TANGLED

...

Main Cast: Wu YiFan, Kim Junmyeon

...

Other Cast: Member EXO, Lee Jonghyun (CNBlue)

...

Genre: Romance

...

Rate: M to NC-21

...

Disclaimer: Remake dari novel dengan judul yang sama karya Emma Case

...

...

11

Aku tidak membuat kalian bosan dengan detail jorok ini, kan? Aku bisa mempersingkat semua ini dengan hanya mengatakan: Junmyeon dan YiFan bercinta sepanjang akhir pekan.

Tapi itu tidak akan benar-benar menyenangkan.

Dan itu tidak akan memberi kalian gambaran lengkapnya. Dengan mengambil jalan memutar, kalian akan mendapatkan semua faktanya. Dan pemandangan luas dari semua momen kecil mereka. Momen-momen yang tampak konyol dan tidak penting pada saat itu. Tapi sekarang setelah YiFan terkena flu, itu satu-satunya hal yang bisa pemuda itu pikirkan.

Setiap menit setiap hari.

Apakah kalian pernah mengalami ada sebuah lagu yang menempel terus di dalam kepala kalian? Tentu kalian pernah, semua orang mengalaminya. Dan mungkin itu lagu yang indah, bahkan mungkin itu lagu favorit kalian. Tapi itu masih mengganggu, bukan? Ini tidaklah cukup. Karena kalian tidak ingin hanya mendengarnya di otak kalian, kalian ingin lagu itu diputar di radio atau di konser live. Memutar ulang dalam benak kalian hanyalah imitasi murahan. Sebuah ejekan, pengingat bahwa kalian tak mampu mendengar lagunya secara nyata.

Apakah kalian mengerti ke mana arah pembicaraanku ini?

Jangan khawatir, kalian akhirnya akan tahu.

Sekarang, sampai di mana kita? Benar sekali—malam Minggu.


...


"Ini adalah bantal yang sempurna."

Mereka baru saja memesan makanan, emm...masakan Itali, dan mereka sedang menunggu pesanannya datang.

Junmyeon duduk di sofa di tengah sebuah oase bantal dan selimut. Dan dia memegang satu bantal yang berasal dari kamar tidur di pangkuannya.

"Bantal yang sempurna?" YiFan yang memandang gadis itu dengan tatapan tidak mengerti.

"Ya," lanjut Junmyeon. "Aku sangat pilih-pilih ketika menyangkut urusan bantal. Dan yang satu ini sempurna. Tidak terlalu kempis, tidak terlalu gembung. Tidak terlalu keras, tidak terlalu lembek."

YiFan tersenyum. "Senang mengetahuinya, Goldilocks."

Mereka telah memutuskan untuk menonton film. TV Kabel dengan pilihan sesuai permintaan adalah penemuan terbesar kedua di zaman ini. Yang pertama, tentu saja, TV plasma layar lebar. YiFan bangkit untuk mengambil remote sementara Junmyeon meraih sesuatu dari tasnya di lantai.

Apakah aku menyebutkan bahwa mereka masih telanjang? Benar sekali. Ini pembebasan.

Menyenangkan.

Semua bagian yang indah mudah dijangkau. Dan pemandangannya fantastis.

Saat YiFan berbalik untuk berjalan kembali ke sofa, aroma yang sudah ia kenal menyerang lubang hidungnya. Manis dan beraroma bunga. Gula dan musim semi. YiFan melihat Junmyeon sedang menggosok lotion di lengannya. YiFan merebut botol itu darinya, seperti anjing menggigit tulang. "Apa ini?"

YiFan mendekatkan botol ke hidungnya dan menghirup napas dalam-dalam, kemudian jatuh kembali di atas bantal dengan erangan puas.

Junmyeon tertawa. "Jangan menghirupnya. Ini pelembab. Aku tidak sadar melawan kulit kering bisa membuatmu begitu senang."

YiFan mengamati botolnya. Vanili dan lavender. YiFan kembali menghirupnya dalam-dalam. "Aromanya seperti dirimu. Setiap kali kau dekat denganku, kau beraroma seperti...seperti buket bunga sunshine dengan gula di atasnya."

Junmyeon tertawa lagi. "Ah, Kris, aku tak tahu jika kau seorang penyair. William Shakespeare akan sangat iri."

"Apa bisa dimakan?"

Junmyeon membuat ekspresi muak. "Tidak."

Sayang sekali. Padahal YiFan berencana akan menuangkannya pada makanan seperti saus hollandaise. Tapi, kurasa pemuda itu cukup puas mencicipinya pada Junmyeon.

Sekarang karena YiFan memikirkannya, itu adalah pilihan yang lebih ia sukai.

"Mereka juga membuat busa mandi. Karena kau begitu menyukainya, lain kali aku akan membawanya."

Ini petunjuk pertama yang dibuat Junmyeon tentang lain kali. Sebuah kencan di kemudian hari. Sebuah masa depan. Tidak seperti kencan YiFan sebelumnya, usulan pertemuan kedua dengan Junmyeon tidak membuat pemuda itu menjadi acuh tak acuh atau terganggu. Sebaliknya, YiFan antusias, bersemangat tentang prospeknya.

YiFan terpaku menatap Junmyeon untuk sesaat, tenggelam dalam kenikmatan aneh hanya dari menatapnya. Mungkin YiFan bisa mengambil pekerjaan tetap dengan menonton Kim Junmyeon.

"Jadi," Junmyeon bertanya, "Apa kita sudah memutuskan filmnya?"

Gadis itu duduk disamping YiFan, dan lengan pemuda itu secara alami memeluknya. "Aku sedang berpikir menonton Braveheart."

"Ugh. Ada apa dengan film itu? Kenapa semua orang kecanduan?" keluh Junmyeon.

"Ah, alasan yang sama kenapa wanita terobsesi dengan film The Notebook. Itu film yang akan kau usulkan, bukan?"

Junmyeon tersenyum licik, dan pemuda itu tahu jika dia sudah menebak dengan benar.

"The Notebook adalah film romantis."

"It's fucking gay."

Junmyeon memukul wajah YiFan dengan bantal yang "sempurna".

"Ini manis."

"Ini memuakkan. Aku punya beberapa teman homoseksual sejati dan film itu katanya terlalu gay untuk mereka."

