TANGLED

...

Main Cast: Wu YiFan, Kim Junmyeon

...

Other Cast: Member EXO, Lee Jonghyun (CNBlue)

...

Genre: Romance

...

Rate: M

...

Disclaimer: Remake dari novel dengan judul yang sama karya Emma Case

...

...

7

Ketika YiFan menceritakan perihal kegagalannya mendapat proyek Anderson, Tuan Wu sama sekali tidak senang terhadap cara YiFan menangani situasi dengan kliennya tersebut. Menurutnya YiFan bertindak gegabah, tidak profesional, bla, bla, bla. Dan karena YiFan lebih senior dibanding Junmyeon, Tuan Wu menganggap bahwa pemuda itu lebih bertanggung jawab atas kehilangan klien ini dibanding dengan Junmyeon.

Tapi fakta bahwa YiFan masuk dalam daftar orang yang tidak disukai di kantor untuk sementara waktu tidak menghantamnya sekeras yang kalian pikir. Terutama karena YiFan tidak menyesal terhadap bagaimana ia bereaksi. Jika YiFan mendapat kesempatan sekali lagi untuk melakukannya, dia tidak akan mengubah apa pun. Jadi, mungkin Tuan Wu kecewa terhadap YiFan, tapi sejujurnya, pada saat pria paruh baya itu selesai memarahinya, YiFan juga cukup kecewa terhadapnya.

Juga, dalam empat minggu setelah rapat yang membawa petaka itu, hubungan antara Junmyeon dan YiFan terus berkembang. Mereka masih saling bertukar pukulan di tempat kerja, tapi sekarang lebih menyerupai pukulan pendek ke dada, yang dimaksudkan sekedar untuk menyakiti, ketimbang pukulan keras yang sengaja dirancang untuk merobohkan satu sama lain. Mereka berbagi ide, saling membantu. Setidaknya Tuan Wu benar tentang hal itu. Junmyeon dan YiFan saling melengkapi, menyeimbangkan kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Pada suatu titik tertentu, Junmyeon menjadi lebih berarti bagi YiFan daripada sekedar sepasang kaki yang ingin YiFan naiki. Lebih berarti daripada sekedar celana yang sangat ingin YiFan lepaskan.

Sekarang dia adalah Junmyeon—seorang teman. Seorang teman yang menyebabkan kejantanan YiFan berdiri tegak setiap kali gadis itu memasuki ruangannya, tapi YiFan rasa itu adalah keadaan yang harus diterima. Karena betapa besarnya YiFan masih menginginkan Junmyeon, dan YiFan yakin sekali sebagian dari diri gadis itu juga menginginkannya, Junmyeon bukan tipe wanita yang mau berselingkuh.

Setidaknya bukan tipe wanita yang bisa menanggung rasa bersalah sesudahnya.


...


Sekarang, aku tahu apa yang kalian pikirkan: Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana seorang pria muda yang tampan, menawan dan percaya diri seperti YiFan menjadi orang yang terinfeksi flu dan mengurung diri saat pertama kali kalian bertemu dengannya?

Tenang saja sayang, kita sedang menuju ke sana. Percayalah. Sebentar lagi.

Untuk menunjukkan gambaran secara keseluruhannya, ada beberapa tokoh lain yang perlu kalian temui dalam sinetron yang sekarang YiFan perankan. Kalian sudah bertemu pria menjijikkan bernama Jonghyun, kan? Ya, dia nanti akan muncul lagi, sayangnya.

Dan sekarang kalian akan bertemu Byun Baekhyun. Dia sepupu si tolol itu. Tapi kalian tidak perlu membencinya. Baekhyun juga sahabat baik Junmyeon. Apa? Kalian tidak percaya? Baiklah, YiFan akan menunjukkannya pada kalian.


...


"Aku melihatmu mengobrol dengan gadis berambut coklat dengan payudara besar. Kau pergi ke rumahnya?" tanya Chanyeol. Dia, Jongin, dan YiFan sedang makan siang di sebuah restoran yang jaraknya beberapa blok dari kantor. Mereka sedang mendiskusikan malam Minggu terakhir mereka.

"Actually, we didn't make it that far." Ucap YiFan sambil menyeruput minumannya.

"What do you mean?" alis Chanyeol berkerut.

YiFan menyeringai, mengingat bagaimana ekshibisionisnya gadis itu. "Maksudku taksi itu tak akan pernah sama seperti dulu lagi. Dan kurasa kami membuat takut sopirnya seumur hidup."

Jongin tertawa. "You're such a fucking dog, man."

YiFan menunjuk-nunjuk Jongin dengan garpunya, "Nah, aku melakukan doggie-style setelah kami benar-benar berada di dalam apartemennya."

Hei, kalian jangan menatap YiFan dengan tatapan itu lagi. Kita sudah pernah membahas ini, kan?

Guys. Sex. Talk.

Selain itu, meskipun antusiasme liar dari si Gadis Taxi, seksnya di bawah standar. Dia bahkan bukan pasta gigi Colgate. Dia lebih seperti suatu merek pasta gigi umum yang disediakan di kamar hotel murahan yang namanya bahkan tidak akan kalian ingat setelah memakainya.

"Hei, Junmyeon," sapa Chanyeol, ia menatap ke belakang YiFan. Sedangkan YiFan tidak melihat Junmyeon mendekati mereka.

Oke, kita akan berhenti di sini untuk sesaat. Ini penting.

Lihat ekspresi wajah Junmyeon? Bibirnya yang membentuk garis tipis? Sedikit kerut pada alisnya? Yeah, Junmyeon mendengar apa yang YiFan katakan. Dan gadis itu terlihat tidak terlalu senang, benar, kan? YiFan melewatkan petunjuk ini saat pertama kali bertemu dengannya, tapi kalian harus mengingatnya. Momen ini nantinya akan berakibat buruk pada YiFan.

