TANGLED

...

Main Cast: Wu YiFan, Kim Junmyeon

...

Other Cast: Member EXO, Lee Jonghyun (CNBlue)

...

Genre: Romance

...

Rate: M to NC-21

...

Disclaimer: Remake dari novel dengan judul yang sama karya Emma Case

...

...

10

YiFan pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa berhubungan seks dapat memperpanjang umur manusia. Pada laju seperti ini, praktis Junmyeon dan YiFan akan hidup abadi, bukan? Karena ya, pemuda itu sudah lupa berapa kali mereka sudah melakukannya. Tidak...tidak...tolong jangan tatap YiFan seperti itu. Kalian hanya tidak tahu, menurut dia melakukan aktivitas dewasa dengan Junmyeon ibarat gigitan nyamuk, semakin di garuk, maka semakin gatal. Jadi, sekali lagi tolong jangan tatap pemuda itu seperti itu.

Dan lagi, YiFan cukup senang karena ia sudah membeli kondom isi ekstra besar di toserba dekat rumahnya. Sempurna, bukan?

Apa? Kalian masih belum bisa memastikan reaksi Yifan atas kejadian malam ini? Oke, pemuda itu hanya akan mengatakannya terus terang, jadi dengarkan baik-baik: Kim Junmyeon adalah pasangan sex yang fantastis. Seorang wanita yang spektakuler. Well, sebelumnya YiFan tidak yakin bahwa Lee Jonghyun adalah orang tolol tapi setelah YiFan mencicipi apa yang dia campakkan, sekarang YiFan benar-benar yakin jika Lee Jonghyun memang benar-benar orang yang tolol.

Oke, kita tinggalkan masalah Jonghyun. Emm... sampai dimana kita tadi? Oh ya, Kim Junmyeon adalah gadis yang suka bertualang, sangat menuntut, spontan, dan percaya diri. Sangat mirip dengan YiFan. Mereka sangat cocok, dalam lebih dari satu aspek.

Ketika mereka akhirnya beristirahat, langit malam di luar jendela apartement YiFan baru saja berubah menjadi kelabu. Junmyeon berbaring dengan tenang, kepalanya bersandar di dada YiFan, jemarinya menelusuri lekuk di dada pemuda itu dan sesekali membelai bulu-bulu halus di sana.

Kuharap setelah semua yang kukatakan pada kalian ini tidak akan mengejutkan, tapi saat ini mereka tidak "berpelukan". Biasanya, setelah YiFan dan seorang wanita selesai, tidak ada yang namanya bergelung, tidak ada yang namanya meringkuk, dan tidak ada percakapan intim di ranjang. YiFan mungkin, dalam beberapa kesempatan, tidur sejenak karena kelelahan sebelum ia pergi. Tapi YiFan tidak tahan ketika seorang gadis menempelkan diri ke tubuhnya seperti sejenis gurita mutan. Ini menyebalkan dan tidak nyaman.

Namun dengan Junmyeon, aturan lama sepertinya tidak berlaku. Kulit mereka yang hangat menyatu bersama, tubuh mereka selaras, pergelangan kaki gadis itu di atas betis YiFan, sedangkan paha YiFan di bawah lutut gadis itu. Rasanya...damai. Menenangkan dengan cara yang tidak sepenuhnya bisa YiFan gambarkan. Dan YiFan sama sekali tidak punya keinginan untuk pindah dari tempat ini.

Kecuali itu untuk berguling dan menyetubuhinya lagi.

Kemudian Junmyeon yang lebih dulu memecah keheningan. "Kapan kau kehilangan virginitasmu?"

YiFan tertawa, Junmyeon pertama kali bersuara dan hal yang ia tanyakan adalah masalah virginitas? Oke, menarik. Kemudian dengan masih tertawa Yifan membalas, "Are we playing First and Ten again? Or are you wondering about my sexual history? Because if that's it, I think you're a little too late, Junmyeon."

Gadis itu tersenyum. "No. It's not like that. I just want to know you…more."

YiFan mendesah saat YiFan mengingatnya lagi. "Okay. My first time was…Janice Lewis. My fifteenth birthday. Dia mengundangku ke rumahnya untuk memberiku hadiah. Dan hadiahnya adalah dia."

YiFan merasakan Junmyeon tersenyum di dadanya. "Apakah dia juga masih perawan saat melakukannya?"

