TANGLED
...
Main Cast: Wu YiFan, Kim Junmyeon
...
Other Cast: Member EXO, Lee Jonghyun (CNBlue)
...
Genre: Romance
...
Rate: M
...
Disclaimer: Remake dari novel dengan judul yang sama karya Emma Case
...
...
8
Hari Senin pagi, YiFan berada di ruang konferensi menunggu rapat staff untuk dimulai. Semua orang di sini. Semua orang, kecuali Junmyeon. Tuan Wu melirik arlojinya. Pria paruh baya itu punya rencana golf pagi ini, dan YiFan tahu dia tidak sabar untuk segera sampai di sana. YiFan menggaruk belakang telingnya.
Where the hell is she?
Akhirnya, Junmyeon datang dengan mantel masih terpakai dan setumpuk folder yang hampir terjatuh dari tangannya. Gadis itu terlihat...mengerikan. Maksudnya, dia cantik, Kim Junmyeon selalu cantik. Namun dilihat dari seseorang yang mengamatinya secara dekat Junmyeon sedang mengalami hari yang buruk. Lihat bagaimana pucatnya dia? Dan sejak kapan lingkaran hitam itu ada di bawah matanya? Rambutnya diikat dalam gelung yang berantakan, ini akan terlihat sangat seksi jika dia tidak terlihat begitu...sakit.
Junmyeon tersenyum gugup kearah Tuan Wu. "Maaf, Mr. Wu. Saya terlambat."
"Tidak masalah, Junmyeon. Kami baru saja mulai."
Ketika Tuan Wu mengucapkan dengan cepat pengumumannya, tatapan YiFan tak pernah lepas dari gadis itu. Dan sayangnya Junmyeon tidak balas menatap YiFan sekalipun.
"Junmyeon, kau membawa berkas proyeksi untuk Pharmatab?"
Ini adalah kesepakatan yang Tuan Wu bicarakan dengan Jonghyun di pesta kantor malam minggu kemarin. Kesepakatan yang ditutup Junmyeon pekan lalu. Dia mendongak, mata cokelatnya yang besar membuatnya terlihat seperti rusa yang tersorot lampu, begitu terkejut hingga tidak bisa bergerak. Junmyeon tidak membawa berkasnya.
"Ahh...berkasnya...um..."
YiFan membungkuk dan berseru, "Aku memiliki berkas itu. Junmyeon memberikannya padaku minggu lalu untuk kupelajari. Tapi aku meninggalkannya di meja rumahku. Aku akan memberikannya untukmu secepatnya, Dad." Tuan Wu mengangguk, dan Junmyeon menutup matanya dengan lega.
Setelah rapat selesai, semua orang perlahan berjalan keluar, dan YiFan berjalan di samping Junmyeon. "Hei."
Gadis itu menunduk menatap ke arah folder di tangannya dan mengatur mantel di lengannya. "Terima kasih atas apa yang kau lakukan di sana, Kris. Kau benar-benar baik."
Ya, YiFan tahu apa yang ia katakan beberapa hari sebelumnya bahwa dia sudah selesai dengan Junmyeon. Tapi...Hei, percayalah YiFan tidak bersungguh-sungguh. Saat itu YiFan sedang mengeluarkan kekesalannya, membuang pergi hawa frustasi seksualnya. Kalian sudah tahu itu. Apakah Junmyeon tahu? Apakah dia peduli? YiFan rasa tidak.
"Aku harus sesekali melakukan hal yang baik. Hanya untuk membuatmu terus memperhatikan." YiFan memberinya senyum kecil yang tidak mendapat balasan dari Junmyeon.
Dan gadis itu masih juga belum menatap YiFan. Ada apa dengan Junmyeon? Jantung YiFan mulai berdebar saat pemuda itu memikirkan segala kemungkinan pada sosok di sampingnya. Apakah Junmyeon sakit? Apakah terjadi sesuatu pada ibunya? Apakah dia dirampok di kereta bawah tanah?
Ya Tuhan.
Junmyeon berjalan masuk ke dalam kantornya dan menutup pintu, meninggalkan YiFan berdiri di luar. Di sinilah pria berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Ketika Tuhan memberikan tulang rusuk tambahan kepada Hawa, Tuhan seharusnya juga memberi sesuatu yang ekstra kepada kaum pria. Telepati mental misalnya?
YiFan pernah mendengar ibunya memberitahu ayahnya bahwa ibunya tidak harus menjelaskan mengapa dia marah. Bahwa jika ayahnya belum tahu kesalahan apa yang telah dilakukannya, itu berarti ayahnya tidak sungguh-sungguh menyesalinya. Apa-apaan artinya itu? Sekilas info, ladies: Kita para pria tidak bisa membaca pikiran kalian. Dan terus terang, YiFan tidak sepenuhnya yakin jika YiFan menginginkannya. Pikiran wanita adalah tempat yang menakutkan untuk dikunjungi.
Pria? Mereka tidak meninggalkan banyak ruang untuk keragu-raguan: Kau orang brengsek. Kau mengauli pacarku. Kau membunuh anjingku. Aku membencimu. Langsung. Jelas. Tidak ambigu. kalian para wanita kapan-kapan harus mencobanya. Ini akan membawa kita semua satu langkah lebih dekat menuju perdamaian dunia.
YiFan menyingkir dari pintu kantornya. Sepertinya YiFan tak akan tahu apa penyebabnya dalam waktu dekat.
