A/N : Dalam keadaan labilah aku dapat menulis cerita ini dengan baik. Gomennasai jika ceritanya mendadak berubah drastis... feel cerita ini entah mengapa jadi luntur karena hidupku yang melowdramatis :v #curcol

Gomen ne, kali ini hampir full ItaKyuu lagi TAT... abis aku lagi kesemsem buat anu-anu sama itu-ituannya mereka #apaan?!

Dan sebagai permintaan maaf karena aku lama banget nggak apdet ini fic, aku suguhkan chapter dengan word lumayan banyak ini untuk kalian readers! ^~^

Let's Enjoyed!

Sasuke : 17 tahun

Naruto : 24 tahun

Itachi : 25 tahun

Kyuubi : 25 tahun

Neji : 17 tahun

Gaara : 19 tahun

Deidara : 24 tahun

Sasori : 25 tahun

Sakura : 17 tahun

Shukaku : 19 tahun

Shizune : 22 tahun

Minato : Terserah reader mau umurnya berapa ^^

Mikoto : Ini juga terserah readers ^^a

Kabuto : 28 tahun

Sai : 23 tahun

Disclaimer : Masashi Kishimoto sama

Genre : Romance(?), Drama(?)

Rate : M artinya Mature buat dewasa, yang anak kecil baru gede kayak author dilarang masuk!

Pairing : SasuNaru, ItaKyuu

Slight : NejiGaa, SaiNaru.

Warning : Yaoi, Sho-Ai, BL, MalexMale, RAPE!, HARD LEMON, SOFT LEMON (?), kurang hot, M-Preg, aneh, gaje, Typo dan kawan-kawan sebangsanya.

Semua karakter dari tokoh yang ada di sini suka-suka author mau dibikin sesableng apa! XP

!DON'T LIKE DON'T READ!

But,

You can try to read and don't flame me! ^^

Sequel My Lovely Doctor

Uzumaki Kagari present

My Lovely Actor

Kuharap yang baca fic ini di atas 18 tahun


.

*########*###########*##############*###############*##############*######*

o.O. Kagari Hate The Real World.O.o

.


Senja kemerahan memantul dari permukaan laut, mengubah hijau kebiruannya menjadi lebih membara. Mengikuti Sang senja yang semakin lama semakin terkikis oleh awan kelabu. Menimbulkan degradasi warna tak serasi yang indah dalam pandangan bola mata manusia. Sihir alam yang tak akan mampu untuk ditiru oleh lampu-lampu neon menyilaukan dari tengah kota.

Deburan ombak menghantam karang menambah kesempurnaannya. Memukau sepasang manik emerald untuk tetap dalam posisinya. Memandang keindahan yang berada tepat dihadapannya. Perlahan, lengkungan senyum diwajahnya juga ikut dalam keterpukauan. Matanya terpejam lembut saat semilir angin melewati permukaan kulitnya pelan. Semilir angin yang diikuti oleh sepasang tangan yang melingkari pinggang rampingnya.

"Bagus. Tahan untuk beberapa detik ke depan!"

Lensa kamera nampak berkilat diantara remangnya senja mengabadikan sepasang model dalam potret yang ia buat. Mengarahkan Sang model untuk tetap dalam posisinya sementara Sang fotografer bersiap dengan kamera ditangannya. Berjongkok dalam sudut yang dapat menangkap suasana senja hari yang menjadi latar kedua pasang modelnya.

'Klik!'

'Klik!'

-Dan gambar pun terambil.

"Cukup. Terima kasih untuk hari ini," Sang fotografer tersenyum dengan tangan yang bertepuk dengan lengannya karena jemari kanannya masih menggenggam kamera DSLR miliknya. Beberapa orang yang sejak tadi mengambil bagian dalam sesi itu ikut bertepuk tangan dan mengucapkan terima kasih pada kedua model yang kini tampak tersenyum kearah mereka. Membalas keramahan yang ditunjukan pada mereka. –Setidaknya untuk Sang model wanita.

"Aku pergi," Sikap lain jelas ditunjukan oleh model laki-laki pada sore hari itu. Wajahnya yang dingin sangat pas untuk suasana pantai yang mulai ditelan kedinginan angin laut. Tak lupa dengan memberikan sedikit bungkukan tubuhnya –ia tak lupa akan tata krama untuk kesopanan.

"Sasuke kun,"

Satu tangan putih melingkari lengan berbalut kemeja biru yang dipakainya. Sasuke hanya memberikan lirikan kecil pada pemilik tangan itu sebelum kembali menatap ke depan.

"Hn,"

"Mau makan dulu? Kudengar ada seafood restaurant yang enak di ujung pantai," ucap gadis berambut pink disebelahnya. Sasuke berdecak dalam hati, tidak tahan dengan sikap sok manja sok akrab dari gadis norak di sampingnya itu.

"Good. Very good acting Haruno," Sasuke memutar bola matanya. Jengah sekali saat mendengar tawa bercicit gadis di sampingnya. Suaranya memang terdengar berbisik agar hanya didengar oleh gadis itu.

"Souka? Kalau begitu aku berhak atas penghargaan karya film Minggu depan," ucap Sakura, tak kalah pelan dari Sasuke. Ia masih tetap tersenyum pada beberapa orang yang melihat dirinya dan Sasuke berjalan berdampingan. Semakin lebar saat telinganya mendengar beberapa orang mengatakan mereka pasangan yang serasi.

"Ya. Dan selamat atas peran antagonismu,"

"Aku tidak pernah berperan sebagai antagonis tuh, hanya sampingan. Sekarang juga," Sasuke menghentikan langkahnya untuk sesaat. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari tempat untuk duduk dalam restaurant yang baru saja ia masuki. Kakinya kembali melangkah saat melihat satu meja kosong yang sedikit jauh dari pintu masuk restaurant. Menghadap tepat kearah laut.

"Haha. Buat aku tertawa,"

Sakura mengerucutkan bibirnya mendengar tawa tanpa intonasi naik dari pemuda di sampingnya. "Benar tahu. Lagi pula aku lebih suka jadi tritagonis di akhir cerita," Sakura bergumam kata terima kasih singkat pada Sasuke dan kembali tersenyum pada pemuda onyx itu karena telah menarikkan kursi untuknya.

"Aku itu tokoh yang baik," ucapnya bangga.

Sasuke mendengus dan menutupi wajahnya dengan menu. Ia ingin sekali kembali ke kamarnya saat ini. "Jangan melucu dengan wajah memuakkan di depanku –Kau mau pesan apa Sakura?" Sasuke berbicara dengan suara yang lebih dikeraskan di akhir. Ia menaruh menu ditangannya di atas meja dan memanggil seorang pelayan.

"Yes Sir,"

Seorang pelayan dengan pakaian penuh motif bunga dan lingkaran bunga asli yang dibuat kalung dilehernya tersenyum ramah kearahnya dan Sakura. Ia memesan satu olahan makanan yang paling memungkinkan untuk ia makan di sini.

"Tidak salah?" Sasuke melirik gadis yang duduk dihadapannya.

"Kau pesan salad dengan banyak tomat? Tidak minat pada seafood?"

Sasuke memilih tak menjawab dan mengarahkan pandangannya pada langit di atas lautan. Sudah mulai gelap setelah beberapa menit lalu hanya terlihat horizon kemerahan yang 'termakan' ujung lautan.

"Kau tidak suka seafood?" Sakura kembali bertanya.

Sasuke bersikap bodoh amat dengan pertanyaan Sakura.

"Atau..." Sakura sedikit berpikir dan memicingkan matanya, mengamati baik-baik wajah datar Sasuke yang masih menghadap kearah laut. "Kau alergi makanan laut?"

"... hmm," Sasuke menanggapi dengan malas. Ayolah! Kapan ia bisa kembali ke kamarnya yang nyaman dan menikmati fasilitas bintang limanya. Jauh dari biru-biru laut juga segala macam makhluk yang ada di dalamnya. Ia benci itu. Tentu saja untuk sepasang manik biru kekasihnya, ia kecualikan yang satu itu. Ia sangat menyukainya.

"Ah! Sasuke-kun, kau mau menemaniku jalan-jalan besok? Aku belum sempat jalan-jalan di sini sejak kita tiba," ucap Sakura. Ia memberikan lirikan kecil kearah belakang Sasuke dan menggerakan bibirnya tanpa suara. 'Lakukan,'

'Bagus. Teruskan saja sikap manis palsumu itu dihadapanku,' batin Sasuke. Ia sangat tahu kenapa Sakura mengajaknya kemari. Terutama sikap so ramah dan manisnya itu. Yang pasti gadis itu melakukannya bukan untuk dirinya. Pencari berita –atau sebut saja penyebar gosip pastilah selalu mengelilingi mereka. Seperti sekarang. Sasuke tahu jika sejak saat ia melakukan pemotretan di pantai ini, sudah banyak dari kalangan wartawan atau lebih parah lagi paparazi yang mengikuti semua gerak-gerik mereka.

"Terserah," Sasuke menjawab malas. Ia lebih tertarik pada getaran kecil pada ponsel dikantung celananya. Tangannya menarik ponsel itu keluar dan melihat satu kontak nama yang tengah melakukan panggilan padanya.

"Ada apa?" tanya Sasuke sesaat setelah ponsel itu menempel ditelinganya. Pemuda onyx itu mengernyit mendengar suara gelisah di seberang sana. "Kau tidak salah dengan apa yang kau katakan, Iruka-san?"

Suara keras dari seberang sana menjadi jawaban dari pertanyaan Sasuke. Sungguh benar, sekarang Uchiha bungsu itu sedang menaikkan sebelah alisnya karena heran. Pemandangan yang membuat gadis cantik dihadapannya terlihat mengerjapkan mata karena tidak percaya. Ayolah, melihat wajah Uchiha Sasuke yang sedang bingung? Kesempatan langka baginya.

Sasuke menghela napasnya pelan, "Baiklah, jam berapa kita kembali? –Satu jam lagi? Hn,"

"Siapa?" Sasuke menatap gadis yang baru saja bertanya padanya, "Ibu keduaku dan selamat tinggal untukmu," jawabnya. Ia beranjak dari duduknya, membuat seorang pelayan yang baru saja akan meletakkan pesanannya menatap bingung kearahnya.

.

.

.

.

"Ck!" Sasuke berdecak penuh sebal. Tangannya yang sejak tadi terus berselancar di atas ponsel pintarnya terus bergerak naik dan turun bersamaan dengan onyxnya yang juga terus menatap deretan kata dan gambar-gambar yang ada di sana. Sekali lagi ia berdecak saat melihat wajah dua laki-laki yang saling berpelukan –lelaki yang satu memeluk laki-laki yang lebih pendek- di tengah ramainya orang-orang berjas formal. Ditambah dengan wajah seorang laki-laki bersurai pirang yang menatap kedua laki-laki itu dengan mata berkilat murka.

"Dia itu bodoh atau apa!"

.

.

.

.

.

.

Satu Minggu sebelumnya

Senyuman manis mengiringi langkah anggun dari gadis bersurai hitam saat melewati koridor disebuah gedung apartemen yang mewah. Senyumnya semakin tampak ketika mendapatkan sapaan hangat dari penghuni apartemen yang berpapasan dengannya. Ini hari yang sangat membahagiakan untuknya. Hari ini ia mendapatkan kabar dimana gerangan kekasihnya berada setelah lama memohon dan sedikit memberikan wajah rindunya pada sang kekasih di depan Ojii-san, akhirnya Ojii-san memberitahunya.

Kyuubi ada di apartemennya namun bukan apartemen yang biasa ia kunjungi. Tapi apartemen elit yang sedikit jauh dari Konoha. Pipinya merona malu saat mengingat kembali perkataan Minato jii san mengenai apartemen ini sama dengan tempat rahasia Kyuubi dan tidak ada yang pernah Kyuubi beritahukan keberadaannya. Tapi tentu saja ia sangat bersyukur karena calon ayah mertuanya itu sangat protektif pada Kyuubi dan tentu saja tahu tentang tempat ini. Bersyukur karena hal itu ia bisa mengejutkan kekasihnya.

"113... 113, hmm.. 113..." Bibirnya terus berguman sambil melihat-lihat setiap nomor yang tertera di samping pintu setiap apartemen hingga matanya menangkap urutan nomor yang dicarinya. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada keranjang buah-buahan yang dibawanya. Kenapa ia jadi merasa gugup begini? Apa ia pulang saja? Tidak! Ia menggelengkan kepalanya kuat. Ia sudah sampai di sini, untuk apa pulang. Bukankah tujuannya untuk membuat Kyuubi terkejut dengan kedatangannya?

"Benar..." Gadis itu mengambil napasnya dalam dan membuangnya perlahan sebelum menjulurkan tangannya untuk menyentuh bel kecil di samping pintu.

Ting tong...

Ia menunggu hingga beberapa saat hingga alisnya berkerut saat tak ada yang membuka pintu di depannya. 'Apa Kyuubi kun tidak ada?' Sekali lagi ia memencet bel itu dan menunggu namun tetap tak ada yang membukanya.

"Apa dia sedang keluar ya?" Ia sempat berpikir untuk pergi dan kembali beberapa jam lagi karena merasa yakin jika Kyuubi tidak ada di apartemennya jika saja rasa penasarannya tidak mendorong ia untuk menyentuh kenop pintu berwarna hitam di depannya itu. Matanya mengerjap saat pintu itu terbuka dengan mudahnya.

"Tidak... dikunci?" Ia berucap pelan dengan kernyitan alis yang dalam. Mungkinkah pencuri? Tapi bukankah apartemen ini dilengkapi dengan berbagai alat keamanan yang lengkap? Ia sendiri baru pertama mendatangi tempat ini yakin jika tikus saja tidak akan bisa masuk melewati celah kecil sekalipun. 'Atau Kyuubi lupa mengunci pintunya ya?' Itu mungkin saja karena tempat ini sudah sangat aman.

Kepala bersurai hitam itu menggeleng cepat. Meskipun begitu ia harus tetap waspada. Bisa saja kan jika memang itu pencuri? Dengan satu tarikan napas dalam, ia melangkan kakinya ke dalam, melewati pintu yang ia tutup kembali. Matanya menangkap keadaan dalam apartemen yang terbilang mewah itu. Sejauh ini tidak ada yang aneh. Ia berjalan pelan lebih dalam kemudian berhenti saat ia melewati sebuah ruangan yang –bisa dibilang sangat berantakan.

Ia mengeratkan genggamannya pada keranjang buah yang dibawanya. Perasaannya tidak enak. Terlebih saat melihat ruangan seperti sehabis perang itu.

"K –Kyuubi kun?"

Langkah itu semakin lama semakin dalam memasuki dalam apartemen. Ditangannya kini bukan lagi hanya sekeranjang buah-buahan tapi juga sebuah tongkat kayu yang diambilnya dari keranjang di depan pintu apartemen Kyuubi.

Ia berjalan mendekati pintu lain disebelah ruangan itu. Tangannya dengan perlahan bergerak untuk menurunkan kenop pintu dalam genggamannya, menimbulkan bunyian kecil saat pintu itu terbuka. Yang pertama kali ia lihat adalah –gelap. Ia lebih menggeser daun pintunya lebih lebar agar cahaya dapat sedikit masuk. Matanya menyipit sejenak dan melihat keadaan dalam ruangan yang ternyata adalah kamar tidur.

Napasnya sedikit bernapas lega saat tak ada apapun diruangan itu. Ia sedikit masuk lebih dalam dan meraba-raba dinding ruangan itu hingga ia merasakan satu tombol yuang ia yakini sebagai tombol lampu. Ia menekan tombol itu. Seketika ruangan itu menjadi terang, nuansa orange dan merah langsung menyapa indra penglihatannya.

"Tidak ada di sini. Apa dia memang sedang keluar ya?"

Setelah puas melihat isi kamar itu, ia memutuskan untuk keluar dan menutup pintu kamar. 'Kyuubi kun kemana sih?' Bibirnya sedikit terpaut cemberut karena tak juga menemukan dimana gerangan Sang terkasih. Ia menoleh kearah belakangnya, menatap satu pintu lain di sana. Apa harus ia membuka pintu-pintu lain di rumah ini untuk menemukan Kyuubi? Tapi sepertinya pintu itu memang yang terakhir sih di apartemen ini.

"Ya sudahlah. Kucoba saja," putusnya. Ia melangkah mendekati pintu lain. Ia berhenti tepat di depan pintu berwarna hitam itu. Matanya menatap ragu pada kenop pintu, entah kenapa ia jadi sedikit ragu. Juga, kenapa ia merasa sedikit ...takut?

.

.

.

Di sisi lain

Sepasang manik ruby nampak sayu saat pertama kali kelopak berbulu mata merahnya terbuka. Ia mengerjap-erjap sejenak untuk membiasakan diri dengan gelap disekitarnya. Tunggu –dia tidak pernah tertidur dengan keadaan kamar yang gelap. Ia mengerang pelan dan kembali memejamkan matanya. Jelas saat ini ia berada di atas tempat tidurnya yang empuk. Tapi ia tidak ingat jika semalam ia merangkak ke atas tempat tidur. Semalam? Dia rasa itu bukan semalam jika ia saja tidak tahu sekarang ini jam berapa. Ok, ia akan mengulangi lagi ingatannya sebelum terbangun di sini.

Kemarin ia memilih untuk bermalas-malasan ditempat ini. Apartemen tercintanya dengan satu cup besar es krim dan menonton telenovela atau mungkin sinetron? Yah, dari pada mengerjakan tugasnya sebagai dokter dirumah sakit. Ia mendapat telpon dari Naruto yang marah-marah. Lalu, lalu ia berniat untuk pergi. Mata ruby itu terbuka dengan cepat. Itachi, ia ingat Itachi yang mendatangi rumahnya dengan dua botol wine. Ia yang meneguk satu botol sendirian dan –dan, dan...

"Kau tidak perlu mengingat semuanya sekaligus,"

Tubuh Kyuubi menegang saat mendengar suara berat dan hembusan hangat dari samping kepalanya. Ia dengan cepat menoleh, menemukan gelap yang tidak perlu lagi cahaya untuk tahu siapa gerangan orang yang baru saja bersuara itu.

"Sudah puas?" Kyuubi menggigit bibir bawahnya keras setelah mengatakan pertanyaan itu. "Puas dengan tubuhku, Itachi? Jadi sekarang boleh jika aku mendapatkan kehidupan dan pikiranku kembali?"

Tidak ada jawaban untuk semua pertanyaannya membuat Kyuubi menggeram sebal. "Jawab aku Itachi!"

"Kau puas bukan dengan tubuhku? Atau malah kau menginginkannya lagi? Tapi tidak, aku sudah cukup waras untuk tidak melakukannya lagi. Aku –" Kyuubi terpaksa diam saat merasakan sebuah jari yang menekan bibirnya.

"Selamanya Kyuubi," Kyuubi mengernyit tidak mengerti. Ia baru saja akan menyingkirkan jari Itachi dari bibirnya jika saja ia tidak mendengar suara pintu yang terbuka. Ia menoleh dengan mata yang menyipit karena silaunya cahaya yang merambat masuk. Ia mengerjap sebelum fokus pada siluet seseorang rang berdiri diambang pintu. Gaun biru, lalu ia meluaskan lingkupan matanya. Melihat rambut yang hitam dan wajah –Mata Kyuubi melebar sempurna. Ia menyingkirkan tangan Itachi dengan cepat dan mendudukkan dirinya.