YiFan berbalik untuk menatapnya. Ekspresinya kini kosong dan pasif.

"You want to join us?" Tanya YiFan.

"No, thanks. Sebenarnya aku baru saja selesai makan siang dengan seorang teman." Ucap Junmyeon.

Dan tak lama temannya segera datang mendekat. Dia mengenakan sepatu bot tinggi berwarna hitam, celana hitam ketat yang robek pada tempat-tempat strategis di bagian atas dan bawah kakinya, rok mini, tank top warna pink tanpa tali bahu yang seksi, dan sweater abu-abu rajutan yang pendek. Rambutnya panjang, pirang kecokelatan, dan bergelombang, bibirnya merah berkilau, dan mata sipitnya menatap mereka di bawah bulu mata dan eye liner-nya yang tebal.

Dia...menarik. YiFan tidak akan menyebut dia cantik, tapi menyolok dalam gaya fashion jalanan yang seksi.

"Park Chanyeol, Kim Jongin, Kris Wu, ini adalah Baek-Bee."

Mendengar nama Kris Wu, mata Baekhyun seketika berubah tajam menatap ke arah pemuda itu. Tatapannya seperti sedang menganalis YiFan, sama seperti ketika seorang pria memeriksa mesin mobil tepat sebelum pria itu menyalakan mesinnya.

"Jadi, kau yang namanya Kris? Aku pernah mendengar tentangmu." Ucap Baekhyun datar.

Junmyeon bercerita pada temannya tentang diriku? Menarik. Batin YiFan.

"Oh yeah? Apa yang sudah kau dengar?" YiFan menyilangkan tangannya sambil tersenyum penuh bangga.

Baekhyun mengangkat bahu. "Aku bisa memberitahumu, tapi kemudian aku harus membunuhmu." Gadis itu mengacungkan jarinya kearah YiFan. "Kau harus terus bersikap baik pada Junmyeon. Kau tahu, jika kau ingin bolamu tetap menempel pada kemaluanmu."

Meskipun nadanya ringan, YiFan mendapatkan kesan berbeda bahwa Baekhyun tidaklah main-main.

YiFan tersenyum. "Aku sudah berusaha untuk menunjukkan betapa baiknya aku. Dia terus menolakku."

Baekhyun terkekeh. Kemudian Chanyeol dengan mulus menyela, "Jadi, Baek-Bee...apa ada yang bisa memberitahuku maksud dari Bee di sini? Apa itu sejenis lebah?"

Junmyeon menyeringai dengan nakal. "Ani. Bee di sini untuk Byun, Byun Baekhyun. Ini adalah nama keluarga—nama kakeknya. Dia benci memakainya."

Baekhyun memberi Junmyeon pandangan tidak setuju.

Secara spontan Chanyeol membalas, "Byun Baekhyun adalah nama yang cantik, sangat sesuai untuk gadis yang cantik."

Baekhyun tersenyum perlahan kearah Chanyeol dan menggerakkan jarinya di atas bibir bawahnya. Lalu, dia menghadap kearah mereka semua dan berkata, "Omong-omong, aku harus cepat pergi, kembali bekerja. Nice meeting you, boys." Baekhyun memeluk Junmyeon dan melemparkan kerlingan kearah Chanyeol saat dia berjalan pergi.

"Dia harus kembali bekerja?" Tanya YiFan. "Kupikir klub striptis tidak buka sebelum jam empat sore."

Junmyeon hanya tersenyum. "Baekkie bukan penari striptis. Dia hanya berdandan seperti itu untuk mengelabui orang. Jadi mereka terkejut saat tahu apa pekerjaan dia yang sebenarnya."

"Apa pekerjaannya?" Tanya Chanyeol.

"Well, she's a rocket scientist." Ucap Junmyeon.

"W-what? A rocket scientist? You're fucking with us." Jongin berkata menyuarakan apa yang mereka bertiga pikirkan.

"Sayangnya tidak. Baekhyun seorang ahli kimia. Dan salah satu kliennya adalah NASA. Laboratoriumnya bekerja untuk meningkatkan efisiensi pada bahan bakar yang mereka gunakan pada pesawat luar angkasa." Junmyeon bergidik. "Byun Baekhyun dengan akses pada bahan peledak berkekuatan tinggi...itu adalah sesuatu yang tidak ingin aku pikirkan setiap harinya." Lanjutnya.

Setelah sesaat, Chanyeol bicara. "Kim, kau harus membantuku. Aku pemuda yang baik. Ijinkan aku mengajak kencan temanmu. Dia tidak akan menyesal."

Junmyeon sejenak berpikir. "Oke. Tentu. Kau sepertinya tipe yang disukai Baekkie." Dia menyodorkan sebuah kartu nama kearah Chanyeol. "Tapi aku harus memperingatkanmu. Dia tipe gadis cintai-mereka-dan-tinggalkan-mereka-dengan-memar. Jika kau mencari kesenangan untuk satu atau dua malam, maka telpon dia. Tapi jika kau mencari sesuatu yang lebih mendalam dari itu, kau lebih baik menyingkir."

Mereka semua bungkam. Kemudian Chanyeol bangkit dari kursinya, mendekat kearah Junmyeon dan mencium pipinya. YiFan tiba-tiba berhasrat menaruh tangannya di tenggorokan Chanyeol dan merenggut keluar amandel pemuda itu.

Kenapa? Apa itu salah? Hei, Chanyeol sudah berani mencium pipi Junmyeon. Di hadapan Yifan.