Junmyeon mendesah sambil menerawang. "Ini adalah kisah cinta, kisah cinta yang indah. Bagimana setiap orang mencoba memisahkan mereka. Tapi kemudian, bertahun-tahun kemudian, mereka saling bertemu lagi. Itu adalah takdir."

YiFan memutar mata. "Takdir? Ayolah. Takdir itu cerita dongeng, sayang. Dan sisanya adalah setumpuk omong kosong juga. Kehidupan nyata tidak berjalan seperti itu."

"Tapi itu—"

"Itulah sebabnya tingkat perceraian begitu tinggi. Karena film seperti itu memberikan wanita harapan yang tidak masuk akal."

Dan hal yang sama berlaku untuk novel romantis. Luhan praktis pernah mencabut kepala Xiumin karena dia meminjam salah satu majalah Playboy milik YiFan. Namun anehnya setiap musim panas, Luhan berbaring di pantai membaca buku semi porno bersampul Bi Rain.

Ya, YiFan sebut, "porno." Itulah kenyataannya.

Dan itu bahkan bukanlah cerita porno yang bagus: "Pria itu mengarahkan batang yang berbentuk seperti kejantanan kearah kelopak basah dari pusat kewanitaannya."

Who the fuck talks like that?

"Pria sejati tidak berpikir seperti Nolan atau Niles atau siapapun nama bajingan itu."

"Noah."

"Dan pria manakah yang mau membangun kamar di rumahnya untuk seorang gadis yang mengisap kejantanannya? Pria manakah yang mau menunggu selama bertahun-tahun untuk gadis yang sama akan muncul di pintu rumahnya, hanya untuk mengetahui bahwa gadis itu sudah bersama pria lain? Dia sama sekali bukan seorang laki-laki."

"Kalau begitu siapa dia?"

"Vagina berambut lebat yang tidak di wax."

Apakah itu terlalu kasar?

I'm afraid that it was.

Sampai akhirnya Junmyeon menutup mulutnya dengan tangan dan jatuh diatas sofa, tertawa terbahak-bahak. "Oh...Ya...Tuhan. Kau benar-benar...orang...jorok. Bagaimana...kau bisa menemukan kalimat ini?"

YiFan mengangkat bahu. "Aku menyebut mereka menurut pandanganku. Aku tidak akan minta maaf untuk itu."

Tawa Junmyeon mereda, tapi senyumnya masih tersisa. "Oke, jangan menonton Notebook."

"Terima kasih."

Kemudian wajah gadis itu berseri. "Oohh, bagaimana kalau Anchorman: The Legend of Ron Burgundy?"

"Kau suka Will Ferrell?"

"Apa kau bercanda? Apa kau pernah menonton Blades of Glory?"

Itu salah satu film favorit YiFan. "The Iron Lotus? Film klasik."

Junmyeon menaik turunkan alisnya kearah YiFan dan mengutip kalimatnya dengan ahli, "Kau punya krim untuk meredakan luka bakar yang parah itu?"

YiFan tertawa. "God, I love y—"

Kemudian YiFan tersedak.

Dan batuk.

Dan berdehem.

"I love…that movie." YiFan memainkan remote-nya, dan mereka berbaring di sofa ketika film Anchorman mulai.

Ya, kenapa kalian mulai memandang YiFan dengan tatapan seperti itu lagi? Dan hey, hentikan teriakan kalian. Bukankah kita sudah melakukan kesepakatan? Oke, jangan marah pada YiFan sekarang. Mohon semua tenang sebentar, bisa? It was a simple mistake. A slip of the tongue. Nothing more.

Lidah pemuda itu akhir-akhir ini terlalu sering dipakai, jadi kupikir ini bisa dimaklumi.


...


Setelah makan, mereka terus menonton Ron Burgundy, saling menyandarkan tubuh satu sama lain di sofa, punggung Junmyeon menempel dada YiFan. Sedangkan wajah pemuda itu di rambut gadis itu, menghirup aroma yang sudah membuatnya menjadi kecanduan. YiFan terhanyut ke dalam mimpi. Tawa Junmyeon bergetar di dada YiFan saat ia bertanya dengan lembut, "Apa itu yang kau pikirkan tentangku?"

"Hmmm?"

"Saat aku mulai bekerja di perusahaan. Apa kau pikir aku adalah seorang 'wanita kalajengking'?"

Junmyeon mengacu pada kalimat dari Will Ferrell yang baru saja diucapkan dalam film. YiFan tersenyum dengan mengantuk.

"Aku...ketika aku pertama kali melihatmu hari itu di ruang konferensi, itu sangat mengejutkanku. Setelah itu, aku tahu bahwa segalanya tidak akan pernah seperti dulu lagi."

Junmyeon pasti menyukai jawaban pemuda itu. Karena satu menit kemudian, gadis itu menggesek pinggulnya ke tubuh Yifan. Dan kejantanan setengah tegak YiFan meluncur di antara celah pantatnya.

YiFan tak peduli betapa lelahnya seorang pria, dia bisa saja bekerja tiga puluh lima jam mengangkut kantong pasir ke seluruh penjuru negeri, tapi gerakan itu akan selalu dan selalu membangunkannya.

Bibir YiFan bergerak menuju leher putih Junmyeon saat tangannya meluncur di perut gadis itu. "Oh Tuhan, Junmyeon. aku tidak bisa berhenti...menginginkanmu."

Sudah mulai menggelikan, bukan?

YiFan merasa napasnya meningkat. Junmyeon berbalik menghadapnya, dan bibir mereka bertemu. Tapi sebelum mereka melangkah lebih jauh, rasa penasaran menguasai YiFan, dan ia menarik diri. "Apa yang kau pikirkan tentangku ketika kita pertama kali bertemu?"

Mata gadis itu bergulir ke langit-langit sambil merenungkan jawabannya.

Kemudian Junmyeon tersenyum. "Yah...malam pertama di REM, kupikir kau...berbahaya. Kau memancarkan aura seks dan pesona."

Jemari Junmyeon menelusuri bibir dan alis YiFan. "Senyum itu, matamu, keduanya seharusnya terlarang. Itu adalah satu-satunya waktu selama hubunganku bersama Jonghyun dimana aku berharap aku masih lajang."

