(Remake) Pangeran Miskin: Versi KyuMin - YunJae

.

.

Disclaimer: Ide cerita hanya milik author I don't care about Taz. Semua tokoh disini hanya milik Tuhan, diri mereka sendiri, dan orangtua masing-masing, saya hanya meminjam nama.

.

YAOI, Boy x Boy, typo (s) bertebaran, bahasa sedikit kasar, OOC, GS untuk sesedikit mungkin tokoh.

.

Don't Like Don't Read

.

.

Chapter 3: Dimulainya permainan KyuMin

Yunho memang cocok jadi mahasiswa psikologi ketimbang jadi mahasiswa arsitektur. Kenapa? Soalnya, adiknyanya yang terkenal jutek di lingkungannya aja jauh-jauh datang ke kosannya cuman buat cerita mengenai rasa kesalnya pada guru baru di sekolahnya, dan masalah ketidaknormalannya. Meskipun ceritanya cuman pakai 'nama disamarkan,' tapi Yunho tahu banget kalau itu cerita mengarah banget ke diri adiknya sendiri. Dan, demi kenyamanan (Kyuhyun) lalu sifatnya yang memang tidak mau ikut urusan orang (kalau nggak seru-seru banget) Yunho lebih memilih untuk diam, dan mendengarkan cerita panjang lebar adiknya mengenai 'si A yang merupakan seorang murid SMA, jatuh cinta dengan seorang B yang merupakan guru SMA, padahal si A dan si B itu dua-duanya namja. Terus, si A cintanya bertepuk sebelah tangan, karena si B sepertinya tidak perduli waktu si A ekstrim nyium si B.' Gimana nggak kelihatan kalau itu masalah Kyuhyun coba? Pertama, nggak mungkin seorang Jung mau cape-cape ngurusin orang. Kedua, murid SMA itu kan Kyuhyun sendiri. Ketiga, sejak kapan Kyuhyun punya sahabat yang sampai nasibnya nista gitu? Itulah yang menjadi bahan analisa Yunho sampai saat ini.

"Menurutmu sendiri bagaimana kalau salah satu anggota keluarga kita memiliki keanehan seksualitas? Apa kau masih mau menganggapnya saudara?" tanya Kyuhyun sambil memandang hyungnya lekat-lekat. Sedangkan Yunho lagi sibuk motongin daun-daunan buat maketnya yang baru.

"Mungkin," jawab Yunho, singkat. Dia sudah cape banget menanggapi hal-hal beginian. Seluruh orang di sekitarnya tuh nggak ada yang nggak gay apa? Dari sobatnya sampai adiknya sendiri ngalamin hal yang sama. Apa mungkin suatu ketika dia juga bakalan jadi seperti sobat atau adiknya? 'Amit-amit,' batin Yunho.

"Mungkin? Kok pake mungkin?" tanya Kyuhyun yang masih kerasan tinggal di dalam ini kosan yang sebenarnya sih nggak layak dibilang kosan. Kenapa? Soalnya ini kosan sudah seperti rumah mewah aja. Seluruh fasilitas dapur, kamar ber-AC, ruang tamu, sampai kamar mandi yang ada bathtub-nya ada tuh di kosan. Lalu kenapa Yunho masih nggak punya uang? Yah, ini adalah bukti walaupun orang tuanya menikah sudah bertahun-tahun tetap aja masih belum sinkron pikirannya. Taemin yang sayang banget sama Yunho pingin tetap Yunho hidup berfasilitas mewah walaupun Minho selalu menganjurkan anak-anaknya untuk berhemat (terlebih Yunho) dalam menjalani hidup. Alhasil, fasilitas dapat yang oke banget, tapi uang saku cuman dapat seadanya (soalnya Minho yang satu-satunya kerja di keluarga Jung ngotot banget Yunho nggak boleh punya uang saku lebih, dan Taemin diancam kalau masih ngotot mau ngasih uang lebih, Kyuhyun juga bakalan punya nasib sama seperti hyungnya). Tetapi, Yunho sih santai aja nanggepinnya. Dia bisa terus melakukan penghematan (sehemat mungkin) kalau misalnya Donghae nggak pernah ada dikehidupannya. Catat sekali lagi! Kalau Donghae nggak pernah ada dikehidupan Yunho. Jadi, intinya sih si Yunho nggak santai, soalnya sohib terdekatnya itu kan si Donghae yang sudah bisa dibilang seperti kembar siamnya. Dan kebanyakan orang (sampai saudara Donghae sendiri) mengatakan dimana ada Yunho disitu ada Donghae! Oke, pasangan YunHae banget nggak sih?

"Yah, aku kan belum pernah nyobain gimana punya saudara nggak normal. Jadi, gimana mau tahu jawaban apa yang kamu tanyakan, Kyu," Yunho meletakkan cutter (alat yang digunakan untuk memotong-motong bahan maket) di atas meja. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang sedari tadi digunakan untuk membuat maket hingga waktu menunjukan pukul 03.00 dini hari. "Oh iya, atau kamu mau bersedia menjadi model anak SMA tersebut, lalu membuat aku mengetahui bagaimana rasanya punya saudara seperti itu?" Yunho menatap Kyuhyun dengan senyuman setan. Ia terkadang ingin menanamkan pada adiknya itu istilah: 'Nggak selamanya Jung Yunho itu sayang adik.' "Jika mau, silahkan! Dengan senang hati aku akan belajar dari pengalaman tersebut."

Oh iya, berbicara tentang kekejaman dan kebaikan, Yunho itu sudah seimbang banget, 50 persen Yunho tuh bisa manis atau so sweet banget sama orang. Contohnya aja sekarang, dia buatin dan nyuguhin kopi yang cuman cukup buat satu mug ke adiknya (padahal dia yang perlu banget tuh kopi, soalnya sudah nggak tidur seminggu untuk menyelesaikan tugas). Lalu 50 persen lagi, dia tuh bisa seperti setan banget, apa lagi kalau sudah menyangkut masalah adiknya. Sehelai rambut saja ada seseorang yang menyentuh Kyuhyun, dia bakal buat tuh orang menderita sampai di neraka kalau perlu. Nah lalu bagaimana dengan Sungmin yang ngebuat adiknya bingung dan galau seperti ini? Apa dia masih bisa selamat berhadapan dengan Yunho? Kita lihat saja nanti!

Kyuhyun memutar kedua bola matanya, sebal. Hyungnya ini bercanda atau nggak laganya memang nggak jelas banget. Dia mengatakan semua hal dengan ekspresi wajah datar, tetapi dengan nada suara main-main (sing a song). Dan kalau ditanya sama Kyuhyun: 'Kamu bercanda atau nggak?' Pasti hyungnya cuman ngejawab, 'Menurutmu?' Nyebelin banget nggak sih? "Yang benar saja, aku tidak mungkin seorang gay. Kau ini jangan menghayal," Kyuhyun masih berbohong, nggak mau hyungnya mengejek atau ngecap dia seorang nggak normal.

Yunho yang sekarang lagi ngambil air putih di dispenser, dan membelakangi Kyuhyun cuman bisa senyum mengejek—tanpa diketahui adik semata wayangnya tersebut. "Baguslah kalau begitu. Meskipun aku masih menjawab 'mungkin,' tetapi tetap saja aku tidak berharap saudara ku tidak normal, iya kan Kyu? Kau tidak mungkin mau mempunyai saudara tidak normal, bukan?" Yunho pasti puas banget kalau tadi dia ngelihat wajah Kyuhyun yang sekilas tampak menampakan ekspresi terkejut. Hyung yang aneh.

Deg!