"Kau...adalah sahabat baruku." Katanya pada Junmyeon.

Junmyeon melirik YiFan sekilas, pemuda itu yakin jika gadis itu telah salah mengartikan kerutan dahi di wajahnya karena gadis itu berkata. "Jangan merajuk, Kris. Ini bukan salahku bahwa teman-temanmu lebih menyukai aku dibanding menyukai dirimu."

Maksud Junmyeon 'teman-temannya' adalah Xiumin juga. Beberapa hari yang lalu Xiumin dengan kalut mencari tempat yang sempurna untuk membawa Si Menyebalkan merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Rupanya, tetangga Junmyeon bekerja sebagai maître d' di Chez, restoran paling eksklusif di kota ini. Junmyeon berhasil mendapatkan sebuah meja untuk Xiumin malam itu.

Luhan pasti sudah melakukan sesuatu pada Xiumin malam itu yang YiFan sendiri tidak mau memikirkannya. Karena sejak saat itu, Xiumin dengan senang hati mau menerima peluru di dadanya untuk melindungi Kim Junmyeon.

"Itu karena payudara," Kata YiFan pada Junmyeon. "Jika aku punya sepasang payudara seperti milikmu, mereka juga akan lebih menyukaiku."

Beberapa minggu yang lalu, komentar seperti ini akan membuat Junmyeon marah. Sekarang gadis itu hanya menggeleng dan tertawa.


...


Malam sebelum Thanksgiving secara resmi menjadi malam pergi ke bar terbesar sepanjang tahun. Semua orang pergi keluar. Semua orang mencari kesenangan. Biasanya, Chanyeol, Jongin dan YiFan memulainya dengan pesta sehari sebelum Thanksgiving di kantor Tuan Wu dan pergi ke klub setelah itu. Ini sudah tradisi.

Jadi kalian bisa bayangkan betapa terkejutnya YiFan ketika memasuki ruang konferensi yang luas dan melihat lengan Chanyeol melingkar pada seorang wanita yang ia asumsikan sebagai pasangan kencannya malam ini, Byun Baekhyun. Sejak Chanyeol bertemu dengannya dua setengah minggu yang lalu, Chanyeol menghilang pada acara akhir pekan, dan YiFan mulai curiga alasan dibalik kelakuan temannya itu. Besok YiFan harus bicara padanya.

Disamping mereka ada Tuan Wu dan Junmyeon.

Dan untuk kedua kalinya dalam hidup seorang Wu YiFan, Kim Junmyeon telah berhasil membuat pemuda itu sesak napas. Gadis itu memakai gaun warna burgundy tua yang memeluk tubuhnya di tempat yang tepat dan sepatu hak tinggi bertali yang mengirim imajinasi YiFan berputar ke dalam wilayah film triple X. Rambutnya jatuh disekitar pundaknya dalam gelombang lembut berkilau. Tangan YiFan gatal untuk menyentuhnya ketika pemuda itu berjalan kearah Junmyeon.

Kemudian seseorang dari tengah ruangan bergerak dan YiFan melihat bahwa Junmyeon tidak sendirian.

Oh Sial.

Semua orang membawa pasangannya untuk acara seperti ini. YiFan seharusnya tidak terkejut bahwa si idiot itu ada di sini. Jonghyun mengikat dasinya seperti anak umur 10 tahun, jelas terlihat tidak nyaman memakainya. Banci.

YiFan mengancingkan jaket yang dijahit secara khusus dari Armani dan berjalan kearah mereka.

"Kris!" Sapa Tuan Wu. Meskipun hubungan antara YiFan dan ayahnya menjadi tegang selama beberapa hari akibat proyek Anderson, keadaan cepat kembali normal. Tuan Wu tidak bisa terus-terusan marah pada YiFan dalam waktu lama.

Lihat ekspresi wajahnya. Bisa kah?

"Aku baru saja menceritakan pada Mr. Lee," kata Tuan Wu, "Tentang kesepakatan yang di tutup oleh Junmyeon mingggu lalu. Betapa beruntungnya perusahaan kita memiliki dia."

Memiliki dia? Kata beruntung bahkan tidak mendekati sama sekali.

"Itu semua hanya akting, Sir." Goda Baekhyun. "Dibalik setelan kerja dan karakter gadis baik-baik, berdetak jantung dari seorang pemberontak sejati. YiFan dapat menceritakan padamu tentang Junmyeon yang akan membuat tumbuh rambut di bola matamu, Sir."

Junmyeon menatap temannya dengan tegas. "Thank you, Baekhyun. Please don't."

Jonghyun tersenyum, menaruh lengannya di pinggang Junmyeon, dan mengecup ujung kepalanya.

YiFan butuh minuman. Atau samsak. Sekarang!

Kemudian kata-kata meluncur dari mulut YiFan layaknya peluru yang tepat sasaran: "Benar. Dulunya kau cukup badung, bukankah begitu Junmyeon? Dad, apa kau tahu Junmyeon dulu biasa bernyanyi dalam band? Itulah caramu membiayai diri sendiri selama kuliah bisnis, kan? Kukira penghasilan dari pekerjaan itu mengalahkan pole dancing."

Junmyeon tersedak oleh minumannya. Karena YiFan seorang gentleman, YiFan sodorkan sapu tangan kepadanya.

"Dan Jonghyun ini, itulah pekerjaan yang masih dijalaninya. Kau seorang musisi, bukan?"

Jonghyun menatap kearah YiFan seakan YiFan seonggok kotoran anjing yang baru saja dia injak. "Itu benar."

"Jadi, ceritakan pada kami Jonghyun, apa kau rocker seperti Bret Michaels atau lebih mirip rapper Vanilla Ice?"

