Aesthetic

written by ZenWilder

J.K. Rowling owns Harry Potter

-oOo-

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"..."

"Malfoy."

"..."

"Malfoy, apa yang kau lakukan di sini?"

Rose Weasley, Prefek sekaligus murid kebanggaan para Gryffindor memandang Scorpius dengan kebencian yang tak repot-repot ia tutupi. Di sampingnya, Nott duduk manis, memilih untuk tak ikut campur dalam pembicaraan Singa dengan Ular. Bagi Nott sendiri, bistik salmonnya terlihat lebih menarik ketimbang pembicaraan dua sosok di sampingnya.

"Apa katamu tadi?" Scorpius mendongak dan mengerjapkan matanya beberapa kali, memerankan anak polos yang tak tahu apa-apa.

"Apa yang kau lakukan di sini—demi Merlin—, Malfoy?" Rose menahan lidahnya agar tidak mengucapkan sumpah serapah dalam segala bahasa yang ia ketahui. Reputasi, reputasi, reputasi... Jangan sampai reputasi yang ia jaga baik-baik merosot begitu saja karena anak baru tak tahu diri.

"Aku hendak bercakap-cakap dengan Albus," Scorpius menyahut manis. Yang namanya disebut memilih opsi yang sama dengan Nott, bungkam dan pura-pura tak berada di sana. "Sedangkan kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku seorang Gryffindor!" pekik Rose jengkel. Atensi hazel yang ia dapat dari ibunya berkilat untuk beberapa saat. Dengan susah payah, Rose menekan segala jenis emosi negatif yang berada di sekitarnya. Gelarnya sebagai Prefek baik-baik harus dipertahankan, bahkan kalau itu berarti batasan dalam kebebasan untuk mengutuk Scorpius Malfoy, makhluk paling menjijikkan yang pernah ada di muka bumi.

"Di samping itu," kata Rose setenang mungkin, namun ketenangan itu patah hanya karena senyuman miring Scorpius yang mendadak bertengger di wajah, "semua orang bisa melihat kalau kau tidak mengatakan apapun—bahkan satu patah katapun—kepada Al!"

"Oh, benarkah?" Scorpius menyunggingkan seulas senyum, yang terbaik, tanpa perasaan bersalah. Senyum itu sendiri menambah pesona khas Malfoy yang sudah melekat padanya, membuat Rose harus mengingatkan dirinya sendiri bahwa Scorpius Malfoy-lah yang tengah ia hadapi, bukan lelaki yang kebetulan terlahir amat menawan dan memesona dan—

Astaga. Rose benar-benar harus memeriksa kewarasannya sendiri secepat mungkin.

"Apakah itu berarti kau memperhatikanku sedari tadi, Weasley?"

Rose menggigit bagian dalam pipinya keras-keras. Ini pasti bagian dari rencana Scorpius Malfoy untuk menghancurkan reputasinya. Selain itu, tampaknya Malfoy berencana untuk mempermainkan otak dan mental Rose—

—dan hatinya, barangkali?

Terkutuklah lelaki bar-bar sialan itu.

"Aku terlalu sibuk berbicara dengan Nott untuk memperhatikanmu yang tidak berarti sama sekali," gerutu Rose pelan, mengabaikan hatinya yang berteriak keras-keras, Bohong!

Rose memang berbicara dengan Nott, menyinggung topik-topik ringan yang dibahas ketika bertemu seorang teman. Kenyataan itu tetap saja tak membuatnya melupakan keberadaan Scorpius sama sekali. Beberapa detik sekali, otak Rose mengatur matanya untuk melirik ke arah Scorpius. Matanya tak melihat apa-apa yang menarik, kecuali Scorpius yang balas memandangnya dengan sepasang mata abu-abu dingin namun menenangkan.

Scorpius tertawa kecil mendengar ucapan Rose. "Oh, ya? Kau bukanlah pembohong ulung, Rosalie."

Rose melotot. Nama lengkapnya hanya disebut oleh orang-orang terdekat, itupun ketika mereka tengah membicarakan hal yang penting. Mendengar namanya disebut oleh lelaki macam Scorpius hanya menyulut emosi Rose. "Aku bersumpah, kalau kau berani memanggilku dengan sebutan itu lagi—"

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Scorpius kalem. "Menyeretku ke ranjang, barangkali?"

