Main Cast :: Kim Jaejoong, Jung Yunho

Couple :: Of course Yunjae. Little bit Jaejeny

Suport cast :: Jennifer (OC)

Gs for Heechul

Genre :: Romance

Disclaimer :: THIS STORY IS MINE. jangan mengcopas tanpa izin.

warning! :: OOC, OC, AU, M-PREG, TYPOS, JANGAN BACA KALO GAK SUKA!


a/n :: kalau ada yg janggal dgn kehamilan Jaejoong itu saya cuma ngaur. Abis gak tau apa-apa soal kehamilan.


Happy read

.

"Ini rumah baru kita." Ucap Yunho. Terselip nada bangga saat mengatakan hal itu kepada Jaejoong.

sekarang mereka sudah berada di pulau Jeju, tempat yang akan mereka tinggali untuk beberapa lama. setidaknya sampai Jaejoong melahirkan atau bisa lebih dari itu. Mereka tidak memberitahu pada siapapun tentang kepergian mereka. Yunho dan Jaejoong tidak ingin ada satu orang pun tahu kemana mereka pergi sekarang. Yunho juga sudah mengajukan cuti sementara dari kegiatan perkuliahan mereka.

Jaejoong melangkah masuk ke dalam rumah baru mereka. Rumah yang tidak terlalu besar. Hanya rumah biasa bergaya retro tapi cukup indah.

Jaejoong berjalan ke arah jendela besar yang masih tertutup tirai berwarna gading. Lalu ia menyibakan sedikit tirai jendela itu.

"Pantai?" Gumamnya.

"Hmm... kau suka? indah bukan? Kau bisa bersantai sambil memandangi laut disini. Dari dapur juga kau bisa melihat birunya air laut."

Jaejoong menoleh ke arah Yunho lalu mengembangkan senyum simpulnya. "Boleh aku beristirahat sekarang?" Tanyanya. Yunho menghela nafas pelan kemudian mengangguk.

"Aku akan mengantarmu ke kamar." Kata Yunho kemudian menyuruh Jaejoong mengikutinya menuju kamar di lantai atas rumah itu. Sepertinya Jaejoong kelelahan hingga sesampainya di kamar ia merebahkan diri di ranjang dan memutuskan untuk tidur.

Yunho membiarkan Jaejoong beristirahat karena ia berpikir Jaejoong memang kelelahan. Sedangkan ia sendiri memutuskan untuk mengeluarkan barang-barang dari koper mereka lalu menatanya.

.

..

Aku membuka mataku yang masih terasa sangat berat saat telingaku mendengar sayup-sayup suara seseorang muntah. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku mencoba mengumpulkan kesadaranku dan memproses suara siapa itu sebenarnya. Aku terlonjak dari ranjang saat aku menyadari aku tinggal bersama Jaejoong, itu berarti suara itu adalah suara Jaejoong.

Cepat-cepat aku berlari ke kamar Jaejoong yang terletak di samping kamarku. Tak kudapati di kamar segera kucari di kamar mandi dan mendapatinya sedang terengah-engah di depan wastafel.

"Jae, kau baik-baik saja?" Buruku khawatir.

Jaejoong hanya menganggukan kepalanya tanpa bersuara. Ia keluar dari kamar mandi kemudian duduk di tepian ranjang.

"Tunggu sebentar." aku keluar dari kamar Jaejoong menuju dapur untuk mengambil segelas jus jeruk lalu kembali lagi ke kamar Jaejoong dan menyuruhnya meminum jus jeruk itu.

"Apa kau benar tidak apa-apa?" Aku khawatir saat melihat wajah pucatnya. Wajahnya yang biasa berseri merona kini terlihat makin pucat saja.

"Morning sickness. Aku dengar itu biasa untuk ibu hamil. Tapi aku tidak pernah menyangka kalau sesengsara ini." Keluhnya lemah, membuatku semakin khawatir.

"Apa kau sudah sarapan?" Tanyaku. ia hanya menjawabnya dengan gelengan lemah.

"Kalau begitu akan kubuatkan sarapan. Kau mau makan apa?" Kembali aku bertanya.

"Tidak. Aku hanya ingin minum secangkir kopi."

"Biar aku buatkan." Tawarku lagi mencoba membuat diriku berguna untuknya, Tapi ia malah kembali menggeleng lemah.

"Ani. Aku sendiri bisa. Kau mandilah, aku akan membuatkan sarapan untukmu." Katanya malah menawarkan. Kemudian ia keluar meninggalkanku sendiri terdiam di kamarnya.

Aku menghela nafas, Jaejoong memang keras kepala.

0-0-0-0-0-0

Morning sickness yang di alami Jaejoong berlangsung hingga hari-hari selanjutnya, bahkan Jaejoong hampir tak dapat menelan makanannya sama sekali karena sesaat setelah makan pasti ia kembali memuntahkannya. Hal ini membuat kondisi Jaejoong makin lemah, dan membuat aku kebingungan. Sungguh, aku tak suka melihat Jaejoong menderita seperti itu, tapi di lain sisi aku juga tidak tahu harus berbuat apa, hal ini benar-benar pengalaman pertama bagiku.