"Tidak. Dia berusia delapan belas saat itu, a senior."

"Ah. The older woman. So she taught you everything you know?"

YiFan tersenyum dan mengangkat bahu. "Aku mengumpulkan beberapa trik selama bertahun-tahun."

Mereka diam lagi selama beberapa menit, dan kemudian Junmyeon bertanya, "Tidakkah kau ingin tahu tentang masa laluku?"

Oh, God. Bahkan YiFan tidak perlu berpikir tentang yang satu ini.

"Nope."

YiFan tidak ingin merusak suasana, tapi kita akan berhenti di sini sebentar.

Ketika itu berhubungan dengan pengalaman seksual masa lalu seorang wanita, tak ada seorang pria pun yang mau mendengarnya. YiFan tak peduli jika kalian berhubungan seks dengan satu atau ratusan orang—keep it to yourself.

Biar kujelaskan seperti ini: Ketika kalian datang ke restoran dan pelayannya membawakan makananmu, apa kalian ingin dia mengatakan padamu berapa orang yang telah menyentuh makanan itu sebelum kalian memakannya?

Tepat sekali.

YiFan juga berpikir cukup aman untuk mengasumsikan bahwa Junmyeon melakukan hubungan seks untuk pertama kalinya dengan Jonghyun, bahwa dia adalah pria satu-satunya. Dan Jonghyun adalah orang terakhir yang ingin ia bahas pada situasi sekarang ini.

Sekarang, mari kembali ke kamar tidur pemuda itu.

YiFan berbaring miring sehingga YiFan menghadap Junmyeon. Wajah mereka sangat dekat, kepala mereka berbagi bantal yang sama. Tangan Junmyeon terselip di bawah pipinya yang membuat dia terlihat polos.

"Namun ada sesuatu yang ingin kutahu," Kata YiFan.

"Tanyakan saja."

"Kenapa kau terjun ke bidang investasi perbankan?" Junmyeon terdiam sejenak ketika mendengar pertanyaan pemuda itu.

YiFan berasal dari keturunan profesional kerah putih. Luhan dan YiFan tidak diharapkan untuk mengikuti jejak orang tua mereka, itu hanya terjadi begitu saja. Orang-orang selalu cenderung tertarik pada apa yang mereka ketahui, apa yang sudah mereka kenal.

Atau begini saja, jika orang tua kalian adalah seorang pengacara atau dokter, sedikitnya kalian pasti ingin menjadi seperti mereka, bukan? Kalian ingin mengikuti jejak mereka, karena biasanya mereka akan mengenalkan tentang pekerjaan mereka terhadapmu sejak kalian kecil. Tapi Junmyeon, gadis itu tidak punya garis keturunan sebagai seorang bankir. Dan ini menjadi sangat menarik bagi YiFan.

"Uang. Aku ingin berkarir di mana aku tahu aku akan menghasilkan banyak uang." Ucap Junmyeon.

YiFan mengangkat alisnya. "Benarkah?"

Junmyeon menatap YiFan seakan sudah tahu. "Kau mengharapkan sesuatu yang lebih luhur?"

"Ya, aku mengira seperti itu."

Seketika senyum Junmyeon memudar. "Yang benar adalah, orang tuaku menikah muda, melahirkanku juga di usia muda. Setelah menikah mereka ingin hidup mandiri dan lepas dari orang tua mereka. Akhirnya mereka membeli restoran di Kangwondo Yanggu. Ayahku mengelola restoran itu sedangkan ibuku menjadi guru sekolah taman kanak-kanak. Selama bertahun-tahun kami tinggal di atasnya. Rumah itu...kecil...tapi nyaman."

Senyum Junmyeon semakin memudar. "Tapi saat umurku tiga belas tahun ayahku meninggal akibat ulah pengemudi mabuk. Setelah itu, oemma selalu sibuk. Pagi hari ia akan mengajar di sekolah dan siang harinya ia berkutat di restoran mencoba agar usaha kami tetap berjalan, di samping itu juga dia harus menjaga dirinya agar tidak hancur berantakan."