"K –Kyu ...bi,"

Sesak, entah mengapa sekarang jantung Kyuubi serasa diremas dengan kencang oleh tangan besi tak kasat mata. Dihadapannya, di sana. Sosok gadis yang mati-matian dan demi Tuhan Kyuubi sudah berjanji untuk tidak akan menyakitinya apapun yang terjadi. Dan kini, gadis itu menatapnya dengan wajah pucat pasi bersamaan dengan wajah tak percaya menatap kearahnya. Tetes demi tetes air mata terlihat mulai jatuh menuruni pipinya.

Bibir Kyuubi terbuka untuk sesaat sebelum kembali terkatup rapat. Semua kosakata yang ia tahu entah kenapa saat ini tak mampu ia ucapkan. Bukan. Bukan tidak mampu. Tapi ia tidak bisa. Ia tidak tahu kata apa, atau ucapan apa yang harus ia suarakan.

"Shizune Senju," Kyuubi beralih menatap sosok laki-laki –yang entah sejak kapan sudah ikut duduk- di sampingnya. Pipinya sedikit merona melihat tubuh atas Itachi yang tanpa tertutup apa-apa, namun pikirannya kembali saat suara berat itu kembali berucap.

"Aku tidak akan minta maaf untuk apa yang kuucapkan setelah ini," Kyuubi menatap onyx yang memandangnya dengan –lembut? Ia tidak salah lihatkan? "Tidak akan ada pernikahan, untukmu. Karena Namikaze Kyuubi adalah milikku. Milik Uchiha Itachi."

Kyuubi benar-benar terkejut saat pinggangnya ditarik keras dan dagunya dicengkram erat, memaksa kepalanya untuk memutar ke samping. Keterkejutannya bertambah saat Itachi mencium bibirnya dengan kasar diikuti dengan lidahnya yang menelusup masuk ke dalam mulutnya.

Saat ini Kyuubi ingin sekali mati. Mati yang benar-benar mati. Apa yang Itachi pikirkan dengan menciumnya di depan Shizune! Kyuubi tidak ingin gadis itu melihat ini. Sungguh, saat mata rubynya menatap mata penuh rasa kecewa dan sakit hati yang saat ini Shizune tunjukan. Hatinya sakit.

"NGH!"

Tidak! Ia bukan melenguh! Itu bukan suara erangan tanda ia menikmati ini. Kyuubi ingin berhenti. Ingin menghentikan tindakan Itachi yang semakin beringas menciumnya dengan ikut menindih tubuhnya kembali ketempat tidur. Apa yang ingin dilakukannya? Melakukan hal yang lebih jauh dengan ditontoni oleh orang yang jelas sangat-sangat-sangat akan merasa sakit hati karena dirinya.

"Cu –kup," Kyuubi berusaha memberontak saat melihat wajah Shizune penuh dengan rasa sakit yang tak mampu ditahan gadis itu. "CUKUP! HENTIKAN KELAKUAN BINAL KALIAN! AAAARGH!"

Seketika kaki beralaskan sepatu pantofel itu berbalik, melangkah dengan cepat menyusuri jejaknya kembali dalam apartemen Sang kekasih. Melaju dengan cepat. Tak peduli saat keranjang buah yang berada ditangannya terjatuh dan membuat buah-buahan di dalamnya berjatuhan kemana-mana. Saat ini ia ingin sekali lari. Lari sejauh mungkin dari sini.

Semuanya bohong. Ia tidak melihat apa-apa. Tadi bukan siapa-siapa. Bukan Kyuubi. Bukan orang yang sangat dicintainya. Orang itu bukan Kyuubi. Orang yang tengah bercumbu dengan seorang laki-laki bermarga Uchiha itu bukan Kyuubinya.

.

.

Bugh!

Kyuubi menendang paha kiri Itachi sekuat tenaga hingga Uchiha sulung itu berhasil ia jauhkan dari tubuhnya. "KAU BRENGSEK!" Ia berteriak dengan murka. Wajahnya sudah sangat merah dengan napas yang tak beraturan. Tanpa kata lagi Kyuubi berlari keluar kamar. Mengejar gadis yang masih menyandang status sebagai kekasihnya itu. Ia berlari hingga mencapai pintu depan apartemennya yang terbuka lebar. Berharap jika Shizune masih berada di antara koridor lantai apartemennya.

Pemuda bersurai merah itu sedikit merasa lega saat melihat Shizune berada di ujung koridor. Menunggui lift untuk turun. Tidak mau membuang waktu, Kyuubi segera memacu kakinya. Ia harus menjelaskan semuanya pada gadis itu. Namun alangkah terkejutnya ia saat seseorang menarik tangannya dengan keras hingga ia tak bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya dan menabrak keras dada bidang orang yang menariknya.

"Apa yang kau lakukan!" teriak Kyuubi keras. Ia memandang marah pada wajah datar dengan sepasang onyx yang menatapnya balik. "Lepaskan aku brengsek! Aku harus mengejarnya!"

"..."

Itachi tak sekali pun berniat untuk melepaskan Kyuubi. Tidak untuk kali ini, setelah ini atau kapan pun dan untuk siapa pun. Tidak setelah pemuda rubah ini meraup semua isi hatinya dengan tanpa berperasaan.

"LEPAS BASTARD!?"

"No," ucapan seorang Uchiha selalu absolute. Sekarang pun sama. Karena itu Itachi mendorong tubuh Kyuubi hingga menabrak dinding di samping pintu apartemennya. Menghimpit tubuh ramping itu diantara tubuhnya dan dinding. Ia tak mempedulikan pemberontakan Kyuubi yang sudah seperti orang kesetanan dan terus menghimpit pemuda itu.

Satu tangannya mengeratkan kaitannya pada pinggang Kyuubi sedangkan satu yang lainnya terlihat mengepal di sisi tubuhnya. "Tidak kali ini,"

Dugh!

Kyuubi berhenti untuk memberontak. Mata rubynya membulat sempurna saat sebuah hantaman yang hanya berjarak satu centi dari kepalanya bersarang pada dinding putih di sebelahnya. Ia terdiam, masih mencerna kejadian yang entah untuk keberapa kalinya sudah membuatnya terkejut hari ini.

"Kau milikku,"

Dengan berakhirnya ucapan penuh posesif itu bibir Kyuubi terbungkam sempurna oleh Itachi. Membawanya dalam ciuman yang tak bisa dibilang lembut. Ciuman dengan berkali-kali menggigit bibir Kyuubi hingga berdarah. Membuat Sang empunya mengerang sakit dan merasakan entah –nikmat.

"Ngh..."

Tubuh Kyuubi bergetar saat lidah Itachi menyapu permukaan bibirnya yang terluka. Menghisap tetesan darah yang keluar dari luka itu dengan kencang dan menelusupkan lidahnya ke dalam mulutnya. Ia mengerang merasakan langit-langit mulutnya yang tergelitik ujung lidah Itachi. Lidah itu bergrilya diseluruh sela dalam mulutnya.

Itachi menyeringai dalam hati merasakan pergerakan lidah lain selain miliknya dalam mulut pemuda itu. Ia tak bisa menahan lagi rasa senangnya saat pemuda itu ikut dalam permainannya. Permainan yang membuat pemuda itu mulai mabuk.

"Ngh... –ngh..."

Mata Kyuubi tak lagi bisa fokus, semuanya memburam saat ciuman yang dimulai oleh Itachi itu semakin ganas. Ia juga tidak tahu sejak kapan ia membalas ciuman itu. Menikmatinya. Melupakan jika seharusnya ia mengejar seorang gadis yang tengah menahan rasa sakitnya dan memberikan penjelasan atas apa yang dilihat gadis itu.

Penjelasan? Memangnya apa yang akan ia jelaskan pada gadis itu? Bahwa apa yang dilihatnya itu benar? Ia yang tidur dengan seorang laki-laki. Laki-laki bermarga Uchiha yang saat ini mencumbu mesra dirinya di depan pintu apartemennya? Ia tidak tahu. Kyuubi tidak tahu harus menjelaskan apa pada gadis itu.

Suara kecipakan saliva itu berhenti dengan suara tarikan keras Itachi pada bibir kemerahan Kyuubi. Bibir merah penuh luka yang terlihat membengkak sekarang. Itachi menghapus rembesan darah yang keluar dari luka dibibir merah itu dengan ibu jarinya dan menatap pemilik bibir itu dengan onyxnya yang berkilat tak terdefinisikan.

"Kyuubi..." Panggilan itu lebih terdengar seperti geraman dari hewan buas bagi Kyuubi. "Aku tidak bisa menahannya," Itachi berucap tepat disebelah telinga Kyuubi. Ia menggigit telinga kanan Kyuubi dengan gemas dan menjilat keseluruhan dari daun telinga itu.

"Juga melihatmu hanya memakai dalaman," Kyuubi mengerang dengan gigitan lebih keras pada bibir bawahnya. Ia mengumpat dalam hati, mengapa ia harus menjadi sesensitif ini saat ini. Terlebih lagi, masalah celana pendeknya yang tak lebih dari menutupi daerah selangkangan dan sepuluh centi di bawahnya. Juga, sesuatu yang mengeras dalam celana itu.

"Ngh..."

Itachi mengecup pundak Kyuubi, "Kuanggap itu persetujuanmu," ucap Itachi. "Dalam keadaan sadar," lanjutnya seraya mengangkat tubuh Kyuubi dalam gendongannya. Pemuda merah itu sedikit terkejut dengan perlakuannya yang mengangkat tubuh ramping Kyuubi dan menahan pantatnya dengan sebelah tangan.

Itachi sekuat itu untuk mengangkatnya? Atau ia memang terlalu ringan? Pikiran Kyuubi tak dapat lagi memikirkan hal remeh lain saat Itachi terus mengecupi dadanya. Ia melenguh dan memejamkan kedua matanya erat.

'Ini tidak benar!' teriak batin Kyuubi keras. Ini benar-benar harus dihentikan sekarang atau hal yang lebih dari ini akan terulang lagi. Mengulang kejadian hari yang lalu.

Seketika itu tubuh Kyuubi menegang. Hari yang lalu. Itu, ia sudah mengatakan jika itu yang pertama dan terakhir. Untuk Itachi, untuk dirinya.

"Kyuubi,"

"Turunkan aku..." Itachi menatap wajah tertutup helaian rambut Kyuubi. "Turunkan aku Itachi," Wajah itu menunjukan warnanya. Membawa sepasang ruby untuk bertatapan dengannya. Ruby yang sedang dibanjiri air mata.

"Aku... aku mencintaimu," Itachi menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar Kyuubi. Harus ia akui jika ia terkejut dengan pernyataan tiba-tiba Kyuubi, "Cinta... haha... pada laki-laki..." Air mata itu semakin deras berjatuhan dari sepasang mata Kyuubi.

"Tapi... Naruto ...dia –kenapa... kenapa kau memaksa perasaanku untuk keluar... hahaha..." ucap Kyuubi. Ia tertawa, namun semua kenyataan fisiknya tak menunjukan jika ia tengah tertawa.

Kyuubi menghela napasnya setelah puas untuk tertawa meski air matanya tak berhenti untuk keluar, "Kau itu brengsek!"

Tangan Itachi sedikit demi sedikit mengendurkan pegangannya. Menurunkan Kyuubi secara perlahan dari gendongannya hingga pemuda itu berdiri tepat dihadapannya. Masih dalam pelukannya. Itachi hanya diam melihat Kyuubi yang terus menangis tanpa sedikit pun berniat untuk menghentikan atau menghapus jejak-jejak air matanya.

"Tidak. Aku yang brengsek," Kyuubi menyandarkan kepalanya pada dada Itachi. "Sangat jahat padanya," ucap Kyuubi. Matanya terpejam dengan nyaman saat telinganya mendengar detak jantung Itachi yang begitu tenang.

Itachi menatap surai merah Kyuubi dalam diam. Membiarkan saja pemilik surai itu bersandar padanya. Hilang sudah moodnya untuk melakukan yang iya-iya dan anu-anu saat nyatanya Kyuubi juga begitu. Melakukannya dengan keadaan yang tidak sepenuhnya 'sadar'. Itachi bukan orang sepengecut itu. Jadi, untuk kali ini ia akan sedikit bersabar. Sedikit saja.

.

.

.

Kyuubi merebahkan tubuhnya di atas pangkuan Itachi yang bersandar pada kepala tempat tidur. Memberikan posisi yang nyaman untuk pemuda merah itu. Setidaknya itu yang dipikirkan Itachi. Tidak dengan Kyuubi yang saat ini tengah berdecak kesal dan terus berusaha menyingkirkan tangan Itachi yang melingkari pinggangnya.

"Lepaskan aku!" teriaknya sengit. Mata merahnya melototi Itachi seperti ingin mengulitinya. Bahkan Itachi sempat-sempatnya bertanya dalam hati. Kemana Kyuubi yang beberapa saat lalu menangis dan meleleh dalam pelukannya tadi? Nyemplung ke sumur kah?

"Diamlah. Kyuu-chan," ucap Itachi. Membuat Kyuubi bergidik merasakan kecupan kecil yang ia sarangkan pada pundak pemuda merah itu. "Atau aku akan benar-benar lepas kendali,"

Kyuubi berjengit saat pelukan Itachi mengerat dan membuat dirinya merasakan satu gundukan di bagian belakang tubuhnya, menyentuh permukaan celana ketat yang ia kenakan saat ini. Kyuubi meneguk ludahnya. Sekarang ia sangat tahu jika pemikirannya tentang Itachi itu rajanya mesum, terbukti –sangat- benar.

"Ck! Setidaknya singkirkan tanganmu! Memangnya kau kira aku akan kemana? Kabur?" tanya Kyuubi galak. Itachi menanggapinya dengan datar. Kyuubinya sudah kembali, setidaknya itu cukup untuk kali ini.

"... Hei, Keriput?"

"Hn?" Itachi menenggelamkan wajahnya pada punggung Kyuubi, sekedar bergumam untuk menanggapi panggilan sayang kekasihnya. Heh, bolehkan sekarang dia menggunakan panggilan itu? Kyuubi memang sudah menjadi kekasihnya.

"Aku tetap akan menikah dengan Shizune,"

Itachi menegakkan kembali kepalanya, menatap Si surai merah yang saat ini tengah menghela napasnya. Terlihat sangat lelah dimata Itachi. "Jadi... jadi, lupakan yang kukatakan padamu tadi. Aku menariknya kembali," ucap Kyuubi. Pemuda itu menekuk lututnya hingga menyentuh dagu dan mengaitkan kedua tangannya.

"Kau serius?" tanya Itachi.

"..." Kyuubi tak menjawab. Kepalanya ia tenggelamkan diantara kedua lututnya dan gerakan dari surai merahnya yang bergerak lemah ke kanan dan ke kiri membuat jawaban ambigu. Bukan hanya untuk Itachi, tapi untuk dirinya –ia sendiri tidak mengerti dengan apa yang harus dilakukannya sekarang.

Benarkah ia harus melanjutkan pertunangan itu? Menikah dengan Shizune? Seperti yang diinginkan ayahnya. " –NGH?! –Keriput! Apa yang kau lakukan?!" teriak Kyuubi. Ia benar-benar terkejut saat daerah selangkangannya merasakan remasan kuat.

"Kau tidak menjawabku,"

"Aku tidak tahu! Kau puas! Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan! Shizune itu gadis yang baik, aku tidak sesuci itu untuk membuatnya patah hati!" jelas Kyuubi.

Itachi menatap bosan, sampai kapan rubah ini berhenti bersikap so tsundere dan so tidak mencintainya padahal dengan jelas-jelas dia sudah mengatakan dengan mulutnya sendiri jika dia mencintai Itachi. "Kau memang tidak suci," Itachi menjilat tengkuk Kyuubi, "Kau rubah merah yang akan segera kubuat kotor dalam kubangan hasrat. Rubah liar," Kyuubi mengerang.

"Kau –jangan menyentuhku seenaknya hanya karena kau pernah melakukannya lebih dari ini!" sungut pemuda merah itu. Ia menyentakan tangan Itachi yang mengendur dipinggangnya dan berbalik badan, menghadap Uchiha sulung yang nampak tidak senang dengan apa yang dilakukannya. Wajahnya sih, tetap sedatar teflon.

"Memangnya kapan aku menyentuhmu lebih dari ini itu? Aku tidak pernah –setidaknya sekarang- menyentuhmu lebih dari sekedar cumbuan, kecupan, jilatan dibibir merahmu, dileher, dikedua puting merah mudamu,"

"Tunggu –" Kyuubi berusaha menyela.

" –dan sedikit remas-remas diselangkangan. Selebihnya, aku tidak pernah menyentuhmu lebih dari itu," jelas Itachi panjang lebar. Tidak mempedulikan pemilik ruby yang kini menganga tanpa kata atas penjelasan yang diucapkannya.

"K –kau... kau... kau! Apa yang kau katakan itu bodoh!" –Bugh! Sebuah bantal guling menghantam wajah Itachi dengan penuh hasratnya. Wajahnya memerah sempurna antara menahan marah dan malu akan apa yang diucapkan Itachi tadi. Apanya yang tidak menyentuh lebih-lebih! Cium-cium, jilat-jilat dan remas-remas itu 'kan sekuhara banget!

"Jangan pukul wajahku, Kyuu. Nanti tampannya luntur," Dan Kyuubi sukses menendang Itachi jatuh dari tempat tidur miliknya.

"Tampan keriputmu! Sejak kapan pula i –itu bukan menyentuh secara berlebihan hah! Dasar mesum! Aku benci sekali padamu!"

"Aku juga cinta padamu," tanggap Itachi kalem seraya mengelus-ngelus bagian punggungnya yang menghantam lantai.

Kyuubi menendang satu bantal miliknya jatuh dan setengah menggeram, "Sebenarnya apa maumu? Aku sudah menuruti keinginanmu dengan melakukan –" Kyuubi meneguk ludahnya, " –itu. Tapi kenapa sekarang jadinya seperti ini? Tidak cukup untukmu mencampuri hidupku? Dan Shizune, Demi Tuhan Itachi. Dia wanita baik-baik yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Sekarang apa yang harus kujelaskan padanya?"

"Mengatakan jika aku sudah berhubungan dengan seorang laki-laki, pemuda paling diincar wanita-wanita muda masa kini. Seorang Uchiha Itachi yang sempurna. Waw! Apa aku harus bangga dengan itu saat jelas. Sangat jelas jika gadis itu akan sakit hati." Kyuubi mengusap wajahnya kasar.

"Aku tidak tahu Itachi. Aku tidak tahu akan apa yang akan Ayahku lakukan saat mengetahui semua ini," Kyuubi mengakhiri ucapannya dengan mata yang menatap lurus manik Itachi.

"Kau tidak tahu seperti apa Ayahku,"

"Apa terlalu banyak berpikir membuat telingamu tuli?" tanya Itachi kalem. Alis Kyuubi berkerut ringan mendengar pertanyaan dari pemilik onyx itu.

"Atau terlalu sulit untukmu menerjemahkan arti cumbuan, jilatan dan remasan. Memangnya sejak kapan aku mengatakan tusukan, memasukimu. Membuat lubangmu melebar saat penisku masuk, melakukan seduksi dalam tubuhmu, membobolnya dan merasakan seperti apa rasanya berada di dalammu itu, melakukan sodomi padamu?"

