(Remake) Pangeran Miskin: Versi KyuMin - YunJae
.
.
Disclaimer: Ide cerita hanya milik author I don't care about Taz. Semua tokoh disini hanya milik Tuhan, diri mereka sendiri, dan orangtua masing-masing, saya hanya meminjam nama.
.
YAOI, Boy x Boy, typo (s) bertebaran, bahasa sedikit kasar, OOC, GS untuk sesedikit mungkin tokoh.
.
Don't Like Don't Read
.
.
Chapter 2: Siapa yang gay?
Masih inget kan kejadian episode sebelumnya? Kejadian dimana Jaejoong kehilangan 'virgin-nya' pada bagian tangan dan kepalanya? Nah! Untuk mengamankan harga dirinya, dan menghindari bertemunya kembali dengan si 'korban', Jaejoong lebih memilih untuk berjalan kaki ketimbang naik bis pada saat pulang sekolah. Pikirannya Choi satu ini sih cuman jaga-jaga aja. Siapa tahu kalau misalnya naik bis dia bakal kepentok 'si korban', dan alih-alih harus mempertanggung jawabkan semua pelecehan tidak disengaja tersebut. Menurut readeraja gimana? Sudah miskin harus bertanggung jawab juga, kan repot banget! Apalagi kalau si 'korban' minta duit buat ganti rugi? Bisa tambah miskin aja si Jaejoong.
Sambil bersiul-siul kecil akhirnya Jaejoong tiba juga di tempat kerjanya yang baru. Kenapa dikatakan sebagai tempat kerjanya yang baru? Karena di tempat kerjanya yang lama, Jaejoong sudah memberikan surat resign, alias surat pengunduran diri. Surat pengunduran diri tersebut diberikan karena Jaejoong sudah kesal dengan tingkah laku si Boss yang selalu seenaknya. Masa seluruh pengunjung yang datang harus ditangani dia sendiri? Oke! Jaejoong memang hebat dalam menangani segala hal, dan ia selalu digemari oleh orang-orang yang melihatnya (termasuk para pengunjung di tempatnya yang lama—yang selalu meminta dia yang melayani mereka). Tetapi, bukan berarti dia harus menerima dirinya diperlakukan seperti budak! Bukan Jaejoong banget, kan? Miskin-miskin juga Jaejoong masih mempunyai harga diri, sisi manusia yang cepat lelah dan cape akan diperintah yang berlebihan. Intinya, sih, dia lagi nyari kerjaan yang enak tapi dapat duit banyak!
"Selamat sore!" Jaejoong menghampiri seorang wanita berambut pirang dengan potongan laki-laki. Wanita tersebut memakai jaket kulit hijau dengan kaos putih bertuliskan 'I am emo.' Dari kesan pertama melihat wanita tersebut, orang-orang (termasuk Jaejoong) pasti dapat langsung menyimpulkan jika wanita tersebut adalah sesosok wanita tomboy. Bahkan ia hampir mengira jika wanita itu seorang laki-laki.
"Selamat sore! Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita tersebut dengan wajah keheran-heranan. Heran kenapa ada anak muda ganteng bisa datang ke restoran mewah gini. Jarang-jarang tipe-tipe anak SMA mau makan di tempat kayak gini walaupun kaya.
"Saya Choi Jaejoong. Saya adalah karyawan baru disini."
"Oh."
Wanita di depannya memandang Jaejoong dari ujung kaki hingga rambut. Seolah-olah menilai penampilan Jaejoong yang kali ini cuman memakai baju bebas (dilakukan agar tidak ada pihak yang mengetahui dia berasal dari sekolah elite yang melarang murid-muridnya untuk bekerja part time). "Aku Amber. Kebetulan sekali, aku adalah Manager HRD (bagian Humas) di restoran ini, kau ikut aku! Aku ingin melihat dulu sejauh mana kau bisa bekerja."
"Hn. Kebetulan, ya?" Jaejoong akan mengikuti Amber, ketika dia melihat sesosok pemuda yang mengalami 'kecelakaan' bersamanya di bis baru saja memasuki gedung dengan langkah terburu-buru. Mata Jaejoong pun membulat dengan sempurna. 'Tuhan pasti benci banget sama aku,' batinnya sambil mengutuk diri sendiri. 'Mudah-mudahan aja tuh orang tengil nggak lihat aku,' batinnya.
Masa baru masuk kerja harus keluar lagi? Gila aja kalau gitu!
~####~
"Kamu ngapain sih ngajak aku ke tempat gini? Aku lagi nggak punya duit tau!" kata Jung Yunho. Seorang mahasiswa jurusan teknik arsitektur yang selalu nggak punya uang di akhir bulan karena kehidupannya sebagai seorang anak kosan (padahal rumahnya yang gede banget berada di dalam satu kota dengan kampusnya).
Donghae yang merupakan mahasiswa juga—layaknya Yunho—tersenyum sumringah. Bahagia ada orang… mhm… lebih tepatnya korban yang bersedia mendengar cerita suka-citanya. "Kamu denger, deh! Tadi ya, aku ketemu sama pujaan hatiku lagi… Aduh, dia tuh tambah lucu aja setiap harinya deh… Tapi dia tuh kenapa ya sulit nerima cin—"
Bla… Bla… Bla…
Jeder!
Kepala Yunho kayak di bom atom, ketika Donghae nyerocos—nggak pakai napas. Gini nih kehidupan sohibnya! Nyaris setiap hari ngundang dia buat ngabisin uang cuman buat nyeritain kecengannya ketimbang nyeritain hal-hal penting lainnya. Tetapi, mau gimana lagi? Nggak enak juga kan kalau dia nolak temannya buat cerita? Selain karena kasihan, atau takut temannya bunuh diri karena uneg-uneg di kepala dan hatinya nggak bisa dikeluarin, dia pun harus membalas jasa temannya yang selalu support makanan kalau misalnya keuangan dia lagi menipis diakhir bulan. Maklum… anak kosan! Kalau diakhir bulan uangnya habis, yah… alih-alihnya nebeng makan di rumah orang terdekatnya.
"Terus menurut kamu gimana, Yun?" akhirnya Donghae menyelesaikan sesi curhat atau curahan hati-nya.
Yunho kembali fokus dari lamunannya. Ia memandang sahabatnya lekat-lekat, berpura-pura tertarik dengan topik basi yang selalu dibawakan oleh sohibnya tersebut. "Kenapa sih nggak pendekatan lebih gencar dulu sebelum kamu tembak tuh orang?" tanya Yunho, yang menurutnya sih itu pertanyaan udah ditanyain dari jaman-jamannya Donghae kenalan sama kecengannya. Mhm… jaman dimana si Donghae selalu sibuk bolos kuliah cuman buat nongkrongin SMP TOHO.