Jantung Kyuhyun nyaris copot. Hyungnya telah memberikan jawaban yang telak banget bagi masalahnya sekarang (meskipun sedikit ambigu dengan kata 'mungkin' tersebut). Rupanya secara tidak langsung Yunho memberikan penjelasan mengenai perasaannya pada 'orang yang mengalami masalah seksualitas seperti Kyuhyun. 'Bagaimana ini? Lanjutin obrolannya atau aku cabut tidur aja?' batin Kyuhyun. Yunho memang seseorang yang pandai memainkan perasaan orang melebihi siapapun! Bahkan seluruh orang di kampusnya (sampai dosen, kecuali appanya) tunduk sama permainan yang selalu dimainkan dia. Ah tidak… Lagi-lagi Kyuhyun harus terikat dengan seorang iblis!

"Iya, tidak mungkin aku mau." jawab Kyuhyun, singkat. Tidak mau terlihat merasa bersalah karena lagi-lagi telah membohongi dirinya sendiri. Dengan kata lain, dia sudah ditahap anak labil yang nggak bisa nerima kenyataan hidup.

Yunho membalikan tubuhnya dan memandang Kyuhyun. "Bagus kalau begitu.. Cepat tidur sana!" Ia memperlihatkan senyuman tipis, penuh dengan pengertian. "Jangan sampai kau terlambat sekolah karena sibuk memikirkan 'si A dan si B' karena menurutku jarang sekali seorang Jung memikirkan orang sejauh itu," Yunho menyindir, membuat Kyuhyun sedikit merinding. 'Apa dia sudah tahu?' batin Kyuhyun. 'Tapi kok dia kayak biasa aja? Ah mungkin dia belum tahu!' Kyuhyun memutuskan beranjak dari karpet dan pergi untuk menghampiri kasur hyungnya.

"Selamat tidur…," kata Yunho sambil menaruh gelas di sebelah maketnya lalu melihat maketnya yang akan dia selesaikan sekarang juga. 'Mhm… Tampaknya masih ada yang kurang,' batin Yunho sambil memperbaiki pohon-pohonan yang miring di atas maket karena lemnya kurang.

"Hm," Kyuhyun pun bergumam, membenamkan wajahnya ke bantal. Rasa kantuknya secara perlahan sudah mulai menguasai tubuhnya, dan membawanya hingga ke alam mimpi. 'Melupakan Sungmin sejenak tampaknya ada baiknya..,' batinnya. 'Sampai jumpa di alam mimpi Sungmin-se—'

BRAK!

"Yunho!" Donghae tiba-tiba langsung nyelonong masuk ke dalam kosan yang pintunya belum sempat dikunci sama Yunho. Membuat Kyuhyun yang sempat mau mehampiri pulau mimpi langsung terbangun kembali, dan Yunho harus ekstra menahan amarahnya karena sifat sobatnya yang nggak jelas banget, atau bisa dibilang sifatnya itu mirip banget kayak jelangkung (malah lebih parah dari jelangkung), karena: Datang tidak diundang, tapi kalau pulang minta diantar! Nggak tahu diri banget kan?

"Woi! Ngapain sih ngeganggu orang tidur?" kata Kyuhyun, yang kelihatan banget kalau tuh bocah SMA bukan lah anak yang bisa dibangunin gitu aja. Soalnya, langsung ngebentak-bentak nggak jelas waktu tidurnya keganggu dikit aja. Nggak peduli itu eommanya, appanya, hyungnya, atau siapapun, dia bakal ngebentak dan ngejutekin tuh orang sampai tiga menit kalau ngeganggu kenyamanan tidurnya.

"Oh ada dongsaeng kamu ya?" Donghae cuman ber 'oh' ria, terus ngeloyor pergi ke arah Yunho. "Yun, anterin aku sekarang! Aku sudah memutuskan sesuatu," kata Donghae dengan wajah penuh keseriusan, membuat Jung sulung cuman ngangkat sebelah alisnya sambil berpikir, 'Oh dia bisa mikir ya?' batinnya.

"Memang kamu mau ngapain lagi, Hae?" tanya Yunho. Mata musang itu menatap tajam sahabatnya. "Jangan aneh-aneh, kepalaku lagi nggak kuat nerima cobaan," katanya. Lalu Yunho pun kembali mengerjakan maketnya.

Donghae pun tersenyum senang bin sableng, terlihat banget niat buruknya. "Tenang, pasti nggak akan aneh-aneh kok!" katanya sambil berusaha meyakinkan Yunho. Padahal yang lagi diyakinin cuman ngangguk-ngangguk nggak jelas. Nggak peduli lagi apa yang temannya rencanakan. 'Omong kosong banget nggak aneh-aneh,' batin Yunho.

"Ayo! Ikut aku," Donghae maksa sambil narik-narik tangan Yunho. Sedangkan Kyuhyun yang sedang duduk di pinggir kasur—sambil memasang ekspresi ngantuk—cuman bisa cengo mandangin pasangan YunHae yang berubah jadi HaeYun.

"Nggak ah! Aku masih harus ngerjain ini maket," kata Yunho sambil ngelepasin tangannya dari genggaman Donghae. "Lagian aku juga belum tidur, jadi lemas banget," Yunho cepat-cepat masang ekspresi wajah lemas, takut sekali lagi ditarik oleh sohibnya.

"A-ah! Ayo ih!" Donghae masih ngotot dan kembali narik tangan Yunho. "Kamu cuman anterin aku ke rumah Eunhyuk aja! Aku tuh minta tolong soalnya takut nanti aku kenapa-kenapa kalau datang kesana sendiri."

Yunho megelengkan kepalanya. "Nggak ah!" ia pun memandang Donghae. "Memang kalau kesana sendiri kenapa sih?"

Donghae tersenyum nista. Ucapan teman-teman cewek maupun cowoknya mengenai keluarga Eunhyuk masih berbekas di memori-memori terdalamnya. Katanya sih, dahulu banyak sekali yang naksir terang-terangan sama Eunhyuk, sampai-sampai ada beberapa orang yang coba datang ke rumahnya. Tetapi anehnya waktu pulang keadaan orang-orang tersebut lebam-lebam, luka-luka dan sampai ada juga yang masuk ke rumah sakit umum maupun rumah sakit jiwa karena tekanan mental. Nah! Karena masalah itu dia memilih Yunho buat ikut sama dirinya, siapa tahu Yunho yang jago banget bela dirinya berguna banget buat ngatasin masalah yang akan dibawakan oleh keluarga Eunhyuk (istilahnya: jadi bodyguard Donghae). Yah, meskipun ini nggak adil buat Yunho yang memang naif dan nggak tahu apa yang bakalan terjadi sama dia, tetapi demi cinta apa sih yang nggak? Asik… Donghae gitu loh. Demi cinta, sobat pun jadi korban.

Maaf ya Yunho!

"Ah, nggak apa-apa cuman nggak enak aja bertamunya kalau sendiri. Tolong ya, Bro!" Donghae memasang pose memohon dengan menaruh kedua tangan di depan wajahnya. "Iya? Iya?" Donghae menutup matanya dengan erat, menanti jawaban sahabatnya.

Yunho mengerutkan keningnya, sedangkan Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya. 'Nggak beres nih orang,' batin Kyuhyun. 'Pasti ada apa-apanya nih sama keluarga kecengannya.'

"Oh gitu… Ya sudah kalau gitu, tunggu ya sebentar. Aku siap-siap dulu, sekalian aja aku ke kampus kalau gitu." Yunho beranjak dari karpet, lalu memandang Kyuhyun. "Kyu, nanti anterin hyung sama Donghae hyung ke rumah temannya dia ya? Nggak apa-apa 'kan kamu langsung ke sekolah terus kurang tidur?" tanya Yunho dengan ekspresi wajah yang lebih terkesan memerintah dari pada meminta.

