TANGLED

...

Main Cast:

Wu YiFan, Kim Junmyeon

...

Genre:

Romance

...

Rate:

M

...

Disclaimer:

Remake dari novel dengan judul yang sama karya Emma Case

...

...

4

Tekanan adalah suatu hal yang aneh dan bisa membuat beberapa orang mendadak berubah. Apa kalian masih ingat dengan peristiwa seorang mahasiswa yang memutuskan untuk menembak separuh jumlah mahasiswa dengan senapan jarak jauh karena dia mendapat nilai B+ di ujian akhir. Ya, peristiwa ini membuat beberapa orang tersedak.

Satu kesimpulan yang bisa kita tarik dari itu semua bahwa tekanan membuat beberapa orang jatuh. Ambruk. Membeku.

Untunglah YiFan bukan salah satu dari jenis orang-orang itu. Pemuda tampan itu berkembang karena tekanan. Hal ini tidak membuatnya jatuh melainkan mendorongnya serta mengarahkannya untuk menjadi sukses. Tekanan adalah elemennya. Seperti ikan di dalam air.

Keesokan harinya YiFan berangkat kerja sangat pagi. Mengenakan pakaian mahal dan bergaya dengan ekspresi percaya diri.

Now, it's time.

Junmyeon dan YiFan tiba di pintu kantor Tuan Wu tepat jam sembilan pagi. Seperti biasa, YiFan tak bisa mencegah untuk mengamati seluruh tubuh gadis itu. Junmyeon terlihat cantik. Percaya diri. Bersemangat. Rupanya reaksi Junmyeon terhadap stres sama halnya dengan YiFan.

YiFan memutuskan mengetuk pintu itu dan membukanya. Setidaknya meskipun dia menganggap Junmyeon adalah saingannya, dia harus tetap berlaku sopan pada seorang wanita. Ingat ibunya membesarkannya untuk menjadi seorang gentleman.

"Selamat pagi, Presdir Wu." YiFan dan Junmyeon mengucapkannya hampir bersamaan. Dan seketika keduanya saling melempar tatapan tajam ke arah masing-masing.

Tuan Wu mendongak lalu senyum cerah mengembang di wajahnya. "Kris, nona Kim, duduklah ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepada kalian."

Baik YiFan maupun Junmyeon hanya mengangguk dan melakukan perintah atasannya.

"Saul Anderson menghubungiku, dan dia mengatakan jika akan datang ke kota ini lebih awal dari jadwal yang ditetapkan. Sepertinya besok malam." Ucap Tuan Wu. YiFan tampak mengangguk paham sedangkan Junmyeon hanya diam.

Ya, banyak pengusaha melakukan hal ini. Memajukan rapat pada saat-saat terakhir. Ini adalah sebuah tes. Untuk melihat apakah kalian siap. Untuk melihat apakah kalian dapat mengatasi hal-hal yang tak terduga. Untungnya YiFan merasa siap dan dia pasti bisa.

"Aku melihat kalian tidak mengajukan protes atau semacamnya, jadi aku simpulkan jika berita ini bukan masalah bagi kalian." Tuan Wu tersenyum menatap keduanya, "Jadi, apa kalian sudah siap dengan presentasi kalian saat ini?"

"Sangat siap, Presdir." Ucap Junmyeon penuh kenyakinan.

"Baikalah, siapa yang akan memulai lebih dulu?" Presdir Wu bertanya sambil menatap bergantian pada keduanya.

"Semenjak nona Kim Junmyeon menjadi satu-satunya wanita di sini, aku akan membiarkan nona Kim memulai lebih dulu. Ladies first." ucap YiFan, pemuda itu menatap Junmyeon dengan tatapan sedikit meremehkan.

Ingat, tetap berusaha mengguncang kepercayaan diri lawan. Namun hal itu ternyata tidak berpengaruh pada Junmyeon. Karena gadis itu justru berterima kasih padanya. Dalam artian gadis itu berterima kasih dengan cara yang menyatakan terima-kasih–karena-kau-membiarkan-aku-menang.