"Itu masalahnya!" Donghae berseru, tiba-tiba semangat. Nyaris membuat orang yang duduk di samping mereka tersedak. "Aku susah ngedeketin itu anak, soalnya dia tuh kayak ngehindar dan nggak mau dideketin gitu. Pasti itu karena kakaknya!" ia pun berubah menjadi melankolis nan histeris, dan hanya ditatap heran oleh Yunho. Ini orang hidup nggak pake napas, ya?batin Yunho.
"Kamu sudah makan, kan?" tanya Yunho, sok perhatian. Padahal sih dia cuman ngasih siasat buat nyelamatin dirinya sendiri. Gimana coba kalau si Donghae mewek di depan dia? Bisa-bisa orang yang ada di seluruh restoran ini ngecap dia sudah gay, brengsek lagi! itulah yang ada di pikiran Jung sulung tersebut. 'Aku bukan gay, dan kata eomma juga aku itu anak baik, jadi plis deh…' batin Yunho.
Donghae menggelengkan kepalanya. Ia mengambil daftar menu yang terletak di atas meja, lalu membuka daftar menu tersebut. "Kamu mau makan apa? Aku pilihin makanannya ya… Soalnya aku lagi bokek… Uang bulanan aku baru dipake buat ngerakit komputer," katanya dengan nada tidak merasa bersalah sama sekali, tetapi masih ada niat buat traktir sohibnya yang sedari tadi kayaknya sudah mau mencak-mencak dirinya.
Tuh, kan!
Bokek? Yang benar aja!
Yunho hampir membelah meja di depannya dengan jurus hapkido yang dipelajarinya sejak kecil kalau dia tidak ingat kata-kata almahum halmeonienya: 'Nak, nyebut nak… Cing eling 'ndo…' Yunho mengingat-ingat ucapan halmeonienya untuk meredakan emosinya. 'Ini orang, kenapa juga mesti di restoran mahal ketemuannya kalau dianya sendiri lagi kagak punya uang! Makan di Warung Shinkijuga bisa 'kan?' batin Yunho. 'Kalau appa nggak dilahirin sama nenek-nenek yang suka nasehatin cucunya sudah aku lumat juga nih orang!'
Donghae memiringkan kepalanya. Bersikap sok manis, tanpa dosa. "Kok kamu diam, Yun? Marah, ya?" Donghae menyadari Yunho yang hanya terus menatapnya-bengong tanpa merespon pertanyaannya.
Yunho tersenyum tipis. Mencoba bersikap bijaksana. "Nggak… Iya, silahkan aja pilihin… Aku ke belakang dulu, ya…" katanya pada teman kecilnya tersebut.
Donghae pun menganggukan kepalanya. "Iya, aku pilihin makanan buat kamu… Aku pilihin yang enak, deh!" katanya, sok yakin. Padahal sih Yunho mikirnya, 'Enak nan murah di restoran ini kan paling cuman salad, nggak mungkin juga si Donghae mesen indomie di tempat gini. Cih, memang aku hewan herbivora?' batin Yunho. Intinya! Buat anak kosan kayak Yunho: makan salad itu mirip banget sama yang namanya 'mbe! Mana kenyang?
Donghae, Donghae, kapan sih kamu mengerti sobatmu ini?
~####~
Seperti yang sudah disepakati oleh Sungmin dan Kyuhyun di kelas, di sore hari ini mereka akan bertemu untuk membicarakan detensi yang akan diterima oleh Jung bungsu. Dari kaca jendela, Kyuhyun yang sudah bawaannya ganteng dari lahir memastikan dirinya terlihat perfect sebelum ia memasuki ruangan Sungmin. 'Nggak salah Taemin ngelahirin anak,' batinnya, narsis. Setelah merasa dirinya begitu sempurna.
Sreeet…
Pintu pun dibuka oleh Jung bungsu. Kyuhyun berlagak—lagi—jadi orang dingin kayak pemeran cowok yang jadi pangeran di drama-drama Korea. Matanya menjelajah seluruh ruangan, mendeteksi keberadaan Sungmin yang ternyata sedang meminum secangkir kopi sambil menikmati pemandangan sore di depan sebuah jendela yang cukup besar.
"Sungmin seonsaengnim," sapa Kyuhyun. Bersikap seformal mungkin.
Sungmin membalikan tubuhnya. Memandang wajah Kyuhyun dengan senyuman khas-nya. "Kau datang juga, Jung. Silahkan duduk!" Sungmin menunjuk sebuah kursi kosong yang terletak di depan sebuah meja.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Ia pun duduk di atas kursi tersebut. "Jadi, apa detensinya?" tanya Kyuhyun dengan ekspresi wajah datar, walaupun hatinya udah dag-dig-dug nggak karuan. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi ketika dia sedang berduaan dengan pujaan hatinya. Mudah-mudahan bisa ngelakuin yang asem-asem di sore hari ini (baca: lemon)… Asiik…
"Menurutmu, apa Gay itu?" Sungmin mendekati Kyuhyun lalu duduk di kursi kosong yang berada di depan Kyuhyun. "Bisakah kau jelaskan?" tanyanya, dengan nada yang lebih terdengar menantang dari pada meminta.
Kyuhyun memutar kedua bola matanya. Memperlihatkan jika pertanyaan yang diberikan oleh Sungmin adalah konyol, walaupun hatinya sih agak excited. "Itu adalah suatu bentuk pergantian keinginan (seksualitas) seorang pria untuk mencintai seorang pria lagi, dibandingkan dengan mencintai seorang wanita," Kyuhyun berkata se'sok' mungkin, ingin dilihat lebih di mata gurunya. Padahal dia pingin menjerit: 'Gay? Gay itu kamu… Kamu yang bisa buat aku jadi gay…Buset nih orang… makin lama dilihat makin manis!' batin Kyuhyun yang sangat OOC.
"Lalu kenapa aku dibilang gay? Memangnya aku terlihat gay?" tanya Sungmin dengan tatapan sengit. Berharap jika Kyuhyun akan memberikan jawaban yang bagus.
Kyuhyun megelengkan kepalanya. "Nggak," jawabnya singkat.
"Lalu kenapa kau bilang aku gay?" tanya Sungmin.
Kyuhyun hanya mengangkat kedua bahunya. Padahal sih alasannya cuman buat Sungmin ngehukumnya aja terus dia bisa dua-duaan deh sama Sungmin seonsaengnim. Tetapi, masa dia bilang gitu? Kalau dia bilang gitu, alih-alihnya dia harus mengakui dong kalau dia itu suka sama guru kerennya ini (intinya sih, Kyuhyun terlalu gengsi buat ngakuin kalau dia itu yang gay!). Jadinya ya… "Karena kamu nggak pernah punya pacar mungkin," Kyuhyun memberikan alasan yang standar namun menjebak. 'Dari sini kita lihat apa dia sudah punya kekasih atau belum,' batinnya. Harus belum!
