A/N : Errr... boleh kah chapter ini menjadi full ItaKyuu?

Gomen ne... soalnya aku mau cepat menyelesaikan konflik antara mereka berdua, bukannya me-anak tirikan SasuNaru kok! Cuma aku lagi nggak mood untuk buat SasuNaru dific ini.. beneran deh! Suwer! -,-v

NejiGaa juga meraja lela di sini :d~

Sorry, nggak bisa bales review ... lagi mandet sama kouta internet yang bentar lagi abis.. mepet banget nih apdetnya juga... hiks hiks T,T

ThanX to :

miszshanty05, Anisa Phantomhive, Zaky UzuMo, devilojoshi, Armelle Aquamar Eira,

Kutoka Mekuto, kinana, hanazawa kay, ,

Princess Love Naru Is Nay, RaraRyanFujoshiSN, laila. r. mubarok, kkhukhukhukhudattebayo,

Miyamoto Arufina, Uzumaki Prince Dobe-Nii, Iria-san, Aki-Ame Kyuuran, CCloveRuki, LadySaphireBlue, Imperiale Nazwa-chan, kang eun hwa,

Gunchan CacuNalu Polepel, Amach cie cerry blossom, HaaniieRyee

Indahyeojasparkyuelfsaranghae Kim Hyun Joong, Guest, ainiadira, Lee Kiamho,

Fujoshi narsis, Ryuu Kanagame & Icah he

~~~ Maaf ya, nggak bisa bales review ^^/~~~

Let's Enjoyed!

Sasuke : 17 tahun

Naruto : 24 tahun

Itachi : 25 tahun

Kyuubi : 25 tahun

Neji : 17 tahun

Gaara : 19 tahun

Deidara : 24 tahun

Sasori : 25 tahun

Sakura : 17 tahun

Shukaku : 19 tahun

Shizune : 22 tahun

Minato : Terserah reader mau umurnya berapa ^^

Mikoto : Ini juga terserah readers ^^a

Kabuto : 28 tahun

Sai : 23 tahun

Disclaimer : Masashi Kishimoto sama

Genre : Romance(?), Drama(?)

Rate : M artinya Mature buat dewasa, yang anak kecil kayak author dilarang masuk!

Pairing : SasuNaru, ItaKyuu

Slight : NejiGaa, SaiNaru.

Warning : Yaoi, Sho-Ai, BL, MalexMale, CowokxCowok, JerukxJeruk, Rape, Lemon kurang hot, M-Preg, aneh, gaje, Typo dan kawan-kawan sebangsanya.

!DON'T LIKE DON'T READ!

But,

You can try to read and don't flame me! ^^

Sequel My Lovely Doctor

Uzumaki Kagari present

My Lovely Actor

.

*########*###########*##############*############# ##*##############*######*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o

.

Sudah tidak diragukan lagi, ini sudah empat hari. Sudah sangat jelas dengan ia yang sulit sekali makan, menghindari semua hal yang baunya menusuk hidung. Termasuk obat-obatan yang seharusnya menjadi hal biasa untuknya setiap hari juga sekarang ia malah tiba-tiba saja marah saat mencium berbagai macam bau dari obat-obatan itu. Sering mual dan muntah dipagi hari. Juga, moodnya yang selalu berubah-ubah setiap saat. Bahkan tadi ia membentak Gaara hanya karena pemuda itu salah mengambil berkas hari ini.

Naruto bisa menyimpulkan jika dia tengah mengalami apa yang dinamakan moody saat kehamilan. Oh, bagus sekali. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Mengurung dirinya di dalam ruang pribadinya? Menyingkirkan obat-obatan yang bagai tak ada habisnya di ruangan itu? Hell! Ini rumah sakit! Atau malah sekalian saja ia pergi jauh-jauh dari lingkungan rumah sakit?

Pilihan terakhir sepertinya ingin sekali ia lakukan, ingin. Tapi tetap saja ia tidak bisa, ia dokter ingat? Artinya ia tidak mungkin pergi dari rumah sakit sementara banyak pasien yang harus diurusnya, tanggung jawabnya.

Menghela napaslah satu-satunya yang Naruto lakukan untuk menghibur diri dari derita bagai siksa neraka ini. Pfft... neraka, bagaimana ia bisa bilang hal ini layaknya siksa neraka kalau ia saja tidak pernah tahu neraka itu seperti apa.

Naruto menyandarkan tubuhnya ke belakang, menghilangkan sedikit beban tubuhnya pada sandaran kursi muliknya. Bibirnya melengkungkan senyuman tipis, mungkin ia satu-satunya laki-laki yang mengalami hal ini kan?

"Apa yang harus kulakukan denganmu eh? Chibi lovely..." Ia berguman lirih dan memejamkan matanya yang begitu terasa sangat berat untuk tetap terbuka. Tentu saja... ia sudah berada di rumah sakit ini sejak kemarin dan, belum pulang atau mengistirahatkan tubuhnya sama sekali.

"Pulanglah Naruto kun."

Mata beriris shapphire itu terbuka dan melirik kearah pintu ruangannya yang terbuka, seorang pria dengan seragam yang sama dengannya. Ia tersenyum melihat senpai berkacamatanya itu. "Aku baik-baik saja, Kabuto san." Ucapnya seraya mengambil bungkusan putih yang dijulurkan Kabuto padanya.

"Kau iya, tapi yang ada dalam tubuhmu itu~... tidak." Ucap Kabuto seraya menyentil pelan dahi Naruto.

"Apa ini? Jeruk?"

Dokter berkaca mata itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saat Naruto tak menanggapi ucapannya dan malah tersenyum ceria saat melihat jeruk berwarna orange cerah yang ada dalam kantung yang ia berikan tadi. "Kau pura-pura tidak mendengar atau memang tengah mengacuhkanku Naruto kun?"

Naruto memandang dokter berkacamata itu dengan alis sedikit berkerut, "Dua-duanya." Ucapnya seraya kembali menatap penuh minat pada kantung plastik ditangannya.

"Makanlah meski hanya sedikit, jangan biarkan perutmu kosong. Dan –" Kabuto mengambil satu jeruk yang ada ditangan Naruto, membuat pemuda itu merengut karenanya "-yang kumaksud dengan makan. Itu artinya, karbohidrat, protein, juga vitamin. Mengerti."

"Aku tahu. Kau tidak lupa aku ini siapa kan?" Tanya Naruto, tangannya meraih kembali jeruk yang diambil Kabuto. Tidak ingin kehilangan satupun buah yang diterimanya. "Ini hampir tiga bulan kan? Apa aku memerlukan sesuatu untuk tambahan nutrisi?"