"Kalau maksudmu dari kata ranjang adalah peti matimu, dengan senang hati kulakukan," cerca Rose pedas.

"Ucapanmu itu benar-benar menusuk hati," komentar Scorpius. Sesudahnya, ia bangkit berdiri dengan satu gerakan mulus. "Sampai jumpa nanti, Rosie. Kalau kau butuh ranjang yang hangat, kau tentunya tahu kemana harus pergi."

Rose mencengkram roknya keras-keras, berharap ia dapat menyalurkan amarahnya melalui gerakan sederhana tersebut.

Sejak kecil, Rose tak pernah kalah dalam permainan apapun bersama saudara-saudaranya. Kalaupun ia kalah, Rose takkan mau mengakui kekalahan itu dan menuntut untuk melakukan permainan ulang, terus begitu sampai ia menang.

Rose tak tahu apa jenis permainan yang dimainkan oleh Scorpius. Kendati demikian, gadis itu bersumpah bahwa ia takkan kalah.

...

"Rose, pipimu merah."

"Tutup mulut, Al."

-oOo-

Patroli malam tak pernah terasa sehening ini.

Scorpius melirik gadis di sampingnya yang berjalan dengan langkah pendek teratur, tampaknya sama sekali tak terganggu dengan pandangan Scorpius yang berulang kali tertombok padanya. Di dalam genggaman tangan Rose, tongkat Nadi Jantung Naganya yang memancarkan setitik cahaya kecil tampak menonjol di tengah-tengah kegelapan pekat koridor Hogwarts. Sang Pemilik Tongkat sendiripun tampaknya tak keberatan diperhatikan oleh Scorpius sejak patroli berlangsung. Kalau keadaannya tidak sehening ini, Scorpius pasti sudah menggoda Rose habis-habisan.

Ayahnya memang pernah bercerita tentang temperamen Ron, ayah Rose, yang buruk, dan tentang bagaimana Ron selalu yang pertama memulai pertengkaran di antara Trio Emas, meski Scorpius sendiri tak tahu darimana sang Ayah mendengar hal tersebut. Kalaupun kisah itu benar, Scorpius tidak menyangka Rose akan naik pitam hanya karna digoda dengan cara seklasik itu.

"Oi." Membuang gengsi dan egonya jauh-jauh, Scorpius akhirnya membuka pembicaraan. Ketimbang dipaksa untuk berdiam diri selama tiga puluh menit, lebih baik ia menguras otak untuk membalas ucapan-ucapan pintar Rose. "Kenapa diam saja? Kau dikutuk, ya?"

Langkah Rose tersendat untuk sepersekian detik. Scorpius melihat kilatan keterkejutan pada wajah Rose, hanya sesaat, namun tampak amat jelas dengan penerangan tongkatnya. "Tidak," sahut Rose pendek.

Scorpius menunggu beberapa saat, kemudian menghela napas ketika tak mendengar suara Rose sedikitpun. Tampaknya, gadis bersurai merah tersebut tak tertarik untuk melanjutkan pembicaraan lebih lanjut.

"Apa yang kau bicarakan dengan Nott tadi di Aula Besar?"

Idiot, rutuk Scorpius. Untuk apa menyinggung topik sensitif seperti itu?

Rose melirik Scorpius. Bahkan, ujung mata Rose-pun memancarkan kebencian.

"Tidak ada," kata Rose tenang. Pandangan matanya menohok Scorpius telak. "Aku menunggu untuk mendengarnya langsung darimu."

"Mendengar apa langsung dariku?"

"Soal—" Rose membuat tanda kutip dengan kedua jari telunjuknya, "—gosip yang dimaksud oleh Nott."

Nott sialan. Scorpius tahu persis kalau lelaki itu selalu senang menonton dari bangku paling depan dengan makanan di tangan alih-alih ikut ambil andil dalam pertunjukan. Bagaimanapun, Nott juga memegang peranan penting soal gosip sialan yang terus menerus disinggung olehnya kepada Rose.

