A/N : Ok. maaf apdetnya lama banget!
ThanX to :
hanazawa kay, Yuzuru Nao, Nona Shion Dari Negri Iblis, suki da shaany, RisaSano, minae cute, Mii. Soshiru, iche. cassiopeiajaejoong, margritFlow, rylietha. kashiva, Juniel Is A Vampire Hybrid, Yamaguchi Akane, MermutCS, Yuura Shiraku, Guest, akara katsuki, Aki-Ame Kyuuran, Arevi. are. vikink, NaruMi, khei-chan, zaladevita, Jasmine DaisynoYuki, bertanya, altadinata
.
Lets Enjoy!
Sasuke : 17 tahun
Naruto : 24 tahun
Itachi : 25 tahun
Kyuubi : 25 tahun
Neji : 17 tahun
Gaara : 19 tahun
Deidara : 24 tahun
Sasori : 25 tahun
Sakura : 17 tahun
Shukaku : 19 tahun
Shizune : 22 tahun
Minato/Fugaku : Terserah reader mau umurnya berapa ^^
Kushina/Mikoto : Ini juga terserah readers ^^a
Kabuto : 28 tahun
Sai : 23 tahun
.
Naruto memandangi seluruh penjuru apartemennya. Melihatnya dengan biru menyendu layaknya air beriak akan tumpah dipelupuk matanya. Ini yang terakhir, ia sudah membersihkan semuanya, membereskannya serapi mungkin, ini sudah cukup. Cukup untuknya agar bisa meninggalkan tempat yang sudah dihuninya selama tiga tahun ini dengan perasaan 'tenang'.
Genggaman tangannya pada gagang koper hitam di sebelah kiri tubuhnya mengerat. Dadanya terasa sangat sesak saat ini, ia harus meninggalkannya. Semuanya, karena tidak mungkin lagi untuknya berada di sini. Dan yang paling membuatnya merasakan berat untuk melangkahkan kakinya keluar adalah, kenyataan jika ia tidak akan bertemu dengan Sasuke lagi.
Bibirnya digigit dengan keras. Menghalau hatinya yang menginginkan untuk tetap berada di sini. Tidak boleh, sekalipun ia tidak boleh egois. Apa lagi mengingat sesuatu yang saat ini tengah mendiami perutnya.
Tangan Naruto mengelus perut berlapis kaus katun biru lautnya. Kepalanya menunduk dengan sebuah senyuman kecil pengganti isakan tangis yang tak bisa ia keluarkan. Tegarlah, ia masih laki-laki meskipun saat ini ia tengah mengandung.
"Maaf, Sasuke," satu isakan lolos setelah suara lirih itu keluar dari belahan bibirnya. Koper di sampingnya ditarik, mengikuti langkah kakinya meninggalkan apartemen mewahnya. Ia menanamkan baik-baik dalam pikirannya untuk jangan berbalik, dan terus melangkah.
'Aku benar-benar minta maaf,'
Disclaimer : Masashi Kishimoto sama
Genre : Romance(?), Drama(?)
Rate : M artinya Mature buat dewasa
Pairing : SasuNaru, ItaKyuu
Slight : Non
Warning : Yaoi, Sho-Ai, BL, MalexMale, M-Preg, aneh, gaje, Typo dan kawan-kawan sebangsanya.
Semua karakter dari tokoh yang ada di sini suka-suka author mau dibikin sesableng apa! XP
!DON'T LIKE DON'T READ!
But,
You can try to read and don't flame me! ^^
Sequel My Lovely Doctor
Uzumaki Kagari/Nick Say FuckerShit For Kagari present
My Lovely Actor
Kuharap yang baca fic ini di atas 18 tahun
.
*########*###########*##############*###############*##############*######*
o.O. Kagari Hate The Real World.O.o
.
Pagi itu Sasuke hanya bisa terdiam dengan satu alis terangkat di depan pintu rumahnya saat ia akan bersiap untuk pergi ke sekolah. Matanya yang sehitam jelaga menatap lurus gerangan orang yang saat ini berdiri di hadapannya. Menatap cengiran dan lambaian tangan bodoh dari orang bodoh yang sebenarnya tidak bodoh juga, hanya –ok, lupakan.
Ia hanya bingung saja saat ini melihat laki-laki penyandang status kekasihnya ada di depan pintu rumah besarnya. "Kalau mau melamarku, tunggu sampai aku lulus kuliah dan mendapatkan gelar S1," ujarnya saat Naruto masih saja bercengir ria di depannya.
Wajah Naruto seketika merengut, kedutan kecil dikeningnya menandakan kesal tingkat satu pada moodnya saat ini.
"Kau terlalu mengada-ada untuk yang satu itu, Teme," senyum Naruto berkedut.
"Oh, kalau bukan untuk melamarku. Jadi kau ingin langsung menikah dan hidup bahagia bersamaku di rumah ini –" Sasuke melirik koper besar berwarna merah ditangan kanan Naruto, " –dengan segala kesiapanmu itu,"
Urat kesal muncul lagi, "Pagi-pagi tapi sudah menyebalkan ya?" Naruto mendorong dada Sasuke dengan jarinya untuk menyingkirkan pemuda itu dari hadapannya, "Aku ke sini untuk mengantar barang-barang Kyuubi," jelas Naruto, " –dan jangan macam-macam!" manik Naruto menatap tajam dua tangan yang bersiap untuk merengkuh pinggangnya.
