Aesthetic – ZenWilder

Harry Potter – J.K. Rowling

Warning : Chara OOC, alur cerita terlalu cepat, Semi AU.

"Biar kuberitahu sesuatu, Rose Weasley," lanjut Scorpius, kali ini suaranya terdengar serak—nyaris membuat Rose luluh karenanya—dan intens. "Kau telah jatuh ke dalam pesonaku."

-oOo-

Aesthetic – Chapter II

The Wounds

-oOo-

"Katakanbahwaakusedangbermimpi."

Rose mendaratkan bokongnya di antara Lily dan Albus. Wajahnya mungkin lebih pucat daripada si Pirang itu. Lagipula, siapa, sih, yang peduli? Yang jelas, bukan Rose.

"Rose Weasley, sayangnya, kau sedang di alam baka," Lily tertawa geli mendengar Albus berbicara dengan efek dramatis yang dilebih-lebihkan. "Ada apa, Rose? Kau seperti habis melihat Banshee bercumbu dengan Werewolf, tahu."

"Oh, lebih parah lagi, aku melihatmu di masa yang akan datang menikah dengan Nyonya Gemuk," sahut Rose manis. "Demi Merlin! Katakan bahwa aku bermimpi."

"Lima Galleon?" James nyengir.

"Oh, tidak," tukas Rose sebal. "Aku yakin di luar sana ada orang yang dengan sukarela mengatakan kalau aku sedang bermimpi."

Albus mencubit pipinya keras, lalu tertawa terbahak-bahak melihat Rose yang mengumpat. "Untuk apa yang satu itu?" tanya Rose geram. "Tak ada gunanya, tahu!"

"Cara alternatif yang menyatakan kalau kau tidak sedang di alam mimpi," ujar Albus geli. "Kau harus berterimakasih kepadaku."

"Terimakasih banyak kepada Albus Severus Potter yang mencubit pipiku keras dan sangaaaat lama hanya untuk menyatakan bahwa aku sedang tidak bermimpi," ucap Rose berang. "Duh, aku yakin kalau besok pipiku akan membengkak!"

"Aku yakin kalau mantra Pengempis sudah ditemukan sejak beberapa abad lalu," Albus balik melotot ke arah Rose.

"Aku heran kenapa kau tidak dimasukkan ke Slytherin saja," keluh Rose. "Sikap keras kepala dan culasmu itu sangat tidak Gryffindor-ish."

"Topi Seleksi tidak pernah salah, Rose. Terima saja kenyataannya. Oh, aku akan pergi ke Asrama sekarang, mau ikut?"

Rose mengerang. Kenapa Albus harus memutuskan untuk pergi ke Asrama secepat ini? Well, mau tak mau Rose harus mengakui kalau sejak mengetahui bahwa Scorpius dipilih sebagai Prefek, Rose selalu memaksa Albus untuk menemaninya kemanapun usai makan. Rose tak mau menanggung resiko berpapasan dengan Scorpius karena Rose sudah memiliki firasat tak enak sejak awal mengenai kehadiran mayat hidup itu.

Awalnya, Rose hendak mengajak Lily, namun Rose sadar kalau itu merupakan pilihan fatal mengingat Lily adalah salah satu dari KPMS (Klub Penggemar Malfoy Sialan. Huruf S ditambahkan oleh Rose sendiri). Apalagi dengan mengajak James. Bisa-bisa Rose diledek tanpa henti di tiap detik yang ia lalui dengan kakak sepupunya tersebut mengenai Scorpius Malfoy, atau Percy Pucey, atau Kevin Goldstein, atau sekalian saja seluruh lelaki di Hogwarts.

"Oke," kata Rose pada akhirnya.

-oOo-

Rose merasa semua gadis melemparkan pandangan kurang—yang berarti amat sangat dalam kamus Rose—bersahabat kepadanya. Sebagian dari mereka malah mencibir begitu bertatap-tatapan dengan Rose. Rose mengerucutkan bibirnya. Seingatnya, ia tak melakukan apapun yang tidak benar. Kalau mereka ingin menggunakan pandangan sedingin itu, lebih baik mereka melemparkannya ke arah Scorpius-Sialan-Malfoy.

Melihat warna dasi dan syal yang mereka kenakan, Rose cukup yakin bahwa mereka semua berasal dari Slytherin. Asrama Scorpius. Eh?