...
Pada hari itu juga, YiFan duduk di kafe berhadapan dengan Chanyeol. YiFan tidak memakan sandwich-nya sama sekali, hanya memandang roti isi itu dengan tatapan kosong.
"Jadi, apa Luhan sudah melakukan sesuatu padamu?"
Chanyeol merujuk pada pembantaian di Hari Thanksgiving, jika seandainya kalian lupa. YiFan mengangguk. "Aku mendapat telepon darinya kemarin. Dan aku sudah mengajukan diri menjadi suka relawan bulan depan di Geriatric Society of Seoul."
"Ini bisa saja lebih buruk."
"Tidak juga. Setidaknya tidak lebih buruk dari pada harus mengurus bibinya Xiumin hyung. Kau ingat dengan bibi Heechul?"
Sekarang Chanyeol tertawa terbahak-bahak. Pemuda itu sangat ingat bagaimana bernafsunya Kim Heechul terhadap Yifan. Yeah, wanita paruh baya itu suka pada YiFan. Dan maksudnya bukan suka dengan cara mencubit-pipi pemuda itu, mengelus-kepala YiFan. Maksudnya suka dalam arti meremas-pantat YiFan, mengusap-kemaluannya, dengan tatapan yang seolah mengatakan: kenapa-tidak-kau-menuntunku-ke-gudang-penyimpanan-sapu-jadi-kita-bisa-melakukan-sesuatu-yang-mesum.
Ini benar-benar meresahkan.
Chanyeol masih saja tertawa. Ya, terima kasih atas simpatinya, kawan.
Lonceng di atas pintu kafe berbunyi gemerencing. YiFan mendongak dan memutuskan bahwa mungkin Tuhan tidak membencinya sama sekali. Karena Lee 'tolol' Jonghyun baru saja berjalan masuk. Wajahnya, pada waktu yang lain, pasti akan merusak suasana hati YiFan yang sedang bagus. Tapi pada saat ini? Dia lah orang tolol yang harus YiFan temui. Jadi YiFan akan bersikap baik padanya kali ini.
YiFan mendekatinya. "Hey, man."
Jonghyun memutar matanya. "What?"
"Dengar, Jonghyun, aku hanya ingin tahu, apa semuanya baik-baik saja dengan Junmyeon?"
Jonghyun menggeram, "Junmyeon isn't any of your fucking business."
Biarkan fakta yang membuktikan, YiFan sudah berusaha. Dan Jonghyun bersikap brengsek. Kenapa YiFan tidak terkejut?
"Aku mengerti apa yang kau maksud. Tapi pagi ini, Junmyeon benar-benar tidak terlihat sehat. Apa kau tahu kenapa?" tanya YiFan dengan tenang.
Jonghyun menghela nafasnya kasar, "Junmyeon adalah wanita dewasa. Dia bisa mengurus dirinya sendiri. Dia selalu begitu."
Mendengar nada yang kurang bersahabat dari Jonghyun menyadarkan YiFan, ini seperti di guyur seember Gatorade dingin setelah pertandingan football. Sudah jelas ada sesuatu yang terjadi pada mereka.
"What are you talking about?" alis YiFan berkerut menatap curiga pada Jonghyun. Namun Jonghyun tidak menjawab.
"Did you do something to her?" tanya YiFan lagi.
Jonghyun masih tidak menjawab. Dia hanya menunduk. Oke, ini sudah cukup bagi YiFan. Dengan hanya melihat ekspresi orang itu YiFan sudah tahu jawabannya. YiFan menghembuskan nafasnya dengan kasar dan detik berikutnya ia mencengkeram bagian depan kemeja Jonghyun dan menarik tubuh pria itu ke atas dengan cepat.
Chanyeol yang terkejut dengan tindakan cepat YiFan berusaha melerai dan menenangkan pemuda itu. "Tenang, kawan. Kita masih di area publik, jaga sikapmu." Desisnya.
YiFan mengabaikan peringatan Chanyeol, namun justru memberi isyarat pada sahabatnya itu untuk tidak mencampuri urusannya. Perasaan marah yang tengah menyelimuti YiFan menghalangi pemuda itu untuk berfikir rasional. YiFan sedikit menggoncang tubuh Jonghyun. "Aku bertanya padamu, bajingan. Apa kau melakukan sesuatu terhadap Junmyeon?"
Jonghyun menyuruh YiFan melepaskan cengkeramannya, dan YiFan menggoncang tubuhnya lebih keras lagi.
"Answer me!" teriak YiFan keras.
"We broke up! We broke the fuck up, all right?!" Jonghyun balas berteriak.
Selanjutnya tatapan YiFan berubah menjadi kosong, cengkramannya pada Jonghyun sedikit melonggar. Apa yang tadi bajingan itu katakan? Maksudnya dia putus dengan Junmyeon.
Mendapat kesempatan itu Jonghyun segera melepaskan cengkeraman YiFan dan mendorong pemuda itu mundur. YiFan membiarkannya. Jonghyun merapikan kemejanya, melotot. Tapi YiFan hanya berdiri mematung. Tertegun. Jari Jonghyun menunjuk dada YiFan. "I'm out of here. Jika kau berani menyentuhku lagi, aku akan menghajarmu, brengsek."
Dan setelah itu, Jonghyun pergi. Chanyeol menyaksikan kepergiannya, lalu bertanya, "Kris, what the hell was that about?"
