Aesthetic – ZenWilder

Harry Potter – J.K. Rowling

Warning : Chara OOC, Semi AU, alur terlalu cepat, roman gagal, fokus terhadap Scorpius & Rose. T for language.

-oOo-

Aesthetic – Chapter III

Shadows

-oOo-

"Aku sudah tahu kalau kau ada disini," ujar Scorpius dengan penuh kepercayaan diri seraya melenggang dengan santai. "Tampaknya kau yang meminta Madam Pince untuk berkata bahwa kau tidak ada di sini, ya?"

Sudut bibir Rose berkedut, menampakkan ketidaknyamannya ketika Scorpius muncul mendadak, namun gadis itu memilih untuk tidak membalas ucapan Scorpius yang menggantung di udara.

"Well?" kata Scorpius, tak senang dengan kesunyian yang diberikan oleh Rose. Ia menarik bangku di sebrang Rose, berusaha agar tak menimbulkan keramaian karena tak ingin diusir oleh Madam Pince yang galak, lalu duduk di atasnya. "Tak ingin menjawab, huh?"

Rose mengerjapkan matanya, seolah-olah berusaha memberitahu Scorpius bahwa ia sedang tidak ingin diganggu sekarang, atau selamanya saja sekalian. Alih-alih menyahut, Rose membalikkan lembar buku Rune Kunonya, keningnya mengerut, entah karena tingkat kesulitan yang terlalu tinggi atau karena terganggu sebab Scorpius masih memperhatikannya.

"Hmm?"

Rose mendesah, pelan, tapi Scorpius masih dapat menangkapnya. Scorpius jelas tahu bahwa Rose sudah menyerah dengan kesunyian yang ia berikan. Pada akhirnya, seperti yang Scorpius tebak, gadis berambut merah tersebut mendongak, menyipitkan matanya seolah-olah Scorpius adalah lelaki yang paling ia benci sampai akhir hayat—atau mungkin hal itu memang benar.

"Apa lagi?" Rose mendesis, terdengar lebih berang dari biasanya. "Tolong, ya, Tuan Malfoy yang Dermawan dan Terhormat, jangan mengganggu hidupku barang sebentar saja."

Scorpius mengendikkan bahunya, tampaknya tak terganggu dengan intonasi bicara Rose. "Sebenarnya," ujar lelaki berambut platina tersebut lamat-lamat, bertingkah seolah suaranya didambakan oleh seluruh populasi gadis di Hogwarts—oh, Scorpius tidak membantah pernyataan tersebut, kok. "Aku hanya bosan melihatmu yang seperti mayat hidup berkeliaran tanpa suara."

Bah! Rose ingin meludah di wajah Scorpius sekarang. Setidaknya, ia harus memilih kosa kata yang tepat untuk menjelaskan apa maksudnya! Mayat hidup? Rose? Setidaknya kulit Rose masih agak kecoklatan, bukan putih pucat seperti lelaki di depannya ini!

Rose menggumamkan sesuatu yang tak jelas, memberitahu Scorpius secara tidak langsung bahwa ia tidak ingin berbicara sekarang dengan bedebah itu—atau dengan siapapun yang mengganggu ketentraman hidupnya.

"Setidaknya kau masih bisa berbicara," ujar Scorpius, seolah-olah menenangkan Rose yang baru kehilangan suaranya—semoga hal itu tidak terjadi. "Bukan mayat hidup sepenuhnya, bukankah begitu?"

Rose menghembuskan napasnya, kemudian menarik satu tarikan napas panjang, menghembuskannya kembali perlahan melalui mulutnya, terus seperti itu sampai ia merasa kesabarannya sudah terkumpul cukup banyak. Ia membutuhkan kesabaran ekstra bila sedang berhadapan dengan pirang sialan ini.

"Sepertinya," sahut Rose kaku. Bahkan orang tulipun dapat memberitahu bahwa Rose tak ingin berbicara saat ini. Selamanya saja sekalian kalau perlu.

"Kau tahu," kata Scorpius, tak ingin memutuskan jalur pembicaraan begitu saja. "Aneh rasanya melihatmu begitu—uh—pendiam, mungkin? Tak cocok dengan kepribadianmu yang gemar berbicara banyak itu. Tampaknya aneh bukanlah kata yang tepat. Ya, kan?"