Wow .

"Dan kemudian di kantor aku mendengar para sekretaris membicarakanmu. Bagaimana kau berganti-ganti wanita setiap akhir pekan. Tapi setelah beberapa saat...aku melihat bahwa ada banyak hal yang lebih tentang dirimu. Kau brilian dan lucu. Kau protektif dan perhatian. Kau bersinar begitu terang, Kris. Segala sesuatu yang kau lakukan, caramu berpikir, hal-hal yang kau ucapkan, caramu bergerak, itu semua...menyilaukan. Aku merasa beruntung...hanya berada di dekatmu."

YiFan tak mampu bicara.

Jika ada wanita lain mengatakan itu pada YiFan, ia setuju dengannya. YiFan akan mengatakan padanya bahwa dia beruntung bisa bersama dirinya, well karena YiFan terbaik dari yang terbaik. Tak ada yang lebih baik. Namun berasal dari bibir Junmyeon? Dari seseorang yang pikirannya membuat pemuda itu iri, pendapat siapa yang sebenarnya lebih ia kagumi? YiFan hanya...tidak punya kata-kata. Jadi, sekali lagi, YiFan membiarkan perbuatannya saja yang bicara.

Bibirnya menekan bibir Junmyeon, dan lidahnya memohon untuk masuk. Tapi ketika YiFan mencoba untuk memutar mereka sehingga YiFan berada di atas tubuhnya, Junmyeon punya ide lain. Dia mendorong bahu YiFan sampai pemuda itu telentang. Lalu Junmyeon menggerakkan mulutnya di atas rahang dan leher YiFan, membakar jejak ke bawah dada dan perut pemuda itu. YiFan menelan ludah.

Junmyeon memegang kejantanan YiFan di tangannya dan memompa dengan perlahan, dan milik YiFan sudah keras seperti baja. Miliknya sudah tegang saat dia mulai bicara tadi. "Oh Tuhan, Junmyeon..." YiFan tetap membuka matanya, dan melihat dari atas saat Junmyeon membasahi bibirnya, membuka mulutnya, dan kejantanan YiFan meluncur masuk "Sial..."

Junmyeon memasukkan seluruh kejantanan YiFan di dalam mulutnya dan mengisap keras saat ia menarik keluar dengan perlahan. Lalu dia melakukannya lagi.

YiFan adalah penikmat oral seks. Untuk seorang pria, oral seks adalah jenis seks yang paling mudah. Tanpa repot, sedikit kekacauan. Jika ada di antara kalian di luar sana belum pernah melakukannya, YiFan akan memberitahu kalian sebuah rahasia kecil. Setelah kejantanan seorang pria masuk ke dalam mulutmu, dia akan sangat senang, hingga tidak terlalu peduli apa yang kalian lakukan pada dia sesudahnya. Namun, ada trik tertentu yang membuat oral seks lebih nikmat.

Junmyeon memompa milik YiFan dengan tangannya sambil meningkatkan hisapan di ujungnya dengan mulut kecilnya yang seksi.

Seperti sekarang, misalnya.

Junmyeon memutar-mutar lidahnya di sekitar bagian kepala seperti dia menjilati permen lolipop. Dari mana dia mempelajarinya? YiFan mengerang tak berdaya dan mencengkeram bantal sofa. Junmyeon memasukkan seluruh milik YiFan ke tenggorokannya sekali, kemudian dua kali. Kemudian dia berganti menjadi gerakan cepat, memompa secara pendek dengan mulut dan tangan.

Ini luar biasa. YiFan sudah pernah di hisap oleh yang terbaik dari mereka. Dan YiFan bersumpah demi Tuhan, Kim Junmyeon punya teknik seorang bintang porno.

YiFan mencoba untuk tetap diam, sadar bahwa ini sesungguhnya adalah kali pertamanya, tapi sulit. Dan kemudian tangan Junmyeon berpindah ke bawah tubuh YiFan, pada pantatnya, mendesak YiFan ke atas. Junmyeon dengan ahli membimbing pinggul pemuda itu naik turun, mendorong kejantannya keluar masuk mulutnya. Oh Tuhan. Junmyeon menyingkirkan tangannya, tapi pinggulnya terus bergerak dalam tusukan dangkal.

YiFan hampir kehilangan kendali, tapi YiFan selalu memberikan peringatan terlebih dulu. Jika seorang pria tidak memperingatkanmu? Campakkan dia secepatnya. Dia pria brengsek.

"Junmyeon...sayang, aku...jika kau tidak menyingkir sekarang...Oh Tuhan, aku akan..." kata-kata yang jelas rupanya sudah di luar kemampuan YiFan saat ini. Namun, ia pikir Junmyeon memahaminya.

Tapi Junmyeon tidak menyingkir. Dia tidak berhenti. YiFan menunduk bersamaan saat Junmyeon membuka matanya dan mendongak. Dan hanya itulah yang YiFan butuhkan. Ini adalah momen yang sudah ia bayangkan sejak pertama kali YiFan melihat gadis itu. Mata cokelat besar Junmyeon menatapnya ketika kejantanannya meluncur kedalam bibir sempurnanya. Dengan merintih menyebut namanya, YiFan mengisi mulutnya dengan semburan cairannya. Junmyeon mengerang dan mengisap semuanya, menelan dengan rakusnya.

Setelah apa yang nampaknya lama sekali, YiFan mulai tenang. Kalian tahu rasanya saat pertama kali melangkah keluar dari Jacuzzi? Bagaimana kaki kalian terasa lunglai seperti Jelly? Ya, itu YiFan. Saat ini.

YiFan terengah-engah dan menyeringai seperti orang idiot saat ia menarik Junmyeon ke atas dengan memegang bahunya dan mencium dengan dalam. Oke, Sebagian pria jijik mencium seorang wanita yang mulutnya baru saja mereka masuki. Tapi YiFan bukan salah satu dari mereka. "Bagaimana kau belajar memberikan oral seperti itu?"

Junmyeon menertawakan ekspresi heran dalam suara YiFan saat ia telentang di atasnya. "Baekhyun berkencan dengan seorang pemuda di kampus. Pemuda itu benar-benar suka film porno. Setiap kali datang dia selalu meninggalkan film di asrama kami. Dan, sesekali...aku akan menontonnya."