"Kenapa—" bisik Rose pelan, meyakinkan dirinya kalau hanya ia dan Albus yang dapat mendengar, "—semua orang melihatku seolah aku ini pembunuh yang kabur dari Azkaban?"

Albus nyengir mendengarnya. "Sarkasmemu terkadang terdengar aneh," komentar Albus, tak mengacuhkan pertanyaan Rose. "Well, kalau soal pertanyaanmu—"

"Demi Merlin, mereka pasti sedang merencanakan pembunuhanku!" bisik Rose paranoid. "Aku yakin kalau aku tak bersalah. Mereka bisa memelototi orang lain, kan? Aku bahkan tak mengenal sebagian besar dari mereka! Dan, oh, kenapa mereka semua harus murid Slytherin?"

"Uh ..."

"Aku yakin tadi aku bertanya, Al," tandas Rose kilat. "Untunglah tatapan tak bisa membunuh, karena kalau bisa, aku pasti sudah terbaring tanpa jiwa di koridor Hogwarts tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan kepada—"

"Kau bisa menuntut jawaban atas pertanyaanmu kepada bayanganmu," usul Albus segera, disambut dengan gelak tawa Rose. "Hei, aku serius!"

"Lalu aku akan berakhir di St. Mungo karena dianggap kehilangan akal sehat bila ada orang yang memergokiku berbincang dengan bayanganku sendiri."

"Bukan bayangan yang itu," Rose dapat mendengar Albus mendesah. Tampaknya Albus sudah kehilangan semangat untuk mengobrol. "Bayangan yang kini berada di balik tikungan koridor dan mengikutimu kemana-mana."

Rose mengangkat alis kirinya, membatalkan niat untuk menertawai Albus. Meski malas menoleh (karena ia harus bertatapan dengan gadis-gadis yang saat ini mendesis ketika melihatnya), Rose melihat dari balik bahunya.

Dan ia menyadari kesalahan fatal yang ia buat, karena bayangan yang dimaksud Albus sudah sangat jelas.

Scorpius Malfoy.

"Well, aku tidak ingin menjadi saksi atas pertumpahan darah kalian berdua," gumam Albus lamat-lamat. "Jadi, uh, semoga beruntung, Rose."

"Apa?" Rose membalikkan badannya secepat kilat, berharap tangannya super panjang agar ia dapat meraih Albus dan menariknya kembali, atau mungkin ia dapat berlari lebih cepat dari cheetah dan dapat menyusul Albus yang amat sangat tidak bertanggung jawab. Uh, ia terlalu banyak menonton film Muggle.

Rose menarik napas, mengumpulkan pasokan udara dengan rakus untuk mengisi paru-parunya. Rose bisa saja berlari menyusul Albus dan memakinya sampai puas karena meninggalkan Rose seorang diri di koridor (apalagi tatapan para gadis itu sama sekali tak membantu suasa) dengan Scorpius Malfoy yang kini berjalan mendekat.

Rose bahkan tahu ada api membara di mata tiap gadis hanya dengan melihatnya sekilas. Dan nanti dialah yang akan berada di atas api membara karena mengambil resiko sebesar ini.

"Oh, lihat siapa yang kutemui di koridor Hogwarts," Scorpius melemparkan seulas senyum tipis yang sialnya membuat Rose merasa akan meleleh di atas lantai Hogwarts yang mengkilap (tampaknya Flich sedang dalam mood yang bagus hari ini)

"Kau mengikutiku," tuduh Rose tak terima. "Ya, kan?"

"Jangan kegeeran, dong, Weasley," kata Scorpius malas. "Tentunya aku tidak serajin itu."

"Oh? Yang benar?" tanya Rose mencemooh, kini ia mulai mendengus. "Lalu kenapa kau baru menampakkan batang hidungmu setelah Albus pergi—atau tepatnya, lari?"

"Aku tak suka melihatnya," aku Scorpius enggan. "Apalagi tampaknya dia selalu ada di sekitarmu setiap kali aku melihatmu. Duh, jangan bilang kau juga tidur satu kasur dengannya!"

Rose melotot mendengarnya, merasa tak terima dengan ucapan Scorpius barusan. Sebagian dirinya menyuruhnya untuk diam di tempat—apalagi karena para gadis-gadis sialan itu masih belum beranjak dari tempatnya—, sebagiannya lagi menyuruhnya untuk maju beberapa langkah dan menyiksa Scorpius tanpa ampun, kemudian memutilasinya dan membuang bagian-bagian tubuhnya ke berbagai tempat.