Kyuhyun pun memutar kedua bola matanya. "Terserah," jawabnya, terus ia pun kembali tidur-tiduran di atas kasur hyungnya. 'Kali ini kayaknya hyung bakalan ketiban sial, deh,' batinnya. 'Hahahaha, pengen lihat ah apa yang terjadi sama kedua orang mahasiswa gila ini!' Kyuhyun pun tersenyum iblis tanpa diketahui kedua orang di terdekatnya.

Donghae memandang kedua orang Jung secara bergiliran (sambil mendengarkan perkataan mereka) dan langsung tersenyum senang dengan penuh suka-cita. "Terima kasih Yunho, dan mhm… dongsaengnya Yunho!" serunya. "Jung memang yang terbaik!" ia tertawa lebih keras meskipun perasaannya sih nggak enak banget telah melibatkan dua orang yang nggak bersalah sama sekali. 'Sekali lagi maaf ya Yun! Oh iya, ditambah dongsaengnya Yunho!' batinnya yang sudah benar-benar nggak punya solidaritas pada kedua makhluk Jung.

"Ya… yaa…" jawab kedua Jung, secara bersamaan. 'Mudah-mudahan orang ini tidak bertindak idiot,' batin Yunho. 'Kalau tidak, aku bisa mati gila karena orang ini sebelum mati gila karena tugas skripsi!'

~####~

Boa lagi sibuk menyiram bunga-bunga yang dia tanam di depan rumah. Wajahnya senang banget soalnya sebentar lagi dia akan panen dan menghasilkan uang banyak dengan menjual bunga mahal ini. Sebenarnya sih ini bunga dia dapetkan dari Jonghyun yang waktu itu pergi ke Belanda dan membawa oleh-oleh bibit bunga. Karena katanya bunga ini langka dan digandrungi para pedagang bunga, jadi dengan senang hati Boa merawat tuh bunga sampai tumbuh besar. Lagian, dari pada nunggu Eunhyuk yang sekarang dapat tugas yang nyiapin makan pagi atau ikutan Yoochun dan Jaejoong yang lagi di atas genteng rumah buat ngintip siaran tv di rumah tetangga, mendingan dia sibuk 'nabung duit' di halaman.

"Permisi," seorang pria asing berdiri kini di belakang Boa. Sehingga, anak perempuan satu-satunya dari keluarga Choi itu pun sedikit terkejut. Lalu ia membalikkan badan untuk memandang tamu yang menyapanya.

"Siapa ya?" Boa dengan wajah terheran-heran memandang tamu ganteng di depannya.

Pria asing yang merupakan Donghae itu pun tersenyum ramah. "Oh iya, perkenalkan, saya Donghae. Saya temannya Eunhyuk. Eunhyuknya ada?"

Boa pun memandang Donghae dari ujung kaki sampai ujung rambut. 'Orang kaya bukan sih? Wajahnya kaya tapi kok dandanannya biasa?' batin Boa yang sama aja seperti Jaejoong, suka menilai orang dari barang-barangnya. Lalu Boa pun fokus kembali pada topik permasalahan. "Ada perlu apa?" tanyanya, yang sebenarnya sih dia cuman pingin tahu aja, kok bisa ada orang pagi-pagi buta gini bertamu ke rumah orang lain? Siapa tahu aja nih orang mau ngerampok bunganya, atau mau nyulik dia. Miskin-miskin gini kan Boa cantik juga, nggak jauh beda sama saudara-saudaranya. Lagian, kalau sampai bunga-bunganya yang mahal dicuri pasti impiannya buat 'makan enak di restoran' hilang semua. Mending kalau dia yang diculik masih bisa makan gratis (dikasih penculik), nah kalau bunganya yang diambil?

"Saya ada perlu dengannya. Bisa saya bertemu dengan dia?" tanya Donghae.

'Kayaknya penting banget deh masalahnya,' batin Boa. Ia pun mengangguk perlahan. "Tunggu sebentar," katanya. Boa pun masuk ke dalam rumah untuk memanggil Eunhyuk tanpa mengetahui masalah apa yang akan terjadi ketika Eunhyuk bertemu dengan Donghae.

~####~

"Rumahnya seriusan yang ini?" tanya Kyuhyun sambil memandang rumah mhm… yah tepatnya gubuk kalau itu yang melihat adalah Kyuhyun. Ia melihat rumah yang papan namanya saja tulisannya sudah pudar, tidak ada pagar, dan kaca-kacannya ditambal di sana sini. 'Miris banget orang yang tinggal di rumah ini,' batinnya.

Yunho yang lagi nyandarin kepalanya ke jendela mobil—di sebelahnya ikutan mandang ke arah rumah tersebut. "Oh, iya kali. Soalnya Donghae kan sudah sering nganter Eunhyuk," katanya. Terus ia melihat Donghae yang masih menunggu di halaman rumah tersebut. "Sepertinya keluarganya biasa aja," kata Yunho, dan ia pun memejamkan matanya.

Kyuhyun melihat ke atas genteng. Lalu dia melihat dua orang yang tampangnya nggak jelas (karena Jaejoong dan Yoochun lagi duduk menyamping) lagi neropong sesuatu. Tepatnya neropong rumah tetangganya. "Kayaknya nggak deh hyung. Ini keluarga cabul kayaknya," komentarnya—yang nggak jelas banget.

Yunho yang lagi mau tidur—sebentar—langsung ngalihin perhatiannya ke arah dimana jari telunjuk Kyuhyun yang sedang menunjuk 'sesuatu.' "Oh iya, ngapain tuh dua orang di atas genteng?" tanya Yunho sambil tersenyum tipis, ngebayangin dua orang gila di atas genteng itu lagi ngintipin orang mandi. "Asik banget ngelihatnya. Sampai ketawa-ketawa gitu," lanjut Yunho tanpa mengetahui kalau si Yoochun dan si Jaejoong lagi asik nonton Sponge Bob.

Kyuhyun mengangkat kedua bahunya. "Tahu, paling bentar lagi mata mereka bintitan," Kyuhyun pun kembali memandang Donghae. "Tuh, orang yang dinanti Donghae hyung sudah keluar," kata Kyuhyun.

Yunho melihat ke arah Donghae. "Oh iya," Yunho langsung fokus pada gerak-gerik sahabatnya. 'Sepertinya aku pernah lihat wajah yang mirip dengan wajah Eunhyuk?' batin Yunho.

Tetapi, lihat di mana ya?

~####~

"Donghae hyung? Ada apa ke sini?" Eunhyuk memandang pria yang tidak pernah berhenti mengejar-ngejarnya itu yang kini berdiri di depannya.

Donghae memijat-mijat leher belakangnya, grogi. Setiap hari ia memang selalu menembak Eunhyuk, tetapi baru kali ini dia menembak Eunhyuk di depan rumahnya sendiri. Bagaimana jika omongan orang-orang mengenai keganasan keluarganya benar? Bagaimana jika akhir-akhirnya ternyata Eunhyuk nggak mau ngobrol sama dia lagi karena malu sama keluarganya? Seluruh pertanyaan tersebut terus terbesit di pikirannya, membuat dia sedikit membatin.

"Ini nggak main-main kayak biasanya, Hyukkie," Donghae memasang wajah serius atau kalau anak-anak jaman sekarang sih sering bilangnya ekspresi nahan 'bo**r' waktu ngomong hal barusan. Terus, kata-kata pricesa-nya juga sudah nggak dia gunakan untuk tambatan hatinya. Istilahnya sih, Donghae sudah grogi stadium akhir banget sampai-sampai kakinya aja bergetar nggak karuan. "Aku ke sini mau menembakmu, meskipun harus berhadapan dengan keluargamu," katanya sok banget, walaupun sih hatinya masih belum ikhlas buat ninggalin dunia dengan banyak dosa.