Lain kali jika YiFan bertemu Byun Baekhyun? Ingatkan YiFan untuk berlutut dan mencium pantatnya.


...


Setelah filmnya selesai, Junmyeon dan YiFan memutuskan untuk menonton film Will Ferrell secara marathon. Mereka sudah menonton separuh film Blades of Glory ketika telepon pemuda itu berdering. Mereka masih duduk di sofa, berbaring berdampingan dengan nyaman, dan YiFan tak punya niat untuk bangun. Atau bicara pada seseorang yang tidak ada di ruangan ini, sebetulnya.

YiFan membiarkan mesin penjawab telepon yang menjawab. Suara Jongin memenuhi ruangan, berteriak diantara dentuman musik di belakangnya: "Kris, Dude, pick up! Where the fuck are you?" Dia berhenti sesaat, dan YiFan mengira jika Jongin akan menyadari ia tidak akan mengangkatnya.

"Kau harus keluar malam ini, bung! Aku ada di klub Sixty-Nine, dan ada seseorang di sini yang ingin bertemu denganmu."

Ini tidak terdengar menjanjikan. YiFan mulai duduk, naluri laki-lakinya mengatakan untuk segera mematikan mesinnya. Sekarang. Tapi YiFan masih kurang cepat. Dan suara wanita yang sensual keluar dari Kotak Pandora. "Krisss...ini Hyuna. I've missed you, baby. Aku ingin naik taksi lagi. Ingat malam itu ketika Aku mengisap kejantananmu begitu nik-"

Tangan pemuda itu segera menepuk ke bawah pada tombol off.

Lalu YiFan melirik ke arah Junmyeon. Wajahnya beku ke layar TV, ekspresinya tidak terbaca. YiFan seharusnya mengatakan sesuatu. Tapi apa yang harus ia katakan? "Maaf, salah satu pelacurku menelepon?"

Ya, aku tahu harusnya YiFan bisa berkata yang lebih baik dari pada itu, tapi entahlah hanya kalimat itu yang sanggup keluar dari mulutnya. Dan yeah, karena alasan tertentu, kupikir alasannya tidak akan diterima dengan baik oleh gadis itu. Bahkan kalian bisa melihatnya sendiri hanya dari ekspresi yang ditunjukkan oleh Junmyeon.

Junmyeon duduk tegak dengan kaku, lalu tiba-tiba dia berkata, "I should probably get going."

Shit. FriggingJongin.

Junmyeon bangkit, memegang bantal dengan erat, menutupi tubuhnya.

Yah, itu bukan pertanda bagus. Satu jam yang lalu dia mendorong selangkangannya ke wajah YiFan. Sekarang dia bahkan tidak ingin pemuda itu untuk melihatnya.

Sialan.

Junmyeon berjalan melewati YiFan menuju kamar tidur. Bahkan dengan perut yang melilit, YiFan masih saja mengagumi goyangan pantat ketatnya saat gadis itu berlalu. Bisa ditebak, kejantanan pemuda itu berdiri seperti Dracula bangkit dari peti matinya.

Ketika YiFan berumur sepuluh tahun, mereka punya anjing. Anjing itu menggesek segala benda, apapun, mulai dari kaki pembantu, atau ranjang empat-tiang milik orangtua YiFan. Anjing itu tak pernah puas. Dan hal itu praktis membuat orangtua YiFan malu bila ada teman yang mampir. Tapi sekarang YiFan menyadari bahwa ia benar-benar bukan anjing yang buruk. Itu bukan salahnya.

Akhirnya, YiFan merasakan penderitaanmu, Fido.

YiFan mendesah. Dan bangun untuk mengikuti Junmyeon. Pada saat ia sampai ke kamar tidur, rok Junmyeon sudah terpasang dan blusnya sudah terkancing. Gadis itu tidak melihat ke arah YiFan ketika pemuda itu berjalan masuk.

"Junmyeon—" YiFan memanggilnya dengan lirih.

"Apa kau tahu di mana sepatuku yang satunya?" tanya Junmyeon. Matanya menatap lantai, tempat tidur, ke manapun kecuali kearah YiFan.

"Junmyeon—" YiFan mencoba memanggilnya lagi.

"Mungkin di bawah tempat tidur." Dengan cepat Junmyeon berlutut, melayangkan pandangannya ke sekitar kolong tempat tidur.

"Kau tidak harus pergi." Ucap YiFan akhirnya.

Gadis itu sama sekali tidak mendongak. "Aku tidak ingin menghalangi rencanamu."

Rencana siapa? Satu-satunya rencana yang YiFan punya adalah memakan dengan rakus prasmanan lezat yang ada di antara pahanya. Lagi.

"Aku tidak—"

"Tidak apa-apa, Kris. Kau tahu, ini sudah bagus..." potong Junmyeon.

Apa kalian juga mendengar apa yang baru saja gadis cantik ini katakan? Bagus? Dia menyebut apa yang mereka lakukan tadi malam dan sepanjang hari di kamar tidur, dapur, kamar mandi, menempel dinding lorong hanya dengan kata "bagus"? Is she fucking joking?

Pada saat itu Junmyeon pasti melihat ekspresi wajah YiFan, karena dia berhenti di tengah kalimat dan mengangkat alis. "Maafkan aku, apa itu kata sifat yang salah? Apa aku menghina ego laki-lakimu yang rapuh?"

YiFan tergagap dengan marah, "Well...yeah."

"Kata apa yang lebih kau sukai?"

Sekedar info-YiFan masih telanjang, dan jika kondisi kejantanannya adalah indikasinya, tidak butuh seorang Einstein untuk mengetahui apa yang benar-benar YiFan sukai pada saat ini.

"Luar biasa? Transenden? Tak tertandingi?" YiFan menekankan setiap kata dengan langkah predator ke arah Junmyeon.

Gadis itu mengimbangi langkah maju YiFan dengan berjalan mundur secara gugup, sampai pantatnya membentur meja. YiFan menyeringai ke arahnya. "Kau lulusan dari program bisnis paling bergengsi di negara ini, Junmyeon. Kehormatanku menuntutmu untuk memunculkan sesuatu, apapun, yang lebih baik dari kata 'bagus.'"