Rose mengutuk dalam hatinya. Ia terdengar seperti pembunuh di film-film sekarang.

"Jangan asal omong, Malfoy," tandas Rose pedas, dalam hati setengah berharap ucapannya dapat membakar Scorpius dalam hitungan detik. Lalu, ia-lah yang akan dibakar kemudian oleh gadis-gadis berwajah masam yang sekarang menyipitkan mata mereka. Rose merasa paranoid sekarang. "Kau, kan, tahu dia itu sepupuku—"

Rose berhenti sejenak. Percakapan ini terasa sama sekali tak benar. Ia berbicara seolah-olah Scorpius adalah—adalah—kekasih—atau apapun itu sebutannya, ia tak peduli! Bagus. Dan para gadis tampaknya memikirkan hal yang sama. Kalau Rose bisa sampai ke asramanya dalam keadaan hidup-hidup tanpa cacat, itu adalah suatu keajaiban.

"—dan kau tak memiliki hak untuk membenci kehadirannya di dekatku," lanjut sang singa Gryffindor cepat-cepat. "Lagipula, kehadirannya jelas sangat membantuku, mengingat kau tak menampakkan batang hidungmu setiap kali ia ada di dekatku."

Scorpius terbahak mendengarnya, seakan-akan Rose baru saja memuji bagaimana romantisnya film roman picisan Muggle. "Oh, aku cukup yakin kalau aku memiliki hak atas rasa benciku," katanya santai. "Tentunya, kau tak mempermasalahkan hal itu, bukan?"

Rose tidak tahu mengapa lelaki ini sangatlah temperamental—dan labil. Tampaknya perasaan Scorpius berubah-ubah kapan saja. Oh, atau jangan-jangan lelaki ini memiliki dua kepribadian?

Rose hendak mengajukan pertanyaan itu, tetapi ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan agar suaranya tak keluar tanpa seijin dirinya sendiri. Pertanyaan sejenis itu hanya akan membuatnya tampak bodoh.

"Oh, ya," jawab Rose jemu. Ia tak suka berada di dekat Scorpius, terlebih dengan keadaan sekitar yang sangat tidak menguntungkan (tanpa Rose beritahupun, kalian pasti mengetahui apa alasannya). "Aku tak mempermasalahkan hal itu," Rose mengulang kembali sepenggal ucapan Scorpius, tak berniat merangkai kata-katanya sendiri. "Langsung saja, deh, Malfoy. Aku tak suka mengulur-ulur waktuku yang berharga ini."

"Ah, benarkah?" Scorpius menggaruk dagu lancipnya—salah satu nilai plus yang menjadikannya tampak lebih menggoda di mata kaum Hawa—seolah-olah tumbuh janggut selebat milik Hagrid di sana secara tiba-tiba. Oh, hal itu akan menjadi pemandangan yang menarik sekaligus menghibur. "Karena, Weasley, sepertinya kaulah yang mengulur-ulur waktu sedari tadi. Ah ... kau tentunya ingin mengobrol denganku lebih lama, kan?"

Crap! Rose merutuk dalam hati. Justru, kehadiranmu di sini membuat hidupku bagai neraka, Tuan Malfoy!

Rose melemparkan senyum mencemooh ke pewaris tunggal harta Malfoy yang takkan habis sampai ada sekolah bagi peri-rumah—yang berarti dapat digunakan sampai akhir hayat—setengah berharap bahwa Scorpius tahu apa makna senyumannya.

"Tentu tidak," sahut Rose sopan, namun setajam belati.

"Jadi, Weasley," Scorpius memajukan wajahnya, membuat Rose nyaris jatuh ke belakang karena spontanitas atas reaksinya. Lantai Hogwarts terasa licin sekali, demi Merlin! Bagaimana mungkin Albus dapat berlari tanpa bokongnya mencium lantai? "Apa yang ingin kau ucapkan, hm? Jangan katakan bahwa kau ingin mengajakku kencan, no?"

"Kalau itu adalah hari Anomali Sedunia," jawab Rose, kini matanya menyipit seperti mata elang yang tajam menatap mangsa buruannya. "Aku tak mengatakan bahwa hal itu tak mungkin."