"Oh, begitu," gumam Scorpius pelan. "Ya sudah, kau bisa terus menanti."

Kilatan kekecewaan melintas pada manik hazel Rose, warna yang kini menjadi warna kesukaan Scorpius. Rose bukanlah pembohong ulung. Semua orang tahu akan kenyataan itu. Hanya saja, gadis itu tampaknya lebih senang mengenakan topeng daripada menunjukkan wajah aslinya, tanpa pengetahuan betapa rapuh topeng yang ia kenakan. Scorpius Malfoy dapat menyingkap topeng tersebut kapanpun ia mau.

"Bukannya aku menduga bahwa kau akan terang-terangan menceritakan semuanya kepadaku malam ini juga," imbuh Rose buru-buru.

"Malam ini..." Scorpius terkekeh pelan. "Aku menyukai frasa yang kau gunakan. Tentu saja aku bisa memberitahu semuanya kepadamu malam ini juga. Dengan beberapa botol wiski api, kasur, serta pakaian berserakan dimana-mana..."

"Jangan berpikiran yang aneh-aneh," Rose mendengus. Rose mengambil jalan sebelah kanan, jalan pintas menuju Asrama Gryffindor yang paling dekat. "Sepertinya patroli cukup sampai sini."

Scorpius, berjalan di belakang Rose, hanya dapat mengangguk samar.

"Kau dapat kembali ke Asramamu, kau tahu," kata Rose.

"Ayahku selalu mengingatkanku untuk tidak pernah membiarkan seorang gadis berjalan malam-malam sendirian."

"Kabar barunya, aku ini gadis dengan tongkat dan ini adalah wilayah sekolah, Malfoy."

Scorpius mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Sekali peraturan tetaplah peraturan."

"Kalau begitu, ada peraturan ekstra untukmu," ujar Rose dengan senyuman tipis di wajah. Scorpius sadar kalau itulah senyuman pertamanya pada malam ini. "Berhenti mengganggu hidupku mulai saat ini, oke?"

Meskipun samar, suara Rose mengandung setitik humor. Scorpius memutuskan untuk membalasnya dengan humor yang sama. "Kalau masalah mengganggumu, itu sudah menjadi mandat yang dititipkan untukku, Weasley."

Rose berhenti di depan lukisan Nyonya Gemuk dan membalikkan badan. "Entah bagaimana cara mengucapkan ini kepadamu, tapi terima kasih sudah mengantarku jauh-jauh ke sini, meskipun sebenarnya hal itu tidaklah diperlukan."

"Mungkin saja aku repot-repot kemari untuk mendengar apa kata sandi Asramamu."

"Ya, ya, tentu saja," Rose memutar bola matanya tanpa dapat menahan senyum, sementara di belakangnya, Nyonya Gemuk mulai mengoceh tak beraturan. "Kau bisa pergi sekarang, kau tahu."

"Kau tidak akan mengucapkan sandinya di depanku, ya?" Scorpius mengerjapkan matanya. "Meskipun mengetahui letak Asrama Gryffindor, pengetahuan itu takkan berguna tanpa sandi. Tapi, ya sudah, kalau kau sudah memutuskannya."

Scorpius berjalan hingga mencapai ujung tangga. Lelaki bersurai platina itu membalikkan badan, mendapati Rose masih berdiri di depan lukisan. "Apakah kau membenciku, Rose?"

Rose Weasley sama sekali tak berpikir bahwa Scorpius akan menanyakan hal seperti itu. Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, Rose membisikkan kata sandi—Fortuna Major—dan mengangkat bahu. "Selamat malam, Malfoy."

Dengan itu, sosok Rose menghilang di balik lukisan, meninggalkan Scorpius yang kini menyeringai lebar.

Weasley mulai belajar, kata Scorpius dalam hati, bagaimana caranya untuk bermain.

-oOo-

"Oiii, Rose!"

James Potter berlari menyusuri koridor Hogwarts yang padat, menabrak siswa-siswi di sana-sini. Seharusnya, James melepaskan lencana Ketua Muridnya terlebih dahulu sebelum mebuat kekacauan.