Kyuubi mengerjap, otak jeniusnya mendadak bekerja lebih –sangat- lamban dari biasanya. Ia terdiam dengan sesekali membuka mulutnya yang pada akhirnya hanya akan ia tutup rapat kembali. Tidak tahu harus berkata apa. Yang jelas ia shock karena sekarang ini, ia melihat seorang Uchiha Itachi dengan ekspresi yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Wajah datarnya yang biasa saja sudah sulit untuk ia mengerti. Apalagi saat ini, ekspresi itu lebih... dingin.

"Lalu, jika kau bicara soal sakit hati yang diterima wanita itu. Menurutmu Kyuubi, bagaimana dengan kenyataan jika kau sudah kehilangan keperjakaanmu diranjang empuk bersama dengannya. Menggagahi wanita itu semalam suntuk. Mendengar suara-suara memuakkan yang tampak begitu senang saat kau membuat tubuhnya terlonjak-lonjak disaat kau memaju mundurkan penismu –"

"Apa maksud –"

"Bagaimana Kyuubi? Menurutmu bagaimana dengan perasaanku? Kau memikirkan perasaan wanita itu lebih dari pada perasaanku –yang Demi Tuhan aku ingin sekali membakar kamar kalian saat itu. Pikirkan perasaanku Kyuubi, pikirkan perasaanmu saat itu."

"ITACHI!" Kyuubi berteriak dengan garang. Ia sudah tidak tahan lagi dengan kebawelan Itachi yang mendadak ini. Kenapa Si medit kata ini jadi cerewet sekali disaat seperti ini. Ia mulai muak dengan sikap Uchiha satu ini.

"Berhenti bersikap melankolis!"

"Kau yang mulai," ujar Itachi.

Kyuubi meraih bantal terdekat darinya dan membekap wajahnya. Ia berteriak sekeras-kerasnya pada bantal itu untuk beberapa lama sebelum melempar bantal itu. Sangat merasakan dirinya yang seperti orang tolol sekarang ini.

"Kita –" Kyuubi menghirup napas dalam sebelum membuangnya perlahan, "Kita tidak akan bisa melawan Ayahku," ucapnya seraya beranjak dari tempat tidur. Kakinya berjalan menuju lemari besar di kamarnya, membuka lemari itu dan mengambil sebuah kemeja hitam yang terselip paling bawah diantara tumpukan kain berwarna merah dan beberapa putih di atasnya.

Ia memutar tubuhnya. Berjalan mendekat kearah dimana saat ini Itachi tengah terduduk di lantai. Tubuhnya berjongkok di depan Uchiha itu dan membuka satu persatu kancing kemeja hitam yang ia bawa.

"Menyerahlah, Itachi. Menyerah seperti aku," Tangan Kyuubi bergerak untuk menyampirkan kemeja itu dipundak Itachi. Ia tersenyum lirih saat menatap manik kelam pemuda itu.

Itachi mendengus, "Kau terlalu meremehkan aku. Dan otakmu terlalu tumpul untuk melihat siapa yang ada di depanmu ini Kyuubi,"

Dokter muda itu akhirnya hanya bisa menghela napasnya saat sepasang tangan merengkuh pinggangnya mendekat pada pemuda kelam di depannya. Ia tahu jika ini bukanlah jalan yang benar untuk ia pijak, tapi... ia rasa ia sudah tidak bisa kembali. Karena jalan di belakang punggungnya mulai menghilang.

.

.

.

.

Sofa megah berwarna cream itu sedikit membal ketika seseorang menduduki bantalannya. Memberikan bobot satu manusia di atasnya. Seorang wanita cantik yang tengah tersenyum manis pada seorang lain yang juga duduk di atas sofa single di sampingnya. Sebuah jepit berwarna merah nampak menghiasi rambut putih sebahunya menambah kesan anggun darinya.

"Kenapa kau memintaku bertemu saat ini? Bukan kah kau bilang ingin mengunjungi Kyuubi, Shizune-chan?" Laki-laki paruh baya di hadapannya nampak membalas senyumnya dengan ringan. Parasnya yang tak sekalipun tampak termakan usia semakin terlihat tampan saat bibirnya melukis senyuman.

"Umm," Shizune menggeleng, "Jii-san, apa boleh aku meminta sesuatu?" tanya gadis itu. Wajahnya nampak begitu cantik dimata laki-laki itu. Dalam hati begitu menyanjung Sang calon tunangan anaknya itu.

"Katakan apa yang kau minta, Shizune. Kau akan menjadi bagian dari keluarga ini sebentar lagi, jadi seharusnya kau tidak perlu bersikap sungkan seperti ini padaku." Namikaze Minato, laki-laki berumur empat puluhan itu kembali tersenyum.

"Sebenarnya, yang ingin kuminta memang berhubungan dengan apa yang Minato jii-san katakan barusan." ujar Shizune.

"Berhubungan dengan apa yang kukatakan?" Alis Minato berkerut ringan.

"Sebenarnya, apa boleh jika... pertunanganku dua Minggu lagi dibatalkan?" Shizune menatap takut-takut kearah Minato yang semakin mengerutkan alisnya dalam.

"Apa maksudmu? Apa ada masalah dengan Kyuubi?"

"Tidak. Tidak bukan begitu jii-san. Tolong dengarkan aku dulu, maksudku. Maksudku, aku tidak ingin diadakan pertunangan." Shizune memberi jeda, "Aku ingin pernikahanku dengan Kyuubi-kun diadakan Minggu depan,"

"Minggu depan?" Minato memberikan wajah cerah, "Apa kau serius dengan ini Shizune? Kau ingin segera menikah dengan Kyuubi? Jii-san pikir kalian butuh waktu untuk bersama, tapi ternyata kau sangat mencintai anakku sampai ingin cepat-cepat menikah," Shizune tersipu malu mendengar ucapan Minato barusan.

"Maafkan aku,"

"Tidak. Jangan minta maaf. Kau akan mendapatkan permintaanmu barusan, anakku. Bukan Minggu depan, aku akan menikahkan kalian empat hari lagi. Bersamaan dengan peresmian cabang rumah sakitku."

"Empat hari?" tanya Shizune, gadis itu terlihat sangat terkejut dengan keputusan kepala keluarga Namikaze itu. Meski, ia sangat bahagia dengan keputusan itu.

"Tenanglah Shizune. Semuanya akan kupersiapkan dengan matang. Gaun, pesta dan undangan. Tentang undangan yang telah disebarkan, aku bisa pastikan semuanya akan datang pada pernikahan kalian." ucap senang Minato. Tubuhnya beranjak dari kursi dan menepuk ringan bahu Shizune. Memberikan Sang calon menantu sebuah senyuman hangat, "Kau hanya perlu mempersiapkan dirimu saja," lalu ia berjalan menjauh dengan cepat. Nampak sebuah ponsel yang menyala terang ditangannya.

'Sebentar lagi,' Shizune menatap kepergian Minato dengan senyum yang semakin lama semakin memudar hingga tersisa kehampaan di sana. 'Kau tidak akan menjadi miliknya. Dia bukan pemilikmu,'

Kedua tangan Shizune meremat bantalan sofa dengan kencang, 'Uchiha itu tidak akan memilikimu Kyuubi,'

.

.

.

Kedua tangan Kyuubi bergerak dengan lincahnya di atas sebuah papan datar. Mengiris beberapa lembar sayuran dan bahan makanan lain yang baru saja keluar dari kulkasnya. Sesekali mata rubinya melirik seseorang yang tak ada hentinya mengamati setiap pergerakannya sejak tadi. Ia risih, tentu saja. Tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang ya, melanjutkan acara memasaknya. 'Jangan pedulikan,' batinnya berusaha untuk fokus pada bahan-bahan masakan yang sudah dipotong-potongnya.

"Afron merah itu, sangat cocok untukmu Kyuu,"

Kyuubi menoleh, "Ha?" ia memberikan tatapan bingungnya dengan sebelah alisnya yang terangkat.

"Aku bilang kau sangat cocok dengan afron merah itu, Kyuubi. Akan semakin cocok bila kau tidak memakai apa-apa di baliknya," ucap Uchiha sulung seraya menyeruput kopi pahitnya, sedikit mengernyit karena ternyata kopinya sudah hampir dingin.

DAK!

Pisau besar yang biasanya digunakan untuk memotong daging tertancap membelah dataran keramik putih setinggi pinggang Kyuubi. Dengan penuh nafsunya pisau itu kembali terangkat oleh tangan Kyuubi dan kembali ia ayunkan –DAK!

Kyuubi terus-terusan mencincang keramik yang menjadi meja dapurnya itu dengan khidmat seraya merapalkan berbagai umpatan dan cacian pada Uchiha sableng berotak kotor di dekatnya. Sejenak melupakan bahan-bahan siap masak yang baru ia olah.

"Dasar bodoh. Si mesum keparat. Kuso Uchiha! Mati saja kau. Nyemplung ke kali yang bikin banjir apartemen bawah!"

"Ha-ah, berhentilah merusak properti dapurmu dan buatkan aku makanan, Kyuu." Kyuubi berjengit saat dengan tiba-tiba sepasang tangan melingkari pinggangnya, menyusup ke balik afron yang ia kenakan.

"Berhenti main-main! Kau, kembali duduk sana! Jangan mengangguku saat aku sedang masak, bodoh!" Kyuubi menepis tangan Itachi dan berbalik, memberikan tatapan tajam menusuk pada sepasang onyx yang menatapnya bosan.

"Kau mau masak makanan kah atau memasak mejamu yang terus kau rusak?" Itachi memajukan tubuhnya, memaksa Kyuubi untuk menjauh dengan melengkungkan tubuhnya ke belakang. Pinggangnya yang terganjal pinggiran meja sungguh bukan sesuatu yang menguntungkan saat ini.

"Itachi, aku serius!"

"Aku dua rius, Kyuu-chan~"

Kyuubi bergidik mendengar namanya dipanggil dengan nada menggoda begitu. Sangat bukan Uchiha jika Itachi bersikap seperti ini. Apalagi dengan bibir yang melengkungkan seringaian seperti sekarang.

'Emak! Anakmu ini salah apa sampai jatuh hati sama orang mesum begini!' Kyuubi menjerit dalam hati. Cukup frustasi dengan sikap Itachi yang kembali jadi Uchiha super out of character di depannya. Ia itu dokter khusus penyakit dalam, bukan dokter khusus penyakit mental yang sangat amat dibutuhkan Itachi.

"Aku lapar," ujar Uchiha sulung itu seraya menyapu helaian rambut Kyuubi dengan ujung hidungnya.

"K –kalau begitu kembali ketempat dudukmu!" Kyuubi meruntuki dirinya, merasa sial sekali karena ia tidak bisa menyembunyikan nada gugupnya.

Itachi menyeringai. Rasanya lebih menyenangkan untuk menggoda Kyuubi yang sekarang dari pada Kyuubi yang kerjaannya marah-marah padanya dulu. "Tidak mau. Aku saat ini tidak ingin masakanmu," Itachi semakin dalam menghirup wangi shampoo yang menguar dari rambut Kyuubi.

Tuh kan! Kyuubi yakin, sangat yakin kemana arah pembicaraan Itachi setelah ini. Lapar, lapar yang maksudnya mau makan dirinya kan!

"Saat ini kau terlihat lebih lezat dari pada makanan lainnya,"

Tuh! Tuh kaaaan! Apa Kyuubi bilang, astaga! Benar, benar-benar benar Kyuubi belum siap untuk yang seperti ini. Tidak sampai Itachi memberitahunya tentang bagaimana cara mereka menghadapi Ayahnya. Tapi, bagaimana dengan kenyataan Itachi yang kini tengah menjilati lehernya. Tangan yang entah sejak kapan sudah membuka kancing kemeja merah berlengan pendeknya hingga hanya tersisa satu kancing yang saat ini juga tengah dibukanya. Memelorotkan kemeja itu jatuh melewati kedua lengannya.

"Ngggh... Ita –chi..." Kyuubi mendesah pelan saat kulit lehernya ditarik keras barisan gigi Itachi. Kedua jemari tangannya mencengkram erat sisian meja keramik di belakang tubuhnya. Shit! Ia tidak bisa menyangkal jika ia juga menginginkan ini.

Sreeet...

Jari-jari Itachi terus bekerja melepaskan satu penghalang dibagian bawah Kyuubi. Ia membawa tangannya untuk melingkari pinggang Kyuubi. Sedikit lebih ke bawah hingga menyusup diantara tulang ekor pemuda merah itu. Tubuh Kyuubi yang sedikit tersentak akibat perlakuannya membuat Itachi menyeringai. Ia mengecup lebih intens daerah sekeliling leher Kyuubi. Bahasa non-verbal jika ia menyukai reaksi pemuda itu.

"Ada apa? Kau ingin berhenti?" Itachi berbisik di samping telinga Kyuubi. Ia menyeringai saat kepala Kyuubi menggeleng pelan. "L –lakukan saja, brengsek!"

Itachi tersenyum dan mengecup cuping telinga Kyuubi. Tangannya yang berada dipinggang Kyuubi bergerak menekan celana selutut Kyuubi hingga melorot sampai bawah kakinya. Itachi berbisik pelan, menyuruh pemuda merah itu untuk menanggalkan sendiri celana dikakinya. Kyuubi hanya melenguh dan mengangkat satu persatu kakinya hingga celana itu terlepas sepenuhnya dari tubuhnya.

Suara kecipakan dari kecupan ganas dibibir dan jilatan lidah berliur yang melumuri leher Kyuubi begitu terdengar. Membuat suara pembangkit hasrat itu terdengar jelas ditelinganya. Kedua tangannya meremas kencang lengan Itachi. Ia menggeram untuk menahan suara memalukan yang bisa keluar kapan saja disituasinya sekarang.

Tangan Itachi melingkar erat dipinggang Kyuubi dan mengangkat tubuh pemuda itu hingga terduduk di atas meja dapur. Kepalanya mendongak, melihat wajah bersemu merah Kyuubi yang tengah mengatur napasnya. Itachi melepaskan rengkuhannya dan menarik diri dari Kyuubi. Beberapa langkah, sebelum ia berhenti pada langkahnya yang keempat. Ia menyeringai saat matanya menatap hasil karyanya.

Kyuubi yang terduduk di atas meja dapur, wajah memerah dan hanya menggunakan selembar kain afron yang mengait menutupi tubuh bagian depannya. Mata Itachi melirik penis Kyuubi yang nampak menegang.

"Naked afron," ucapnya dengan wajah menyeringai.

"K –kau tidak –" Kyuubi menutup kembali mulutnya saat melihat seringai Itachi mengembang lebih lebar.

-THE HELL!

Sumpah demi seekor rubah yang tiba-tiba ngajak dia nikah! Kyuubi kali ini benar-benar merasa sangat malu. Apa ini?! Dia sedang dipermainkan oleh Itachi! 'Lakukan saja' apanya yang tadi ia katakaaaan!? Kenapa juga tadi ia menanggalkan celananya sendiri! Dan bagaimana bisa sekarang ia hanya memakai afron merah miliknya dengan bokongnya yang merasakan sensasi dingin keramik dapur langsung dikulitnya! Kenapa dokter muda yang dipuja-puja seperti dirinya bisa dalam keadaan memalukan seperti ini? Ditambah lagi dengan Itachi yang menatapnya dengan mupeng begitu.

'Karma! Ini karma Kami-sama!' Kyuubi ingin sekali menangis kejer sambil mencincang wajah Itachi saat ini. Kenapa ia selalu jadi merasa kalah kalau berurusan dengan Uchiha sableng satu ini.

"Lanjutkan masakmu. Perutku lapar," –SLAP! Dan sebuah pisau sukses tertancap pada dinding tak jauh di belakang kepala Itachi. Hanya berjarak beberapa centi tiga detik lalu dari lehernya.

"Meleset Kyuu," ucap Itachi kalem seraya berjalan kembali ke depan kopinya yang sudah dingin.

Kyuubi menatap tajam Itachi seraya bergerak turun dari meja. Tubuhnya masih menghadap Uchiha itu. Ogah banget untuk berbalik dan memberikan pemandangan yang aduhai menggoda iman Itachi yang secuil dengan memperlihatkan kulit punggungnya yang mulus dan bagian bawahnya secara gratis. Tangannya dengan cepat mengambil kemeja merahnya yang sudah basah karena nyemplung ke wastafel dan berjongkok dengan hati-hati untuk mengambil celananya yang teronggok di lantai.

"Kyuu-chan, kau akan mulai memasak atau ingin aku yang memasakmu?"

Tatapan tajam Kyuubi bertambah, "Memangnya salah siapa aku lama, hah?! Kalau kau duduk diam dari tadi mungkin aku sudah selesai!" teriak Kyuubi kesal.

"Aku kan sudah bertanya apa kau mau aku berhenti, tapi kau bilang 'lakukan saja' kan?" jawab pemuda onyx itu. Membuat Kyuubi lagi-lagi meringis karena tidak bisa menyumpal mulutnya saat mengatakan hal memalukan seperti itu. Kyuubi bangkit dan memasang celana jeans selututnya dengan asal. Baju? Ia sudah tidak peduli lagi. Ia berbalik dan mengambil sebuah timun untuk dicincangnya tak karuan. Bodoh amat ah! Abaikan! Abaikaaaan!

Itachi tersenyum tipis melihat tingkah Kyuubi yang sedang kesal namun tetap melanjutkan acara masaknya. Ia menopang dagunya dengan punggung tangan dengan mata yang terus menatap punggung putih Kyuubi. Mungkin sebentar lagi punggung itu akan dihiasi bercak merah nyaris tanpa cela –olehnya tentu saja.

Tangan Itachi mengambil ponsel hitamnya dari celana jeans biru donker yang ia kenakan. Alisnya berkerut ringan saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab dan pesan yang belum dibukanya. Semuanya bersilangan dari Sasori, lalu Deidara lalu kekasih temannya itu lagi. Itachi menyentuh layar ponselnya yang bertuliskan back, mengacuhkan panggilan yang mencapai tujuh belas kali itu dan memilih membuka kotak pesan dalam ponselnya. Ia meng-klik satu pesan dari Deidara dan membacanya dalam diam.

'BAKA?! Dimana kau, Itachi! Kau pikir aku tidak lelah terus mengirimimu pesan dan menelponmu hanya untuk mendengarkan suara sexy operator wanita!

Sekali lagi kukatakan untuk kedua puluh tujuh kalinya aku mengirimimu pesan! LIHAT KOTAK SURAT DI RUMAHMU UCHIHA!'

Itachi mengerutkan keningnya. Bukan karena kata-kata yang kurang sopan dari sahabatnya itu. Itu sudah biasa. Tapi, melihat kotak surat?

Itachi segera meninggalkan laman pesan dalam ponselnya dan menggulirkan jemarinya untuk menemukan satu kontak person dalam list diponselnya. Ia meng-klik nama 'Kakashi'. Ponsel itu ia dekatkan ketelinganya, menunggu suara jawaban dari orang diseberang sana.

"Moshi-moshi,"

"Apa ada pemberitahuan baru?" tanya Itachi tanpa basa-basi. Tidak perlu karena orang yang tengah dihubunginya sekarang pasti tahu apa yang ia maksudkan.

"Jika yang kau tanyakan itu tentang undangan dari peresmian Rumah sakit Konoha, iya." jawab Kakashi, Itachi masih diam dan menunggu karena telinganya masih mendengar gumaman kecil dari assistennya itu. "Ah! Undangan itu sudah berubah jadi pesta pernikahan. Memangnya kau tidak melihat berita? Anak dari pendiri rumah sakit itu akan menikah di acara peresmian Rumah sakit it –" kelanjutan dari penjelasan Kakashi itu terputus karena Itachi sudah mengakhiri panggilannya. Uchiha sulung itu terdiam dengan wajah datar setelah mengembalikan ponselnya pada kantung celananya.