Mata Eunhyuk membulat secara sekilas. Ia sebenarnya nggak ada perasaan sama orang di depannya, tetapi gimana cara nolaknya? Sudah berkali-kali ditolak masih terus ngejar-ngejar dia. Apa dia harus ngundang keluarganya buat ikut campur ke dalam masalahnya? Kayaknya nggak deh! Keluarganya yang setiap anggota punya sifat superior gitu cuman bisa memperkeruh masalah. 'Bagaimana ini? Aku kan nggak suka dia,' batin Eunhyuk.

Donghae pun memegang kedua tangan Eunhyuk. Ia memandang Eunhyuk lekat-lekat. "Mana keluargamu? Aku akan melamarmu di depan mere—

"Aku di sini!" berlagak seperti superhero, sambil bersandar di tembok (sebelah Eunhyuk dan Donghae) Jaejoong tersenyum sadis. Tangannya terlipat dua di depan dada. Lalu tidak luput dengan bocah ingusan, alias Yoochun yang sedang berdiri di depan Jaejoong sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya. 'Ingin keren seperti hyungnya,' pikir Yoochun. Mereka berdua kebetulan saja baru turun dari genteng (pakai tangga), soalnya harus ke sekolah (bukan karena pingin ikut campur urusan HaeHyuk). Tetapi, karena Donghae nanya-nanya mengenai keluarga Eunhyuk, yah Jaejoong dan Yoochun yang kebetulan ada disitu langsung action.

Donghae dan Jaejoong pun saling bertatapan. Aura Jaejoong kerasa nggak enak banget! Seperti seorang induk singa yang sedang melindungi anaknya. Mulai curiga Donghae mau ngapa-ngapain adiknya. "Tadi kau mau apa, ha?" tanya Jaejoong. Ia pun berjalan, mendekati Donghae. "Mhm… Kalau nggak salah dengar kamu mau ketemu aku?" Jaejoong berkata dengan nada setengah berbisik, namun terkesan rendah dan berbahaya. Sekarang, Jaejoong pun sudah berada tepat di depan Donghae dengan senyuman menghina. Ngeremehin banget wajah orang di depannya yang mirip banget sama anak ikan.

Eunhyuk maju ke antara Jaejoong dan Donghae. Memisahkan kedua orang yang sedang bertatapan sengit tersebut. "Jaejoong hyung tenang. Dia tidak memaksaku, dia cuman ingin mengutarakan perasaannya padaku," kata Eunhyuk, mencoba melindungi Donghae. Ia tidak mau peristiwa-peristiwa sebelumnya (kekerasan yang dilakukan hyungnya pada teman-temannya) kembali terulang.

"Minggir," Jaejoong mengatakan hal tersebut pada Eunhyuk walaupun matanya terus menatap tajam Donghae. "Aku nggak tuli. Aku dengar apa yang dia ucapin sama kamu! Berapa kali dia terus memaksamu untuk menjadi bagian hidupnya?" Jaejoong pun menyingkirkan tubuh Eunhyuk yang mencoba untuk berbicara (tetapi tidak tahu apa yang harus dia katakan pada hyung terprotektif-nya ini).

"Berkali-kali, dan itu akan aku teruskan hingga dia menjadi milik ku," Donghae yang ingin cepat-cepat ke surga mengatakan hal tersebut. Menganggap remeh bocah pendek di depannya yang tampaknya bela diri saja tidak bisa tetapi lagaknya selangit. 'Nah loh? Mau apa pendek?' batin Donghae, bermaksud mengejek 'calon kakak iparnya.'

"Begitu ya?" tanpa pikir panjang Jaejoong langsung melancarkan tinjuannya pada wajah Donghae jika sang penyandang marga Lee itu tidak segera menghindar. Donghae yang menyadari jika orang di depannya ini adalah 'calon kakak iparnya' mengambil keputusan untuk hanya menghindar tanpa melukai Jaejoong. Tetapi dugaannya salah! Calon kakak iparnya ternyata petarung yang sangat hebat. Kecepatan, hingga keakuratannya dalam memukul sangatlah membuat Donghae kewalahan. Dan hanya dalam beberapa gerakan, Donghae pun sudah tersungkur di atas tanah.

"Game over."

Jaejoong tersenyum puas. Ia mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya dan akan menorehkan pisau tersebut pada wajah Donghae. "Kau tahu? Aku paling suka menandai lawan yang sudah kalah dariku," katanya. Ia pun akan membesetkan bagian pisau tajam tersebut pada pipi Donghae yang kini posisinya sedang diduduki Jaejoong.

"Hyung jangan!" teriak Eunhyuk sambil mencoba menyingkirkan tubuh Jaejoong dari atas tubuh Donghae yang sedang meringis kesakitan—karena tadi saat bertarung Jaejoong telah berhasil menendang telak perutnya.

"Hyukkie hyung, Sudahlah! jangan terus membela pecundang," Yoochun yang sama-sama stress seperti Jaejoong pun hanya memandang kedua hyungnya yang sedang bersikukuh untuk membela argument-nya masing-masing.

"Kau menyingkirlah!" seru Jaejoong pada Eunhyuk. Jaejoong pun akan memulai aksi genre gore jadi-jadiannya.

"Aku mohon jangaaan…!" Eunhyuk menutup kedua matanya. Traumanya tentang masa lalu (masa-masa dimana teman-teman yang selalu mendekatinya disakiti oleh Jaejoong) kembali terulang.

Grap!

"Bocah mesum, sebaiknya anak kecil jangan main-main sama benda tajam," Yunho memegang pergelangan tangan Jaejoong dengan erat, dan menarik tubuh Jaejoong dari tubuh Donghae dengan sangat mudah. "Ternyata kau itu benar-benar ganas, ya? Orang cuman mau ngatain cinta aja sampai diperlakukan kayak gini."

Buk!

Jaejoong langsung mengarahkan kakinya ke arah leher Yunho yang segera menahannya dengan lengannya. "Kau temannya si pecundang ini?" tanya Jaejoong yang masih dalam posisi menendang, dan Yunho masih dalam posisi bertahan.

"Pecundang? Aku bukanlah teman mu, bocah mesum!" Yunho tersenyum mengejek, dan langsung menangkap kaki Jaejoong, dan akan membanting Jaejoong ke atas tanah jika Jaejoong tidak segera memutar tubuhnya untuk melepaskan kakinya dari genggaman Yunho.

"Dasar brengsek!" Jaejoong memukul, dan menendang Yunho secara membabi buta (mengingat kekalahannya di kamar mandi restoran). Ia pun menyerang Yunho dengan gerakan cepat, tetapi Yunho hanya menghindar dan berkelit layaknya pendekar-pendekar dunia persilatan. "Namaku bukan brengsek. Perkenalkan, aku Yunho."

Bak! Bik! Buk!

Jaejoong mencoba menendang bagian vital Yunho, tetapi Yunho malah menahan kaki Jaejoong dengan tangannya. "Aku nggak butuh nama kamu bangsat!" Jaejoong yang sudah kesal tahap akhir tidak tahan untuk mengucapkan kata-kata kasar. Sedangkan Yunho cuman mesam-mesem kayak pengantin baru yang lagi di pelaminan. 'Ini mahasiswa edan nggak bisa apa nggak senyam-senyum?' batin Jaejoong.

Grap!