Kemudian Junmyeon mulai. YiFan mengamati presentasi Junmyeon seperti anak kecil mengamati hadiah di bawah pohon natal pada malam menjelang Natal. Tentu saja Junmyeon tidak mengetahuinya. Saat ini wajah YiFan merupakan definisi yang sangat jelas dari ekspresi bosan dan acuh tak acuh. Meskipun dalam hati, YiFan tak sabar untuk melihat apa yang Junmyeon punya.

Dan YiFan tidak kecewa. Jangan bilang pada siapa pun jika pemuda tampan itu mengatakan ini, karena dia akan menyangkalnya mati-matian, tapi Kim Junmyeon sungguh luar biasa. Nyaris sebaik dirinya.

Nyaris.

Dia terarah, jelas, dan sangat persuasif. Rencana investasi yang dia paparkan unik dan imajinatif. Dan ditujukan untuk menghasilkan banyak uang. Satu-satunya kelemahan hanyalah bahwa dia orang baru. Dia tidak memiliki koneksi yang membuat proposal itu bisa terlaksana. Seperti yang sudah YiFan katakan sebelumnya, faktor kunci dari bisnis ini adalah memiliki posisi yang lebih menguntungkan seperti dirinya yang memungkinkan untuk mempunyai banyak koneksi. Info tersembunyi dan rahasia kotor yang orang luar tidak bisa dapatkan. Jadi, meskipun ide Junmyeon itu kuat, idenya sama sekali tidak layak. Tidak mudah dijalankan.

Kemudian giliran YiFan.

Proposal YiFan sebaliknya sangat solid. Perusahaan dan investasi yang ia uraikan sudah terkenal dan aman. Memang, proyeksi keuntungan YiFan tidak setinggi milik Junmyeon, tapi proposal pemuda itu pasti. Dapat diandalkan. Aman.

Setelah YiFan selesai, dia duduk di samping Junmyeon di sofa. Lihat mereka di sana? Tangan Junmyeon terlipat rapi di pangkuan, punggungnya lurus, dengan senyum pasti dan puas di bibirnya. Sedangkan YiFan, pemuda itu bersandar di sofa, sikapnya santai, lengkap dengan senyum percaya diri yang menghiasi wajahnya.

Adakah dari kalian di luar sana yang berpikir jika YiFan seorang manusia rendah? Perhatikan dengan seksama. Kalian akan suka bagian ini.

Tuan Wu berdehem, dan YiFan dapat membaca kilauan semangat di matanya. Tuan Wu menggosok kedua tangannya dan tersenyum. "Kutahu naluriku benar pada yang satu ini. Aku tak bisa jelaskan pada kalian bagaimana terkesannya aku atas apa yang telah kalian paparkan. Dan kurasa sudah jelas siapa yang harus melangkah maju bersama Anderson."

Secara bersamaan, Junmyeon dan YiFan saling menyeringai, ekspresi sombong penuh kemenangan terpancar di wajah keduanya.

Tunggu saja...

"Kalian berdua."

Ironinya sungguh menyakitkan, benar kan?

Mata Yifan maupun Junmyeon berpaling tertuju pada Tuan Wu, dan seringai dari wajah mereka lenyap lebih cepat dari kecepatan lari seorang atlet. Mereka bicara secara bersamaan dengan nada terkejut.

"Apa?"

"Maaf?"

"Dengan bakat artistikmu untuk berinvestasi, Junmyeon, dan pengetahuan milikmu, Kris, kalian berdua akan menjadi pasangan yang sempurna. Sebuah tim tak terkalahkan. Kalian berdua bisa menggarap klien ini bersama. Ketika Anderson menandatangani kontrak dengan kita, Kalian dapat berbagi beban kerja dan bonus, setengah-setengah."

Berbagi klien?

Berbagi klien?

Apakah Tuan Wu sudah kehilangan akalnya? Bolehkah YiFan meminta ayahnya untuk berbagi hasil kerja kerasnya? Apa ayahnya akan mengijinkan orang lain menyetir cherry Mustang convertible 1962 miliknya? Maukah ayahnya membuka pintu kamarnya dan membiarkan orang lain bercinta dengan istrinya?

Oke, ini kelewatan. YiFan tarik kembali kata-katanya, mengingat istri Tuan Wu adalah ibunya. Lupakan YiFan pernah menyebut kata 'ibunya' dan 'bercinta' pada kalimat yang sama. Ini jelas...salah. Dilihat dari sudut pandang manapun.