"Banyak." Kabuto mendudukan dirinya dikursi depan meja Naruto, "Dan harus sering check up untuk memeriksa keadaanmu." Dokter berkacamata itu memberi jeda, "Kau tahu ini bukan sesuatu yang lazim kan, Naruto kun?"

Naruto menghela napasnya, "Selama ini menjadi rahasia, ini tetaplah lazim." Ucap Naruto.

"Lalu bagaimana jika lima, enam, bahkan sembilan bulan setelahnya Naruto kun? Apa kau masih bisa merahasiakannya?"

"... saat itu tiba, mungkin aku sudah tidak lagi berada di sini."

Kabuto menatap Naruto dengan pandangan serius, pemuda yang kini tengah mengupas kulit jeruk ditangannya nampak tenang-tenang saja setelah apa yang diucapkannya barusan. "Naruto kun, kau tidak bermaksud –"

"Kabuto san." Naruto dengan cepat memotong ucapan dokter berkacamata di depannya. "Kuharap saat itu kau ada untukku." Ia tersenyum, senyum yang sekilas terlihat begitu ramah namun jika diperhatikan lebih teliti lagi, maka akan terlihat seperti apa sesungguhnya senyum itu.

Helaan napas lelah dan pijatan kecil dipangkal hidungnya, Kabuto mencoba untuk memaklumi sifat kekeuh Naruto yang ia tahu tidak ada yang bisa menandingi kekeras kepalaan pemuda pirang satu ini. Tidak dirinya, tidak juga Kyuubi yang merupakan kakak kandung pemuda pirang itu sendiri.

"Ya sudah, aku harus kembali keruanganku. Hari ini aku janji dengan salah satu pasien." Ujar Kabuto. Tipis memang memang, tapi Naruto menangkap senyum kecil dibibir dokter berkaca mata itu. Sepertinya sedikit menggoda seniornya ini tidak apa-apa kan?

"Iya-iya, sepertinya dokter kandungan juga bisa mengobati orang yang sakit pinggang."

Langkah kaki sang dokter bersurai abu-abu putih itu terhenti seketika, ia berbalik dengan wajah gelagapan dan sedikit semburat merah dipipinya. "N –Naruto kun, apa maksudmu?"

"Ah, tidak ada kok! Sudah cepat sana, nanti pasienmu menunggu." Ucap Naruto seraya mengibas-ibaskan tangan kanannya di depan wajahnya. Tak lupa dengan senyum sejuta watt yang sangat mudah sekali ditebak apa artinya.

Dengan kerutan didahinya, Kabuto mengangguk pelan dan kembali memutar tubuhnya menghadap pintu keluar. Membuka pintu itu dan memberi senyuman pada Naruto yang menatap kepergiannya.

"Sampaikan salamku pada Orochimaru san!"

Sraak!

Semua map dan berkas-berkas ditangan Kabuto berjatuhan begitu saja setelah pintu ruangan Naruto benar-benar tertutup. Wajahnya diselimuti warna merah, sungguh benar-benar juniornya itu. Menggodanya dengan ucapan yang hampir saja membuat jantungnya copot saat itu juga.

Dengan cepat Kabuto mengumpulkan kembali kertas-kertas dan map yang berserakan di dekat kakinya. Ia melangkah dalam diam, tidak mempedulikan orang-orang yang dilewatinya melirik ia dengan tatapan heran. Ukh... juniornya itu pasti sedang tertawa-tawa puas diruangannya sekarang ini.

Yah... memang benar adanya seperti itu sih. Saat ini Naruto memang tengah tertawa-tawa dengan tidak elitnya, bahkan terbatuk-batuk karena menelan biji jeruk yang tengah ia makan.

Rasakan... itu akibatnya jika mengerjai orang yang lebih tua.

Setelah Naruto sudah benar-benar menghilangkan efek 'kualat'nya, ia kembali memakan buah berbentuk setengah oval itu. Membawa buah asam manis itu ke dalam mulutnya. Ah... iya rindu sekali pada rasa ini, bukan jeruknya. Tapi, terakhir kali ia memakan buah ini dengan suasana hati yang –kurang baik dan jeruk selalu jadi pilihan utamanya untuk menghilangkan mood very bad itu.

"Ne, bukankah ini terlalu lama hanya untuk mengambil sebuah berkas?" Ia bertanya dengan mata yang tertuju pada jam ditangan kirinya. Ini lebih dari setengah jam dari waktu Naruto menyuruh Gaara untuk mengambil berkas kerjanya hari ini. Apakah pemuda merah bata itu mendapat masalah? Atau... ia membuang napasnya, mungkin kah Gaara marah karena ia membentaknya tadi? Anak itu kan memang cepat sekali ngambeknya kalau soal begini.

Err... kenapa rasa-rasanya ia seperti mengenal Gaara dengan baik ya? Ck! Tentu saja ia mengenal pemuda itu, sudah lebih dari tiga bulan kan pemuda merah bata itu magang di rumah sakit ini. Sebaiknya ia mencarinya, kalau lebih lama lagi. Pekerjaannya hari ini akan semakin tertunda dan ia tidak mau harus merelakan jam makan siangnya, lagi.

Baiklah, ia akan mencarinya.

Drrrt drrrrt... drrrt drrrt

Baru saja Naruto akan beranjak dari duduknya, ponsel yang berada dikantung celana sebelah kanannya bergetar. Ia mengambil ponsel itu, alisnya terangkat saat nomer tidak dikenal tertera dilayar ponselnya.

"Moshi-moshi."

"Dobe."

Naruto tersenyum saat panggilan menghina sekaligus sayang itu terdengar dari speaker ponselnya. Melantunkan suara seseorang yang ia rindukan sekarang. Kekasihnya.

"Ada apa Sasuke? Rindu padaku?" Tanya Naruto, ia tertawa kecil saat mendengar dengusan dari pemuda onyx yang ia tahu sekarang ini kekasihnya itu tengah berada nan jauh di Hawai.

"Kau sudah kedokter?"

"Aku dokter, Sasuke. Untuk apa dokter pergi kedokter." Jawab Naruto.

"Ck! Aku tidak sedang bercanda. Wajahmu pucat kemarin, jangan bohongi aku dengan cengiran bodohmu itu."

Lengkungan senyum kembali menghias wajah Naruto, "Sudah, aku baik-baik saja. Hanya kurang istirahat saja." Jeda sejenak, "Kau juga, bukankah kau sedang bekerja? Kenapa menghubungiku?"