"Senang mendengar filosofimu yang bertele-tele. Langsung saja ke topik, Weasley."

Rose mengambil pasokan udara sebanyak mungkin, hendak mengisi paru-parunya sampai gembul. Berbicara dengan Scorpius menghabiskan stok kesabarannya. Terlebih lagi, nada sarkasme yang terkandung dan penuh arti di tiap ucapannya.

"Oke," kata Rose singkat. Ia juga tak ingin bertele-tele. Menghabiskan waktu bersama Scorpius jelas bukanlah hal terbaik di hidupnya. "Apa yang kau katakan kepada mereka?"

"Huh?" Scorpius mengangkat alis kirinya, tampak tak mengerti dengan ucapan Rose, atau mungkin ia pura-pura tak mengerti.

"Well, orang dengan iQ terendahpun tahu kau mengatakan sesuatu kepada mereka, kan?" Rose melirik para gadis di sekelilingnya, mengecilkan volume suaranya sampai hanya ia dan Scorpius yang bisa mendengar. "Jadi, katakan saja kepadaku."

Scorpius menyeringai mendengarnya. "Aku suka kepercayaan dirimu," alih-alih menjawab, lelaki dengan wajah yang lebih tampan dari dewi Yunani kuno tersebut malah memuji Rose. "Dan, tampaknya keingintahuanmu itu sangat besar, ya?"

Rose tak mundur atau mengeluarkan suara ketika Scorpius melangkah mendekat. Yang gadis Weasley itu ketahui adalah bahwa jantungnya berdegup sangat kencang. Sesaat, Rose merasa takut tak dapat mendengar apapun selain detak jantungnya. Dengan jarak sedekat ini, ia dapat menghirup napas mint bercampur maskulin Scorpius. Rose harus memastikan agar dirinya tidak meleleh karena hawa tubuh Scorpius yang sejuk, namun memberikan kehangatan aneh kepada siapapun yang berada di dekatnya.

"Kalau begitu," Scorpius mundur kembali, memerhatikan Rose dari ujung rambut sampai bawah. Sesaat, Rose merasa kecewa karena jarak yang semakin besar, dan ia mengutuk dirinya sendiri karena itu. "Aku akan memberitahumu sesuatu."

Scorpius berjalan mendekat, tetapi alih-alih mempersempit jarak keduanya seperti yang sebelumnya ia lakukan, lelaki itu memutari Rose, sampai akhirnya berada tepat di belakang raga Rose yang membeku, bercampur antara kegugupan dan ... hasrat?

Napas sejuk Scorpius dapat Rose rasakan di leher jenjangnya. Rose tahu bahwa ini bukanlah hal yang baik, terlebih mengingat bahwa gadis-gadis itu masih berada di tempatnya dan belum jemu berdiri di sana.

"Biar aku beritahu sesuatu."

Rose tak bergeming, mungkin itu lebih baik ketimbang lari sembari menjerit ke Asramanya, dan berakhir dengan bokong sakit karena jatuh setelah berlari-lari di atas lantai licin yang baru saja di-pel oleh Flich. Yah, setidaknya, Rose harus jaga imejnya juga, kan?

"Rose Weasley," lanjut Scorpius, kali ini suaranya terdengar serak—nyaris membuat Rose luluh karenanya—dan intens. "Kau telah jatuh ke dalam pesonaku."

Rose menunggu, menunggu, dan menunggu. Tapi yang ia dapatkan hanyalah suara langkah kaki yang semakin lama semakin sulit untuk digapai oleh pendengarannya.

Scorpius telah pergi. Seharusnya Rose senang karenanya.

Tapi—kenapa hanya ada rasa kecewa, marah, dan sakit yang tersisa—?

-oOo-

"Tanduk Unicorn Manchester," gumam Rose pelan, tampak tak bergairah hari ini. Lukisan Nyonya Gemuk yang bernyanyi nyaring terayun, memberinya akses masuk ke dalam Asrama. Beberapa lukisan mengeluh karena suara lukisan tersebut, beberapanya lagi ikut bernyanyi, semakin memperkeruh suasana. Biarlah, lagipula Rose tidak peduli mengenainya.

"Kau tampak lesu, Anak Muda," komentar Nyonya Gemuk, terhenti sejenak dari nyanyian soprannya yang gagal total.