"Oh… Cuman karena alasan itu? Mau kamu carikan seonsaengnim wanita supaya nggak kelihatan gay lagi?" tanya Sungmin dengan nada main-main, walaupun ditanggapi anak di depannya serius. Saking seriusnya mata anak di depannya memincing tajam, dan tangannya terkepal dengan kuat dalam waktu seketika.
"Oh jadi anda mengakui kalau anda itu jelek dan akan menjadi seorang perjaka tua jika tidak dicarikan kekasih?" tanya Kyuhyun yang bermaksud menyindir sekaligus menyelamatkan perasaannya. Siapa juga yang mau nyariin pacar buat kecengannya sendiri? Sorry guys, Kyuhyun nggak sebaik itu!
Sungmin tertawa renyah untuk menanggapi komentar kasar Kyuhyun. "Kau benar… lagi pula mana ada yang mau denganku," kata Sungmin sambil memijat-mijat belakang lehernya. "Hehehe…"
'Siapa yang mau? Salah pertanyaan! Harusnya dia bertanya siapa yang nggak mau dengannya?' seru Kyuhyun di dalam hati, tetapi dengan ekspresi tersenyum sinis. "Ah, kau sadar diri juga," katanya. Aneh sekali Jung satu ini, mulut dan hatinya bisa berbeda 180 derajat. Tetapi, itulah Kyuhyun. Dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan, termasuk membuat orang yang dicintainya terpojok dengan ucapannya yang bertolak belakang dengan keinginannya.
"Hahaha, baiklah… karena tampaknya kau memahami apa itu gay, bagaimana jika kau menuliskan essay sederhana mengenai hal tersebut? Tidak perlu pakai format resmi, standar saja, tulisan tangan." kata Sungmin sambil tersenyum menawan—yang nyaris membuat Kyuhyun memakan dirinya hidup-hidup karena senyumnya yang begitu menyilaukan mata.
'Essay mengenai gay? Maksudnya essay mengenai dirimu, cinta? (cat Kyuhyun: Gay is Sungmin)' batin Kyuhyun yang sudah mulai curiga dirinya sebentar lagi bakalan mati bahagia.
Kyuhyun memang sedang dalam mood yang baik saat ini.
~####~
Yoochun yang baru saja pulang sekolah langsung disuruh noonanya (Boa) buat nimba air di sumur. Sambil bersiul-siul riang dia memasukkan air yang diambilnya ke dalam ember yang lebih besar dari ember buat nimbanya. Sedangkan hyungnya, Eunhyuk, sedang sibuk mempersiapkan hidangan makanan yang diperolehnya (dikasih) dari teman-temannya sekelas.
"Chunnie, jangan siul-siul pada saat maghrib gini. Pamali!" kata Boa sambil menempelkan sebuah kardus pada pintu—yang menghubungkan dalam rumah dengan halaman belakang—karena pintu tersebut sudah jebol kena tendangan bola Jaejoong. "Ayo, cepat! Sudah nimba kamu langsung aja mandi!"
"Iya…," jawab Yoochun dengan suara yang sedikit diperkeras agar noonanya tahu jika dia mendengarkan apa yang noonanya katakan. "Noona, embernya jebol juga! Gimana nih? Pantesan sudah dua puluh kali nimba kok jolangnya (ember besar) nggak penuh-penuh!" Yoochun berteriak di tengah maghrib kayak orang keedanan. Nyaris mewek—usahanya sejak tadi ternyata sia-sia.
Boa hanya memutar kedua bola matanya. "Gampang, kamu ambil lakban hitam terus kamu tempelin tuh lakban di bagian yang bocornya!" teriak Boa, suaranya nggak kalah kenceng dari suara Yoochun.
Tidak terdengar jawaban. Dapat dianalisis oleh Boa jika Yoochun sedang sibuk mencari lakban. Tetapi, beberapa saat kemudian…
"Noona, dimana lakbanya?" terdengar lagi teriakan Yoochun. Tetapi, kali ini berasal dari dalam rumah atau tepatnya kamar, bukan dari dekat sumur.
Boa berpikir sejenak. Menghentikan aktivitas-nya untuk sementara. "Kayaknya ada di—"
Ting tong! Ting tong!
Boa mengalihkan pandangannya pada oppanya, Eunhyuk. Biasanya, jam segini Sungmin atau Jaejoonglah yang datang. Tetapi, kakaknya tersebut tidak pernah menekan bel. Sungmin sih biasanya langsung aja ngeloyor masuk sambil ngucapin salam. Apalagi Jaejoong, gimana mau ngucapin salam? Yang ada dia malah langsung bertengkar dengan Boa karena ngebawa masuk sepatunya yang kotor ke dalam rumah tanpa embel-embel salam sekalipun. Yah, bisa dikatakan kali ini orang yang ada di depan pintu bukannya Sungmin maupun Jaejoong, tetapi seorang tamu!
Eunhyuk beranjak ke arah pintu dengan diikuti Boa yang penasaran pada orang yang bertamu di maghrib-maghrib begini. Saat pintu terbuka, Eunhyuk melihat sesosok pria tinggi seperti tiang listrik (kagak setinggi tiang listrik juga sih sebenarnya XD), berwajah bocah sambil membawa tas tangan ala kantor di tangannya. Pria tersebut memakai jas, dan nampak sekali kalau dia adalah pria kantoran.
"Ada yang bisa saya bantu?" Eunhyuk berkata dengan sebelah tangan yang masih memegang pintu.
Pria tersebut tersenyum manis. "Saya dari departemen sosial. Perkenalkan, nama saya Shim Changmin," kata pria tersebut sambil mengulurkan tangan, dan hanya dibalas kikuk oleh Eunhyuk.
"Eunhyuk. Silahkan masuk!" jawab sang Choi ketiga. Setelah itu, iapun menyingkirkan tubuhnya dari depan pintu, memberi jalan Changmin untuk masuk. 'Untuk apa orang ini datang?' batinnya. 'Ah sudahlah, terima saja dulu tamu rapih ini.'
"Terima kasih…," jawab pria tersebut. Ia pun memasuki rumah keluarga Choi.
~####~
Jaejoong lagi sibuk membersihkan (mengepel) kamar mandi restoran ketika pikirannya kembali melayang pada perkataan Amber.
