TANGLED
...
Main Cast: Wu YiFan, Kim Junmyeon
...
Other Cast: Member EXO, Lee Jonghyun (CNBlue)
...
Genre: Romance
...
Rate: M
...
Disclaimer: Remake dari novel dengan judul yang sama karya Emma Case
...
...
12
I KNOW WHAT YOU'RE THINKING: What the fuck?
Jika YiFan menyadari bahwa dia jatuh cinta pada Junmyeon, dan gadis itu jelas tergila-gila dengannya, bagaimana bisa Kim Junmyeon kembali dengan Jonghyun? Kenapa-Kau-Belum-Juga-Mati Jonghyun?
Pertanyaan yang sangat bagus. Kita hampir sampai. Tapi pertama-tama: pelajaran sains. Apa yang kalian tahu tentang katak?
Ya. Aku bilang katak.
Apa kalian tahu bahwa jika kalian menaruh seekor katak ke dalam air mendidih, dia akan melompat keluar? Tapi, jika kalian menaruh seekor katak di dalam air dingin dan dipanaskan perlahan-lahan, Katak itu akan tetap tinggal di dalamnya. Dan direbus sampai mati. Bahkan tidak akan mencoba untuk keluar. Katak itu bahkan tidak akan tahu bahwa dirinya sekarat. Sampai sudah terlambat.
Pria sangat mirip seperti katak.
Apakah YiFan ketakutan oleh pencerahan kecilnya? Tentu saja ya. Ini sesuatu yang sangat besar. Sesuatu yang mengubah kehidupan. Tidak ada wanita asing lagi. Tidak ada lagi cerita untuk teman-temannya. Tak ada lagi acara malam Minggu. Tapi semua itu tidak penting lagi. Sejujurnya.
Karena ini sudah terlambat. YiFan sudah direbus sampai mendidih oleh Junmyeon.
Sepanjang malam itu YiFan menyaksikan tidur seorang Kim Junmyeon. Dan menyusun rencana...untuk mereka. Kegiatan yang akan mereka lakukan bersama, tempat yang akan mereka kunjungi, besok dan akhir pekan depan dan tahun depan. YiFan berlatih kalimat apa yang akan ia ucapkan, bagaimana cara mengatakan perasaannya pada gadis itu. YiFan membayangkan reaksi Junmyeon dan bagaimana ia akan mengakui bahwa dia juga merasakan hal yang sama. Rasanya seperti sebuah film, suatu film chick flick mengerikan yang tidak akan pernah YiFan tonton. Playboy mempesona bertemu dengan gadis yang-sangat berkemauan-keras impiannya, dan gadis itu merenggut hatinya selamanya.
YiFan seharusnya tahu bahwa itu nyaris tidak masuk akal. Hal terbaik biasanya: Santa Claus, G-spot pria, surga—oh, God daftar ini tidak ada habisnya.
Kalian akan lihat.
...
Mereka berjalan menyusuri kawasan Gangnam. Daripada membuang-buang waktu berharga menyetir melintasi kota ke apartemen Junmyeon, mereka lebih memilih untuk berhenti di Hyundai department store dalam perjalanan ke tempat kerja, tempat YiFan membelikan Junmyeon setelan baru warna biru tua merek Chanel. Mulai sekarang tidak boleh lagi melihat Junmyeon memakai pakaian yang sama saat ke kantor, benar kan? Ketika gadis itu mencoba pakaian untuk YiFan, pemuda itu bersumpah, jika dia merasa seperti Richard Gere di film Pretty Woman. Junmyeon bahkan membelikan YiFan dasi.
See?
Kemudian Junmyeon bersikeras mampir ke bagian lingerie untuk mengganti celana dalam yang telah YIFan hancurkan dengan begitu erotisnya. Tentu saja YiFan menolak dengan keras pada ide yang satu itu, tapi dia kalah. You ladies ought to know—going commando, right? Itu lebih seksi dibanding kulit, renda, cambuk dan rantai semua digabung jadi satu.