Tapi demi Tuhan, katakan padanya bahwa kalian mengerti maksud YiFan.

Tuan Wu pasti telah melihat wajah kalian, karena kemudian ia bertanya, "Itu tidak jadi masalah, kan?"

YiFan membuka mulut untuk mengatakan pada pada Tuan Wu apa masalah utamanya. Tapi sayang Junmyeon mendahuluinya.

"Tidak, Presdir Wu, tentu saja tidak. Bukan masalah sama sekali." Junmyeon berucap, senyuman tidak pernah luntur dari wajahnya saat ia mengatakan itu.

"Bagus sekali!" Tuan Wu mengatupkan kedua tangannya dan berdiri. "Aku ada permainan golf satu jam lagi, jadi aku akan meninggalkan kalian berdua untuk mengurus ini. Kalian punya waktu sampai besok malam untuk mengkoordinasikan proposalnya. Anderson akan tiba di hotel La Fontana jam tujuh."

Dan kemudian Tuan Wu menatap tepat di wajah YiFan. "Kutahu kau tidak akan mengecewakanku, Wu YiFan."

Sial.

YiFan tak peduli jika kalian berumur enam puluh tahun, ketika orangtuamu memanggil menggunakan nama lengkapmu, itu sudah menghisap semua argumen darimu.

"No, Sir. Aku tidak akan mengecewakanmu." Ucap YiFan penuh hormat.

Dan bersamaan dengan itu, Tuan Wu keluar pintu. Meninggalkan Junmyeon dan YiFan duduk di sofa, ekspresi keduanya kosong, persis seperti korban selamat dari ledakan nuklir.

"'Tidak, Presdir Wu, tentu saja tidak,'" ejek YiFan. "Bisakah kau lebih menjilat lagi?"

Junmyeon mendesis. "Diam, YiFan ." Lalu gadis itu mendesah. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Well, kau bisa melakukan tindakan mulia dan mengundurkan diri." Ucap YiFan santai. Ya, seperti itu akan terjadi saja. Apa dia tidak pernah belajar dari peristiwa sebelumnya bahwa Kim Junmyeon bukan orang yang mudah untuk dirobohkan.

"Jangan mimpi."

YiFan menyeringai. "Sebenarnya mimpiku melibatkanmu untuk membungkuk di atas sesuatu...bukan menunduk di atas sesuatu."

Junmyeon melirik YiFan dan mengeluarkan suara jijik. "Bisakah kau lebih brengsek lagi?"

"Aku bercanda. Kenapa kau terus-terusan serius? Kau harus belajar bagaimana caranya bercanda."

"Aku bisa diajak bercanda," ucap Junmyeon dengan nada yang terdengar sangat terhina. Matanya memandang tajam pemuda di sampingnya.

"Yeah? Kapan?" YiFan melirik Junmyeon penuh keraguan.

"Ketika itu tidak disampaikan pada pria brengsek kekanak-kanakan yang berpikir dia adalah karunia Tuhan bagi wanita." Junmyeon berkata sambil memandang jengah ke arah YiFan.

"Aku tidak kekanak-kanakan." Sangkal YiFan.

Sebaliknya jika karunia Tuhan? Prestasinya bicara dengan sendirinya.

"Oh, persetan kau."

Kuharap.

"Bantahan yang bagus, Junmyeon. Sangat dewasa."

"Kau brengsek." Ucap Junmyeon sambil menunjuk YiFan.

"Dan kau seperti...Luhan." YiFan belas menunjuk gadis itu.

Junmyeon berhenti sejenak dan menatap YiFan dengan pandangan kosong. "Apa artinya itu?"

Ingatlah. Ini akan datang lagi pada kalian.

YiFan mengusap tangannya ke wajah. "Oke, dengar, ini tidak akan membawa kemajuan apapun pada kita. Kita kacau. Kita berdua masih menginginkan Anderson, dan satu-satunya cara agar kita mendapatkan dia adalah jika entah bagaimana caranya kita bisa mengorganisir diri. Kita punya...tiga puluh jam untuk mengerjakannya. Kau ikut atau tidak?"

Bibir Junmyeon menyatu dengan tekad yang pasti kemudian berkata, "Kau benar. Aku ikut."