"Kamu bersihkan kamar mandi ini sampai bersih! Baru saya akan menerima kamu sebagai pegawai tetap, dan kamu akan bekerja di bagian dapur." kata Amber yang perkataannya sama sekali tidak menunjukan analogi (hubungannya) antara toilet dengan dapur.
"Mau ke dapur kok ngebersihin toilet? Aneh," gumam Jaejoong. Ia pun kembali mengepel di saat pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan sesosok mahasiswa tengil yang menjadi 'korban' dirinya. 'Ya ampun! Dia datang!' seru Jaejoong sambil memutar badannya, memunggungi pemuda tersebut. 'Chk, semoga dia nggak lihat!' batinnya. Ia pun merasa lega ketika pemuda tersebut memasuki salah satu cubical yang tertutup. (Cat: restoran tidak menyediakan urinoir).
Beberapa saat kemudian.
"Maaf, bisa saya meminta sabun?" tanya pemuda tersebut pada Jaejoong yang sekarang sedang sibuk mengelap jendela. Pemuda tersebut baru saja ke luar kamar mandi, dan tampaknya sabun yang berada di wastafel sudah habis, sehingga ia harus mendekati dan meminta sabun pada pekerja yang ada di sana.
Jaejoong terhenyak. Otaknya yang pintar tentu tidak akan pernah melupakan suara bariton dan rendah pemuda tersebut. 'Astaga! Dia tepat dibelakangku!' batinnya. 'Aku harus gimana? Berpura-pura jadi siapa? Keanu Reeves? Tom Cruise? Atau aku ngeloyor pergi aja?'
"Maaf, Bisa saya meminta sabun?" pemuda tersebut kali ini menyentuh pundak Jaejoong. Eh, Jaejoong yang paling alergi dan memiliki traumatis dengan pemuda di belakangnya langsung saja mengeluarkan jurus aikido-nya, sehingga kali ini tangan pemuda tersebut sudah terkunci tepat di belakang punggungnya. "Jangan. Sentuh. Aku. Dengan. Tangan. Kotormu. Itu!" katanya dengan nada galak. Melupakan jika prioritas utamanya adalah menghindar dari pemuda tersebut.
Heh?
Yunho yang merupakan mahasiswa terpintar di kampusnya langsung tersadar dari kagetnya ketika mendengar suara anak SMA yang telah menyerangnya. "Oh, kamu si anak mesum?" dengan sekali sergap Yunho melilitkan kakinya ke kaki Jaejoong, memegang kerah baju Jaejoong, dan membanting Jaejoong ke bagian depan-kanannya. "Ada yang ketinggalan waktu kamu naik bis!" kata Yunho dengan senyuman sinis. Memandang Jaejoong yang kini sedang merasa terpojok, di bawahnya.
Ketinggalan? Apa?
Yunho melepaskan kerah baju Jaejoong. Ia menyingkir dari tubuh Jaejoong. Setelah itu, dari saku celananya ia mengeluarkan suatu barang yang berupa logam satu won. "Kamu masih ingat ini?" Yunho tersenyum senang sambil memainkan logam tersebut dengan jari-jarinya. "Atau kamu mau ini?" Yunho lalu memperlihatkan sebuah dompet cokelat terbuat dari kain yang tampaknya sudah belel. Dan dompet tersebut ternyata adalah kepunyaan Jaejoong!
'Dompet aku? Kenapa bisa ada di dia? Pada saat gerakan yang mana dia mengambil dompetku?' Jaejoong mengerutkan keningnya, mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya.
"Tadi waktu ngebanting kamu, aku ambil dompetnya," kata Yunho seperti mendengar apa yang dipikirkan Jaejoong.
"Sialan! Balikin dompetnya!" Jaejoong secara reflek langsung berlari ke arah Yunho, menyerang mahasiswa kere tersebut. Tetapi, karena Jaejoong kalah tinggi, ia harus ekstra tenaga untuk mendapatkan dompetnya.
"Waduh agresif banget," Yunho tersenyum usil. " Eit! Nggak boleh ah! Aku kan belum ngambil uang kamu!" kata Yunho sambil sibuk menghindari pukulan, tendangan, dan cakaran Jaejoong.
Bak! Bik! Buk!
"Anjrit! Jangan ngambil duit itu, brengsek!" teriak Jaejoong yang kasak-kusuk meloncat-loncat ke atas tubuh Yunho untuk mengambil dompet yang dijauhkan—sejauh mungkin oleh Yunho. Akibat dari pergulatan tersebut, kaos yang dikenakan Yunho terangkat, tertarik-tarik, sehingga memperlihatkan setengah tubuh Yunho yang wow! Sixpack!
"Bahasanya dijaga ABG!" Yunho bertambah usil. Tidak peduli tubuhnya yang mulai lebam-lebam atau luka-luka karena Jaejoong, yang penting ia puas buat mainin nih anak SMA. What on earth? Anak di depannya sudah bikin dia menjadi masochist.
Cklek…
Suara hening sesaat.
Jaejoong yang sedang dalam posisi menarik-narik baju Yunho melihat ke belakang. Sedangkan, Yunho? Bagaimana dengan keadaan Yunho? karena tubuh Yunho yang agak terlihat (karena bajunya terangkat), jadinya dia hanya bisa mematung. Mereka berdua berharap posisi ini tidak akan pernah terlihat di mata pria tua yang baru saja memasuki kamar mandi.
'Ya ampun, lagi seru ya!'batin pria tua tersebut.
"Maaf, silahkan lanjutkan kembali…," kata pria tua yang agak kikuk sambil mengangguk hormat, salah paham. Ia pun menutup pintu kamar mandi kembali (tidak jadi masuk) sambil bergumam, "Aneh sekali, kenapa yang tinggi yang jadi bottom? Oh mungkin si pendek itu agresif uke."
WTF?
"Siapa yang agresif uke?" teriak Jaejoong. "Aku itu normal, bangsat!" Jaejoong pun memandang Yunho yang hanya terkekeh nggak jelas. "Ngapain ketawa?" katanya sambil berjongkok dengan tatapan sinis, prustasi. Sudah muak dengan orang yang di depannya.
Yunho ikutan jongkok, di samping Jaejoong. Wajahnya tampak 'sok' kasihan sama anak SMA di sampingnya. "Aku orangnya berpikiran terbuka, kok. Teman aku seorang gay juga. Jadi, aku nggak akan nganggap kamu aneh. Oh iya, kalau mau curhat kamu bisa hubungi a—"
"Diam! Siapa yang gay? Yang gay itu kamu! Keenakan dipegang-pegang sama tangan virgin ak—
Suara Jaejoong tertahankan. Ia tidak sudi membuka memori buruk yang telah dialaminya bersama cowok di depannya tersebut. "Aissshh, siniin!" Jaejoong pun mengambil dompetnya pada saat Yunho lengah. Ia pun akan beranjak dari toilet. "Sial nih orang, dasar kampret!" ia terus mengutuk orang di belakangnya sambil melangkahkan kaki menuju pintu keluar.