"Lihat, lihat!" James berseru kegirangan, melambai-lambaikan secarik kertas dengan senyuman lebar di wajah. "Kau menjadi headline Daily Prophets, lho! Waaah, sebagai sepupumu yang paling memesona, aku benar-benar bangga dengan pencapaianmu tahun ini!"

Rose memandang James tanpa minat. James, entah bagaimana, selalu memandang bahwa kepintaran adalah hal yang sia-sia dan cepat termakan oleh waktu. Hal inilah yang membuat Rose kerap menjauhi James setiap kali para Weasley berkumpul untuk membicarakan perihal pelajaran. Kalau Weasley-Weasley lainnya akan mengatakan sesuatu mengenai peringkat Rose serta prestasi terbarunya, James akan memotong semua ucapan dan malah berteriak keras-keras, "NGOMONG-NGOMONG, ROSE KECIL KITA SUDAH PUNYA PACAR, LHO!" yang tentu saja hanyalah kebohongan belaka. Kebohongan itu biasanya berlanjut dengan ceramahan ayahnya serta wajah berseri-seri ibunya, tak lupa omelan Grandma Molly karena menganggap Ron, ayah Rose, terlalu protektif.

"Apa?" tanya Rose muram, menarik kertas dari genggaman James yang kini sibuk mengusap tetes-tetes besar peluh dari keningnya.

Malam Rose tak berlangsung lancar. Gadis itu tidur pukul setengah satu pagi—atau malam?—karna sibuk mengerjakan tugas dan membaca materi-materi yang akan dipelajari kemudian. Belum lagi, Lily Potter sibuk mengigau sepanjang malam, membuat Rose yang memiliki pendengaran sensitif kerap kali terbangun. Karena hal itu, Rose melewatkan sarapan pagi dan

Hal itulah yang menjadi alasan Rose kalau ditanyakan soal keadaan dirinya yang berantakan dalam standar Prefek baik-baik—dasi yang belum diikat rapi, seragam yang keluar berantakan, serta rambut yang belum sempat ia sisir. Surai merahnya mencuat dari sana-sini, mengundang perhatian beberapa murid ketika ia melangkah menyusuri koridor.

Mata Rose yang berbentuk almond terbelalak lebar, memandang ngeri judul halaman utama Daily Prophet. Di sana, tercetak empat huruf besar yang membuat tangan Rose gatal ingin merobeknya.

Malfoy, Weasley, dan Skandal

ditulis oleh Rita Seeker

Bukan rahasia lagi kalau hubungan antara keluarga Weasley dan Malfoy tak akrab sejak dulu. Pada generasi Draco Malfoy, ayah dari Scorpius Malfoy, dengan Ronald Weasley, ayah dari Rose dan Hugo Weasley, keduanya dapat dikatakan tidak memiliki hubungan yang harmonis. Menurut beberapa sumber yang tidak ingin namanya disebut, Malfoy dan Weasley senior sempat terlibat perkelahian antar hidup dan maut.

Kalau para ayah saling membenci tanpa repot-repot menutupinya, lain lagi dengan anak sulung dari masing-masing mereka. Rosalie Nymphadora Weasley dan Scorpius Hyperion Malfoy dikabarkan menjalin hubungan panas.

Rose Weasley sudah dipastikan adalah anak dari Ron serta Hermione. Besar kemungkinan sifatnya yang kompetitif dan keras kepala-lah yang membuatnya berhasil menggaet Scorpius dalam kurun waktu dua bulan. Scorpius sendiri tampaknya menikmati hubungannya dengan Rosalie, tak peduli apa reaksi sang Ayah yang, sudah dipastikan, tidak mengetahui apapun mengenai hubungan asmara anaknya saat ini. Seperti yang sering diucapkan oleh para selebritas, cinta pada masa remaja memang berakal pendek dan tidak memedulikan keadaan sekitar, namun menabur rasa manis yang akan terus melekat.

Beberapa sumber menyatakan bahwa—

Rose merobek kertas pada tangannya tanpa belas kasihan. James, yang senyumnya kini pudar, memandang Daily Prophetnya dengan perasaan horor.