"Kena euy! Donghae, cepat bawa Eunhyuk ke luar dari sini!" teriak Yunho yang langsung mengunci tangan Jaejoong di belakang punggungnya. Membuat Jaejoong sulit berkutik, karena kali ini tenaga Yunho benar-benar dikerahkan sepenuhnya untuk menahan tubuh Jaejoong.

"Iya!" Donghae langsung menarik tangan Eunhyuk yang sedari tadi mencoba mengelap darah di pinggir mulutnya dengan sapu tangan.

A-apa?

Eh?

"Brengsek! Jangan bawa dia!" teriak Jaejoong seperti banteng ngamuk. Sedangkan Yunho hanya bisa tertawa walaupun perutnya sudah sakit, terus-terusan dihajar oleh sikut Jaejoong. "Woi! Lepasin!" teriak Jaejoong yang nggak mau diam walaupun cuman sedetik.

"Lepasin ya? Oh iya, bocah mesum, sebaiknya kau jaga bahasa mu," Yunho pun melemparkan Jaejoong ke atas bunga-bunga kepunyaan Boa. "Dan, Kau harus banyak makan, soalnya kurus banget!" seru Yunho yang sudah nggak kuat buat ngakak sejadi-jadinya melihat tubuh Jaejoong yang terlontar cukup jauh dan akan mengenai permukaan tanah.

"Aaaaaa!" Jaejoong berteriak dengan pasrah, bersiap-siap kalau punggungnya mengenai tanah.

" Jaejoong oppa, selamatkan bunganya! Itu bunga berharga euro!" teriak Boa yang sedari tadi ternyata menonton pertunjukan silat di depannya, nggak ridho kalau bunganya yang sebentar lagi bakalan panen tertimpa tubuh oppanya.

"A-apa?" Yoochun pun terkejut. Dia langsung berlari ke arah bunga tersebut (walaupun pastinya terlambat) untuk menyelamatkan bunga-bunga mahal tersebut.

'Euro?' mata Jaejoong membulat. 'Gawat!'

Kayang.

Dengan gerakan kayang Jaejoong berhasil menyelamatkan bunga yang kini berada di bawah sela-sela pinggangnya. Tubuh Jaejoong sudah sakit banget karena tiba-tiba harus melakukan kayang. 'Pi-pinggang encok!' batin Jaejoong yang sudah nggak jelas gimana keadaan tulang pinggangnya.

Sedangkan Yoochun dan Boa cuman bisa tersenyum senang, mendapati bunga mahal tersebut selamat walaupun kakaknya itu harus menderita sakit pinggang. "Bagus, bagus!" kata kedua adik nggak tahu diri tersebut sambil bertepuk tangan gembira. "Bagus oppa! Pertahankan prestasimu yang barusan!" teriak Boa.

Yunho pun mendekati tubuh Jaejoong lalu memandang Jaejoong dari atas. "Lemah," katanya sambil duduk di perut Jaejoong, dan nyaris membuat Jaejoong hampir berhenti kayang karena berat tubuh Yunho yang sudah diluar jangkauan ketahanan tubuhnya. "Sampai seumur hidup pun kau tidak akan bisa mengalahkan aku bocah mesum, jadi jangan mencoba bersikap arrogantdengan menyentuh sahabatku."

"Jangan menghina hyungku!" teriak Yoochun sambil berlari ke arah Jaejoong. Rasa iba pada hyungnya telah tumbuh karena Jaejoong telah menyelamatkan asset keluarga (alias bunga mahal di taman).

Yunho pun segera berdiri dari tubuh Jaejoong, sehingga Yoochun secara terpaksa harus mendarat di atas tubuh hyungnya. "Appoo…" Yoochun meringis kesakitan di atas tubuh Jaejoong. Lalu ia pun membuka matanya secara perlahan. Memandang wajah kakak keduanya.

Cling!

'Cantik,' Yoochun memandang wajah Jaejoong dari dekat. Deg-deg-deg-deg, jantung Yoochun berdebar kencang. "Hyung~ chuu~" entah apa yang ada diotaknya tiba-tiba Yoochun memanyunkan bibirnya, hendak mencium Jaejoong.

Love me tender~

Love me sweet~

"Woi, ngapain!" teriak Jaejoong yang sudah ngeri karena harus incest-an sama bocah ingusan di atasnya. Mana dia diposisi uke lagi. Kurang nista apa coba nasib si Jaejoong?

"Hahahahahaha," Yunho yang sudah seperti orang kesetanan ketawa sekeras-kerasnya melihat Yoochun yang ternyata anaknya sama-sama kurang waras seperti hyungnya.

Jaejoong pun memandang Yoochun yang masih memanyunkan bibirnya. "Oke sayang, aku tahu kau adik ku. TETAPI MINGGIR DARI TUBUHKU!" teriak Jaejoong yang sudah nggak sabaran sama sifat nggak waras adik terkecilnya. Niban orang lagi dalam kondisi darurat kok malah mau nyium? Dasar sinting!

"Ikutan ah! Hhhyyyaaaaaa!" Yunho pun ikut meniban tubuh Jaejoong dan Yoochun dengan gaya loncat indah. Punya niat dadakan ingin threesome-an sama Choi bersaudara (?)

"Heug!" Jaejoong yang perut dan pinggangnya sudah sakit kuadrat harus bertahan dengan sekuat tenaga, sampai tangannya gemetar untuk menahan kedua tubuh di atasnya. "Euro… Euro…," Jaejoong terus bergumam. Mengucapkan kata-kata tersebut seperti mantra. Menyemangati dirinya yang sudah putus asa karena berat tubuh manusia di atasnya yang sudah keterlaluan.

"Aduhhhh!" Yoochun pun meringis kesakitan. Punggungnya seperti ditimpa king kong. "Hyung yang di atas berat banget. Uhh… Chunnie nggak kuat! Uh… Uh…" Yoochun mendesah error, membuat Boa yang menonton tiga namja yang di dalam posisi nggak enak (banget) sweet drop.

"Anjrit! Kalian itu manusia atau babi sih? Berat banget!" teriak Jaejoong yang masih repot-repot menghina dua orang saraf di atasnya.

"Ma-manusia!" Yoochun yang tubuhnya paling kecil sudah merasa remuk seperti daging sandwich. "Lain kali nggak mau pake posisi sandwich, aku maunya switch aja ah. Nggak enak aku yang di tengah!" Yoochun bergumam nggak jelas, dan membuat kedua orang yang yang menghapitnya berpikiran: 'Ini anak mikirnya kita lagi ngapain sih?'

"Lain kali apanya bego? Nggak ada lain kali!" seru Jaejoong yang matanya sudah nggak bisa lihat jelas soalnya darah sudah mencapai otaknya. 'Ampun mamaaa!' kalau bukan Jaejoong pasti sudah berteriak seperti itu.

Yunho menghentikan tawanya, lalu menggerakan kepalanya untuk memandang Jaejoong. "Hahaha, asik ya main kuda-kudaan," seru Yunho yang sadisnya makin menjadi. Ia pun memberikan seluruh berat tubuhnya kepada kedua orang di bawahnya, dan membuat dua orang di bawahnya meringis kesakitan. "See? Aku itu nggak akan ada yang bisa ngalahin. Apa lagi bocah-bocah seperti kalian!" Yunho pun tersenyum bangga, sambil memandang langit. "Sekarang kalian tahu kan siapa boss dan pecundangnya?"

"Aaaaaa sakittt!" teriak Yoochun dan Jaejoong dengan suara nista. "Yunho bangsat! Aku pasti akan membunuhmu!" teriak Jaejoong yang tidak tahu situasi jika dia sedang terpojok mhm… maksudnya terbawah banget.