Tidak hanya karena morning sickness Jaejoong yang membuatku khawatir, tapi juga kebiasaannya yang sering melamun dan menangis diam-diam membuat aku miris. Sebenarnya apa yang tengah dipikirkannya? apakah Jenny? atau masalah kehamilan yang di anggap kesialan baginya? aah.. Jae.. kau membuatku bingung.

aku merapihkan penampilanku didepan cermin sedikit menyemprotkan parfum di tubuhku, itulah sentuhan terakhir dan aku merasa siap. Hari ini aku memiliki janji dengan seseorang untuk meminta pekerjaan. Sebenarnya tabunganku masih mampu menghidupi kami berdua, tapi hanya untuk beberapa bulan. Sedangkan kami berada di jeju mungkin sekitar satu tahun, atau bisa saja lebih.

Sayup-sayup kembali aku mendengar suara Jaejoong muntah, kebiasaan beberapa hari terakhir yang di lakukannya. Kebiasaannya yang tidak hanya membuat dirinya menderita tapi batinku juga. Aku tak pernah sanggup menyaksikannya menderita seperti itu.

Aku menghampiri Jaejoong ke kamarnya dan lagi-lagi kulihat Jaejoong tengah tertunduk di depan toilet.

"Jaejoong-ah." Tegurku.

"Jangan kesini Yun, ini menjijikan." katanya. Aku tidak peduli larangannya kemudian menghampirinya dan berjongkok didekatnya, membantu mengurut tengkuknya.

wajahnya lebih pucat dari biasanya. aku kasihan melihat dia begini. Jaejoong menekan flush toilet lalu bangkit untuk berkumur-kumur di wastafel.

"Kau harus makan." Dia memang terlihat lebih kurus semenjak hamil. Mungkin karena ia selalu muntah atau tidak bisa makan apapun.

"Tidak, aku tidak mau muntah lagi." Aku tahu, dia memang keras kepala.

"Beberapa sendok juga tidak apa-apa. Setidaknya mengisi perutmu agar kau tak lemas dan terkena magh atau penyakit lainnya." Dan dia malah menggeleng. Ia keluar dari kamar mandi dan duduk di ranjang.

"Aku hanya perlu istirahat dan menunggu mualnya hilang. Nanti akan kucoba memakan roti." Katanya seraya merebahkan tubuh ringkihnya di ranjang. Aku hanya menghela nafas pasrah. Akhirnya dia benar-benar membuatku tidak berguna sama sekali.

.

Aku tahu aku ikut andil dalam semua yang terjadi pada Jaejoong, aku pun tak menyangka jika jadinya seperti ini. Jaejoong hamil, dan lebih parahnya lagi itu darah dagingku. Hal pertama yang terpikir olehku saat mendengar kabar kehamilan Jaejoong adalah 'Dunia sudah gila'. Diam-diam aku menolak untuk percaya. Hei... ini bukanlah hal yang bisa di terima akal sehat begitu saja. Jaejoong itu namja... N-A-M-J-A aka laki-laki tulen yang tidak mungkin hamil. Waktu itu seharian aku menyangkal tentang kenyataan itu, Bahkan kepalaku serasa pecah memikirkan bagaimana caranya Jaejoong bisa mengandung. Tapi malamnya saat Jaejoong mengatakan akan mengugurkan kandungannya, sebagian dari diriku tak rela, hingga entah bagaimana muncul perasaan ingin mempertahankan darah dagingku itu.

Aku tahu Jaejoong amat tertekan dengan status Mpreg-nya, hingga membuatnya tak dapat bersatu dengan gadis yang dicintainya. Itulah yang membuatku berjanji untuk menjaga Jaejoong, menguatkannya ketika ia lemah dan mengingatkannya bahwa masih ada aku disisinya yang melindunginya dan menerima keadaanya. Mulai sekarang akulah tempat bersandarnya. Aku akan bertanggung jawab penuh untuk hidupnya dan calon bayi kami.

"Bayi kami?" Gumam Yunho, tersentak dari lamunanya akibat pikirannya sendiri. Entah kenapa ia merasa seperti seorang kepala keluarga sekarang. Hal itu membuatnya tersenyum kecil. Entahlah, ada perasaan asing yang menelusup ke relung hatinya.

"Bayi kami?!" Ulang orang yang sedari tadi di duduk di depannya dengan bingung.

"Eh? oh.. bukan apa-apa ahjussi, aku sedikit melamun tadi." Ujar Yunho berkilah. Sedang namja paruh baya didepannya hanya menatapnya bingung.

Yunho memang saat ini sedang bertemu dengan seseorang untuk membahas masalah pekerjaan. Ia meminta tolong pada salah satu rekan bisnis perusahaan Jung untuk mencarikannya pekerjaan. Karena Yunho dalam masa kabur dari rumah, Jadi ia sangat membutuhkan pekerjaan. Mengandalkan uang tabungan pun tak memungkinkan karena pasti akan habis juga. Sedangkan mereka berada di Jeju dalam waktu yang lumayan lama. Selain itu hari ini Yunho memutuskan untuk membeli sebuah mobil baru untuk alat transportasi mereka selama di Jeju.

"Ahjussi, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Tiba-tiba Yunho bertanya.

"Hmm.. tanyakan saja."

"Ahjussi sudah mempunyai istri, bukan?"

Sedikit bingung karena topik pembicaraan beralih kesesuatu yang menyimpang, namun ahjussi didepan Yunho tetap mengangguk.

"Berarti ahjussi sudah memiliki anak?"

"Iya. tiga."