Sasuke berdecih dan menarik kembali tangannya. Ia berbalik, "Hn, ikut aku," ucapnya malas. Sudah bagus ia bertemu Naruto pagi-pagi begini, tapi kenapa yang bersangkutan bukannya bermanis padanya tapi malah mencari rubah galak tukang ribut yang sedang numpang di rumahnya. Please, Uchiha Sasuke juga butuh perhatian.
Lupakan rengekan tidak penting Si Uchiha bungsu barusan.
"Anggh –Itachi tung –Angh~"
Langkah Sasuke terhenti, begitu juga dengan Naruto saat telinga mereka mendengar suara nista yang demi Kami-sama membuat wajah keduanya merona. Sasuke berdehem dan melirik Naruto yang masih diam dengan wajah merah. Lihat itu matanya yang mengerjap lucu juga, benar-benar membuatnya harus menahan diri untuk tidak langsung menciumnya saat ini.
Terkutuklah Itachidiotaktahumalumesumbodohkurangwaras yang saat ini pasti tengah melakukan 'this and that' dengan Si rubah sampai menghasilkan suara-suara itu. Sasuke berdecak dan menggedor pintu Itachi dengan keras. Memberitahu jika ada orang dibalik pintu tertutup dan terkunci kamar Kakaknya.
Telinganya bisa mendengar suara 'grasak-grusuk' dan debuman tidak jelas dari dalam sebelum pintu di depannya terbuka perlahan. Oh ya, lihat wajah penuh peluh dan bercak merah dileher orang yang membukakan pintu untuknya. Jelaskan jika pikiran kotornya barusan benar. Ia kan Uchiha, jadi ia tahu seperti apa nistanya hal yang mereka lakukan. Sasuke termenung sesaat dengan pikirannya barusan. Artinya, ia juga sedang menyindir diri sendiri kan? –lupakan lagi.
"Apa maumu?"
Sasuke menatap jengah pada pemilik iris ruby di depannya, jarinya terangkat dan menunjuk orang di belakangnya melewati bahu kiri, "Ada dermawan yang membawakanmu sumbangan," jawab Sasuke ngaco. Uchiha bungsu itu mengaduh saat kepalanya dipukul dari belakang. Ia menatap tajam Naruto yang tersenyum-senyum manis dan melangkah ke sampingnya.
"Hai, Kyuu-nii," sapa Naruto.
Kyuubi gelagapan membenarkan kerah kemeja hitam kebesarannya sebisa mungkin untuk menutupi leher. Ia berdehem dan menatap tajam adik kandungnya itu, "Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah seharusnya kau kerja?" tanya Kyuubi.
Naruto masih tersenyum dengan tangan yang mendorong koper merah ditangannya pada Kyuubi, "Oh –kau masih mengingatkanku tentang pekerjaan padahal sudah berhari-hari kau mangkir dari tugas," ujarnya sarkas.
Biru sapphire-nya memicing tajam, "Kau boleh punya urusan pribadi yang runyam, tapi seharusnya tidak melalaikan tugasmu!"
Ruby bergulir malas, tangannya mengambil koper yang didorong Naruto dan memasukannya ke dalam kamar. Ia membuka pintu lebih lebar sebagai persilahkan masuk pada dua orang di luar pintu dengan ia yang berjalan menyeret koper ke dekat lemari. Memilih untuk memasukan barang-barangnya ke dalam lemari itu. Dan oh, keluarkan beberapa pakaian Itachi agar bisa muat.
Naruto masuk dengan mengucap permisi sementara Sasuke berjalan dengan –terlihat antusias- ke dalam kamar bernuansa hitam putih itu. Dalam hati ia merasa beruntung karena seumur-umur baru kali ini ia menginjakan kakinya di kamar Itachi. Mungkin nanti ia bisa tahu sedikit apa-apanya Itachi untuk sekedar menjadi ancaman kalau-kalau Itachi memaksanya melakukan hal-hal aneh. Itu ide bagus sekali.
Tapi, Sasuke hanya bisa memasang wajah jijik saat mata sucinya menangkap hal paling nista yang pernah ia lihat seumur hidupnya. Di sana, tepat di bawah tempat tidur, dengan satu kaki yang berada di atas ranjang empuk, sementara sebelahnya lagi dan tubuh atas ada di lantai. Telanjang, dengan guling yang dipeluk erat, menghadapkan tubuh polos bagian belakangnya tepat pada penglihatan Sang Uchiha muda.
Uchiha Itachi tidur dengan posisi nistanya.
The fuck.
Sasuke langsung membalikan tubuh Naruto kearah berlawanan dari Itachi dengan satu decakan kesal. Jangan sampai Naruto melihat kenistaan Kakaknya ini atau bisa-bisa Naruto kejang-kejang seketika. Ia menyuruh Si pirang untuk jangan bergerak dan membalik badan sebelum ia izinkan sementara kakinya melangkah mendekati Itachi yang sedang tertidur pulas.
Dengan sangat ikhlasnya Sasuke menendang bokong sexy Itachi dengan sepatu hitam miliknya. Keras sampai-sampai suara 'aduh' Itachi mampu menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Sasuke hanya tersenyum puas tapi sebenarnya kurang puas karena sepatunya itu masih baru, jadi belum ada kotoran yang bisa ia timpakan pada cetakan sepatu dipantat mulus nan sexy Itachi.
"Bagun, Bodoh!" teriak Sasuke.
