TANGLED
...
Main Cast:
Wu YiFan, Kim Junmyeon
...
Genre:
Romance
...
Rate:
M
...
Disclaimer:
Remake dari novel dengan judul yang sama karya Emma Case
...
...
3
Setelah kedatangan Junmyeon di ruangannya, ternyata YiFan tidak terkena blue balls seperti yang ia kira. Karena YiFan menemui wanita yang ia kenal di coffee house malam itu. Wanita tersebut adalah seorang instruktur yoga.
Dan YiFan merasa puas.
Ayolah, jangan seperti itu. YiFan masih menginginkan Junmyeon, tidak di ragukan lagi. Tapi jangan berharap YiFan akan bersikap seperti biarawan sampai hal itu terjadi. Dalam hal ini yang tidak di pahami wanita adalah bahwa seorang pria bisa menginginkan seorang wanita tapi masih meniduri wanita yang lain. Bahkan, seorang pria bisa mencintai seorang wanita dan masih bisa meniduri sepuluh wanita lainnya. Begitulah kenyataannya.
Seks adalah sebuah pelepasan. Fisik semata. Itu saja. Setidaknya bagi pria seperti itu.
Mungkin kalian akan memahami sudut pandang YiFan jika ia menjelaskannya seperti ini: kalian menyikat gigi, kan? Well, misalkan pasta gigi favorit kalian adalah Aquafresh. Tapi di toko habis. Yang tersedia hanya Colgate. Apa yang akan kalian lakukan? Kalian akan menggunakan Colgate, kan? Kalian mungkin ingin menyikat gigi dengan Aquafresh, namun pada akhirnya kalian menggunakan apa yang kalian punya untuk membuat gigi tetap bersih seputih mutiara. Paham cara berpikir pemuda Wu itu?
Bagus.
Sekarang, kembali ke kisah duka dan penderitaan Wu YiFan.
...
YiFan tidak pernah merayu seorang wanita sebelumnya. Biasanya, dia hanya melihat, mengedipkan mata, tersenyum. Sebuah sapaan yang ramah, satu atau dua gelas minuman. Setelah itu satu-satunya pertukaran verbal yang terlibat hanyalah satu kata pendek seperti lebih keras, lagi, lebih rendah... kalian pasti mengerti maksudnya.
Jadi, segala hal tentang percakapan dengan seorang wanita untuk mengajaknya ke ranjang merupakan konsep yang cukup baru bagi YiFan. Dan walaupun hal ini masih cukup baru untuknya, pria tampan itu tidak khawatir. Kenapa?
Karena YiFan beranggapan jika ia sedang bermain catur. Hei, YiFan ahli bermain catur! Danseperti yang kalian tahu catur adalah permainan strategi, perencanaan, berpikir dua langkah ke depan untuk langkah berikutnya. Mengarahkan lawanmu tepat di mana kalian menginginkannya.
Nah, begitu juga dengan kasus YiFan. Selama dua minggu setelah pertemuan hari pertama, berhubungan dengan Junmyeon, bagi YiFan persis seperti bermain catur. Beberapa kata sugestif, belaian biasa tapi menggoda. Dan segalanya berjalan sesuai rencana.
YiFan rasa semuanya akan memakan waktu satu minggu, maksimal dua minggu sampai ia dapat mengklaim harta diantara paha kenyal Junmyeon. Bahkan ia sudah dapat membayangkan bagaimana nanti hasilnya.
"Baiklah Kris Wu, mari kita susun rencana tentang Junmyeon," Pemuda tampan itu tampak sedikit berpikir kemudian berdecih, "Ck, tapi bagaimana caranya?"
YiFan meletakkan tangannya di depan mulut, dahinya tampak berkerut keras. Dan beberapa detik kemudian seringaian manis tercetak di bibirnya, sebuah ide muncul di benaknya.
"Baiklah, ini terjadi di kantorku. Suatu malam ketika kami berdua bekerja lembur dan kami adalah satu-satunya orang yang masih di kantor. Sudah pasti dia merasa lelah dan kaku. Di saat itu aku akan menawarkan memijit lehernya. Dan dia akan mengizinkanku. Kemudian aku akan menunduk dan menciumnya, mulai dari bahunya, naik sampai lehernya, merasakan kulitnya dengan lidahku. Akhirnya, bibir kami akan bertemu. Dan itu akan menjadi panas serta membara. Dan dia akan melupakan semua alasan tentang kenapa kami tidak seharusnya, tempatnya bekerja kita bersama, tunangan bodohnya. Satu-satunya hal yang akan dia pikirkan adalah aku dan apa yang akan dilakukan oleh kedua tangan ahliku padanya." YiFan terkekeh sendiri dengan rencananya.
"Ya Tuhan Kris Wu, kau memang yang paling cerdas." YiFan memuji dirinya sendiri.
Kemudian arah pandangannya ia alihkan ke sofa di depannya dan ia sedikit mengerang. Pasalnya sofa tersebut dari bahan suede, bukan kulit. Apakah suede bisa bernoda? Semoga tidak. Karena YiFan berencana di sanalah ia akan melakukan rencannya, pada sofa terbengkalai yang menyedihkan itu.
Jadi, setelah dua minggu menyusun strategi itu dan berkhayal, YiFan yakin Kim Junmyeon akan menjadi kencan satu malamnya. YiFan tidak pernah menginginkan seseorang sebanyak ia menginginkan Junmyeon. YiFan juga belum pernah menunggu seorang wanita selama ia menunggu Junmyeon. Tapi yang penting baginya, keputusan akhir, kesimpulan yang pasti, bukan jika melainkan kapan.
Apakah kalian pernah mendengar istilah: kehidupan bisa berubah dalam sekejap mata? Ya, hal ini terjadi pada YiFan. Kejadian itu terjadi pada Senin sore, saat Tuan Wu memanggil YiFan ke kantornya.
"Duduklah, nak. Ada beberapa urusan yang ingin kubahas." Ujar Tuan Wu ketika melihat YiFan memasuki ruangannya. YiFan hanya mengangguk dan mengikuti perintah ayahnya. Tuan Wu sering memanggil YiFan di sini untuk membicarakan hal-hal yang dia belum siap untuk bagikan dengan seluruh staf, seperti halnya sekarang.
"Aku baru saja selesai bicara lewat telepon dengan Saul Anderson. Dia mencari diversifikasi. Dia akan datang ke kota ini bulan depan untuk berkeliling mencari ide." Ucap Tuan Wu.