Ketika Junmyeon berhenti lagi, YiFan menarik tubuh gadis itu ke arahnya hingga dahi gadis itu bersandar di dada YiFan. Dan kemudian Junmyeon melanjutkan: "Oemma berusaha agar kami tetap bisa bertahan. Aku tidak kekurangan atau semacamnya, tapi...keadaannya tidaklah mudah. Segalanya penuh perjuangan. Jadi, ketika mereka mengatakan padaku bahwa aku akan menjadi *Valedictorian, dan aku menerima beasiswa penuh dari universitas Seoul, aku berpikir—Oke—bidang investasi saja. Aku tidak pernah ingin menjadi tidak berdaya atau bergantung pada orang lain. Meskipun aku punya Jonghyun, sangat penting bagiku mengetahui bahwa aku mampu menghidupi diri sendiri, dengan usaha sendiri. Sekarang setelah aku mampu melakukannya, yang sangat ingin kulakukan adalah mengurus ibuku. Aku sudah pernah memintanya untuk pindah ke Seoul tapi sejauh ini dia menolak. Dia bekerja seumur hidupnya...aku hanya menginginkan dia untuk istirahat."

YiFan tak tahu harus berkata apa. Meskipun segala komentar pedas tentang orang tuanya, YiFan cukup yakin ia akan kehilangan akalnya jika sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka.

YiFan mengangkat dagunya agar ia bisa menatap ke dalam mata Junmyeon. Lalu YiFan menciumnya. Setelah beberapa menit, Junmyeon berbalik. YiFan melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu dan menarik tubuh Junmyeon menempel ke tubuhnya. YiFan menekan bibirnya ke bahu Junmyeon dan memposisikan wajahnya di rambut gadis itu. Dan meskipun secara teknis sekarang sudah pagi, itulah bagaimana posisi mereka sampai mereka berdua tertidur.


...


Setiap pria sehat di dunia bangun dengan tegang. Berdiri. Ereksi di pagi hari. YiFan yakin ada beberapa penjelasan medis untuk fenomena ini, tapi YiFan hanya ingin menganggapnya sebagai karunia kecil dari Tuhan.

Sebuah kesempatan terbaik untuk memulai hari dengan kejantananmu mengacung ke depan.

YiFan tak ingat kapan terakhir kali ia tidur di samping seorang wanita. Bagaimanapun, bangun di samping seorang wanita pasti memiliki suatu manfaat. Dan YiFan siap untuk memanfaatkan sepenuhnya keadaan ini.

Dengan mata masih terpejam, YiFan berguling dan mencari Junmyeon. YiFan berencana untuk menggodanya agar terjaga sebelum memberikannya ucapan "selamat pagi" dari belakang. Ini satu-satunya alarm bangun pagi yang bisa diterima, dalam kamusnya. Tapi ketika tangannya meluncur di atas seprei, YiFan hanya menemukan ruang kosong di mana Junmyeon seharusnya berada. YiFan membuka matanya, duduk, dan melihat sekeliling. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya.

Hah?

YiFan mendengarkan dengan cermat kalau saja ada gerakan di kamar mandi atau suara air mengalir dari shower. Tapi yang ada hanya keheningan. Sangat sunyi, benar kan?

Where'd she go?

Detak jantung pemuda itu meningkat memikirkan bahwa Junmyeon menyelinap pergi ketika ia tertidur. Oke, mungkin itu adalah tindakan yang pernah YiFan lakukan sendiri—dalam beberapa kesempatan—namun YiFan tak pernah mengira mendapat perlakuan seperti ini dari Junmyeon. Apa ini sebuah karma?

YiFan hampir saja bangun dari tempat tidur ketika Junmyeon muncul di ambang pintu. Rambutnya diikat dengan karet yang wanita selalu dapatkan entah dari mana. Dia memakai T-shirt abu-abu dengan tulisan Columbia —T-shirt Columbia abu-abu milik YiFan— sejenak pemuda itu terpukau oleh bagaimana payudara Junmyeon bergoyang di bawah tulisan itu saat ia berjalan.

Junmyeon menaruh nampan yang ia bawa di meja samping ranjang. "Good morning."

YiFan cemberut. "Ini bisa saja sudah pagi. Kenapa kau bangun?"

Gadis itu tertawa. "Aku kelaparan. Perutku berbunyi seperti binatang buas dalam kerangkeng. Aku sebenarnya ingin memasak sarapan untuk kita, tapi yang bisa kutemukan di dapurmu hanyalah sereal."