Tring!
Sreeet!
Jaejoong yang sibuk mencak-mencak dan melangkah menuju pintu keluar langsung membalikan tubuhnya dan menangkap logam yang terjatuh di belakangnya.
Yunho kembali tertawa, malah tambah keras kayak orang gila nemuin mainan. Baru kali ini dia melihat seseorang yang begitu agresif akan uang. Menarik sekali anak di depannya ini. "Waw! Kecepatan menakjubkan!" Yunho bertepuk tangan. "Bravo, bravo!"
Jaejoong pun tersenyum bangga. Ia melipat kedua tangannya, dengan dagu yang mengadah ke atas. "Makas—," Jaejoong terdiam. Tidak melanjutkan perkataannya. "Eh sialan! Kenapa aku jadi bilang makasih sama kamu?" teriak dia sambil meng-glare si mahasiswa edan di depannya. Kalau bukan karena orang di depannya kaya, dia pasti sudah menendang tuh orang ke langit ke tujuh. Berhubung dia berpenampilan kaya aja jadinya si Jaejoong malas nyari masalah! Gimana coba kalau dia tuh anak pejabat? Bisa-bisa Jaejoong menetap di penjara seumur hidup karena tindakan kekerasan pada seorang mahasiswa yang nggak jelas ini!
Yunho kali ini menahan rasa sakit di perutnya karena terlalu banyak tertawa. Tampaknya cacing-cacing di dalam perutnya pun mulai ikut tertawa ketika merasakan orang lucu berdiri di hadapan mereka. "Kamu tuh bawel ya? Nggak nyangka aja anak SMA bisa kerja di sini. Oh iya, lihat dari seragamnya kayaknya kamu itu ade angkatan aku deh… Tapi kok kamu—"
Shit!
'Ngapain juga sih ini orang jadi alumni SMA aku?' Jaejoong mendumel tidak jelas. "Itu bukan urusanmu!" Jaejoong menjadi emosi mendapati orang di depannya ini ternyata pintar, teliti, namun calon penghuni rumah sakit jiwa. 'Nggak bisa apa ini orang berhenti ketawa-ketiwi?'
"Oh… kamu kerja diam-diam? Ih kamu tuh anak SMA yang mesum, gay, plus nakal, ya?" Yunho memasang wajah prihatin. Berpura-pura sedih atas moral jelek anak bangsa jaman sekarang. Padahal sih dia tahu aja kalau anak di depannya melakukan apa yang dia bilang itu pasti karena tidak disengaja. Mana mungkin sih ada orang yang melakukan hal tidak-tidak di depan orang banyak? Kecuali orang itu punya mental baja. Dan kalau dilihat dari sikap anak di depannya, kayaknya nggak ada mental bajanya deh. Mental platinum sih iya! Punya nyali tetapi nggak sejauh itu. Namun… untuk masalah pekerjaan… mhm… mungkin ini anak lagi kelilit hutang, atau dia kerja buat ngelem (mabok pake lem)? Wiw, nggak mungkin! Lihat dari naifnya (walaupun galak) nggak ada deh wajah suka ngelemnya.
"Chk, jangan sembarangan bicara! Aku tuh nggak gay, mesum plus nakal ya! Aku kerja di sini buat satu hal!" kata Jaejoong sambil mendengus. 'Kenapa juga aku mesti balas perkataan orang ini,' batinnya. "Aku cabut! Tangan tuh bersihin, jangan urusin orang melulu!" Jaejoong bergidik ngeri, mengingat orang di depannya belum cuci tangan. Mana tadi dia tarung terus dompetnya dipegang-pegang sama tangan kotor itu lagi!
Mahasiswa jurusan arsitektur tersebut pun menatap kedua tangannya. "Oh iya, sabunnya mana?" tanyanya. Ia pun merasa ngeri kalau makan tanpa cuci tangan memakai sabun. Kere-kere juga tapi dia tuh mantan pangeran di kediamannya yang dulu. Jung gitu loh!
Jaejoong mengangkat kedua bahunya. "Tau. Aku 'kan baru pertama kali kerja di sini," jawabnya, santai. 'Rasain tuh! Makan nggak cuci tangan. Sakit perut, sakit perut deh!' batinnya yang mulai kesurupan iblis.
Yunho hanya menatap datar. Memandang Jaejoong layaknya bocah SMA yang mau coba-coba ngalahin sesepuh anak ternakal di SMA TOHO. 'Buaya di kadalin,' batinnya. "Oh, ya sudah… aku akan bilang sama manager di sini kalau kamu tuh anak SMA dari SMA TO—
"Iya! Aku cariin!" Jaejoong langsung berseru. Nyelonong ke arah pintu ke luar tanpa embel-embel lagi. 'Dasar brengsek nih orang. Kalau nanti aku sudah kaya, aku buat dia makan air kobokan!' Jaejoong pun tertawa sendiri, membayangkan Yunho meminum air kobokan. Mampus sana! Aihhh… rupanya Jaejoong sudah ketularan mahasiswa kere namun bergaya keren itu. Suka ngehayal sendiri!
Satu menit kemudian.
Di saat Jaejoong sudah menghilang dari pandangan dan masih belum kembali, hape Yunho pun berbunyi. Yunho menekan tombol hijau yang terdapat di layar hape ber-merk pineappletersebut (nama merk hape Yunho sebenarnya disamarkan).
"Hallo, selamat sore menjelang malam appa…"
"Son, bukan seperti ini karya yang appa inginkan darimu!" tiba-tiba Jung Minho yang merupakan appa dari Yunho berteriak tidak jelas. Membuat Yunho harus sedikit menjauhkan hape-nya dari telinga. 'Apa lagi ini?' batin Yunho.
"Maksudmu, bab pendahuluan aku gagal lagi?" Yunho menghela napas. Appanya memang sangat perfectionist. Dia adalah pembisnis, dosen, sekaligus orang terpenting di dalam pemerintahan. Tadinya, Yunho nggak mau ngebuat appanya menjadi dosen pembimbingnya, tetapi appanya maksa! Katanya sih supaya Yunho lulus dengan nilai yang terbaik dan memuaskan bagi keluarga. Tetapi, hal tersebut sangatlah menyebalkan. Bayangin! Baru aja ngegambar garis sudah dibilang salah, padahal appanya aja yang nggak pake kaca mata waktu ngelihat gambar dia. Jadinya, matanya yang silindris ngelihat tuh garis kayak bengkok-bengkok gitu.