Udah pasti Yifan tahu siapa yang sedang dibicarakan ayahnya. Saul Anderson adalah taipan media. Kaya raya, jenis pria yang membuat Rupert Murdoch terlihat seperti seorang buruh kasar. Dan YiFan merasa iri padanya.
"Bulan depan? Oke, aku bisa mengerjakannya. Tidak ada masalah." Ucap YiFan antusias. Ia merasakan kegembiraan memompa di pembuluh darahnya. Pasti beginilah yang hiu rasakan setelah seseorang membuang seember daging cincang ke dalam air. Keriuhan.
"Kris..." Tuan Wu menyela dan YiFan tidak mendengarnya. Ia terlalu sibuk dengan ide-ide yang berputar di pikirannya.
"Apa dia memberi petunjuk tentang apa yang dia cari? Maksudku ada banyak kemungkinan bukan?" Ucap YiFan masih antusias tanpa melihat ekspresi ayahnya.
"Nak..." Tuan Wu mencoba menyela lagi.
Namun YiFan terus mengoceh, "Stasiun tv kabel adalah mesin penghasil uang. Media sosial ada di toilet sekarang, jadi kita bisa mengambil beberapa penawaran yang nyata. Produksi film selalu menjadi taruhan yang aman, dan itu akan mengurangi biaya tambahan ketika mereka memutar ulang pada jaringannya sendiri."
Tuan Wu menghela nafas melihat putranya yang masih terus mengoceh. "Kris. Aku ingin memberikan klien itu pada Kim Junmyeon."
Tunggu sebentar! Tadi ayahnya berbicara apa? Kim Junmyeon?
"Apa?" YiFan sedikit berteriak. Ia menatap tak percaya pada ayahnya.
"Dia bagus, Kris. Aku beranggapan jika dia sangat bagus."
"Tapi dia di sini baru dua minggu!" YiFan masih berbicara dengan suara yang sedikit keras, tidak peduli jika orang di depannya ini adalah ayah sekaligus atasannya.
Kalian tahu kan jika anjing adalah binatang teritorial? Itulah sebabnya kenapa di taman mereka tampaknya tidak pernah kehabisan pasokan urin, mereka bersikeras berhenti setiap empat detik untuk mendistribusikannya di area sekitar. Itu karena mereka percaya itu adalah taman mereka. Dan mereka ingin anjing-anjing lain mengetahuinya, supaya tahu bahwa mereka yang pertama ada disana. Ini adalah cara non verbal yang artinya sama dengan, "Pergi dari sini dan cari tamanmu sendiri."
Begitu juga laki-laki.
Bukan berarti YiFan akan kencing di sekitar mejanya atau apapun, tapi perusahaan ini adalah miliknya. YiFan sudah membina klien-klien ini sejak perusahaan mereka masih kecil. YiFan memandang perusahaan itu seperti seorang ayah yang bangga melihat anaknya tumbuh menjadi konglomerat yang kokoh. YiFan menjamu mereka dengan minuman dan makanan mewah, YiFan telah menghabiskan jam demi jam, bertahun-tahun tanpa tidur nyenyak. Tugasnya adalah bukan hanya apa yang ia lakukan. Dan YiFan akan sangat tidak rela jika Kim Junmyeon berjalan ke sini dan mengambilnya dari YiFan.
Tidak peduli seberapa bagusnya pantat wanita itu.
"Ya, kau benar. Junmyeon memang baru dua minggu di sini. Dan apa kau melihatnya beberapa hal yang dia hasilnya selama dua minggu ini? Dia adalah yang pertama datang dan terakhir meninggalkan kantor, setiap hari. Dia segar dan berpikir di luar kebiasaan. Dia mengembangkan beberapa investasi yang paling inovatif yang pernah aku lihat. Naluriku mengatakan untuk memberinya kesempatan dan melihat apa yang akan dia lakukan." Tuan Wu berkata dengan sangat mantap.
Tunggu. Apa ini gejala awal untuk penyakit pikun pada orang tua?
"Dia akan meraba-raba, itulah yang akan dia lakukan!" Teriak YiFan. Tapi dia tahu dari pengalaman bahwa bersikap dramatis tidak berpengaruh apapun pada ayahnya, jadi yang ia lakukan adalah memijit hidungnya berusaha untuk menenangkan diri.
Setelah merasa lebih tenang, YiFan menghela nafas dan berkata, "Baiklah Dad, aku mengerti apa yang kau katakan. Tapi Saul Anderson bukanlah klien yang kau berikan kepada seseorang hanya untuk mengetahui apakah dia bisa melaksanakan tugasnya. Dia adalah klien yang kau berikan kepada orang terbaik dan tercerdas. Seseorang yang kau tahu bisa membawa sampai ke zona akhir. Dan itu adalah aku. Wu YiFan. Kris Wu. Putra kebanggaanmu sendiri." Tunjuk YiFan pada dirinya sendiri. Namun YiFan bertanya-tanya saat ekspresi ketidakpastian menyelimuti wajah ayahnya.
Tuan Wu terus terdiam, dan YiFan merasa perutnya menggeliat dengan cemas. Ini bukan karena YiFan memiliki Daddy complex atau semacamnya, tapi sejujurnya YiFan sangat menikmati kebanggaan ayahnya saat ia melihat kinerja YiFan di kantor. Yifan adalah tangan kanan ayahnya. YiFan adalah orang yang dapat mengatasi masalah ayahnya. Saat jam menunjukkan pukul dua kurang lima menit, YiFan sangat yakin ia satu-satunya orang yang akan mendapat kepercayaan dari Steven Wu.
Atau setidaknya dulu ia merasa begitu.
YiFan terbiasa mendapatkan kepercayaan penuh ayahnya. Dan fakta bahwa kepercayaan ayahnya sepertinya goyah adalah... sungguh menyakitkan.
"Begini saja." Tuan Wu mendesah. "Kita punya waktu satu bulan. Datanglah dengan sebuah presentasi. Junmyeon juga akan melakukan hal yang sama. Siapapun yang bisa membuatku terkesan akan segera bekerja pada Anderson."
Ya Tuhan! Seharusnya YiFan benar-benar merasa tersinggung saat ini. Apa yang ayahnya minta sama saja mengatakan kepada seorang pemenang Oscar bahwa dia harus mengikuti audisi untuk menjadi pemain figuran. Tapi YiFan tidak membantah. Ia terlalu sibuk merencanakan langkah selanjutnya.