Junmyeon menatap dada YiFan sebentar. Lalu ia mendongak menatap mata YiFan. Dia tampak serius. "Aku harus pergi."

Dia mencoba untuk berjalan melewati YiFan, tapi pemuda itu meraih lengannya dan menariknya kembali. "I don't want you to go."

No, don't ask him why. Karena YiFan tidak akan menjawab. Tidak sekarang. YiFan hanya terfokus pada kejadian di sini—dan tentunya, Junmyeon. Sisanya tidak penting. Di sisi lain, Junmyeon melihat tangan YiFan yang memegang lengannya, lalu menatap pemuda itu. "Kris..."

"Don't leave, Junmyeon." YiFan mengangkat tubuh Junmyeon, mendudukkannya di atas meja, dan melangkah di antara kedua kakinya. "Stay." Ucapnya.

Kemudian YiFan mencium leher dan menggigit telinga Junmyeon. Gadis itu bergidik. "Stay with me, Junmyeon." Bisik YiFan, lalu menatap ke arah mata gadis itu. "Please."

Junmyeon menggigit bibir. Lalu tersenyum perlahan. "Okay."

YiFan tersenyum membalasnya. Dan kemudian mulutnya menempel di bibir Junmyeon. Ciuman ini panjang, lambat, dan dalam. YiFan menyingkap roknya, menelusuri kulit pahanya dengan ujung jarinya. Junmyeon masih tidak memakai celana dalam.

Most people have got to love the easy access, right?

YiFan berlutut di depan Junmyeon. "Kris...?" Nadanya terdengar setengah pertanyaan, setengah rintihan.

"Shhh. Jika aku ingin mengungguli apa yang kau sebut 'bagus', aku perlu berkonsentrasi."

And there's not a single coherent word between them for the rest of the night.


...


Setiap superhero memiliki tempat persembunyian, tempat perlindungan. Setidaknya semua superhero yang baik akan melakukannya. Begitu juga dengan tokoh utama kita, YiFan punya tempat persembunyian. Bat Cave pribadi. Tempat di mana keajaiban terjadi. Di mana YiFan telah membangun legenda, yaitu kariernya.

Sebuah kantor yang ada di apartement-nya.

Ini adalah tempat berlindung kaum pria. Sebuah zona bebas wanita, tentu saja di lihat dari sudut pandang yang baik. Setiap orang harus memilikinya. YiFan mendekorasinya sendiri, setiap bagian, setiap detail. Jika mobilnya adalah anak bungsu, maka ruangan ini adalah anak sulungnya. Kebanggaan dan suka cita YiFan.

Lantai kayu mahoni, karpet oriental buatan tangan, sofa kulit dari Inggris. Sebuah perapian batu dan rak buku built-in berjajar di salah satu dinding. Di belakang meja YiFan ada jendela lebar yang menawarkan pemandangan tak ternilai dari kota ini. Dan di sudut ada meja untuk bermain kartu di mana YiFan dan teman-temannya minum Scotch tua, mengisap cerutu Kuba, dan bermain poker sebulan sekali.

Ini satu-satunya waktu di mana Xiumin diperbolehkan keluar dan bermain.

YiFan berada di mejanya, memakai celana boxer, bekerja dengan laptopnya. Itu yang ia lakukan setiap hari Minggu sore.

Junmyeon? Tidak, kalian tenang saja dia masih di sini. Tapi setelah mereka bercinta secara maraton tadi malam, kurasa YiFan harus membiarkan gadis itu tidur. Isi ulang baterai. YiFan membatalkan santap siang dengan ibunya dan mengabaikan permainan basket dengan teman-temannya. Dan sekarang YiFan menatap rancangan akhir dari sebuah kontrak ketika suara mengantuk memanggilnya dari ambang pintu.

"Hei."

YiFan mendongak dan tersenyum. "Hai."

Junmyeon mengenakan salah satu dari T-shirt Yifan, T-shirt hitam bergambar Metallica. Kaos itu menjuntai sampai melewati lututnya. Apa yang ia kenakan dan rambut acak-acakan sehabis tidurnya, membuat dia terlihat manis tapi seksi. Memikat. Dibandingkan dengan Junmyeon, bekerja terlihat tidak begitu membuat YiFan berselera lagi.

Junmyeon mengusap tangan keatas rambutnya saat matanya menyapu seluruh ruangan. "Ini adalah kantor yang indah, Kris. Menakjubkan."

Junmyeon adalah tipe wanita yang menghargai pentingnya sebuah ruang kerja yang menakjubkan. Jika kalian ingin menjadi pemenang, Kalian perlu sebuah kantor yang menyatakan bahwa kalian memang sudah menjadi pemenang.

"Thanks. It's my favorite room in the apartment."

Junmyeon tersenyum, "I can see why." Kemudian ia mulai berjalan di sekitar ruangan.

Junmyeon mengambil sebuah pigura dari salah satu rak dan menunjukkannya pada YiFan. "Siapa ini?"

Ini adalah foto Taemin dan YiFan saat di pantai musim panas lalu.

Gadis mungil itu mengubur YiFan sampai ke leher di pasir. "Keponakanku, Taemin."

Junmyeon menatap foto itu dan tersenyum. "Dia menggemaskan. Aku yakin dia memujamu."

"Ya, memang. Dan aku hampir yakin akan memotong tanganku untuknya jika dia memintaku, jadi cukup adil. Aku akan senang untuk mempertemukanmu dengannya suatu hari nanti."

Junmyeon tidak ragu-ragu. "Aku akan sangat menyukainya."

Junmyeon berjalan menghampiri kursi YiFan dan mengambil posisi duduk di lutut pemuda itu. YiFan membungkuk sampai bibirnya menemukan bibir Junmyeon, kemudian lidahnya mendorong jauh ke dalam bibir Junmyeon yang sekarang sudah ia kenal dengan baik.

Gadis itu merapatkan tubuhnya ke dada telanjang YiFan. "You're so warm."

Ia menyandarkan kepalanya di bahu YiFan dan melihat ke arah komputer. "Apa yang sedang kau kerjakan?"

YiFan mendesah. "Ini kesepakatan dengan Jarvis Technologies."