"Jadi aku tidak boleh menghubungi pacarku sendiri? Kalau begitu ya sudah." Kali ini dengusan terdengar dari Naruto.

"Hei, kau marah ya?"

"..." Tak ada jawaban, hanya suara gemerisik ombak yang samar terdengar dari ponselnya.

"Baiklah, aku harus kembali bekerja sekarang. Telepon aku jika kau sudah tidak marah lagi dan Sasuke... aku mencintaimu."

Lama tidak ada respon sedikitpun dari seberang sana, tapi ia yakin Sasuke mendengar ucapannya barusan dan yah, Sasuke mendengarnya dengan sangat jelas. Bahkan seandainya saja Naruto tahu jika kini pipi putih Uchiha bungsu itu dipenuhi oleh rona merah.

"... hn." Dan sambungan terputus.

'Yup! Saatnya kembali bekerja!' Pikir Naruto, menyemangati dirinya agar hari ini ia tidak perlu bolak-balik washtafel kamar mandi untuk muntah. Jangan dibahas kenapa, sekarang yang utama yaitu mencari sang assisten dadakan. Karena itu juga ia berjalan keluar dari ruangannya, pertama ia akan mencarinya diruang berkas. Biasanya jika tidak kembali, Gaara pasti disuruh-suruh untuk mencarikan berkas lama oleh perawat lain. Yah... sekedar meminta bantuan katanya.

Naruto tertawa kecil menyadari jika Gaara itu sebenarnya baik. Di samping sikap acuh juga dingin ditambah muka datarnya itu. Membuat siapa saja yang melihatnya akan berpikir dia itu memang dingin dan seriusan orangnya. Jangan selalu menilai seseorang dari covernya, mungkin cocok untuk Gaara.

Ah, ini dia. Ruang berkas, ia sudah sampai ternyata. Heran kenapa cepat sekali ia sampai? Tentu saja karena sebenarnya ruang berkas itu berada satu lantai dengan ruang pribadinya hanya saja ruangan itu berada paling ujung disisi selatan rumah sakit dan karena itu juga ia heran, kenapa Gaara lama sekali hanya untuk mengambil berkas dari ruang ini. Seharusnya berkas kerja hari ini juga tinggal memintanya pada perawat yang bertugas diruangan itu, tidak perlu mencari.

Cklek...

Pintu berwarna putih yang menjadi pintu ruang berkas itu ia buka, alis Naruto sedikit berkerut karena ruangan berkas itu dalam keadaan gelap. 'Istirahat kah?' Pikirnya seraya melihat jam dipergelangannya. 'Tapi masih jam delapan.'

Naruto berjalan masuk, sedikit heran dengan keadaan ruangan yang gelap tapi tetap melangkahkan kakinya ke dalam. Pikirannya sekarang mulai kearah negatif macam 'Jangan-jangan anak itu kejatuhan arsip rumah sakit dan pingsan' atau 'Apa Gaara digondol hantu kuntilanak karena matanya yang hitam sampai dikira anaknya?' atau 'Saat ini Gaara sedang meringkuk ketakutan karena takut gelap' dan masih banyak lagi atau-atau semakin tidak masuk akal yang ada dipikiran otak bermahkota pirangnya itu.

"Aku... sedang bekerja –euhmmtikan..."

Seketika itu bulu kuduk Naruto merinding, ia mematung dan meneguk ludahnya saat dengan –sangat- jelas telinganya mendengar suara... desahan?

"... H –Hyuugah..." Mata sapphirenya mengerjap, benarkan yang didengarnya itu suara desahan seseorang? Kok suaranya seperti... –dengan mengendap-endap a la maling disiang bolong, Naruto melangkahkan kakinya lebih dalam dan bersembunyi dirak tinggi dimana suara itu berasal.

Oh –My...

Rasanya Naruto ingin mengeluarkan matanya saat itu juga, di depannya kini dua orang remaja tengah dalam keadaan yang sangat amat bisa dibilang –wow, hampir saja ia menjatuhkan rahang bawahnya! Dengan wajahnya yang sudah benar-benar berubah merah!

Apa sih yang dipikirkan dua orang yang nampaknya tak menyadari keberadaannya itu heh! Di rumah sakit. Diruang berkas seperti ini!

"Ha –ahh... berhentihh..."

Ini keputusannya yang terbaik. Ia harus menghentikan kedua orang itu sebelum seseorang yang lain memergoki mereka dan menggemparkan rumah sakit. Naruto menggerakan tubuhnya yang tersembunyi oleh rak tinggi dan sedikit berjalan ke depan, ia berhenti dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Ekhm!"

Kegiatan kedua orang itu pun terhenti dengan mata yang terbelalak, terkejut melihat seseorang yang melihat mereka dalam keadaan tidak sewajarnya. Terlebih mata sapphire itu terlihat memandang dengan amarah.

'Shit!'

Kembali 20 menit sebelumnya

.

.

.

Langkah kaki yang beraturan milik pemuda dengan surai merah batanya nampak begitu teratur menapak dilantai putih rumah sakit. Ia sedang menuju ruang berkas, mengambil berkas hari ini, dan itu karena ia salah mengambil berkas hari ini. Kena marah –oke yang ini ia tidak biasa. Bukan tidak biasa dimarahi, malah sering oleh Kyuubi, tapi kali ini lain karena yang memarahinya adalah Naruto. Ia sih tidak masalah dengan itu, tapi yang jadi masalah adalah Naruto memarahinya dengan wajah yang setengah ingin menangis. Aneh? Sangat dipakai satu kata modern, banget!

Tapi, sudahlah. Sekarang toh ia sedang mengambil berkasnya kan? Tidak ada yang perlu dipermasalahkan –

"Gaa chan." –kecuali seonggok(?) manusia yang seenak jidat lebarnya memeluk tubuhnya dari belakang sekarang ini. Ia sempat terkejut, namun cepat kembali dalam mode datarnya.

"Aku sedang bekerja Hyuuga san." Ujarnya singkat seraya melepaskan dua tangan yang memeluk tubuhnya.

"Kalau begitu kapan kau tidak bekerja?" Pemuda berusia tujuh belas tahun itu mengikuti langkah Gaara, memasuki ruangan dengan papan tanda bertuliskan ruang arsip dipintunya. Sedang, yang diikuti nampak tidak peduli dengan pemuda yang lebih muda dua tahun darinya itu. Ia harus segera membawa berkas hari ini dan menyerahkannya pada Naruto, jangan sampai pembimbingnya itu kembali menyemprotkan amarah di depan mukanya lagi.

Tapi, kenapa ruangan ini gelap? Rasa-rasanya tadi pagi ruangan ini terang dan sepi sekali kali ini?