Rose menggertakkan giginya, berusaha agar tetap tenang dan tidak menggebrak meja saat itu juga. Apakah semua Malfoy secerewet lelaki di depan ini? Mungkin saja klan terhormat itu rupanya lebih bawel daripada ibunya!

Rose mengambil satu tarikan napas kembali, kali ini yang benar-benar panjang. Memaksakan tiap udara memasuki paru-parunya yang sudah terlalu penuh. "Dengar, Scorpius Malfoy," katanya serius, memberi penekanan di tiap suku kata. "Kalau kau nyatanya memperlakukan semua gadis yang memujamu sama seperti apa yang kau lakukan semalam, lebih baik kau menjauh saja dariku. Karena, asal kau tahu saja, semua usahamu tentunya sia-sia. Ingin tahu kenapa?" tanpa menunggu Scorpius menjawab, Rose buru-buru melanjutkan, "Karena aku bukanlah mereka."

Rose mendesah, membereskan tumpukan bukunya dan meletakkan beberapa kembali di rak. Ia sudah siap melenggang keluar dari Perpustakaan kalau saja Scorpius tak menahannya.

"Kau akan kemana?"

"Belajar bersama Pucey," ujar Rose, tak merasakan sedikitpun rasa bersalah karena baru saja mengutarakan suatu kebohongan. Memangnya, siapa yang peduli?

Scorpius menyeringai mendengarnya. "Well, kau jelas bukanlah pembohong yang ulung, ya?"

Rose, yang merasa terintimidasi karenanya, mengernyit. "Oh, sayangnya, Malfoy, aku serius mengenai fakta bahwa Pucey jelas lebih menarik darimu, kok," ungkapnya riang—lagi-lagi meluncurkan satu kebohongan dengan begitu mulus. "Nah, Malfoy, semoga kau mencamkan tiap kata yang kulontarkan. Sampai jumpa—atau mungkin lebih baik kalau aku tak pernah melihatmu lagi."

Scorpius mengangkat alis kirinya (sesuatu yang tak pernah dapat Rose lakukan, sialan), tak tampak tersinggung mendengar kalimat pertama Rose. Ia lebih menaruh perhatiannya terhadap kalimat-kalimat selanjutnya. Lalu, ia tersenyum lebar, satu-satunya hal yang Rose pikir tak akan terjadi dalam momentum seperti ini.

"Well, Rose Weasley, seperti yang telah kukatakan," katanya lamat-lamat, dan Rose merasa ia akan meleleh perlahan karenanya. Scorpius memiringkan wajah, seolah-olah wajah Rose terlihat lebih baik dari sudut pandangnya yang baru. "Kau tak cocok—sama sekali tidak—menjadi seorang pembohong. Yah, tampaknya kau sudah mengetahuinya, bukankah begitu?"

-oOo-

. "Oh, sayangnya, Malfoy, aku serius mengenai fakta bahwa Pucey jelas lebih menarik darimu, kok."

Scorpius Malfoy tak pernah senang bila seseorang—apalagi seorang gadis—menolaknya mentah-mentah seolah ia adalah barang rongsokan yang tak berguna. Sayangnya, Rose Weasley benar-benar memperlakukannya seperti itu. Alih-alih membuatnya merasa terhina dan direndahkan, Scorpius malah yakin seratus persen bahwa gadis itu telah mencuri seluruh perhatiannya. Buktinya, tiga minggu terakhir ini ia habiskan untuk memperhatikan Rose dan tak benar-benar peduli dengan keadaan sekitarnya—

—termasuk mengikuti Rose kemanapun gadis itu pergi.

Setidaknya, Scorpius masih memiliki harga diri dengan cara terhormat dan khas Malfoy. Ia tidak terang-terangan membututi Rose sampai gadis itu menyadari kehadirannya. Oh, tidak, ia tak setolol itu.

Maka, demi harga diri yang jelas-jelas sedang dipertaruhkan, Scorpius menyahut, "Well, Rose Weasley, seperti yang telah kukatakan, kau tak cocok—sama sekali tidak—menjadi seorang pembohong. Yah, tampaknya kau sudah mengetahuinya, bukankah begitu?"

Tanpa perlu menatap manik wajah gadis Weasley tersebut, Scorpius yakin bahwa Rose pasti tengah tertohok saat ini. Lalu, setelah berusaha keras menyembunyikan wajah terkejutnya, Rose melemparkan senyumnya—manis—ke arah Scorpius. "Kepercayaan diri yang tinggi, Malfoy."