Mereka mampir di Starbucks dan membeli kafein yang sangat mereka butuhkan. Saat mereka berjalan kembali ke luar, YiFan menarik Junmyeon mendekat. YiFan menangkup pipi gadis itu dan mencium bibirnya. Junmyeon terasa seperti kopi, ringan dan manis. Setelah bibir mereka terlepas, Junmyeon menyibak rambut yang menutupi mata YiFan dan tersenyum kearahnya.
He'll never get tired of looking at her. Or kissing her.
Pussy whipped (terlalu penurut pada pacar), itu adalah nama YiFan sekarang. Dan ya YiFan tahu. Tidak masalah. Dia tidak keberatan. Karena jika ini adalah Dark Side? Tolong daftarkan pemuda itu sekarang. Serius. Jangan terkejut jika YiFan mulai melompat-lompat menyusuri jalan bernyanyi, "Zip-a-DeeDoo-Dah." Pemuda itu begitu bahagia.
Junmyeon dan YiFan berbelok di tikungan menuju kantor. Bergandengan tangan dan saling tersenyum seperti dua idiot yang minum terlalu banyak obat antidepresi. Memuakkan, bukan?
Kita harus berhenti di sini sebentar. Kalian harus melihat mereka. Bagaimana mereka di sini, sekarang—bergandengan tangan. Kalian harus mengingat momen ini. Karena YiFan mengingatnya.
They were…perfect.
Kemudian mereka masuk ke gedung. YiFan membuka pintu bagi Junmyeon dan berjalan di belakangnya.
Dan yang pertama yang YiFan lihat adalah bunga aster. Aster putih besar dengan lembaga kuning cerah. Beberapa terletak di dalam vas di meja keamanan, lainnya dalam tandan yang diikat dengan pita. Beberapa bunga tersebar secara tunggal di seluruh lantai, kelopak bunga secara acak tersebar di sana-sini. Di tengah lobi ada lingkaran bunga aster yang lebih banyak. Di tengah lingkaran itu, berdiri Lee Jonghyun. Dan dia memegang gitarnya.
Sial!
Tidak, itu kurang pas.
YiFan benar-benar sedang sial!
Ya—itu baru pas.
Kalian pernah melihat orang brengsek bernyanyi? Tidak? Well, inilah kesempatanmu:
I was so blind I didn't know
How much it would hurt to let you go
I want to heal us, want to mend
Come back, come back to me again
Jika YiFan tidak begitu membenci Jonghyun—dan serigala yang melahirkan dia— tapi YiFan harus mengakui bahwa suara Jonghyun lumayan juga. YiFan memperhatikan ekspresi Junmyeon secara cermat. Setiap emosi yang melintasi wajahnya, setiap perasaan yang menari di matanya.
Kalian pasti tahu kapan saat menderita flu perut, bukan? Dan kalian berbaring sepanjang hari dengan ember di sampingmu karena kalian merasa sepertinya akan muntah setiap saat? Tapi kemudian ada saatnya—kalian akan tahu kapan itu akan terjadi. Seluruh tubuh menjadi berkeringat dingin. Kepala berdenyut, dan kalian merasa tenggorokan kalian melebar untuk memberi jalan empedu yang mengalir naik dari dalam perut.
Itulah yang YiFan alami. Sekarang.
YiFan menaruh kopi dan mencari-cari tempat sampah terdekat hanya untuk memastikan bahwa ia akan sampai di sana tepat waktu.
And I need to say I'm sorry
For all the pain I caused
Please give your heart back to me
I'll keep it safe for eternity
We belong together
We've always known it's true
There will never be another
My soul cries out for you.
Pada waktu lain, dengan gadis yang lain, YiFan akan mengalahkan Jonghyun. Bahkan tanpa perlu berusaha. Dia tidak sebanding dengan YiFan. Jika kita ibaratkan YiFan itu sebuah Porsche, sedangkan Jonghyun adalah sebuah truk pickup rongsok yang bahkan tidak bisa lolos inspeksi.
Tapi ini berbeda, gadis ini adalah Junmyeon. Mereka memiliki riwayat, senilai satu dekade. Dan itulah, yang membuat Jonghyun menjadi kompetitor kelas berat bagi YiFan.