Gaara berjalan mendekati meja yang seharusnya dijaga oleh seorang perawat di sana, namun yang ia temukan adalah selembar kertas yang bertuliskan –sedang dipanggil- dengan tinta hitam.

Ya sudahlah, kalau memang tidak ada. Ia bisa mencarinya sendiri dilemari arsip hari ini kan.

"Gaa chan?"

Tak ada jawaban, pemuda bersurai merah bata di depannya kini malah sibuk berkutat dengan lemari besar dihadapannya. Kesal? ah, rasanya tidak. Melihat bagian belakang tubuh ramping Gaara sedekat ini tidak buruk juga.

Bruuk!

Juga pantatnya yang nampak begitu indah saat pemuda itu membungkuk –what! Tunggu sebentar, itu bukannya tidak buruk lagi. Gaara memakai celana jeans yang cukup ketat melekat dikakinya hari ini dan itu memperlihatkan bentuk bagian belakangnya. Meski tidak melihat langsung, tapi tentu saja fantasi lir dikepalanya dapat membayangkan bahkan dilebih-lebihkan lagi yang membuat celananya kini serasa mulai sempit.

Neji berjalan mendekati Gaara dan berdiri tepat di belakang pemuda itu, "Gaa chan." Ia berbicara tepat ditelinga kanan Gaara, dengan tubuhnya yang membungkuk. Neji bisa merasakan tubuh di depannya itu menegang untuk beberapa saat sebelum kembali rileks dan melanjutkan mengambil beberapa map yang tak sengaja dijatuhkannya.

"Biar kubantu." Ucap Neji, di samping telinga Gaara lagi dan lagi tubuh pemuda itu menegang. 'Ah... begitu kah?' Batin Neji dengan seulas seringai memukau diwajahnya. Dengan sengaja ia mengambil map yang sama dengan yang Gaara ambil hingga jari mereka bersentuhan.

Dan sekali lagi, tubuh Gaara menegang. Rasanya ingin sekali Neji tertawa sekarang ini. Sebenarnya apa yang terjadi hingga pemuda merah bata ini selalu menegang saat bersentuhan dengannya. Padahal dua hari lalu rasanya biasa saja, tapi kenapa sekarang –mungkinkah?

Dengan sedikit –amat sangat- nekat, Neji membalik tubuh Gaara dan memerangkapnya diantara kedua tangannya dan membuat Gaara harus bersandar pada lemari besar di belakangnya.

"..."

"Gaara..." Emerald Gaara memandang warna bulan di depannya dengan datar, tadi itu Neji memanggilnya dengan suara begitu rendah atau hanya perasaannya saja? Ia masih diam saat Neji mendekatkan wajahnya, membuatnya menatap warna bulan itu lebih jelas lagi. Ia hanya berharap pemuda di depannya ini tidak akan berjarak lebih dekat dari sekarang ini, atau ia benar-benar tak bisa menahannya lagi.

"Gaara..." Hembusan napas hangat Neji menerpa kulit wajahnya, Gaara menggigit bibir bagian dalamnya. Pemuda ini harus benar-benar berhenti sekarang.

"Kau tidak dalam keadaan –"

"Nnh..."

Gotcha! " –panas." Sumpah, benar-benar sekarang ini Neji ingin sekali melupakan sikap cool yang disandangnya dan berjingkrak ria saat mendengar desahan tertahan yang mengalun dari bibir ranum Gaara. Tapi sayangnya, ia harus jaga image juga di depan calon ah, ralat- akan menjadi ukenya.

Oh Shit! Oh Shit! Oh Shit! Shit! Shit! Shit! Shit! Shit! Damn!

Gaara benar-benar mengutuk mulutnya sendiri, kenapa pula harus mengeluarkan suaranya seperti itu. Hanya menahan sebuah desahan pun ia tidak bisa. Mimpi sialan! Ini semua karena mimpi sialan itu! Dan sekarang ia harus melihat senyuman layaknya kemenangan diwajah pemuda Hyuuga di depannya.

"Kubantu kau menyelesaikan masalahmu." Neji berjongkok di depan Gaara, melirik pemuda bermata emerald itu sebentar dan mengembalikan tatapannya ke depan.

Ini tidak bagus, benar-benar tidak bagus. Jangan bilang Neji akan melakukan itu. Gaara sudah sangat tersiksa untuk tidak bersentuhan dengan pemuda itu, jangan tambah dengan pemuda itu yang malah dengan sengaja menyentuhnya.

Sreet...

Suara resleting yang diturunkan begitu serasa menggema diruangan itu. Tangan Neji yang dengan cekatan melonggarkan sabuk dan membuka kancing celana Gaara kini tengah menurunkan resleting celana itu hingga bawah. Jantungnya yang serasa ingin mendobrak keluar membuatnya tak mau lagi memandang sekitar. Mata bulannya terlihat berkilat menatap gundukan dibalik kain tipis berwarna abu-abu di depannya.

Ingin sekali Gaara mengucap kata berhenti, namun entah mengapa lidahnya begitu kelu. Ia tak bisa membuka sedikit saja mulutnya, karena jika ia melakukannya. Ia sangat yakin jika yang keluar bukanlah protesan melainkan desahan yang ditahannya sekarang.

'Mimpi brengsek!'

"Apa yang kau lakukan sampai bisa setegang ini Gaa chan?" Gaara tahu itu sebuah ejekan, atau mungkin sindiran untuknya.

Tangan Gaara bergerak untuk menutupi daerah selangkangannya, ia hendak mengembalikan celananya yang sudah melorot namun tangannya ditahan oleh Neji. Matanya membulat melihat pemuda itu mencium gundukan diantara selangkangannya yang masih terbungkus kain tipis abu-abu. "Untuk kali ini," Neji melirik Gaara, "Biarkan aku membantumu." Tangannya menurunkan kain tipis yang menutupi milik Gaara.

Semburat merah menghiasi wajah Gaara saat melihat senyum Neji ketika pemuda itu melihat kejantanannya yang menegang. Ia pasti sudah gila karena diam saja saat seseorang tengah bersiap membuka mulutnya dengan kejantananmu yang menegang berada di depan mulut itu.

"Berhenti H –Hyuuga." Gaara berucap dengan suara yang bergetar namun pemuda yang berjongkok di depannya itu tak sekalipun mendengarkan ucapannya dan malah mulai memasukan kejantanan Gaara ke dalam mulutnya.

"Ngh..." Basah, lalu terasa hangat. Tangan Gaara mencengkram erat lemari di belakangnya merasakan sensasi asing yang menyerang titik tersensitifnya. Neji yang memasukan seluruh kejantanannya ke dalam mulutnya dan memundurkan kepalanya, mengeluarkan kejantanannya lagi.