"Senang kau menyadarinya."

Rose mengendikkan bahunya, mendekap tiga sampai empat buku setebal kasur di pelukannya erat-erat seolah itu adalah artefak penting (betapa Scorpius berharap ialah yang ada di posisi buku-buku beruntung itu), lalu membalikkan badan tanpa memberikan sedikitpun respons.

Scorpius menyeringai, memandang punggung Rose yang kian tampak kabur dari jangkauan pandangannya, dan mengingatkan dirinya untuk menanyai Pucey setelah ini (sekalian menghajarnya, kalau bisa).

-oOo-

"Kalau ada yang melihat wajahmu, mereka pasti yakin kalau kau bertekad bulat untuk membunuh seseorang," komentar Sam. "Terlihat horor, tahu. Mirip persis seperti pembunuh berantai di film-film Muggle."

"Oh, ya?" gumam Scorpius, namun tak benar-benar menginginkan jawaban. "Aku tak menyangka seorang Zabini sering menonton film Muggle. Memangnya Aunt Daphne mengizinkanmu, heh?"

Sam mendecih mendengarnya, tak tampak berniat untuk menjawab. Kemudian, seolah teringat oleh sesuatu yang penting, ia menyeringai lebar ke arah Scorpius yang sama sekali tidak mengerti apa maksud ekspresinya.

"Jadiiii," katanya sembari menyikut perut Scorpius, membuat lelaki itu mengumpat, tak lupa bersiul riang. "Bagaimana perkembanganmu, hm?"

"Huh? Kalau maksudmu adalah perkembanganku dalam pelajaran Sejarah Sihir, sayang sekali, aku merasa seperti orang tolol di kelas itu karena tak bisa tidur maupun mengerjakan sesuatu yang penting di dalam kelas. Lagipula, kenapa, sih, mereka merekrut guru berupa hantu? Memangnya hantu membutuhkan galleon?"

Sam menarik napas. "Bukan itu, tolol," Sam menusuk potongan daging panggangnya tanpa nafsu. "Pantas saja Rose Weasley tak berniat menerima tawaran kencanmu. Otakmu lebih dangkal dari Troll, duh."

Scorpius membalikkan piringnya, membiarkannya terisi sendirinya. "Yah, satu hal yang perlu kauketahui, Zabini. Aku tidak mengajaknya kencan."

"Oh, tentu saja. Kau, kan, tidak punya nyali, Scorp," gurau Sam, nyengir lebar ketika sang sobat melotot ke arahnya. "Kalau tidak, bisa-bisa Nott atau Pucey yang mendapatkannya. Aku sama sekali tak keberatan kalau kau memberikannya kepadaku, kok."

"Apa kau selalu seperti ini?"

"Seperti apa?"

"Cerewet, lebih cerewet dari Profesor Binns, malah."

"Aku tersanjung," ujar Sam, memberikan pandangan kesalnya secara cuma-cuma kepada Malfoy tunggal tersebut. "Lebih baik ketimbang selalu hemat suara sepertimu."

"Daya tarik seorang Malfoy adalah—"

"Blah, blah, blah," Zabini menguap. Ia tak menunjukkan tanda-tanda ingin mendengar atau sekedar memberikan perhatian. "Jadi, seperti yang tadi kutanyakan, bagaimana perkembangannya?"

"Ijinkan aku untuk bertanya kepadamu dulu," kata Scorpius. "Kenapa kau jadi serba ingin tahu, eh? Kepengen membuat gosip terhangat?"

Sam menguap—pura-pura—mendengarnya. "Seingatku, kau juga penyebarkan gosip palsu mengenai kau dan Weasley itu," ia mengerutkan keningnya, seolah-olah hal itu sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. "Well?"

Scorpius mengangkat bahunya, memutuskan untuk tak menjawab. Setidaknya, itulah yang ia lakukan. Tak menjawab.

-oOo-

"Kapan mereka akan berhenti memelototimu, Rose?" tanya Albus tolol, seolah-olah Rose mengetahui segalanya. "Tak enak rasanya diperhatikan seperti itu. Bahkan, meskipun kaulah yang mereka perhatikan, aku masih merasa agak terintimidasi karenanya."

"Aku bahkan tak tahu kenapa para Slytherin tolol itu," Rose memelankan suaranya. "Masih betah memandangiku. Percaya, deh. Aku yakin aku tak melakukan kriminalitas atau hal-hal sejenisnya."