"Howah... berarti ahjussi sudah berpengalaman dalam menghadapi orang hamil?"

laki-laki itu semakin bingung, tapi tetap saja mengangguk.

Yunho makin tertarik dan berniat bertanya lebih jauh. "Menurut ahjussi, apa yang harus dilakukan seorang suami saat istrinya hamil?"

Ahjussi itu tampak berpikir sesaat. "Kau harus menjadi suami siaga. Siap antar dan jaga istri. Kau harus melimpahkan kasih sayang untuk istrimu, karena orang hamil mudah stres dan moodnya sedikit labil, apalagi kalau pengalaman pertama. menjaga pola makanannya yang sehat dan memberikannya suplemen tambahan seperti susu atau vitamin, itu sangat penting. Kau juga harus sedikit sabar saat mengahadapi masa ngidamnya atau berbagai keluhan-keluhan istrimu, Jangan biarkan istrimu melakukan pekerjaan yang terlalu berat, dan rajin-rajinlah memeriksakan kandungannya kedokter. Pokoknya kau harus menjadi tipe suami idaman saat istrimu hamil" Ujar ahjussi itu panjang lebar menjelaskan pada Yunho.

"Oh, jadi begitu." Yunho mengangguk-anggukan kepalanya paham. Dia tertunduk dan terdiam sesaat seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Aku akan berusaha. Kalau begitu aku pulang dulu, kita bertemu lagi nanti." Pamit Yunho berdiri dari kursinya lalu segera pergi keluar coffee shop.

Ahjussi tadi hanya begong memandang kepergian Yunho. Padahal mereka belum membahas soal pekerjaan kerena Yunho sedari tadi terlalu banyak melamun. Sekarang orang yang mengajaknya bertemu malah pergi seenak jidatnya.

"Tunggu dulu, sejak kapan Yunho-ssi punya istri?" Bingung ahjussi itu.

0-0-0-0-0

Yunho memarkirkan mobil barunya di luar garasi rumah. Memang bukan mobil mewah seperti miliknya di Seoul, tapi hanya mobil biasa yang sudah cukup menjadi alat transportasi untuk mereka agar tidak kesusahan saat ingin berpergian.

Yunho keluar dari mobil sambil menenteng beberapa kantong besar hasil shopingnya hari itu, yang berisi keperluan hidup mereka selama satu bulan serta beberapa kebutuhan Jaejoong. Yunho memasuki rumah, namun rumah terlihat sepi. Ah, tentu saja sepi, mungkin Jaejoong masih tidur. Yunho meneruskan langkahnya menuju dapur untuk meletakkan belanjaanya di counter dapur lalu segera membuatkan sesuatu untuk Jaejoong.

"Jae." Yunho menggoyang kecil bahu Jaejoong yang tengah tertidur membelakanginya. Jaejoong bereaksi, ia menggeliat pelan sebelum berbalik badan menghadap Yunho. Yunho meringis saat menatap mata sayu Jaejoong, bibir cherrynya yang biasa kemerahan kini terlihat memucat.

"Bangunlah dan minum ini." Yunho menunjukan segelas susu coklat khusus orang hamil.

Jaejoong berusaha duduk dan bersandar di kepala ranjang.

"Apa ini?" Tanya Jaejoong dengan suara lemah saat melihat segelas besar susu coklat di tangannya.

"Kenapa masih bertanya? Bukankah kau tahu itu susu?"

"Maksudku, untuk apa kau memberikanku ini."

"Ya tentu saja untuk diminum. Susu itu khusus ibu hamil, katanya bisa mengurangi mual juga."

"Ani, aku tidak mau muntah lagi."

"Tidak akan, coba dulu saja. Ini bagus untukmu dan bayimu." Ia mencoba membujuk, namun untuk kesekian kalinya lagi Jaejoong menolak hingga membuat kesabaran Yunho habis.

"Jaejoong-ah, kenapa kau begitu keras kepala seperti ini? Jangan-jangan kau sengaja membahayakan kandunganmu?"

Jaejoong membuang mukanya dari Yunho. "Kau tidak tahu apa yang kurasakan." Katanya dengan suara lemah.

"Tentu saja aku tahu. Aku tahu kau menderita, aku tahu kau tidak bisa menerima semua ini. Maka dari itu aku berada disini berharap kau mau berbagi susah denganku, meyakinkanmu bahwa masih ada yang peduli padamu. Tapi pada akhirnya kau selalu membuat diriku menjadi tak berguna sama sekali." Sejujurnya Yunho sedang menahan emosi sekarang. Menurutnya Jaejoong terlalu kekanakan.

"Walaupun berat, tapi kumohon bertahanlah sampai anak ini lahir. Sebagai gantinya aku akan selalu berada disisimu. Bagaimanapun juga, anak yang kau anggap sebagai kesialan bagi hidupmu, kuanggap anugrah untukku. Aku ayahnya dan berhak memintamu untuk mempertahankannya." Jaejoong masih tak bergeming dan terus membelakangi Yunho. Tak ada niatan untuk menjawab perkataan Yunho, ia terlalu lelah untuk mengeluarkan satu katapun dari bibirnya.

Jaejoong memejamkan matanya perlahan mencoba menelan perih yang beberapa minggu ini bersarang di hatinya. Seandainya Yunho tahu betapa tertekannya dia saat ini. Ia tahu hal yang dialaminya adalah langka, seharusnya pikiran dewasanya bisa menerima janin yang ada di perutnya dengan besar hati, tapi itu tidak mudah. Sama sekali tidak mudah untuknya.