"Pernikahan?" Itachi menoleh mendengar suara yang amat dikenalnya itu menyuarakan pertanyaan dalam benaknya. Matanya menatap Kyuubi yang tengah memegang telepon tanpa kabel yang ia dekatkan ketelinganya. Alis pemuda merah itu mengerut dalam.

"Tapi apa tidak terlalu cepat, Ayah?" Kyuubi nampak memijat dahinya pelan, "Empat hari?! Jangan bercanda ayah, bahkan pertunanganku saja belum diresmikan!" Suaranya yang nampak terkejut naik dua oktaf. Bibirnya ia gigit dengan keras untuk menghalau suara geraman kesalnya.

"... baik, Ayah. Aku mengerti," Kyuubi membenturkan dahinya ringan pada dinding di samping telepon rumahnya. Ia menggeram keras dengan sekali lagi benturan pada dahinya. Telepon dalam genggamannya nampak digenggam terlalu erat hingga kulit telapak tangannya memutih.

"Ayahku... aku akan tetap menikah Itachi," suara itu begitu pelan disertai ringisan yang tak dapat ia tahan. Apa ini? Rasanya baru beberapa jam ia melabeli dirinya dengan cap 'kekasih Uchiha Itachi', tapi mengapa hal itu langsung dirobek oleh kenyataan yang baru saja ia dengar dari Ayahnya.

"Pernikahanmu diadakan empat hari lagi, Kyuubi?" tanya Itachi, pemuda itu masih diam ditempat duduknya seraya terus menatap Kyuubi yang tak sekalipun memberikan respon dari pertanyaan yang diajukannya.

"Selamat," Kyuubi langsung menoleh kearah Itachi dengan wajah terkejut. Matanya nampak bingung, kesal, marah dan ...kecewa.

"Kau bilang apa?" tanya Kyuubi, hati kecilnya berharap jika ia salah dengar.

"Selamat atas pernikaha –DUAGH!" ucapan Itachi tak sempat untuk pria itu selesaikan saat satu hantaman keras pada pipi kanannya membuat ia terjungkal dari kursi yang didudukinya. Punggungnya menabrak lantai dengan keras.

"KAU BRENGSEK!" Kyuubi menyingkirkan meja kayu dihadapannya hingga menghantam dinding pembatas ruangan. Ia menatap murka laki-laki yang tengah meringis merasakan pukulan pada pipinya yang mulai memerah. Dengan cepat Kyuubi mencengkram kerah Itachi, menatapnya tepat dimata Uchiha itu. "Sekali lagi, katakan sekali lagi brengsek!"

"Sela –DUAGH!"

Pukulan kedua mendarat dipipi kiri Itachi. Kyuubi memukul pemuda itu dengan keras, tak sekalipun menahan tenaganya untuk menghantam wajah yang dielu-elukan banyak kaum hawa itu. Ia meninju lagi wajah itu, tak tanggung-tanggung dengan pukulannya pada rahang Itachi. Ia terus memukul Uchiha itu hingga beberapa bagian seperti pelipis dan bibir Itachi terlihat sobek dan mengeluarkan tetesan darah.

"KATAKAN SEKALI LAGI!" amuk Namikaze sulung itu. Tangannya tak lagi memukul wajah Itachi, kepalan tangannya beralih untuk memukul permukaan rata lantai rumahnya. Satu kali, dua kali. Tiga kali. Empat kali –hingga buku-buku jarinya memerah dan terlihat memar biru di sana.

"Katakan! KATAKAN SEKALI LAGI MAKA AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUHMU DENGAN TANGANKU SENDIRI!"

Itachi terdiam mendenger gelegar teriakan Kyuubi. Wajahnya yang sudah penuh luka dan memar dimana-mana tak melunturkan tatapan datarnya pada Sang Namikaze. Bibir Itachi terbungkam tanpa ada satu patah katapun yang keluar untuk sekedar membalas ucapan Kyuubi.

Tidak. Saat ini Kyuubi tak butuh kata-katanya. Itachi tahu jika Kyuubi tidak akan mau mendengarkan apa yang dikatakannya setelah apa yang ia ucapkan pada pemuda itu. Itachi punya cara lain untuk Kyuubi saat ini. Itachi akan melakukan satu-satunya hal yang dapat menjadi pembuktian dan tak perlu banyak kata rumit yang tak mungkin dapat dicerna Namikaze jenius itu saat ini.

Karena itu Itachi dengan cepat mencengkram tangan Kyuubi yang masih sibuk meninju lantai di samping kepalanya. Membuat Dokter muda itu meronta minta dilepaskan namun tentu saja Itachi tak akan melepaskannya. Itachi membalik posisi tubuhnya, membuat Kyuubi dengan paksa berada di bawah tubuhnya. Pemuda merah itu meronta lebih keras, menendang-nendang kesegala arah dan berusaha melepaskan cengkraman Itachi pada pergelangan tangannya yang semakin lama semakin menyakitkan.

"Lepaskan aku! Kau brengsek Itachi!"

Itachi menulikan telinganya dan menahan tangan Kyuubi di atas kepala pemuda itu. Menyerahkannya pada satu tangannya yang cukup kuat untuk menahan pemberontakan Kyuubi sedang satu tangannya yang lain menarik keras afron merah yang menjadi pelindung tubuh atasan Kyuubi.

Itachi menundukan tubuhnya dan menggigit leher Kyuubi dengan keras. Namikaze muda itu memekik sakit atas perlakuannya, tubuhnya berhenti memberontak dan sedikit bergetar menahan sakit diperpotongan lehernya. Ada yang mengoyak kulitnya di sana, menembusnya hingga ia merasakan barisan putih yang lumayan menancap dilehernya. Ia meringis sakit saat gigitan itu berubah menjadi hisapan kuat. Suara tegukan sangat terdengar jelas ditelinganya bersamaan dengan aliran darahnya yang seakan tersedot keluar.

Itachi melepaskan leher Kyuubi disaat tak ada lagi pemberontakan dari Kyuubi. Ia menatap luka yang dibuat olehnya dileher Kyuubi, masih mengalirkan darah meski hanya sedikit.

Saat ini lidahnya serasa kelu karena sudah mencecap rasa besi dari darah yang dengan mulusnya melewati tenggorokannya. Melupakan jika darah yang sudah keluar dari tubuh seseorang itu bisa saja mengandung berbagai macam penyakit dan lain-lainnya seperti yang pernah didengarnya semasa kuliah dulu.

Itachi lebih terfokus pada tatapan tajam penuh aura membunuh yang diarahkan pemuda merah dibawahnya. Tak sekalipun memberinya celah untuk menatap jauh ke dalam tatapan itu. Membentenginya dengan amarah yang meledak-ledak. Tanpa peringatan Itachi menarik celana Kyuubi menuruni kakinya. Sangat mudah karena celana itu sejak tadi memang terpasang seadanya dipinggang pemuda itu. Kyuubi kembali memberontak meski Itachi tak tampak kesulitan dengan pergerakan pemuda itu.

Pandangan Itachi tak sekalipun terlepas dari wajah Kyuubi meskipun saat ini tangannya tengah membuka kancing celana dan resleting jeansnya. Ia mengeluarkan sesuatu yang sejak entah rasanya sudah seabad bagi Itachi kejantanannya terkurung dalam celana sesak miliknya. Kyuubi mulai berteriak dan memaki Itachi saat kejantanannya menampar paha dalam pemuda merah itu. Bersentuhan langsung dengan kejantanan Kyuubi yang masih setengah menegang diantara kakinya.

Bentakan Kyuubi selanjutnya disertai hasratnya yang tak terelakan meningkat dikala Itachi mengocok kejantanan mereka berdua dengan satu tangan yang bergerak naik turun dengan kencang. Kyuubi menggeram, menggeram dan menggeram. Cukup frustasi dengan kemarahannya yang dibarengi dengan hasratnya yang membuncak.

Ia menjerit frustasi dan mengangkat kepalanya hingga mencapai dada Itachi. Ia langsung membuka mulutnya untuk menggigit kulit putih porselen itu dengan keras. Perlakuan yang menuai erangan sakit dari pemiliknya.

Tangan Itachi berhenti mengocok kejantanannya dan Kyuubi. Tangannya kini hanya mengocok kejantanannya sendiri dan lebih merendahkan tubuhnya untuk menyentuh kulit berkerut yang nampak begitu berkedut-kedut saat permukaan halus dan panas dari kepala kejantanan Itachi menyentuhnya. Ia menatap mata merah yang mendongak menatapnya sengit, melihat pancaran nafsu yang tak bisa disembunyikan Kyuubi diantara kemarahannya.

Satu hentakan dan Itachi memasuki lubang Kyuubi.

"AAAARGGH -AAHK!"

Kyuubi menjerit sejadinya. Matanya yang terbelalak nampak meneteskan air mata. Tubuhnya bergetar hebat merasakan sakit yang teramat sangat di bawah tubuhnya. Ia terisak dan terus merapalkan kata 'sakit' dalam pikirannya. Perih, tubuhnya seperti dirobek dengan tak berperasaan. Terbelah dua dengan paksa. Terlebih dengan Itachi yang tidak mengatakan apa-apa sejak laki-laki itu memulai aktivitas ini.

"A –AAKH!" Kyuubi mengepalkan kedua tangannya yang masih ditahan Itachi di atas kepalanya. Sakit itu semakin menjadi saat Itachi mulai menarik dirinya keluar. Memberikan sengatan sakit yang semakin membuat Kyuubi kalap.

"Kyuubi," Itachi memanggil nama pemuda di bawahnya itu dengan suara datar. Tapi bagi Kyuubi panggilan itu sudah seperti suara binatang yang menggeram. Manik ruby merah Kyuubi menatap Itachi, ia terbelalak saat mata itu berkilat penuh nafsu. Membuatnya membisu seketika.

"Kau itu milikku. Pernikahan. Wanita itu. Bahkan Ayahmu tidak akan bisa merebutmu dari sisiku," ungkap Itachi. Tangannya yang sejak tadi mencengram kedua tangan Kyuubi terlepas dan membawanya untuk menyentuh pipi Kyuubi. Menghapus jejak air mata diwajah pemuda merah itu.

Itachi mendekatkan wajahnya dan mengecup ujung hidung Kyuubi, cukup lama sebelum menjauhkan wajahnya dan mencium bibir Kyuubi. Kecupan yang menuntut, berlanjut dengan cumbuan penuh dominasi.

"Akkh –khhh –shh –kit-" desah sakit itu mengakhiri cumbuan mereka.

Erangan kesakitan Kyuubi tak digubris sama sekali oleh Itachi. Pemuda merah itu terlihat lemah dengan sakit yang dirasakannya dibagian selatan tubuhnya. "Khhe –luar –khannh –tachi-"

Kejantanan Itachi ditarik keluar, menambah rasa sakit Kyuubi atas tusukan kering yang dilakukannya. Sumpah, anusnya terasa sangat panas saat ini dan gerakan Itachi di sana semakin menyakitinya.

Dan sebuah hantaman keras kembali menghujam dalam lubangnya.

"A –ahhk –Ita –chhii!"

"Berkali-kali, aku akan –khh –membuatmu menjeritkan namaku –hah..."

Peluh menetes dari pelipis Itachi menjatuhi wajah Kyuubi, pemuda merah yang tengah menutup matanya dengan erat. Pemuda merah yang terus mendorong dadanya untuk menjauh namun tanpa hasil. Sakit pada tubuhnya sudah banyak menguras tenaganya.

Itachi mencengkram rahang Kyuubi, "Lihat aku," ucapnya penuh penekanan. Cengkramannya semakin menguat.

"Buka matamu dan lihat apa yang tengah kulakukan padamu Kyuubi,"

Kelopak mata Kyuubi perlahan terbuka, iris ruby itu tertutupi genangan air mata yang siap tumpah kapan saja. Mata rubynya langsung tertuju pada wajah dihadapannya. Kyuubi menggigit bibir dalamnya, benaknya dipenuhi oleh kata 'mengapa' dan 'mengapa' yang ia sendiri tidak tahu ia pertanyakan untuk apa.

Ia tidak bisa, dirinya tidak bisa mengartikan perlakuan Itachi padanya. Bukankah Itachi mencintainya? Bukankah pria itu bilang Kyuubi adalah miliknya? Tapi, mengapa Itachi melakukan ini padanya? Mengapa ia memperlakukan Kyuubi seperti ini? Terus dan terus bertanya seperti itu dalam benaknya sendiri. Tapi yang keluar dari belahan bibirnya bukanlah semua pertanyaan itu, mulutnya hanya bisa mengeluarkan desahan tak jelas saat Itachi menggempur lubangnya lebih kencang.

"Akh –hhkahh –kithh –"

-PLAK! –Mata Kyuubi bersiap terpejam kembali jika saja Itachi tak memberikannya satu tamparan dipipi kirinya. "Tatap –kkhh –aku..." ucapan itu disertai geraman yang lagi-lagi membuat ludah Kyuubi tertelan paksa. Ia menurut, rubynya beradu pandang dengan onyx Itachi. Mata yang sekarang membuat hatinya menjadi kalut.

"Sadarkan dirimu –sshh –lihat aku. Rasakan apa –yang kulakukan padamu –Kyuubi!"

"A –ahh! Itachi!" Kyuubi menggeleng dan mencengkram pergelangan tangan Itachi yang menahan rahangnya. "Hen –thii –khannh!" desah Kyuubi, ia harus menghentikan ini. Itachi –laki-laki di atasnya ini, ia tahu pasti jika ini belum seberapa untuk Itachi.

"Berhenti untuk bersikap pengecut!" Itachi memaju-mundurkan pinggulnya lebih cepat.

"Ahh –kau breng –mmfhh!" Bibir Kyuubi dihantam keras barisan gigi Itachi yang langsung memagutnya. Mencumbunya dengan kasar, menunjukan dominasi yang tak bisa dibantah. Matanya kembali terpejam, ludahnya kini terasa amis dan tercium seperti serbuk besi berkarat. Tidak bisa kah Itachi tidak menggigitnya! Tubuhnya saja sudah terasa remuk dengan hantaman dan sodokan Itachi pada lubangnya.

"Ita –hhh –chiihh -mmh!"

Tangan Kyuubi tak ada hentinya meremas kemeja Itachi, saluran satu-satu dari rasa sakit yang ia rasakan. Kepalanya menengadah ke atas, melepas cumbuan ganas Itachi. Oh Tuhan, ia tidak tahan lagi. Rasa panas dalam dadanya ini ingin sekali mendobrak keluar. Bahkan ingin sekali dirinya merobek dadanya dan menarik jantungnya itu.

Rasa ini terlalu sulit untuk dibendung. Sangat-sangat sulit untuknya berpikiran jernih saat tubuhnya diporak-porandakan seperti ini. Tunggu –jernih? Tidak. Tidak –bahkan sebelum Itachi melakukan –pemaksaan- ini, ia juga tidak berpikiran jernih. Saat itu benaknya dipenuhi oleh keraguan, kemarahan, rasa –putus asa –apa lagi yang bisa ia katakan, kesal dan ia –ia merasa kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri.

Shit! –Kenapa ia yang jadi merasa bersalah begini? Yang akan menikah itu dirinya. Yang mengorbankan –ini terlalu klise- yang membuang rasa cintanya juga ia sendiri. Yang tengah di-rape sekarang juga kan dirinya. Tapi kenapa sekarang malah dirinya yang merasa bersalah. Kenapa sekarang matanya terasa sangat panas, kenapa ia ingin sekali menangis saking merasa bersalahnya.

"Khh –afhh –Mahh –af!" Dan ia mengatakan kata yang pertama kali terlintas dalam otaknya.

Gerakan Itachi terhenti seketika. Manik hitamnya menatap Kyuubi penuh ketegasan, seperti ingin memastikan apa yang didengarnya barusan bukanlah hanya khayalannya semata. Ruby dengan aliran air bening yang mengalir disetiap sudut matanya menjadi pemandangan yang membuatnya sadar tak sadar tertegun.

"Ma –af... maafkan aku –" Kyuubi terisak, wajahnya ia tutupi dengan kedua tangannya. Tidak ingin menampakan wajah sengsaranya dihadapan Itachi yang kini menatapnya. Ia tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Kenapa mencintai seorang Uchiha Itachi terlampau menyakitkan seperti ini. Apa bukan hanya perasaannya selama bertahun-tahun ini akan dirampas olehnya. Apa lagi yang Itachi inginkan, selain hati dan tubuhnya yang tengah digauli pemuda itu saat ini.

Tangan Itachi bergerak untuk menyingkirkan tangan Kyuubi dari wajahnya namun Kyuubi lebih mengeratkan lagi kedua lengannya. Menolak untuk menunjukan wajahnya saat ini. Tidak. Wajah menyedihkannya sungguh bukan sesuatu yang ingin ia tunjukan pada Itachi. Ia lebih suka jika membuang wajahnya ini jauh-jauh sekarang.

"Kyuubi, perlihatkan wajahmu," ucap Itachi. Pemuda bermata onyx itu masih mencoba untuk menyingkirkan tangan Kyuubi. Meski gelengan kepala yang cepat menjadi jawaban dari pemuda berambut merah itu.

"Aku ingin melihatnya," ucapan itu terdengar lebih lembut dari sebelumnya, tetapi Si merah masih menolak.

"Tidak mau –hiks –aku ti –tidak mau," Kyuubi berucap dengan kepala yang menggeleng lebih cepat.

Itachi menghela napasnya, ia sedang dalam keadaan puncak saat ini. Acara rape me-rapenya bisa gagal jika pemuda merah ini mendadak melempem seperti ini. "Aku sedang memintamu, Kyuubi. Apa kau tidak ingin memenuhi permintaanku?" tanya Itachi.

Perlahan tangan Kyuubi mengendur meski tetap masih setia menutupi wajahnya. Mata rubynya terlihat mengintip diantara kedua lengannya. "K –kau akan mengejekku,"

God! Kenapa Kyuubi mendadak jadi anak manja disaat seperti ini? Tidak tahu kah jika sikapnya itu seperti orang malu-malu tapi 'nganu' dimata Itachi sekarang?

Itachi menelan ludahnya, berusaha memupuk benang tipis bernama kesabaran dalam pikirannya, "Seluruh wajahmu," tandas Itachi.

Kyuubi menurunkan tangannya dengan sedikit enggan. Apalagi saat matanya langsung tertuju pada onyx Itachi yang menatapnya lembut. Ia tertegun.

"Sudah sadar sekarang?" tanya Itachi. Tangannya mengusap lembut aliran air mata di ujung mata Namikaze sulung.

Kyuubi menutup matanya, merasakan setiap sentuhan lembut dari jemari Itachi yang mengusap wajahnya. Lalu tangannya melingkupi jemari Itachi, seakan enggan saat Itachi hendak menjauhkannya dari wajahnya. Ia menatap lurus Itachi, dan bersiap menumpahkan air matanya lagi.

"Maafkan –aku..." kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Kyuubi.