YiFan masih tidak bereaksi. Matanya bergerak-gerak gelisah menatap arah depannya. Sepuluh tahun, hampir sebelas tahun. Junmyeon mencintai pria brengsek itu. Setidaknya itulah yang ia katakan pada YiFan. Sepuluh tahun terkutuk. Dan sekarang Jonghyun mencampakkannya.
Fuck.
"Aku harus pergi." Ucap YiFan akhirnya.
"Tapi kau belum makan sandwich-mu." Oke, ini catatan lagi untuk kalian, makanan sangat penting bagi Chanyeol, sama seperti keharusannya untuk bercinta setiap akhir pekan. Setidaknya seperti itu, sebelum dia bertemu dengan Byun Baekhyun. Karena, ya...YiFan sendiri sedikit meragukan prinsipnya saat ini.
"Kau boleh memakannya. Aku harus kembali ke kantor."
YiFan berlari keluar dari pintu menuju...
Well, kalian tahu ke mana tujuannya, bukan?
...
Pintu kantor Junmyeon masih tertutup dan YiFan sama sekali tidak berniat untuk mengetuknya. Diam-diam, pemuda itu berjalan masuk. Ia melihat Junmyeon sedang duduk di mejanya.
Menangis.
Pernahkah perut kalian ditendang oleh seekor kuda? YiFan juga belum pernah. Tapi sekarang YiFan tahu bagaimana rasanya.
Junmyeon terlihat begitu kecil di belakang mejanya. Muda, rapuh, dan...tersesat.
"Hei." Suara YiFan lembut dan hati-hati.
Junmyeon melirik ke arah YiFan, kaget, lalu gadis itu berdeham dan menyeka wajahnya, mencoba untuk menenangkan diri. "Apa yang kau butuhkan, Kris?"
YiFan tak ingin mempermalukan Junmyeon, jadi YiFan pura-pura tidak melihat air mata yang masih menempel pada tulang pipinya. "Aku sedang mencari berkas itu..." Perlahan, YiFan melangkah lebih dekat. "Do you…uh…have something in your eye?"
Junmyeon sedikit kaget dengan pertanyaan YiFan, namun ia segera mengikuti permainan pemuda itu dan cepat menyeka matanya lagi. "Yeah, it's an eyelash or something."
"You want me to take a look? Those eyelashes can be dangerous if left untreated.."
Untuk pertama kalinya pada hari ini, mata angelic Junmyeon menatap YiFan. Matanya seperti dua kolam gelap yang berkilau. "Okay."
Junmyeon berdiri, dan YiFan menuntunnya ke arah jendela. YiFan menaruh tangannya di pipi gadis itu, dengan lembut memegang wajahnya. Wajah cantik yang berurai air mata.
YiFan tak pernah sebegitu ingin melakukan serangan fisik pada seseorang seperti yang ingin ia lakukan pada Lee Jonghyun saat ini. Dan YiFan cukup yakin Chanyeol bisa membantunya mengubur apa pun yang tersisa dari Jonghyun di halaman belakang.
YiFan menyeka air mata Junmyeon dengan ibu jarinya. "Got it."
Junmyeon tersenyum, bahkan ketika air mata mengalir lebih banyak lagi. "Terima kasih." Ucapnya pelan bahkan nyaris tidak terdengar oleh YiFan.
YiFan sudah cukup berpura-pura sekarang. Ia menarik Junmyeon ke arah dadanya. Gadis itu hanya diam, membiarkan YiFan melakukannya. YiFan memeluknya dan meluruskan bagian belakang rambut Junmyeon dengan tangannya. "Do you want me to talk to him? Was it…was it because of…me?"
YiFan tidak bisa bayangkan bajingan itu sangat senang menemukan mereka di kantor Junmyeon seperti yang dia lihat minggu lalu dengan penampilan Junmyeon seperti baru saja bercinta dan lainnya. Dan tidak, YiFan belum berubah menjadi gila sekarang. Hal terakhir yang ingin ia lakukan saat ini adalah membantu Junmyeon kembali bersama bajingan itu. Tapi sialan, Junmyeon menyiksa YiFan ke sini.
Air matanya satu per satu menetes.
Junmyeon tertawa di dada YiFan. Kedengarannya pahit. "No, It was me." Junmyeon mendongak menatap YiFan dan tersenyum dengan sedih. "Aku bukan gadis yang sama seperti saat dia pertama kali jatuh cinta."
Pasti sulit bagi Junmyeon untuk mendengar kata-kata itu. Sekedar info bagi kalian para gadis, ini trik lama yang masih efektif dipakai oleh kaum pria. Permainan saling menyalahkan: "Itu bukan aku, sayang. Tapi kamu." Walaupun tidak begitu sama persis setidaknya seperti itu kata-katanya.
"Dia mengemasi semua barang-barangnya dan pindah hari Sabtu tepat setelah pesta di kantor selesai. Ia mengatakan putus yang cepat dan bersih akan lebih baik. Dia tinggal bersama Baekhyun sampai ia bisa mendapatkan tempatnya sendiri."
Junmyeon melihat ke arah jendela sejenak, kemudian mendesah dengan sedih. "Hal ini sudah terjadi sementara waktu, kurasa. Sungguh bukan sesuatu yang mengejutkan. Selama ini, fokusku pada kuliah...dan kemudian bekerja. Segala sesuatu yang lain menempati posisi kedua. Aku berhenti...Aku tidak bisa...memberikan apa yang Jonghyun butuhkan."