YiFan mulai bangkit dari duduknya, "Baiklah, temui aku di kantorku dalam waktu dua puluh menit, dan kita akan mulai bekerja."

Saat ini YiFan mengira jika Junmyeon akan kembali mengajaknya berdebat. YiFan mengira Junmyeon akan bertanya kenapa mereka harus bertemu di kantornya, kenapa mereka tidak bekerja di kantor Junmyeon saja, persis seperti ibu rumah tangga yang cerewet. Tapi kenyataannya gadis itu tidak melakukannya.

Junmyeon hanya berkata, "Oke." Dan meninggalkan ruangan sambil mengumpulkan sisa barang-barangnya.

Itu membuat YiFan terkejut.

Mungkin ini tidak akan seburuk yang dia kira.


...


"Ini ide paling bodoh yang pernah kudengar!" YiFan sedikit berteriak. Ia baru saja mendengar ide yang di utarakan oleh Junmyeon.

Yeah, YiFan mengira jika bekerja sama dengan Junmyeon tidak akan seburuk yang ia pikirkan, namun ini salah, karena ternyata keadaannya jauh lebih parah lagi.

"Dengar, aku sudah meneliti Anderson. Dia tipe orang kolot. Dia tidak akan mau menjadi buta menatap laptopmu sepanjang malam. Dia pasti ingin sesuatu yang nyata, berwujud. Sesuatu yang bisa dibawa pulang. Itulah apa yang akan kuberikan padanya!" Junmyeon membela diri.

"Ini adalah pertemuan bisnis bernilai miliaran dolar, bukan pameran sains kelas lima. Aku tidak pergi ke sana membawa papan poster!" ucap YiFan sambil melirik papan poster milik Junmyeon.

Sekarang sudah lewat tengah malam. Mereka sudah berada di kantor YiFan selama kurang lebih dua belas jam. Kecuali untuk beberapa detail yang sangat rinci, setiap aspek presentasi mereka telah tersusun, dinegosiasikan, terkompromikan. YiFan merasa seperti baru saja bertukar sebuah perjanjian damai.

Sekarang, Junmyeon telah mengurai rambutnya dan melepas sepatunya. Sedangkan YiFan, pemuda itu sudah menanggalkan dasinya, dengan dua kancing atas bajunya terbuka. Penampilan mereka bisa membuat keadaan terasa bersahabat—intim—seperti belajar bersama semalam suntuk di bangku kuliah.

Dengan catatan, mereka tidak berusaha untuk menggorok leher satu sama lain.

"Aku tak peduli kalau kau setuju atau tidak. Aku benar tentang hal ini. Aku akan membawa papan poster." Junmyeon bersiteguh dengan ide awalnya.

YiFan menyerah. Dia terlalu lelah untuk bertengkar tentang urusan kertas. "Fine. Hanya kecilkan ukurannya."

Mereka memesan makanan beberapa jam yang lalu dan bekerja sambil makan malam. YiFan memesan pasta dengan ayam, sementara Junmyeon lebih suka sandwich isi daging kalkun dengan tambahan kentang goreng. Meskipun YiFan sangat benci mengakuinya, tapi dia terkesan pada gadis itu.

Jelas, Junmyeon bukan menganut aturan praktis yang menyatakan "Aku hanya bisa makan salad di depan lawan jenis" yang banyak wanita ucapkan. Siapa yang memberi gagasan ini pada kaum wanita?

Seperti seorang pria akan mengatakan kepada temannya, "Bro, dia gadis yang sangat jelek, tapi begitu aku melihat dia mengunyah selada itu, aku memutuskan kalau aku harus menidurinya."

Tidak ada pria ingin bercinta dengan gadis kerempeng, gadis yang hanya menggigit biskuit cracker dan minum air putih seperti tawanan perang saat makan malam tidaklah menarik. Hal ini hanya membuat para pria berpikir tentang bagaimana rewelnya kalian nantinya karena kelaparan. Jika seorang pria suka padamu? Satu cheese burger deluxe tidak akan membuatnya takut. Dan jika dia tidak suka padamu? Menelan semua sayuran di pertanian tidak akan mengubahnya menjadi menyukaimu, percayalah.

Sekarang mari kembali ke pertengkaran intens mereka.

"Aku yang akan melakukan presentasi," kata YiFan tegas.