Kepala bersurai hitam sebahu Itachi terangkat sedikit setelah beberapa detik mengalami ngilu-ngilu keram dibokong akibat tendangan cinta adiknya. Ia memandang Sasuke dengan kedua matanya yang dihiasi kantung mata tebal dan berwarna kehitaman. Sasuke mundur satu langkah, mendadak berpikir jika Itachi bukan saudara sedarahnya.
"Otouto~ sakit..."
'Ha...?'
Ok, yang barusan itu Itachi bicara dengan nada merengek atau ia yang salah dengar?
"Kau sudah gila," serapah Sasuke dengan wajah jijik. Terlebih saat Itachi bangkit dari posisi nistanya dan duduk di tempat tidur dengan kedua kaki yang mengangkang. Aduh, apa itu diara antara kedua kakinya. Kenapa penuh bercak darah mengering... begitu?
Sasuke facepalm.
"A –Sasuke? Boleh aku berbalik sekarang? Ta –tadi Itachi-nii mengaduh kan? Dia kenapa?" Naruto bertanya dengan ragu, masalahnya ia ingin berbalik untuk memastikan. Tapi kalau-kalau nanti ia jantungan karena apa yang dilihatnya bagaimana? Kan tidak ada yang bertanggung jawab.
"Kau keluar saja dari kamar ini dan tunggu di ruang tamu, Dobe," perintah Sasuke.
"Tapi kena –"
"Jangan banyak tanya. Berjalan ke pintu dan tutup pintunya tanpa berbalik!"
Naruto menurut, ia berjalan ke pintu dan menutup pintunya tanpa banyak bicara lagi.
Setelah memastikan pintu tertutup Sasuke segera memandang tajam Itachi. Ia memberikan tatapan seakan bisa menempakan lem penyambung urat malu Kakaknya yang sudah putus sejak lama.
"Hentikan sikap nistamu, menjijikan!"
Itachi menggaruk belakang kepalanya sampai rambut hitamnya terlihat lebih berantakan. Ia menguap lebar dengan air mata dipelupuk yang hampir tumpah. "Ohayou, Sasuke..." Itachi menguap lagi.
Keduan urat bersarang dikening Sasuke, "God! Berhenti out of character dan rapikan dirimu! Kau itu sudah tidak waras atau apa!"
"Aku lelah, butuh tidur. Kyuubi tidak mau berhenti dari malam sampai pagi. Sekarang 'adik'ku sakit dan lecet karena dia mencakarnya." jelas Itachi tidak nyambung. Uchiha sulung itu kembali mengaduh saat Kyuubi melemparkan sebuah kotak entah apa dari lemari ke kepalanya.
"Stop it! Kau yang tidak mau berhenti! Dan jangan bicarakan hal bodoh macam itu dengan adikmu, Keriput!" teriak Kyuubi. Wajahnya sudah seperti rubah yang ingin mencabik mangsanya.
"Dan kau!" Kyuubi menunjuk Sasuke, "Kau pergi sekolah sana!" titahnya.
Sasuke mendelik, "Bagus. Seorang tunawisma baru saja memerintah dermawan baik yang mau menampungnya,"
Saling lempar tatapan tajamlah yang terjadi berikutnya. Sepasang ruby tidak akan mengalah sedikitpun pada onyx sampai-sampai Itachi hampir menyangka matanya melihat percikan listrik imajiner yang menghubungkan keduanya. Andai Naruto masih di kamarnya, ia ingin taruhan siapa yang menang nantinya.
Ok, Itachi positif sinting kali ini.
.
.
.
.
.
.
Setiap Uchiha bisa dipastikan menyukai apa yang dinamakan 'kesunyian'. Senyap tidak ada suara sedikitpun disekitarnya. Tidak peduli jika banyak pakar dan ahli mengatakan jika suasana yang benar-benar sunyi dapat menyebabkan kegilaan bahkan hanya dalam menit keenam belas karena terjadinya halusinasi lima indra tubuh sehingga keseluruhan tubuh menjadi sensitif. Entah itu mendengar suara-suara asing seperti tapakan kaki, aliran air, angin yang semeliwir juga sentuhan tak kasat mata pada kulit. Semua itu membuat seseorang dapat menjadi gila dalam waktu singkat.
Ini bukan cerita seram, horror ataupun misteri. Psikologi juga bukan.
Itachi hanya ingin menjabarkan pikirannya mengenai kesunyian yang membuat 'gila' itu sedang dialaminya sekarang. Ia yang diam duduk di sofa panjang berkapasitas tiga orang dari tadi hanya bisa memperhatikan ekspresi keras duo Namikaze yang saling bersitegang lewat mata mereka.
Sepertinya baru setengah jam lalu acara 'kubunuh kau dengan tatapanku' a la Kyuubi dan Sasuke selesai karena adiknya itu harus berangkat ke sekolah. Sekarang hal itu harus dimulai lagi dengan lakonan dua saudara. Itachi merasa dibashing secara diam-diam karena kacang bertebaran disekitarnya.
"Kau tetap harus kerja,"
Bersyukurlah untuk Namikaze muda yang telah membuka suara setelah lamanya berdiam. Naruto menatap Kakaknya tanpa sekalipun berpaling. Otaknya terus memutar kata-kata bujukan yang ampuh untuk membuat Kyuubi memenuhi keinginannya. Kyuubi itu dokter. Dokter seharusnya bekerja untuk menyelamatkan nyawa orang. Berbakti pada gelar yang sudah susah payah didapat untuk Nusa dan Bangsa.