"Sejujurnya," ungkap Albus setelah membiarkan keheningan melingkupi keduanya untuk beberapa saat. "Kupikir kau akan merasa tersanjung karena—mereka?" Albus menampakkan kebingungannya, tak tahu harus menyatakan apalagi.

Rose mendecakkan lidahnya, seolah-olah tak percaya bahwa sepupunya sendiri dapat menanyakan hal setolol ini. Mendadak, Albus merasa salah omong. "Oh, ya?" tanya Rose, mengernyitkan kening dan menampakkan tanda-tanda kerisihan berlebih. "Albus, coba, deh, beritahu aku. Siapa, sih, yang menikmati pandangan yang secara tak langsung menyiratkan bahwa ia dapat mati di tempat kapan saja? Hm?"

Albus bergumam tak jelas. Ia jelas menunda keinginannya untuk menjawab. Tak ingin berdebat, Albus memilih untuk bungkam.

"Soal semalam," kata Albus canggung. Ekor matanya melirik Rose, mendapati gadis itu kerap menoleh ke belakang. Menunggu seseorang? Sesuatu? Albus tak yakin dengan pikirannya sendiri. "Uh, sori."

Rose tergelak mendengarnya, membuat Albus dapat menghembuskan napas lega untuk beberapa saat. "Bukan masalah. Bukan masalah bila kau meninggalkanku dengan mayat berjalan itu berduaan saja di koridor yang sepi dengan para gadis sialan itu menjadi penontonnya. Sama sekali bukan masalah, kok."

Albus harus mengingatkan dirinya sendiri bahwa Rose adalah pengguna kalimat sarkasme yang unggul dan profesional. Sama sekali bukan tandingan Albus karena ia berada jauh di bawah. Albus kembali menghembuskan napasnya, kali ini terdengar putus asa. "Yeah. Aku hanya memberimu privasi."

"Terkadang, privasi sama sekali tak membantu. Apalagi kalau berhubungan dengan mayat biadab itu."

Albus tak dapat menahan diri untuk tak tertawa mendengarnya. "Kau memiliki selera humor yang bagus."

Rose mendesah panjang kemudian. Sedetik, Albus mengira bahwa Rose akan membantah pernyataan yang baru saja ia lontarkan mentah-mentah. Namun, rupanya Rose Weasley ingin membicarakan soal hal lain. "Aku benar-benar ingin tahu kenapa mereka melihatku seperti itu," kata Rose kemudian. "Masalahnya, tak ada murid yang bukan Slytherin yang mengetahui alasan mereka menatapku dengan beringas begitu. Seperti algojo saja."

"Kau bisa bertanya dengan William Nott—"

"Bah!" gerutu Rose kesal, tak mau repot-repot memelankan suaranya. "Yang benar saja, Al! Bisa-bisa ia mengira kalau aku benar-benar menyukainya, duh!"

Albus mengangkat bahu. "Siapa tahu ia dapat membantu, ya, kan?"

"Tak tahu," kata Rose canggung. Kemudian, ia menghela napasnya keras-keras. "Abu-abu."

"Pardon?"

"Scorpius Malfoy—" kata Rose setelah tak bergeming untuk beberapa saat. Suaranya tercekat. "—adalah abu-abu, Al. Abu-abu."

-oOo-

Kesalahan terbesar yang Rose buat dalam hidupnya mungkin adalah ini—mendatangi Nott yang dengan kalem duduk di salah satu bangku pelajaran Ramuan. Seperti biasa, Nott selalu datang kelewat pagi dari anak-anak lainnya. Ketika yang lain masih sibuk membersihkan diri, Nott sibuk 'membersihkan' piring makannya. Ketika yang lain masih sibuk makan, Nott sudah berada di dalam ruang kelas sesuai jadwal.

Rose menarik napas panjang-panjang. Meski keduanya sama-sama sering berada di kelas berdua saja, Rose tak pernah berniat untuk membuka mulut dan melakukan interaksi bersama Slytherin barbar itu. Entah dirinya sudah kehilangan akal sehat atau tidak, sekarang Rose berjalan dengan canggung ke arah lelaki yang mengangkat kedua kakinya di atas kursi, sibuk membaca salah satu buku pinjaman Perpustakaan.

"Ada apa?"