In the dark of night, it's your name I call
I can't believe I almost lost it all
One more chance, one breath, one try
No more reasons to say goodbye
YiFan ingin membopong Junmyeon, layaknya manusia gua, dan membopongnya keluar dari sini. YiFan ingin mengunci gadis itu di apartemennya di mana Jonghyun tidak bisa melihatnya. Tidak bisa menyentuhnya. Tidak bisa menyentuh mereka. Sepanjang waktu itu YiFan menatap Junmyeon, tapi gadis itu tidak menoleh ke arah YiFan sama sekali.
Tidak sekali pun.
And I need to say I'm sorry
For all the pain I caused
Please give your heart back to me
I'll keep it safe for eternity
We belong together
We've always known it's true
There will never be another
My soul cries out for you
Kenapa YiFan tidak belajar memainkan alat musik? Ketika YiFan berumur sembilan tahun ibunya ingin YiFan memainkan terompet. Setelah dua kali pelajaran, tutornya keluar karena YiFan membiarkan anjingnya kencing di mulut terompet gurunya.
Why the hell didn't he listen to his mother?
You are my beginning, you'll be my end
More than lovers, more than friends
I want you, I want you
Jonghyun tidak bisa memiliki Junmyeon. 'Lakukan dan inginkan Junmyeon seharian, brengsek. Menyanyi dari atap gedung. Mainkan gitar sampai jari-jarimu copot.' Batin Yifan.
Ini sudah sangat terlambat. Junmyeon sudah menjadi milik YiFan. Junmyeon bukan tipe orang yang berhubungan seks dengan sembarang orang. Dan dia bercinta dengan YiFan sepanjang akhir pekan seperti dunia akan segera kiamat. Itu pasti sesuatu yang bernilai.
Benar, kan?
And I need to say I'm sorry
For all the pain I caused
Please give your heart back to me
I'll keep it safe for eternity
For eternity
You and me
Kerumunan kecil yang berkumpul di lobi bertepuk tangan. Jonghyun menaruh gitarnya ke bawah dan berjalan mendekati Junmyeon.
'If he touches her, I will break his fucking hand. I swear to God.' Batin Yifan.
Jonghyun tidak menganggap kehadiran YiFan sama sekali. Dia terfokus hanya pada Junmyeon. "Aku sudah meneleponmu sejak Jumat malam...dan aku juga mampir ke apartement beberapa kali akhir pekan ini, tapi kau pergi ke luar."
'That's right. She wasn't home. She was busy. Now ask her what she was doing.'
Dengan siapa Junmyeon melakukannya.
"Aku tahu ini adalah tempat kerja...tapi apa kau pikir kita bisa pergi ke suatu tempat? Untuk bicara? Mungkin kantormu?"
'Say no.
Say no.
Say no, say no, say no, say no, say no, say no, say no, say no…'
"Oke."
'Shit.'
Ketika Junmyeon mulai berjalan pergi, YiFan menarik lengannya. "I need to talk to you"
Junmyeon menatap Yifan dengan ekspresi penuh tanya. "Aku hanya butuh—"
"Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Sekarang. Ini penting." YiFan tahu ia terdengar putus asa, tapi YiFan benar-benar tak peduli.
Junmyeon meletakkan tangannya di atas tangan YiFan, yang masih menggenggam lengannya. Gadis itu tenang. Bahkan berlagak seperti dia sedang bicara dengan seorang anak kecil. "All right, Kris. Let me talk to Jonghyun first and I'll meet you in your office, okay?"
YiFan ingin mengentak kakinya seperti anak umur dua tahun. No. It's so not fucking okay. Junmyeon harus tahu di mana YiFan berdiri. YiFan harus memancang klaimku. Melempar topi di atas ring. Membawa mobilnya ke balapan.
Tapi YiFan menjatuhkan tangannya. "Fine. You two have a nice chat."
Dan YiFan memastikan bahwa ia pergi lebih dulu.
...