Yeah, Sereal adalah makanan yang sempurna. YiFan bisa memakannya setiap hari. Dan bukannya jenis bran & oats yang biasa disediakan oleh orangtuamu. YiFan hanya makan yang enak: Lucky Charms, Fruity Pebbles, Cookie Crisp. Lemarinya penuh berisi segala macam sereal rasa madu.

YiFan mengangkat bahu. "Aku lebih banyak memesan makanan."

Junmyeon menyerahkan satu mangkok pada YiFan. Apple Jacks, pilihan yang bagus. Sambil mengunyah, Junmyeon berkata, "Aku pinjam T-shirt mu. Kuharap kau tidak keberatan."

YiFan memakan sarapan sehatnya. "Tidak masalah. Tapi aku benar-benar ingin kau tidak memakainya."

Lihat bagaimana gadis itu menunduk malu? Bagaimana bibirnya tersungging senyuman? Rona yang muncul di pipinya? Demi Tuhan, Dia tersipu lagi. Setelah apa yang mereka lakukan semalam? Setelah segala kutukan, jeritan, garukan? Sekarang Kim Junmyeon tersipu?

Sungguh menggemaskan, bukan? Kurasa juga begitu.

"Kurasa memasak telanjang tidaklah higienis." Ucap Junmyeon, lalu kembali memasukkan sesuap sereal ke dalam mulutnya.

YiFan menaruh mangkuk yang sekarang kosong kembali di atas nampan. "Apa kau suka memasak?" Selama berbulan-bulan mereka bekerja bersama-sama, YiFan telah belajar banyak tentang Junmyeon, tapi masih banyak lagi yang ingin ia ketahui.

Junmyeon mengangguk dan menghabiskan serealnya. "Jika kau tumbuh di sekitar restoran, itu akan menular padamu. Membuat kue adalah kesukaanku. Aku pembuat kue yang enak. Jika nanti kita bisa mendapatkan bahan-bahannya, aku akan membuatnya."

YiFan tersenyum nakal. "Aku suka memakan 'kuemu', Junmyeon."

Junmyeon menggeleng pada YiFan. "Kenapa aku punya perasaan bahwa kau sedang tidak membahas tentang berbagai jenis chocolate chip?"

Masih ingat tentang karunia kecil dari Tuhan itu? YiFan tidak bisa membiarkan ini terbuang sia-sia. Ini akan menjadi dosa dan YiFan tak mampu menanggung dosa seperti itu lagi. YiFan menyeret Junmyeon ke tempat tidur dan menarik T-shirt ke atas kepalanya.

"Karena aku memang tidak membahas itu. Sekarang, tentang 'kue' yang ini..."


...


"Menteri ke B7."

"Gajah ke G5."

Main game itu menyenangkan.

"Kuda ke C6."

"Skak."

Game tanpa busana? Itu lebih menyenangkan lagi.

Alis Junmyeon berkerut sambil menatap papan catur. Ini adalah pertandingan ketiga mereka. Siapa yang memenangkan dua game sebelumnya? Ayolah, tanpa kalian bertanya seharusnya kalian sudah tahu jawabannya.

Mereka saling berbagi cerita sembari bermain. YiFan bercerita waktu lengannya patah saat bermain skateboard ketika berumur dua belas tahun. Sedangkan Junmyeon bercerita tentang dia dan Baekhyun yang mengecat bulu hamsternya dengan warna merah muda. Lalu pemuda itu menceritakan pada Junmyeon tentang julukan untuk Luhan yang diberikan oleh Chanyeol dan dirinya. Apa kalian tahu reaksi gadis itu? Yeah, Junmyeon mencubit puting YiFan setelah itu. Sangat keras. Gadis itu ingat saat YiFan memanggilnya "seperti Luhan" di kantornya.

Nyaman, santai, menyenangkan. Tidak senikmat seperti bercinta tapi nomor dua. Mereka berbaring miring di tempat tidur, kepala mereka ditumpu oleh tangan, papan catur ada di tengah.

Oh, dan jika saja kalian lupa, saat ini mereka telanjang. Iya, kalian tidak salah membaca. Dan hey, bisakah kalian tidak terkejut seperti itu? Aku bahkan bisa melihat jika rahangmu akan terlepas dari wajahmu.

Sekarang, YiFan tahu beberapa wanita memiliki masalah dengan tubuh mereka. Mungkin kalian punya lemak berlebih di tubuhmu, benar? Lupakan itu. Tidak masalah. Setiap saat ketelanjangan mengalahkan segala kesopanan. Pria adalah makhluk visual. Mereka tidak akan bercinta denganmu jika tidak ingin melihat tubuhmu.