Lihat bagaimana rahang Jonghyun terkatup? Bagaimana matanya menyipit? Tunjukkan pada YiFan, monyet. Ayolah.

"Bukan keduanya."

"Kenapa tidak kau ambil accordion-mu, atau apapun alat musik yang kau mainkan, dan naik keatas panggung? Ada banyak sekali uang yang mengambang disekitar ruangan ini. Mungkin kau bisa mendapat job di resepsi pernikahan atau acara bar mitzvah."

Hampir sampai.

"Aku tidak tampil di acara semacam itu." Ucap Jonghyun.

Ini seharusnya mengenainya.

YiFan tersenyum sinis, "Wow. Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini, aku tidak mengira orang miskin dan pengangguran bisa begitu pilih-pilih."

Junmyeon, Chanyeol, serta Baekhyun terkejut, tidak menyangka jika YiFan akan berkata seterus terang ini. Sedangkan Jonghyun, kilatan marah terlihat jelas di mata pemuda itu, "Dengar, kau dasar breng—"

"Jonghyun, honey, could you get me another drink from the bar? I'm almost done with this one." Junmyeon menarik lengan Jonghyun, memotong apa yang YiFan yakin akan menjadi balasan brilian darinya.

Apa kalian merasakan sarkasmenya?

Dan kemudian Junmyeon berbalik ke arah YiFan dan nada suaranya tidak terdengar ramah lagi. "Kris, aku baru ingat bahwa aku punya beberapa dokumen yang akan kuberikan padamu mengenai klien Genesis. They're in my office. Let's go."

YiFan tidak bergerak. YiFan tidak menjawabnya. Mata YiFan masih terkunci dalam kontes adu pandang dengan Jonghyun.

"Ini adalah pesta, Junmyeon," kata Tuan Wu, masih tidak mengerti. "You should save the work for Monday."

"It'll just take a minute, Sir." Junmyeon mengatakan pada Tuan Wu sambil tersenyum sebelum meraih lengan YiFan dan menyeret pemuda itu pergi.

Setelah mereka berada di kantornya, Junmyeon membanting pintu di belakang mereka. YiFan meluruskan lengan bajunya, kemudian tersenyum penuh kebajikan. "Kalau kau sangat ingin sendirian bersamaku, yang harus kau lakukan hanyalah meminta."

Junmyeon menghela nafasnya kasar. Terlihat jika gadis itu tidak menghargai humor yang YiFan lontarkan sama sekali. "What are you doing, Kris?."

"Doing?" tanya YiFan, berpura-pura tidak tahu.

"Kenapa kau menghina Jonghyun? Kau tahu betapa sulitnya bagiku untuk mengajak dia datang kemari malam ini?" ucap Junmyeon, ia mengalihkan pandangannya pada YiFan.

Jonghyun yang malang. Terjebak dalam satu ruangan dengan bankir besar yang sukses. Sinis YiFan dalam hati.

"Lalu kenapa kau membawa dia?"

"He's my fiancé." Junmyeon menunjuk ke arah luar.

"He's an asshole." Ucap Yifan cepat.

Junmyeon menatap YiFan dengan tajam. "Jonghyun dan aku sudah melalui banyak hal bersama. Kau tidak mengenalnya." Ucapnya dengan nada pelan yang penuh dengan penekanan.

"Kutahu dia tidak cukup baik untukmu. Tidak dalam jangka panjang."

"Please stop trying to embarrass him." Junmyeon sedikit berteriak.

"I was just pointing out the facts. If the truth embarrasses your boyfriend, then that's his problem, not mine." YiFan balas berteriak.

"Is this a jealously thing?" tanya Junmyeon pelan.

Sebagai catatan. YiFan belum pernah sekali pun merasa cemburu seumur hidup. Hanya karena ketika YiFan melihat mereka bersama YiFan tak mampu memutuskan apakah harus muntah atau menghajar wajah pacarnya. Dan Junmyeon menyebut ini cemburu?

"Jangan memuji diri sendiri." YiFan berkata sambil tersenyum sinis.

"Kutahu kau punya sesuatu terhadapku, tapi—"

Tunggu dulu. Mari kita bicarakan apa yang terjadi sebelumnya, bisa kan?

"Aku punya sesuatu terhadapmu? Maafkan aku, apakah itu saat tanganku memegang selangkanganmu di kantorku beberapa bulan yang lalu? Dan apa karena aku mengingatnya, begitu juga kau sebaliknya?"

Dan sekarang Junmyeon terlihat marah. "You're such a bastard sometimes."

"Well, then we're a perfect fit, because you're a first-class bitch most of the time."

Api menari-nari di mata Junmyeon saat ia mengangkat gelas setengah penuh miliknya.

"Jangan coba-coba, Junmyeon. Jangan coba-coba kau guyurkan minuman itu padaku, aku tidak akan bertanggung jawab atas apa yang nanti kulakukan."

YiFan akan memberi kalian waktu satu menit untuk menebak apa yang dia lakukan...

Yup. Junmyoen mengguyurkan minumannya ke arah YiFan.

"Sialan!" YiFan meraih tisu dari mejanya dan menyeka wajahnya yang basah kuyup.

"Aku bukan salah satu dari pelacur sembaranganmu! Jangan pernah bicara padaku seperti itu lagi!" Junmyeon berteriak keras di depan YiFan.

Wajah YiFan sudah kering, tapi kemeja dan jaketnya masih basah. YiFan melemparkan tisu ke lantai. "Tidak masalah. Aku juga mau pergi. Aku punya kencan."

Junmyeon mencemooh, "Kencan? Bukankah berkencan melibatkan percakapan yang sebenarnya? Maksudmu kau punya seks kilat untuk kau lakukan?"