"Jae... kumohon, bertahanlah sampai dia lahir. Setelah itu kau bebas pergi." Jaejoong sekejap membuka matanya. Apa yang barusan Yunho katakan?

Ia bangkit dan menoleh pada Yunho yang matanya sudah berkaca-kaca, satu hal lagi yang membuatnya terkejut. Sahabatnya hampir menangis, atau bahkan akan menangis sebentar lagi.

Mata sipit Yunho mengabur saat memandang Jaejoong, karena air matanya yang sudah menumpuk di pelupuk mata. Bibir hatinya bergetar, wajahnya terlihat meringis seperti menahan sesuatu yang perih.

"Mianhe... nattaemune... nattaemune... kau harus menderita seperti ini." Dan pertahanan Yunho pun runtuh. Ia menangis tertunduk di depan Jaejoong. Yunho yang selalu kuat di segala situasi itu kini menangis hanya karena Jaejoong.

"Y.. yun.."

Yunho mengangkat wajahnya menghadap Jaejoong. "Aku tersiksa setiap kali melihatmu melamun, dan menangis diam-diam. Aku tersiksa setiap kali melihatmu menderita karena kehamilanmu, menyaksikan kau semakin hari semakin terlihat kurus dan lemah. Semua itu membuatku semakin menyesal Jae... dan rasa penyesalan ini begitu menyakitkan hiks hiks" Yunho memukul dadanya perlahan "mianhe... jeongmall." katanya disela tangisnya. Wajahnya menampakkan raut memelas. Ia sangat menyayangi Jaejoong sahabatnya. Selama lima tahun mereka bersahabat kedekatan mereka sangat intens. Walaupun Yunho tahu Jaejoong namja yang bisa menjaga diri sendiri, ia masih tetap ingin melindungi Jaejoong. Bahkan Ia akan mementingkan Jaejoong dari pada pacarnya sekalipun. Begitu juga dengan Jaejoong, walaupun ia sudah memiliki Jenny yang sudah mencuri hatinya, ia tetap tak pernah melewatkan satu kesempatanpun untuk hang out bersama Yunho. Jika tidak kencan bersama pacar masing-masing, mereka akan selalu terlihat berdua, hingga terkadang membuat pacar mereka cemburu.

"Yun... jangan menagis pabbo" Jaejoong mendaratkan pukulan lemah di pundak Yunho. Matanya pun sudah ikut memerah sekarang. Suasana hatinya saat ini sangat mudah terpancing untuk menangis.

"Aku sudah lelah menangis. Jangan buat aku kembali menangis hiks... hikss.." Yunho merengkuh Jaejoong kedalam pelukannya. Meredam isakan kecil Jaejoong dengan pundaknya.

"Katakan apa yang harus kulakukan Yun?... ini terlalu berat untuk kuterima. Kau tahu rasanya ketika kau seorang namja tulen dan kau hamil? bagaimana orang-orang akan memandangku, bagaimana dengan appa dan Junsu? Aku sangat takut."

Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan perkataan Jaejoong. Ia tahu Jaejoong merasa tertekan dan depresi. Yunho semakin mengeratkan pelukannya. "Ani, Jangan berpikir begitu Jae. Mereka tidak akan dan tak pernah kubiarkan mencemoohmu. Tanggapan orang sama sekali tidak diperlukan disini. Yang harus kau kau lakukan sekarang adalah menjaga kesehatanmu dan kandunganmu. Dan bersandarlah padaku dan andalkan aku. Mungkin aku tak bisa mengimbangi penderitaanmu, tapi buatlah diriku berguna untukmu. Aku akan selalu ada disini untukmu."

Jaejoong terharu mendengarnya. Memang benar Yunho yang paling mengerti dia. Hanya Yunho yang paling bisa diandalkan selama ini. Jika ia masih sedikit tertutup pada Jenny, tidak begitu dengan Yunho. Tidak ada yang bisa ia pendam atau rahasiakan dari Yunho, sahabatnya itu selalu tahu apapun tentang dirinya.

Yunho melepas pelukannya. Ia menangkupkan wajah tirus Jaejoong dengan kedua tangannya lalu mengahapus cairan bening di pipi Jaejoong dengan kedua ibu jarinya. Yunho memandang mata sembab Jaejoong dengan tatapan hangat.

"Coba kuatkan dirimu dan bertahan. Aku disini untukmu, hmm?!" Perlahan bibir cherry itu melengkung sempurna menciptakan senyum sendu. Tapi Yunho tahu lewat senyum namja cantik itu mencoba mengatakan 'Aku akan berusaha.'

Yunho ikut tersenyum lalu mengelus surai karamel Jaejoong dengan lembut. Ia mengambil susu yang tadi di atas meja nakas, lalu menyerahkan kembali pada Jaejoong. Jaejoong mencoba menurut dan meminum susunya. Walau memang sedikit amis, ia menahannya. Hingga saat tegukan terakhir telah sempurna masuk ke dalam perutnya Jaejoong langsung menutup mulutnya dengan tangan. Bukan untuk muntah, tapi untuk menghapus susu yang menempel disekitar bibirnya.

"Bagaimana?"

"Tidak buruk."