"Tidak, tidak mungkin." Ucap Junmyeon sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.

"Junmyeon—"

"Ini adalah ideku dan aku yang akan mempresentasinya!" Junmyeon memotong perkataan YiFan. Gadis itu mengatakannya penuh dengan tekad yang kuat.

YiFan berpikir jika mungkin Junmyeon dengan sengaja berusaha ingin membuatnya gila. Junmyeon sengaja berusaha mendorongnya untuk terjun ke jurang. Gadis itu mungkin berharap Yifan akan melemparkan diri ke luar jendela, hanya untuk menjauh dari gangguannya. Lalu dia akan mendapatkan Anderson sendirian.

Well, skema kecil jahatnya tidak akan berhasil. YiFan akan tetap tenang. Dia tidak akan membiarkan Junmyeon mempengaruhinya.

"Saul Anderson," kata YiFan, "adalah seorang pengusaha yang kolot, kau baru saja bilang sendiri. Dia pasti ingin bicara dengan sesama pria lain, bukan dengan orang yang ia pandang sebagai seorang sekretaris belaka."

"Ini komentar paling diskriminatif yang pernah kudengar. Kau menjijikkan!" teriak Junmyeon penuh amarah.

Kalian lihat? Ya, sepertinya ketenangan diantara mereka seketika pergi keluar jendela dan jatuh sekitar empat puluh lantai.

"Aku tidak mengatakan jika aku berpikir dengan cara seperti itu, aku mengatakan cara berpikir Anderson seperti itu! Ya Tuhan!" YiFan mulai menaikkan nada suaranya. YiFan menatap Junmyeon yang tengah menatapnya tajam. Bahu gadis itu naik turun akibat teriakannya tadi.

Dan memang benar. Yifan tidak peduli kau seorang wanita atau pria, semua sama saja baginya. Asalkan kalian menyelesaikan pekerjaan dengan benar, itulah yang terpenting. Tapi Junmyeon tampaknya bertekad untuk berpikir yang terburuk tentang dirinya.

YiFan mengusap rambutnya sebagai usaha untuk melampiaskan sebagian frustrasi yang membuatnya ingin mengguncang diri gadis itu.

"Dengar, ini adalah cara yang seharusnya. Berusaha untuk berpura-pura bahwa bias itu tidak ada, tidak akan membuat bias itu hilang. Kita punya kesempatan yang lebih baik mendapat kontrak dari Anderson jika aku yang melakukan presentasi." YiFan berusaha berkata tenang.

Namun ternyata usahanya tidak dibalas oleh Junmyeon, karena gadis itu masih saja berbicara dengan penuh amarah. "Aku bilang tidak! Aku tak peduli apa yang kau pikirkan. Sama sekali tidak!"

"Ya Tuhan, kau begitu keras kepala. Kau seperti keledai menopause yang sedang kesal!"

"Aku keras kepala! Aku keras kepala? Mungkin aku tidak akan jadi seperti ini kalau kau bukan seorang Raja Gila Kontrol!" Junmyeon menunjuk Yifan.

YiFan akui, Junmyeon memang benar tentang gila kontrol itu. Tapi bagaimana lagi? YiFan suka sesuatu yang dijalankan dengan cara yang benar, caranya. Dan YiFan tidak akan minta maaf untuk itu. Terutama kepada Ms. Terlalu Kaku ini.

"Setidaknya aku tahu kapan harus mundur, tidak sepertimu. Kau berjalan-jalan seperti orang kaku yang memakai shabu!"

Saat ini, mereka berdua berdiri, saling berhadapan dengan jarak kurang dari satu kaki. Tanpa sepatu hak tingginya, YiFan punya keuntungan tinggi badan, tapi Junmyeon tidak nampak terintimidasi.

"Kau bahkan tidak mengenalku. Aku bukan orang yang kaku." Bantah Junmyeon sambil menusuk dada Yifan dengan jarinya.

"Oh, tolonglah. Aku belum pernah melihat seseorang yang sangat butuh ditiduri separah dirimu. Aku tak tahu apa yang tunanganmu lakukan padamu. Tapi apapun itu? Dia tidak melakukannya dengan benar." Balas YiFan sengit.