Tapi, dari sikap siaga satu yang Kyuubi tunjukan. Rasanya sangat sulit sekali membuat Kakaknya itu untuk kembali menjalankan tugasnya di Rumah Sakit. Walau bagaimanapun, Naruto tidak bisa terus mengerjakan bagian Kyuubi sementara pasiennya sendiri membutuhkan dirinya. Dan tidak mungkin ia melimpahkan tugas Kakaknya pada Dokter lain dengan sembarangan. Itu terlalu berisiko karena hanya dokter tertentu dengan pasien tertentulah pengobatan bisa berjalan baik.
"Sekali tidak, berarti tidak,"
Lihat, kukuh sekali kekeras kepalaan Kakaknya satu ini. Orang ini benar-benar dibutakan cinta Uchiha yang duduk di sampingnya sampai otaknya pindah kedengkul.
"Ayah itu profesional, kau juga tahu itu. Ia tidak akan membahas masalah pribadi saat dalam pekerjaan. Apa lagi yang kau khawatirkan?" tanya Naruto. Bujuk terus sampai kakaknya ini menyanggupi.
"Aku melangkah keluar dari sini, artinya aku mati. Kau tahu berapa wartawan yang ada di luar rumah ini? Di rumah sakit? Kau pikir menghadapi orang-orang seperti mereka mudah?"
For God's Sake!
Boleh Naruto memukul kepala kosong kakaknya. Tangannya sudah gatal sendiri mendengar ucapan yang nggak ada Kyuubi-Kyuubinya sama sekali itu.
"Jadi kau lebih suka bersembunyi di sini dan membuat pasien-pasienmu mati?" ucap Naruto sedikit kejam. Ingatkan ia untuk memohon ampun saat berdo'a nanti karena sudah mengucapkan hal jahat. Tapi sepertinya hal itu membuat Kyuubi memikirkan kata-katanya barusan.
"..."
"Sembunyi tidak akan menyelesaikan masalah, lagi pula media sudah banyak yang dibungkam Namikaze maupun Uchiha. Wartawan itu tidak akan bisa menerbitkan apapun walaupun mereka mendapatkan berita yang mereka inginkan," jelas Naruto panjang lebar.
"Fine," Kyuubi beranjak dari sofa dan menendang satu kaki Itachi saat ia lewat di depan pemuda itu. Ia berjalan menuju kamar Itachi, bersiap-siap untuk bekerja kembali.
Naruto menghela napas, tubuhnya yang tadi kaku untuk tetap duduk tegak ia sandarkan pada sandaran sofa. Sulit sekali meyakinkan kakaknya sampai-sampai kepalanya harus berdenyut nyeri begini.
"Maaf, Itachi-nii," ucapnya pelan. Merasa tidak enak karena sudah bertengkar dan acuh pada tuan rumah yang saat ini hanya duduk diam disofa.
"Hn. Aku juga menginginkan Kyuubi untuk kembali ke rumah sakit dari pada mengurung diri di kamar terus," ujar Uchiha sulung itu.
Naruto tersenyum, "Entah bagaimana aku dan Kyuubi bisa berurusan dengan Uchiha bersaudara seperti kalian," manik birunya menyipit menyelidik, "Kalian tidak merencanakannya, right?"
Kurva bibir Itachi melengkung beberapa mili, mungkin tidak akan terlihat jika saja dokter pirang di depannya tidak sedang mempusatkan perhatian padanya.
Oh, itu rahasia.
.
.
.
.
.
.
Berdecih pelan, Kyuubi menatap tajam adiknya yang saat ini berjalan berdampingan dengannya. Ingin sekali ia menghapus senyum diwajah tan itu karena telah berani membohonginya. Apanya yang sudah diatasi Namikaze dan Uchiha? Di depan rumah sakit bahkan banyak sekali wartawan saat ini, seperti yang dibayangkannya. Tolong, ingatkan ia untuk menggunduli kepala pirang itu nanti.
"Please, jangan mengatakan apapun. Sekarang terima ini –" Naruto menyodorkan berkas-berkas ditangannya hingga menubruk dada Kyuubi, " –kerjakan tugasmu sendiri dan jangan minta bantuanku," dan kakinya beranjak pergi tanpa menengok ke belakang lagi. Meninggalkan Kyuubi yang saat ini hanya bisa mengumpat dalam hati.
"Ohayou, Naruto-kun,"
Langkah Naruto terhenti saat seorang dokter berkacamata menyapanya. Ia tersenyum dan membalas sapaan ramah itu, "Ohayou, Kabuto-san,"
"Bagaimana keadaanmu? –ah tunggu, aku punya sesuatu untukmu," Kabuto berbalik ke pintu ruangannya. Sejenak Naruto berdiri dengan wajah bingung namun kembali tersenyum saat Kabuto keluar dari ruangannya.
"Ini, kuyakin nafsu makanmu berkurang diminggu-minggu ini,"
Satu kantung plastik putih diterima Naruto. Ia mengintip isi kantung itu dan langsung menghela napas setelahnya. "Obat lagi?"
Kabuto tersenyum tipis, "Jangan begitu, kau harus makan dengan benar, Naruto-kun. Wajahmu jadi pucat karena mualmu,"
"Alasan mualku itu obat, sekarang aku malah harus memakannya," Tangan Naruto mengusap belakang kepalanya, "Hah... tapi terima kasih untuk obatnya,"
"Sama-sama. Ya sudah, aku harus mengunjungi pasienku dan makan obatnya, Naruto-kun," Kabuto melambai dan berjalan menjauhi Naruto. Si doketr pirang memberi gumaman tidak jelas sebelum kembali melanjutkan perjalanannya.