"Hahahahahahaha, rupanya kau ingat namaku." Yunho tertawa kembali. Sedangkan Boa lebih milih untuk bersiap-siap ke sekolah, takut terlibat dengan kasus tiban-meniban yang sedang terjadi di atas bunganya.

Jaejoong dan Yoochun memang salah milih lawan dan kawan!

~####~

Kyuhyun yang berada di dalam mobil terkejut karena mendapati rumah yang dipantaunya adalah rumah Choi Jaejoong (yang berarti rumah Choi Sungmin). Lalu Kyuhyun pun lebih terkejut lagi ketika Donghae yang sedari tadi menarik Eunhyuk (yang memberontak) langsung memasukkan Eunhyuk ke dalam mobilnya.

"Kenapa kau harus membawa aku?" teriak Eunhyuk sambil mencoba melepaskan genggaman tangannya dari Donghae. Tidak yakin hyung keduanya kalah begitu saja sama orang yang nggak jelas gitu.

"Kita harus berbicara di tempat tenang baru kita bisa serius membicarakan hubungan kita!" ucap Donghae sambil memegang pundak Eunhyuk, agar terlihat meyakinkan. "Untuk kali ini, aku mohon kau dengarlah aku, dan jika kau memang masih bersikukuh untuk mendapatkan kakakmu, maka kali ini aku akan mundur," seru Donghae dengan wajah serius, dan membuat Eunhyuk terdiam lalu menganggukan kepalanya secara perlahan.

"Mundurlah, karena aku tidak mau melihat peristiwa yang tadi terulang kembali," Eunyhyuk pun memalingkan wajahnya ke jendela, bertopang dagu di sisi jendela dengan perasaan kalut. 'Apa yang sedang terjadi dengan Jaejoonghyung sekarang?' batinnya.

Donghae pun menghela napas. Sebenarnya sih dia merasa kasihan dengan Eunhyuk. Tetapi mau bagaimana lagi, rencana dadakan ini harus berhasil. Kalau tidak? Kasihan kan Kyuhyun dan Yunho yang sudah cape-cape ngebantu dia. "Cepat bawa kita ke suatu tempat Kyu!" seru Donghae.

"Baiklah," tanpa pikir panjang Kyuhyun pun langsung menancap gas mobilnya. Ia melihat kaca spion, dan rupanya guru tercintanya sedang mengejar dirinya (lebih tepatnya Eunhyuk) dengan menggunakan sepeda. 'Kau tampak sexy ketika sedang cemas seperti itu, seonsaengnim!' batin Kyuhyun dengan sebuah smirk menghiasi bibirnya. 'Kejar aku kau kutangkap,' seperti sebuah judul movie yang pernah dilihatnya secara sekilas, Kyuhyun merasa puas dengan hyung dan sahabat hyungnya yang telah melibatkan dirinya dalam aksi kejar-kejaran ini. 'Setampan itu kah diriku sampai kau panik untuk kehilangan diriku?' batin Kyuhyun yang udah narsis stadium akhir.

~####~

"Sial! Kenapa aku harus tidur selelap itu!" seru Sungmin sambil terus memboseh dengan cepat sepeda pinjamannya hingga ia pun berdiri dari jok sepeda tersebut. "Aisssssh… mana mobil mahal lagi yang aku kejar!"

Sungmin yang sudah nyaris tertinggal mobil mewah kepunyaan Kyuhyun langsung memutar otak. 'Aku harus mencari jalan pintas secepat mungkin, dan menyelamatkan Eunhyuk dari penculik-penculik aneh tersebut,' batin Sungmin. Ia pun mengingat Jaejoong yang tampak kewalahan dengan salah satu pemuda yang menyerang dirinya. 'Tampaknya orang-orang ini adalah bukan orang biasa.'

Tunggu!

Sungmin berhenti mengikuti mobil Kyuhyun. 'Lewat sini!' ia pun berbelok ke kanan, memilih jalan pintas dengan melewati gang-gang sepi, tangga, dan taman. Dia bahkan tidak peduli ketika hampir menabrak orang yang berlalu-lalang untuk pergi ke sekolah. Sungmin memang langsung kehilangan akal sehatnya kalau sesuatu telah terjadi pada keluarganya. Dasar, sama saja sifatnya dengan Jaejoong, over protektif!

'Ini saatnya!' seru Sungmin di dalam hati.

Ckitttt!

Sungmin berhenti di tengah jalan besar, pinggir taman secara mendadak—hingga debu-debu yang berada di atas aspal pun berhamburan mengitari sepedannya. Ia Menanti kedatangan mobil Kyuhyun yang sebentar lagi akan datang ke depannya. Sebagai kepala keluarga, ia harus menyelamatkan seluruh keluarganya. Lalu kenapa Jaejoong tidak diselamatkan? Hal itu karena meskipun Jaejoong dalam kesulitan, pasti dia akan baik-baik saja. Berbeda dengan Eunhyuk yang kerap kali lebih lemah terhadap orang-orang di sekelilingnya, Jaejoong cenderung akan terus berusaha untuk bertahan hidup sampai titik darah penghabisan. Sungmin memang sangat mengandalkan Jaejoong!

Ternyata benar. Mobil Kyuhyun pun tiba dan berhenti tepat di depan Sungmin. Kyuhyun pun memandang wajah Sungmin dari dalam mobil. "Kalian urusi urusan kalian di dalam mobil ini. Aku yang akan menghadapinya," kata Kyuhyun, tanpa mengalihkan pandangannya dari Sungmin.

"Hah?" Donghae dan Eunhyuk terkejut dengan perkataan Kyuhyun.

"Dia itu lebih kuat dari Jaejoong hyung, kau tidak bi—

"Urusi urusan kalian!" seru Kyuhyun yang sudah kesal selalu merasa dianggap paling lemah dibandingkan Sungmin. "Aku lah yang menghadapi dia," Kyuhyun pun melepaskan sabuk pengamannya dan segera turun dari mobil. "Jangan menganggap remeh seorang Jung."

Setelah turun dari mobil, Kyuhyun memandang seorang namja di depannya. "Selamat pagi, seonsaengnim!" Kyuhyun pun tersenyum licik, senang mendapati ekspresi terkejut gurunya di pagi hari cerah ini. "Suatu kejutan, bukan? Bisa bertemu denganku di tengah jalan seperti ini?"

Tanpa berbasa-basi Sungmin meletakan sepeda yang digunakannya di pinggir jalan. Lalu ia berjalan ke arah mobil Kyuhyun dan akan membuka pintu mobil tersebut sebelum Kyuhyun menarik tubuhnya. "Kau tidak bisa semudah itu untuk mendapatkan apa yang kau inginkan, bukankah seperti itu Sungmin seonsaengnim?"

"Lepas!" kata Sungmin tanpa membalikkan tubuhnya.

"Hum?" Kyuhyun semakin mempererat genggaman tangannya. "Di sekolah kau memang guruku, tetapi jika di luar kau bukanlah siapa-siapa bagi diriku, Sungmin." tanpa embel-embel kata 'seonsaengnim' Kyuhyun pun langsung membalikan tubuh Sungmin dengan sekuat tenaga dan memandang wajah Sungmin. "Jadi, jangan bersikap bossy pada diriku."

Buk!

Sungmin akan memukul wajah Kyuhyun ketika Kyuhyun menghindar dari pukulan tersebut. "Benar," ia pun tersenyum iblis sambil memandang Kyuhyun. "Aku setuju denganmu, Jung! Aku memang tidak perlu repot-repot menahan tenagaku untuk memukulmu."