Sekarang kalian mengerti tentang maksud 'istilah kehidupan' itu, kan?
Baiklah, dengan disebutnya nama Junmyeon dalam proyek besar ayahnya, kini secara resmi status Kim Junmyeon telah berubah dari seorang wanita yang tidak sabar ingin YiFan ajak dansa secara mesum menjadi seseorang yang tidak sabar ingin YiFan remukkan di bawah sepatunya.
Lawannya. Saingannya. Musuhnya.
Itu memang bukan salah Junmyeon. Dan YiFan tahu itu. Tapi jika sekarang kalian bertanya apakah YiFan peduli?
Jawabannya, tidak! Tidak sedikitpun!
...
Dalam mode siap tempur, YiFan kembali ke markas yang juga dikenal sebagai kantornya. YiFan segera menemui Kyungsoo serta memberi gadis bermata bulat itu beberapa perintah untuk bekerja disisa sore harinya. Ketika hari menunjukkan pukul enam sore, YiFan meminta Kyungsoo memanggil Junmyeon untuk datang ke kantornya.
Selalu memanfaatkan keuntungan sebagai tuan rumah. Bermain di kandang sendiri. Ingat itu.
Tak butuh waktu lama bagi YiFan untuk menunggu Junmyeon. Gadis itu memasuki ruangannya dan langsung duduk sebelum YiFan mempersilahkannya, ekspresinya tak terbaca.
"Ada apa, Kris?" tanya Junmyeon langsung. Gadis itu sedang dalam kondisi tidak ingin berbasa-basi.
YiFan memperhatkan sosok Junmyeon. Rambutnya terurai. Membingkai wajahnya dalam tirai panjang yang mengkilap. Untuk sesaat, YiFan membayangkan bagaimana rasanya jika rambut itu menggelitik dadanya. Menyebar di pahanya.
Namun YiFan segera menggelengkan kepala. Fokus, YiFan, fokus.
Tapi seberapapun kuatnya YiFan menepis pikiran tersebut ia masih tetap tidak bisa, matanya masih memperhatikan Junmyeon. Gadis itu mengenakan setelan burgundy gelap dengan sepatu yang cocok. Sangat cantik.
Junmyeon suka memakai sepatu hak tinggi. Mungkin karena dia mungil, tambahan tinggi yang diberikan oleh sepatunya membuat Junmyeon merasa lebih percaya diri di kantor.
Dan para pria menyukai wanita yang memakai sepatu hak tinggi. Mereka mengasosiasikan para wanita dengan segala jenis posisi seksual yang fantastis. Jika kalian ingin seorang pria memperhatikanmu, kalian tidak akan salah kalau memakai sepatu stiletto mengkilap setinggi empat inchi, YiFan bersumpah.
Saat mata YiFan berkeliaran pada tubuh Junmyeon dari ujung kepala sampai kaki, satu masalah, sebut saja begitu, muncul. Meskipun pikiran YiFan mengakui jika Kim Junmyeon sekarang saingannya, ternyata kejantanannya masih belum mengerti. Dan jika dilihat dari reaksinya, kejantanannya masih ingin membuat pertemanan pada gadis itu. Ya Tuhan.
Jadi, YiFan membayangkan jika sosok di depannya ini adalah Chanyeol yang sedang memakai pakaian wanita. Mungkin saja ia cantik, tapi membayangkan Chanyeol menggodanya dengan seduktif membuat YiFan bergidik ngeri. Dan triknya berhasil. Semua masalah di bawah sana teratasi.
"Saul Anderson akan datang ke kota ini bulan depan," Kata YiFan akhirnya.
Junmyeon mengangkat alis. "Saul Anderson? benarkah?"
"Benar." YiFan berkata dengan serius. Tidak ada lagi kesenangan untuk Kim Junmyeon. Batinnya.
"Ayahku ingin kau menyusun contoh presentasi. Sebuah praktek, seolah kau benar-benar akan mendapatkan klien. Dia pikir itu akan menjadi latihan yang bagus untukmu." Yifan melanjutkan kata-katanya.
Oke, mungkin perkataan YiFan tadi sedikit berbeda dengan apa yang di sampaikan oleh ayahnya. Dan dia tahu itu. Kalian pasti berpikir jika YiFan seorang bajingan. Dia bahkan tidak memberikan kesempatan yang adil untuk gadis itu. Well, lupakanlah. Ingat! Ini adalah bisnis. Dan dalam bisnis seperti halnya perang segalanya adil. Serta ingat juga jika Junmyeon adalah saingannya sekarang.
YiFan masih menatap sosok di depannya. Pemuda itu mengira jika Junmyeon akan bersemangat dan berterima kasih padanya karena hal ini. Tapi perkiraan YiFan meleset, reaksi gadis itu bukan salah satu dari keduanya.
Junmyeon menekan bibirnya menjadi satu garis ketat, dan ekspresinya berubah menjadi serius. "Praktek, hah?"
"Benar sekali. Ini bukan urusan besar, jadi kau jangan terlalu khawatir. Berikan saja suatu proposal untuknya. Secara hipotesis." Ucap YiFan santai.
Junmyeon melipat tangannya di depan dada dan memiringkan kepalanya kesamping. "Sungguh menarik, Kris. Mengingat ayahmu baru saja mengatakan padaku jika ia belum memutuskan siapa yang mendapatkan Anderson, klien itu akan jatuh kepadamu atau aku, tergantung siapa yang dapat menyusun strategi yang lebih mengesankan. Dan menurutku cara Presdir Wu menjelaskan, kedengarannya seperti urusan yang sangat besar." Ucap Junmyeon tanpa ekspresi sedangkan YiFan salah tingkah seperti seorang anak yang tertangkap basah membaca majalah porno oleh ayahnya.
"Jadi, kita bermain sedikit kotor, ya?" Junmyeon bertanya, matanya menyipit dengan curiga.
Yifan kembali menguasai dirinya lalu berdehem. "Jangan terburu-buru, sweetheart. Anderson akan jadi milikku. Ayahku hanya melemparkan tulang padamu."
"Tulang?" ucap Junmyeon keras.
"Ya, sejujurnya dia merasa terbebani olehmu. Ayahku menerimamu hanya karena dia ingin melihat bagaimana cara kerja seseorang yang lulus dengan nilai sempurna. Dia berpikir ini akan membuatnya lepas dari gangguanmu untuk sementara waktu."