Yunho tersenyum mendengarnya ia beranjak dari duduknya lalu mengacak rambut Jaejoong. Jaejoong sih biasa saja, namun sesuatu membuatnya shock setelah itu, karena Yunho mencuri ciuman di pipinya.

"HYA JUNG YUNHO, MAU MATI YA?!" Teriak Jaejoong dengan suara paraunya.

"Hahahaha." Tawa Yunho sambil keluar kamar meninggalkan Jaejoong yang mendongkol.

Jaejoong kesal dengan kebiasaan Yunho 2 tahun lalu terulang kembali. Yunho memang suka mencium pipinya seenak jidat.

walaupun ia kesal ia perlahan tersenyum. Keyakinanya kembali. Rasanya ia bisa bertahan,`bukankah Yunho ada bersamanya. Cukup ia dan Yunho, maka Semuanya akan baik-baik saja.

.

.

Pregnant?!

Hari demi hari berlalu, dan semuanya mulai membaik. Perlahan keceriaan Jaejoong kembali, Yunho tak pernah melihat Jaejoong melamun atau menangis diam-diam lagi. Wajah Jaejoong yang sempat putih pucat kini terlihat merona lagi. Yunho sekarang sudah mulai berkerja di perusahaan partner keluarganya tentu saja ia meminta kepada ahjussi yang memabantunya untuk menyembunyikan hal itu dari orang tuanya.

Walaupun sudah berkerja perhatiannya, terhadap Jaejoong tak pernah berkurang. Setiap pagi sebelum berangkat kerja Yunho menyempatkan diri membuat susu untuk Jaejoong, bahkan terkadang Yunho sampai menunggui Jaejoong menghabiskan susunya jika sahabatnya itu mulai muak dengan rasa susu khusus ibu hamil itu. Jika morning sickness Jaejoong kambuh, maka ia akan mengurut tengkuk Jaejoong perlahan. Yunho juga mengatur pola makan sehat untuk Jaejoong, juga multi vitamin yang akan tetap membuat stamina Jaejoong tetap fit selama hamil. Ia juga menyiapkan sabun bayi di meja nakas kamar Jaejoong, karena Jaejoong sangat suka mencium wanginya ketika tidur. Ia tidak memperbolehkan Jaejoong mengurus rumah, malah akhir-akhir ini Yunho menyuruh Jaejoong yoga untuk mengisi waktu luang di rumah, tentu saja di sambut penolakan keras oleh Jaejoong.

Seluruh perhatian Yunho tercurah pada Jaejoong, bahkan Jaejoong saja sempat berpikir ia seperti seorang istri. Yunho benar-benar mengatur semua dengan baik.. Benar-benar contoh suami yang baik. Hingga sibuknya memperhatikan Jaejoong Yunho tidak sadar ada seseorang di Seoul yang hampir gila karena Yunho menghilang tiba-tiba. Dan orang itu adalah Go ahra, kekasih sah Yunho.

Jaejoong bergerak-gerak gelisah di ranjangnya, Ia tampak tidak tenang. Sesuatu berkecamuk di benaknya. Ia menoleh ke jam di meja nakas yang baru berganti tepat ke angka 23.22 malam. Di samping jam ada sabun bayi yang biasa ia cium ketika ingin tidur atau ketika mual melanda. Ia ambil sabun itu dan didekatkannya ke hidung untuk menghirup aromanya yang biasanya bisa membuatnya tenang, Tapi kali ini sabun itu sama sekali tak berguna. Tiba-tiba keinginan untuk memakan ice cream muncul, namun dia sadar jam sudah menunjukan waktu dini hari yang berarti tidak mungkin masih ada toko yang buka. Apa lagi ice cream yang ingin ia makan saat ini bukanlah ice cream biasa, melainkan clotted ice cream, sejenis ice cream khas inggris. Ice cream yang tadi siang dilihatnya di tv.

merasa stres dengan keinginan yang tiba-tiba, membuatnya bangkit dari ranjang. Jaejoong memakai mantel agak tebal lalu segera keluar dari kamar. Keinginanya tidak bisa ia tahan lagi. Jaejoong keluar dari kamar dan menemukan Tv di living room lantai dua masih hidup, menampilkan tengah malam. Sepertinya Yunho tertidur di sofa lagi. Ia bergerak mematikan Tv lalu memandang Yunho yang tidur di sofa. Jaejoong ingin membangunkannya, tapi merasa kasihan dengan Yunho yang nampak kelelahan. Akhirnya ia hanya melepas remote yang masih di pegang Yunho lalu menyelimutinya hingga ke dada, namun ternyata pergerakan Jaejoong membuat Yunho terbangun.

"Ngh, Jae?" Suara parau Yunho terdengar.

Jaejoong tersenyum kecil, "Tidurlah di kamar Yun, disini dingin." Kata Jaejoong memperingati. Yunho mengangguk kemudian bangkit dari sofa.

"Yun, aku boleh pinjam mobil?" Kata Jaejoong dengan ragu-ragu. Mungkin Yunho tak akan mengizinkanya, pikirnya.

"Kau mau kemana malam-malam begini?"

"Tiba-tiba aku ingin memakan sesuatu, aku hanya pergi sebentar, tenang saja."

"Ini sudah malam Jae, besok saja bagaimana?"

"Tidak bisa, aku menginginkannya malam ini." Paksa Jaejoong.