Lagi-lagi ia harus dihadapkan dengan obat penyokong makan. Walau ia akui ia jadi jarang makan karena mualnya tak juga reda. Ia juga tidak mengerti, ini sudah bulan keempat tapi 'penyakitnya' yang satu ini tidak juga hilang. Terlebih parah lagi, dari seminggu yang lalu bahkan ia tak bisa makan ramen. God! Hidupnya diramen, dan ia tidak bisa makan makanan berlemak itu.
Kalau dipikir lagi, hidupnya sekarang memang jadi banyak berubah karena kehamilannya. Entah itu pola makan, moodnya yang sering berubah-ubah, yang lebih mencolok lagi berat badannya. Meskipun ia sulit untuk menerima makanan tapi entah kenapa tubuhnya ini malah makin melar. Pipinya saja sudah tambah chubby, dan jadi sering mendapatkan cubitan dari Sasuke.
'Sasuke ya...'
Langkah kaki Naruto terhenti. Ia menggeleng dan menghela napas pelan. Bagaimana dengan Sasuke nanti? Memberitahunya? Oh, itu cari mati. Laki-laki hamil. Itu sudah sangat mencengangkan. Apa lagi laki-laki ini hamilnya oleh bocah ingusan kelas dua SMA, aktor dan anak orang terpandang di Konoha. Lihat, tidak sesimpel itu untuk memberitahu hal 'ini'.
Drrrt... drrrt... drrrt...
Naruto mengambil ponselnya saat merasakan getaran disaku jas dokternya. Ia menatap bingung nomor tak dikenal yang saat ini tertera dilayar ponselnya. Tangannya meng-klik tombol yes dan mendekatkan ponselnya ketelinga.
"Moshi-moshi,"
"..." tak ada tanggapan. Naruto mengerutkan alisnya dan mengecek apakah sambungan telpon masih terhubung atau tidak. Ia kembali menempelkan ponselnya ketelinga setelah melihat sambungan masih terhubung.
"Hallo? Siapa ini?" tanya Naruto. Cukup lama setelah itu masih tak ada jawaban, namun saat Naruto akan kembali berucap, suara yang memanggil namanya terdengar dari ponselnya.
'... Naruto-san,' Suara perempuan, Naruto memastikan.
"Siapa ini?"
'Aku –aku ingin bertemu dengan anda,'
Alis Naruto semakin mengerut, suaranya seperti perempuan ini setengah ragu untuk bicara. "Karena itu aku tanya siapa ini?"
"... aku –"
.
.
.
.
.
Naruto merasakan otaknya blank seketika. Seluruh isinya hilang, telinganya pengang, lidahnya kelu dan sekujur tubuhnya terasa sangat amat berat. Lalu lalangnya kendaraan di luar kaca besar bertuliskan 'coffee cafe' berwarna hitam tak sekalipun bisa ia dengar.
Dia tahu. Dia sudah tahu semuanya. Bagaimana bisa? Kenapa harus sekarang?
"Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf!" surai merah muda yang bergerak-gerak saat kepala di depannya menunduk dan bibir mengucap maaf tak membuat Naruto keluar dari zona diamnya. Matanya masih terbelalak.
Bagi Naruto, semuanya terlalu cepat. Ini terlalu cepat bahkan tidak mungkin. Kenapa dari semua orang di dunia ini, harus dia yang tahu. Harus dia yang menyampaikan siratan ancaman pada gadis di depannya ini.
"A –aku... aku minta maaf, Naruto-san,"
"Tidak," Manik biru tertutupi kelopak tan, "Tidak perlu minta maaf, ini bukan salahmu," Naruto meremas celana jeansnya. Entah kenapa napasnya tiba-tiba sesak saat ini.
Berusaha untuk tetap tenang dan menghentikan ucapan maaf yang berkali-kali terus diucapkan gadis di depannya. Meskipun ia tidak bisa menyangkal jika saat ini ia merasa kacau, ini terlalu membuat benaknya terguncang dengan informasi yang baru saja ia dapat.
Takut. Ia merasa takut.
Jadi karena ini dia tidak lagi menyuruhnya untuk melakukan pemeriksaan berkala. Jadi karena ini dia seperti tidak terlalu peduli lagi tentang apa yang ada ditubuhnya. Karena dia sudah tahu. Tidak, gadis ini memang tidak mengatakannya dengan pasti. Tapi dari semua yang ia dengar, hanya itulah yang bisa ia simpulkan.
Takut.
Naruto meremas kemeja putih dibagian perutnya. Matanya mengerjap tidak tenang beberapa kali dan menunduk menatap tangan yang menumpuk perutnya.
Tidak boleh. Apapun yang terjadi hal itu tidak boleh terjadi.
Kepala bersurai pirang itu kembali tegak, menatap kepala merah muda yang masih tertunduk dalam dengan bahu yang bergetar. Pandangannya menyendu, "Tidak apa-apa, kau tidak perlu memaksakan dirimu lagi," Lidahnya terasa pahit setelah mengucapkan kalimat itu.
"Sudah tidak apa-apa, jadi tegakan kepalamu dan jangan menangis. Kumohon," ucap Naruto lagi.