Inilah prinsip seorang Wu YiFan, selalu menyerang terlebih dulu, ingat itu. Tim mana yang mencetak skor lebih dulu? Mereka hampir dipastikan menjadi tim pemenang. Cari tahu kalau kalian tidak percaya pada pemuda itu.
Ya, seperti yang kalian lihat sekarang Yifan mencoba mengguncang kepercayaan diri gadis itu, pemuda itu sedang berusaha membuat Junmyeon keluar dari persaingan. Karena seperti halnya saat YiFan tumbuh dewasa, ia tidak pernah berbagi mainannya. Dan sekarang dia juga tidak berencana berbagi kliennya.
Tanyakan pada setiap anak yang berumur empat tahun, berbagi itu menyebalkan.
Namun ternyata Junmyeon tidak gentar dengan perkataan YiFan barusan, justru gadis itu membalasnya dengan nada sangat mematikan, setajam golok.
"Kalau kita akan bekerja sama, Kris, kurasa kita harus meluruskan beberapa hal. Aku bukanlah sweetheart-mu. Namaku Junmyeon, Kim Junmyeon. Camkan itu. Dan aku bukan orang yang suka menjilat. Aku tidak harus melakukannya. Pekerjaanku bicara dengan sendirinya. Kecerdasanku, tekadku, itu yang membuat ayahmu memperhatikanku. Dan jelas dia mengira kau agak kurang dalam bidang itu karena dia mempertimbangkanku untuk Anderson."
Oh. Tentu saja dia menyerang dengan sengit untuk memastikan kemenangan, benar, kan?
"Dan aku tahu wanita mungkin akan saling berebut untuk mendapat perhatian dan senyum menawanmu," Junmyeon melanjutkan, "...tapi, itu tidak akan terjadi padaku. Aku tidak berencana untuk menjadi salah satu dari para penggemarmu atau takik pada tiang ranjangmu, jadi kau bisa memberikan rayuanmu, senyummu dan omong kosongmu untuk orang lain."
Setelah mengucapkan itu, Junmyeon berdiri dan melangkah ke meja YiFan. Tangannya bertumpu di tepi meja lalu membungkuk. Hei, kalian tahu saat ini YiFan duduk sedikit tegak, dan bahkan YiFan bisa melihat tepat di bawah blus Junmyeon, dia sangat suka titik itu pada wanita. Lembah diantara—
Hentikan!
Secara mental, Yifan menampar diri sendiri, dan Junmyeon melanjutkan.
"Kau terbiasa menjadi nomor satu di sini, terbiasa menjadi anak kesayangan ayahmu. Well, ada pemain baru di kota ini. Hadapilah. Aku telah bekerja keras untuk mendapatkan pekerjaan ini, dan aku berencana untuk membangun reputasiku sendiri, kau tidak suka berbagi ketenaran? Sayang sekali. Kau bisa juga berbagi ruang untukku, atau aku akan menginjakmu jika kau menghalangi jalanku. Apapun yang terjadi, aku jamin aku akan ada di sana."
Junmyeon berbalik untuk pergi tapi kemudian dia menoleh kearah YiFan yang tengah takjub dengan kemarahan gadis itu, bibir gadis itu melengkung membentuk senyum manis sekali. "Oh, dan aku ingin berkata semoga beruntung dengan Anderson, tapi aku tidak mau repot-repot. Semua keberuntungan di Korea tidak akan membantumu. Saul Anderson adalah milikku...sweetheart."
Setelah mengatakannya, Junmyeon berbalik dan berjalan keluar dari kantor YiFan, melewati Chanyeol dan Jongin, yang tengah berdiri di depan pintu dengan mulut ternganga.
"Oh Shit!" Kata Chanyeol.
"Ok. Apakah ada orang yang terangsang sekarang?" Jongin bertanya, "Serius bung, aku mengalami ereksi sekarang karena..." dia menunjuk Junmyeon yang baru saja berlalu. "tadi sangat panas."
Itu memang panas. Kim Junmyeon adalah seorang wanita cantik. Tapi ketika dia marah. Dia spektakuler.
Tak berapa lama Xiumin berjalan masuk ke ruangan Yifan dengan membawa secangkir kopi di tangannya. Melihat ekspresi di wajah mereka, dia bertanya, "Apa? Apa aku melewatkan sesuatu?"
Chanyeol dengan senang hati menjelaskannya pada Xiumin, "Kris kehilangan sentuhannya. Dia baru saja diomeli habis-habisan. Oleh seorang gadis."
Xiumin mengangguk muram dan berkata, "Selamat datang di duniaku, my bro."
YiFan mengabaikan tiga pengacau itu. Perhatiannya masih terfokus pada tantangan yang baru saja Junmyeon berikan. Testosteron terpompa melalui tubuhnya meminta kemenangan. Tidak saja menang, tapi menang telak. Tidak ada yang lebih memuaskan kecuali menang KO tanpa perlawanan.
...
Dan dimulailah Olimpiade investasi perbankan. Sebenarnya YiFan ingin mengatakan ini adalah kontes dewasa antara dua rekan profesional dan sangat cerdas. Hei, percayalah dia ingin mengatakan ini penuh persahabatan.
Yifan ingin menga...tapi dia tidak ingin. Karena kalian tahu dia pasti bohong.
Ingat komentar ayah Yifan? Komentar bahwa Junmyeon menjadi orang yang pertama datang ke kantor dan orang terakhir yang pergi? Komentar itu menempel dalam pikiran Yifan sepanjang malam.
Mendapatkan kontrak dari Anderson bukan hanya tentang melakukan presentasi terbaik, menemukan ide-ide terbaik. Itulah yang mungkin dipikirkan Junmyeon, tapi Yifan lebih tahu. Toh, pria itu adalah ayahnya; mereka memiliki DNA yang sama. Ini juga tentang penghargaan. Siapa yang lebih berdedikasi. Siapa yang akan mendapatkannya. Dan YiFan bertekad untuk menunjukkan pada ayahnya bahwa dia adalah "orangnya".
Jadi, hari berikutnya YiFan datang satu jam lebih awal. Selanjutnya saat Junmyeon tiba, Yifan tidak mendongak dari mejanya, tapi YiFan merasakannya saat ia berjalan melewati pintunya.