YiFan melingkarkan lengannya di pinggang Junmyeon dan menariknya mendekat. Dengan suara rendah YiFan berkata padanya, "Hubungan seksku tidak pernah kilat. Itu pasti lama dan menyeluruh. Dan kau harus hati-hati, Junmyeon. Sekarang kau lah yang terdengar cemburu."

Telapak tangan Junmyeon terbaring rata di dada YiFan, dan wajahnya hanya beberapa inci dari wajah YiFan.

"Aku tidak menyukaimu." Desis Junmyeon.

"Perasaan kita timbal balik." Kata YiFan cepat.

Dan kemudian mereka melakukannya lagi. Bibir mereka bersatu dalam gairah panas membara. Tangan YiFan tenggelam di rambut Junmyeon, mendekap kepalanya. Sedangkan tangan Junmyeon mencengkeram bagian depan baju YiFan, menahannya agar tetap dekat.

Aku tahu apa yang kalian pikirkan. Dan, ya, tampaknya perdebatan antara Junmyeon dan YiFan mirip dengan foreplay. Sepertinya perdebatan ini membuat mereka berdua terangsang. YiFan hanya berharap mereka bisa selesai sebelum saling membunuh satu sama lain.

Ketika segala sesuatunya mulai menjadi nikmat, ada suara gedoran di pintu. Junmyeon tidak mendengarnya, atau dia, seperti juga YiFan, tidak peduli.

"Junmyeon? Junmyeon, apa kau di dalam?"

Suara bajingan itu membelah nafsu yang mengikat mereka bersama seperti lem. Junmyeon menarik diri. Dia menatap YiFan sebentar, matanya terpancar rasa bersalah, jemarinya menempel pada bibir yang baru saja dilumat YiFan.

Kalian tahu? Persetan dengan ini. Apa YiFan terlihat seperti yoyo bagi kalian? YiFan tidak main-main dengan orang, YiFan tidak suka dipermainkan. Jika Junmyeon tidak bisa memutuskan apa yang dia inginkan, YiFan yang akan memutuskan untuknya. YiFan sudah lelah dengan ini.

I'm fucking done.

YiFan melangkah ke pintu dan membukanya dengan lebar, memberi ruang yang luas saat Jonghyun berjalan masuk.

Lalu YiFan tersenyum. "You can have her now. I'm finished.."

Dan YiFan bahkan tidak berpikir untuk menoleh ke belakang saat berjalan keluar.


...


Thanksgiving diadakan setiap tahun di rumah pedesaan orang tua YiFan di bagian utara kota. Ini selalu menjadi acara kecil keluarga. Ada orang tua YiFan, tentu saja. Kalian sudah bertemu ayahnya, bukan? Nyonya Wu mirip Luhan namun lebih tua dan lebih pendek. Sebelum menganut kepercayaan feminisme yang kuat, Nyonya Wu pernah menjadi pengacara terkemuka sebelum naluri keibuannya memikatnya. Dia suka memerankan ibu rumah tangga yang bahagia sekarang. Setelah Nyonya Wu dan Tuan Wu memperoleh keuntungan finansial yang sangat besar, Nyonya Wu juga mengabdikan dirinya ke berbagai organisasi amal. Itu yang sekarang Nyonya Wu lakukan untuk mengisi sebagian besar waktunya setelah Luhan dan YiFan telah keluar dari rumah.

Lalu ada ayah Xiumin, Kim Jongwoon. Bayangkan Xiumin tiga puluh tahun mendatang dengan rambut menipis dengan banyak keriput. Mrs. Kim meninggal ketika kami masih remaja. Menurut sepengetahuan YiFan, sejak saat itu Jongwoon tidak pernah berkencan sekalipun. Dia menghabiskan banyak waktu di tempat kerja, diam-diam menghitung angka di kantornya. Dia adalah pria yang baik.

Dan ini mengantar kita ke keluarga Park, orang tua Chanyeol. Kalian pasti tidak sabar untuk melihat mereka. Mereka sangat lucu. Jungsoo dan Park Sora adalah orang yang paling sendu yang pernah YiFan temui.

Dan akhirnya ada Chanyeol, Xiumin, Luhan, dan YiFan sendiri.

Oh—dan tentu saja satu perempuan lain dalam hidup YiFan. YiFan tak percaya bahwa YiFan belum pernah menyebut dia sebelumnya. Dia adalah satu-satunya perempuan yang benar-benar menguasai hatinya. YiFan adalah budaknya. Dia meminta, dan YiFan menurut. Dengan senang hati.

Namanya adalah Taemin. Rambutnya panjang berwarna pirang dan memiliki mata cokelat terbesar yang pernah kalian lihat. Umurnya hampir empat tahun. Lihat di sana? Di ujung lain dari jungkat jungkit yang sekarang sedang YiFan naiki.

"Jadi, Taemin, apa kau sudah memutuskan mau jadi apa kalau sudah besar nanti?"

"Ya. Aku ingin jadi seorang putri. Dan aku ingin menikah dengan pangeran dan tinggal di kastil."

Yeah! YiFan perlu bicara dengan kakaknya. Disney berbahaya. Omong kosong pencuci otak yang merusak, menurutnya.

"Atau kau bisa kerja di bidang real estate. Jadi kau bisa membeli kastil sendiri dan kau tak butuh pangeran lagi."

Taemin pikir YiFan bercanda. Karena gadis kecil itu tertawa.

"Paman Kris. Bagaimana aku bisa punya bayi kalau tidak ada pangeran?"

Ya ampun.