Yunho menghela nafas panjang. "Baiklah, biar aku yang mengantarmu." Akhirnya Yunho mengalah.

"Ani. biar aku saja sendiri, kau istirahatlah, kau tampak lelah."

"Tidak bisa, aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri." Tolak Yunho tegas, Yunho tidak mau Jaejoong berkeliaran di luar sana di tengah malam dalam kondisi hamil.

"Tunggu sebentar, aku akan mengambil mantel." Kata Yunho lalu masuk ke dalam kamarnya.

.

Kalau ice cream biasa sih mungkin bisa Yunho cari di super market 24 jam, Tapi yang Jaejoong inginkan sekarang adalah clotted ice cream, khas inggris. Mau cari dimana ice cream itu? sedangkan kedai ice cream semua sudah tutup.

Yunho kasihan saat melihat raut wajah kecewa Jaejoong, tampaknya namja cantik itu sangat ingin memakan ice cream itu, hingga tak bisa di tunda besok. Apa ini yang di sebut ngidam? pikirnya.

"Sudahlah, kita pulang saja, Yun." Kata Jaejoong dengan suara lemah, setelah beberapa toko dan restoran yang mereka hampiri sudah tutup semua. Yunho tahu Jaejoong kecewa karena tidak mendapat apa yang diinginkannya.

Yunho tidak tahan melihat raut kecewa Jaejoong akhirnya kembali menjalankan mobil. Bukannya mengambil jalan pulang, Yunho malah membawa Jaejoong ke sebuah hotel mewah di jeju, yaitu ever hotel.

Dengan rasa percaya dirinya Yunho menarik tangan Jaejoong memasuki hotel, semua mata tertuju ke arah mereka, seolah mereka adalah hal yang paling menarik untuk di perhatikan di sana. Yeah bagaimana tidak, penampilan Yunho dan Jaejoong jauh berbeda dengan semua orang yang ada di restaurant itu. Yunho hanya memakai training, singlet putih dan mantel, sedangkan Jaejoong memakai piyama pink bergambar hello kitty di lapisi mantel tebal di bagian luar. Dengan penampilan seadanya itulah mereka nekat menerobos masuk ke dalam restoran mewah milik ever hotel.

Beruntung di restoran itu tersedia clotted ice cream yang memang sedang menjadi menu dessertnya hari itu, Jadi Yunho memesan dua porsi untuknya dan untuk Jaejoong.

Pelayan mengantar pesanan mereka, di sambut senyum sumringah oleh Jaejoong. Tanpa babibu lagi, Jaejoong langsung menyendok besar ice creamnya lalu segera meraupnya.

"Emmmhhh." Desah Jaejoong nikmat sambil menutup matanya meresapi rasa ice cream bercampur buah strawberry meleleh di lidahnya.

Jaejoong menyendok ice creamnya lagi dan desahan enak itu kembali terdengar. Yunho berdehem tak enak karena mereka menjadi pusat perhatian akibat desahan Jaejoong. Tapi Yunho juga senang memandangi wajah lucu milik Jaejoong saat menikmati ice creamnya. Entahlah ia senang melihat senyum damai milik namja cantik di depannya.

"Yun, kenapa melamun? kau tidak memakan ice creammu?" Tanya Jaejoong karena Yunho sedari tadi tidak menyentuh ice creamnya.

Yunho menggeleng sambil tersenyum lalu mendorong mangkuk ice creamnya mendekat ke Jaejoong. "Makanlah." Katanya.

"Benar kau tidak mau?" Jaejoong mencoba memastikan. Yunho mengangguk.

Jaejoong tersenyum lebar menyambut mangkuk ice cream Yunho. Aaah, seyum yang tanpa disadari membuat sang sahabat ketagihan ingin melihatnya lagi, ternyata ia baru sadar kalau Jaejoong memang indah.

.

Jam satu lewat mereka baru tiba di rumah dengan keadaan Jaejoong yang tertidur pulas di bagku penumpang. Yunho melepas sabuk pengamannya lalu keluar dari mobil dan berputar membukakan pintu untuk Jaejoong. Karena tidak ingin membangunkan sahabatnya akhirnya Yunho perlahan menggendong Jaejoong ala bridal style dengan hati-hati dan segera membawanya masuk kedalam rumah. Jaejoong bertambah berat sejak hamil, dan Yunho mengakuinya. Tapi ia tak terlalu mempermasalahkannya.a

"Gomawo... yunhm.. nyamnyam."

Tepat di depan tangga, Yunho terhenti langkahnya ketika mendengar Jaejoong mengigau. Ia melihat Jaejoong yang berada di gendongannya yang kini tengah melakukan senam wajah. Ia terkikik karena Jaejoong sangat lucu. Kikikan Yunho perlahan memudar saat ia menyadari sesuatu. Wajah Jaejoong begitu mempesona. Bulu matanya lentik, dan alisnya terbentuk rapi, dan... bibirnya merah merekah. Wajah namja yang berada dalam gendonganya membuatnya terlarut dalam. Apa lagi bagian bibir cherrynya yang...

"Eungh..." Secepat kilat Yunho mengalihkan pandangannya ketika Jaejoong mulai membuka mata. "Yun?"

"Kau terbangun ya? mian, tadi kau ketiduran dan aku ingin membawamu kekamar." Sadar saat ini dirinya tengah berada didalam gendongan Yunho, Jaejoong cepat-cepat meminta Yunho menurunkannya. Namun Yunho menolak dan tetap membawa Jaejoong ke kamar dan menidurkannya di ranjang. Yunho menyelimuti Jaejoong hingga ke dada.