Apa kalian lihat ekspresi wajahnya? Tepat sekali, wajah Junmyeon berubah cemberut saat menyadari bahwa dia adalah orang kedua yang datang ke kantor. Bahkan langkahnya sedikit terhenti saat ia melihat Yifan. Hei, jangan lupakan tatapan keras di matanya?
Cih, memang hanya dia saja yang bisa datang pagi? Yifan juga bisa melakukannya. Tapi ternyata YiFan bukan satu-satunya orang yang melakukannya dengan sangat serius. Karena pada hari Rabu, YiFan datang pada waktu yang sama dan ia melihat Junmyeon sedang mengetik di mejanya. Dia mendongak ketika melihat YiFan. Gadis itu tersenyum riang. Dan melambai.
Oh no!
Hari berikutnya lagi, YiFan datang setengah jam lebih awal...dan seterusnya. Apa kalian bisa melihat polanya di sini? Saat Jumat berikutnya datang, YiFan mendapati dirinya berjalan ke depan gedung jam setengah lima pagi.
Setengah-lima-pagi!
Sekarang masih gelap. Dan saat ia sampai ke pintu gedung, tebak siapa yang ia lihat di depannya, datang pada waktu yang sama?
Junmyeon.
YiFan mendesis dan ia bisa melihat jika Junmyeon juga melakukannya. Saat ini mereka sedang berdiri di depan gedung, saling beradu pandang, mencengkeram kafein berisi cappuccino double-mocha ekstra besar di tangan mereka.
Kejadian ini mengingatkannya pada salah satu film koboi lama. Di mana dua orang berjalan menyusuri jalanan kosong di siang bolong untuk saling baku tembak. Jika kalian mendengarkan dengan cermat, mungkin kalian bisa mendengar panggilan kesepian burung pemakan bangkai sebagai latarnya.
Seperti mendapat aba-aba, secara bersamaan, Junmyeon dan YiFan menjatuhkan minuman mereka dan lari bergegas ke arah pintu. Di lobi, Junmyeon menekan tombol lift dengan mati-matian sementara YiFan menuju tangga. Pemuda itu menganggap dirinya begitu jenius, dia pikir dia bisa melangkah tiga undakan sekaligus. Hei, jangan salah tingginya hampir 187 cm dan kakinya panjang. Jadi, hampir tidak ada masalah untuk menaiki tangga. Dan satu-satunya masalah adalah kantornya berada di lantai empat puluh!
Idiot.
Setelah sepuluh menit melakukan kegiatan yang menguras tenaganya, akhirnya YiFan melihat tulisan lantai 40 pada dinding, nafasnya terengah-engah dan keringat membajiri seluruh tubuhnya. Ini seperti berlari mengelilingi lapangan bola sebanyak 20 kali. Ia merasa kakinya ingin putus dari badannya. Ketika YiFan akhirnya mencapai lantai tempat mereka bekerja, pemuda itu melihat Junmyeon sedang santai bersandar di pintu kantornya, mantelnya sudah ditanggalkan lengkap dengan segelas air di tangan. Gadis itu menawarkannya pada YiFan diiringi dengan senyum mempesonanya.
Dan itu sukses membuat YiFan ingin mencium dan mencekiknya pada saat yang bersamaan. YiFan tidak pernah suka sadomasokisme. Tapi dia mulai melihat manfaatnya.
"Di sini kau rupanya. Sepertinya kau bisa menggunakan ini, Kris." Junmyeon memberi YiFan gelasnya dan pergi dengan langkah yang dibuat-buat. "Semoga harimu menyenangkan."
Benar.
Tentu, YiFan akan melakukannya.
Karena sejauh ini sudah mulai bagus.
...
YiFan tahu dalam melakukan suatu pekerjaan dengan baik, diperlukan buku, banyak buku. Buku hukum, kitab undang-undang, dan peraturan yang terkait dalam pekerjaan yang dilakukan adalah rinci dan sering berubah.
Dan ini adalah keuntungan bagi YiFan, perusahaannya memiliki koleksi paling lengkap dari bahan referensi yang bersangkutan di kota ini. Well, kecuali mungkin perpustakaan kota. Tapi apa kalian sudah melihat tempat itu? Perpustakaan kota seperti sebuah kastil. Dibutuhkan waktu yang lama untuk mencari tahu di mana sesuatu seharusnya berada, dan ketika kalian mengetahuinya, kemungkinan besar sedang keluar. Perpustakaan pribadi di perusahaan YiFan jauh lebih nyaman.
Saat itu adalah Selasa sore, YiFan berada di mejanya sedang mengerjakan salah satu referensi tersebut ketika ia mendapat kehormatan atas hadirnya seseorang.
Ya. Kim Junmyeon yang cantik. Dia terlihat sangat lezat hari ini.
Junmyeon menatap pria di depannya dan berkata ragu-ragu. "Hei, Kris? Aku sedang mencari Technical Analysis of the Financial Markets, dan itu tidak ada di perpustakaan. Apa kau kebetulan meminjamnya?" Junmyeon menggigit bibir dengan cara yang menggemaskan setiap kali dia gugup.
Buku yang di maksud Junmyeon sebenarnya tergeletak tepat di meja YiFan. Dan pemuda itu hampir selesai membacanya. Ia bisa saja menjadi orang yang lebih baik, lebih berjiwa besar, dan memberikan buku itu pada Junmyeon.
Tapi kalian pasti berpikir bahwa YiFan tidak akan melakukannya, kan? Benar sekali.
"Ya, memang aku meminjamnya," ucap YiFan tanpa menatap Junmyeon.
Junmyeon tersenyum. "Oh, bagus. Menurutmu kapan kau akan menyelesaikannya?"
YiFan menatap ke langit-langit, seolah sedang berpikir keras. "Entahlah, aku sendiri tidak yakin. Mungkin empat...atau mungkin lima...minggu."
"Minggu?" Junmyeon bertanya dan menatap tak percaya ke arah YiFan.
Apa kalian lihat jika wajah cantik Junmyeon berubah kesal?
Oke, mungkin pada akhirnya YiFan memang menginginkan berhubungan seks dengan Junmyeon, dengan catatan setelah seluruh urusan dengan Anderson selesai. Lalu kenapa YiFan tidak mencoba bersikap sedikit lebih baik pada Junmyeon sekarang?