Bahkan, sebelum Rose sempat membiarkan suaranya keluar dari kerongkongan, Nott sudah menyelanya terlebih dahulu.

"Oh—" kata Rose kelewat gugup. "—sebenarnya, bukan apa-apa—uh—"

"Ya?"

"Duh, aku benci harus menanyakan ini," gerutu Rose pelan. Dalam hati, ia berharap Nott tak mendengarnya.

Nott menyeringai lebar mendengarnya. "Jangan buat aku penasaran begitu, dong," katanya geli. "Nah, kau ingin mengajakku kencan, atau apa, Rose?"

Rose menyipitkan mata. Guratan di wajahnya menampakkan tanda-tanda ingin meledak. Rose hendak mengatakan, 'Nott, tak ada yang ingin kencan dengan lelaki sialan sepertimu, kau tahu?', namun ia menelan kembali suaranya kembali ke kerongkongan. Bukannya mendapatkan informasi, mungkin Rose akan mendapatkan memar.

"Lucu sekali, Nott," tukas Rose galak. "Jadi, apa yang digunjingkan oleh para Slytherin?"

Seringai Nott kini pupus, tapi seulas senyum masih tertempel di wajahnya. "Hmmm, biar kupikir-pikir dulu, ya," ia menggaruk dagu lancipnya. Keningnya mengerut, seolah-olah ia sedang berpikir untuk jawaban soal Rune Kuno Tingkat Tinggi. "Sebenarnya, kami para Slytherin membicarakan banyak hal. Oh, tentu saja, kami tak benar-benar berniat untuk membicarakan orang lain. Dalam kata lain, kami melakukannya dengan tidak sengaja. Banyak sekali, kalau dipikir-pikir. Kau tidak bermaksud membuatku menceritakan dari awal hingga akhir, kan?"

"Aku merasa sedang berbicara dengan orang idiot. Sungguh."

"Yah, kau tak memberitahuku detailnya. Kau tak memiliki hak untuk menyalahkan ketidaktahuanku, bukan?" Nott tersenyum manis, menampakkan gigi-giginya yang rapi. Gadis manapun pasti pingsan bila melihatnya—oh, minus Rose.

Kening Rose mengernyit, kedua alisnya kini bertaut. "Entah bagaimana nilaimu bisa lebih tinggi dariku di pelajaran Herbologi," Rose mendesah berat.

"Dan Sejarah Sihir," lanjut Nott. Entah bagaimana, kini ia sudah duduk di atas mejanya. "Kenapa kau selalu melenceng dari topik, eh?"

"Kau tahu, kan, kalau sebenarnya kaulah yang melenceng dari topik," sahut Rose sopan. Giginya terkatup, membuat suaranya terdengar berbeda.

"Oke," ucap Nott pada akhirnya, mengangkat kedua tangannya seolah-olah ia tengah ditodong oleh senjata api berkaliber 45—itupun kalau lelaki darah murni tersebut mengerti soal senjata muggle. "Jangan salah sangka, aku tak gemar menggosipkan hal-hal sejenis ini. Aku hanya mendengar mengenai gosip antara kau dan Malfoy barbar itu—"

"Barbar apanya, Nott?"

Rose Weasley mendelik, menahan diri agar tak membalikkan badan dan berseru di depan wajah Malfoy, yang memang barbar, tersebut.

"Yah," kata Nott kalem. "Pokoknya seperti itu. Kau tahu, dong, apa maksudku, Malfoy?"

Scorpius mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Aku tak merasa bahwa aku sebarbar itu, kok," ungkap Scorpius terus terang. "Setidaknya, lebih baik Malfoy ketimbang Nott."

"Setidaknya juga, Malfoy, aku tak membuat gosip dengan imajinasiku sendiri."

-oOo-

. Scorpius sudah berada di ambang pintu ketika mendengar suara William—sialan—Nott. "Jangan salah sangka, aku tak gemar menggosipkan hal-hal sejenis ini. Aku hanya mendengar mengenai gosip antara kau dan Malfoy barbar itu—"

"Barbar apanya, Nott?" sela Scorpius, menyeringai lebar sembari melangkahkan kaki jenjangnya ke dalam kelas Sejarah Sihir.

Dari ujung iris kelabunya yang dingin, Scorpius dapat menangkap gerakkan Rose yang kini mendelik. Mata coklatnya melotot. Siapapun juga tahu kalau gadis Weasley itu sedang menahan amarah yang dapat meledak kapan saja.