"Ssst... Sudah, jangan menangis lagi," Itachi mengecup pucuk kepala Kyuubi dan menyatukan kening mereka. Membuatnya hanya bisa menatap mata satu sama lain dengan jarak yang begitu dekat. "Kau milikku. Kau milikku,"

Kyuubi meremas jemari Itachi dalam genggamannya. Menyalurkan semua perasaan yang sekarang ia rasakan. Ia mengerti, ia sangat mengerti sekarang mengapa Itachi melakukan semua ini padanya. Pemuda dihadapannya ini butuh kepastian, bukan kata, bukan perbuatan. Tapi kepastian dari apa yang ia rasakan. Kepastian dari hatinya yang masih dipenuhi keraguan.

Maka dari itu, cukup setelah dua detik Itachi menjauhkan wajahnya. Kyuubi menangkup wajah itu dan mencium bibir Itachi. Bukan ciuman penuh tuntutan dan bernafsu. Ciuman itu hanya sekedar permukaan dari bibir mereka yang menyatu. Hanya pertemuan antara kulit yang terlampau lembut.

Kyuubi menjauhkan wajahnya setelah waktu lima detik yang terasa begitu lama untuknya. Wajahnya yang memang merona merah sudah berubah menjadi merah padam.

"Artinya?"

"K –kau sudah mendapatkan jawabannya. Mau apa lagi?" Kyuubi hendak memalingkan wajahnya jika saja Itachi tak menahan dagunya.

"Say it,"

Cukup dengan harga dirinya yang turun hingga diambang level bawah. Kyuubi itu orang yang egois, jarang peduli pada orang lain, sanksi mengucap kata maaf, dirinya juga selalu benar –karena itu juga ia tidak pernah mau minta maaf. Tapi kok, sekarang ia jadi terpojok seperti ini. Yang paling parah, ia terpojok saat dalam posisi terlentang ditindih Itachi, lubangnya di bawah sana juga masih ditusuk pusakanya Si Uchiha. Nah, sekarang ia jadi bingung lagi sebenarnya apa mau Uchiha satu ini terhadapnya.

"A –kau tahu," Kyuubi menggerakan matanya dengan gelisah, "Aku ti –tidak nyaman jika –" kegugupan membuat Kyuubi menggigit bibir bawahnya, " –kau tidak be –bergerak –"

Itachi menyeringai. Hilang sudah kesan lembut-lembut menenangkan Kyuubinya tadi setelah mendengar ucapan Sang Namikaze.

"Tapi moodku hilang. Kita berhenti saja," ucap Itachi. Ia menarik kejantannya keluar dari lubang Kyuubi. Membuat Namikaze di bawahnya mengerjap tak percaya.

"Tapi –"

"Mood-ku tidak bisa begitu saja kembali." potong Itachi, " –Butuh rangsangan agar bisa kembali,"

Duh... wajah Kyuubi sudah merah padam dengan bunyi –psssshh-nya jika saja ini cerita dalam sebuah animasi kartun. Otaknya langsung konek dengan apa yang Itachi maksudkan. Tapi terlalu memalukan untuknya mengakui begitu saja. Terlebih lagi –rangsangan, rangsangan yang 'itu' bukanlah hal yang bisa dengan mudah ia iya kan begitu saja.

"Aku menunggu," ucap Itachi. Tubuhnya masih menindih Si Namikaze muda di bawahnya.

Kyuubi menelan ludahnya. Kedua tangannya terarah untuk menangkup wajah Itachi, menelusup pada helaian hitam pemuda itu sebelum menekannya ke bawah. Lebih dekat kearahnya hingga bibir mereka saling bersentuhan. Manik Kyuubi menatap Itachi sekilas dan mulai membuka bibirnya, perlahan dalam ciuman lembut.

Jilat dan hisapan kecil lalu jilat lagi. Kyuubi memainkan lidahnya dipermukaan lembut itu hingga bibir Itachi penuh dengan liurnya. Satu, dua kali lidahnya mengetuk belahan bibir Itachi untuk dibiarkan masuk namun delikan tajam langsung ia arahkan pada pemuda onyx itu saat tak juga membuka mulutnya.

Kyuubi menjauhkan bibirnya, "Buka mulut –emmffh!" ucapan itu terpotong sepihak karena mulutnya yang tiba-tiba saja terbungkam sesuatu. Sesuatu yang kini tengah menggerayangi rongga mulutnya.

Kyuubi mengerang geli saat langit-langitnya serasa tergelitik. Tangannya menjambak helaian rambut Itachi dan menekan kepala raven itu agar lebih dekat, lebih memperdalam ciumannya.

"Mmf –ahmm –tachihh!" Kyuubi memejamkan matanya erat, lidah yang bergrilya dimulutnya membuatnya ia tak hent-hentinya mengerang. Cumbuan yang membuatnya tak peduli lagi dengan akal.

Ciuman itu diputus oleh Itachi, pria itu menjauhkan wajahnya kembali sesaat setelah ciuman itu terputus. "Lakukan itu padaku," ucapnya seraya menghapus air liur yang membasahi ujung bibir Kyuubi. Pemuda merah itu mengerang dengan perlakuannya dan langsung menyerang bibir Itachi. Terlampau cepat hingga rasa besi kembali terasa dalam ciuman mereka.

Luka dibibir Kyuubi kembali terbuka dan tak hanya itu saja, Itachi juga merasakan bibirnya yang tergores saat gemeletukan gigi mereka bertemu. Uchiha muda itu mengerang saat Kyuubi menarik bibir bawahnya, mengulum bibirnya yang terbuka dan menghisapnya dengan kencang. Begitu rakus.

Telinga Kyuubi yang mendengar erangan pelan dari pemuda yang tengah dicumbunya itu, membuatnya semakin bersemangat. Dan saat bibir Itachi terbuka, ia tak menunggu lagi untuk melesakan lidahnya masuk. Segera menginvasi rongga lembab itu dengan lidahnya.

Barisan gigi Itachi menjadi yang pertama disapu benda kenyal tak bertulang itu. Gerakannya begitu licin dan cepat. Menuntut untuk lebih dalam menikmati ruang berliur itu, Kyuubi memiringkan kepalanya dan mendorong kepala Itachi. Menjulurkan lidahnya untuk menyentuh langit-langit rongga mulut Itachi. Mencoba untuk membuat Uchiha muda itu terlarut dalam permainannya dan ikut bermain dengan lidahnya.

"Ngghh..." Kyuubi mengerang tanpa sadar. Gerakan lidahnya semakin panas dengan jilatan-jilatan dan suara seduktif yang ia keluarkan.

Itachi membalas erangan Kyuubi, menyahutinya dengan desah napasnya yang tak lagi teratur. Nampaknya kesabaran bagi Uchiha satu itu sudah pada batasnya hingga lidah yang digunakan Kyuubi untuk menjelajahi ruang mulut Itachi langsung diraup pemuda onyx itu. Menghisapnya dengan kencang disertai pekikan kaget dari Kyuubi.

"A –anggh ... –ngghh –" erangan Kyuubi memenuhi pendengarannya sendiri. Menulikannya dari segala macam suara lain terkecuali kecipakan serotis antara percampuran saliva.

Suara kecipakan dan tarikan begitu sarat dari cumbuan panas yang tak mampu diimbangi pemuda merah yang telah pasrah dengan tubuhnya yang sudah dipenuhi peluh dan tanpa sehelai kainpun yang menutupi kulit putih bersihnya. Ia menyalurkan nafsu tubuhnya pada pria yang dengan senang hati menjadi pemuasnya.

Sesekali kaki Namikaze muda itu menyentak, membuat kedua kejantanan bergesekan dengan sengatan listrik yang menjalari seluruh tubuh mereka. Dan erangan keduanya terasa semakin nyaring sekaligus berat.

Uchiha sulung menggeram, cumbuannya dihentikan secara sepihak dengan desahan kecewa dari pemuda merah di bawahnya. Namun sejurus kemudian pemuda merah itu berteriak tertahan merasakan hujaman keras pada lubang anusnya. Rematan pada helai raven ditangannya bertambah kuat. Membuat helaian yang biasanya terikat rapi itu sekarang menjadi acak-acakan dengan banyak helainya yang mencuat keluar dari ikatannya.

Kakinya yang mengangkang bebas serta lubang diantara bongkahan pantatnya yang tengah terisi penuh oleh benda panjang penuh urat milik pria yang mendominasi tubuhnya menambah erotis posisi mereka sekarang.

Ia mengerang dalam ciumannya saat benda besar dan panjang itu akhirnya bergerak setelah rasanya begitu lamanya berdiam diri dalam tubuhnya. Ia merasakan perih lagi-lagi menyerang lubangnya yang ia yakin terluka karena begitu kasarnya saat benda itu memasukinya.

Kyuubi menggigit lengan dalamnya. Sodokan brutal Itachi benar-benar membuatnya harus setengah mati untuk tidak mengerang kesakitan. Ia mendongak dan memejamkan matanya. Tubuhnya yang terlonjak di bawah dominasi Itachi adalah sesuatu yang mampu membuat otaknya berhenti memikirkan hal lain selain kenikmatan.

"Mmah –ahh... shit! There, Itachi!" Kyuubi memjambak keras rambut Itachi, beberapa dari helaian hitamnya patah saking kencangnya tarikan itu.

Sungguh sangat nikmat, rasa yang mampu membuat tubuhnya mengejang dan perutnya memanas disaat yang sama.

Rasa ini. Iya, rasa yang ia cari, sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan saat melakukan hal serupa dengan Shizune. Tubuhnya memang merespon dengan semua sentuhan yang dilakukan wanita itu, tapi ini berbeda. Kyuubi merasa sangat nikmat, sangat penuh. Bahkan setelahnya berkali-kali Itachi menyentuh titik yang sama, Kyuubi tetap merasakannya. Lebih, dan lebih lagi. Sesuatu yang memabukkan.

"Ahh... hahh.."

"Mmm –aah... Ita –chiihh aahhh!"

Sungguh Kyuubi sudah mulai gila. Ia mengakui dirinya sendiri gila. Gila. Gila. Gila karena tubuhnya yang sangat-sangat menikmati semua sentuhan Itachi. Semua tubrukan antara kulit mereka. Sentuhan dalam dari milik laki-laki Uchiha itu dalam tubuhnya. Lagi, ia sudah gila karena menginginkan sentuhan itu lebih beringas lagi memporak-porandakan tubuhnya. Ia ingin lebih. Ia ingin melupakan untuk sejenak kemarahannya, rasa kesalnya, Shizune, ayahnya, semuanya. Ia ingin Itachi membuatnya lupa. Untuk sekarang.

"More..." Ia tidak peduli lagi jika ia terdengar sedang mengemis pada Uchiha itu sekarang. Ia hanya ingin menikmati ini. Menikmati Itachi "More.. –ahh harder 'Tachi! Broken me!"

Kyuubi tidak tahu. Pemuda itu tidak tahu jika saat ini seorang Uchiha Itachi tengah menyeringai ngeri seraya membaui rambut merah Kyuubi. Pemuda merah yang sudah jatuh dalam pelukannya ini tidak akan bisa lepas lagi darinya. Itachi tidak hanya merasakan senang atas permintaan Kyuubi. Pewaris keluarga Uchiha itu merasakan lebih dari pada itu.

Keputusan yang sangat salah jika Kyuubi berniat untuk lepas dari jeratnya suatu saat. Kyuubi. Pemuda merah ini tidak pernah akan Itachi lepaskan. Itachi akan membuatnya bertekuk lutut di hadapannya. Merangkak dikakinya hanya untuk mendapatkan kepuasan. Namikaze sulung ini tidak akan bisa terlepas dari borgol dan cengkraman yang Itachi buat. Sangat khusus untuk laki-laki merah tersayangnya.

'Menghancurkanmu? Dengan sangat senang hati aku akan melakukannya, milikku,'

Tangan Itachi melepaskan cengkraman Kyuubi pada rambutnya. Menahan tangan itu untuk tetap berada di atas lantai sedangkan satu tangannya yang lain memaksa wajah Kyuubi untuk mendongak. Menggiurkan. Wajah merah dengan peluhnya yang bercucuran. Mata yang begitu redup karena nafsu, cahaya yang berbeda setiap kali ia mendorong masuk kejantanannya pada lubang pemuda itu.

Erotis.

Mengagumkan.

Membuatnya memproduksi banyak liur yang siap tumpah membasahi wajah erotis Kyuubi.

Aahhh, ia tidak sia-sia bukan menunggu dan sedikit mengorbankan perasaannya untuk mendapatkan pemandangan seperti ini. Kyuubi yang mabuk akan sentuhannya. Kyuubi yang merendahkan harga dirinya di bawah tubuhnya saat ini.

Itachi tak segan-segan –memang tidak pernah segan- lagi untuk mencium bibir merah Kyuubi. Meraupnya dan memasukan lidahnya dalam mulut pemuda itu. Ia mengerang tertahan dalam ciumannya. Cuma Kyuubi yang bisa membuatnya lepas kendali seperti ini. Hnya pemuda merah itu yang membuatnya merasakan nafsu puncak dalam bercinta.

Panas, nikmat, dengan banyaknya desiran aneh yang menjalari seluruh tubuhnya. Dari ujung sampai ke ujung lagi. Tak membiarkan sedikit pun bagian dari tubuhnya melewatkan setiap getaran kenikmatan yang diberikan Itachi. Yang jelas ia hanya merasakan nikmat dari surga dunia yang Itachi beri. Rasa sakit pada lubangnya yang terluka tak lagi ia pedulikan, nikmat ini lebih mendominasi tubuhnya.

"Nggah –aahh..." Itachi melepaskan bibir Kyuubi yang begitu mengkilap dan bengkak, mulutnya kini lebih disibukan dengan betapa mulus dan indahnya leher Kyuubi. Begitu menggodanya untuk meninggalkan jejak-jejak kemerahan dileher putih bersih itu. Ia juga memberikan kecupan dan jilatan pada luka bekas gigitan yang ia torehkan di sana.

Kepala Kyuubi yang mendongak menambah aksesnya untuk lebih banyak mencecap kulit indah Si pemuda merah. Ia menjilat, mengecup, menggigit dan menarik kulit itu keras hingga timbul begitu banyaknya bulatan merah tak beraturan dileher Kyuubi. Itachi ingin sekali bersiul bangga melihat tempat dimana ia meninggalkan tanda-tanda itu. Bagian yang pastinya tidak akan bisa Kyuubi sembunyikan bahkan jika pemuda itu memakai kerah tinggi sekalipun. Biarlah, malah Itachi sangat menginginkan semua orang melihat tanda kepemilikkannnya itu.

Itachi melingkarkan kaki Kyuubi pada pinggangnya. Melengkungkan tubuh yang Itachi sangat kagum bisa sampai setengah dari badan Kyuubi terangkat olehnya. Ia menyentuh kejantanan kekasihnya itu tanpa permisi. Sangat keras –dan berdenyut tak sabaran, sesuai dugaannya.

Tangan Itachi meremas lebih kencang, menuai erangan dan desahan lebih keras dari Kyuubi. Alisnya mengernyit saat lubang Kyuubi meremas miliknya. Itachi menggerakkan tangannya, mengocok kejantanan kekashinya itu dengan cepat hingga Kyuubi semakin meracau tak jelas. Rapalan demi rapalan kata tak jelas terus dikumandangkan dengan suara sexy –menurut Itachi- milik Kyuubi. Ia mempercepat ritme dari gerak tangannya dan gerakan keluar masuk lubang Kyuubi. Desiran cairan yang mulai mendesak untuk keluar nampaknya sudah sangat menginginkan ruangan hangat itu menjadi lebih panas.

Itachi kembali mencium Kyuubi dalam, dengan beberapa sodokan terakhir yang ia lakukan sebelum mendorong kejantanannya sedalam mungkin. Kemeja dikenakannya terasa hangat saat cairan Kyuubi menyembur sesaat sebelum ia juga mengikuti jejak pemuda merah itu. Mengeluarkan jutaan benih miliknya dalam tubuh Kyuubi.

.

.

.

.

"Jadi?" Kyuubi bergerak menemukan posisi nyamannya dalam dekapan Itachi saat rasa dingin mulai merangsak melalui pori-pori tubuhnya yang terekspose sepenuhnya. Ia menyamankan kepalanya pada dada pria tampan yang menyandarkan diri pada dinding di belakangnya. Hiiih, tubuh Kyuubi bergidik kedinginan. Suhu AC ruangan ini terlalu dingin untuk tubuh telanjangnya.

"Hn?" Mata merah Kyuubi menatap tajam pemilik tubuh yang tengah ia sandari itu.

"Sekali lagi kau berlagak bodoh di depanku. Kupastikan pisau dapurku bukan hanya melewati samping lehermu!" –Ok, suara sexy Kyuubi yang tadi didengarnya sudah berubah jadi nada tajam kembali ditelinga Itachi.

Itachi memejamkan matanya sejenak, ketika mata itu terbuka raut wajah Sang Uchiha nampak berubah serius, "Setelah ini lakukan apa yang Ayahmu inginkan, bersikap seperti biasa. Jangan membantahnya,"

"Ap –apa? Tapi –"

"Pernikahan itu akan tetap berlangsung, Setelah hari ini, kita tidak akan bertemu sampai hari keempat," Itachi menatap manik Kyuubi yang nampak siap meledak lagi, "Tenanglah. Aku tidak akan melepaskan rubahku untuk siapapun. Kau hanya harus bersiap saat kakimu kurantai dan membuatmu bersujud di bawah kakiku," ucap Itachi. Ia menyeringai melihat wajah melongo yang jarang-jarangnya bisa ia lihat diwajah Kyuubi.

Tangan Itachi menangkup dagu Kyuubi, "Apa kau siap menjadi budak cintaku, hmm? Namikaze Kyuubi?" tanya Itachi.

DUAGH!

Si wajah tampan penuh lebam-lebam dan ditambah satu lagi pukulan yang bersarang dipangkal hidungnya itu kini tengah tersungkur dan meringis nyeri meratapi wajahnya yang ternodai luka-luka nista buah tangan kekasih tersayangnya. Sedangkan Si pelaku pemukulan kini tengah berjalan terseok-seok karena sakit dibagian pinggul dan pantatnya keluar ruangan. Bahkan Kyuubi tidak peduli saat aliran darah menuruni paha dalamnya, ia terlanjur merasa kesal untuk merasakan sakit –tidak- sepele perbuatan tidak senonoh kekasih mesumnya.

.

.

.

.

.

.

.

Mata ruby itu menatap bosan liukan kain putih gading yang tengah dibenarkan arah dan posisinya oleh seorang perancang dan pembuat gaun pernikahan –empat meter di depannya. Sesekali mulutnya terbuka lebar dan menguap sadis, ia merasa sangat bosan dan mengantuk. Sudah tiga jam dua puluh menit ia duduk, lalu berdiri, lalu disuruh lihat itu lihat ini dan duduk lagi. Terakhir ini ia disuruh untuk memberikan komentarnya terhadap apa yang tengah dipakai gadis cantik berambut hitam di depan tiga cermin besar di depannya.

Duh, Kyuubi merasakan denyutan sakit dihatinya lagi melihat senyuman bahagia wanita itu saat mengenakan gaun pengantin. Terlebih dengan wajahnya yang sumringah dan seakan tidak pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri Sang 'calon suami' bercumbu mesra di atas ranjang dengan pakaian seadanya, jangan lupakan jika bercumbu mesranya dengan seorang laki-laki. Kyuubi benar-benar tak habis pikir dengan apa yang ada dalam pikiran wanita itu.

Apa Shizune sekuat itu? Apa wanita itu tidak jijik padanya? Kan sama saja prilakunya itu dengan selingkuh, kan?