"Hanya saja...Jonghyun menggenggam tanganku di hari kami menguburkan ayahku. Dia mengajariku menyetir mobil yang memakai tongkat persneling, dan meyakinkanku bahwa aku cukup bagus untuk bernyanyi di depan orang banyak. Jonghyun membantuku mengisi formulir pendaftaran kuliahku dan membuka surat penerimaan untukku karena aku terlalu gugup untuk membacanya. Ketika aku kuliah di program MBA, ia bekerja tiga pekerjaan sekaligus jadi aku tak perlu bekerja sama sekali. Jonghyun mendampingiku di hari wisudaku, dan dia ikut denganku ketika aku ingin pindah ke Seoul. Dia selalu menjadi bagian besar dari hidupku. Aku tak tahu akan jadi apa aku tanpa dirinya."
YiFan menghela nafasnya. Dasar perempuan. Jangan tersinggung. Tapi Junmyeon bahkan tidak menyadari apa yang baru saja ia katakan. Ini adalah prestasinya. Tantangan yang ia lalui sendiri. Bedebah itu hanya membonceng. Di belakang. Seperti kertas dinding. Kalian dapat mengubah warna dinding kapanpun, dan mungkin terlihat berbeda, tapi ruangannya masih tetap sama.
"Aku tahu siapa kau nantinya: Kim Junmyeon, bankir investasi yang luar biasa. Kau pintar dan lucu, dan kau keras kepala dan cantik dan...sempurna. Dan kau masih akan menjadi sempurna tanpa dirinya." YiFan mencoba meyakinkan gadis itu sambil memegang bahunya.
Mata mereka saling menatap selama satu menit, dan kemudian YiFan memeluknya lagi sampai air matanya hilang. Suara Junmyeon teredam saat ia berbisik, "Thank you,Kris."
"Anytime."
...
Baru setelah larut malam itu, saat YiFan merangkak di balik selimut dingin dari ranjangnya, bahwa konsekuensi dari kejadian hari ini benar-benar menyadarkannya.
Omong-omong YiFan tidur telanjang. Kalian harus mencobanya. Jika kalian belum pernah tidur telanjang, berarti kalian belum menikmati hidup. Tapi bukan itu intinya.
Fakta yang tak terpikirkan oleh YiFan sampai sekarang adalah Kim Junmyeon sekarang lajang. Merdeka. Bebas melakukan apapun. Satu-satunya rintangan sesungguhnya yang berdiri di antara Junmyeon dan YiFan serta sofa kantornya hanyalah YiFan akan melakukan tindakan buruk pada karirnya sendiri. Holy shit. Inilah yang pasti Superman rasakan ketika ia kembali ke masa lalu dan menarik Lois keluar dari mobil itu. Ini adalah mengulangi lagi. Sebuah usaha kedua. Memulai sesuatu yang baru.
YiFan melipat tangan di belakang kepalanya dan menyesuaikan diri kembali di bantalnya dengan senyuman terlebar, paling cerah –tak bisa menunggu esok hari- yang pernah kalian lihat.
...
Sudah empat hari sejak mengetahui si brengsek itu putus dengan Junmyeon. Pada hari berikutnya, Junmyeon datang ke kantor dengan penampilan yang terlihat seperti dirinya lagi. Dilihat dari segala aspek, dia terlihat benar-benar sudah melupakan si tolol itu. Tapi dengan kembalinya Kim Junmyeon pada kehidupan normalnya keponakan YiFan, Taemin, justru terserang flu, sehingga Luhan harus menjadwal ulang makan siang mereka berempat untuk minggu depan. Dengan jadwal akhir pekan yang Junmyeon miliki, ini mungkin pilihan terbaik.
Oh yeah. Hanya satu detail kecil yang perlu kalian tahu: YiFan belum berhubungan seks sejak dua belas hari terakhir.
Dua belas hari.
Dua ratus delapan puluh delapan jam tanpa seks. YiFan tak bisa menghitung sampai ke menitnya, ini terlalu menyedihkan. Ingat dulu YiFan pernah berkata 'hanya bekerja dan tidak bermain membuat YiFan menjadi pemuda yang gampang marah?' Nah, pada titik ini, YiFan praktis sudah menjadi psikopat, oke?
Dua belas hari mungkin terlihat bukan waktu yang lama bagi kalian orang amatir di luar sana, tapi untuk orang seperti YiFan? Ini rekor terkutuk. YiFan tak pernah mengalami kemarau seperti ini sejak musim dingin tahun 1999. Apakah ada hal kecil yang YiFan lewatkan lagi? Ya, YiFan lahir di Vancouver, Kanada. Dan ia menghabiskan masa kecil sampai remajanya di New York. Bulan Januari itu, badai salju besar menyelimuti kawasan *three-state area dengan salju setebal dua puluh delapan inci. Hanya kendaraan dinas yang diizinkan berada di jalanan, jadi YiFan terjebak di penthouse bersama orang tuanya.
Dan saat itu YiFan berumur tujuh belas. Tahun dalam kehidupan seorang remaja laki-laki ketika semilir angin sudah cukup mengakibatkan dirinya ereksi. YiFan menghabiskan begitu banyak waktu di kamar mandi, Nyonya Wu mengira YiFan terkena virus. Akhirnya, setelah hari ketujuh, YiFan tidak tahan lagi. YiFan menerjang badai dan berjalan ke kondominium Rebecca Whitehouse di pinggiran kota. Mereka bercinta seperti kelinci di kloset petugas kebersihan gedung orang tuanya.