Gaara bergidik saat lidah Neji menusuk-nusuk lubang kecil di ujung kejantanannya. Mengalunkan desahan-desahan yang tak bisa lagi ia tahan. Terlebih saat pemuda bersurai coklat panjang itu mengulum kejantanannya dengan sesekali menghisap, mengeluar masukan dengan tempo cepat lalu lambat dan cepat lagi.

"Aku... sedang bekerja –euhmmtikan..." Ia berusaha tetap menguasai dirinya.

"... H –Hyuugah..."

"Ha –ahh... berhentihh..."

"Ekhm!"

Suara deheman itu membuat Gaara menatap arah depannya dan Neji yang nampak menghentikan kegiatannya dan ikut memandang arah belakangnya. Mata mereka terbelalak, terkejut melihat seseorang yang tengah menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan memandang mereka dengan tatapan tajam.

'Shit!'

.

.

.

.

"Ini rumah sakit." Naruto memandang kedua pemuda yang tengah berada di depan meja diruangannya dengan pandangan tajam. Memberitahukan jika ia benar-benar serius sekarang ini. Dua pemuda yang nampak masih sama-sama dalam keadaan 'high' itu terlihat menunduk, bukan kepada merasa bersalah. Tapi karena terlalu malu menatap dokter bermarga Namikaze dihadapan mereka. Kepergok saat melakukan blowjob, memangnya apa yang mereka harapkan?

Naruto menghela napasnya, "Tolong. Jika kalian ingin melakukannya, cari tempat yang lebih baik dibandingkan dengan ruang arsip yang bisa saja orang lain selain aku yang melihat kalian." Ucap Naruto.

'Huh?'

Kedua pemuda itu langsung menegakan kepala mereka dan menatap Naruto dengan pandangan tidak mengerti. Bukannya mereka akan dimarahi?

"Aku tidak akan membahas apa yang kalian lakukan di sana. Hanya kali ini aku memberikan kalian kesempatan." Ujar Naruto, "Jangan ulangi hal ini lagi."

Naruto menegakan tubuhnya dan menatap pemuda merah bata di depannya. "Rapikan pakaianmu Gaara, dan susul aku jika urusanmu dengan Neji kun sudah selesai." Kaki berbalut jeans gelapnya melangkah keluar dari ruangannya, meninggalkan dua sejoli itu dalam keheningan.

Tidak ada yang memulai pembicaraan, Gaara maupun Neji sama-sama terdiam dalam suasana tidak mengenakan diantara mereka. Hanya menatap lurus kursi kosong yang tadi Naruto duduki.

"..."

"..."

Akan lama untuk mereka bersikap seperti 'biasa'nya lagi terhadap satu sama lain setelah ini.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto berjalan, melangkahkan kakinya menjauh dari ruangannya. Mimpi apa dia semalam sampai-sampai melihat adegan lime secara live begitu? Apalagi dilakukan oleh assistennya dan sahabat dari kekasihnya sendiri! Tidak salah kan jika sekarang ini ia malu sendiri?

'Hari yang buruk. Benar-benar hari yang buruk.' Batin Naruto, 'Ini tidak akan menjadi lebih buruk lagi kan?'

Tapi sepertinya keinginan Naruto tak sampai lima detik sudah terjawab, hari ini bisa menjadi lebih buruk lagi saat ia mendengar suara yang amat familiar untuknya.

"Naruto senpai." –Sai. Oh! Ayolah, bisa kah hari ini lurus-lurus saja. Jangan berbelit bagai benang kusut begini!

"Apa yang kau lakukan di sini Sai?" Naruto menghentikan langkahnya, menunggu pemuda berjas hitam yang tengah berjalan kearahnya itu.

"Menemuimu." Jawab Sai, ia mengikuti langkah Naruto saat dokter muda itu kembali berjalan.

"... Naruto senpai –"

"Jangan sekarang Sai, aku tidak ingin menambah masalahku hari ini." Ucap Naruto, memotong ucapan pemuda di sampingnya.

Grep!

Sai menangkap pergelangan Naruto, "Jadi aku ini masalah bagimu?" Tanya Sai, ia tetap memegangi tangan Naruto meski si empunya nampak berusaha melepaskannya.

"Bukan itu maksudku Sai."

"Lalu apa? Tadi kau bilang sendiri aku ini masalah."

"Aku hanya tidak ingin menambah pikiranku." Naruto menatap onyx Sai, meminta pengertian juniornya semasa SMA itu agar tidak melanjutkan pembicaraan ini.

"Kalau begitu jawab pertanyaanku. Apa kekasihmu itu, apa dia Itachi?"

Salah paham? Jadi itu yang membuat pemuda ini terlihat marah? Mengira Itachi adalah kekasihnya?

"Bukan." Jawab Naruto.

"Jangan membohongiku!" Suara Sai meninggi, hingga beberapa orang yang melewati mereka terlihat berhenti untuk melihat kearah mereka.

Naruto menyentakan tangannya dengan kasar, melepaskan genggaman tangan Sai pada pergelangannya. Sudah cukup! Hari ini sudah sangat melelahkan untuknya dan sekarang seseorang malah membentaknya! Tidak tahukah jika ia sudah sangat menahan emosinya yang sedang sangat sulit ia kontrol hari ini.

"Aku tidak membohongimu!" Suaranya ikut meninggi, "Tidak bisakah kau untuk tidak mencampuri urusanku Sai! Aku sudah cukup lelah hari ini! Kau pikir siapa dirimu bisa berteriak padaku!"

Sai menggeretakan giginya, "Aku seseorang yang selalu menunggumu Naruto senpai. Aku seseorang yang ingin melupakanmu namun tetap tidak bisa. Aku yang selalu berada di belakangmu, berharap jika barang sejenak saja kau berbalik dan melihat kearahku Naruto!" Ia sudah tak peduli dengan orang-orang yang melihat kearah mereka. Bahkan ia melupakan sebutan senpai yang selalu ia gunakan untuk laki-laki di depannya ini.

"Cukup! Aku muak dengan semua kata-katamu Sai! Memang kenapa jika Itachi kekasihku? Kau mau apa? Menyuruhku putus dengannya? Kau tidak berhak akan hal itu!" Teriak Naruto, emosinya sudah tersulut. Sudah ia bilang kan jika hari ini dia sedang labil.

Grep!