Rose tak mengacuhkannya, ia merangkak masuk ke dalam, mendapati hiruk pikuk disana-sini, tak heran lagi dengan suasana Asramanya yang tak pernah dapat tenang. Awalnya, Rose mengira ia akan masuk ke dalam dan menyerukan nama Albus yang mungkin saja sekarang meringkuk di atas kasur, siap siaga dengan amukkan Rose. Tetapi, alih-alih menampakkan wajah penuh amarah, Rose malah menghempaskan dirinya di sofa merah marun terdekat yang diduduki oleh salah seorang murid kelas empat, tetapi setidaknya masih ada ruang bagi Rose.

Rose mengerjapkan mata coklatnya beberapa kali. Sebagian besar orang mengatakan bahwa mata coklat madu itu turunan ibunya, karena iris matanya terlihat setenang air di danau yang tak terusik. Tapi, mungkin perasaan Rose tak setenang matanya. Atau bahkan matanya tak secerah biasanya, bisa saja warna mata itu hilang, tampak redup dan penuh kekecewaan—karena sesuatu yang tak berguna dan tak layak dipikirkan.

"Rose—!" Lily terpekik, sedikit tertahan karena ia sedang berada di antara para kutu buku Gryffindor—suatu komunitas yang sudah sangat langka—dan kini dipelototi oleh lima atau enam pasang mata. Lily mengucapkan kata maaf berulang kali karena menyenggol atau mengganggu aktivitas seseorang, sampai akhirnya sepupu Rose dengan wajah ceria tersebut berada di depannya.

Usai sukses mengusir murid kelas empat yang berada di satu sofa bersama Rose dengan pelototan dan desisan galak, Lily menghempaskan bokongnya keras-keras ke atas sofa, membuat Rose terusik beberapa saat, namun kembali mengabaikan hal kecil seperti itu.

"Apa yang terjadi?" tanya Lily, sedangkan Rose sudah siap menerima rentetan pertanyaan tiada akhir. "Apa kau diusir dari Perpustakaan? Atau nilaimu E? Atau kau disakiti oleh laki-laki?"

Rose sendiri tak tahu apa yang menyebabkan cahaya kecil matanya redup. Disakiti oleh laki-laki-kah? Tapi Rose tak menemukan alasan yang tepat. Ia tak tahu mengapa dirinya mendadak seperti gadis yang baru saja patah hati—cengeng, manja, ingin diperhatikan, dan tak berpendirian.

Benarkah ...?

"Jadi, Rose," ujar Lily. Ada jeda sejenak agar ia dapat mengambil satu tarikkan napas panjang. "Apa yang terjadi? Kupikir kau bersama Albus."

Rose tak membantah pernyataan Lily, tapi ia lebih memilih untuk menghemat suaranya. "Seperti yang kau lihat, Lils," kata Rose akhirnya, terlalu cepat, dan ia tak menyadari hal itu. "Aku baik-baik saja."

"Oh, masalahnya, Rose Sayang, kau tak tampak baik-baik saja di mataku," papar Lily, tak berniat untuk melembutkan intonasinya. "Kau terlihat—uh—kacau!"

"Aku yakin kalau itu bukanlah masalah," kata Rose, tertawa kecil mendengar ucapannya sendiri. "Terlebih bagimu. Ya, kan?"

Lily mendengus mendengar ucapan Rose, namun ia tak membantah. Ia cukup sadar diri bahwa kehidupan pribadi Rose memang bukan urusannya. "Oke," kata Lily pada akhirnya, namun ia tak menyerah untuk mendengar secuil kabar dari Rose. "Tapi, katakan kepadaku apa yang menyebabkanmu seperti ini. Patah hati, eh?"

Bingo, batin Rose membetulkan ucapan Lily. Tetapi benaknya, logikanya, dan akal sehatnya menolak keras-keras pernyataan tersebut. Demi Merlin, hanya karena Scorpius Malfoy meninggalkannya begitu saja bukan berarti ia harus sekecewa ini, kan?

Benar sekali.

Rose tak menemukan alasan mengapa ia harus memikirkan hal ini sampai ke akar-akarnya. Bukankah sejak Pendatang Baru itu menampakkan diri di Hogwarts Rose tidak memikirkannya? Alih-alih dirinya, mungkin sepupu-sepupu Weasley dan Potternya-lah yang memikirkan hal tersebut, terutama para gadis.