Mulut Junmyeon terbuka, membentuk huruf O besar atas ejekan YiFan terhadap tunangannya. Dari sudut matanya, YiFan melihat tangan Junmyeon mulai terangkat, siap untuk menampar wajahnya. Ini bukan pertama kalinya seorang wanita mencoba menampar YiFan. Kalian tidak akan terkejut, kan?

Layaknya seorang profesional, YiFan menangkap pergelangan tangan gadis itu sebelum membuat kontak dengan pipinya dan menahan lengan Junmyeon turun di sisi tubuhnya. "Astaga, Junmyeon, untuk seorang wanita yang mengklaim dirinya tidak mau bercinta denganku, kau pasti sangat ingin melakukan kontak fisik ini."

Tangan Junmyeon yang lain terangkat mencoba menampar YiFan dari sisi yang lain, tapi pemuda itu memblokirnya lagi dan sekarang secara aman menahan kedua tangan Junmyeon di samping pinggulnya. YiFan menyeringai. "Harus lebih baik dari ini, sayang, jika kau menginginkanku."

"Aku membencimu!" Teriak Junmyeon di depan wajah YiFan

"Aku lebih membencimu!" teriak YiFan.

Oke, YiFan akui, ini bukan bantahan yang cerdas darinya, tapi itu bantahan terbaik yang bisa ia berikan dalam situasi seperti ini.

"Bagus!"

Ini adalah kata terakhir yang Junmyeon ucapkan. Sebelum mulut YiFan turun ke bibir gadis itu.


...


YiFan sudah pernah mencium ratusan gadis. Tidak, anggap saja ribuan. Dan YiFan hanya ingat beberapa dari mereka. Tapi ciuman ini? Ini adalah salah satu ciuman yang tidak akan ia lupakan dalam waktu dekat.

Junmyeon terasa...Oh Tuhan, YiFan bersumpah jika ia belum pernah memakai narkoba, tapi dia membayangkan rasanya mungkin seperti ini saat pertama kali menghirup kokain. Suntikan pertama dari heroin. Sungguh membuatnya ketagihan.

Bibir mereka beradu dan bergerak satu sama lain. Marah dan basah.

YiFan tidak bisa berhenti menyentuh Junmyeon. Tangan pemuda itu menelusuri setiap lekukan tubuh Junmyeon: wajahnya, rambutnya, turun di punggungnya, mencengkeram pinggulnya. YiFan menarik Junmyeon lebih dekat, sangat ingin untuk merasakan lebih. Dan mengharapkan gadis itu untuk merasakan persis seperti apa yang ia rasakan terhadapnya.

YiFan merasa pasokan udara dalam paru-paru mulai menipis, pemuda itu merenggut mulutnya dari bibir Junmyeon dan beralih menyerang leher gadis itu, YiFan begitu menikmati gadis itu, seperti pria kelaparan. Dan itulah Wu YiFan yang sebenarnya, rakus akan diri Junmyeon. YiFan menarik nafas saat ia menjilat, menghisap, dan menggigit dari rahang menuju ke telinga Junmyeon.

Junmyeon merintih dengan suara tak jelas, tapi YiFan mengerti. Itu adalah suara kenikmatan. Suaranya, begitu liar dan seksi, membuat YiFan mengerang. Dan aroma tubuhnya. Ya Tuhan. Junmyeon berbau seperti...bunga dan gula. Seperti salah satu hiasan berbentuk mawar pada bagian atas kue.

Sungguh Lezat.

Dan tangan Junmyeon juga tidak tinggal diam. Tangannya mencengkeram bisep YiFan, membuat panas dari tangannya merembes melalui kemeja YiFan. Junmyeon menggoreskan kukunya dipunggung Yifan dan jari-jarinya turun ke bawah pinggang celana panjang longgar pemuda itu. Menyentuh, kemudian menangkup pantat YiFan.

Mendapat perlakuan seperti itu dari Junmyeon, YiFan sekarat dan terbakar. Darahnya berubah menjadi api, dan YiFan merasa mungkin mereka akan berubah menjadi asap sebelum mereka sampai di sofa. Begitu panas. Junmyeon terengah saat YiFan menarik daun telinganya ke dalam mulut YiFan dan lidah pemuda itu menari melintasi daging di bawahnya.

"Kris? Kris, apa yang kita lakukan?"