Gelengan kuat dari pemilik surai merah muda menyapa penglihatan Naruto. Dokter muda itu menghela napas di tengah jantungnya yang berdetak cepat, "Ini bukan salahmu,"
Ini memanglah yang akan terjadi jika ia mengambil langkah penuh risiko.
"Kau tidak usah melakukan hal ini lagi,"
Takut. Sesungguhnya ia takut.
"Aku akan melakukan sesuatu agar dia tidak lagi mengganggumu,"
Tapi ia harus melakukannya.
Maaf, Sasuke...
.
.
.
.
Tubuhnya sudah sangat pegal-pegal setelah empat kali sesi pemotretan dengan empat pakaian dari sponsor merk terkenal. Wajahnya terasa kaku karena sejak tadi terus menampilkan ekspresi garang seekor serigala dengan leher dikalungi rantai yang dipegangi oleh 'partner' kerjanya. Seorang gadis berparas cantik dengan rambut merah mudanya yang diikat satu.
Oh, ia Uchiha Sasuke merasakan kebosanan menyerang karena jika ditilik beberapa minggu ke belakang. Ia selalu saja mendapat pekerjaan yang membuatnya harus berpasangan dengan gadis satu ini. Haruno Sakura, gadis berisik yang membuat moodnya buruk setiap saat.
Kenapa bisa begitu? Katakanlah, itu karena tepat saat ulang tahun TV Konoha ia dan gadis itu sudah mengumumkan hubungan mereka pada media. Dampaknya, dari hari itu sampai sekarang berita tentang ia yang berpacaran dengan Sakura menjadi headline diseluruh majalah dan berita gosip dipenjuru negeri. Efek yang hebat karena memang 'mereka' selalu diharapkan menjadi pasangan asli.
Pekerjaan berdatangan bagai badai di samudra artik. Bahkan menawarinya dengan harga selangit agar mau berpasangan dengan Sakura dalam setiap pekerjaan.
Sasuke merasa kesal karena popularitasnya jadi selalu disandingkan dengan gadis cunguk pink norak itu.
"Baiklah, sesi foto kelima! Silahkan ganti baju kalian, kita mulai tiga puluh menit lagi!"
Sasuke melepaskan kalung rantai dilehernya dengan segera setelah seruan itu terdengar. Ia melempar kalung rantai ditangannya ke lantai dan berjalan mendekati sofa. Tubuhnya terhempas di atas sofa empuk dengan kepala yang bersandar malas. Ia tidak tahan lagi. Apa lagi posenya yang tadi, ia harus berdiri setengah membungkuk dengan kaki kiri yang bertumpu pada kursi dan dirantai layaknya binatang peliharaan dengan ujung rantai dipegang gadis itu! Ampun! Harga dirinya jatuh.
Apa pula tema yang dipakai oleh kliennya ini. Sisi liar yang tunduk pada kelembutan? Mati saja sana!
"Sasuke, lekas berdiri dan ganti pakaianmu,"
Sasuke bergumam dan menegakan kepalanya, menatap ibu kedua –bukan benar-benar ibunya- yaitu managernya dengan pandangan datar.
"Pakai ini, kali ini sisi liarmu harus lebih terasa seperti amarah yang meledak setelah sekian lama," Umino Iruka, selaku manager Sasuke. Pria berumur dua puluh enam tahun itu berucap seraya menyerahkan satu stel pakaian pada Sasuke. Pria berkuncir tinggi dengan rambut hitam kecoklatannya itu berdecak saat Sasuke hanya menatap pakaian ditangannya tanpa niat untuk mengambil alih.
"Jangan merengek untuk kali ini, klien kita sudah cukup bersabar dengan mengundur waktu hingga kau pulang sekolah. Sekarang ganti bajumu!"
"Hn..." tanggap Si uchiha muda malas. Tangannya mengambil stelan pakaian berbahan jeans ditangan Iruka namun belum beranjak dari sofa. Masih tiga puluh menit lagi kan, biarkan ia duduk untuk sepuluh menit pertama.
"Sasuke-san! Ponselmu berbunyi!"
Sasuke menoleh pada salah satu make-up artis yang menanganinya untuk pemotretan kali ini. Sepertinya benda berisik dalam tas sekolah yang tergeletak dimeja dekat dengannya membuat ia memutuskan untuk memberitahukan pemiliknya tentang benda itu.
"Ya," Sasuke membalas singkat. Ia beranjak dari sofa dan berjalan menuju meja dimana tasnya berada. Ia membuka tasnya dan mengambil ponsel hitamnya.
Alisnya mengerut saat mendapati nama kontak 'Dobe' tertera dilayar ponselnya. Ia mengangkat panggilan itu. Jarang-jarang Naruto menghubunginya begini.
"Apa? Aku sedang bekerja, Dobe?" tanya Sasuke tanpa basa-basi. Lagi pula Naruto tidak perlu basa-basi darinya, sudah tahu ini seperti apa dirinya.
Sasuke menaikan satu alisnya saat yang didengarnya malah suara tawa terlampau pelan, "Kau baik-baik saja, kan?" kembali ia bertanya. Entah kenapa ia tidak suka tawa Naruto kali ini.
'Aku baik, Sasuke. Lebih baik dari apapun,'
"Lalu –"
'Sasuke,' panggilan cepat itu memotong ucapan Sasuke.
"Hn?"
'Aku –harus pergi,'
"Ha?" –Baiklah, Sasuke akui ia tidak mengerti dengan ucapan Naruto ini mengarah kemana. "Kau sakit atau apa?"