YiFan melangkah menuju kantornya. Tapi ia tidak bisa menahan diri untuk singgah di meja Kyungsoo saat mereka lewat. Ketika Junmyeon berbalik untuk menutup pintu kantornya, mata mereka bertemu. Dan dia tersenyum pada YiFan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup YiFan, ia tak tahu apa artinya.
Apakah Junmyeon meyakinkan YiFan bahwa tidak ada yang berubah? Bahwa tidak akan ada perubahan? Apakah Junmyeon mengatakan terima kasih untuk membawa si brengsek merangkak kembali padanya? YiFan tak tahu.
Dan itu membuat YiFan gila.
YiFan mengatupkan rahang dan bergegas menuju mejanya sendiri, membanting pintu di belakangnya. Dan kemudian YiFan berjalan mondar-mandir. Seperti seorang pria yang segera menjadi ayah di luar ruang bersalin, menunggu untuk melihat apakah sesuatu yang tak ternilai harganya akan keluar dengan selamat.
Seharusnya YiFan mengatakan perasaannya pada Junmyeon. Tadi malam. Ketika YiFan punya kesempatan. YiFan seharusnya menjelaskan betapa berartinya Junmyeon baginya. Apa yang ia rasakan tentangnya. Ku kira YiFan punya waktu. Kupikir dia akan mudah menyatakannya, perlahan-lahan berusaha sampai kesana.
Stupid.
Why didn't he just fucking tell her?
Goddamn it.
Oh, mungkin Junmyeon sudah tahu. Maksudku, YiFan membawa Junmyeon ke apartemennya, YiFan tidur meringkuk dengannya. YiFan memujanya. YiFan bercinta dengannya tanpa pelindung tiga kali. Junmyeon seharusnya tahu juga, kan?
Sementara itu, Kyungsoo diam-diam memasuki ruangan. Aku yakin saat itu YiFan pasti terlihat begitu kacau, karena wajah Kyungsoo melunak penuh simpati. "Jadi, Junmyeon dan Jonghyun sedang bicara, huh?"
YiFan mendengus. "Apa aku terlihat begitu jelas?"
Gadis itu membuka mulutnya, mungkin untuk mengatakan pada 'ya', tapi menutupnya dan mulai bicara lagi. "No. I just know you, Kris."
YiFan mengangguk.
"Kau ingin aku berjalan-jalan? Melihat apa yang bisa kulihat...atau kudengar?" tanya Kyungsoo
YiFan melirik gadis itu, "Kau pikir itu akan berhasil?"
Kyungsoo tersenyum. "The CIA would be lucky to have me."
YiFan mengangguk lagi. "Okay. Yeah. Go do that, Kyungsoo. See what's going on."
Kyungsoo berjalan keluar. Dan YiFan kembali ke berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Dan mengacak-acak rambutnya sampai berdiri seperti habis disambar petir.
Beberapa menit kemudian, Kyungsoo muncul kembali. "Pintunya tertutup, jadi aku tidak bisa mendengar apapun, tapi aku mengintip kedalam melalui kaca. Mereka duduk di mejanya, saling berhadapan. Tangan Jonghyun menyangga kepalanya, dan Junmyeon mendengarkan dia berbicara. Tangan Junmyeon ada di lutut Jonghyun."
Oke. Jonghyun sedang menuangkan isi hatinya. Dan Junmyeon bersikap simpatik. YiFan bisa menerimanya. Because then she's going to crush him, isn't she? She's going to tell him to screw off. That she's moved on—found someone better. Right?
Benar, kan?
Astaga, ayolah kalian setuju saja denganku. Cobalah untuk bersikap lunak pada pemuda ini? Apa kalian tidak lihat wajahnya sudah terlihat sangat menyedihkan?
"So…what should I do?" tanya YiFan.
Kyungsoo mengangkat bahu. "Semua yang bisa dilakukan hanyalah menunggu. Dan menunggu apa yang akan Junmyeon katakan ketika mereka selesai."