"Aku tidak tahu," YiFan mengerang dengan suara datar. "Hanya...jangan berhenti menyentuhku."

Junmyeon tidak berhenti.

Dan YiFan kembali ke bibir gadis itu. Ia meluncurkan lidahnya ke dalam mulut Junmyeon. Menggesernya masuk ke dalam bibirnya dengan cara yang sama seperti YiFan sangat ingin meluncurkan kejantanannya kedalam tubuh Junmyeon yang basah dan siap menyambut. YiFan merasa pinggul Junmyeon mendorong kearahnya. Dan setiap darah yang tersisa dalam tubuh YiFan mengalir ke bawah, membuat kejantanannya menjadi lebih keras dibanding yang pernah ia alami seumur hidupnya.

Berminggu-minggu perasaan rindu dan frustasi mengalir melalui tubuhnya. YiFan sudah terlalu lama menyikat gigi dengan colgate, dan rasanya seperti sampah. Dia menginginkan pasta gigi Aquafresh-nya.

"Apa kau tahu betapa aku menginginkan ini? menginginkanmu? Oh Tuhan, Junmyeon...aku sudah bermimpi tentang ini...memohon agar ini terjadi. Kau membuatku...ah, aku tak pernah...bisa puas akan dirimu."

Tangan Junmyeon berada di dada YiFan sekarang, mengusap, menggaruk, turun di perut pemuda itu, sampai salah satu tangannya menyenggol bagian depan celana YiFan, dan YiFan mendesis dalam kenikmatan murni yang menyakitkan. Sebelum pemuda itu bisa menarik napas, Junmyeon membelai kejantanannya melalui celananya, dan YiFan mendorong ke depan.

Segala kendali atau kemampuan menghadapi situasi hilang seketika. Tangan YiFan naik ke payudara Junmyeon, dan gadis itu melengkungkan punggungnya untuk membawa payudaranya lebih dekat, YiFan meremasnya, dan Junmyeon mengerang lagi. Tangan YiFan beralih meluncur menuju di mana puting Junmyeon berada, dan ia frustasi karena blus dan bra milik Junmyeon. YiFan ingin menarik dan mencubit payudaranya yang indah, sampai dua puncaknya mengeras. Sedangkan mulut Junmyeon berada di leher YiFan, mencium, dan YiFan mengangkat dagunya.

Rasanya tidak pernah seperti ini, YiFan belum pernah merasakan seperti ini, YiFan belum pernah punya perasaan sebesar ini pada seorang wanita, tidak peduli jika ini adalah campuran dari amarah dan nafsu.

"Kris, Kris aku tidak bisa melakukan ini, aku mencintai Jonghyun." Junmyeon terengah.

Pengakuan Junmyeon tidak mempengaruhi YiFan, seperti yang kalian pikir. Terutama karena salah satu tangan gadis itu masih memegang kejantanan YiFan ketika dia mengatakannya. Tindakan Junmyeon bertolak belakang dari kata-katanya. Tangan dan pinggulnya menarik YiFan lebih dekat. Membelainya, memohon lebih banyak lagi.

"Itu bagus, Junmyeon. Silahkan. Cintai Jonghyun. Nikahi Jonghyun. Tapi kumohon...Oh Tuhan...kumohon bercintalah denganku."

YiFan bahkan tak tahu apa yang ia katakan. Bahkan YiFan tidak tahu apakah kata-katanya masuk akal. Satu-satunya pikiran yang berdentam di kepala YiFan seperti melodi primitif adalah:

Lagi!

YiFan menurunkan dagunya, ingin merasakan bibir Junmyeon lagi. Tapi bukannya bertemu bibir Junmyeon...bibir pemuda itu malah menyentuh telapak tangan Junmyeon. Seketika YiFan membuka matanya dan mendapati tangan Junmyeon menutupi mulutnya, menghalanginya. Dada Junmyeol tersengal, naik dan turun dengan cepat, terengah-engah.

Dan kemudian YiFan melihat mata gadis itu. Dan Yifan merasa seperti menerima hantaman bola penghancur di dadanya. Karena mata Junmyeon melebar oleh kepanikan...dan kebingungan. YiFan mencoba memanggil Junmeyon, tapi teredam oleh tangan.