Besok adalah hari pernikahannya dan hari ini ia baru bertemu dengan Shizune setelah kejadian bikin jantungnya tiba-tiba butuh cadangan itu. Tapi wanita itu malah sama sekali tak membahasnya. Sekedar memberikan wajah kecewanya saja tidak. Apa sih yang ia lewatkan?

"Kyuubi-kun? Bagaimana?" Kyuubi menatap ke depan lagi. Ayolah, jangan tersenyum seperti itu di depannya saat ini!

"Bagus," tanggap Kyuubi sekenanya.

Wanita itu mengerucutkan bibirnya dengan gemas. "Jangan begitu padaku, Kyuubi-kun. Gaun ini sulit sekali untuk dipakai dan kau hanya bilang bagus. Dan lagi kenapa kau tidak memakai punyamu?" tanya Shizune sedikit bumbu memaksa pada tatapannya. Kyuubi hanya bergumam untuk menjawab gadis itu dan berjalan menuju ruang ganti. Tak lupa pula mencomot satu setelan jas putih gading beserta celananya.

.

.

Kyuubi menggantung setelan pakaian ditangannya di samping kaca full body dihadapannya. Ia memperhatikan setelan jas itu sejenak dan menatap cermin. Dirinya yang mengenakan kacamata merah, syal merah yang menutupi seluruh lehernya, kemeja biru panjang dengan dalaman kaus hitam polos dan jeans donker. Lidahnya mengeluarkan suara decakan.

Harus sebegini kah jadi orang yang mengalami cinta segitiga? Serumit ini kah?

Kyuubi menggelengkan kepalanya cepat. Tidak. Ia tetap harus percaya. Ya. Percaya pada orang itu. Ia hanya harus menjalankan perannya sekarang. Peran yang pastinya hanya akan menuai rasa sakit hati dari wanita bergaun pengantin di luar sana. Haaaah. Kyuubi benar-benar ingin membelah dirinya jadi dua, sebelah untuk Shizune agar wanita itu tetap dapat tersenyum meski ia hanya bisa menganggap calon istrinya itu sebagai orang yang disayangi sebatas adik. Sebelahnya lagi ia akan mengikut sertakan hatinya dan ditempatkan di samping pria yang sudah menggagahinya.

Mata Kyuubi mengerjap. Tadi ia mikir a... pa? Hah?! HAAH?! Kenapa ia jadi teringat pada orang itu sih disaat seperti ini? Mengingatnya juga tidak tanggung-tanggung lagi! Langsung adegan dewasa papah-mamahan anu-anuan begitu!

"Sial Kyuubi! Hentikan pikiran kotormu!" Kyuubi mengusap wajahnya kasar. Ia harus tenang. Bukan saatnya berpikiran melenceng seperti itu.

"Kyuubi-kun? Kenapa lama? Kau kesulitan memakainya, mau kubantu?"

Suara Shizune membuat Kyuubi kembali tersadar, ia segera melepas kemeja dan kaus hitamnya. "Tidak. Tidak perlu. Sebentar lagi aku keluar,"

.

.

Shizune menatap takjub pada penampilan laki-laki tampan bersurai merah di depannya. Pipinya dipenuhi rona merah karena malu juga kagum pada calon suaminya itu. Kemeja putih, dasi putih dan dibalut oleh jas putih gading yang pas pada tubuh Kyuubi, kakinya terbalut oleh celana berwarna senada dengan jas yang dikenakannya. Ia berniat memuji penampilan Kyuubi sebelum alisnya mengerut dalam.

"Kyuubi-kun. Kenapa kau memakai syalmu?" tanya Shizune.

Kyuubi sedikit melebarkan matanya sebelum mengalihkan pandangannya kearah lain, menghindari tatapan wanita itu. Hal yang tentu membuat Shizune sedikit... khawatir?

"Sini kulepas. Masa mau memakai syalmu saat sedang memakai pakaian seperti ini sih," ucap Shizune. Wanita itu mengangkat tangannya untuk menyentuh syal merah rajutan Kyuubi.

"Tidak usah Shizune, syal ini –" Kyuubi terlambat. Syal dilehernya itu sudah melorot sebagian dan Kyuubi meruntuki seseorang yang entah berada dimana sekarang ini. Matanya dengan perlahan menatap wanita yang pergerakannya terhenti saat syal Kyuubi berhasil dikendurkan oleh tangannya.

Mata yang kosong dan Kyuubi mencelos. Kyuubi bersumpah akan memberikan bogeman mentah pada orang yang tidak kira-kira memberinya bercak-bercak merah keunguan diseluruh lehernya. Sekarang bagaimana? Apa yang harus ia katakan tentang semua kissmark dilehernya ini?

"Maaf. Apa kalian bisa meninggalkan kami sebentar?" Shizune bertanya tanpa sekalipun melepas pandangan dari leher Kyuubi. Kyuubi tahu jika pertanyaan itu bukan tertuju padanya, jadi ia diam.

"Baik Nona," jawaban singkat itu terdengar dari dua orang yang sejak tadi berada diruangan itu bersama Kyuubi dan Shizune. Dua orang yang nampak pergi dengan wajah tersenyum-senyum –mungkin salah paham dengan tanda dilehernya dan sikap Shizune.

Kyuubi kembali tersadar dari dari lamunan kacau dalam otaknya saat tangan Shizune menarik paksa syal dilehernya. Tidak hanya itu, jemari berbalut sarung tangan wanita itu dengan kasarnya membuka dasi dan kancing kemejanya hingga satu kancing kemeja itu hampir lepas dari tempatnya. Kyuubi diam, tak berniat untuk menghentikan tindakan Shizune.

Dari leher, tulang belikat, dada, perpotongan bahu yang membiru dengan bekas gigitan. Shizune ingin menertawai dirinya saat ini. Apa ini? Tubuh calon suaminya penuh dengan bercak keunguan tak beraturan. Penuh dengan kissmark yang bukan darinya? Bahkan ia bisa tahu seberapa brutalnya 'permainan' yang dilakukan Kyuubi dari bekas gigitan yang menimbulkan luka mengering diperpotongan lehernya.

Wanita itu merasakan amarah yang memuncak membakar hatinya.

"Aku harus pergi. Gaun ini akan kubawa ke rumahku dan disempurnakan di sana," Kyuubi mengerjap. Tidak ada makian? Tidak ada kata-kata peluap amarah yang didengarnya? Kenapa sekarang ini ia malah melihat senyum simpul dari gadis cantik itu? Kenapa Shizune? Kau kenapa Shizune?

"Baiklah. Aku pergi duluan ya, Kyuubi-kun," Shizune tersenyum sebelum berbalik dan berjalan dengan gaun pengantinnya yang diangkat oleh kedua tangannya.

"Kau –tidak membenciku?"

Langkah indah dari sepasang kaki berbalut sepatu hak tinggi putih mutiara itu berhenti. Pemiliknya nampak termenung dengan senyum yang memudar. "Kenapa aku harus membenci calon suamiku? Kau lucu sekali Kyuubi-kun. Ya sudah ya, aku pergi. Sampai jumpa dipernikahan,"

Sekali lagi, hati Kyuubi mencelos.

"Aku ...tidak bisa..." Kyuubi mengepalkan tangannya.

"Aku tidak... sanggup, aku tidak sanggup menyakitinya... aku tidak bisa... bagaimana ini..."

"Bagaimana .. bagaimana ini, Itachi..."

.

.

.

Gusar. Sejak tadi kaki beralaskan sepatu kulit putihnya terus ia ketuk-ketukkan di atas lantai putih gedung rumah sakit yang sudah dihias sedemikian rupa dengan barang-barang berwarna merah marun dan gading. Sangat megah dan mewah. Mungkin, jika saat ini Kyuubi tidak sedang dalam keadaan rumit ia akan sangat dengan senang hati memperhatikan keindahan ruangan besar tempatnya sekarang.

Tapi, tidak. Ia tidak bisa melakukan itu. Ia saat ini terjepit oleh waktu. Dimana? Dimana orang itu sekarang? kenapa sejak tadi rubynya tak melihat orang itu diantara kerumunan orang yang hadir di ruangan ini. Sudah banyak yang datang –sangat banyak malahan. Termasuk dua orang sepasang suami istri –orang tua dari seseorang yang tengah ditunggunya. Tapi, mana dia? Kenapa dia tidak ada?

"Kyuu?" Kepala Kyuubi menoleh. Ia mendapati Sang adik yang nampak berwajah khawatir menatapnya. "Kau baik-baik saja?"

"Tidak. Aku tidak baik sama sekali," Kyuubi menjawab cepat. Ia menatap Naruto dengan wajah setengah frustasinya. Ya Tuhan! Ini hari pernikahannya, tapi kenapa ia jadi seperti orang gila begini!?

"Kau menunggu Itachi-nii, ya?" Naruto menyentuh bahu Kyuubi. Ia benar-benar tidak bisa melihat Kyuubi yang seperti ini. Ia tahu jika sebenarnya dari dulu Kyuubi menyukai Itachi. Bahkan sebelum Itachi mengenal Kyuubi, kakaknya ini sudah mengagumi kakak dari kekasihnya itu. Terlampau kagum sampai-sampai kamarnya dimansion Namikaze dipenuhi dengan cetak print berbentuk buku yang Kyuubi ambil dari beberapa artikel di Internet. Seluruhnya mengenai lingkupan Uchiha Itachi.

Terkejut? Dulu juga saat pertama kalinya Naruto tahu hobi Kakaknya itu, ia terkejut. Seorang Kyuubi yang sangat amat berharga diri tinggi, kasar, seenaknya dan hanya berbuat untuk kepentingannya sendiri memiliki hobi mengumpulkan setumpuk artikel tentang seseorang. Bahkan Naruto sampai tertawa terpingkal-pingkal hingga perutnya sakit sebelum Kyuubi mendepak bokongnya keluar pintu.

"Ck! Apa yang sebenarnya keriput itu rencanakan? Apanya yang akan bertemu dipernikahanku?" Kyuubi nampak mengumpat sendiri, tak menanggapi pertanyaan dari Sang adik.

Naruto menatap iba. Apa yang bisa ia lakukan sebagai adik. Ia sendiri bukan orang yang berani menentang Sang Ayah selama ini. Ya, selama ini Kyuubi dan dirinya selalu menuruti apa yang diinginkan Ayahnya. Dari tempat sekolah, jurusan, pekerjaan dan sekarang –pendamping hidup. Miris. Nasibnya pun akan sama seperti Kyuubi nantinya. Persis dan ia merasa hatinya begitu berat saat mengingat ada kehidupan lain dalam tubuhnya. Sesuatu yang –sangat tidak wajar bagi seorang laki-laki sepertinya. Juga karena Ayahnya.

.

.

.

"Sayang, Upacara pernikahanmu sebentar lagi. Kenapa kau masih terpekur disudut ruangan dengan adikmu, sih?" Surai merah panjang adalah hal pertama yang pasti akan diperhatikan orang-orang disekitarnya sebelum menatap wajah cantik nan rupawan dari wanita yang kini tengah berjalan mendekati dua pemuda tampannya. Gaun merah sepanjang mata kakinya begitu terlihat amat cantik membalut tubuhnya. Tidak ada yang akan menyangka Uzumaki Kuzhina yang sekarang bermarga Namikaze itu sudah memiliki dua orang putra dewasa yang saat ini berdiri dihadapannya.

"Kaa-san, sepertinya Kyuubi –"

"Aku akan ke sana," Kyuubi memotong cepat ucapan adiknya, ia menepuk pundak Naruto dan berjalan melewati Kushina. Rasanya ia akan mematikan fungsi hatinya setelah –setelah pernikahan ini.

"Haah~, apa pernikahan ini begitu memaksanya ya?" Naruto menatap ibunya dengan raut bingung. Kushina membalasnya dengan senyuman kecil, "Tadi ada pesan untukmu. Katanya siapkan wartawan diruang tengah sesaat sebelum –kau tahu lah," ucap Kushina diakhiri dengan cengiran lima jari, sangat mirip dengan pemuda pirang yang saat ini mengerjap tak mengerti.

"Kaa-san pergi dulu ya. Harus berada di samping Ayahmu nih soalnya!" Kushina pergi dengan lambaian tangan pada anak bungsunya itu. Kelakuannya tidak sesuai dengan image anggun yang diperlihatkannya tadi.

"Wartawan? ...for what?"

Naruto hanya mengangkat bahunya dan melangkah pergi. 'Ya sudahlah kalau begitu,'

.

.

.

.

Hari ini, ah tidak. Tepatnya saat ini ia sangat bahagia. Amat bahagia saat melihat laki-laki yang paling dicintainya tengah berdiri dialtar pernikahan, menunggu dirinya yang tengah berjalan dengan anggun di samping calon mertuanya. Namikaze Minato yang saat ini ia gandeng tangannya.

"Jangan gugup, Shizune," Shizune membalas senyum dari ucapan semangat yang dibisikan Minato. Ia mengangguk kecil dan kembali menatap ke depan, menatap kekasih yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.

Senyumnya semakin cantik menghiasi wajahnya dikala satu tangan Kyuubi terentang, menunggu sambutannya yang tengah berjalan mendekat. Ia menyambutnya dengan perasaan sangat berbunga. Kami-sama, apa yang ia inginkan sebentar lagi akan terwujud. Kyuubinya sebentar lagi akan benar-benar menjadi miliknya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan kenyataan dimana saat ini Kyuubi memakai syal merahnya –menutupi bercak menjijikan. Bukan. Kyuubinya tidak menjijikan, ia hanya ternodai dan Shizune akan kembali membuatnya suci. Suci dalam ikatan sebuah pernikahan.

Shizune... apa kau tidak melihatnya. Lihatlah ke dalam mata indah ruby laki-laki di sampingmu kini. Di sana tidak ada kebahagiaan –setidaknya kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Ia memang tersenyum, tapi bukan kah itu hanya sebatas senyum formalitas belaka. Tersenyum untuk sekedar menghormati perasaanmu, kebahagiaanmu. Dan sungguh laki-laki itu memang bahagia, untuk dirimu. Meski hatinya sedikit demi sedikit mulai runtuh melihatmu tersenyum karena dirinya.

Kyuubi merasa menjadi orang terbejat untukmu. Orang yang memberimu harapan kosong yang tak akan pernah diisi olehnya. Hatimu tak akan pernah bisa ia lengkapi karena hati pria itu sudah terlanjur dicuri, hatinya yang rusak sudah tidak ada lagi dalam dirinya. Kyuubi memaksakan dirinya, begitu pula dengan dirimu.

Tapi Shizune tidak peduli. Selama Kyuubi di sisinya. Selama Namikaze Kyuubi tetap bersamanya, maka ia akan baik-baik saja. Ia akan tetap percaya jika cintanya akan bersambut suatu saat nanti. Hanya memerlukan sedikit lebih banyak waktu.

Tapi... tapi sesungguhnya ia tidak sanggup. Kyuubi akan terluka, ia sangat tahu. Kyuubi akan menderita –bukan fisik, tapi perasaannya, ia tahu. Mereka akan sama-sama menderita jika pernikahan ini berlanjut. Sesungguhnya ia tidak ingin memaksakan kehendaknya, namun apa dayanya sebagai seorang wanita. Ego mengalahkan semuanya, ia ingin memiliki Kyuubi.

"Kalian berdua pasangan yang cocok," Shizune tersenyum mendengar orang di hadapan mereka berdua berkomentar tentangnya dan Kyuubi. Seandainya itu memang benar, Shizune akan sangat dengan senang hati mengucapkan kata terima kasihnya.

Lalu, hal itu begitu cepat. Sesaat sebelum orang di depannya menyebutkan janji suci pengikat pernikahan. Seseorang mengacaukannya. Ya, seseorang yang menyedot semua pasang mata dalam ruangan itu. Seseorang dengan jas hitam, rambut hitam dan mata hitamnya yang menatap lurus ke depan berjalan menuju altar pernikahannya. Ia merasakan kesenyapan yang menyesakan saat matanya menangkap seutuhnya objek yang kini berjalan mendekati dirinya dan Kyuubi. Laki-laki yang membuat hatinya yang retak mulai runtuh kembali.

Kyuubi terkejut, tentu saja. Bukan hanya dirinya di sini yang berasa shock dan menahan napasnya saking tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Itachi yang benarnya ia mendengar kata 'tunggu' berkumandang sebelum tubuhnya berbalik dan menemukan laki-laki itu berjalan menghampirinya. Tuhan! Kyuubi memang menginginkan Itachi untuk datang dan membawanya pergi dari sini. Tapi bukan begini! Apa yang ada dalam pikirannya ini tidak mungkin akan dilakukan Uchiha satu itu kan? Kaaaaan?

Kyuubi tersentak saat tangan kanannya ditarik dengan kencang hingga tubuhnya yang tidak siap limbung seketika. Wajahnya merasakan serat halus dari jas hitam yang dipakai Itachi. Sekarang ia sedang menyumpah serapahi dirinya jika apa yang dipikirkannya ini benar kelanjutan dari tindakan Itachi selanjutnya.

Dagu Kyuubi seperti ditekan, dipaksa untuk mendongakan kepalanya. Menatap langsung wajah tampan dari orang yang tengah menahan pinggangnya kini. Ia meneguk ludahnya. Tidak mungkin kan –

Ruby miliknya terlihat bulat sempurna, ia terbelalak. Apa ini –apa yang menyentuh bibirnya ini! Itachi menciumnya? Di depan semua undangan yang hadir. Di depan Ayah dan Ibu mereka? Di depan Shizune ...lagi.

"Ngghh..."

Dan bukan sekedar ciuman kulit yang bertemu dengan kulit. Ciuman Itachi padanya terasa sangat dalam dan basah. Otak Kyuubi blank seketika. Ia tak dapat berpikir lagi selain mengalungkan kedua tangannya dileher pemuda itu. Ia –ia... SHIT! Kenapa ia jadi sangat ketagihan disaat yang tidak tepat seperti ini!

Itachi menjauhkan wajahnya dari Kyuubi dan menatap wajah yang dihiasi rona merah Kyuubi dengan senyum kecil yang –menurut Kyuubi seringai kemenangan- menambah pesona Sang Uchiha. Ibu jari Itachi menghapus untaian saliva yang meluber dibibir Kyuubi dan menuntun pemuda dalam pelukannya itu untuk berjalan mengikutinya.

Tunggu dulu. Ah, Itachi tak lupa dengan dimana mereka sekarang berada. Para penonton yang melihat adegan kurang pantas yang diperlihatnya nampak terdiam dengan berbagai ekspresi lucu –itu menurutnya. Ia juga tidak lupa dengan puluhan wartawan yang memang dimintanya pada seseorang untuk ikut hadir menyaksikan pertunjukan gratisnya. Itu sih rencananya.

Satu lagi. Ia juga tak lupa untuk memberikan tatapan teflonnya pada Sang calon Ayah mertuanya yang kini menatap dirinya yang membawa Kyuubi dengan tatapan murka siap mencincang tubuhnya. Ayolah, calon papa. Biarkan calan mantumu ini kabur dulu untuk membawa anakmu ya?

.

.

.

.

Uchiha Fugaku. Untuk pertama kalinya nama dan dirinya benar-benar muncul dalam cerita di bab ini sedang duduk dengan wibawa super duper tingginya pada sofa hitam dikediaman milikknya. Pemilik kekayaan Uchiha saat ini itu nampak begitu tenang, wajahnya tetap datar seperti halnya semua Uchiha. Matanya yang tak kalah datar menatap dua orang laki-laki yang ia anggap sudah dewasa dengan posisi duduk bersimpuh dihadapannya. Kepala dengan surai merah terlihat tertunduk, sedang kepala yang bersurai hitam terlihat tegak dan menatap dirinya tanpa berkedip.