Dia adalah gadis yang baik.
Namun, sekali lagi, YiFan telah mengurangi masturbasi di kamar mandi. Ini memalukan. YiFan merasa begitu kotor. Bukan berarti ada yang salah dengan bermasturbasi di pagi hari. Terutama jika, seperti YiFan sendiri, malam Minggu akhir pekan lalu seharusnya adalah malam bercinta namun harus terlewatkan karena kewajiban mengikuti acara keluarga. Tapi bagaimana jika itu adalah satu-satunya tindakan yang dapat kau lakukan? Yah, YiFan tahu, ini sungguh...menyedihkan.
Alasan di balik paceklik seksualnya yang berkepanjang saat ini? YiFan sepenuhnya menyalahkan Junmyeon. Ini semua salahnya.
Rupanya, hati nuraninya mulai tumbuh. YiFan tak tahu kapan ini terjadi, YiFan tak tahu bagaimana ini bisa terjadi, tapi YiFan tidak menyukainya.
Jika YiFan bisa, YiFan akan menghancurkan tokoh kartun keparat Jiminy Cricket seperti kecoa.
Apakah kalian tahu bahwa beberapa orang memiliki kemampuan *Gay-dar? Yah, YiFan punya Dump-dar, yang berarti YiFan bisa mengenali seorang wanita yang baru saja dicampakkan berjarak satu mil jauhnya. Mereka gampang di dapat. Yang kalian harus katakan pada mereka hanyalah bahwa mantan mereka seorang idiot membiarkan mereka pergi, dan mereka akan memintamu untuk menyetubuhi mereka.
Junmyeon sekarang termasuk dalam kategori dicampakkan. Jika merujuk pada teori di atas, seharusnya ini menjadi sesuatu yang pasti, bukan?
Tapi sayangnya anggapan itu adalah salah. Kita sudah pernah membahas ini, kan? Jika Kim Junmyeon adalah gadis yang tidak mudah untuk ditaklukan? Yeah, di sinilah Jiminy mengangkat kepala serangga kecilnya yang jelek.
Kenyataannya, YiFan tak sanggup untuk melakukan pendekatan pada gadis itu. Gagasan itu membuatnya merasa seperti seorang predator terkutuk. Sulit dikatakan apakah Junmyeon masih rentan atau tidak. Dia terlihat tidak begitu rentan, tapi kalian tidak pernah tahu. Gadis itu mungkin hanya berpura-pura seolah segalanya baik-baik saja. Dan jika Junmyeon ternyata berpura-pura—masih terluka dan rapuh—bukan begitu cara YiFan menginginkan gadis itu. Ketika itu terjadi antara Junmyeon dan dirinya, YiFan ingin Junmyeon merobek pakaiannya, dan pakaiannya sendiri, hanya karena gadis itu tak sabar menunggu sedetik pun agar kejantanan YiFan menghentak ke dalam dirinya. YiFan ingin Junmyeon merintih memanggil namanya, mencakar punggungnya dan menjerit karena kehebatannya semata.
Sialan, YiFan mulai lagi. YiFan jadi ereksi hanya memikirkan tentang hal itu.
Sungguh kacau. YiFan tidak bisa bercinta dengan Junmyeon, dan YiFan juga tidak ingin bercinta dengan orang lain. Ini adalah badai yang sempurna untuk dirinya sendiri. YiFan akan mengatakan jika dia akan memperoleh apa yang pantas ia dapatkan. Kalian puas sekarang?
YiFan mematikan lampu kantornya dan berjalan menuju kantor Junmyeon.
Gadis itu tidak segera melihat YiFan, jadi pemuda itu bersedekap dan bersandar di kusen pintu, hanya mengamati Junmyeon. Rambut gadis itu terurai dan detik berikutnya Junmyeon berdiri, membungkuk di atas mejanya, melihat ke arah komputernya. Kemudian bernyanyi:
No more drinks with the guys
No more hitting on girls
I'd give it all up
And it'd be worth it in the end
If you were my lady
I would comprehend
How it feels to have something real
I would want to be a good man…
Junmyeon benar-benar punya suara yang bagus. Dan melihat cara dia membungkuk di mejanya seperti itu...membuat YiFan ingin berjalan di belakangnya dan...Oh Tuhan. Sudahlah. YiFan hanya menyiksa diri sendiri.
"Rihanna sebaiknya harus berhati-hati." Junmyeon mendongak mendengar suara YiFan, dan wajahnya berubah menjadi tersipu malu. "Jangan berhenti gara-gara kehadiranku. Aku sedang menikmati pertunjukan." pintanya
Junmyeon tersenyum malu, "Lucu sekali. Tapi sayangnya pertunjukan sudah selesai."
YiFan memberi isyarat dengan jarinya kearah Junmyeon. "Ayo. Aku mengusirmu keluar dari kantor. Sekarang sudah lebih dari jam sebelas malam dan kau belum makan sama sekali. Aku tahu satu tempat. Aku yang traktir. Tempat itu membuat sandwich isi daging kalkun yang enak."
Junmyeon segera mematikan layar monitornya dan meraih tasnya. "Oohh, itu makanan favoritku."
"Ya, aku tahu."
...