Jarvis adalah sebuah perusahaan komunikasi. Mereka ingin mengakuisisi anak perusahaan satelit broadband.

YiFan mengusap matanya.

"Ada masalah?"

YiFan biasanya adalah serigala kesepian ketika terkait dengan urusan bisnis. YiFan tidak curhat, YiFan tidak berbagi. Pendapat priabdinya adalah satu-satunya yang diperhitungkan. Tapi berbicara dengan Junmyeon tentang bisnis seperti berbicara dengan diri sendiri. YiFan benar-benar tertarik untuk mendengar apa yang akan dia katakan.

"Ya. CEO-nya cukup pintar tapi dia tidak punya keberanian. Aku sudah punya kesepakatan sempurna yang berjajar mengantri, tapi dia tidak mau menarik pelatuk. Dia terlalu cemas tentang risikonya."

Junmyeon menggerakkan jarinya menelusuri rahang YiFan. "Setiap akuisisi memiliki risiko. Kau harus menunjukkan padanya imbalannya cukup layak."

"Itulah apa yang sedang coba kulakukan."

Junmyeon kemudian berseri. "Kau tahu, aku punya sesuatu yang bisa membantumu. Salah satu mitra studi lamaku dari Seoul University mendesain template untuk model valuasi baru. Jika kau menjalankannya dan angkanya akurat, mungkin saja cukup untuk membujuk Jarvis agar mau mengambil risiko."

YiFan mulai menganggap bahwa kecerdasan Junmyeon membuatnya menjadi terangsang hampir sama dengan pantatnya.

Almost.

"Itu ada di dalam flash disk di tasku. Akan kuambilkan untukmu."

Ketika Junmyeon berdiri untuk pergi, YiFan meraih bagian bawah kaosnya dan menariknya kembali ke pangkuannya, jadi tidak mungkin Junmyeon tidak merasakan kejantanan Yifan yang tegang terus menerus. Lengan pemuda itu melingkari pinggangnya, menjebak dirinya. Mulutnya menempel telinga gadis itu.

"Sebelum kita masuk ke sana, ada sesuatu yang ingin kulakukan terlebih dulu."

Ada nada geli dalam suaranya saat Junmyeon bertanya, "Apa yang ingin kau lakukan, Kris?"

YiFan mengangkatnya, menyapu segala benda dari mejanya, dan membaringkan gadis itu di atasnya.

"You."


...


Mereka menghabiskan sisa hari dengan bekerja. Berbincang dan tertawa. YiFan menceritakan pada Junmyeon tentang Taemin dan Stoples Omongan Jorok yang mengisap uangnya sampai kering. Dan Junmyeon memberitahu YiFan lebih jauh tentang masa remajanya di Kangwondo Yanggu dan kafe orangtuanya. Mereka makan siang di balkon. Saat ini dingin, jadi Junmyeon duduk di pangkuan YiFan agar tetap hangat dan menyuapi pemuda itu dengan jemarinya.

YiFan tidak ingat pernah menikmati waktu seindah ini. Dan mereka bahkan tidak bercinta.

Sungguh aneh.


...


Saat ini jam sepuluh lewat. Mereka sedang bersiap-siap untuk tidur. Junmyeon ada di kamar mandi.

Sendirian.

Dia mengambil pisau cukur YiFan dan mengusir pemuda itu keluar. Berbeda dengan wanita, pria tidak butuh privasi. Tidak ada kebutuhan badaniah seorang pria yang tidak akan dilakukan di depan orang lain.

Mereka tidak punya malu.

Tapi terserah, jika Junmyeon membutuhkan ruang, dia bisa mendapatkannya. YiFan menyibukkan diri sementara ia menunggu, seperti mengganti seprai. YiFan mengambil kotak kondom dari lacinya, untuk menyiapkan beberapa buah agar mudah dijangkau.

Kemudian YiFan langsung kecewa. Dan jika bisa, penisnya pasti akan menangis.

Kotaknya kosong. "Sial."

"Aku juga berpikir begitu. Dua orang yang berpikiran sama."

YiFan berbalik mendengar suara Junmyeon. Gadis itu berdiri di ambang pintu, satu tangan di pinggulnya, tangan yang lain berpegangan pada kusen pintu. Dia telanjang dengan indah dan mengagumkan. Vaginanya dicukur bahkan lebih pendek daripada sebelumnya, hanya ada sedikit ikal gelap. Oh Tuhan.

YiFan terus menunggu saat dimana tubuh Junmyeon tidak lagi mempengaruhinya. Ketika YiFan merasa sudah-pernah-mengalaminya. Sejauh ini, malah sebaliknya.

Ini seperti...makan lobster. Jika kalian belum pernah memakannya, kalian berpikir, "Eh, mungkin saja." Tapi setelah kalian mencicipinya? Kesempatan untuk memakannya lagi membuat mulutmu berliur seperti Sungai Mississippi. Because now you know how fucking delicious it really is. Even just the thought her…God. YiFan mungkin menjadi orang pertama dalam sejarah yang mampu bermasturbasi tanpa menyentuh dirinya sendiri.

Lihat, Mom—tanpa tangan.

Junmyeon berjalan ke arah YiFan, melingkarkan lengannya di leher YiFan dan menciumnya dengan perlahan, lidahnya keluar menelusuri bibir bawah YiFan dengan cara yang paling seksi. Dalam kondisi lain YiFan pasti sangat menyukai hal ini, dan akan langsung memakan Junmyeon saat itu juga. Namun, kali ini berbeda, dia kehabisan stok kondom, dan ia memaksa diri untuk mundur. "Junmyeon, tunggu...kita tidak bisa."

Tangan Junmyeon meluncur ke celana boxer YiFan, menuju kejantanannya yang sudah keras. Gadis itu memompanya beberapa kali. "Kupikir dia tidak setuju denganmu."

YiFan menekan keningnya dengan kening Junmyeon. "Tidak...maksudku, kita kehabisan. Kondom. Aku...um..." Suara YiFan terdengar seperti tercekik.

Dengan terpaksa YiFan menaruh tangannya di tangan Junmyeon, menghentikan gesekannya sehingga YiFan bisa merangkai beberapa kata yang dapat dipahami menjadi satu. "Aku harus pergi ke toko di sudut jalan dan membeli lebih banyak lagi...dan kemudian...Oh Tuhan, lalu aku akan bercinta denganmu sepanjang malam."