Hei, apa kalian lupa jika urusan dengan Anderson belum selesai. Dan seperti yang telah YiFan katakan sebelumnya kawan, ini adalah perang. Pemuda Wu itu sedang membicarakan tentang siap siaga perang, lepas sarung tangan, perang yang menyatakan aku-akan-merobohkanmu-meski-kau seorang-wanita.
Begini, kalian tidak akan memberikan peluru kepada penembak jitu yang membidikkan senjatanya ke dahimu, kan?
Ditambah, Junmyeon sangat cantik ketika dia marah dan YiFan tidak akan melewatkan kesempatan untuk melihat dia marah lagi, hanya untuk kesenangannya sendiri. YiFan mengamati gadis itu dari atas sampai ke bawah penuh apresiasi ketika dirinya bicara, sebelum akhirnya ia memberi gadis itu senyum khas kekanak-kanakannya yang hampir semua wanita tidak akan berdaya menghadapinya.
Junmyeon, tentu saja, bukan salah satu dari wanita-wanita itu. Sungguh menakjubkan.
"Well, kukira jika kau memintanya dengan baik...dan memijit bahuku saat kau mengatakannya...Aku mungkin akan terbujuk untuk memberikannya padamu sekarang."
Kenyataannya adalah, YiFan tidak akan pernah menuntut apapun yang menyerupai dengan kenikmatan seksual sebagai imbalan untuk sesuatu yang terkait dengan pekerjaan. YiFan dapat berarti banyak hal. Yang pasti dia bukanlah seorang bajingan oportunis yang mengambil keuntungan dari orang lain.
Tapi komentar terakhirnya pasti dapat ditafsirkan sebagai pelecehan seksual. Dan bagaimana jika Junmyeon mengatakan kepada ayahnya tentang apa yang ia ucapkan pada gadis mungil itu? Demi Tuhan, ayahnya akan memecatnya lebih cepat dari yang ia pikirkan. Lengkap dengan omelan gratis sebagai tambahan.
Saat ini YiFan berada dalam situasi yang sangat serius. Namun, meskipun ada kemungkinan, dia yakin 99,9 persen bahwa Junmyeon tidak akan melaporkannya. Dia terlalu mirip dengan YiFan. Gadis itu ingin menang. Dia ingin mengalahkan YiFan. Dan dia ingin melakukan semuanya sendirian.
Di sisi lain Junmyeon bertolak pinggang dan membuka mulutnya untuk mengumpat Pemuda Wu itu, dan YiFan menduga mungkin Junmyeon akan mengatakan, ke lubang tubuh bagian mana ia bisa memasukkan buku itu. Membayangkan hal itu membuat YiFan bersandar sambil tersenyum geli, penuh semangat mengantisipasi ledakan...yang tentunya tidak pernah datang.
Junmyeon memiringkan kepalanya ke samping, menutup mulutnya, dan berkata, "Kau tahu? Sudahlah."
Dan dengan itu, Junmyeon berjalan keluar pintu.
Huh?!
Sedikit antiklimaks, kan? YiFan pikir juga begitu.
Tunggu saja.
Beberapa jam kemudian, YiFan pergi ke perpustakaan mencari buku referensi yang sangat besar berjudul Commercial and Investment Banking and the International Credit and Capital Markets. Kalian tahu semua novel Harry Potter akan masuk ke dalam satu bab buku ini. Dan YiFan harus segera meminjamnya.
Setibanya di perpustakaan YiFan mengamati susunan untuk mencari dimana buku itu seharusnya berada, dan yang ia dapatkan buku itu sudah tidak ada. Oh! Orang lain pasti sedang meminjamnya.
Kemudian YiFan mengalihkan perhatiannya ke buku yang jauh lebih kecil, tapi sama pentingnya, yang berjudul Investment Management Regulation, Seventh Edition. Dan yeah! Buku itu juga hilang.
Apa-apaan ini?!
Tidak mungkin dua buku penting itu hilang secara bersamaan, kan? Karena YiFan tidak percaya pada kebetulan. Dengan segera pemuda tampan itu naik lift kembali ke lantai empat puluh. YiFan sengaja berjalan melewati kantor Junmyeon, sekedar memastikan apakah dugaannya benar. Dan ketika ia sampai di sana, pintu kantor gadis itu terbuka namun YiFan tidak seketika melihat Junmyeon.
Kalian tahu kenapa? Itu karena tumpuk buku di sekeliling mejanya, tersusun rapi seperti pencakar langit yang tinggi. Sekitar tiga lusin ia rasa.
Untuk sesaat, YiFan membeku, mulutnya terbuka dengan mata terbelalak karena syok. Kemudian, dengan konyolnya, YiFan bertanya-tanya bagaimana bisa Junmyeon membawa semuanya ke sini? Oh Ayolah, YiFan menduga jika berat Junmyeon tidak lebih dari seratus sepuluh pon. Dan dia membawa sendiri buku-buku yang beratnya ratusan pon itu? Tidak mungkin!
Tidak lama kemudian rambut hitam mengkilap Junmyeon muncul dari bawah. Lalu gadis itu tersenyum. Persis seperti kucing yang mulutnya penuh dengan burung. Dan YiFan benci kucing! Karena menurut YiFan mereka terlihat agak jahat. Mereka hanya menunggumu untuk terlelap sehingga mereka dapat menutupimu dengan bulu atau kencing di telingamu.
"Hai, Kris. Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Junmyeon dengan keramahan yang palsu. Jari-jarinya mengetuk dengan ritmis pada dua hardcover raksasa. "Kau tahu...bantuan? Saran? Atau arah menuju ke perpustakaan umum mungkin?" lanjutnya.
YiFan menahan jawabannya. Dan mengerutkan kening menatap Junmyeon. "Tidak. Aku baik-baik saja."
"Oh. Oke, itu bagus. Itu artinya aku tidak perlu membuang waktuku, kau tahu kan...buku-buku ini...sedang menanti untuk aku baca. Bye-bye." Dan dengan itu, Junmyeon menghilang kembali di balik segunung literatur.
Kim J—dua.
Wu Fan—nol.
...
Setelah kejadian itu, keadaan jadi semakin parah. Baik Junmyeon maupun YiFan tenggelam ke posisi terendah dalam sabotase profesional. Meskipun tidak sampai benar-benar mengembara ke wilayah ilegal. Tapi itu sangat dekat.