Kalian bisa menulisnya jika mau.

Junmyeon tidak masalah untuk telanjang. Dia pasti nyaman dengan dirinya sendiri. And it's sexy, damn sexy.

"Kau mau jalan atau mau membakar lubang di papan dengan menatapnya?" tanya YiFan.

Junmyeon sedikit berdecih lengkap dengan tatapan seriusnya pada papan permainan "Jangan memaksaku, Kris. Aku sedang berkonsentrasi."

YiFan mendesah. "Baiklah. Gunakan waktu semaumu. Lagipula tak ada tempat pergi untukmu. Aku sudah memojokkanmu."

"I think you're cheating." Junmyeon mengucapkannya tanpa menatap pemuda itu

Mata YiFan melotot. "What?! Kau bilang apa, Jun? Oh, tidak, tidak, tolong jangan berkata seperti itu. Itu menyakitkan, Junmyeon. Aku terluka. Aku tidak berbuat curang. Aku tidak perlu melakukannya."

Junmyeon mengangkat alisnya dan menatap pemuda itu. "Apa kau harus begitu sombong?"

YiFan memperbaiki posisi berbaringnya, "Aku sungguh berharap begitu. Dan bicara kotor tidak akan berhasil, sweetheart. Jadi, berhentilah mengulur-ulur waktu."

Junmyeon mendesah dan menerima kekalahannya. Kemudian YiFan melakukan langkah terakhirnya. "Skak mat. Mau main lagi?" YiFan bertanya sambil menyeringai.

Junmyeon tidak menjawab, ia justru berguling telungkup dan menekuk lututnya hingga kakinya hampir menyentuh kepalanya. YiFan melihatnya, dan kejantanannya berkedut saat itu juga.

"Ayo main sesuatu yang lain." Ucap Junmyeon.

Twister? *Hide the Salami? *Kama Sutra charades? Atau YiFan harus menawarkan ketiganya?

Sebelum YiFan menawarkan ketiga permainan itu, Junmyeon kembali bersuara, "Apa kau punya game Guitar Hero?"

Apa YiFan punya game Guitar Hero? Game kompetisi terbaik milenium ini? Game paling keren sepanjang masa? Tentu saja YiFan punya.

"Mungkin kau harus memilih game lainnya, Jun" Kata YiFan. "Jika aku terus mengalahkanmu seperti ini, aku akan merusak ego wanitamu yang rapuh."

Junmyeon melotot pada YiFan. "Ayo siapkan."

Kegigihan Junmyeon seharusnya menjadi tanda bahaya. Itu pembantaian. Benar-benar brutal. Gadis itu menendang pantat YiFan dari ujung apartement ke ujung lainnya.

YiFan punya alasan, Junmyeon tahu cara bermain gitar sungguhan. Dan...dia meminta mereka berpakaian. Bagaimana kejamnya ini?! YiFan terus berusaha untuk melihat sekilas pantatnya yang indah mengintip keluar dari bawah T-shirtnya. Itu mengganggunya.

I never had a chance.


...


Jadi, sekarang mungkin kalian bertanya-tanya apa yang sebenarnya pemuda itu lakukan, benar kan? Kenapa YiFan membuang waktu Sabtu sorenya bermain Adam dan Hawa dengan Junmyeon?

Inilah yang terjadi: YiFan telah berusaha selama berbulan-bulan untuk membawanya sampai pada kondisi sekarang. YiFan telah menghabiskan malam demi malam tak berujung mendambakan, memimpikan, berfantasi tentang hal itu.

Misalkan kalian terdampar di sebuah pulau kosong dan tidak makan selama seminggu. Dan kemudian kapal penyelamatan akhirnya muncul dengan sepiring besar makanan. Maukah kalian mencicipi sedikit dan membuang sisanya?

Tentu saja tidak. Kalian akan memakan dengan cepat di setiap gigitannya. Melahap setiap remahnya. Menjilat bersih piringnya.

Itulah yang YiFan lakukan. Berkumpul dengan Junmyeon sampai pemuda itu...kenyang. Jangan menilainya lebih jauh dari itu.


...