"Kau punya banyak waktu untuk mendapat bayi. Setelah kau mendapat gelar MBA atau dokter. Oh, atau kau bisa jadi CEO dan memulai sebuah penitipan anak di kantormu. Jadi kau bisa membawa bayimu ke tempat kerja setiap hari denganmu."

"Mama tidak pergi ke kantor."

"Mamamu menganggap remeh dirinya sendiri, sweetie."

Kakak YiFan, Luhan adalah pengacara persidangan yang cemerlang. Dia bisa berkarir sampai ke Mahkamah Agung. Serius. Dia sangat hebat.

Luhan bekerja penuh semasa kehamilannya dan memiliki pengasuh yang sudah siap bertugas. Namun ketika ia menggendong Taemin dalam pelukannya untuk pertama kalinya. Pada hari yang sama dia memberi tahu si pengasuh bahwa jasanya tidak diperlukan lagi. Bukannya YiFan menyalahkan dia. YiFan tak bisa membayangkan pekerjaan yang lebih penting lagi dibanding memastikan keponakanku tumbuh besar dengan bahagia dan sehat.

"Paman Kris?"

"Ya?"

"Apa kau akan mati sendirian?"

YiFan menyeringai. "YiFan tidak punya rencana mati dalam waktu dekat, sayang."

"Mama bilang kau akan mati sendirian. Dia bilang pada ayah bahwa paman akan mati dan butuh waktu berhari-hari sampai wanita tukang bersih-bersih menemukan mayatmu yang membusuk."

Bagus sekali. Terima kasih, Luhan.

"Mayat itu apa, Paman Kris?"

Wow.

YiFan diselamatkan dari keharusan menjawab ketika melihat Chanyeol berjalan menuruni tangga menuju halaman belakang.

"Hey, sweetie, look who's here!" Taemin menoleh ke asal suara, kemudian gadis itu melompat dari jungkat-jungkit dan melemparkan dirinya ke tangan terbuka Chanyeol.

Sebelum kalian bertanya, jawabannya tidak. Ketika Taemin dewasa, keponakan kecilnya tak akan pernah berhubungan dengan seorang pria seperti YiFan. Taemin terlalu pintar untuk itu. YiFan akan memastikannya. Kalian pikir itu membuat YiFan munafik, ya? Tidak masalah. YiFan bisa menerimanya.

Chanyeol menurunkan Taemin dan berjalan mendekat. "Hey, man."

"Ada apa?"

"Kau pulang lebih awal tadi malam?" Chanyeol bertanya pada YiFan. "Kau tak pernah kembali ke pesta."

YiFan mengangkat bahu. "Pikiranku tidak ada di sana. Aku pergi ke gym dan langsung tidur."

Sebenarnya YiFan menghabiskan waktu tiga jam menggempur samsak, sambil terus membayangkan bahwa itu adalah wajah Lee Jonghyun.

"Kau berkumpul dengan Baekhyun?"

Chanyeol mengangguk. "Dia, Junmyeon, dan Jonghyun."

YiFan menggeleng. "That guy licks ass."

Taemin berjalan ke arah mereka dan menyodorkan satu toples yang sudah setengah penuh dengan uang dolar. YiFan memasukkan satu dolar ke dalamnya.

"Dia tidak begitu parah."

"Idiot itu membuatku jengkel."

Taemin menyodorkan toplesnya lagi, dan masuk dolar lainnya.

Toples?

Benda ini ditemukan oleh kakakku, yang tampaknya berpikir bahwa bahasa YiFan terlalu kasar untuk anaknya. Ini adalah Toples Omongan Jorok. Setiap kali seseorang—biasanya YiFan—menyumpah, mereka harus membayar denda satu dolar. Catat itu Luhan tidak ingin menggunakan won melainkan dolar. Shit! Pada laju seperti sekarang ini, benda itu akan mengantar Taemin sampai ke perguruan tinggi.

"Jadi apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Baekhyun?"

Chanyeol tersenyum. "We're hanging out. She's cool."

Biasanya Chanyeol akan lebih terbuka dengan cerita rincinya. Bukan berarti YiFan terangsang pada cerita-ceritanya, tapi kalian harus tahu, Chanyeol dan YiFan sudah berteman sejak lahir. Itu berarti setiap ciuman, setiap payudara, setiap handjob, blowjob, pearl necklace, dan persetubuhan telah dibagi dan di diskusikan.

Dan sekarang Chanyeol menyembunyikan sesuatu dari YiFan. Ada apa sebenarnya?

"Aku asumsikan kau sudah tidur dengannya?"

Chanyeol mengerutkan keningnya. "Tidak seperti itu, Kris."

YiFan bingung. "Lalu kenapa, Chanyeol? Kau tidak berkumpul dengan kami lebih dari dua minggu. Aku bisa paham kau terlalu takut (*pussy whipped) untuk pergi keluar jika kau mendapatkan seks darinya. Tapi jika tidak, apa masalahnya?"

Dia tersenyum dalam ekspresi nostalgia, mengingat-saat-saat bahagia. "Dia hanya...berbeda. Sulit untuk menjelaskannya. Kami ngobrol, kau tahu? Dan aku seperti selalu berpikir tentang dia. Ini seperti saat aku mengantarnya, aku tidak sabar untuk bertemu dengannya lagi. Dia...membuatku takjub. Aku berharap kau tahu apa maksudku."

Dan yang menakutkan adalah—YiFan tahu persis apa maksudnya.

"Kau berada di wilayah berbahaya, bung. Kau lihat apa yang telah Xiumin hyung lalui. Jalan ini mengarah menuju The Dark Side. Kita selalu berkata bahwa kita tidak akan pergi ke sana. Kau yakin tentang ini?"

Chanyeol tersenyum, dan dengan meniru suara Darth Vader dia mengatakan pada YiFan, "You don't know the power of the Dark Side."