Junmyeon menunduk dan menelan ludah. Suaranya berbisik. "Or, we could…not…use them."

"What?"

YiFan belum pernah berhubungan seks tanpa kondom. Sekali pun. Bahkan saat masa remajanya. YiFan terlalu menyayangi kejantanannya sehingga takut terkena penyakit yang menyebabkan miliknya jadi mengerut dan rontok.

"Aku minum pil KB, Kris. Dan Jonghyun...dia bisa berarti banyak hal, tapi ia tidak pernah berselingkuh. Apa kau pernah...dites?"

Tentu saja YiFan pernah. Sekali sebulan, selama YiFan bisa ingat. Ini suatu keharusan untuk gaya hidupnya. Bisa dikatakan sebuah risiko profesi. Suara YiFan praktis seperti mencicit. "Ya. Aku...Aku pernah. Hasilnya bagus. Tapi...apa kau yakin?"

YiFan sudah pernah ditawari banyak hal di tempat tidur. Segala jenis alat aneh dan permainan peran yang bisa kalian bayangkan. Beberapa dari kalian mungkin tidak bisa membayangkannya. Namun bercinta tanpa pelindung belum pernah masuk dalam daftar. Ini bukan tindakan yang pintar atau aman. Seorang wanita bisa mengatakan dia minum pil KB, tapi bagaimana kalian bisa benar-benar tahu? Orang bisa mengatakan mereka bebas penyakit, tapi YiFan tidak akan meyakininya. Itu membutuhkan kepercayaan.

Dan kepercayaan tidak pernah menjadi faktor dalam kehidupan seksnya.

Ini bukan tentang saling berbagi, mengenal seseorang, dan membiarkan mereka mengenalnya. Ini tentang bagaimana cara membuatnya klimaks dan membuat gadis orgasme dalam prosesnya. Titik.

"Aku ingin merasakan milikmu, Kris. Aku ingin kau merasakan milikku. Aku tidak ingin...ada penghalang apapun diantara kita."

YiFan menatap ke dalam mata Junmyeon. Dan caranya menatap YiFan...persis seperti yang ia lakukan setelah mereka mandi kemarin. Seolah Junmyeon memberi YiFan sesuatu, sebuah hadiah. Hanya untuk pemuda itu. Dan hadiah itu adalah dirinya. Karena gadis itu mempercayai YiFan, memiliki keyakinan pada YiFan, percaya pada YiFan. Dan kalian tahu?

YiFan tak pernah ingin Junmyeon memandangnya dengan cara yang lain.

"Junmyeon, beberapa hari terakhir denganmu sungguh menakjubkan. Aku tidak pernah...Aku belum pernah..." YiFan bahkan tak tahu bagaimana menjelaskan apa yang sedang ia rasakan. YiFan tidak tahu bagaimana mengatakan itu padanya. YiFan mencari nafkah dengan memanfaatkan kemampuannya dalam berkomunikasi. Dengan mampu mengungkapkan sebuah ide. Mendeskripsikan rencana.

Tapi pada saat ini kata-kata YiFan sangat tidak memadai.

Jadi YiFan meraih lengan atasnya dan menyeret Junmyeon kearahnya. Gadis itu mengerang karena terkejut atau senang, YiFan tidak yakin yang mana. Lidahnya meluncur masuk ke dalam bibir pemuda itu, dan tangannya menarik-narik rambutnya. Akhirnya mereka berada di tempat tidur, berdampingan, mulut melebur bersama, dan celana boxer YiFan sudah berada di atas lantai. Dengan cekatan YiFan menggerakkan tangannya meluncur di atas payudara Junmyeon, turun di perutnya, dan di antara kedua kakinya.

YiFan mengerang, "Sial, Junmyeon, ternyata kau sudah basah."

Dan memang benar. YiFan nyaris tidak menyentuhnya dan Junmyeon sudah basah kuyup untuknya. Oh Tuhan. YiFan tak pernah menginginkan siapapun atau apapun seperti ia menginginkan Junmyeon saat ini. Di sisi lain, Junmyeon menggigit kecil leher Yifan saat pemuda itu menggeser jemarinya ke dalam. Lubang kewanitaanya melingkupi jemari YiFan seperti sarung tangan, dan mereka berdua mengerang dengan keras.

Kemudian tangan Junmyeon bergerak di seluruh tubuh Yifan. Menangkup bola YiFan, membelai kejantanannya, menggaruk dada, dan punggungnya.

YiFan menggulingkan Junmyeon di bawahnya. YiFan butuh gadis itu, sekarang. Kemudian merangsang milik Junmyeon agar terbuka dengan kejantanannya, YiFan membasahi ujung penisnya dengan cairan manis Junmyeon. Dan, panas bergulung keluar darinya.

Junmyeon seperti api, memanggilnya, menariknya masuk. YiFan mendorong perlahan tapi sampai ke pangkalnya, dan mata YiFan tertutup oleh kenikmatan yang sempurna.

Junmyeon telanjang, tak terjaga, melingkupi YiFan. Gadis itu terasa...lebih. Lebih basah, lebih panas, lebih ketat. Lebih dalam segala hal. Sulit dipercaya.

Junmyeon mencengkeram pantat YiFan, meremas dan memijat dan mendesak pemuda itu untuk masuk lebih dalam lagi. Tapi YiFan menarik semuanya keluar, hanya agar dapat meluncur masuk kembali.

Ya Tuhan.

YiFan mengatur temponya. Tidak lambat atau manis atau lembut. Ini brutal dan panas, dan sangat menakjubkan.

Rintihan nyaring keluar dari bibir Junmyeon. Kemudian mulut YiFan melumat bibirnya lagi, memotong rintihannya. Dan mereka mencengkeram satu sama lain, putus asa dan liar.

Seperti ini adalah pertama kalinya. Seperti ini adalah terakhir kalinya.

Junmyeon menggulung milik Yifan dengan segala cara. Seksnya menyelubungi kejantanan Yifan, kakinya melingkari pinggang pemuda itu, dan tangannya merangkul leher YiFan, semua membungkus erat seperti suatu catok yang nikmat. Dan YiFan membenamkan diri ke dalamnya, ingin menjadi lebih dekat, butuh lebih dalam. Oh Tuhan, jika bisa YiFan sangat ingin merangkak masuk dalam dirinya dan tak pernah ingin keluar lagi.