Mereka memilih meja di area bar dan memesan makanan. Pelayannya membawakan mereka minuman, dan Junmyeon menyesap margarita yang YiFan pesan untuknya. "Mmm. This is just what I wanted right now."
YiFan pernah bilang pada kalian bahwa dia hebat dalam urusan memilihkan minuman, ingat? Mereka ngobrol dengan nyaman selama beberapa menit, dan kemudian...perhatikan ini.
Mata Junmyeon melotot sangat lebar, dan ia membungkuk di bawah meja. YiFan melihat sekeliling ruangan. What the hell? YiFan membungkuk ke bawah meja dan mengintip kearahnya. "Apa yang kau lakukan?"
Junmyeon terlihat panik. "Jonghyun ada di sini. Lantai atas, ada di loteng di atasl antai dansa. Dan dia tidak sendirian." YiFan mulai mengangkat kepalanya ketika Junmyeon berteriak, "Don't look."
Demi Tuhan, ini keterlaluan. Ternyata perkiraan YiFan salah, nyatanya Junmyeon belum bisa melupakan si brengsek.
"It's just…I can't let him see me like this."
Sekarang YiFan yang bingung. "What are you talking about? You look great." Hei, menurut YiFan Junmyeon selalu terlihat hebat.
"Tidak, tidak dengan pakaian seperti ini. Jonghyun berkata itu tidak menarik, menurutnya aku terlihat begitu termotivasi. Itu salah satu alasan dia ingin putus. Bahwa aku...dia berkata jika aku terlalu...maskulin."
She has got to be fucking kidding him. YiFan maskulin. Hillary Clinton maskulin. Dan Kim Junmyeon tak punya satu sel maskulin pun ditubuhnya. Dia wanita sejati, percayalah.
Tapi YiFan tahu apa yang dimaksudkan bajingan itu. Junmyeon wanita yang cerdas, terus terang, ambisius. Banyak pria—seperti misalnya si bajingan itu—tidak bisa menghadapi wanita semacam ini. Jadi mereka memutarbalikkan kenyataan. Membuat kualitas seperti itu terlihat tidak menarik. Sesuatu yang memalukan.
Screw this. YiFan meraih lengan Junmyeon dan menyeretnya keluar dari bawah meja. Gadis itu menatap sekeliling ruangan dengan cepat saat YiFan membawanya ke lantai dansa.
"Apa yang kau lakukan?"
"Mengembalikan lagi martabatmu."
YiFan berbenturan dengan beberapa orang saat berjalan ke lantai dansa, membuat sedikit kegaduhan, jadi YiFan yakin si brengsek akan melihat mereka. "Ketika aku selesai, ku pastikan Lee Jonghyun akan mencium kakimu, pantatmu, dan semua bagian tubuh yang kau perintahkan padanya, memohon padamu untuk kembali."
Junmyeon mencoba untuk melepaskan diri dari cengkeraman YiFan. "Tidak, Kris ini tidak benar-benar..."
YiFan berpaling menghadapnya dan memeluk pinggangnya. "Percayalah, Junmyeon." Tubuh mereka menempel satu sama lain, wajah mereka begitu dekat hingga YiFan bisa melihat dengan jelas iris kecokelatan milik Junmyeon. Kalian pasti bertanya, kenapa YiFan melakukan ini lagi? Oke, kalian cukup diam saja, lihat, dan perhatikan.
"Aku seorang pria. Aku tahu cara berpikir seorang pria. Tidak ada pria yang ingin melihat mantannya bersama dengan pria lain. Just go with me on this.." ucap YiFan sambil menatap serius Junmyeon.
Gadis itu tidak menjawab. Dia hanya mengangkat tangannya di leher YiFan, membawa mereka menjadi satu, dada menempel dada, perut menempel perut, paha dengan paha.
Ya Tuhan. Ini siksaan. Siksaan yang sangat indah dan nikmat bagi YiFan.
Dengan pikirannya sendiri, ibu jari YiFan membuat lingkaran pelan di punggung bawah Junmyeon. Musik berpusar di sekeliling mereka, dan YiFan merasa mabuk, bukan oleh minuman, tapi karena merasakan diri gadis itu. YiFan ingin mengabaikan betapa sempurnanya tubuh Junmyeon dengan tubuhnya sendiri. YiFan mencoba mengingat niat mulianya. YiFan harus melirik ke atas untuk melihat apakah si brengsek mengawasi mereka. YiFan harus, tapi YiFan tidak melakukannya. YiFan terlalu terjerat dengan cara Junmyeon menatapnya.
Mungkin YiFan menipu diri sendiri, tapi YiFan bersumpah YiFan melihat hasrat yang berenang di mata indah Junmyeon. Telanjang, keinginan tanpa hambatan. YiFan membungkuk dan menggesek hidungnya dengan hidung Junmyeon, mencoba melihat bagaimana hasilnya.
YiFan tidak melakukan ini untuk dirinya sendiri. Sungguh. YiFan tidak melakukan ini karena begitu dekat dengan Junmyeon. Tapi harus ia akui, sekarang ini adalah rasa paling dekat ke surga yang pernah ia rasakan.
Ini untuk Junmyeon. Bagian dari rencana. Untuk merebut kembali hati bajingan yang tak pantas mendapatkan gadis itu.