...


Sekarang waktunya makan malam. Nyonya Wu membuat pertunjukan besar saat membawa keluar kalkunnya, dan semua orang ber ooh dan ahh sebelum Tuan Wu mengirisnya.

Ketika mangkuk disodorkan dan piring diisi, Nyonya Wu berkata, "Kris, sayang, aku akan membawakan untukmu sekantong besar makanan yang tersisa. Aku bahkan tak mau membayangkan bagaimana kau makan di apartemen itu tanpa adanya orang yang memasak makanan layak untukmu. Dan aku akan menaruh tanggal di wadahnya agar kau tahu kapan harus membuangnya. Terakhir kali aku melongok ke dalam kulkasmu, itu seperti semacam percobaan ilmiah yang sedang dipelihara di sana."

Ya—Nyonya Wu sangat menyayangi anak lelakinya. YiFan bilang juga apa.

"Thanks, Mom."

Chanyeol dan Xiumin membuat suara ciuman basah dan keras kearah YiFan. Dengan kedua tangan, YiFan acungkan jari tengah kearah mereka berdua. YiFan menoleh ke arah sampingnya, ia melihat Taemin menatap tangan mungilnya berusaha untuk meniru gerakanYiFan tadi. YiFan dengan cepat menutup tangan gadis kecil itu dengan tangannya dan menggeleng. Sebaliknya YiFan tunjukkan padanya bagaimana cara melakukan hormat ala Mr. Spock Vulcan.

Setelah mereka memanjatkan doa sebelum makan, YiFan membuat pengumuman, "Kurasa Taemin seharusnya tinggal bersamaku."

Tak ada seorang pun yang bereaksi. Tak ada yang mendongak. Tak ada yang berhenti makan. YiFan sudah pernah mengajukan usulan ini beberapa kali sejak keponakannya lahir.

Luhan berkata, "Kalkunnya lezat, Mom. Sangat berair."

"Terima kasih, sayang."

"Hallo? Aku serius. Dia butuh pengaruh positif dari wanita teladan."

Ini langsung mendapat perhatian dari Si Menyebalkan. "What the hell am I?"

Taemin menyodorkan toplesnya kearah ibunya, dan masuklah uang satu dolar. Sekarang kami semua membawa uang dolar pada acara makan saat liburan.

"Kau seorang ibu rumah tangga. Yang mana sangat terpuji, jangan salah paham. Tapi dia harus dikenalkan pada wanita karier juga. Dan demi Tuhan, jangan biarkan dia menonton Cinderella. Contoh macam apa itu? Seorang gadis bodoh dan ceroboh yang bahkan tak bisa mengingat di mana dia meninggalkan sepatu sialannya, jadi dia harus menunggu datangnya pria brengsek dengan celana ketat untuk membawakan sepatu itu padanya? Yang benar saja."

YiFan tak yakin berapa banyak dendanya setelah pidato singkat ini.

YiFan sodorkan Taemin sepuluh dolar. Apakah YiFan sudah bilang toples itu akan mengantar Taemin sampai perguruan tinggi? Maksudnya sekolah hukum. YiFan harus segera pergi ke ATM.

Xiumin ikut bergabung. "Kurasa Luhan adalah teladan sempurna untuk putri kami. There's no one better."

Xiumin adalah seorang pria yang sudah takluk. Dan Chanyeol ingin bergabung dalam klubnya.

Tidak nyata.

Luhan tersenyum ke arahnya. "Thank you, honey."

"You're welcome, dear."

Chanyeol dan YiFan mulai terbatuk, "Whipped…*brown nose."

Taemin menatap kami dengan curiga, tidak yakin jika kami perlu membayar denda atau tidak.

Luhan merengut.

YiFan melanjutkan, "Aku harus membawanya ke kantor bersamaku. Dia harus bertemu Junmyeon, bukankah begitu, Dad?"

Nyonya Wu bertanya dengan cepat, "Siapa Junmyeon?"

Tuan Wu menjawab sambil mengunyah, "Kim Junmyeon, karyawan baru. Gadis yang cemerlang. wanita yang tidak takut mengungkapkan pikirannya. Dia bersaing secara kuat dengan Kris ketika ia pertama kali masuk kerja."

Nyonya Wu menatap YiFan dengan mata berkilauan penuh harapan. Seperti cara chef Paula Deen memandang seember lemak babi, membayangkan makanan lezat yang menunggu untuk dibuat. "Well, Junmyeon ini terdengar seperti seorang wanita muda yang menarik, Kris. Mungkin kau harus mengajaknya ke rumah untuk makan malam."

YiFan memutar matanya. "Kami kerja bersama-sama, Mom. Dia sudah bertunangan. Dengan seorang tolol, tapi itu lain lagi ceritanya."

Dolar berikutnya lenyap tak berbekas.

Luhan menyela, "Kupikir Mom hanya terkejut mendengar kau menyebut seorang wanita dengan namanya. Biasanya kau hanya menyebut 'pelayan dengan pantat bagus' atau 'si pirang dengan payudara besar.'"

Meskipun pengamatannya akurat, YiFan mengabaikannya. "Intinya adalah, dia contoh yang hebat bagi Taemin tentang seberapa tinggi wanita dapat meraih karirnya." Terlepas selera buruknya terhadap laki-laki. "Aku akan...Kurasa kita semua akan sangat bangga jika dia tumbuh dewasa memiliki separuh profesionalisme yang dimiliki Junmyeon."

Luhan tampak terkejut dengan pernyataan YiFan. Lalu ia tersenyum hangat. "Taemin dan aku bisa pergi ke kota minggu depan. Kita akan berkumpul denganmu untuk makan siang dan bertemu dengan Kim Junmyeon yang terkenal ini."