"Iya… Appa sudah bilang 'kan? Ingin rancangan gambar kamu tuh berbeda dari arsitek-arsitek lainnya… Sekali orang lihat desain-nya pasti akan mengingatkan suatu kenangan pada gambar itu!" kata Minho, yang kayaknya dipandang Yunho lebay banget. 'Mana ada gambar teknik yang kayak gitu? kalau lukisan sih iya!' batin plus dosen yang aneh!
"Terus mau appa gimana? Coba jelaskan detail-nya!" tanya Yunho, dengan nada sesopan mungkin. Nggak mau kelihatan kesal di depan appanya. Gengsi dong seorang Yunho kalah dari seorang kakek-kakek!
"Pokoknya gitu… Kamu desain lagi yang benar! Appa pingin yang ada taste gitu. Sehingga kalau orang melihat, langsung tahu ini desain rumah khas-nya kamu!" kata Minho yang 'sok' susah menjelaskan. Padahal sih dia sebenarnya 'malas' menjelaskan. Dia pingin anak-anaknya tumbuh mandiri, tanpa banyak bantuan dari orang tuanya. Cmiww!
Yunho mengangkat sebelah alisnya. 'Aku benci, Appa!' Ingin sekali Yunho berteriak seperti itu. Mirip kisah-kisah seorang anak yang orang tuanya menyebalkan gitu! Tetapi, dia adalah seorang Jung. Masa teriak gitu? Yang ada dia malah dicap bodoh dan tidak mampu oleh appanya. Hah… Sudahlah… "Baik, aku usahakan…," jawab Yunho sambil bersikap acuh tak acuh. Berlagak tetap cool di telepon padahal mukanya sudah asem banget.
"Mhm… bagus… bagus… Kalau gitu selamat malam, son!" Minho pun memutus pembicaraan dengan Yunho. Sangat senang anaknya masih mau berusaha padahal hasil kerjaannya sudah dia tolak selama berkali-kali. Gimana nggak asem coba?
Lalu…
Yunho menatap layar hape-nya. 'Hah… Bergadang lagi,' batin Yunho sambil menggelengkan kepala. 'Dasar appa stoic!' batinnya.
~####~
"Oh… jadi anda akan membawa salah satu dari kami jika pendapatan keluarga kami berada di bawah batas rata-rata penghasilan penduduk Seoul?"
Eunhyuk mengangguk ngerti, sedangkan Boa sudah mulai memasang ekspresi sedih, berlagak nangis kayak aktor di pursuit happiness. Takut dipisahkan oleh salah satu keluarganya. Mereka kan sudah hidup senang, kenapa harus dipisahkan? Meskipun miskin buktinya mereka masih bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, bahkan mereka masih bisa bersekolah layaknya anak-anak kaya lainnya. Terkadang orang-orang suka salah menafsirkan bentuk perhatiannya. Mereka pikir memisahkan Choi bersaudara adalah jalan terbaik? Tentu saja tidak! Tetapi… mereka akan menjadi hal tersebut sebagai cara untuk mengatasi kemiskinan. Mereka harus bisa membuat Yoochun memasuki salah satu organisasi yang berada di bawah naungan Negara dan membawa keluarga mereka ke dalam kemasyhuran, alias ngambil kekayaan yang dikasih oleh pemerintah! Ide bagus nggak? (Author berlebihan).
"Ah, kalau begitu silahkan ambil Yoochun!"
Eunhyuk menjawab santai, sedangkan Changmin hanya cengo—tidak percaya keluarga ini cepat sekali mengambil keputusan, dan Boa hanya menutup wajahnya dengan memakai kedua telapak tangannya—untuk menahan tawa (tetapi, Changmin menyangkanya sih sang kakak cewek menangis sejadi-jadinya karena akan kehilangan sang adik terkecil).
"Aku tidak mau pergi… Aku ingin selalu bersama hyung dan noona…" Yoochun yang baru saja menambal ember berlari ke arah ruang tengah. Memandang hyung dan noonanya (termasuk Changmin) dengan wajah sedih. Matanya memerah, mencoba menahan tangis. "Jangan kasih aku ke lembaga sosial…," lirihnya, sok sedih. Padahal sih dia senang-senang aja mau diambil lembaga sosial. Gimana nggak senang? Hidupnya bakal terus enak, dan dia bakal bisa ngebantu perekonomian kakak-kakaknya dengan cara memberikan sebagian uang atau jaminan yang dikasih Negara. Hohoho, tidak salah dia dilahirkan di tengah-tengah keluarga Choi!
Eunhyuk yang sangat tahu apa yang dipikirkan oleh adik terkecilnya hanya memutar kedua bola matanya. Dia sangat tahu jika Yoochun tuh nggak mungkin nangis cuman gara-gara dibawa ke tempat lembaga sosial gitu. Hal yang bisa ngebuat Yoochun nangis tuh cuman waktu bertengkar sama Jaejoong (masalah barang yang dipake seenaknya sama Jaejoong) atau dimarahin sama Sungmin (soalnya sering ngebuat ribut hal-hal sepele). Bukan oleh hal-hal kayak gini!
"Maaf… tetapi ini demi kebaikan kamu…," Eunhyuk memandang Yoochun. "Kau jagalah dirimu baik-baik," Eunhyuk beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Yoochun. Memeluk Yoochun dengan erat. "Teruskan acting-nya, kita tidak boleh kehilangan kesempatan emas ini, Chunnie!" bisik Eunhyuk, sehingga yang bisa mendengar hanya dirinya dan Yoochun.
"Iya, iya… kalem hyung!" Yoochun menganggukan kepalanya. Mengerti apa yang harus dia lakukan. "Aku nggak mau!" Yoochun pun mendramatisir keadaan. Harus terlihat takut dipisahkan, sehingga orang yang dikirim oleh lembaga sosial makin penasaran dan semakin ingin ngambil Yoochun dari keluarga miskin ini (sistem tarik-ulur). "Jangan perlakukan aku seperti ini. Aku memang anak kecil, tapi aku sangat menyayangi kalian… Tolong jangan pisahkan aku dengan keluarga ini…," Yoochun pun menangis, tampak tidak memberikan Changmin celah untuk melihat dirinya sedang ber-acting.
"Sabar ya adik ku…," lirih Eunhyuk sambil nangis nggak jelas.
"Hyung…!" meweknya si Yoochun makin parah. Sudah kayak setingkat pemeran-pemeran film yang dapat movie awards di Amerika aja.
Krik… Krik… Krik…
Eunhyuk dan Yoochun pun berhenti berpelukkan. Mereka menatap Changmin yang sedari tadi diam aja, nggak komentar sama sekali.