"Yah, pokoknya seperti itu. Kau tahu, dong, apa maksudku, Malfoy?" ujar Will manis nan kalem. Nott tahu jelas bagaimana cara membuat seseorang merasa terancam.

"Aku tak merasa bahwa aku sebarbar itu, kok. Setidaknya, lebih baik Malfoy ketimbang Nott."

"Setidaknya juga, Malfoy, aku tak membuat gosip dengan imajinasiku sendiri."

Scorpius mengangkat alis kirinya tinggi-tinggi, menampakkan ekspresi ketidaktahuannya. "Gosip yang mana, eh?"

"Kau tahu yang mana, Malfoy. Kau tahu."

Kemudian, dengan gaya khasnya, William Nott berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari kelas, tampaknya hendak mengambil buku lain dari Perpustakaan mengingat kelas baru dimulai lima belas menit lagi. "Yah, Rose," kata Nott lantang—sesuatu yang disengajakan. Orang idiotpun dapat menyadarinya (tentu saja, pikir Scorpius penuh rasa kemenangan. Nott sendiri, kan, juga seorang idiot). "Danau Hitam sore ini—untuk informasi yang lebih lanjut, oke?"

Rose mengernyit, tapi tak mengeluarkan pernyataan apapun. Alih-alih menjawab, atau bahkan yang lebih buruk, melemparkan pandangan penuh rasa benci ke arah Scorpius, gadis itu menghempaskan bokongnya ke atas salah satu bangku. Ia bahkan tak menunjukkan tanda-tanda terganggu ketika Scorpius meletakkan buku-bukunya (yang super tipis) di tempat belakang Rose.

"Kau akan datang?"

"Tidak," kata Rose. Sesaat, Scorpius merasa dirinya lebih baik. "Kalau kau mau menjelaskan apa maksudnya."

Persetan dengan apa yang ia rasakan sebelumnya, Scorpius ingin menggantung dirinya di menara Astronomi. "Tak ada yang perlu dijelaskan—" Sesaat, rasa bersalah melingkupi dirinya. Tapi ia lebih memilih untuk mengabaikan rasa sialan itu. "—ya, kan?"

Scorpius menahan napasnya sejenak, menunggu respons dari Rose. Namun gadis itu masih bungkam, mengabaikannya seolah-olah ia hanyalah seonggok debu yang tak pantas mendapatkan perhatian.

"Bagaimana mungkin kau dapat berbicara dengan Nott, tetapi kau tidak mau memberiku waktu untuk berbicara denganmu?"

Rose menegakkan tubuhnya, entah karena posisi sebelumnya membuat gadis tersebut merasa tidak nyaman; atau karena pertanyaan tolol yang meluncur dari mulut Scorpius begitu saja tanpa seijin otaknya membuat Rose merasa tegang.

"Karena aku berbicara dengannya asal dasar kemauanku," sahut Rose kaku, sedikit terdengar ketus, tetapi kegugupannya menutupi intonasi berbicaranya. "Sedangkan kau—"

Mengernyitkan dahi, Rose tampak tak tahu harus mengatakan apa. Setelah terdiam cukup lama, ia kemudian membuka mulutnya. "Lupakan."

"Sedangkan aku ...?"

"Lupakan, kataku," kata Rose keras kepala. "Tak penting."

Yeah, gumam Scorpius dalam hati. Aku memang tak penting.

-oOo-

Rose Weasley sedang dilanda dilemma serius. Ia memiliki dua pilihan; pergi ke Danau Hitam, atau tetap mendekam di Asrama. Tentunya, kalau ia dalam kondisi ingin-tahu-mengenai-segalanya, Rose akan memilih untuk pergi ke Danau Hitam, bahkan meski itu berarti ia harus bertemu dengan Nott. Tetapi, ia kini merasa malas luar biasa. Yang ia inginkan saat ini hanyalah kasur Asrama yang empuk dengan suhu ruangan yang pas.

Lily sudah berada di dalam kamar Asrama sedari tadi, yang ia lakukan dalam lima belas menit terakhir hanyalah menggoyang-goyangkan kakinya dan menguap beberapa kali, serta menggumamkan hal-hal tak jelas yang tidak bisa ditangkap oleh telinga Rose.