"Mikoto, bawa Kyuubi ke kamar tamu. Aku butuh berbicara dengan anakmu saat ini,"

Uchiha Mikoto, istri sah selama kurang lebih dua puluh tujuh tahun hidupnya itu hanya mengangguk dalam diam mendengar perintah suaminya. Ia berjalan dari samping Fugaku mendekati Kyuubi yang nampak menundukan kepalanya lebih dalam saat mendengar suara datar suaminya. Bisa ia pahami sekenanya. Pemuda itu saat ini merasa takut, tapi rasanya bukan pada suaminya.

"Kyuubi-kun, ikut denganku ya?" Mikoto menyentuh pelan bahu kiri Kyuubi dan menarik pelan lengan pemuda itu. Tak ada jawaban atau tanggapan sekedar anggukan kepala dari pemuda itu. Tapi Kyuubi tetap mengikuti arahannya. Berjalan menuju salah satu pintu di lantai yang sama.

.

.

.

.

Tidak ada yang berubah dari keadaan ruang tamu itu setelah kepergian masing-masing pasangan dan 'calon pasangan' duo Uchiha yang saat ini masih setia berdiam-diaman. Tidak, sebelum suara berat mengusik keheningannya.

"Jadi, sejak kapan seorang Uchiha melarikan anak orang?" Fugaku tak sekalipun melunturkan wajah penuh ketegasannya. Ia menatap anak sulungnya yang bergeming indah dalam simpuan kedua kakinya.

"Sejak satu jam empat puluh tiga menit lalu," Ok, Itachi memang cari mati dengan menjawab guyon pertanyaan Sang ayah. Tapi ia tidak akan sekalipun gentar untuk menghadapi Ayahnya karena semua ini mengenai Kyuubi.

"Melarikan laki-laki yang hampir menjadi suami orang lain bukan sikap seorang laki-laki Itachi," jeda sejenak, "Aku tidak akan mempersalahkan siapa orang yang membuatmu berbuat nekad seperti ini. Tidak, meskipun itu adalah anak dari sahabat baikku,"

Alis Itachi mengerut, ia menatap Sang ayah dengan sebuah pertanyaan tanpa kata. "Temui dia. Aku tidak akan melarang atau pun memberi persetujuan dengan apa yang telah kau lakukan. Kau sudah dewasa untuk menentukan pilihan hidupmu," ucap Fugaku.

Itachi menatap lekat manik yang sama dengannya sebelum memberikan anggukan kecil, "Hn,"

Ia beranjak dari posisinya dan membungkuk sejenak pada Sang ayah. Kakinya melangkah melewati sofa yang diduduki Ayahnya. Tanpa diketahui ayahnya, Itachi menyeringai. Untuk yang satu ini ia sudah bisa menebak jika ayahnya akn menyerahkan semua keputusan pada dirinya. Tidak sulit untuk seorang Uchiha memahami Uchiha lainnya. Sekarang ini, ada beberapa penghalang lain yang harus ia lalui untuk benar-benar memiliki rubah tersayangnya.

.

.

.

.

.

Hanya butuh lima jam dari suatu peristiwa terjadi untuk dapat diketahui seluruh warga Konoha. Berita yang paling menghebohkan dihari ini. Online, televisi juga koran-koran yang salah jadwal cetak hanya untuk menampilkan foto dua orang laki-laki berpelukan di tengah pesta pernikahan. –Salah satunya artikel online yang saat ini tengah dibuka Naruto pada tab-nya. 'PUTRA SULUNG NAMIKAZE MELARIKAN DIRI BERSAMA PASANGAN HOMONYA!' atau 'HARI PERNIKAHAN, NAMIKAZE KYUUBI KABUR DENGAN PEWARIS KELUARGA UCHIHA' atau lagi 'ANAK DARI KEDUA PERUSAHAAN BESAR KONOHA TERNYATA SEORANG GAY!'

Naruto hanya bisa menghela napasnya kalut. Ini salahnya kah karena menuruti pesan yang –ternyata dari Itachi- dititipkan pada ibunya untuk membawa wartawan-wartawan itu? Lihat sekarang, ia memberikan dampak yang amat buruk. Terlebih pada kubu keluarganya.

Manik biru Naruto mencuri tatap kepada penyandang kepala keluarga Namikaze sekaligus ayahnya yang nampak tengah menahan amukannya dengan kepalan tangan pada bantalan sofa. Ia meringis dalam hati melihat betapa kerasnya wajah itu sekarang.

"Sayang, jangan terlalu dipikirkan. Media memang selalu membesar-besarkannya kan?" suara lembut seorang wanita menggelitik terlinganya. Tatapan Naruto beralih pada ibunya yang mencoba untuk menenangkan ayahnya.

"Keluargaku tidak akan pernah menerima percintaan sesama jenis!" nada itu sinis dan langsung menohok hati. Naruto terdiam dengan pandangan kembali menatap layar gadget-nya. 'Tidak akan pernah, huh?' Dunia memang tidak pernah adil. Saat ini Kyuubilah yang menjadi objek dari semua luapan kemarahan ayahnya. Tapi kenapa ia merasa jika dirinyalah yang tengah dicaci Sang ayah?

"Tenanglah, kita juga belum mendengarnya langsung dari Kyuubi kan? Bisa saja –"

"Bisa saja apa? Bisa saja yang kulihat itu hanya lelucon? Anak kurang ajar itu berciuman dengan laki-laki dihari pernikahannya, itu cuma lelucon? Hal menjijikan yang kulihat dengan mata kepalaku itu hanya bualan sinting anakmu!" murka Minato. Kushina terdiam setelah mendengar luapan emosi suaminya. Tentu saja ia mengerti. Dengan sekali lihatpun ia tahu jika Kyuubi dan Uchiha Itachi memiliki suatu hubungan. Ia sendiri bahkan berpikir jika hubungan itu sudah sangat jauh.

"Memangnya apa yang kurang aku ajarkan pada anak itu? Sopan santun? Etika? Norma? Suatu hal yang benar dan salah? Anak bodoh itu malah memilih menjadi kaum hina diantara gay-gay jalanan!"

Naruto tidak tahan lagi.

"Cukup Ayah! Memangnya kenapa jika Kyuubi mencintai laki-laki! Dia sudah dewasa ayah, dia bisa menentukan jalan hidupnya sendiri! Dia bisa memilih mana yang dia anggap benar untuk dirinya sendiri!" nada meninggi dari Naruto membuat kedua orang tuanya terkejut. Tidak pernah. Satu kalipun tidak pernah mereka mendengar kemarahan Naruto.

Untuk Minato, sentakan dari anak bungsunya sudah menyulut sumbu tipis dari ujung basah berminyak dalam hatinya.

-PLAK!

"Minato!" Kushina berteriak. Ia dengan cepat menghampiri anak bungsunya yang terpental duduk ke atas sofa setelah mendapatkan tamparan keras dari suaminya. "Apa yang kau lakukan pada anakmu!"

"Satu kali lagi kau menaikkan nada bicaramu padaku, anak muda. Kau tidak akan pernah meninggalkan rumah ini tanpa seizinku!"

Naruto tersenyum. Minato dengan sifat diktatornya kembali. Sudah berapa lama ia tidak mendengar perintah dengan nada macam itu? Empat tahun? Enam tahun setelah ia akhirnya menjadi anak penurut bagi Sang ayah?

"Naruto, minta maaf pada Ayahmu. Kaa-san mohon jangan perkeruh suasana saat ini," Kushina menyentuh lembut pipi merah Naruto dan memberikan tatapan memohonnya. Saat ini akan lebih baik jika mereka diam dan mendengarkan semua amukan Minato.

Naruto menangkup tangan Ibunya dan tersenyum, ia kembali menatap Sang ayah. "Maafkan aku. Maaf atas kelancanganku ayah," Minato hanya memberinya tatapan dingin.

"Pergilah ke kamarmu sayang," ucap Kushina, Ibu dua anak itu tersenyum saat melihat anaknya mengangguk dan beranjak dari sofa. Pandangan emeraldnya menatap kepergian anaknya sebelum kembali beralih pada suaminya.

"Seharusnya dari dulu memang kubuat mereka mematuhi setiap aturanku!" Minato membalikan tubuhnya dan berjalan meninggalkan ruangan, meninggalkan istrinya yang menatap kepergiannya dengan senyum kecut.

.

.

.

.

Kembali pada masa sekarang

Sai, Uchiha Sai. Anak kedua dari keturunan Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto itu menatap dalam diam sepasang pemuda yang tengah berselisih paham di depannya. Uchiha Itachi dan yang satu lagi. Ia sangat kenal betul siapa. Kakak dari Naruto-senpainya yang telah dideklarasikan oleh Itachi sebagai kekasihnya. Tadi, sesaat setelah ia pulang dari kesibukannya di luar rumah.

Ia bingung. Bukankah Itachi kekasih Naruto? Tapi kenapa sekarang kakaknya itu malah mengaku mempunyai hubungan dengan kakak Naruto. Sai tidak mengerti.

"Sai~, lihat kakak iparmu ini, dia maniskan kalau sedang marah? Coba saja kau lihat saat dia diranjang. Akan lebih manis,"

"Berhenti membual sialan! Kau pikir aku sedang bercanda!"

"Kau serius Kyuu, tapi aku juga serius. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang membuatmu seperti wanita PMS,"

"Keriput!"

Sreeg...

Sai memilih untuk undur diri sebelum kepalanya benar-benar pecah karena terlalu pusing melihat pertengkaran dua orang yang mendadak idiot itu. Kakinya berjalan meninggalkan ruang makan keluarga dan menaiki satu persatu anak tangga rumahnya. Pikirannya yang mumet ditambah satu lagi. Jika Itachi bukan kekasih Naruto, lalu siapa? Siapa Uchiha yang dimaksud Naruto?

Pintu di depannya ia buka dengan perlahan, menampakan kamarnya yang terang oleh dua lampu besar di atas dinding kamarnya. Ia berjalan menuju tempat tidurnya dan langsung merebahkan diri di sana. "Naruto ..." Ia membalikan tubuhnya hingga kedua onyxnya menatap warna putih langit-langit kamarnya.

Apa tidak cukup penantiannya selama ini terhadap senpai-nya itu? Bertahun-tahun ia memupuk perasaannya yang hancur saat penolakan dihari itu. Memupuk cintanya yang semakin dalam pada Naruto. Tapi, kenyataannya itu tetap tidak cukup untuk membuat Naruto mencintainya. Pemuda pirang itu mempunyai kekasih lagi saat ia sudah kembali. Sama seperti dulu saat Naruto dan ia masih duduk di bangku SMA. Pria itu juga tengah menjalin hubungan yang menjadi alasan Naruto menolaknya.

Mungkin memang ia tak pernah ditakdirkan untuk bersama dengan Naruto. Mungkin cintanya ini memang hanya cinta dengan satu tangan kosong yang tetap menunggu balasan kehangatan dari tangan lain tanpa pernah mendapatkannya. Dan beberapa hari yang lalu. Ia membentak Naruto, mengancam pemuda itu.

Sai meremat rambutnya dengan kasar. Apa yang sudah ia lakukan? Sekarang tidak mungkin lagi jika Naruto membalas perasaannya. Bahkan sudi bertemupun rasanya Dokter muda itu tidak akan mau. Kenapa ia harus mengalami cinta bodoh seperti ini? Membuat ia begitu menyedihkan bagi siapapun yang melihatnya. Menyedihkan untuk dirinya sendiri.

.

.

.

.

.

Mata seindah langit biru itu kini tengah beradu pandang dengan kegelapan malam. Langit hitam yang sedikit berubah cerah dengan adanya Sang rembulan. Mata itu menatap sayu, ia merindukan warna malam itu. Tidak. Lebih tepatnya ia rindu pada seseorang yang memiliki kegelapan malam yang sama dengan langit yang ia pandangi sekarang.

Bingkai jendela yang cukup besar menjadi penopang sebagian berat tubuhnya dikala ia duduk pada kusennya. Ia memejamkan matanya perlahan. Sudah berapa lama ini, satu Minggu? Ia rasa lebih, dirinya rindu. Sangat rindu pada pemilik surai raven yang sudah membuatnya jatuh hati.

"Sasuke ..."

"Begitu merindukanku sayang," Naruto tersentak kaget saat suara berat yang telah berhari-hari dirindukannya itu terdengar begitu jelas ditelinganya. Bahkan sepasang tangan yang kini melingkar dipinggangnya menambah keterkejutan Dokter muda itu. Ia menoleh, mendapati wajah tampan kekasihnya begitu dekat dengannya.

"Sasu!" Tangan Naruto dengan cepat mendekap leher Sasuke, menerjang pemuda itu dengan beban tubuhnya. Bibirnya mengukir senyum saat ia merasakan hangat tubuh kekasihnya.

"Hn? Tadaima, Dear," Sasuke mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir mungil kemerahan yang sangat amat ia rindukan. Bibir merah yang sejak seminggu lalu hanya bisa ia lihat dibalik layar gadget-nya. "Aku sangat merindukanmu..."

"Nggh..." Mata Naruto terpejam, bibirnya membuka perlahan. Melumat bibir Sasuke yang baru saja menjauh darinya. "Mmh... 'Suke..." Naruto menggesekan tubuhnya pada tubuh Sasuke. Rindu. Ia sangat merindukan bibir ini, tubuh yang mendekapnya ini, kehangatannya.

Libido Sasuke naik seketika. Desahan seduktif Naruto benar-benar membuatnya tak bisa bertahan lebih lama untuk tidak menyentuhnya. Suara erangan dan sikap agresif Naruto malah semakin menambah kesempitan celana jeans selutut yang kini dipakainya. "Kau tidak tahu betapa aku merindukan tubuhmu,"

Sasuke menggigit gemas pipi tembam Naruto, "Bagaimana rasanya menciummu," ia berucap seraya menyapu permukaan wajah Naruto dengan bibirnya, "Rasa kulitmu,"

"A –angghh..." Naruto mengerang saat kulit lehernya merasakan sensasi basah yang langsung mengirimkan rasa dingin dari hembusan AC kamarnya. Jari-jari tangannya meremas rambut belakang Sasuke dengan kencang, menekan kepalanya agar kekasihnya itu dapat mengeksplore leher jenjangnya.

Sejenak Sasuke menghentikan aktivitasnya dan menatap biru laut yang memandangnya sayu, "Cantik. Naruto,"

Wajah Naruto merona mendengar ucapan Sasuke padanya. Bila dalam keadaan biasa, mungkin ia tidak akan mau dibilang cantik. Tapi disaat seperti ini, Sasuke yang tengah mengagumi dirinya. Biarkan saja ia memeleh dalam dekapan Sang terkasih.

Naruto merasakan tubuhnya terangkat dengan lingkaran tangan pada pinggangnya yang menguat. Tubuhnya serasa lebih tinggi dari Sasuke saat pemuda itu menggendong tubuhnya tanpa sekalipun memutuskan pandangan mereka. Naruto tersenyum tipis, ia menggunakan tangannya untuk mengelus sisian wajah Sasuke dengan lembut.

"Aku juga, Sasuke. Aku merindukanmu. Merindukan semua yang ada pada dirimu,"

Sebelah tangan Sasuke bergerak ke atas, menyusuri punggung berbalut kaus putih yang dipakai Naruto. Membebankan berat dari tubuh yang diangkatnya pada satu tangannya yang lain. Ia menaikan satu kakinya pada tempat tidur dan menundukan tubuhnya, meletakan tubuh Naruto dengan perlahan di atas tempat tidur.

"Aku hanya meninggalkanmu selama sepekan dan kau semakin berat saja," Naruto tertawa pelan mendengar gerutuan tak serius Sasuke. Ia mengeratkan lengannya pada leher Sasuke dan mengangkat sedikit kepalanya. Bibirnya mengecup singkat pipi Sasuke, "Apa harus membahas berat badanku disaat seperti ini 'Suke?" Naruto memiringkan kepalanya.

Sasuke melepas satu tangan Naruto yang melingkar dilehernya dan mengecup telapak tangannya, "Hn. Kurasa tidak,"

"Mmh..." Mata Naruto menyipit saat telunjuk dan jari tengahnya dilahap bibir Sasuke. Lidah yang meliuk dan membasahi jarinya membuat Naruto menggigit bibir bawahnya sendiri. Sedangkan Sasuke semakin menghisap dan menggoda jari Naruto yang ada dalam mulutnya.

"Sudah tidak tahan?" Getaran dari suara Sasuke yang menyentuh jari Naruto menambah gejolak panas dalam tubuh pemilik surai pirang itu. Ia mengangguk lemah dan menatap Sasuke dengan pandangan sayu.

Sasuke mengeluarkan jari Naruto dari mulutnya dan menegakan tubuhnya. Tangannya melepas T-shirt hitam yang dikenakannya dan membuangnya ke lantai begitu saja. Mata hitamnya melirik Naruto yang nampak memperhatikan lekuk tubuhnya. Kulitnya yang terus terbakar sinar matahari di pantai dan paksaan untuk tidak mengenakan pakaian atasan selama seminggu ini membuat kulitnya yang putih sedikit kecoklatan. Ia menyeringai melihat wajah Naruto yang dipenuhi hasrat saat melihat tubuhnya.

"Ingin menyentuhnya?" tanya Sasuke. Mata Naruto beralih menatap wajah dengan seringaian Sasuke. Kekasihnya ini benar-benar mempesona, bahkan saat menunjukan seringai penuh godaan itu.

Jemari basah Naruto terangkat dan menyentuh otot setengah terbentuk Sasuke. Merasakan bantalan otot yang mengeras di bawah kulit halusnya lalu menyapu kulit itu hingga dadanya. Ia mengelusnya begitu pelan dengan mata yang sesekali melirik wajah Sasuke. Bibirnya melengkungkan senyum saat melihat mata yang terpejam dan mendengar erangan dari kekasihnya itu.

Dengan jahil ia menyentuh dua titik didada Sasuke dengan melebarkan telapak tangannya. Dan telinganya mendengar erangan yang semakin keras. Namun sebuah tangan yang menangkup tangannya membuat ia kembali menatap wajah kekasihnya.

"Senang dengan permainanmu, hmm?" Sasuke membawa tangan Naruto mendekati wajahnya dan mengecupnya. Naruto hanya memberinya gigitan kecil dibibir bawahnya dengan tatapan nakal.

Sasuke menyeringai, ia kembali melahap jari Naruto ke dalam mulutnya. Melumuri jemari –seluruh permukaan tangan Naruto dengan liurnya. "Mmmh... Sasuh –mmh..." Naruto menatap kegiatan Sasuke dengan antusias penuh. Jemarinya terus saja dikulum Sasuke meski tangan pemuda itu tak lagi menahannya. Malah, saat ini Naruto yang menggerakan jemarinya sendiri untuk bermain dalam mulut kekasihnya. Ia dengan lembut mengapit lidah Sasuke dengan dua jarinya, sementara jarinya yang lain menyentuh langit-langit dalam mulut Sasuke.

"Ngh.. –Na –ruto..." Sasuke yang tengah sibuk untuk mengenyahkan celana Naruto menghentikan aktivitasnya sejenak dan mengeluarkan jemari Naruto dari mulutnya. "Cukup," ucapnya menatap sapphire kekasihnya.