"Ha ha," Rose berusaha menampakkan tawa canggung, tetapi yang terdengar hanyalah seperti suara robot yang datar tanpa intonasi. "Lucu sekali, Lily. Aku jelas bukan tipikal gadis seperti mereka, atau seperti kau, atau seperti kalian semua, yang bisa patah hati karena urusan sepele."

"Kau tahu," Lily memandang Rose kali ini. "Terkadang, kau tak bisa berbohong. Maksudku, caramu meyakinkanku atau orang lain terdengar ganjil, setidaknya beberapa kali."

"Aku hanya berusaha untuk jujur, oke?"

Rose menggigit bagian dalam pipinya keras-keras, lalu merasakan sesuatu seperti darah karenanya. Tidak, ia tak jujur. Apakah ada rasa bersalah? Sama sekali tidak.

"Baiklah," kata Lily pada akhirnya, memberi Rose sedikit ruang untuk merasa lega. Lily beranjak dari duduknya, sesuatu yang Rose tunggu-tunggu sedari tadi. Setidaknya, ikatan tali di sekeliling Rose terasa longgar meski tak memberi banyak efek. "Kalau begitu, aku akan ke Asrama. Kuku-ku patah karena memotong bahan yang bahkan sudah kulupakan namanya di kelas Ramuan, dan Profesor Slughorn hanya berkomentar bahwa ini adalah hal yang biasa. Duh, padahal aku sudah memoles kuku ini secara hati-hati!"

Rose tak menjawab, sedangkan Lily tak terlihat meminta jawaban maupun pendapat dari Rose atas celotehannya. Kemudian, gadis dengan tubuh mungil tersebut membalikkan badannya dan mulai melangkahkan kaki menuju asrama gadis.

-oOo-

"Whoa, Rose, kau menjadi selebritas baru, rupanya," James tertawa geli, sama sekali tak menunjukan rasa simpatik atas ekspresi paranoid Rose. "Kenapa semua murid memandangmu, sih?"

"Koreksi, kakak sepupu," kata Rose. "Bukan semua murid yang memandangku. Tepatnya, para murid Slytherin."

"Memangnya aku peduli?" balas James, kali ini tampak mencemooh. "Asrama Slytherin jelas-jelas bukanlah Asrama yang patut diperhatikan. Apalagi melihat wajah-wajah para penghuninya yang licik begitu."

Rose mengernyit mendengarnya, agak terganggu dengan nada bicara James, namun tak menyatakan satupun protes.

Setelah mengalami tragedi-sialan-dengan-Scorpius-Malfoy, Rose tak banyak bicara, setidaknya untuk malam itu. Menyadari jadwal patrolinya dengan Scorpius (entah kenapa, Rose sangat sering berpatroli dengan mayat hidup tersebut), Rose harus melontarkan seribu satu alasan agar Albus dapat menyuruh salah seorang prefek menggantikannya. Rose cukup yakin bahwa tak ada gadis yang menolak, maka ia tak mempermasalahkan hal itu.

Lagipula, tampaknya Scorpius sama sekali tak heran dengan tingkah lakunya. Entah ingin memberitahu Rose bahwa ia diperhatikan oleh seseorang atau apa, Albus berkata bahwa Scorpius menitipkan salam (sepertinya lelaki itu ingin membuat suasana hati Rose memburuk). Salam yang bahkan tak dibalas Rose. Lagipula, memangnya bedebah itu peduli apakah Rose membalas salamnya atau tidak? Rose bahkan tidak yakin kalau mayat hidup itu benar-benar menitipkan salam! Bisa saja, kan, itu hanya akal-akalan Albus?

"Memang," sahut Rose singkat, tak menyadari keanehan dalam suaranya sendiri.

"Dia memang begini," Lily mengibaskan tangannya ke udara kosong. "Sejak semalam. Moodnya pasti sedang rusak."

Bukan hanya rusak! Rose ingin menyerukan apa yang ia pikirkan. Melainkan, mungkin ia sudah menjadi gadis tanpa perasaan sekarang!

"Hu-uh," Hugo mengangguk dengan semangat bergelora. "Dia tampak siap membunuh siapapun yang menganggu ketenangannya semalam. Ya, kan, Al?"

Albus meringis mendengarnya. "Uh, mungkin," gumam Albus. "Sebenarnya—sebelumnya, dia berbicara dengan S—"

"Anna Kavanagh," potong Rose. "Aku berbicara dengannya, menanyakan mengenai jadwal prefek minggu ini dan meminta agar jadwalku diubah, karena tampaknya bukan suatu kebetulan aku mendadak menjadi sering berpatroli dengan Malfoy."