Naruto menyipitkan matanya saat merasakan cengkraman kuat pada bahunya, "Aku akan berbuat lebih buruk dari itu." Dan rasa sakit itu hilang saat pemuda onyx di depannya juga menghilang dari pandangannya. Meninggalkan ia dengan mata yang terbelalak, sangat terkejut dengan ucapan terakhir pemuda itu.

Brugh!

'Apa yang sudah kulakukan...'

Buruk, sangat buruk. Apa yang telah ia lakukan, melibatkan Itachi pada masalahnya. Membuatnya berurusan dengan Sai. Naruto tak mendengarkan beberapa perawat yang menanyakan keadaannya yang tiba-tiba saja jatuh terduduk setelah kepergian Sai. Ia saat ini tengah berharap agar Sai tidak melakukan sesuatu apapun itu pada Itachi. Ia tidak akan pernah melupakan tabiat pemuda itu. Semua perbuatan yang dilakukan Uchiha Sai untuk mendapatkan apapun yang diinginkannya.

.

*########*###########*#############*#############* #############*##########*

O. Kagari Hate The Real World.O

.

.

Pagi ini mendung, begitu banyaknya awan yang menutupi indahnya langit biru. Merubahnya menjadi begitu kelabu dengan tetesan-tetesan air yang turun. Membasahi tanah kering di luar sana. Hari yang sama sekali tidak indah.

Beruntung bagi Kyuubi, hari hujan berarti tidak ada yang namanya harus keluar rumah dan melakukan ini dan itu untuk pertunangannya yang akan diadakan tak lebih dari dua minggu lagi. Ia bisa bersantai, sendirian. Disalah satu apartemennya miliknya. Ditemani oleh satu cup besar ice cream strawberry dipangkuannya. Juga televisi mungkin, meski ia sama sekali tak tertarik melihat tayangan sinetron yang begitu melow dramatis.

Cih! Ia bukan ibu-ibu yang menyukai berbagai macam konflik tidak logis dengan air mata yang bercucuran setiap kali si pemeran utama patah hati. Ia bukan orang yang akan terbawa suasana dan ikut-ikutan menangis.

"Hiks... seharusnya kau kejar dia Yori."

Ah... sepertinya semua kalimat di atas harus segera dihapus karena... sekarang, seorang Namikaze Kyuubi memang tengah menonton dengan khidmatnya tayangan bernama sinetron itu dengan air mata yang bercucuran dipipinya. Juga dengan sendok besar ditangan kanannya yang terus menyuapkan dinginnya ice cream ke dalam mulutnya.

Ya Tuhan! Demi apa, seorang Namikaze Kyuubi menonton sinetron! Demi apa dia yang tidak pernah sekalipun mengecap rasa ice cream kini malah melahapnya dengan cucuran air mata juga lelehan ingus yang mengucur dengan deras dari hidungnya!

Begitu galau kah ia hingga harus menjadi seperti ini. Kyuubi, ada apakah gerangan dengan dirimu yang dulu?

Drrrt... drrrt... drrrt...

Getaran ponsel di meja kecil di hadapannya mengalihkan pandangan Kyuubi dari televisi di depannya. Ia mengambil ponsel berwarna hitam itu dan menatap layarnya yang menampilkan sebuah nama yang amat dikenalnya. Ia menekan tombol yes pada layar ponsel itu dan mendekatkannya pada telinga.

"... apa?" Ucap Kyuubi tak jelas seraya mengelap ingusnya dengan tisue.

"Kyuu nii, kau dimana?" Pertanyaan itu tentu saja berasal dari adiknya, Naruto.

"Rumah." Jawab Kyuubi, ia menyuapkan satu sendok lagi ice cream ke dalam mulutnya.

"Apa yang kau lakukan di sana sih? Kenapa tidak ke rumah sakit, aku repot di sini!"

"Cuti."

"Kyuu! Aku serius!"

"Baiklah, semoga berhasil." –Tut..tut..tut...

Dilemparnya ponsel hitam itu pada sofa di sampingnya, ah... tidak lupa juga dengan mencopot sim cardnya. Ia ingin bersantai, hari ini saja sebelum semuanya kembali seperti kemarin atau nantinya. Tidak ingin diganggu oleh siapapun atau apapun.

Kyuubi ingin menjadi dirinya sendiri, untuk satu hari ini saja. Tidak memikirkan soal ayahnya, pertunangan juga tentang Ita-

Praak!

"Arrgh! Sialan!" Lagi-lagi, ia bermaksud untuk melupakan semuanya hari ini saja. Bukan malah mengingat hal yang membuatnya kesal seperti ini! Hanya satu hari, sudah cukup satu hari saja ia ingin terbebas dari semuanya.

Kyuubi menutup wajahnya dengan sebelah tangan, sudah cukup untuknya. Ia tidak tahan lagi dengan semua ini. Persetan dengan ayahnya! Persetan dengan pertunangannya! Bull shit! He can't do this anymore! Everyting just make him sick!

He must stop this, now.

Ia membangunkan tubuhnya, secepat kilat melangkahkan kaki berbalut celana trainingnya dari ruangan yang amat berantakan itu. Tak peduli saat kakinya menginjak dinginnya ice dari ice cream yang ia jatuhkan tadi. Ia terus berjalan, hingga pintu kamar apartemennya. Ini sudah gila, atau malah ia yang sudah gila.

Tidak ada satu hari pun ia bisa terbebas dari pikirannya tentang laki-laki itu. Gaah! Ia bahkan meruntuki dirinya sendiri saat mengingat ia yang menangis tersedu-sedu dengan tangan yang memeluk erat tubuh laki-laki itu. Ia memeluk, seolah tak ingin laki-laki itu meninggalkannya. Sikapnya yang seperti seorang wanita yang dicampakkan kekasihnya.

Ingin sekali Kyuubi membenturkan kepalanya ini pada beton setebal lima centi agar ia melupakannya, geger otak ringan atau amnesia sekalian mungkin lebih baik dari pada mengingat kejadian itu.

Bahkan, hampir saja ia mengatakan sesuatu yang akan disesalinya seumur hidup jika saja ia tak mengingat Shizune, tunangannya saat itu.

Tuhan, ia sudah gila!

.

.

Baju hangat, sudah. Koper dengan semua pakaian dan keperluannya, sudah. Ponsel, ia tidak membutuhkannya, tinggalkan saja. Semuanya sudah siap, Kyuubi tersenyum saat melihat koper besar di samping kanannya. Mengambil liburan, atau lebih tepatnya kabur dari tempat memuakkan ini sampai acara pertunangannya nanti adalah hal yang ia butuhkan sekarang.