"Mhm… rupanya kau berpikiran sama?" Kyuhyun akan menendang Sungmin, tetapi Sungmin berkelit dengan cepat hingga nyaris mobil Kyuhyunlah yang menjadi korban.

Grap!

Sungmin memegang tangan Kyuhyun. "Cukup! Aku hanya ingin adik ku kembali!" seru Sungmin sambil memasang senyum malaikatnya. Ia pun melepaskan tangan Kyuhyun. "Aku tidak ada waktu untuk melayanimu. Waktu sudah menunjukan jam sekolah."

"Ayolah… Apa kau tidak suka bermain-main denganku, Sungmin?" Kyuhyun pun tersenyum tipis—bermaksud menyindir Sungmin. Lalu ia pun menarik pinggang Sungmin dan mengelus pipi Sungmin. "Mau tidak kau menjadi milikku?" wajah Kyuhyun hanya berjarak beberapa senti dari wajah Sungmin. Mereka saling pandang seperti waktu di ruang guru. Tetapi kali ini yang berbeda adalah wajah Sungmin dipenuhi segala macam emosi, marah, cemas, dan kesal. Sedangkan Kyuhyun, memasang ekspresi wajah penuh kemenangan. Totally bastard, he is!

"Chk!" Sungmin akan melepaskan tangan Kyuhyun dari pinggangnya ketika tangannya mengenai lengan Kyuhyun, dan jam tangan Kyuhyun pun terlepas dari tangannya. Secara reflek (karena insting) Sungmin langsung menangkap jam tangan tersebut, dan Kyuhyun yang tersenggol oleh Sungmin kehilangan keseimbangannya hingga jatuh ke dalam pelukan Sungmin.

Mereka pun saling pandang layaknya Romeo dan Juliet. "Oh, Minnie-ah memang benar-benar niat jadi seorang seme?" kata Kyuhyun sambil memandang wajah Sungmin dari bawah (karena tubuhnya sekarang ditopang oleh Sungmin). "Tetapi sayang, uke adalah uke. Apa kau benar-benar belum puas digoda olehku, Minnie-ah?" Ia kembali tersenyum mengejek, dan Kyuhyun mencoba membuat tubuhnya dan tubuh gurunya menjadi kehilangan keseimbangan sehingga mereka berdua pun terjatuh ke atas trotoar, dengan tangan Sungmin yang secara 'kebetulan' melindungi kepala Kyuhyun.

"Appo!" Sungmin meringis kesakitan karena tangannya bergesekan dengan aspal, dan ditekan oleh kepala Kyuhyun.

"Appo? Wajah kesakitanmu semakin membuat aku tertarik. Aku jadi ingin lihat ekspresi kesakitanmu yang lebih dari ini," Kyuhyun menarik kepala Sungmin dan mencium pipi namja itu. "Oh iya, dan jangan lupa untuk mengucapkan selamat pagi pada kekasihmu!"

"Hah?" baru kali ini Sungmin merasa dalam keadaan seperti ini. Didominasi oleh seseorang (terlebih muridnya) tidak akan pernah ada di dalam kamusnya. Tetapi, entah darimana Kyuhyun bisa mendapatkan kekuatan sebesar ini. 'Apakah aku terlalu mendorongnya, hingga keberanian dia tumbuh?' batin Sungmin. 'Jika memang benar dia bisa terang-terangan melawanku, permainan ini semakin menarik Kyu!'

Sungmin menghela napas, berpura-pura tertekan. Kali ini dia akan menggunakan kemampuan acting dan pengendalian dirinya agar Kyuhyun bisa dengan mudah meluapkan emosinya. "Mhm… Kau tidak pantas mencintai seorang guru karena kau hanyalah murid, Kyuhyun. Mau memaksakan diripun tetap kau adalah seorang murid," Sungmin mengelus rambut Kyuhyun. "Jadi, jadilah anak baik-baik," Sungmin pun tersenyum ramah. Senyuman yang selalu diperlihatkannya di depan para muridnya.

Mulut Kyuhyun mangap-mangap, kehabisan kata-kata. Sungmin memang benar-benar brengsek! Ia dengan secepat kilat telah membalikkan keadaan dan membuat dirinyalah yang terpojok. "Aku tidak peduli tentang tetek bengek mengenai guru dan murid! Kau. Adalah. Milikku!" katanya, keras kepala. Tidak perduli siapa Sungmin dan siapa dirinya, yang terpenting Sungmin akan menjadi miliknya. Begitu egoisnya Jung satu ini!

Sungmin menyingkir dari atas tubuh Kyuhyun. Ia membantu Kyuhyun untuk duduk di sebelahnya. "Masa depanmu masih cerah, kau tidaklah pantas untuk mencintai seseorang guru miskin seperti diriku," Sungmin mengelus pundak Kyuhyun, dan Kyuhyun pun langsung menyingkirkan tangan Sungmin. "Kecuali kau memang sudah terlanjur ingin hancur di tanganku," bisik Sungmin.

"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil!" seru Kyuhyun. Ia pun memandang Sungmin dengan tatapan penuh emosi. "Suatu ketika kau akan mengetahui siapa aku sebenarnya! Bahkan jika aku harus melakukan tindakan ekstrim sekalipun," Kyuhyun menyisir rambutnya dengan jari-jarinya, kesal. "Jika kau memang tidak bisa menerimaku saat ini, aku pasti akan memaksamu agar menerimaku suatu saat nanti."

Sungmin menggelengkan kepalanya. "Lalu? Apa yang akan kau lakukan Kyu?"

Kyuhyun mengangkat kedua bahunya. "Whoknows!" ia pun berdiri. Memandang sekeliling. "Kau lihat, apa saja yang Jung dapat lakukan jika dia menginginkan sesuatu!"

Sungmin mengangguk perlahan. "Perlihatkan Jung!" Ia memandang Kyuhyun lekat-lekat. "Dengan senang hati aku akan menontonnya."

Kyuhyun tersenyum, menantang. "SEMUA DENGAR! AKU PROKLAMASIKAN JIKA AKU JUNG KYUHYUN MENCINTAI CHOI SUNGMIN YANG MERUPAKAN SEORANG PRIA, SEKALIGUS GURU DI SMA TOHO!" Kyuhyun berteriak sekeras mungkin, berharap seluruh dunia mendengarkan apa yang sedang dipikirkannya. Tidak peduli dengan seluruh orang yang akan mengecapnya buruk, tidak peduli dengan keluarganya yang akan membencinya. Dia hanya akan memperlihatkan cintanya secara terang-terangan untuk kali ini. 'Maafkan aku hyung, kali ini kau akan mempunyai saudara yang benar-benar tidak normal.'

Sungmin tertawa sejadi-jadinya. 'Mhm… Rupanya anak SMA ini sangat menarik. Bagus juga keberaniannya,' Ia berhenti tertawa. Berdiri, menatap Kyuhyun. "Kau telah memproklamasikan jika bersedia menjadi milik ku atau kau memproklamasikan jika aku adalah milikmu? Mana yang benar Kyu?"

Kyuhyun memutar kedua bola matanya. "Menurutmu saja…"

Hahahahaha!

"Kali ini aku ingin mencoba sejauh mana kau bisa menanggapi sifatku, Kyuhyun." Sungmin—yang berniat memainkan perasaan Kyuhyun —memeluk Kyuhyun dengan erat. "Oh iya, tetapi jika kau tidak bisa membuatku tertarik atau membuatku bosan, kau terpaksa harus menyingkir dari hadapanku," bisik Sungmin. Dan tanpa diketahui Kyuhyun, Sungmin tersenyum layaknya seorang iblis. 'Menarik bukan?'