YiFan tidak pernah pintar dalam urusan menunggu. Tak peduli seberapa keras orangtuanya mencoba, YiFan tak pernah bisa menunggu sampai pagi di hari Natal untuk mengetahui apa yang ia dapat. YiFan seperti Indiana Jones kecil, mencari dan menggali sampai ia menemukan setiap hadiahnya.
Kesabaran mungkin sebuah keutamaan, tapi itu bukan salah satu sifat pemuda itu.
Kyungsoo berhenti di ambang pintu. "I hope it works out, Kris."
"Thanks, Kyungsoo."
Dan kemudian gadis itu pergi. Dan YiFan menunggu. Dan berpikir. YiFan memikirkan raut wajah Junmyeon ketika ia menangis di mejanya. YiFan memikirkan tentang kepanikannya ketika dia melihat Jonghyun di bar.
Apakah hanya itu arti YiFan bagi Junmyeon? Sebuah selingan? Sebuah sarana untuk mencapai tujuan dia sendiri?
YiFan mulai mondar-mandir lagi. Dan berdoa. Kepada Tuhan, YiFan tidak bicara lagi dengan-Nya sejak YiFan berusia sepuluh tahun. Tapi YiFan bicara dengan-Nya sekarang. YiFan berjanji dan ia bersumpah. Ia membarter dan mengemis, dengan khusyuk.
Untuk Junmyeon agar memilih YiFan.
Ini adalah sembilan puluh menit terpanjang dalam hidup YiFan, sampai akhirnya suara Kyungsoo mendesis keluar dari interkom di mejanya.
"Ada yang datang! Ada yang datang! Junmyeon, arah jam sembilan."
YiFan menunduk di balik mejanya, menjatuhkan pena dan penjepit kertas ke lantai. Lalu mendorong kursinya keatas, merapikan rambutnya, dan mengacak-acak kertas sehingga terlihat seperti ia sedang bekerja. Kemudian YiFan mengambil napas dalam-dalam. Mengumpulkannya bersama.
It's game time.
Junmyeon membuka pintu dan berjalan masuk.
...
Junmyeon terlihat...normal. Benar-benar seerti dirinya sendiri. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada kecemasan. Tidak mempedulikan dunia.
Gadis itu berdiri di depan meja YiFan. "Hai."
"Hei." YiFan memaksakan diri untuk tersenyum dengan santai. Meskipun jantungnya berdebar di dadanya. Mirip seperti binatang sebelum disembelih.
YiFan seharusnya berbasa-basi jadi ia tidak terlihat terlalu bersemangat, tidak terlalu tertarik. Tapi YiFan tidak bisa mengatasinya. "Jadi...Bagaimana urusannya dengan Jonghyun?"
Junmyeon tersenyum lembut. "Kami berbicara. Kami mengatakan beberapa hal yang kurasa perlu di dengar oleh kami berdua. And now we're good. Really good, actually."
Oh Tuhan. Dapatkah kalian melihat pisau menyembul dari dad YiFan? Ya—pisau yang baru saja Junmyeon puntir. They talked—they're good—really good. She took him back.
Fuck.
"That's great, Junmyeon. Jadi misi berhasil, ya?" Oh God, YiFan seharusnya menjadi seorang aktor, lihatlah bagaimana ia berakting. YiFan layak mendapat Academy Award setelah ini.
Namun alis Junmyeon berkerut. "Misi?"
YiFan sedikit bingung harus menjawab apa lagi, sampai akhirnya ponsel YiFan berdering, menyelamatkan YiFan dari mimpi buruk suatu percakapan.
"Halo?" sapa YiFan. Ini dari Xiumin. Tapi Junmyeon tidak tahu itu. YiFan memaksa suaranya terdengar kuat. Bersemangat. "Hei, Hyuna. Ya, sayang, aku senang kau menelepon."
Selalu mencetak skor lebih dulu. Ingat?
"Maaf aku tidak bisa bertemu denganmu hari Sabtu kemarin. Apa yang sedang kulakukan? Tak ada yang penting, sebuah proyek kecilku. Sesuatu yang sudah coba kuselesaikan untuk sementara waktu. Ya, aku sudah selesai sekarang. Ternyata itu tidak sebagus seperti yang kukira."