"Yun!"

"Hmm?"

"Kau tahu aku sangat benci diperlakukan seperti yeoja." Jaejoong menyipitkan matanya menatap Yunho yang bertingkah sok gentle. semenjak ia hamil Yunho memang memperlakukannya sangat lembut. Justru ia sedikit tidak menyukainya, karena ia juga namja.

"Aku tidak memperlakukanmu seperti yeoja, aku hanya memperlakukanmu seperti ibu hamil pada umumnya.

"Ibu hamil? YA! kau pikir aku yeoja?!" Sewot Jaejoong masih asing dengan sebutan ibu hamil.

"Bukankah orang yang hamil di sebut ibu hamil?"

"Tapi tetap saja aku bukan yeoja." Sungut Jaejoong.

"Baiklah. Kalu begitu laki-laki hamil atau M-preg alias male pregnant." Sebutan yang baru Yunho katakan malah terasa makin konyol di telinga Jaejoong. Membuatnya sedikit merinding.

"Tutup mulutmu!" Rengut Jaejoong, kebiasaannya mempoutkan bibir kini kembali lagi.

Yunho tersenyum geli. "Tidurlah, Besok kita harus memeriksa kandunganmu kedokter." Kata Yunho. Dan tingkah Yunho selanjutnya membuat Jaejoong sukses tertegun.

Cup

Jaejoong memang sudah biasa Yunho mencuri kecupan di wajahnya belakangan ini. Tapi kali ini yang membuat ia kaget adalah lembutnya dan lamanya Yunho mencium keningnya. Bahkan ia sampai menahan nafas karenanya.

"Selamat malam." Suara lembut itu berbisik di telinganya, sangking lembutnya Jaejoong sampai merinding. Saat dia tersadar dari ketertegunannya Yunho sudah keluar dari kamarnya.

Jaejoong mengerjap-ngerjapkan mata berkali-kali.

'Ada apa dengannya?'

'Astaga Jantungku rasanya mau meledak' gumam salah satu dari mereka.

.

.

Pregnant?!

Berkali-kali Yunho melirik jam tangannya dan berkali-kali pula ia mendengus sebal. Ia sudah mulai tak nyaman duduk di bangkunya. Ia tahu Jaejoong membutuhkan waktu lebih dari laki-laki normal lain saat berdandan, tapi semenjak hamil Jaejoong membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya. Dan hal itu membuat Yunho sedikit sebal. Yunho beranjak dari lantai satu menuju lantai atas untuk menghampiri Jaejoong dan melihat sebenarnya apa yang membuat namja cantik itu begitu lama.

Saat membuka pintu kamar Jaejoong sebenarnya Yunho ingin memanggil, tapi saat ia lihat namja cantik itu sedang sibuk di kaca full body sambil berkutat dengan perutnya, Yunho memutuskan untuk memperhatikan dulu.

Rupanya Jaejoong tengah sibuk mengukur perutnya yang sedikit membuncit seperti orang yang kekenyangan. ia memonyong-monyongkan bibirnya dan menggerutu kecil tanpa bisa didengar Yunho. Tak sengaja mata Jaejoong menangkap pantulan Yunho yang tengah mengintip. Secepatnya ia menurunkan kaosnya.

"Hya! apa yang kau lakukan disitu?"

"Kenapa kau begitu lama?" Pertanyaan Jaejoong malah dibalas pertanyaan oleh Yunho. "Bersabarlah, baru dua bulan, perutmu belum terlalu terlihat membesar." Kata Yunho lagi.

"Si-siapa yang memikirkan itu. Aiish kau ini... ayo cepat pergi." Jaejoong menabrak bahu Yunho yang berdiri di pintu dan keluar lebih dulu. Yunho tertawa geli melihat ekspresi kesal Jaejoong. Ia senang, sepertinya Jaejoong sudah menerima kehamilannya.

.

Awalnya dokter kandungan yang memeriksa Jaejoong terkejut dengan kenyataan Jaejoong adalah male pregnant, tentu saja itu membuatnya shock, karena hal itu adalah hal langka. Meskipun setengah tak percaya, dokter wanita yang cukup cantik itu tetap memeriksa kandungan Jaejoong dengan ultrasonografi. Saat dokter sibuk menggerakan alat di atas perut Jaejoong, matanya dan Yunho tak lepas dari monitor kecil yang ada di ruangan itu.

dilayar hitam putih itu Jaejoong bisa melihat sesuatu berbentuk disana walaupun masih kurang jelas, tapi ia bisa merasakan kalau itu bayinya. Jaejoong menoleh pada Yunho yang ternyata sudah berdiri di sisi ranjang.

"Yun... i-itu bayiku?" masih setengah tak percaya bahwa diperutnya benar-benar terdapat sebuah kehidupan.

Sejujurnya reaksi Yunho sama saja dengan Jaejoong, tapi ia lebih bisa mengontrol ekspresinya.

"Ne, itu bayi kita." Kata Yunho meralat kalimat Jaejoong. Ia tersenyum teduh kemudian menggenggam tangan Jaejoong dengan erat.