YiFan menekan bibirnya dengan lembut ke bibir Junmyeon. Pada awalnya lembut, dan kemudian Junmyeon meleleh ke tubuh Pemuda itu. Saat itulah YiFan mulai kehilangan kendali. Ia membuka mulutnya, dan YiFan meluncurkan lidahnya masuk dengan perlahan. Kemudian lebih keras, lebih kuat, lebih intens, seperti gerakan menukik dari roller coaster.
YiFan pasti lupa bagaimana nikmatnya rasa Kim Junmyeon. Jika kalian ingin tahu, ini lebih dekaden dibanding cokelat yang paling kaya rasa. Penuh dosa. Sekali kau mencicipinya kau tidak akan pernah bisa berhenti untuk memintanya lagi, lagi, dan lagi. Ini berbeda dari ciuman yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Lebih baik. Tak ada kemarahan di balik itu, tak ada frustrasi atau rasa bersalah atau sesuatu untuk dibuktikan. Ini tidak tergesa-gesa, perlahan, dan begitu indah.
Bibir mereka terpisah, dan YiFan memaksa diri untuk mendongak, menangkap tatapan terpukul dari Jonghyun sebelum pemuda itu menghilang di kerumunan. YiFan berpaling kembali ke arah Junmyeon dan menempelkan keningnya dengan kening gadis itu. Napas mereka berbaur—napas YiFan memburu, dan napas Junmyeon sedikit terengah.
"Ini berhasil." Kata YiFan.
"Apa?"
YiFan merasakan jemari Junmyeon bermain dengan rambut di tengkuknya. Dan ketika Junmyeon bicara, suaranya mendesah. Mendamba. "Kris…could you? Kris…do you want…?"
"Anything, Junmyeon. Ask me anything and I'll do it."
Bibir Junmyeon terbuka, dan ia menatap YiFan sesaat. "Would you…kiss me again?"
Thank. You. God.
Dan untukmu, Jiminy? menyingkirlah.
... TBC...
*three-state area: negara bagian New York, New Jersey dan Connecticut
*gay-dar: radar gay atau kemampuan seorang homoseksual untuk mengenali satu sama lain secara intuitif.
...
A/N: Hai...saya tidak melenceng dari janji saya kan ya? Kalau bukan kamis ya jum'at saya update. Dan ini hari jum'at. Oke, lanjut. Saatnya membalas hasil review reader tercinta.
Everadit: Kekeke...krisho emang selalu mengejutkan dan lain daripada yang lain. Oh...suka ya sama dialognya? Ck, si yifan emang paling jago kalo masalah berkata sinis, vulgar, dan sedikit kasar. Jadi siap2 aja dialog yang seperti ini akan selalu menghiasi hampir di seluruh chapter. :D
Kejutannya? Udah tau kan ya kejutannya apa di chap ini. Kalo berpikir jika itu adegan *ehem, jelas bukan, tapi scene itu akan saya tampilkan full untuk chap depan. Yeahh... *ketawa nista.
Oke, makasih udah review. :D
.
Emmasuho: Oke, makasih ya udah ninggalin jejak. Ini udah update kok, semoga suka. Jangan bosen buat mampir+review ya. :D
.
Dirakyu: Masih lama ya? Masa sih, kita liat chapter depan ya, gimana perasaan Junmyeon ke YiFan. *pinjem smirk-nya Kyuhyun. Taemin emang lucu banget, walopun di kehidupan nyata saya agak kaget dengan penampilan dia yang sekarang. Err...sedikit terkesan badboy. Makasih udah review. :D
.
LiezxoticVIP: Aduh, aku justru khawatir kalo Taemin tinggal sama YiFan. Takut otak polos Taemtaem terkontaminasi, mengingat paman Kris-nya itu playboy (?) plus mesum stadium 4. Tos sama papa Xiumin dan mama Luhan.
Justru memang itulah point dari cerita ini, love hate antara Kim J dan Wu Fan. Oh, tentunya juga perjalanan Yifan sampai bisa takluk pada Junmyeon. Makasih udah review. :D
.
Duo Buble-Kim316: Kekeke~ ini belum ence, sayang. Tapi tenang aja kita sudah memasuki pintu gerbang menuju 'itu'. *Lirik chap depan.
Oke, no problem, dear. Sekarang kamu udah ninggalin jejak aja, saya sudah senang. Makasih atas review'nya. :D
.
wukim9091: udah baca yang aslinya ya. Seru, kan? Kekeke~ itulah alasan saya pengen remake ini jadi krisho. Karena menurut saya novel ini ga bosenin dan kaku. :D
Sabar ya, NC'nya aku keep buat chap depan aja, biar satu chap full adegan 21 keatas. Oke, makasih udah review.
.
PikaaChuu: Kekeke~ setuju, ini emang keren banget. Apalagi kalo ngebayangi jadi joonma, haduhh...bisa terus-terusan tahan nafas, ga kuat liat wajah ganteng kris yang terlalu deket. Dan ngebayangin kalo yang di cium yifan itu...oh my god, sepertinya otak mesum yifan sedikit mengkontaminasi saya, jangan diteruskan. :D
Suka lagunya beast yang goodluck juga ya? Ahaha~sama dunk kita. *tos bareng
Oke, makasih atas review'nya. :D
.
Aquaryoung21: Makasih ya udah suka sama ff ini. Oke, antara cemburu sama sinisnya si YiFan emang beda-beda tipis ya disini. Lagian itu anak kalo udah ketemu sama Jonghyun emang bawaannya emosi+pengen nonjok aja. Kasian kan Jonghyun. Btw, makasih ya udah review.