Sebenarnya ini agak memalukan untuk diceritakan, suatu hari ketika YiFan datang ke kantor ia mendapati semua kabel hilang dari komputernya. Tidak diragukan lagi itu ulah Junmyeon, YiFan sangat yakin akan hal itu. Ya, walaupun itu tidak memberikan kerusakan jangka panjang, tapi YiFan harus menunggu selama satu setengah jam sampai petugas IT muncul dan menyambungkannya kembali.
Kim Junmyeon, lihat saja apa yang bisa aku lakukan.
Dan keesokan harinya, ketika Junmyeon datang ke kantornya. Gadis itu mendapati bahwa "seseorang" telah menukar semua label pada disk dan file. Dan Junmyeon bisa menduga siapa seseorang itu. Untung baginya, semua file tidak ada yang terhapus. Tapi Junmyeon harus melihat satu demi satu jika dia ingin menemukan dokumen yang dia butuhkan.
Sabotase mereka tidak berhenti sampai di situ. Beberapa hari setelah insiden komputer, pada rapat staf, YiFan secara "tidak sengaja" menumpahkan segelas air pada beberapa informasi yang telah Junmyeon susun untuk ayahnya. Pekerjaan yang mungkin membutuhkan waktu lima jam atau lebih untuk menyusunnya menjadi satu.
"Ups. Maaf," kata YiFan. Terlihat jelas tidak ada penyesalan di wajah pemuda itu, melainkan justru seringaian kemenangan muncul di bibirnya. Junmyeon menatap tajam ke arah YiFan, kemudian beralih pandang ke Tuan Wu yang sedikit terlihat kaget.
"Tidak apa-apa, Presdir Wu, Saya memiliki salinan lain di kantor." Junmyeon mencoba meyakinkan Tuan Wu. Kemudian gadis itu memohon diri untuk mengambil salinan informasi tersebut.
Sial, bagaimana bisa ia sesiaga itu?
YiFan masih ingat ketika guru sekolahnya mengatakan jika apa yang kita petik adalah hasil dari apa yang kita tanam. Dan peribahasa ini berlaku padanya sekarang. Setelah insiden penyiraman 'tidak sengaja' yang dilakukan oleh YiFan, tepatnya sekitar pertengahan rapat Junmyeon membalasnya.
Gadis itu menendang YiFan! Tepat di tulang keringnya, di bawah meja.
"Hmph," YiFan mengerang, dan tangannya mengepal secara refleks.
"Kau baik-baik saja, Kris?" Tanya Tuan Wu.
YiFan hanya bisa mengangguk dan memekik, "Ada sesuatu di tenggorokanku." Dan dia mulai batuk dengan dramatis.
Demi Tuhan ini terasa sakit, bahkan sangat sakit. Tapi YiFan tidak akan menangis dan melapor pada ayahnya, melainkan mencari alibi lain untuk menyembunyikan tindak kriminal Junmyeon. Lihatlah, dia begitu baik hati, bukan?
Apa kalian pernah ditendang di tulang kering dengan hak sepatu runcing sepanjang empat inci? Oke, mungkin bagi seorang pria, hanya ada satu daerah yang lebih menyakitkan untuk ditendang. Dan itu adalah tempat yang tidak berani YiFan sebut namanya.
Setelah denyutan rasa sakit di kakinya sedikit berkurang, YiFan menyembunyikan tangannya di balik beberapa kertas dokumen sementara Tuan Wu bicara. Tanpa diketahui Tuan Wu, YiFan mengacungkan jari tengahnya kearah Junmyeon. Yeah, Itu memang tidak dewasa, ia tahu, tapi rupanya mereka berdua sekarang sudah bertingkah layaknya anak TK, jadi YiFan rasa itu tidak apa-apa.
Sedangkan Junmyeon mencibir kearah YiFan. Lalu dia berucap tanpa suara, jangan mimpi.
Dan itu sukses membuat YiFan tidak bisa membalasnya.
...
Saat ini mereka berada dalam tahap akhir perlombaan. Sebulan pertarungan hidup mati telah berlalu, dan besok adalah tenggat waktu yang diberikan Tuan Wu. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan Junmyeon serta Yifan adalah satu-satunya orang yang tersisa di dalam gedung ini.
Sejujurnya YiFan sudah punya fantasi ini ratusan kali. Bekerja lembur dengan Kim Junmyeon. Meskipun, harus ia katakan, itu tidak termasuk tentang mereka berada di kantor masing-masing, saling melotot dari seberang lorong, disertai sesekali gerakan tangan yang tidak senonoh.
YiFan melirik dan melihat Junmyeon sedang meninjau grafik miliknya. YiFan mencibir. Apa yang Junmyeon pikirkan? Apakah ini Jaman Batu? Masihkah ada orang yang memakai papan poster jaman sekarang? YiFan yakin Anderson pasti jadi miliknya.
YiFan baru saja memberikan sentuhan akhir pada presentasi PowerPoint yang mengesankan miliknya ketika Chanyeol berjalan masuk kedalam kantornya. YiFan sempat melirik pemuda Park itu. Dia memakai celana jins lengkap dengan jaket kulit andalannya. YiFan menduga pemuda itu ingin mengajaknya pergi ke bar. Tak peduli bahwa ini adalah malam Kamis, tapi begitulah Chanyeol. Beberapa minggu yang lalu, YiFan juga begitu.
Chanyeol menatap YiFan dengan lama, tanpa mengatakan apapun. Lalu ia duduk di tepi meja YiFan dan berkata, "Sobat, sudahlah lakukan saja."
"Apa yang sedang kau bicarakan?" Tanya YiFan, jari-jarinya tidak pernah berhenti di atas keyboard.
"Apa kau mengamati dirimu sendiri belakangan ini? Jangan tersinggung, tapi kau terlihat mengerikan. Kau hanya perlu berjalan kesana dan menyelesaikannya." Chanyeol menunjuk ruangan Junmyeon dengan dagunya.
"Chanyeol, apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" tanya YiFan, ia mulai merasa jengkel dengan pembicaraan Chanyeol yang menurutnya berbelit-belit.
"Apa kau pernah menonton film War of the Roses? Apa kau ingin berakhir seperti itu?"
"Aku punya pekerjaan yang harus dilakukan. Aku tak punya waktu untuk ini sekarang." Ucap YiFan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
Chanyeol mengangkat tangannya ke atas sebagai tanda putus asa. "Baik. Aku sudah mencoba. Ketika kita mendapati kalian berdua di lobi di bawah lampu gantung yang jatuh, aku akan memberitahu ibumu bahwa aku sudah berusaha."