Beberapa saat kemudian.
"Aku terharu…," Changmin memandang Yoochun dan Eunhyuk sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. Entah karena orang ini lemot (lemah otak) atau apa, sehingga dia baru menyadari ada drama ber-genre angst di depannya. "Tidak percaya akan ada keluarga sehebat ini! Saling melindungi dan penuh keikhlasan," Changmin pun mendekatkan dirinya pada Yoochun dan Eunhyuk. "Kalian anak-anak yang baik, pasti aku akan melindungi kalian!" Changmin mengelus kepala kedua anak yang sedang cengo tersebut. "Aku jadi sayang kalian."
Eh? Maksudnya?
"Ma-maksudnya apa?" Eunhyuk sudah salah langkah. Rencana untuk membuat Changmin makin gencar buat memisahkan mereka ternyata gagal karena dugaan mereka salah! Pria berjas di depan mereka adalah pria baik-baik yang mudah tersentuh hatinya. Pria penyuka cerita drama queen gitu malah diajak ber-angst ria! Gimana sih ini anak?
Boa menghapus air mata buatannya. Ia pun memandang kedua saudaranya dengan sebal. 'Ah, mereka acting-nya berlebihan banget sih! Jadinya gini 'kan? Kebanyakan minjem plus nonton sinema India sih,' batin Boa.
Changmin tidak ambil pusing lagi. Ia sudah memutuskan apa yang harus dia lakukan pada keluarga miskin ini. "Kalian akan aku usahakan untuk tetap bersama, percayalah itu!" Changmin pun memeluk kedua anak yang sekarang lagi mangap-mangap nggak jelas, kayak ikan dijauhin dari air. "Kalian senang 'kan?"
Eunhyuk dan Yoochun pun pasrah mengangguk. "Iya,go-gomawo," jawab mereka, bersamaan. 'Aisssh, gagal total rencana kita!' teriak batin Eunhyuk.
Bagaimana dong?
Sambil dipeluk oleh Changmin, Yoochun dan Eunhyuk pun saling pandang. Kali ini benar-benar ingin menangis karena kesempatan yang ditunggu oleh mereka hilang begitu saja!
~####~
"Kerjakan soal yang ini! Jangan hanya menatap diriku!"
Kyuhyun langsung meng-glare guru menyebalkan di sebelahnya ini. Ternyata, essay-nya yang cuman harus ditulis tangan malah lebih merepotkan dari yang dia kira. Dia bukanlah mengerjakan essay biasa! Tetapi essay yang sudah tertata rapih, dan begitu terstruktur akan paragraf-paragrafnya. Maksudnya terstruktur di sini adalah setiap apa yang dia tulis haruslah berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang Sungmin berikan. Contohnya saja sebagai berikut.
Pertanyaan 1. Sebutkan alasan kenapa manusia menjadi seorang gay?
Kyuhyun hanya memasang wajah datar ketika membaca soal tersebut. Jawaban ini sih sudah pasti bagi Kyuhyun. 'Karena ada Sungmin di dunia ini,' batinnya, yang sudah nggak cukup waras kalau dia nulis hal tersebut. Jadinya, Jung bungsu tersebut cuman nulis.'Karena adanya kenyamanan atau kelebihan yang dia dapatkan ketika menjadi seorang gay. Contohnya: Perasaan yang nyaman, dan aman.. etc.. dan lain-lain.. bla-bla…'
Hingga pertanyaan kedua pun akan dikerjakannya.
Pertanyaan 2. Berapa persen menurutmu seseorang akan menjadi seorang gay?
Nyaris saja Kyuhyun menuliskan: 'Seratus persen jika laki-laki tersebut melihat kamu, Sungmin seonsaengnim!' Tetapi dia cepat-cepat tersadar, dan insaf. Lalu diapun hanya menuliskan. 'Setengah-setengah… Tergantung manusia tersebut lebih menikmati hidupnya bersama seorang pria atau wanita, maka persenan tersebut akan berjalan sesuai dengan waktu.' Kyuhyun pun mulai asik mengarang indah hingga pertanyaan-pertanyaan tersebut terus berlanjut, dan Kyuhyun terus menjawabnya dengan tulisan-tulisan yang panjang dan rapih. Tetapi, kepintaran dia dalam hal mengarang berhenti ketika Jung bungsu tersebut mendapati pertanyaan terakhir, yaitu pertanyaan ke 70.
Pertanyaan 70. Apa kau seorang Gay?
Deg! Kyuhyun terkejut dengan pertanyaan tersebut. Ia tidak berani menjawab pertanyaan tersebut karena dia adalah seseorang yang mencintai Sungmin, dan hanya mencintai Sungmin. Jika seseorang mencintai Sungmin yang seorang pria bukan berarti dia adalah seorang gay! Kenapa? Karena dia hanya mencintai Sungmin, bukan mencintai pria. Jadi, dia bukanlah gay. Dia hanyalah seseorang yang mencintai Sungmin. 'Sialan!'' batin Kyuhyun yang ekspresi mukanya sudah mulai nggak yakin dengan apa yang dia pikirkan. Dan memaksa Author untuk meyakinireader jika dia tidaklah gay.
"Pertanyaan apa ini?" akhirnya Kyuhyun angkat bicara sambil menunjuk pertanyaan nomor 70 dengan jari telunjuknya.
Sungmin hanya tersenyum simpul. Niatnya untuk memberikan pelajaran pada Kyuhyun ternyata membuahkan hasil. Rupanya Jung bungsu tersebut terusik dengan pertanyaan terakhir."Just for fun!" jawabnya dengan mata yang terus menatap wajah Kyuhyun. Mencoba beradu aura. Auranya yang seperti malaikat dengan aura Kyuhyun yang seperti iblis.
Kyuhyun mengangguk mengerti. Paham apa yang sedang dipikirkan oleh seonsaengnim di depannya ini. "Oh, cuman bersenang-senang? Bagaimana jika kita melakukan kesenangan yang lain? Mungkin saja dengan cara aku menggoda dirimu?"
Mhm?
Sungmin mengangkat sebelah alisnya. "Kau mau menggodaku?" tanyanya, tidak yakin. "Memang bisa?"
Kyuhyun pun tersenyum sinis. "Jadi, menurutmu itu hanya omong kosong jika aku bisa menggodamu?" Kyuhyun pun mulai melonggarkan dasinya. Ia beranjak dari kursi dan berjalan mendekati Sungmin. "Kau tidak akan bisa lepas dariku jika sudah ada di genggamanku, Sungmin seonsaengnim!" Kyuhyun pun membisikan kata-kata tersebut di telinga Sungmin, dan hanya dibalas oleh sebuah dengusan kecil oleh Sungmin.