"Jarimu sudah cukup basah untuk masuk," Naruto mengerjap, jarinya cukup basah? Untuk apa tadi?

Sasuke menunduk dan mengecup singkat bibir Naruto, "Ingin tahu rasanya dalam tubuhmu sendiri?" tanya Sasuke. Senyumnya merekah saat iris sapphire Naruto terlihat bulat sempurna. Kekasihnya itu menatapnya dengan pandangan terkejut tapi Sasuke hanya memberinya senyum dan menuntun jemari tangan Naruto untuk mendekati area selangkangannya sendiri.

"Tapi aku tidak pernah..." Naruto menggigit bibir bawahnya, matanya terus mengarah pada jemarinya yang kini sudah berada ditempat yang –lebih banyak Sasuke yang menyentuhnya.

"Kau siap?" tanya Sasuke. Naruto menggerakan jemarinya untuk menyentuh permukaan rektumnya.

Otot-otot mengkerut di sana langsung menyambut sentuhannya itu. Baiklah, memang bukan pertama kalinya ia menyentuh dan memasukan jarinya sendiri ke dalam 'itu'. Ia juga sering melakukannya disaat membersihkan sisa-sisa sperma Sasuke sehabis mereka bercinta. Tapi ini baru pertama kalinya ia akan memasuki lubangnya sendiri disaat mereka melakukan seks. Mempersiapkan dirinya sendiri. Wajah Naruto langsung memerah karena pikirannya sendiri.

"Afraid?" Sasuke bertanya di samping telinga Naruto dan mengecup pipinya. Ia tersenyum saat Naruto menggelengkan kepalanya.

Jari tengah Naruto menjadi yang pertama mencoba untuk masuk. Ujung jarinya menekan lubang miliknya. Perlahan kulit berkerut itu merenggang dan mengizinkan jari tengahnya masuk. Panas. Suhu di dalam lubangnya terasa sangat panas untuk jarinya. Ia menatap Sasuke dengan pandangan tidak yakin. "Ini terasa aneh, Sasuke," ucapnya.

Sasuke menatap balik kekasihnya itu. Tangannya yang tadi menuntun Naruto meraba jari tengah Naruto yang sudah masuk setengah. Ia mendorong jari itu lebih dalam, Naruto mendesah lemah. "Sasuke..."

"Katakan apa yang kau rasakan, Naruto?" Naruto bingung menjawab yang seperti apa, "Panas... mmh ... –dan basah..." ucapnya tidak yakin.

Sasuke mengecup bibir Naruto dan menjauhkan wajahnya untuk menatap manik biru yang sedikit lebih gelap karena nafsu, "Sekarang kau tahu apa yang kurasakan saat aku di dalam dirimu," ucap Sasuke.

Wajah Naruto memerah sepenuhnya.

"Lanjutkan," perintah Sasuke. Ia menegakan tubuhnya dan duduk dihadapan Naruto yang berbaring terlentang dengan kaki yang ditekut melintangi kakinya. Posisi yang dapat melihat Naruto secara keseluruhan.

Jari tengah Naruto keluar dengan perlahan, dinding otot lubangnya memberi refleks dengan meremas jarinya. Ia mendesah,setengahnya malu karena Sasuke terus saja menatapnya. Sekalipun tak berkedip saat jarinya ia dorong kembali untuk masuk.

Keluar lalu masuk lagi. Rektumnya sudah terasa longgar untuk satu jarinya. Tapi Naruto tahu jika satu tidak akan membuat rektumnya bisa merenggang lebih lebar untuk menerima Sasuke nantinya. Karena itu ia menambahkan jari telunjuknya untuk masuk. Menemani jari tengahnya yang terus ia gerak-gerakan di dalam lubangnya. Mencari kenikmatannya sendiri.

"Mmmh... Sasu –ke... Ahh..."

'Shit!' Sasuke mengumpat dalam hati karena pandangannya kini benar-benar hanya tertuju pada Naruto, juga jadi kekasihnya yang terus keluar masuk itu. Terlalu seduktif. Terlalu erotis. Ia meneguk ludah dengan maksa.

'Sabar Sasuke, tenangkan dirimu,' batinnya berusaha sedikit lebih keras untuk menahan hasratnya. Jarang-jarang Uchiha seperti dirinya harus bersabar begini kan? Lagi pula semuanya akan indah pada waktunya. –Ok! Cukup. Ia sudah terlalu keluar dari karakternya dengan kalimat tadi.

Lebih baik ia kembali fokus pada Naruto-nya saat ini. Uuh... lihat itu bagaimana jarinya masuk, pelan, pelan, terlahap sampai ujungnya. Iya, begitu. Lalu lihat saat jari ketiga ikut berpartisipasi. Lihat saat jari itu bersedakan diantara dua jarinya.

"Aahh... bantu aku Sasuke..." suara sexy penuh desahan itu membuat Sasuke menatap wajah Naruto, intens. Dan rasanya kesabarannya yang super tipis itu sudah terbakar habis oleh wajah erotis yang dilihatnya saat ini.

"Baiklah," Sasuke menindih tubuh di bawahnya dan mencium bibir Naruto. Tangannya bergerak untuk mencabut jari tiga jari yang masih tertanam direktum Naruto. Menggantinya dengan jari-jari miliknya.

"Aah! S... –suke!"

"Kali ini aku akan pelan-pelan," ucap pemuda onyx itu.

Naruto hanya melenguh dengan wajah merona merah. Sesuatu yang jarang bahkan tidak biasa jika Sasuke memperlakukannya dengan lebih lembut seperti sekarang. Bukannya ia tidak suka perlakuan Sasuke yang sebelum ini, ia suka tentu saja. Bagaimana pun Sasuke itu kekasihnya. Tapi sikapnya yang ini terlihat lebih dewasa.

Jari itu keluar dan masuk, lalu bergerak zig-zag dan seperti gunting. Lebih mudah karena sudah licin oleh saliva Sasuke pada jari Naruto. Gerakannya memang tidak terburu-buru, jari itu seolah memberikan pijatan lembut dalam lubang Naruto. Merenggangkannya perlahan-lahan.

Naruto mengerang tak sabaran, "Pleassehh –masukan –kumohon Sasu –nnh!" desahnya. Pinggulnya ikut bergerak-gerak mengikuti gerakan jari Sasuke.

Sasuke menjilat bibirnya yang terasa amat kering. Ia menarik jari-jarinya keluar dari lubang Naruto dan membawanya untuk membuka kancing dan resleting celananya. Tangannya menekan turun celana jeans selutut itu hingga ke bawah pahanya. Menarik turun celana dalamnya juga, hingga kejantanannya yang sudah menggemuk teracung menantang. Beberapa kali dengan sengaja ia gesekan kepaha dalam Naruto dan disambut dengan erangan oleh kekasihnya itu.

"Sasu~" nada manja Naruto terdengar begitu merdu bagi Sasuke sekarang ini. Ia mengecup bibir Naruto, mengusapnya dengan lembut menggunakan lidahnya sebelum melesak masuk. "Emmhh –Aah..."

Saat perhatian Naruto teralih sepenuhnya pada cumbuan yang mereka lakukan. Sasuke mulai memposisikan kejantanannya di depan lubang Naruto. Ujung kejantanannya mengetuk-ngetuk lingkaran otot berkedut itu beberapa kali sebelum mendorongnya masuk. Naruto melenguh saat itu juga. Namun Sasuke tetap menciumi bibir Naruto seraya terus mendorong kejantanannya masuk. Perlahan-lahan hingga benda panjang dan berurat itu masuk sepenuhnya.

Sasuke terdiam untuk beberapa saat, ia membiarkan bibir Naruto yang telah ia lepaskan meraup oksegen sebanyak yang kekasihnya itu mau. Bibirnya melengkungkan senyum melihat betapa menggairahkannya Naruto saat ini –walaupun dimatanya Naruto tetap menggairahkan meski bukan dalam keadaan 'panas' seperti ini.

"Sudah tenang?"

Naruto menatap pemuda di atasnya dengan lembut. Ia tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya pada leher pemuda itu. "Ya. Kau boleh bergerak Sasuke,"

Kalimat berisi persetujuan itu sudah terdengar dan tak perlu ditahan lagi bagi Sasuke untuk memundurkan pinggulnya, membuat gerakan seperti mencabut kejantanannya dari lubang sempit Naruto. Ia berdesih, bergerak pelan seperti ini membuatnya lebih merasakan pijatan demi pijatan di lubang kekasihnya. –Well, baginya itu menakjubkan karena selama ini, sejauh ingatannya ini ia tak pernah sepelan ini dalam bercinta dengan Naruto.

"Nnhh –hh –Sasu –ke..."

"Apa, Sayang?" Sasuke mengelus surai pirang Naruto, menyematkan jemarinya untuk menyisir surai halus yang terasa sedikit lepek ditangannya. Naruto hanya melenguh untuk menjawabnya, terlalu terlena dengan gerakan Sasuke di bawah sana. Tempo keluar masuk yang lebih cepat namun kali ini dengan sedikit rasa sakit dan lebih banyak nikmat yang dirasakannya.

"Ahh –ahh.. fasterplease..." Naruto menarik pemuda Uchiha itu lebih dekat padanya dan mencium bibirnya. Sedikit memberi gigitan pada bibir bawah kekasihnya itu.

Sasuke melepaskan kecupan Naruto dan berbisik tepat ditelinga kanan kekasihnya itu, "As your wish. My Dear," ucapnya seraya melumat cuping telinga Naruto.

"Aah! –Anggh –Sukehh –mmahh..." Naruto mendesah lebih keras saat prostatnya ditubruk ujung kejantanan Sasuke. Membuatnya berkali-kali terlonjak ditengah perpaduan tubuh mereka. Bibirnya yang mengalunkan desahan berkali-kali mengecupi bahu Sasuke, seakan memberitahu kekasihnya itu jika ia menyukai perbuatan kekasihnya itu.

Mata Naruto terpejam dengan erat, ujung matanya terlihat mengalirkan air yang tak ada hentinya keluar. Tidak. Air matanya bukan keluar karena rasa sakit, tapi air mata itu keluar karena tak kuasa membendung rasa nikmat yang dirasakan tubuhnya saat ini.

"Touch yours. Dear," Sasuke kembali berbisik. Napasnya yang terengah memberikan sensasi lain pada kulit Naruto.

Tangan kanan Naruto turun dari leher Sasuke, beralih untuk menyentuh kejantanannya yang sudah sangat tegang dengan lelehan precum yang menetesi batangnya. jemarinya menggenggam batang kejantanannya dan mulai menaik turunkan tangannya. Ia mendesah lebih keras saat gerakannya selaras dengan sodokan Sasuke pada lubangnya. Kedua kakinya yang mengangkang lebar ia kaitkan pada pinggang kekasihnya itu.

"S –sukehh –I wanna –mmh –cumminggh!" ucap Naruto, tangannya bergerak lebih cepat untuk mengocok kejantannya yang sudah berdenyut tak sabaran. Ingin sekali menyemburkan aliran dari cairan yang sudah berdesih dalam batang penisnya.

"Aku –juga. Naruto..."

Gerakan mereka semakin cepat, berusa mencapai klimaks dengan buncahan nafsu yang melebihi ekstasi dunia. Ingin merasakan surga dari dunia mereka berdua.

Satu hentakan menubruk prostat dan Naruto penis Naruto menyemburkan spermanya hingga mengotori daerah perutnya dan Sasuke.

Uchiha muda di atas tubuhnya menggeram merasakan himpitan yang mengelilingi batang kejantanannya. Sodokannya menjadi semakin sulit namun tetap pada kecepatannya. Hingga saat ia merasakan aliran spermanya memasuki batang kejantanannya, ia mendorong jauh dalam tubuh Naruo. Menghentakan tubuh kekasihnya itu dengan semburan hangat yang memenuhi rongga dalam lubang Naruto.

Napas Sasuke terengah dengan geraman kecil disaat semburan terakhir yang bisa ia berikan pada Naruto. Maniknya menatap wajah lelah dan berpeluh kekasihnya itu dengan lembut dan mencium kilas bibir terbuka Naruto sebelum mencabut kejantanannya dari liang anus kekasihnya.

"Lebih dari satu Minggu, dan setiap malam tubuhku mengingat semua sentuhanmu. Dobe," Sasuke merebahkan dirinya di samping Naruto. Tangannya mengusap helaian basah rambut pirang kekasihnya itu ke belakang dan mengelus sisian wajah berkulit tan itu.

Naruto menoleh ke sampingnya dan tersenyum seraya mengecup tangan Sasuke, "Begitu juga denganku Sasuke," ucapnya seraya menggeser tubuhnya untuk mendekat pada Sasuke. Hawa panas masih sangat dirasakannya dari tubuh maskulin itu saat kulitnya bersentuhan langsung dengan tubuh Sasuke.

.

.

.

.

Tubuh kedua laki-laki yang belum mengenakan sehelai benangpun di atas tempat tidur nampak tak membuat keduanya beranjak dan memakai sesuatu untuk menutupi lingkupan auratnya. Keduanya, seorang dokter muda dan aktor terkenal itu sangat terlihat nyaman dengan posisi mereka sekarang dan tak ingin beranjak untuk alasan apapun. Apalagi alasan sepele tentang tubuh mereka yang masih polos.

Itu tidak perlu, karena mereka telah melihat tubuh masing-masing. Tidak perlu lagi malu-malu kucing saat semuanya sudah terbuka dihadapan kekasihnya. Seluruh lekuknya dari seluk beluk yang bahkan Si pemiliknya tidak pernah menyadari.

"Naruto," panggilan hangat itu datang dari laki-laki yang menjadi sandaran tubuh laki-laki lainnya. Tangannya melingkar penuh posesif pada perut laki-laki itu.

"Hmm? Apa Sasuke?" tanggap yang bersandar. Wajahnya terlihat mengukir senyum kecil merasakan tengkuknya dibubuhi kecupan sayang kekasihnya.

"Itachi dan Kyuubi," Naruto menolehkan kepalanya ke belakang, menatap wajah Sasuke yang mendadak menjadi serius. "Kau berpikir, -Ck! –ia berdecak- Kau baik-baik saja, kan?" tanya Sasuke.

Naruto merasakan sisi kanan wajahnya menghangat saat telapak tangan Sasuke menangkupnya. Penuh kasih sayang. Seakan menyalurkan rasa khawatir dalam pandangannya itu dengan apa yang dilakukannya. Naruto membalasnya dengan senyuman, "Ya. Aku baik, Sasuke. Tapi kurasa Itachi-nii dan Kyuubi –tidak," ada sedikit keraguan dimata sapphire Naruto saat mengucapkannya.

"Itachi-nii?" ulang Sasuke. Alis hitamnya berkerut, "Sejak kapan kau memanggil Si kurang waras itu dengan –nii?" tanya Sasuke. Tentu, Naruto tertawa geli mendengar sebutan 'kurang waras' Sasuke pada kakaknya sendiri. Dokter pirang itu bahkan sampai membenamkan wajahnya didada Sasuke untuk menyembunyikan wajah tertawanya.

"Tidak sopan tahu, menyebut kakakmu sendiri begitu 'Suke," ujarnya. Ia menatap wajah Sasuke dan mencubit gemas hidung mancung Sasuke. Sedang yang dicubit hanya bisa mengerang tak suka.

"Ck! Hentikan. Sudah kubilang jangan perlakukan aku seperti bottom!" Naruto memutar bola matanya –duh... 'Sasuke childish mode on,' batin Dokter muda itu. Heran, kemana perginya sosok dominan dalam pergulatan mereka beberapa saat lalu.

"Hmm~ yang jadi seme~" ucap Naruto setengah malas. Ia kembali memutar tubuhnya dan menyamankan punggungnya pada dada Sasuke. "Tapi, bukankah seharusnya pekerjaanmu belum selesai saat ini? Empat hari lagi –jika aku tidak salah ingat, kau seharusnya baru pulang kan?"

"Hn," Sasuke menjawab singkat.

"Hn, yang bagaimana? Oh please, Sasu! Pertanyaanku bukan retorik yang hanya kau jawab dengan 'hn' yang artinya 'iya' dan 'hn' yang artinya 'tidak'-mu, atau memang tidak perlu kau jawab,"

"Ouch –sakit, Dobe! Jangan mencubit pahaku begitu!" Sasuke mengaduh dengan nada kesal. Ia membalas Naruto dengan balik mencubit pinggang kekasihnya namun langsung menyesali perbuatannya karena ternyata Naruto malah menampar paha kirinya. Sakit. Sampai pahanya itu terdapat cap tangan lima jari merah yang aduhai meronanya.

"Jadi?" tagih Naruto atas pertanyaannya.

"Managerku mengabari tentang Itachi dan kelakuannya. Jadi, menurutnya lebih baik jika aku pulang dan meninggalkan pekerjaanku –yang sebenarnya sudah selesai- untuk kembali kemari. Panas di sini lebih baik dari merambatkan api di tempat yang penuh dedaunan kering," jelas Si Uchiha bungsu. Tumben-tumbennya memakai kiasan.

"Kamu khawatir juga pada kakakmu," tanggap Naruto.

"Jangan samakan khawatir dengan apa yang kulakukan, Dobe. Kau tidak tahu betapa mengerikannya manager-ku kalau karierku tiba-tiba anjlok karena ini,"

Naruto berdecak kagum, "Uchiha Sasuke-sama merasa takut pada seseorang? –Oh! Aku harus berkenalan dengan siapapun itu manager-mu." –yang langsung mendapatkan pemandangan wajah merengut Sasuke.

"Tidak lucu,"

"Aku memang tidak sedang melucu. Aku serius, Sasuke. Nanti kenalkan padaku, Ok?" pinta Naruto.

"..."

"Sasuke?" panggil Naruto saat tak mendapatkan tanggapan dari kekasihnya.

"... mengenalkan –mu?" Naruto nampak makin heran dengan nada pelan yang disuarakan Sasuke. Ia berbalik dan menatap kekasihnya yang sekarang seperti tengah memikirkan sesuatu.

"Apa aku salah bicara?" Naruto tampak ragu dengan pertanyaan spontannya. Keheranannya bertambah karena Sasuke malah mengusap wajahnya dan mendongak ke atas. Menutupi wajahnya dengan sebelah tangan.

"Aku aktor. Jangan lupakan itu," ucap Sasuke. Sikapnya tiba-tiba saja berubah dengan suara yang melemas penuh keraguan.

Dan –

Naruto merasakan sesuatu ingin mendobrak keluar dari belahan bibirnya yang terbungkam rapat setelah mendengar kalimat kecil Sasuke. Dadanya terasa sakit untuk sesaat. Sejenak tadi, ia melupakan sesuatu yang penting dengan sikap egoisnya.

'Tidak bisa. Benar kan?' batinnya tidak nyaman.

.

.

.

To Be Continue~

A/N : Gimana? Aneh? makin ancur? Anu-anunya nggak kerasa? Hard kah? Itu udah Soft kah? Kalo belum soft, err.. aku bener-bener gatau soft lemon itu kaya apa T^T~

Kurang? Nambah? Minta lagi? –Aku lambaikan bendera putih aja deh, nggak kuat =3= #hajared

Nggak usah banyak bacot dan aku lagi nggak mood bales review #minta digorok –maaf ya minna-san, para readers sekalian~ lophe yuu~ :*

err.. dan lagi, kayaknya aku bakal ganti PenName nih.. pengen ganti~ tapi enaknya yang kaya apa ya *mikir keras*

.

.

.

Review?