'Tolong, dengarkan aku kali ini. Jangan menyelaku,'
Kebingungan Sasuke bertambah saat suara Naruto terdengar seperti lirihan ditelinganya. Namun ia memilih untuk diam dan mendengarkan dulu.
Terdengar suara helaan napas, 'Aku ingin kau melupakan aku,'
Mata Sasuke membulat, terkejut dengan ucapan Naruto. "Kau bicara apa, Dobe? Hentikan candaanmu, Ini tidak lucu!"
'Aku tidak bercanda, dan bukankah sudah kubilang untuk jangan menyelaku?'
'Ini tidak berhasil, aku –tidak ingin melanjutkan hubungan kita. Kau pernah bilang, kau aktor yang harus menjaga image-mu. Aku muak. Tapi kau benar, aktor gay tidak akan bisa dengan mudah diterima begitu saja. Dan lagi, aku tidak bisa terus membohongimu dengan kata cinta,'
'Hentikan,'
'Lagi pula, remaja sepertimu sepertinya belum tahu cinta itu apa. Jadi kau bisa cari penggantiku dengan mudah, iya kan?'
'Hentikan,'
'Sakura juga, kurasa gadis itu juga termasuk tipemu. Dia baik, cantik dan bisa tahan dengan sikap egoismu itu. Dia cocok untukmu –"
"Stop it! Kau ini kenapa, Dobe? Apa kau sedang terkena penyakit baru? Kau seperti orang idiot yang bicara seenaknya. Sekali lagi hentikan candaanmu. Ini tidak lucu sama sekali!"
Sasuke bingung, itu jelas. Tiba-tiba saja Naruto bicara hal-hal bodoh tidak masuk akal dan menjodoh-jodohkannya dengan Sakura. Ini seperti bukan Naruto. Terlebih lagi, apa itu tadi. Membohonginya dengan kata cinta? Tidak tahu cinta itu apa? Mencari penggantinya? Dobenya ini bicara apa!
'Aku tidak tahu, Sasuke.' ada nada seperti erangan sebelum ucapan selanjutnya, 'Tapi, aku hanya minta kau lupakan aku. Hanya itu,'
"BERHENTI BERCANDA!" Sasuke membentak. Sontak membuat semua orang yang berada satu ruangan dengannya menghentikan aktifitas mereka dan menjadikan Sasuke yang tengah berbicara dengan ponselnya sebagai pusat perhatian.
"Apa otakmu sedang bermasalah! Berhenti mengucapkan hal bodoh!"
'Nanti pasti kau mengerti apa yang kuucapkan ini, cobalah untuk mengerti,'
Wajah Sasuke mengeras dengan pandangan nyalang, "Stop it!"
'Aku berharap kau bahagia, mungkin dengan Sakura,'
"Aku peringatkan sekali lagi, berhenti mengucapkan hal-hal membingungkan, Idiot!"
'Sudah ya,'
Rambatan tidak mengenakan Sasuke rasakan pada belakang lehernya. Hingga keperut. Apa ini? Bicara apa Dobenya ini? Entah kenapa jantungnya berdetak sangat cepat saat ini. Ada sesuatu yang salah.
'Terima kasih untuk selama ini, Sasuke... selamat tinggal –'
"Dobe!" Sumpah. Sasuke berdecak penuh amarah saat mendengar suara sambungan terputus ditelinganya. Ia menjauhkan ponselnya dari telinga dan menghubungi nomor Naruto lalu mendekatkannya lagi ketelinga.
'Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau sed –'
Sekali lagi ia mencoba.
'Nomor yang anda tuju sedang sibuk –"
BRAAK!
Sasuke menendang meja di sampingnya dengan keras hingga meja itu terjungkal dan seluruh barang di atasnya berserakan di lantai. Iruka yang melihat itu langsung mendekati Sasuke, "Apa yang kau lakukan!" pertanyaan itu ia layangkan dengan suara yang naik dua oktaf.
"MINGGIR!" tatapan nyalang dari Sasuke terarah pada managernya. Iruka bergidik dan shock karena baru kali ini ia melihat mata itu begitu dipenuhi dengan amarah yang meluap-luap. Bibirnya bermaksud untuk kembali bersuara namun Sasuke mendorong tubuhnya dengan tidak sabaran sampai ia hampir kehilangan keseimbangan.
"Aku bilang menyingkir dari hadapanku!" Sasuke berteriak. Matanya yang mengarah pada Iruka teralih saat telinganya mendengar suara seseorang yang langsung membuatnya naik pitam. Pandangannya memaku pada sosok gadis yang baru saja memasuki ruangan dan menatapnya dengan wajah terkejut.
Onyx Sasuke berkilat penuh kebencian. Ia berjalan mendekati gadis itu dengan cepat. Satu tangan terangkat dan mencengkram T-shirt dibagian leher yang dikenakan gadis itu dengan cepat.
"Kyaa!" Sakura memekik saat tangan besar pemuda onyx begitu cepatnya mencengkram baju yang ia pakai. Lehernya terasa tercekik karena cengkraman itu sangat kuat. Dan lagi ia tidak bisa merasakan pijakan lagi dikedua kakinya.
"Apa yang sudah kau lakukan!"
Suara dingin itu membuat seluruh tubuhnya gemetaran. Suaranya tercekat ditenggorokan begitu melihat pandangan membunuh yang dilayangkan pemuda itu. Gemetaran tubuhnya semakin kencang. Sasuke saat ini sangat marah dan sangat menakutkan.