"Sesuai harapanmu, aku akan memuaskan dirimu. Seonsaengnim! Dan Selamat, kau telah menjadi milik ku," sindir Kyuhyun. Ia pun membalas pelukkan gurunya.

Kyuhyun dan Sungmin memang benar-benar gila! Dia mau membuat sebuah hubungan menjadi sebuah mainan? Bagaimana bisa? Tidak mungkin hal tersebut bisa dilakukan semudah itu! Tetapi, jika ini adalah KyuMin pasti bisa! Terlebih Kyuhyun yang merupakan anak SMA bebal, dan Sungmin yang merupakan seorang guru yang benar-benar senang bereksperimen dipertemukan dalam suatu waktu. Siapakah yang akan berhasil memenangkan pertandingan ini? Sungmin yang hanya menganggap Kyuhyun hanya akan mundur dalam permainan ini? Atau Kyuhyun yang akan menarik Sungmin, dan mencoba membuat guru tersebut tobat dan menjadi miliknya—untuk seutuhnya? Kyuhyun memang tidak tahu sama sekali jika Sungmin sedang berada di dalam rencana untuk membuat dirinya menderita, semenderita mungkin. Haah… Kasihan Jung polos satu ini.

~####~

Di dalam mobil Kyuhyun

"Kali ini aku akan mencoba untuk menyukai seseorang selain hyungku," Eunhyuk yang diberi waktu oleh Donghae untuk berpikir mengalihkan pandangannya dari KyuMin ke arah Donghae. 'Dengan itu, Jaejoong hyung akan berhenti bertindak gila,' batin Eunhyuk. Ia sebenarnya sudah lelah dengan tingkah Jaejoong dan keluarganya yang terlalu protektif.

"Kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Donghae. Meskipun dia sudah berteriak-girang, 'Yes! Yes! Yes!' layaknya Dora, tapi tetap saja dia harus bersikap cool. Mau dikemanakan harga dirinya sebagai seorang seme jika dia terus bersikap kekanak-kanakan? Aih… Aih… Akhirnya Donghae sadar juga!

"Iya… Dan aku mohon bantuannya," meskipun Eunhyuk tampak serius, tetapi terdengar jika suaranya penuh dengan kesedihan. Tanpa dirasa air matanya pun menetes. Bukannya senang dilamar orang, Eunhyuk malahan meneteskan air mata.

Donghae mengerti apa yang sedang dipikirkan Eunhyuk. Pricesa satunya ini tampak sedang dalam kegalauan yang sangat dalam karena hyung favorite-nya telah 'dicuri' oleh anak SMA bengal macam Kyuhyun. Yah, mau bagaimana lagi? Meskipun Sungmin tidak dimiliki oleh siapapun tetap saja Eunhyuk tidak mungkin memilikinya. Donghae yang merasa iba memeluk Eunhyuk dengan erat, dan tangisan Eunhyuk pun pecah di pundak Donghae.

"Hiks… Aku kasihan dengan Kyuhyun hyung," kata Eunhyuk sambil menangis sejadi-jadinya. Dan setelah didengarkan lebih baik kata-katanya, ternyata tangisannya hanya acting seperti biasanya. Dasar Eunhyuk! Dalam kondisi apapun pasti dia cuman acting.

Donghae jadi cengo. 'Kasihan sama Kyuhyun? Jadi bukan masalah hyungnya ya?' Lalu… Maksud Eunhyuk apa? Sebenarnya ada apa dengan Kyuhyun? Bukannya anak itu baik-baik saja? Dan sedang mengadakan adegan KyuMin, kan? Lalu kenapa jadi merasa kasihan? Aneh sekali. "Apa maksudmu Hyukkie?"

Eunhyuk melepaskan pelukannya, lalu tersenyum tipis, memandang Donghae. "Kesalahan fatal jika seseorang terhanyut oleh cover indah suatu buku," katanya. Ia pun mengedipkan kedua matanya, seolah-olah ingin terlihat polos. "Orang seperti Sungmin hyung itu memandang cinta hanya untuk senang-senang aja. Yah ajang pelepasan stress ibaratnya…" Eunhyuk pun menepuk pipi Donghae. "Kalau kau mau tahu lebih ekstrim-nya kita lihat saja nanti!"

"Apa? Jadi, Sungmin akan membuat Kyuhyun hanya sebagai ajang mehilangkan stress?" Donghae terkejut. Meskipun dia sudah menduga jika keluarga Choi memang aneh, tetapi dia tetap saja tidak menyangka wajah Sungmin yang nampak baik-baik lebih parah dari Jaejoong yang terang-terangan suka membunuh orang. Tidak disangka, Sungmin yang cakep gitu lebih suka nyiksa batin orang. 'Apa aku salah memilih pasangan? Tetapi ini sudah terlanjur. Ya sudahlah… Lanjutkan saja, lagi pula Eunhyuk tidak tampak buruk seperti kakak-kakaknya,' Donghae pun membatin. Entah dia merasa salah langkah atau tidak dengan membuat Eunhyuk menjadi kekasihnya.

"Hahaha, mungkin akan lebih seru jika Kyuhyun mengalami stress karena terus-terusan digoda oleh hyungku yang evil banget tanpa bisa menyentuhnya sama sekali!" Eunhyuk tertawa dan hampir membuat Donghae bergidik ngeri.

WTF?

"Kasihan sekali si Kyuhyun," Donghae menelan ludah kasar.

~TBC~

Akhirnya chapter 3 selesai juga, fiuuhhh~ Semoga suka untuk yang satu ini ^^

Sebelumnya, di chapter 2 lalu ada kesalahan menulis nama seorang tokoh, tapi sudah aku benarkan, yang tahu kesalahanku dimana tolong dimaklumi ya. Dan untuk yang ini jika masih ada kesalahan juga mohon maklumin juga ya, aku ngeditnya baru hari ini dan hari ini sangat melelahkan u,u tapi semoga gak ada kesalahan lagi :D

Saatnya sesi tanya jawab lagi :D

Q: pas baca gk ada feel kalo lagi baca sungmin. aq kayak ngeliat kyuubi saat baca part.a jaejoong. apa bahasanya gk d sesuain sama tokohnya aja thor? (dindin)

A: sebenarnya dari ff aslinya yang aku favoritkan gak cuman jalan ceritanya, tapi karakter tokoh dan dari percakapan yg author aslinya buat, makanya disini perubahannya hampir gak terlihat kecuali beda nama tokoh. Tapi mungkin ini hanya perasaanku aja atau gimana, menurutku karakter Sungmin dengan Naruto cukup mirip, tenang di luar tapi menyimpan hal lain dalam dirinya. Dan kalau Jaejoong menurutku aslinya dia memang orang yang cukup liar, walau gak seliar Kyuubi yang disini yang seperti preman ._.v #peaceKyuu. Tapi kalau misalkan ada saran agar remakenya lebih baik silahkan berikan di kolom review, aku akan menerima saran apapun itu jika membangun ^^

Yang merasa ff ini familiar dengan film Poor Prince yang dari China, cerita aslinya memang diadaptasi dari film itu.

Terimakasih untuk semua reviewer dan reader yang sudah menyempatkan mampir dan meninggalkan pesan kesannya untuk ff remake ini dan juga dukungannya untuk terus lanjut ^^ #bow

Terimakasih untuk author Taz dan juga Lia Cassiopeia ^^ #bow

Yang penasaran sama cerita aslinya, silahkan kunjungi ff dari author I don't care about Taz – Pangeran Miskin: Versi SasuNaru, ini ff yang asli.

Cha~ cukup sampai disini. Sampai jumpa di chapter selanjutnya 'o')/