"Oi! Aku meminjamnya dari Parkinson! Yah, meskipun aku langsung merebutnya begitu saja—" James menghela napas keras-keras. "Badannya yang sebesar kerbau itu dapat menimpa diriku dengan mudah. Aku tidak mau cucu-cucu dari saudaraku semua mendengar bahwa Paman James meninggal karena remuk di bawah beban seorang Parkinson."

"Kau dapat memikirkan bagaimana caranya agar selamat dari amukan Parkinson, James," gerutu Rose sambil lalu. Ia menoleh ke belakang dan berseru pedas, "Tapi yang jelas aku akan meremukkan dirimu setelah itu!"

Dirinya melangkah masuk ke dalam kelas Ramuan di bawah tanah. Wajahnya sudah ditekuk berlipat-lipat, tak repot-repot membalas senyuman Profesor Slughorn yang berseru, "Oh, tumben sekali kau telat, Miss Weasley. Aku sudah menanti-nanti bintang kelas kita sedari tadi!"

Rose meletakkan buku Ramuan Tingkat Lanjutnya di atas meja, persis di antara Nott dan Scorpius. Masalah tempat duduk bisa ia pikirkan nanti. Yang saat ini perlu ia pikirkan adalah bagaimana caranya agar dapat mengutuk Rita Seeker, penulis Daily Prophet dengan imajinasi setinggi Gunung Fuji di Jepang.

Rose sudah membulatkan tekat untuk mengirimkan surat kilat kepada pamannya, George Weasley, yang kejahilannya sudah dikenal oleh para penyihir. Isinya, tentu saja adalah menanyakan kesediaan sang Paman untuk membakar Seeker sampai menjadi abu tak berguna—sama tak bergunanya dengan artikel yang ia baca tadi pagi. Lalu, ia harus membuat James tutup mulut. Sepupunya tak pernah memikirkan imej dirinya kalau menyangkut soal hubungan pribadi Rose. Beberapa galleon seharusnya dapat membungkam mulut—

"Pagi ini aku membaca Daily Prophet—"

"Isinya tentang Rose Weasley dengan Malfoy, lho."

"Kabarnya hubungan mereka benar-benar panas..."

"Eh? Kupikir Scorpius masih lajang!"

"Pantas saja mereka sering dijadwalkan untuk patroli bersama. Pasti ini bagian dari akal-akalan mereka agar dapat—"

Rose menolehkan ke sumber suara, memandang kepala-kepala yang sibuk bergerak karena keterkejutan. Yang dapat Rose lakukan hanyalah melemparkan pelototan mautnya. Setidaknya, itu dapat membungkam mulut-mulut para penggosip—sialan—itu.

Kalian beruntung karena tongkat tidak diperbolehkan dalam kelas ini, gerutu Rose dalam hati, kalau diperbolehkan, kalian sudah habis karena sekawanan kenari yang muncul dari tongkatku ini.

"Jadi, beritanya sudah menyebar, ya."

Rose menoleh ke sebelah kiri, mendapati Theodore Nott, dengan kulit semulus porselennya, tersenyum tipis. "Tidak heran. Rita Seeker memiliki segelintir informan di Hogwarts untuk memantau anak-anak para Pahlawan Perang," ujar lelaki itu kembali. "Tapi, jangan khawatir. Pasti berita itu mereda dengan sendirinya. Kau hanya memerlukan penyumpal telinga dan ayunan tongkatmu yang anggun."

"Juga beberapa bom kotoran—akan berguna kalau Peeves berpihak padaku," desah Rose panjang. "Trims untuk sarannya, ngomong-ngomong. Itu akan berguna sekali untuk beberapa hari ke depan."

Nott mengendikkan bahunya. "Bukan masalah besar. Kalau kau butuh teman di ranjang, aku dengan senang hati mencalonkan diri," Nott tersenyum lebar. "Aku bercanda. Tapi, tak masalah juga, kok, kalau kau menganggapnya serius."

"Lucu juga melihat kepercayaan dirimu yang besar," celetuk Scorpius, tiba-tiba memasuki pembicaraan. "Kupikir masa kepopuleranmu di antara wanita sudah lewat sejak dulu."

