuntahkan isi perutnya, ia menghampiri dokter muda yang tengah menunduk di depan washtafel dan memijat daerah sekitar pundak Naruto. "Naruto? Kau kenapa?" Tanya Itachi, nada khawatir terdengar jelas dari suaranya.
Tidak ada jawaban dari Naruto karena ia masih sibuk dengan rasa tidak enak dibagian perutnya yang terasa terus mendorong keluar semua isi perutnya. Tangan Naruto terlihat mencengkram erat sisian washtafel, sungguh rasa asing ini sangat menyiksanya dikala tidak ada apa pun yang bisa di keluarkan dari perutnya. Hanya air dan air yang terus keluar, karena memang sejak kemarin ia hanya makan beberapa buah dan air putih. Tak sekali pun menyentuh makanan lain, tidak nasi, ramen atau apa pun karena setiap berdekatan dengan makanan, yang ada ia malah merasa mual yang tak tertahankan seperti sekarang.
Lebih dari lima menit sebelum Naruto berhenti muntah. Pemuda pirang itu kini tangah terduduk dengan tangan yang menutupi bagian wajahnya.
"Sebenarnya kau kenapa?" Naruto menurunkan telapak tangannya dan tersenyum kearah Itachi yang menyodorkan segelas air putih padanya.
ditangan Itachi dan meminumnya beberapa teguk.
"Kau dokter, menasehati orang lain tentang kesehatan. Tapi kau sendiri melalaikannya." Ujar Itachi, ada rasa kesal dalam ucapannya itu meski tetap terdengar datar.
Naruto tersenyum seraya menggaruk tengguknya, "Um... aku kan juga manusia." Ucapnya sedikit bercanda.
"Dasar keras kepala." Itachi mengambil dua lembar tisue dalam kotak tisue yang ada di atas meja dan mengusap pelan dagu Naruto. "Bersihkan dengan benar." Ucap Itachi seraya mengusap bekas-bekas air disekitar dagu Naruto.
Cklek!
Pandangan kedua pemuda itu langsung mengarah pada pintu yang kini terbuka dengan seseorang yang berdiri di ambang pintu itu. Mata Naruto sedikit membulat melihat siapa orang yang kini tengah menatap datar dirinya dengan manik kelam yang menaungi matanya.
"Naruto senpai." Ucap orang itu, pandangan iris kelamnya beralih pada pemuda lain yang berdiri tak jauh –dalam penglihatannya begitu dekat- dengan Naruto.
"Sai/Sai." Ucap Naruto dan Itachi hampir bersamaan, keduanya saling pandang sebelum kembali menatap pemuda bernama Sai itu.
"Itachi... nii-san." Sai menatap Itachi dengan pandangan datar dan kembali menatap Naruto yang terlihat terkejut dengan ucapannya barusan. Bibir Sai terbungkam namun entah mengapa Naruto merasakan sesuatu yang sulit akan menambah pikirannya lagi.
To be Continue~
Omake :
"AAH! Da-danna!" Pemuda berambut pirang panjang yang diikat sebagian pada bagian atasnya terlihat tengah menaik turunkan tubuhnya di atas tubuh seoran pemuda lain bersurai merah yang terlentang dengan santainya di atas tempat tidur pasien. Matanya terlihat mengikuti setiap gerakan pemuda yang tengah mengendarainya itu.
"A –AHH!" Pemuda bersurai pirang, Deidara memejamkan matanya erat menikmati setiap kali kejantanan sang seme menusuk bagian bawahnya.
"Aku bisa melakukan lebih baik dari ini." Ucap Sasori, Deidara hanya memandang kesal kekasihnya itu.
"Itu ju-ga ah.. jika k-kakimu tidak cedera Da-danna ah!"
Sasori menyeringai mendengar ucapan Deidara, ia mengisyaratkan agar pemuda pirang itu bergerak lebih cepat di atasnya.
"AH! AAH! AH!"
Drrrt drrrt drrrt
"Da-danna, ponselku!" Ucap Deidara yang tengah menaik turunkan tubuhnya. Sasori mengambil ponsel Deidara yang berada dimeja kecil sebelahnya dan menyerahkannya pada Deidara.
"Angkat." Ucap Sasori begitu ia melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Deidara mengangguk dan menganggkat telepon itu, "Ha-hallo."
"Kau dimana?" Terdengar suara dari seberang sana.
"A-aku nnh! Danna!"
"Temani aku, aku butuh hiburan." Deidara menaikan sebelah alisnya.
"A-aku sibuk, ja-jangan –"
"Baiklah, aku ke sana Dei-"
"He –tuut..tuut..tuut..."
"GO TO HELL YOU ITACHIIII!" Teriak Deidara lantang, berani sekali Uchiha mesum itu mengganggu kegiatan suci(?)nya hanya untuk keperluan pribadi dan menjadikannya kambilng hitam!
A/N : Akhirnyaaaaaaaaaa! Selesai juga ngetik ini chapter 6 setelah tiga Minggu! Ditambah emon yang nggak selesai-selesai meski pun udah nulis 4 hari khusus buat itu! XD
Fyu~h... aku ini lama-lama jadi author nggak konsisten banget deh! Update sesuka hatinya, sampai lebih dari sebulan baru update begini -3-
Oh, ini masih mending. Yang lebih parah noh 'DID' sampai sekarang masih 2000 word, susah banget buat lemon pedo -,-a
Yang sudah dibuat malah nggak ada hot-hotnya pisan #pundung
Eh, yang ingin Sai nongol! Tuh sudah kukeluarkan dia dari kandangnya! Bwahahaha #disumpel se*pak Sasuke
Sai : Kenapa aku muncul Cuma buat manggilin nama doang? Sepertinya lebih baik kalau tidak muncul sekalian *senyum-senyum gaje*
K : Yang pentingkan nongol tuh! Ga papa dong meski cuma dua kalimat aja!
Sai : Dua kata. *Ngelarat omongan author*
K : *Ketawa sambil sweatdrop* Ya sudahlah, yang penting ini akhirnya selesai. Yey!
Review ya! Kalau nggak, chapter depan bakal lebih lama lagi updatenya *maksa*
Harus ya, kan aku buat fict ini for you~ seperti kata Azu #digorok rame-rame
.
Review?