Mereka makan dalam keheningan selama beberapa menit, dan kemudian Luhan berkata, "Itu mengingatkanku. Chanyeol, bisakah kau mengantar aku ke acara makan malam amal pada Sabtu kedua di bulan Desember? Xiumin akan berada di luar kota."

Luhan menatap ke arah YiFan. "Aku seharusnya meminta adikku tersayang untuk melakukannya, tapi kita semua tahu dia menghabiskan Sabtu malamnya di kota dengan pelac—" ia melirik putrinya "—perempuan murahan."

Sebelum Chanyeol sempat menjawab, Taemin memberikan pendapatnya. "Kupikir Paman Chanyeol tidak bisa datang, Mama. Dia terlalu sibuk jadi *pussy whipped. Apa artinya pussy whipped, papa?"

Begitu kata-kata itu meluncur dari bibir malaikat kecilnya, reaksi berantai yang menghebohkan segera terjadi: Chanyeol tersedak zaitun hitam di mulutnya, yang terbang keluar dan mengena tepat di mata Xiumin.

Xiumin membungkuk kesakitan, memegang matanya dan berteriak, "Aku kena! Aku kena!" Dan kemudian mengatakan bagaimana garam dari jus zaitun menggerogoti korneanya.

Tuan Wu mulai terbatuk. Jongwoon berdiri dan mulai memukul-mukul punggungnya sementara mengajukkan pertanyaan kepada siapapun apakah ia harus melakukan manuver penanganan pada orang yang tersedak.

Sora menyenggol jatuh gelas anggur merahnya, yang dengan cepat merembes ke taplak meja berenda milik Nyonya Wu. Dia tidak berusaha untuk membersihkan kekacauan, melainkan berteriak, "Oh, ya ampun. Oh, ya ampun."

Nyonya Wu berlari di sekitar ruang makan dengan kalang kabut, mencari serbet kertas untuk menyeka noda, sambil meyakinkan Sora bahwa semuanya baik-baik saja.

Dan Jungsoo...well...Jungsoo terus saja makan.

Sementara kekacauan terus berlanjut di sekeliling mereka, tatapan tajam mematikan dari Luhan tak pernah goyah dari Chanyeol dan YiFan. Setelah menggeliat di bawah tatapannya selama sekitar tiga puluh detik, Chanyeol menyerah "Bukan aku yang mengajarinya, Luhan. Aku bersumpah demi Tuhan itu bukan aku."

Dasar pengecut.

Terima kasih, Chanyeol. Cara yang bagus meninggalkan YiFan untuk mati sendirian. Ingatkan YiFan untuk tidak pergi berperang dengan Chanyeol sebagai pendampingnya.

Tapi ketika pandangan marah Si Menyebalkan teralih sepenuhnya kearah YiFan dengan kekuatan penuh, YiFan memaafkannya. YiFan merasa bahwa setiap saat YiFan akan menghilang menjadi tumpukan abu di kursi. YiFan berjuang keras dan memberi Luhan senyum paling manis dari adik laki-lakinya.

Coba lihat. Apakah ini berhasil?

YiFan benar-benar mampus.

Lihat, ada satu hal yang harus kalian tahu tentang Keadilan dari Si Menyebalkan. Itu keras dan tanpa ampun. Kalian tidak akan tahu kapan datangnya; yang bisa kalian pastikan adalah bahwa itu pasti datang. Dan ketika terjadi, itu menyakitkan. Sangat, sangat menyakitkan.


... TBC ...


*pussy whipped: istilah vulgar untuk menyatakan seorang pria terlalu takut pada istri atau pacarnya.

*brown nose: mengambil hati dengan cara merendahkan diri.

*pole dance: suatu bentuk seni pertunjukan yang menggabungkan tari dan akrobat yang berpusat disekitar tiang vertikal.

*bar mitzvah: upacara inisiasi keagamaan seorang anak Yahudi yang telah mencapai usia 13 tahun dan dianggap telah siap untuk mematuhi ajaran agama.

...

A/N: Oke, saya sadar akhir-akhir ini saya selalu terlambat update. Maaf, akhir-akhir ini saya memang lagi sibuk banget dan kemungkinan ini akan terjadi sampai bulan depan, tapi saya akan usahakan untuk selalu update ff ini, meskipun agak telat.

Terima kasih pada reader yang sudah review, dan saya liat juga banyak reader baru yang udah ninggalin jejak, selamat datang dear: dirakyu, dhearagil, LiezxoticVIP, j12, guest, doremifaseul, everadit, HamsterXiumin, hae15, Emmasuho, Raemyoon, joonmily, myeonna, Genieaaa, kmskjw21, syxo671, Guest, Guest, XG-Lay 34 Army, Yeon Ra, aquaryoung21.

Saya ucapkan terima kasih, sangat terima kasih. Sekaligus maaf karena sudah mengecewakan kalian.

Untuk dirakyu review kamu di chap kemarin ga masuk, dear. Jadi aku ga tulis. Maaf..

Untuk semua reader yang tanya apa ini akan jadi Krisho pada endingnya? Of course, baby. It's Krisho fanfict. Itulah kenapa saya cuma cantumin satu pair di summary. :D

Review kalian akan saya balas di next chap. Dan next chap akan di update hari Kamis atau Jum'at. Sebagai penebus atas 2 keterlambatan saya dalam meng-update. Clue: ada sedikit kejutan di next chap. Jadi, mulai chap depan kencangkan sabuk pengaman kalian. :D

Akhir kata, happy weekend dan semoga menikmati apa yang saya suguhkan hari ini. ^^