Beberapa orang disekitar Sakura dan Sasuke langsung berusaha melepaskan gadis itu dari cengkraman Sasuke. Mereka berteriak-teriak dan menarik cengkraman Sasuke namun pemuda itu tetap tak bergeming.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA!"
"Sa –ahkk! –Sa –su khokh!"
Manik emerald Sakura menatap kabur, bola matanya berputar ke atas hingga hampir menyisakan hanya warna putih pada matanya. Lehernya benar-benar terasa tercekik dan ia tidak bisa bernapas.
"Sasuke, lepaskan Sakura!"
"Sasuke, sadarkan dirimu!"
"Khak! –khh!" Tubuh Sakura melemas dengan wajah yang sudah kehilangan rona jika saja make-up tak menutupi wajahnya. Tangannya yang tapi berusaha melepas cengkraman Sasuke jatuh lunglai dikedua sisi tubuhnya.
"Sasuke! Sakura akan mati jika kau terus mencekiknya!"
BRUGH!
Tubuh Sakura terlempar hingga satu meter setelah Sasuke melepaskan cengkramannya. Ia menatap nyalang gadis yang tengah terbatuk-batuk sesak dengan deru napas dalam dan cepat untuk memasok oksigen yang hampir habis ditubuhnya. Pemuda onyx itu meronta saat tubuhnya ditahan oleh tiga laki-laki yang berusaha menghentikannya untuk mendekati gadis merah muda itu lagi.
"Ohok! Khok! OHOK!" Sakura memukuli dadanya yang terasa tertimpa baja berat. Ia mengambil napas banyak-banyak. Matanya mengalirkan air mata tanpa disadarinya. Hampir mati, barusan ia hampir saja mati jika Sasuke tak melepaskan cengkraman dilehernya.
Beberapa orang menghampirinya menanyakan keadaannya dan mengusapi punggungnya sama sekali tak bisa membuatnya tenang. Takut. Sekujur tubuhnya masih bergetar hebat. Ia hampir saja mati ditangan Uchiha Sasuke.
PLAK!
Suara tamparan menggema di ruangan itu. Wajah Sasuke berpaling dengan sebuah cetakan merah dipipi kirinya. Sasuke menggeram dan menatap dingin orang yang baru saja menamparnya.
"SADARKAN DIRIMU!" semprotan marah itu berasal dari Iruka. Telapak tangannya masih merasakan panas dari tamparan yang ia layangkan. Bahunya naik turun dengan cepat. Bingung, kesal, marah, itulah yang ia rasakan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Sasuke tiba-tiba saja menyerang Haruno Sakura dengan niat membunuh seperti tadi? Ia benar-benar tidak mengerti.
Sasuke hanya diam dengan kedua tangan yang terkepal setelah mendapatkan tamparan dari Iruka. Matanya masih berkilat penuh emosi. Lalu ia menyentak dua tangan yang menahan tubuhnya. Tak berhasil, ia semakin menggeram. "Lepaskan aku!"
"Maaf, Sasuke-san. Tapi kami tidak bisa membiarkanmu menyerang Sakura lagi!" Orang yang menahan tubuh kanan Sasuke berucap.
Sasuke menggeram. Ia tidak bisa menggerakan tubuhnya sama sekali dengan tiga orang yang menahannya seperti ini.
.
.
.
"Aku akan menghubungi Kakakmu, untuk sementara kau diam diruangan ini," Iruka nemuntup pintu ruangan dimana Sasuke berada. Tak mempedulikan gedoran keras dari Sasuke yang menginginkan pintu untuk dibuka, Iruka memilih untuk menghubungi satu-satunya orang yang bisa menangani Sasuke saat ini.
.
.
.
"FUCK!" Sasuke mengumpat. Tangannya memukul permukaan pintu dengan keras sampai kepalan tangannya memerah. Sial! Ia harus cepat pergi dari sini. Ia harus menemui Naruto sekarang juga dan mencari kebenaran dari ucapan bodoh Si pirang itu bukannya malah terkurung ditempat ini.
'Ada apa denganmu, Naruto...'
Sasuke menggeram kesal dan memukul pintu sekali lagi.
.
.
.
To be continue~
.
.
A/N : Huaiya! Akhirnya selesai~
Chapter pendek 4k+ dengan konflik (lagi) di akhir~
Plotnya kecepetan ya? Oh, aku sangat sadar itu. Silahkan salahkan diriku ini yang tiba-tiba blank mikirin gaya tulisanku yang suka berubah-ubah. Kadang tulisanku sederhana, kadang membingungkan dengan banyak pengulangan kata, kadang bahkan ga bisa dimengerti sama sekali. DX
Aku butuh BETA READER!
Ekhm! Ngomong-ngomong tentang Beta reader, dari kalian ada yang suka rela mau bantuan aku nggak?
Nge-beta-in fic-ficku sebelum publish. Entah itu fandom Naruto, Inuyasha ataupun KnB *nyoba peruntungan*
Soalnya aku butuh seseorang untuk membaca hasilku sebelum publish jika seandainya aku lagi 'kehilangan rasa'. Itu juga nggak selalu disetiap chapter kok. Kadang-kadang aja.
Silahkan PM jika berminat, ato yang nggak punya akun juga kalau mau bisa. Punya FB kan? Nanti kontek-kontekan lewat FB.
Kalau nggak ada, oh –meranalah diriku~
Terakhir, review?
Sabtu, 09/08/2014 WIB