.
Hae15: ga usah bingung2 tinggal tulis aja apa yang pengen ditulis, saya selalu welcome sama komen apapun kok. Termasuk kritik juga. :)) Oke, ini udah lanjut. Makasih review'nya. :D
.
Dhearagil: Si YiFan emang mulutnya rombeng banget, ga kenal situasi, mau sepi mau rame, itu mulut emang sinisnya minta ampun. Kasian kan si Jonghyun, jadi malu gitu.
Kalo saya jadi Junmyeon juga agak sayang sama hubungan lamanya, hampir sebelas tahun bayangin. Tapi nyatanya di chap ini mereka putus juga kan? :D Oke, mkasih udah review.
.
Nam mingyu: Ho'oh, saya sempilin Chanbaek disini. Biar tambah rame dengan tambahan beagle line. Oke, ga pa2 kok, review'an kamu masih saya tunggu. *eciiee :D
Tenang aja, kita semua sedang proses menuju kesana, pantengin terus ff ini ya. Kekeke~ makasih udah review.
.
Lu shixun: previously, i would like to thanks because you already love this fic, and oh... I also want to hug you back, dear. No, it's not because of me, the real storyline of this novel which is already wonderful, I just turn it into krisho fic.
and this of course will end with krisho, darling. Thanks for the review.. :D
.
Guest: Oke, ini udah lanjut, makasih udah review. Dan ditunggu review selanjutnya.:D
.
Raemyoon: Udah kencangin sabuk pengaman? Oke, mungkin kamu harus lebih mengencangkan sabuk pengaman lagi untuk chap depan, karena di sana akan membawa kamu menaiki roll coaster yang paling curam. *ketawa iblis
Saya malah ga mau bayangin kalo Taemin tinggal sama paman Kris. Mengkhawatirkan. *peluk dedek Taemin :D Makasih ya dudah review.
.
Kmskjw21: Wow, emang ini udah panas ya? Liat sampai chap depan di rilis, *ketawa nista.
Iya, Chanbaek udah saling kasih kode, kita tinggal tunggu perkembangan Fanmyeon. Ayo semangat YiFan...:D
Emang, pikiran polos Taemin jadi terkontaminasi gara2 paman mesum Kris+Chanyeol. Gimana kalo Taemtaem tinggal sama paman Kris, dia bisa2 dewasa sebelum waktunya. :D Makasih, udah review.
.
HamsterXiumin: Setuju kalo mereka disebut pasangan aneh, karena well, mereka punya cara tersendiri kalo mereka tertarik satu sama lain, walopun ga berani bilang secara terang-terangan. Tentang toples? Ah, berterimakasihlah pada mama Luhan yang mencetuskan ide ini. Dia punya cara yang lebih baik untuk mengatasi mulut rombeng si kris. Makasih atas reviewnya. :D
.
Joonmily: Kekeke... hubungan mereka emang lain daripada yang lain, tapi suka kan? Ya, harap dimaklumin aja si yifan kan asalnya emang dari galaksi lain. Dan selalu ingin tampil beda dari semua orang. :D
YiFan liar? Benarkah? *ketawa nista, oke, dia memang liar, bahkan sangat liar, tapi ada kalanya kok dia akan bersikap manis, bahkan sangat manis. Mau tau? Pantengin aja terus fic ini. Pasti kamu akan menemukan sisi lain dari seorang wu yifan. Yeahh...
Oke, makasih udah review. :D
.
J12: if I become Yifan also I will be jealous seeing junmyeon with Jonghyun. But I wouldn't say sarcastically as he did. Kekeke
Aksi tarik menarik antara krisho, emm...sepertinya akan terus berlanjut sampai akhir fic ini. Jadi, jangan berharap yifan akan langsung bermurah hati mengaku kalo dia takluk sama junmyeon ya, karena ya kita tahu sendiri yifan seperti apa disini. :D, Oke terima kasih sudah review.
.
Guest: Oke, no problem, dear. Makasih ya udah mau review. Awalnya saya juga sama seperti kamu, saya ga terlalu suka sama Suho. Tapi setelah mencoba membaca ff exo crack couple Krisho, saya mulai tertarik dengan mereka, terutama Suho. Dan hasilnya, Krisho mampu membuat saya menatap exo crack couple lainnya. *mian buat yang suka pure couple.
Aksi Taemin emang lucu, ada2 aja mama Luhan ngasih idenya. Setidaknya Taemin ga perlu minta uang sekolah pada mama-nya, udah dapet banyak uang dari paman Kris sih. :D
Makasih udah review. ^^
.
Emm, dari sebagian besar review'an yang saya baca hampir semua mengira jika kejutannya adalah...adegan NC ya, mianhe, tapi kalian salah kali ini. Yang dimaksud kejutan disini adalah berakhirnya hub duo JJ. Untuk yang menanti (?) scene itu, harus bersabar sampai chap depan ya. *ketawa iblis* Sekali lagi terima kasih atas review'nya. :D
Kritik, saran, serta review masih saya harapkan sampai sekarang. Karena, well, tidak munafik ya, reviewan redears itu seperti suplement yang bisa membangkitkan semangat author. Jadi bagi yang masih setia jadi silent reader, tidak ada salahnya kalian meninggalkan jejak, sekalipun haya menulis 'lanjut ya thor' :D
Tebar cinta bareng krisho. Annyeong... ^^