"Ini yang terakhir, dan selamat datang Kyuubi pengecut." Ucapnya seraya menatap pintu depan apartemennya. Dengan pergi dari sini, sejauh mungkin. Tidak ada yang bisa membuatnya bimbang lagi, ia pergi dan kembali saat pertunangannya dilaksanakan. Itu saja.

Kyuubi mengambil napasnya dalam dan membuangnya perlahan, ia menatap pintu depan apartemennya dengan yakin. Tinggal membuka pintu ini dan pergi, dan selamat tinggal semua kegundahan yang bukan dirinya... hanya itu... semudah itu... tinggal membuka pintu ini.

Ting tong...

Tangan Kyuubi terhenti tepat saat jemarinya menyentuh gagang pintu apartemennya. Ia mengumpat kesal saat bel apartemennya berbunyi. Ia membuang napasnya kasar, siapa yang datang dipagi hari hujan begini.

"Siapa?" Tanya Kyuubi, ia mengerutkan keningnya saat melihat layar di samping pintu hanya menampakkan depan apartemennya yang tidak ada orang.

"Ck!" Dengan sedikit kesal ia membuka pintu apartemennya, hanya untuk melihat sesuatu yang tidak ia inginkan.

"Itachi." Suaranya berubah datar. Ia menatap laki-laki yang berdiri dihadapannya itu dengan dingin.

"Kau mau pergi Kyuubi?" Tanya Itachi dengan mata yang melirik koper yang ditenteng Kyuubi, T-shirt hitamnya terlihat basah dan menempel erat pada tubuhnya.

"Seperti yang kau lihat." Jawab Kyuubi, "Aku buru-buru, jadi apa maumu?" Tanyanya langsung dengan tetap... datar.

Itachi mengangkat tangan kanannya yang menggenggam sekantung plastik putih. "Wine, sebelum kau pergi." Ucapnya tanpa sekalipun memalingkan pandangannya dari sosok di depannya.

"Tidak, terima kasih." Ucap Kyuubi, ia bersiap menutup pintu apartemennya jika saja sebelah kaki Itachi tak menghalanginya.

"Tidak mempersilahkanku masuk Kyuubi?"

Ia benci sekali, sikap dia yang seperti ini. Tidak bisa kah laki-laki ini menyerah saja, seperti yang dilakukannya. Tidak ada ruginya juga menyerah bukan, tinggal mencari laki-laki lain atau wanita lain jika dia mau. Tidak usah sampai seperti ini terhadap ia yang sudah menyerah.

Dengan enggan Kyuubi melebarkan pintu apartemennya. Memiringkan tubuhnya sedikit, memberikan ruang untuk Itachi masuk.

"Sepuluh menit." Ucap Kyuubi saat Itachi berjalan masuk melewati dirinya.

Kyuubi menutup pintu itu, ia berbalik dan melihat Itachi yang seenaknya berjalan masuk ke dalam rumahnya. Dimana tata krama juga kesopanan Uchiha satu ini, masuk begitu saja ke dalam rumah seseorang?

"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Kyuubi to the point, ia menyandarkan punggungnya pada dinding putih dekat pembatas antara ruang televisi dan ruang depan tadi. Matanya melihat Itachi yang nampak menoleh ke kanan kirinya sebelum duduk di atas sofa. Jika ia tidak ingat apa itu arti kata sopan, sudah pasti ia dengan sangat rela mengusir Itachi sekarang juga, saat ini juga.

"Kau yang akan bicara." Jawab Itachi, kantung plastik putih ditangannya telah ia taruh di atas meja kecil di depannya.

Kyuubi tertawa sinis mendengar ucapan Itachi, "Keh, tidak ada yang ingin kubicarakan." Ucapnya.

"Could you sit, Kyuubi?" Itachi menatap lurus pemuda bersurai merah yang tengah menyandarkan punggungnya pada dinding itu.

Bibir tipis itu masih terbungkam meski ia telah menegakkan tubuhnya dan berjalan mendekati Itachi, ia melangkahkan kakinya ke depan laki-laki itu dan berdiri terhalang oleh meja kecil di depannya.

"Sit." Kyuubi memutar bola matanya mendengar ucapan yang seperti perintah itu. Cih! Terlalu tinggi bagi seorang Uchiha untuk mengucapkan satu kata mohon. Lagi pula ia yang tuan rumah di sini.

Sreek...

Meja kecil itu bergesar saat Kyuubi duduk di atasnya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menunggu dengan tidak sabar apa yang sebenarnya ingin Itachi bicarakan. Mungkin sedikit dikoreksi, ia tahu jika pembicaraan ini nanti akan menuju kemana. Tapi lebih memilih mengacuhkannya.

Itachi menghela napasnya melihat Kyuubi yang nampak 'tak bersahabat'. Ia sudah menduga apa dan bagaimana reaksi Kyuubi setelah kejadian beberapa hari yang lalu di rumahnya. Semuanya sudah dalam rencana, hanya tinggal satu. Apakah sekarang, Kyuubi yang bersikap pengecut dan lari akan benar-benar lari darinya.

Ia yakin jika Kyuubi sudah tahu tindakannya itu adalah pelarian, pengecut dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Kyuubi mengakui dirinya yang seperti pengecut. Tapi Itachi takkan membiarkan hal itu, setelah semuanya. Reaksi Kyuubi sekarang adalah yang ia inginkan.

Tangan Itachi bergerak mengambil satu botol wine pada plastik putih yang dibawanya. Ia membuka penutup botol berwarna kehijauan itu dan menderetkan dua gelas kecil di atas meja. Aroma manis itu menguar saat cairan bening itu dengan cepat mengisi ruang gelas hingga tiga perempatnya. Itachi mendorong pelan salah satu gelas itu mendekati Kyuubi.

"Kau berencana membuatku mabuk?" Tanya Kyuubi begitu sarkasme, ia menatap gelas kecil di dekatnya dengan pandangan mengejek. "Lalu... apa yang akan kau lakukan setelah aku mabuk? Memperkosaku?" Tanya Kyuubi lagi, kali ini ia mengarahkan pandangannya pada Itachi.

"Hn."

Pandangan Kyuubi menajam saat satu kata –dua huruf- itu terucap, meluncur mulus dari bibir Itachi. Ia memandang lurus manik hitam itu seakan mencari pembenaran atas apa yang didengarnya. Ia menggeram kesal saat manik itu tak bisa ia terjemahkan, begitu rumit sampai ia tak bisa mengetahui arti dari pandangan Itachi padanya.