"Kerjakan soalnya atau aku yang menuliskan jika kau memang seorang yang tidak normal," Sungmin memandang mata tajam di depannya dengan berani ketika hanya mendapati tatapan dingin Kyuhyun.
Chk!
Kyuhyun menggertakan giginya. 'Benar-benar ya, dia itu menantangku? Untung dia seorang guru,' batinnya. Ia pun akan kembali ke kursi ketika Sungmin berdiri dari kursi, dan menarik dirinya. Kini wajah mereka pun hanya berjarak beberapa senti, dan hidung mereka pun nyaris bersentuhan.
Glek!
Kyuhyun menelan ludah, baru kali ini menatap wajah Sungmin dari dekat. Sedangkan Sungmin hanya tersenyum sinis. "Sejauh mana kau bisa menjadi seorang bastard, Jung?" Sungmin pun makin memperdekat jaraknya, dan kali ini hidung mereka sudah bersentuhan. "Apa ego mu cukup besar untuk adu nyali denganku?"
Kyuhyun menatap mata hitam di depannya lekat-lekat. "Jangan pernah bersikap seperti seorang seme, Sungmin seonsaengnim! Di dalam kamusku tidak pernah ada orang yang bisa menguasaiku!" Kyuhyun pun semakin memperdekat jarak antara mereka, dan hembusan napas mereka pun sudah mulai terasa di masing-masing wajah lawannya. Bahkan, hanya dalam gerakan kecil, bibir mereka pun bisa saling bersentuhan.
"Siapa yang mencoba menjadi seme, uke? Informasi saja, aku bukanlah seorang gay." sindir Sungmin, dan membuat Kyuhyun langsung kehilangan akal sehatnya. Ia langsung menempelkan bibirnya pada bibir Sungmin. Menghisap bibir sang guru dengan penuh emosi. 'Uke? Hah? Kita lihat siapa yang pantas menyandang gelar tersebut?' batin Kyuhyun, sedangkan mata mereka hanya saling beradu pandang. Tidak ada satupun yang menutup mata untuk menikmati ciuman—yang sekarang sedang terjadi—karena ego mereka terlalu menguasai diri mereka masing-masing.
Secara perlahan akal sehat Kyuhyun pun mulai kembali. Ia langsung melepas ciuman tersebut dan memandang bibir Sungmin yang memerah karena dihisap cukup keras olehnya di saat tadi berciuman. "Tugas detensi sudah selesai. Untuk bagian terakhir… terserah kau mau menulis apa," Kyuhyun pun beranjak pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan Sungmin sendirian. Wajahnya yang selalu memperlihatkan ekspresi datar kini tampak terlihat galau. Tampak tertekan!
"Ah, Thank you!" Sungmin menjawab santai, tampak tidak terganggu dengan kejadian barusan. "Hati-hati di jalan!" Sungmin pun melambaikan tangannya secara perlahan.
Beberapa saat kemudian.
'Mhm.. sudah pergi ya?'
Setelah Kyuhyun sudah hilang dari hadapannya, bibir Sungmin pun secara perlahan berubah menjadi sebuah senyuman tipis namun licik. 'Sudah aku duga, dialah yang gay!' batinnya. 'Ini belum berakhir, Kyu.'Sungmin pun mengambil pena, dan kertas essay kepunyaan Kyuhyun. Ia pun menuliskan sesuatu pada kertas tersebut.
'Aku bukanlah seorang gay ketika menuliskan kalimat ini.'
Sungmin membaca ulang tulisan yang telah dia isikan pada kertas essay (bagian terakhir)tersebut. "Kata-kata ini sangat cocok dengan sifatmu, Jung!" gumam Sungmin. Setelah itu ia pun tidak tahan untuk tertawa sejadi-jadinya (mengingat ekspresi datar Kyuhyun berubah menjadi galau hanya dalam waktu sekejap). 'Rupanya aku terlalu keras pada dirinya, ya?' batin Sungmin dengan ekspresi wajah tanpa dosa.
Ternyata diantara seluruh keluarga Choi, Sungmin dikenal oleh dongsaengnya sebagai 'ter-devil.' Wajahnya yang selalu tersenyum seperti malaikat, sifatnya yang baik seolah-olah tidak mau mengusik orang di sekelilingnya ternyata hanyalah kamuflase. Kenapa? Karena seluruh sifat aneh/kelebihan yang ada pada dongsaengnya ada pada dirinya dengan pengendalian diri yang sangat tinggi!
WTF?
Bagaimana caranya Kyuhyun jadi seme si Poor Prince?
~TBC~
Yoshh~ Chapter 2 selesai, semoga suka untuk yang satu ini ^^
Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab, ini jawabannya…
Q: Ada berapa chapter chingu? (MPREG Lovers)
A: Untuk yang ini ada 17 chapter, tapi masih ada lanjutan sequelnya. Nah untuk yang itu masih dirahasiakan #plakk XD Tapi kalau mau tau silahkan lihat di akun FFn I don't care about Taz
Q: eh Jae skul nx sma d SMA yg Ming ngajar? (fitriKyuMin)
A: Yapp, nanti akan ada cerita lebih jelasnya lagi
Q: tp ini bakal humor terus kan? gak ada sad ny kan? (rinatya12kmsyjs)
A: humor… eummm… karena ini cerita persaudaraan dengan orang-orang ajaib jadi bakal ada humor terus, walau makin lama ceritanya makin berat tapi masih ada diselingi humor nantinya walau sangat sedikit. Untuk sad, akan ada saat konflik muncul. Tapi kaga sad banget kok, tenang aja
Q: tp bakalan sm critanya ato ada dikit perubahan chingu? (rinatya12kmsyjs)
A: perubahannya ga terlalu banyak, karena aku pengen inti ceritanya benar-benar terjaga. Jadi disini hanya sedikit perubahan karakter tokoh agar nyambung dan sesuai dengan cerita
Aku usahakan ff ini akan diupdate tiap rabu, entah itu subuh, siang, sore, atau malam, pokoknya pantengin aja tiap rabu XD Karena disini aku ga terlalu banyak melakukan perubahan jadi bisa rutin update :D
Terimakasih untuk semua reviewer dan reader yang sudah menyempatkan mampir dan meninggalkan pesan kesannya untuk ff remake ini dan juga dukungannya untuk terus lanjut ^^ #bow
Terimakasih untuk author Taz dan juga Lia Cassiopeia ^^ #bow
Yang penasaran sama cerita aslinya, silahkan kunjungi ff dari author I don't care about Taz – Pangeran Miskin: Versi SasuNaru, ini ff yang asli.
Cha~ cukup sampai disini. Sampai jumpa di chapter selanjutnya 'o')/