Ya, ucapan yang keluar dari mulut Yifan sudah ia perhitungkan sebelumnya. Pemuda itu berharap kata-katanya cukup untuk menyakiti gadis itu.
Ck, Kenapa kalian memberinya tatapan seperti itu? Memang kalian berharap YiFan harus berkata apa? Tidak...tidak...kalian tidak lupa dengan sifat tokoh utama kita, kan? Ini YiFan yang sedang kalian bicarakan di sini. Apakah kalian sungguh berpikir YiFan akan duduk santai seperti orang tolol sementara Junmyeon kembali memberinya penolakan?
No fucking way.
YiFan mengabaikan kebingungan Xiumin di seberang telepon dan memaksa paru-parunya tertawa. "Malam ini? Tentu saja aku senang bertemu denganmu. Baiklah, aku akan membawa taksi."
Kenapa kalian menatapnya seolah-olah YiFan adalah seorang bajingan? YiFan memberikan semua yang ia miliki pada Junmyeon, semua yang YiFan sanggup berikan. Dan Junmyeon menolaknya. YiFan membuka jiwanya pada gadis itu, dan YiFan tahu ini terdengar sangat cengeng. Tapi memang benar. Jadi jangan menatap YiFan seolah dia adalah orang jahat, karena—untuk sekali ini YiFan bukan orang seperti itu.
YiFan mencintai Junmyeon. Demi Tuhan, YiFan sungguh mencintainya. Dan sekarang, cinta ini membunuhnya. YiFan merasa seperti salah satu pasien UGD yang dadanya di belah terbuka dengan alat pembentang tulang rusuk.
Dengan ponsel masih di telingnya, akhirnya YiFan memandang Junmyeon. Dan sesaat, YiFan tidak bisa bernapas. YiFan pikir Junmyeon akan marah, mungkin kecewa karena YiFan mencampakkan dia lebih dulu. Tapi sekali lagi itu bukan ekspresi yang ditunjukkan Junmyeon.
Pernahkah kalian melihat ekspresi seseorang yang tertabrak mobil?
YiFan pernah melihatnya. Chanyeol dan Jongin di masa remaja mereka, pada suatu kesempatan tidak cukup cepat bergerak setelah berjalan saat seorang wanita tengah mengendarai mobilnya terlalu cepat. Ketika mereka tertabrak—muncul ekspresi ini. Ekspresi ini hanya terlihat beberapa detik. Seluruh wajah mereka menjadi pucat pasi...dan kosong. Kurasa itu syok, seperti mereka tidak percaya apa yang baru saja terjadi namun ternyata benar-benar terjadi pada mereka.
Seperti itulah ekspresi Junmyeon saat ini.
Seolah YiFan telah menampar wajahnya.
Kalian pikir YiFan harus merasa bersalah karena membuat Junmyeon jadi seperti itu? Kalian ingin YiFan menyesal? Well, sayang sekali. YiFan tidak bisa. Tidak akan. Junmyeon yang membuat keputusannya. Dia yang membuat pilihannya.
Sekarang Junmyeon bisa menelannya.
YiFan menutupi gagang telepon. "Maaf, Junmyeon, aku harus menjawab ini. Sampai ketemu saat makan siang, oke?"
Junmyeon berkedip dua kali. Kemudian berbalik dan berjalan keluar dari kantor YiFan tanpa bicara.
...
Setelah Junmyeon pergi, keadaan menjadi...samar. Bukankah itu cara orang selalu menggambarkannya? Korban suatu bencana kecelakaan kereta api? Bahwa disaat-saat setelah itu, segalanya tidak jelas.
Tidak nyata.
YiFan memberitahu Kyungsoo jika ia sakit. Dan gadis itu memperlihatkan senyum sedih serta ibanya. Kyungsoo adalah satu-satunya orang yang tahu bagaimana patah hatinya Yifan saat ini. Sebelum YiFan masuk lift, YiFan menoleh ke kantor Junmyeon, berharap untuk melihat gadis itu lagi. Well, hanya untuk menyiksa dirinya sendiri.