James nyengir lebar mendengarnya. "Sayangnya, Rosieku yang manis, Kavanagh tidak memiliki hak sedikitpun mengenai jadwal Prefek karena aku dan dia sudah saling membagi tugas dan berjanji untuk tidak mencampuri tugas satu sama lain kecuali diperlukan," celoteh James panjang, tak mempedulikan Rose yang kini menghela napas keras-keras mendengarnya. "Dan aku hanya ingin membantu kisah asmara sepupuku yang tak pernah berlangsung lancar. Siapa tahu lelaki Malfoy ini dapat membantu. Setidaknya, kau bisa menjadi teman kencan Lelaki-yang-Paling-Diincar-di-Hogwarts, setelah aku, tentunya."

Rose mendengus keras-keras mendengarnya. Ia menusuk daging panggangnya, berharap kalau yang ia tusuk adalah para gadis yang sampai sekarang masih curi-curi pandang ke meja Gryffindor (tentunya untuk memelototi Rose).

"Lalu, Dad akan mengamuk dan dunia kemudian luluh lantah karenanya," gurau Hugo, sukses membuat Rose tergelak mendengarnya. "Weasley dan Malfoy? Duh, James, itu jelas salah satu hal yang tidak mungkin terjadi! Benar, kan, Rose?"

Rose meringis mendengarnya. Tak pernah terjadi? Tentu saja. Memangnya, apa yang ia harapkan? Dasar tolol.

"Yeah," sahut Rose, terdengar sedikit getir, namun untunglah tak ada yang menyadari. "Tentunya aku tak mau dunia kiamat hanya karena amukkan Dad."

"Hoh, pasti Uncle Ron mengerti dengan keadaan," sahut James, terdengar optimis dan penuh percaya diri. "Uncle Ron dan Aunt Hermione, meski aku yakin Aunt Hermione tidak mempermasalahkan hubungan Asmara Rose, pasti pernah muda juga."

"Sayangnya," kata Rose kemudian. "Keluarga Malfoy adalah sesuatu yang tabu bagi Dad. Jadi, simpan saja baik-baik keinginanmu untuk mempersatukan Malfoy dan Weasley, James."

Jadi, simpan saja baik-baik keinginanmu untuk bersama Malfoy, Rose.

-oOo-

Scorpius baru sampai di ambang pintu Perpustakaan ketika Madam Pince, tanpa menengok, berkata, "Rose Weasley tak ada disini," dengan lancarnya, seolah-olah Scorpius datang ke Perpustakaan hanya untuk mencari Rose.

Duh, setidaknya, ia masih ada harga diri sebagai seorang Malfoy dan Slytherin!

"Maaf saja, ya, Madam," kata Scorpius, menyeringai lebar. "Aku ke sini untuk mencari buku Ramuan karena ada tugas essai."

Madam Pince tak lagi menaruh perhatian kepada Scorpius yang kini melangkah masuk ke dalam daerah teritorialnya setelah melirik lelaki Slytherin itu galak. Tampaknya, Scorpius tak mempermasalahka hal tersebut karena lelaki itu melenggang dengan santai melewati perpustakawan tersebut tanpa melihat lagi.

TBC

Zen's Footer Note :

Thanks to senjadistria, aish, , esposa malfoy, Ajeng puspita, cla99, Silvia WS, DraconisChantal, AkemyYamato, herianiyulia, ZimIzumi, DheaaMalf, Shizyldrew, Ratih, rest, G.O.H., Selena Hallucigenia, dan guest untuk review, fav, dan follownya(:

Kritik diterima dengan lapang dada.

P.S. : Maaf chapter ini agak mengecewakan, terlebih lagi isinya yang mulai berisi roman picisan. Ini pertama kalinya Zen terjun di dunia tulis-menulis, jadi masih canggung. Mohon maaf.

P.P.S. : Ada ide untuk chapter selanjutnya? Tolong PM Zen / e-mail ke staymozy ^^ Karna Zen ragu bisa melanjutkan fict ini atau tidak;A;

P.P.P.S. : Review akan dibalas semuanya di chapter depan, maaf. Ada gangguan koneksi.

With Love,

ZenWilder