"Kau tidak ingin kemana-mana?" tanya Lily pada akhirnya. Lagi-lagi gadis tersebut menguap lebar. "Cuaca sedang bagus diluar. Suhu musim November memang sejuk sekaligus hangat. Terlebih kalau kau memiliki kekasih, hhh ..."

Rose tak dapat menahan senyum gelinya. "Kau belum cukup umur untuk memiliki pasangan kencan, ingat?"

"Duh," keluh Lily, disusul dengan erangan jangka panjang. "Memangnya kenapa, sih? Kau berkencan dengan Nott pada tahun keempat!"

Kemudian, Lily berkata lagi, "Yah, harus kuakui kalau Nott itu benar-benar—menarik—" dia menimbang-nimbang sejenak. "Tahu apa maksudku, tidak? Aku tak dapat menemukan kosa kata yang tepat untuk menjelaskan Nott. Sempurna tentunya bukan kata yang tepat, bukankah begitu, Rose? Ia Slytherin, licik dan mudah berkelit seperti biasanya, sekaligus merupakan pembohong yang ulung."

Rose memilih untuk tak tersenyum ketika mendengarnya. "Yeah, benar. Licik dan mudah berkelit. Pembohong yang ulung. Kau benar."

"Apa kau tidak ada janji dengan siapapun sore ini, Rose?"

"Yah, katakan saja kalau aku melewatkan janjiku dengan seseorang," gurau Rose, berharap agar Lily menganggapnya sebaai lelucon semata.

"Siapa?"

"Seperti apa yang kau katakan, Lils. Slytherin licik, mudah berkelit, dan pembohong yang ulung."

-oOo-

Rose berjalan menuju Aula Besar, mengumpat pelan setiap kali ada junior yang menabraknya dengan keras. Sore ini ia habiskan di atas ranjang, ditemani Lily yang tak hentinya melontarkan pertanyaan. Meski merasa bersalah karena membatalkan janji begitu saja (biar Rose perjelas. Rose tidak berjanji kepada Nott. Ia bahkan tak menjawab), Rose tak berusaha mencari Nott sedari tadi—

—karena lelaki itu kini sudah berdiri di sampingnya.

"Kupikir Apparate tak dapat dilakukan di sekitar wilayah Hogwarts kecuali adanya izin atau hak khusus," kata Rose, tertawa geli.

"Aku memiliki hak khusus," ungkap Nott, mengikuti jalur pembicaraan. "Kau tahu, sebagai lelaki tertampan di Hogwarts."

"Teruslah meraih mimpi yang tak mungkin dapat kauraih."

"Apa dia sudah memberitahumu mengenai duduk perkara yang sebenarnya, Rose?" Tanpa aba-aba, lelaki dengan rambut gelap tersebut mengubah jalur pembicaraan, membuat Rose perlu memutar otaknya untuk sejenak.

Rose menghembuskan napasnya. "Sayangnya, belum," gerutu Rose sebal. "Kenapa, sih, para Slytherin itu belum jera juga memerhatikanku?"

"Harus kuakui kalau kau memnag layak mendapatkan perhatian—"

"Al juga mengatakan hal itu kepadaku. Yeah, aku akan sangat senang kalau tatapan yang ditujukan kepadaku merupakan tatapan penuh rasa kagum atau sejenisnya—bah, yang tak mungkin terjadi," tukas Rose pedas. "Aku tak berniat untuk diperhatikan seperti ini. Slytherin sialan."

"Aku ini juga seorang Slytherin," ingat Nott, datar namun tak serius. "Well, kau ingin tahu atau tidak, eh?"

"Slytherin atau Gryffindor?"

"Aku masih memiliki rasa kemanusiaan yang dianggap absurd oleh para Slytherin," sahut Nott, mengerjapkan matanya beberapa kali. "Jadi, mungkin Gryffindor. Aku tak dapat berbicara dengan gadis duduk di sampingku dengan tegang karena dilemparkan pandangan membunuh dari seluruh penjuru arah."

"Kalau kau tak mau," kata Rose lamat-lamat. "Sekalian saja duduk di meja Hufflepuff."

Nott mengeluarkan suara seperti hendak muntah. "Dan harga diriku sebagai seorang Nott pupus seketika. Jenius, Rose."

Rose tersenyum lebar. "Oke," katanya kemudian. "Gryffindor."