YiFan berhenti mengetik. "Apa sebenarnya maksudmu?"
"Maksudku, kau dan Junmyeon. Sudah jelas kau punya perasaan tertentu terhadapnya."
YiFan melirik kantornya ketika Chanyeol menyebutkan namanya. Junmyeon tidak mendongak. "Ya, aku punya 'perasaan tertentu' untuknya. Rasa benci yang hebat padanya. Kita tidak bisa mentolerir satu sama lain. Dia gadis yang sulit ditangani. Aku tidak akan menidurinya."
Oke, itu mungkin tidak benar. Karena pada kenyataannya YiFan sangat ingin meniduri Junmyeon. Meskipun YiFan tidak akan menyukainya.
Oke, oke, mungkin itu juga tidak tepat. Karena YiFan mulai tertarik pada Junmyeon. Ingat hanya tertarik bukan menyukai.
Chanyeol bangkit dari posisinya lalu duduk di kursi di seberang meja YiFan. YiFan bisa merasakan jika Chanyeol tengah menatapnya lagi lalu pemuda itu mendesah.
"Lee Sungjong." Ucap Chanyeol. YiFan mengalihkan perhatiannya dan menatap kosong kearah pemuda itu.
Siapa?
"Lee Sungjong," kata Chanyeol, lalu menjelaskan, "Kelas tiga."
Gambaran seorang gadis kecil yang berkuncir dengan rambut berwarna cokelat muda dan kacamata tebal melintas dalam benak YiFan.
YiFan mengangguk. "Oh. Apa hubungannya dengan gadis itu?"
"Dia adalah gadis pertama yang pernah kucintai."
Tunggu. Apa?
"Bukankah kau dulu biasa memanggilnya Sungjong si Bau?" YiFan menatap Chanyeol bingung.
"Ya." Chanyeol mengangguk dengan serius. "Ya, aku memanggilnya begitu. Dan aku mencintainya."
YiFan masih bingung.
"Bukankah kau membuat seluruh anak kelas tiga memanggilnya Sungjong si Bau?" selidik YiFan.
Chanyeol mengangguk lagi dan berusaha terdengar bijak ketika ia berkata, "Cinta membuatmu melakukan beberapa hal yang konyol."
YiFan rasa begitu, karena...
"Bukankah dia harus pulang lebih awal dua kali seminggu untuk pergi ke terapis karena kau terlalu banyak mengejek dia?" cecar YiFan.
Chanyeol tampak merenungkan ini sejenak. "Ya, itu benar. Kau tahu, ada garis tipis antara cinta dan benci, Kris."
"Dan bukankah Lee Sungjong pindah sekolah akhir tahun itu karena—"
"Dengar, intinya, adalah aku menyukai gadis itu. Mencintainya. Kupikir dia mengagumkan. Tapi aku tidak bisa mengatasi perasaan itu. Aku tak tahu bagaimana mengekspresikan perasaanku dengan cara yang tepat." Potong Chanyeol. YiFan memandangnya dengan ekspresi heran pasalnya pemuda itu tidak biasanya bersentuhan dengan sisi femininnya.
"Jadi kau sebaliknya malah mengganggunya, kan?" YiFan bertanya.
"Sayangnya, ya." Ucap Chanyeol lirih.
"Dan ini ada hubungannya antara Junmyeon dan aku karena...?" YiFan tidak melanjutkan kata-katanya.
Ia memandang Chanyeol, pemuda di depannya terdiam tanpa ekspresi dan kemudian memberi YiFan...tatapan itu. Sedikit gelengan kepala, meringis kekecewaan dan sedih. Tatapan yang Chanyeol berikan pada YiFan lebih buruk dari rasa bersalah seorang ibu, YiFan bersumpah.
Chanyeol berdiri menghampiri YiFan, menepuk lengan pemuda itu, dan berkata, "Kau orang yang cerdas, YiFan. Kau akan memahaminya." Dan bersamaan dengan itu, dia pergi.
Ya, ya, YiFan tahu apa yang Chanyeol ingin sampaikan. Dia mengerti, oke. Dan YiFan harus mengatakan terus terang jika Chanyeol, sudah gila.
Kasusnya dengan kasus Chanyeol jelas berbeda. YiFan tidak memperdebatkan soal Junmyeon karena ia menyukainya. Melainkan YiFan melakukan itu karena keberadaan gadis itu mengacaukan jalur lintasan karirnya. Junmyeon adalah gangguan. Seekor lalat dalam supnya. Bisul di pantatnya. Sama sakitnya dengan sengatan induk lebah di pipi kiri YiFan saat perkemahan musim panas ketika ia berumur sebelas tahun.
Tentu saja, gadis itu pasti menyenangkan ketika di ranjang. Dan YiFan akan naik Kim Junmyeon ekspres kapan saja. Tapi itu tidak akan pernah lebih dari sekedar seks yang nikmat. Itu saja, kawan.
Apa? Kenapa kalian menatapnya seperti itu? Kalian tidak percaya padanya?
Kalau begitu kalian sama gilanya dengan Chanyeol.
... TBC ...
Hai...
Apa saya update terlalu cepat? :D
Jangan bosen ya ngeliat saya yang selalu wara-wiri di ffn. Oke, saya berusaha dengan sangat keras di chap 3 ini, semoga tata bahasanya tidak terlalu membingungkan. Karena jujur tidak sedikit yang komplen tentang chap 2 kemaren.
Secara khusus saya berima kasih kepada Akiko Ichie, karena telah memberi masukan kepada saya. Sampai saat ini saya masih mengharapkan review, saran serta kritik yang bisa membangun dari kalian semua agar saya bisa meremake novel ini lebih baik lagi.
Oke, ucapan terima kasih sebesar-besarnya pada: Gigi onta, akiko ichie, anon, sayangsemuamembersuju, KrisHo WonKyu, PikaaChuu, Emmasuho, Duo Bubble-Kim316, hae15, LittleMyeon, dhearagil, alexandra n xing, xjhxjh, Raemyoon, nonagrice, joonmily, nam mingyu, jelly, pranawuland.
Yang telah setia mereview ff ini, kalian yang terbaik. Jadi terharu sayanya. Oke mulai lebay. *abaikan, :D
Akhir kata, mohon reviewnya. Terima kasih. ^^