Apa YiFan pernah menyebutkan bahwa Junmyeon punya tato? Oh ya. Sebuah label wanita gampangan. Sebuah stempel pelacur. Sebut saja apa pun yang kalian suka. Tatonya di gambar tepat di atas tonjolan pantatnya, di punggung bagian bawah. Berbentuk kupu-kupu kecil berwarna biru kehijauan.

Rasanya lezat. Sekarang YiFan sedang menelusuri tato itu dengan lidahnya.

"Oh God, Kris…"

Setelah penghinaan pada game Guitar Hero, Junmyeon memutuskan jika dia ingin mandi. Dan dengan polosnya Junmyeon bertanya begini, apakah pemuda itu ingin mandi duluan?

Gadis bodoh. Dia fikir mandi sendirian masuk dalam pertimbangan YiFan saat ini.

YiFan berdiri dan menggodanya dari belakang. Dia lebih panas dari air yang menyemprot mereka di semua sisi. YiFan menyibak rambutnya ke samping saat YiFan menyantap lehernya yang nikmat. Suara YiFan serak saat ia berkata pada Junmyeon, "Open your legs for me, Junmyeon." Dan gadis itu menurut.

"More."

Dia menurut lagi.

YiFan menekuk lututnya dan menggeser kejantanannya masuk ke dalam lubang Junmyeon. Oh Tuhan. Sudah dua jam sejak YiFan berada dalam dirinya seperti ini. Terlalu lama, seperti seumur hidup.

Mereka mengerang bersama. Payudara Junmyeon licin oleh sabun saat YiFan menggeser jemarinya ke puting gadis itu dan memainkannya dengan cara yang ia tahu akan membuat Junmyeon mendesah. Kepala gadis itu mendongak jatuh di bahu YiFan, dan menggoreskan kukunya di atas paha YiFan. YiFan mendesis oleh sensasinya dan sedikit menambah kecepatan.

Lalu Junmyeon mencondongkan tubuhnya ke depan, membungkuk setinggi pinggang dan menyangga tangannya di dinding ubin. YiFan membungkusnya dengan tangannya sendiri, menjalin jemari mereka menjadi satu. YiFan memompa masuk dan keluar tanpa tergesa-gesa. YiFan mencium punggungnya, pundaknya, telinganya. "You feel so fucking good, Junmyeon."

Kepala Junmyeon berputar, dan kemudian merintih, "God, you feel so…hard…so big."

Kalimat itu? Mendengar kalimat itu adalah impian bagi setiap pria. YiFan tak peduli jika kalian biksu, kalian tetap saja ingin mendengarnya.

Ya, YiFan pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya. Namun ketika itu berasal dari bibir Junmyeon —dengan suara manisnya— rasanya YiFan mendengar kalimat itu untuk pertama dan terakhir kalinya.

Dan kemudian Junmyeon memohon. "Harder, Kris…please."

YiFan melakukan apa yang Junmyeon minta sambil mengerang. YiFan meninggalkan satu tangan di dinding dan menggerakkan tangannya yang lain ke klitoris Junmyeon, jadi setiap kali YiFan mendorong ke depan, clit-nya akan membentur jemari pemuda itu. Dan Junmyeon merintih oleh sentuhannya.

Kemudian Junmyeon menuntut lagi, "Harder, Kris. Fuck me harder."

Ketika perintahnya mencapai telinga YiFan, YiFan tersentak, seperti atap yang roboh pada kebakaran yang sedang berkecamuk. YiFan mendorong kejantanannya k dalam lubang Junmyeon sampai gadis itu terjepit ke dinding, pipinya menempel pada ubin yang dingin. YiFan mendorong dengan kasar dan cepat. Jeritan kepuasan gadis itu menggema di dinding, dan mereka klimaks bersama.

It's long and intense and fucking glorious.

Ketika kenikmatannya memudar, Junmyeon berbalik, melingkarkan lengannya di leher Yifan dan mencium pemuda itu dengan perlahan. Kemudian kepalanya bersandar di dada YiFan, mereka masih berdiri bersama di bawah semprotan. YiFan tak bisa menjaga kekaguman keluar dari suaranya saat berkata, "Oh Tuhan, jadi semakin nikmat setiap kali kita melakukannya."

Junmyeon tertawa. "You too? I thought I was the only one who felt it."