Tangan Junmyeon menemukan tangan YiFan. Jemari mereka terjalin bersama, dan YiFan menariknya bergabung di atas kepalanya. Dahi mereka saling menempel, setiap engahan, setiap napas bercampur dan berbaur. Pinggul mereka bergerak bersama, seperti aliran laut. Maju mundur. Dengan gerakan yang serempak. Bersama.

Mata mereka bertemu. "God, Kris…don't stop…please, don't ever stop."

YiFan tenggelam di dalam dirinya. YiFan nyaris tak bisa menarik napas. Tapi entah kenapa akhirnya YiFan bisa berkata, "I won't. I'll never stop."

YiFan merasakannya saat dia orgasme. Setiap inci miliknya yang basah dan panas mengetat penuh kenikmatan di sekeliling kejantanannya. Dan begitu nikmat...begitu intens sampai YiFan ingin menangis oleh kenikmatannya. YiFan membenamkan wajahnya di leher Junmyeon, menghirup aromanya, melahapnya. Dan kemudian YiFan klimaks bersamanya, di dalam rahim gadis itu. Cairannya membanjiri tubuh Junmyeon dengan dorong penuh nafsu. Aliran listrik yang indah mengaliri YiFan saat satu kata keluar dari bibirnya berulang kali:

"Junmyeon...Junmyeon...Junmyeon...Junmyeon."

Ini keajaiban.

Setelah beberapa saat, tubuh mereka terdiam. Satu-satunya suara di kamar ini adalah napas yang cepat dan debaran jantung.

Lalu Junmyeon berbisik, "Kris? Are you all right?" YiFan mendongak dan mendapati mata indah Junmyeon sedang menatapnya penuh keprihatinan. Tangannya menangkup pipi YiFan dengan lembut. "You're shaking."

Pernahkah kalian mencoba untuk mengambil foto dari sesuatu yang sangat jauh? Kalian melihat kedalam lensa dan seluruh pemandangan yang terlihat adalah gumpalan buram? Jadi kalian memainkan fokusnya, memperbesar dan memperkecilnya. Kemudian kameranya berputar dan beberapa detik kemudian—boom—jernih seketika.

Semuanya terkunci pada tempatnya.

Gambarnya sejernih kristal.

Seperti itulah apa yang YiFan rasakan—saat ini—memandang Junmyeon. Mendadak, semuanya begitu jelas. Jadi sangat jelas.

YiFan jatuh cinta pada Junmyeon. Secara total. Tanpa daya. Dengan menyedihkan.

Jatuh cinta.

Junmyeon memiliki dirinya. Jiwa dan raga.

Gadis yang selalu YiFan pikirkan. Junmyeon adalah segala hal yang tak pernah ia inginkan. Bukan hanya sempurna—dia sempurna bagi YiFan.

Ia akan melakukan apa pun untuk Junmyeon.

Apa pun.

YiFan menginginkan Junmyeon di dekatnya, dengannya. Setiap saat.

Selamanya.

Ini bukan hanya tentang seks. Ini bukan hanya tubuh indahnya atau pikiran cemerlangnya. Ini bukan hanya karena Junmyeon membuatnya berpikir atau betapa antusiasnya gadis itu menantangnya. Lebih dari semua itu.

Ini adalah semuanya.

Ini adalah dia, Kim Junmyeon.

YiFan telah melanggar setiap aturan yang pernah ia tetapkan sendiri untuk bersama Junmyeon. Dan itu bukan hanya menidurinya.

Itu untuk memiliki dia. Untuk menjaga dirinya.

Bagaimana YiFan tak pernah melihat hal ini sebelumnya? Kenapa YiFan tidak tahu?

"Hei?" Junmyeon mencium dengan lembut di bibir YiFan. "Dari mana kau pergi? Aku kehilanganmu sesaat. Apa kau baik-baik saja?"

"Aku..." YiFan menelan ludah dengan susah. "Junmyeon, Aku..." YiFan mengambil napas dalam-dalam. "Aku...Aku baik-baik saja." YiFan tersenyum dan balas menciumnya. "Kurasa kau sudah menguras energiku."

Junmyeon tertawa. "Wow. Tidak kusangka itu akan terjadi."

Ya, aku juga setuju.


...TBC...


Ini diluar rencana, saya pikir saya masih sanggup untuk mengupdate fic ini seminggu sekali atau paling lambat 10 hari dari update sebelumnya. Tapi ternyata kemarin saya benar2 sibuk, dan sejujurnya saya sedikit mengabaikan fic ini. Saya tau harusnya saya tidak kerepotan dengan hal ini, mengingat saya hanya perlu mengedit beberapa bagian, bukan mengarang full satu chapter ini. Tapi, saya juga pernah menjadi seorang reader, ketika author-nya menyajikan satu hal yang tidak maksimal pasti ada rasa kecewa setelah membacanya, dan saya tidak ingin itu terjadi.

Setelah membuat kalian menunggu begitu lama, pastinya saya ingin kesan yang muncul dari kalian adalah rasa puas bukan kecewa, tapi nyatanya, saya sudah membuat kalian kecewa sebelumnya. Maaf,

Ucapan terimakasih untuk: LiezxoticVIP, PikaaChuu, leeyeol, galaxykimkim, kmskjw21, doremifaseul, joonmily, dirakyu, Adamas Azalea, Emmasuho, NopwillineKaiSoo, Uki96, hae15, ling-ling pandabear, marchtaotao, Nisa wonkyu, dhearagil, everadit, j12, nam mingyu, Zizi Huang, Guest, Anon, sasya, kim hae rim, kiutemy, narsih hamdan, XG-Lay 34 Army.

Yang sudah mereview fic ini, bagi yang sudah memfollow/memfavoritkan fic ini, terima kasih banyak. Silent reader, saya masih setia menunggu kalian.

Akhir kata saya mengucapkan banyak terima kasih kepada reader yang sudah membaca fic ini. Terutama untuk dhearagil dan joonmily yang sudah menginbox saya. Terima kasih.