TBC

Zen's footer note :

Yeap, as flat as usual. I need to face the fact. Well, FF ini memang bawaannya klise, sama spt crita pasaran. But BIG THANKS to those who reviewed, followed and faved this fict! It means sooo much. You guys made my day!

Hope this chapter not that bad. Even Zen tau banget kalo ending chapter III ini sedikit mengecewakan. So sorry!

And, sorry for the scenes. Too much scenes, right? I hope I'll get better later soon.

Thanks to senjadistria, aish, , esposa malfoy, Ajeng puspita, cla99, Silvia WS, DraconisChantal, AkemyYamato, herianiyulia, ZimIzumi, DheaaMalf, Shizyldrew, Ratih, rest, G.O.H., Selena Hallucigenia, Alice Dracia Malfoy, adeapel, Melody Rosaline, angelindapeeves, Yuko Nagic-chan no Login, mrsbubugig, Wike Hyperion, Klasy Malfoy, Kuroba Ayaka, dan guest untuk review, fav, dan follownya(:

Review Corner (Utk yang memiliki akun maupun yg tidak Zen gabung, ya) :

Chapter I

Guest : well, what a pleasure(: Semoga chapter ini ngga mengecewakan, ya

G.O.H. : Done^^

Selena Hallucigenia : Thankyouuu, Selena. Untung, deh, ya, sarkasnya berasa xD Ngga confident sama sarkasnya, sih. Haha

Rest : Done(: Thankyou! What a pleasure^^

Ratih : Haha donee :3

Just Wike : Kurang panjang? Sptnya chapter ini lebih pendek lagi xD Akan di'perpanjang' kapan-kapan, deh. Hihi

Herianiyulia : Thanks, Her! Sudah dilanjut(: Semoga sama memuaskan atau lebih baik dari chapter 1 yaa^^

AkemyYamato : Haha, untuk masalah 'mertua', sih, bakal dilihat dari chapter2 selanjutnya(:

DraconisChantal : Thanks for the compliments, Draconis! Mmg agak OOC, kok, hehe. Yeap, flirty Scorp emang sengaja dibuat biar tambah 'deg2an' hehe. Done, yaa

SilviaWS : Trims utk pujiannya, semoga makin bagus, deh, dengan adanya chapter III ini hehe. Iyaa, Zen jg baru sadar pas kamu tegur (pdhl sdh Zen baca berkali-kali. Duh, msh ceroboh xD). Trims, lho, untuk tegurannya. It really helps! Ga kepanjangan, kok, haha(:

Cla99 : Sudah dilanjut, ya, Cla(: Maaf agak telat(:

AjengPuspita : Hi, Ajeng(: Sudah dilanjutkan. Semoga lebih baik dr sebelumnya, ya(:

EsposaMalfoy : Trims untuk pujiannya(: Apa sdh cukup kilat? Haha

Aish : Sudah(:

Senjadistria : Yeap, Durmstrang xD Jauh lebih maskulin ketimbang Hogwarts (loh). Yeap, mmg maksa haha karena dlm satu chapter bisa ditulis dalam mood yang berbeda. Jadi ada bagian dimana Zen enjoy & bagian dimana Zen sdkt memaksa imajinasi xD Iyaa, alur Zen percepat biar ga ngebosenin(: Thanks, ya, Senja(: Sudah di next^^

Chapter II

KlasyMalfoy : Zen juga penasaran haha xD Sudah cukup kilat-kah, Klasy?(: Trims utk reviewnya(:

HerianiYulia : Trims lagi utk reviewnya(: Yeap, Zen jg pecinta Cliffhanger, tapi entah kenapa mood utk menulis hilang seketika di chapter II without any reason xD maaf, ya^^ Semoga chapter III lebih baik!

WikeHyperion : Waa, thankyou(: Semoga chapter ini cukup memuaskan, ya (: xx

Mrsbubugig : Trims utk sarannya(: Sdh dilanjutkan, ya(:

Yuiki Nagi-chan no Login : Haha, apa feeling Scorpius jealous disini cukup kerasa (even Zen yakin kalo bnr2 ga kerasa haha)?

Senjadistria : Hi, trims lagi utk reviewnya(: Yeap, Zen jg kepikir spt itu(: Liat aja dulu apa otak Zen mau diajak kerja sama haha xD

Alice Dracia Malfoy : Trims untuk pujian beserta reviewnya, Alice(: Sudah dilanjutkan, yaa(:

Zen