"Baik!" Ucap Kyuubi kesal, ia mengambil botol di atas meja yang didudukinya dan langsung menenggak cairan manis di dalam botol itu. Jakunnya bergerak turun naik bersamaan dengan cairan manis yang melewati tenggorokannya. Napasnya terengah saat botol itu menjauh dari mulutnya, ia mengelap kasar bawah bibir dan dagunya yang terkena cairan yang lolos dari sela bibirnya. Mata ruby menatap Itachi dengan tajam. "Jika itu bisa membuatmu berhenti mengganggu hidupku!"

Sesaat setelah ucapan itu, tubuh Kyuubi terhuyung ke depan. Hampir terjatuh jika saja Itachi tidak menggerakkan tangannya lebih dulu untuk menahan Kyuubi. Botol ditangan Kyuubi jatuh ke lantai, menimbulkan bunyian kecil saat botol berbahan kaca terbal itu membentur keramik. Wine berwarna bening itu tumpah ruah membasahi lantai.

Itachi menatap datar tubuh Kyuubi yang bersandar padanya, "1963', wine itu lebih tua dari umurmu Kyuubi." Tangan porselen itu menyibak helaian merah yang menutupi sebagian wajah Kyuubi, menampakkan wajah pulas dengan kelopak mata yang tertutup. "Kau yang menyerahkan dirimu sendiri, ingat itu."

Tangan itu beralih memegang belakang paha dan punggung Kyuubi, mengangkat tubuh dengan kesadaran semakin menipis itu dengan kedua tangannya. Itachi menatap wajah Kyuubi yang 'tertidur' sekali lagi sebelum malangkah meninggalkan ruangan 'berantakan' itu.

Itachi melangkahkan kakinya menyusuri dalam apartemen itu, ia berhenti tepat di depan salah pintu coklat tak jauh dari ruangan yang ia tinggalkan tadi. Ia sedikit menggeser posisi tangannya saat hendak membuka pintu itu, menggunakan tubuhnya untuk memperlebar ruang pintu itu. Kamar apartemen ini memang ada dua, satu kamar Kyuubi dan satu lagi adalah ruangan yang ia masuki ini.

Matanya meneliti setiap jengkal ruangan dengan keseluruhan berwarna hampir gelap itu, biru tua. Ia tak menyangka kamar dari seorang Namikaze Kyuubi berwarna biru tua, bukan merah ataupun orange. Warna gelap yang menjadi ciri khasnya, ia tersenyum tipis melihat dekorasi ruangan itu.

Itachi membaringkan tubuh Kyuubi di atas ranjang empuk milik pemuda itu, ia mengelus lembut pipi putih kemerahan diwajah Kyuubi. Melihat kelopak mata yang tertutup itu perlahan-lahan mulai terbuka.

"Itachi..." Mata ruby itu menatapnya, tidak begitu terfokus pada dirinya.

"Kau... akan benar-benar melakukannya?" Kelopak mata itu terlihat begitu berat untuk tetap terbuka, sangat sulit saat rasa kantuk menyerangnya. Ia bahkan tak dapat melihat dengan jelas sosok di hadapannya, ekspresi apa yang diperlihatkan Itachi padanya. Entah, Kyuubi tak dapat melihatnya.

Tubuh Kyuubi sedikit bergidik saat sesuatu yang dingin menerpa kulit perutnya, ia memejamkan matanya saat sentuhan itu bergerak semakin naik hingga dadanya.

"Nnh..." Napas Kyuubi tergelitik, sesuatu yang dingin itu bergerak memutari dadanya dengan sesekali menekan tonjolan kecil di sana. Tubuhnya yang bagai tak bertenaga hanya mampu diam, menerima setiap sentuhan dari jari-jari Itachi.

T-shirt kuning yang dipakai Kyuubi telah tersibak sebatas dadanya, mengekspose kulit seputih langsatnya. Bukan Itachi yang pertama menyentuh lembut kulit ini, bukan Itachi yang pertama memberikan tanda kepemilikannya ditubuh ini.

Jauh sebelum kejadian itu, Itachi yang hampir merape Kyuubi. Dokter muda itu telah diatur untuk bersama pilihannya, dipilihkan lebih tepatnya. Wanita baik-baik, dari kalangan baik-baik. Anggota dari keluarga Namikaze itu sendiri.

Pemikiran kolot para otang tua tentang menjaga kemurnian sebuah marga agar tetap dalam lingkarannya. Sekuat apapun Kyuubi, ia tetap seorang anak yang harus patuh pada ayahnya.

"Kau tahu... aku tidak bisa..." Ucapannya terputus, mulut Kyuubi terbungkam oleh bibir Itachi. Pemuda Uchiha itu tak membiarkannya berucap lagi dengan mengunci bibirnya.

Lidah Itachi menjilat bibir Kyuubi, mengecap sisa manis wine yang tertinggal di sekitar bibirnya. Tangannya menekan dagu Kyuubi ke bawah, membuat bibir itu terbuka sedikit. Lidahnya kembali menyusuri garis bibir Kyuubi. Melesak masuk dengan mudahnya dalam ruang lembab itu, Kyuubi tak bisa memberikan perlawanan. Menggerakkan satu jarinya pun begitu terasa berat saat kepala terasa dikocok dalam mixer.

Mulut Kyuubi membuka lebar, pasrah saat Itachi menekan kepalanya dan memperdalam ciuman sepihaknya. Liur begitu banyaknya yang menetes keluar dari ujung bibirnya, Itachi memainkan lidahnya dengan sangat lihai, entah itu menggelitik bagian atas rongga mulutnya dalam tempo cepat lalu melambat. Memberikan rangsangan geli disekujur tubuhnya.

"Ngh..."

Kyuubi berada diambang kesadarannya, tubuhnya merespon setiap sentuhan Itachi. Tapi tidak dengan pikirannya. Ia hampir tidak sadar, hanya samar merasakan sentuhan itu sebelum kesadarannya terenggut sepenuhnya oleh alkohol.

"Kau milikku Kyuubi." Suara itu mengalun dari bibir Itachi, bersamaan dengan tangan kanannya yang mulai melucuti pakaian yang dikenakannya.

Apakah Itachi akan merape Kyuubi?

Apa Kyuubi benar-benar telah mengakui dirinya yang mencintai Itachi?

Apa yang Naruto takutkan dari Sai? Apa yang akan dilakukan sang Uchiha pada kakaknya sendiri?

.

.

.

.

To be continue...

A/N : Wkwkwkwkwk... akhir yang menggantung banget! XDDDD

Beneran deh,, sempet mau kena WB nih fiksi ini. Abis bingung sama Sai yang harus diapain.. terus sikap Kyuubi juga... jadi kubuat dia menerima His true feeling... but dengan bumbu-bumbu cuek dan sifat pengecut yang ada dalam dirinya aku munculin XDv

So,,, would you review me~ ;*