"Malfoy, kau tidak seharusnya—"

"Oh, ya? Sepengetahuanku, para gadis lebih menyukai manusia alih-alih mayat hidup sepertimu," tandas Nott, memotong ucapan Rose yang kini menghela napas.

"Hei, kalian berdua, kalau kalian ingin berdebat, jangan—"

"Kapan terakhir kali kau diajak kencan oleh seorang gadis, Nott? Berapa tahun yang lalu, ya?"

"Aku cukup handal untuk menggantung bokongmu yang kau banggakan di langit-langit kelas."

"Aku cukup handal untuk mendaraskan mantra terlarang kalau keadaannya memaksa."

"Yeah, tentu saja, mengingat ayahmu dulu adalah—"

"Kelihatannya Mr. Nott dan Mr. Malfoy memiliki hal menarik untuk diceritakan."

Suara khas Slughorn memotong perdebatan keduanya. Nott dan Malfoy mendongak, memandang profesor Ramuan tersebut dengan wajah sedikit bersalah.

"Kami hanya membicarakan perihal cuaca, Profesor," kata Nott kalem. "Angin musim Gugur agak tidak sehat, betul?"

"Aku mengerti kalau kalian tengah terlibat dalam pembicaraan yang menarik," kata sang Profesor, "tetapi bisa-bisa kepala Miss Weasley meledak karena mendengar pembicaraan kalian."

Rose menganggukkan kepalanya beberapa kali, tanda persetujuannya akan ucapan Slughorn.

"Dengan kata lain, akan menyenangkan kalau kalian dapat diam sebentar dan membiarkan Miss Weasley berkonsentrasi dengan pelajaran," lanjut Slughorn sopan. "Meski harus kuakui kalau cinta segitiga di masa remaja benar-benar membawa kembali memoriku di saat-saat sekolah..."

Cinta segitiga apanya! Rose menggerutu jengkel. Pupus sudah kesenangannya terhadap Slughorn.

Rose menoleh ke kanan, mendapati Scorpius Malfoy tengah tersenyum miring, berbanding jauh dengan wajah muram Rose. Lelaki itu pasti sudah terbiasa mendengar ucapan seperti ini sebelumnya. Digosipkan dengan seorang gadis tentunya bukan masalah besar bagi sang Casanova...

Rose menggit bagian dalam pipinya keras-keras, hal yang selalu ia lakukan di kala merasa kesal maupun gugup. Namun, sepertinya kekesalannya ditutupi oleh sesuatu yang lain.

Rasa cemburu, mungkin?

Menampik pemikiran itu jauh-jauh, Rose menarik napas dan menghembuskannya berkali-kali. Siklus yang sama kembali dilakukan. Hal ini diajarkan oleh ibunya sendiri—"Kalau sedang menahan amarah, Mom selalu melakukan ini. Kau tahu sendiri, kan, kalau ayahmu seringkali menyulut emosi orang dengan sikapnya yang tidak mau memikirkan sebab dan akibat?"—dan terbukti amat berfungsi bagi Rose pada tahun keenamnya, tahun di mana seorang pengganggu hadir dan mengacaukan segalanya.

Meski Rose benci mengakuinya, tampaknya Scorpius mencipratkan sedikit warna dalam kehidupan Rose yang menjemukan. Menjadi Prefek dan siswi teladan memang tujuan Rose, tapi melakukan sedikit pelanggaran terdengar menyenangkan.

Tapi, bagaimana kalau warna yang diberikan Scorpius adalah abu-abu, warna yang tergantung di tengah-tengah ambang pintu, berada di antara keputusasaan serta kepastian?

Rose kembali melirik Scorpius. Lelaki itu memandang Rose balik, menancapkan kedua matanya yang dingin namun membuat Rose merasa hangat langsung menuju mata gadis di sampingnya. Scorpius tak mengucapkan apa-apa, meski Rose merasa bahwa sepasang atensi abu-abu itu menanyakan hal yang paling ini Rose ketahui jawabannya.

"Apakah kau sudah mengakui kekalahanmu, Rose?"

TBC

(Maaf telat update!)

RnR?