Rasa haru dan sedih kini bercampur aduk dalam diri Jaejoong. Ia sedih karena sempat membenci bahkan hampir membunuh bayinya. Bayi yang dikiranya kesialan untuk hidupnya, ternyata anugrah yang begitu berharga.

Dokter bilang kandungan Jaejoong masih sangat rentan, ia menjelaskannya menggunakan istilah-istilah yang tak tahu itu apa. Yang Yunho tahu kandungan Jaejoong begitu rentan karena rahim yang tak terbentuk sempurna.

setelah mendengar nasehat dokter dan meminta rekaman foto hasil USG, Yunho dan Jaejoong pun segera pulang.

sepanjang perjalanan pulang yang di lakukan Jaejoong hanya melihat foto janinnya. Yunho tak tahu apa yang sedang dipikirkan Jaejoong tapi yang ia tahu Jaejoong tengah terharu. Saat mobil berhenti di depan kediaman mereka Jaejoong baru mau menatap Yunho dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Yunho tidak tahu sejak kapan Jaejoong menangis.

"Yun, mulai sekarang aku berjanji akan menjaganya. Aku akan menjaga anak kita dengan baik." dan berakhir dengan Yunho memeluk Jaejoong dengan erat.

"Gomawo." Bisiknya.

.

.

Urat diwajah pria yang sudah berumur namun tetap tampan itu terlihat menonjol. Rahangnya mengeras dan matanya melotot tajam saat melihat sesuatu yang tertulis di selembar kertas di tangannya.

Appa, maafkan aku tiba-tiba pergi tanpa izin.

Jika appa bertanya kenapa? aku tidak mau melihat raut wajah kecewa appa alasannya.

aku sudah gagal menjadi namja sejati.

Appa tenang saja, aku tak akan lama.

setahun atau dua tahun kedepan aku akan pulang.

jangan menghawatirkanku, aku akan baik-baik saja.

Your beloved son

Kim Jaejoong

Ps :: Jangan cari aku

"Apa maksud dari semua ini?" Siwon meremas surat itu kesal. Bentakannya membahana diruang tengah kediaman Jung.

"Tenang dulu Siwon-ah, bukan hanya Jaejoong yang meninggalkan surat seperti itu, tapi anakku juga. Dia meminta kita untuk tidak terlalu khawatir karena mereka akan baik-baik saja. Yunho meminta kita untuk tidak mencarinya dan Jaejoong." Kata Jung Heechul yang merupakan sahabat lama dari ayah Kim Jaejoong tersebut.

"Maksudmu, Yunho dan Jaejoong pergi bersama?" Heechul mengangguk.

"Sebenarnya apa yang bocah-bocah ini lakukan? apa maksud Jaejoong dengan 'kekecewaan'? apa mereka ada masalah." Heechul menggelengkan kepalanya lemah, tanda ia juga tidak tahu.

Siwon benar-benar mencemaskan anak lelakinya yang satu itu. Cepat-cepat ia kembali ke korea saat mendengar anaknya sudah hampir dua bulan menghilang. Firasatnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada anaknya.

"Junsu!"

"Ne ahjussi?" Jawab Seorang pemuda imut yang juga ada disana. Junsu merupakan sepupu dari Jaejoong.

"Cari Jaejoong." Perintah Siwon.

"Tapi menurutku ahjussi seharusnya mempercayai Jaejoong hyung. Mungkin hyung memang memiliki masalah yang tidak bisa ia katakan pada ahjussi."

"Aku tidak peduli. aku ingin kau mencarinya!" Mendengar teriakan kalap Siwon, Junsu terdiam dan akhirnya mengangguk.

Heechul menghela nafas melihat sahabat lamanya itu. Siwon adalah Ayah yang terlalu posesif untuk Kim Jaejoong. Heechul juga menghawatirkan Yunho tapi tidak seperti Siwon, ia percaya anaknya baik-baik saja dan akan segera pulang

"Yoochun-ah!"

"Ne ahjumma?"

"Sebaiknya kau bantu Junsu mencari Yunho dan Jaejoong."

"Ne." Jawab pemuda tampan, teman dari Jung Yunho.

.

T.B.C?

Akhirnya setelah bimbang antara One shoot dan chapter

saya memilih chapter. Emang nanggung banget kalo end di chap satu kemaren. haha

Yunjae momentnya kurang? kalo gitu chap depan kita buat Jeje ngidam uhuk sama Yunho. #smirk

Moment yunra-nya ya? hmm... belum kepikiran.

apakah yunpa emg ada perasaan ke Jae? mungkin. Tapi disini yg terus mencoba stright tu jeje.

oh ya thanks to ryukey, kemaren salah nulis ya di summary? apa-apaan itu? 350 derajat. aku malu-maluin ya? haha #plak

untuk reviewer yg lain terima kasih banyak ne~ udah bersedia rev. Aku inget semuanya. aku sangat menghargai kalian. Baik yg rev maupun silent reader atau yang udah fav and fol. Gomawoyo~ ^^

untuk yang mereview cuma pke emoticon doang seperti- :P XD dll, lebih baik tidak usah review kalo gak ikhlas. soalnya kesel aja karena menuhin kotak review. #curcol

saya tahu, sya termasuk author yang paling luaaaamaaa update. karena di real life sya emang ssh dapt wktu menulis dgn tenang. tapi saya usahakan gak ada yg stuck.

oke segitu dulu cuap-cuapnya~

sekali lagi makasih #bow

See You next chap