YiFan mendengar isakan dalam suara Junmeyon saat gadis itu berkata, "Aku tidak bisa melakukan ini, Kris. Maafkan aku. Jonghyun...pekerjaan ini...ini adalah hidupku. Seluruh hidupku. Aku...aku tidak bisa melakukannya."

Tubuh Junmyeon gemetar. Dan membuat YiFan mengesampingkan, kebutuhannya, nafsunya, dan kejantanannya yang masih berdiri tegak semuanya, di belakang keinginan yang besar untuk menghibur gadis itu. Ia ingin mengatakan pada gadis itu bahwa ini tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja.

Apa pun. YiFan akan mengatakan apa pun untuk menghilangkan ekspresi itu dari wajah Junmyeon. Tapi Junmeyon tidak memberi Yifan kesempatan itu. Setelah ia melepas tangannya dari mulut YiFan, ia berlari keluar pintu. Dan Junmyeon menghilang sebelum YiFan bisa menarik nafas. YiFan seharusnya mengejar gadis itu. YiFan seharusnya mengatakan pada Junmeyon tidak apa-apa jika dia menghentikannya. Bahwa kejadian ini tidak akan merubah apa pun. Meskipun ini satu kebohongan besar, dan mereka berdua tahu itu, benar kan?

Tapi YiFan tidak mengejar Junmyeon, dan alasannya sederhana: Apakah kalian pernah mencoba berlari dengan ereksi mengacung kearahmu?

Belum pernah?

Well, ini nyaris mustahil.

YiFan ambruk di atas sofa dan menyandarkan kepalanya. Sambil menatap langit-langit, YiFan mencubit batang hidungnya dengan jemarinya. Bagaimana mungkin sesuatu yang sederhana seperti seks bisa menjadi begitu rumit. YiFan juga tidak tahu.

Ya Tuhan, kejantanan YiFan begitu keras. Dan YiFan rasa ia ingin menangis. YiFan akan mengakuinya. Dan YiFan tidak malu. YiFan ingin menangis oleh rasa nyeri yang berdenyut di selangkangannya karena tidak mendapat pelepasan. Gagasan pergi keluar dan menemukan pengganti Junmyeon bahkan tidak pernah masuk ke dalam pikirannya. Karena kejantanannya tahu apa yang baru saja disadari oleh otaknya. Tidak ada pengganti untuk Kim Junmyeon. Saat ini mungkin gadis itu bukan untuknya. Bukan sekarang.

YiFan menunduk menatap tonjolan yang ada di pangkuannya. Tonjolan yang tidak menunjukkan indikasi akan segera turun dalam waktu dekat. Dan ini akan menjadi malam yang sangat, sangat panjang.


... TBC ...


Annyeong~

Maaf baru update, biasa urusan keluarga pasca hari lebaran. Selamat Idul Fitri, Mohon maaf lahir batin.

Disini sudah mulai terlihat ya, *uhuk* kemesraan *uhuk* antara Kim J dan Wu Fan. Ya walopun diawali-nya dengan baku hantam ala mereka. Bagi yang nanya adegan NC-nya kapan? Sabar dear, kita semua akan menuju kesana nantinya. :D

Dan bagi yang penasaran siapa tunangan Kim J, disini sudah dijawab ya. Mungkin kalian kecewa saya memilih Lee Jonghyun kenapa bukan Tao atau Sehun atau member exo lainnya, dan sejujurnya dari semua cast yang saya tentukan, karakter tunangan Kim J yang saya belum tentukan sampai update bab 3 kemaren. Dan setelah saya baca ulang karakter tunangan Kim J, entah kenapa saya kepikiran Jonghyun CNBlue.

Oke, seperti biasa ucapan terima kasih kepada: chanB, Duo Bubble-Kim316, akiko ichie, PikaaChuu, KrisHo WonKyu, SungRaeYoo, joonmily, nam mingyu, dhearagil, Emmasuho, Gigi onta, dirakyu, Yeon Ra, hae15, nonagrice, j12, Putri, alexandra n xing , honeykkamjong.

Yang telah meluangkan waktunya untuk mereview ff ini. Dan untuk silent reader, saya masih mengharapkan kesediaan kalian untuk absen disini. :)

Saya masih mengharapkan review, kritik dan saran yang membangun dari kalian. Akhir kata,

Khamshahamnida.