Junmyeon menatap YiFan, menggigit bibir, dan menyibak rambut basah dari mata YiFan. Ini adalah sikap sederhana. Tapi ada begitu banyak emosi di baliknya. Sentuhannya lembut, sorot matanya begitu menyayang, seolah YiFan adalah hal terindah yang pernah ia lihat. Seolah YiFan adalah semacam...harta karun.

Biasanya, ekspresi seperti itu akan membuat YiFan merunduk untuk mencari perlindungan, pergi menuju pintu keluar terdekat.

Tapi ketika YiFan menatap wajah Junmyeon, satu tangan memegang pinggangnya, tangan yang lain menuju rambutnya, YiFan tidak ingin lari. YiFan bahkan tidak ingin berpaling. Dan YiFan tak pernah ingin melepaskannya.

"No…I feel it too."


...TBC...


*Valedictorian: lulusan terbaik yang membacakan pidato kelulusan

*Hide the Salami: eufemisme untuk istilah berhubungan seks

*Kamasutra Charades: permainan menebak kata-kata dgn gerakan kamasutra

...

No...I felt it too, Yeah... I felt it too, YiFan. Saya –sebagai si pe-remake- bacanya juga sambil tahan nafas. Kekeke~ oh my God.

Saya, tidak ingin banyak bercuap-cuap kali ini dan mencoba menjawab beberapa pertanyaan dari reader. Saya liat antusiasme di chap kemaren lumayan banyak, dan hampir semua reader bilang kalo chap kemaren sangat hot, oke, saya juga merasa seperti itu. :D

Keliatannya rate NC 21-nya ga akan berakhir di chap ini ya?

Tepat sekali, sayang. Karena, ya beberapa chap kedepan kita masih akan berkutat dengan hal-hal kaya gini, meskipun tidak sepanas chap kemaren.

Apa ini akhir dari flashback-nya YiFan sebelum dia kena flu?

Bukan, dear. Cerita tentang flashback YiFan masih beberapa chap lagi sebelum masuk ke cerita perjuangan YiFan mendapatkan Junmyeon. Jadi ditunggu aja ya.

Disini Junmyeon dalam keadaan sadar dan ga mabuk kan? Apa YiFan hanya menggap Junmyeon sebatas partner sex aja?

Of course, yes. Junmyeon dalam keadaan sepenuhnya sadar pada saat melakukan itu dengan YiFan. Dan perasaan YiFan terhadap Junmyeon akan lebih jelas seiring dengan berjalannya chapter. :D

Apa ini akan dilanjut sampai buku ke dua?

Oh ya, saya me-remake novel ini hanya sampai book 1 aja, tentang book 2 atau book 3, kita liat nanti aja ya, disesuaikan dengan sikon. :)

Can you give a lilbit POV for Junmyeon?

Sebenarnya di novel aslinya ini full POV-nya YiFan. Karena ini masih bercerita tentang flashback YiFan kemunginan ini akan berpusat pada YiFan semua. Tapi setelah flashback selesai, saya akan mencoba untuk memberi POV untuk Junmyeon dalam versi saya sendiri. Tapi selama saya membaca FF krisho, kebanyak menggunakan sudut pandang Junmyeon, sangat jarang menggunakan sudut pandang YiFan. Jadi saya berfikir, oh, ini akan menjadi baru kalo dilihat dari sudut pandang YiFan. Tapi saya akan berusaha membuat POV Junmyeon nantinya. Makasih. ^^

.

Oke, langsung saja ke bagian terpenting fict ini, ucapan terima kasih kepada: j12, Guest, kmskjw21, dhearagil, dirakyu, joonmily, Emmasuho, chyu, pikaaChuu, Guest, Krisho Wonkyu, faul, honeykkamjong, anon, leeyeol, Guest, LiezxoticVIP, Oh SeRa Land, everadit, NopwillineKaisoo, AniesLoveWonkyu, kaihun krisho shipper, snowy07, hae15, Raemyoon, nam mingyu, marchtaotao, neorakyu, Yeon ra, Uki96, C, galaxykimkim.

Sekali lagi terima kasih, untuk yang sudah memfollow/ memfavoritkan fict ini, saya ucapkan sangat-sangat terima kasih.

Oke, saya mau promo ff baru saya boleh kan? Oke, judulnya FAULT, masih tetep Krisho dan oneshot. Bagi yang belum sempat baca, silahkan mampir langsung ke TKP. :D

Kamshahamnida ^^