Tapi pintunya tertutup.
...
Di luar hujan. Hujan di musim dingin. Hujan yang membasahi pakaianmu dan membuatmu menggigil luar dalam. Tapi itu sama sekali tidak menganggu Yifan.
YiFan berjalan pulang ke apartemennya, mati rasa dan bingung. Seperti zombie dari suatu film horor beranggaran rendah yang tidak bereaksi, bahkan ketika ia memotong kakinya sendiri dengan gergaji.
Tapi ketika YiFan membuka pintu apartemennya, saat itulah kesadarannya mulai bekerja kembali. Ketika YiFan mulai bisa merasakan lagi. Dan merasakan Junmyeon.
Di mana-mana.
YiFan masih bisa melihat matanya, sayu oleh gairah. YiFan mendengar bisikan gadis itu di telinganya saat YiFan jatuh di tempat tidurnya. Aroma tubuh Junmyeon menutupi bantalnya. Dan YiFan tidak bisa melupakan kenyataan bahwa gadis itu berada di sini beberapa jam yang lalu. Dan YiFan bisa menyentuh, memandang, dan menciumnya.
Dan sekarang YiFan...tidak bisa.
Ini seperti ketika seseorang meninggal. Dan kalian tidak percaya jika mereka benar-benar pergi karena kalian baru bertemu mereka kemarin. Mereka berada di sana denganmu. Masih hidup dan nyata.
Dan itu adalah memori yang kalian kenang—momen yang paling membuatmu berduka.
Karena itu adalah momen yang terakhir.
...
When did it happen?
Itulah yang YiFan sendiri juga tak tahu. Kapan Junmyeon menjadi begitu penting baginya dan bahwa ia tidak berfungsi tanpa gadis itu? Apakah itu terjadi ketika YiFan melihatnya menangis di kantornya? Atau pertama kalinya YiFan menciumnya? Mungkin hal itu terjadi ketika Anderson menghinanya, dan YiFan ingin menghajarnya untuk itu. Apakah saat malam pertama di bar? Pertama kali YiFan menatap mata cokelat tak berujung dan tahu ia harus memilikinya?
Atau di sini? Di apartemennya? Dalam salah satu momen dari ratusan kali YiFan menyentuhnya...
Oh Tuhan, kenapa YiFan tidak menyadarinya lebih awal?
Berminggu-minggu, berbulan-bulan, terbuang begitu saja. Semua wanita yang pernah YiFan tiduri. Yang wajahnya sendiri bahkan tidak ia ingat. Semua itu sia-sia. Setiap saat YiFan hanya bisa membuat Junmyeon marah. Namun ketika YiFan bisa saja membuatnya tersenyum. Berhari-hari YiFan bisa saja mencintainya. Dan membuat Junmyeon mencintainya.
Semua itu hilang.
Wanita lebih cepat jatuh cinta daripada pria. Lebih mudah dan lebih sering. Tapi ketika pria jatuh cinta? Mereka jatuh lebih keras. Dan ketika keadaan menjadi buruk. Ketika bukan pihak pria yang memutuskannya? Mereka tidak bisa berjalan pergi.
Mereka merangkak.
...
YiFan seharusnya tidak mengucapkan kata-kata itu. Di kantornya. Dan Junmyeon juga tidak seharusnya menerima itu. Tunggu, bukan salah Junmyeon jika dia tidak menginginkan apa yang YiFan inginkan. Bahwa dia tidak merasakan apa yang YiFan rasakan.
Oh Tuhan, ini mengerikan. Tolong bunuh saja YiFan.
Dimana peluru nyasar dari pengendara liar yang menembak dari dalam mobil ketika kalian memerlukannya?
Pernahkah kalian merasa seperti ini? Apakah kalian pernah memegang sesuatu yang berarti...segalanya untukmu? Mungkin kalian menangkap bola home run ketika bola itu terbang di atas pagar stadion? Atau melihat foto diri sendiri yang berasal dari suatu momen indah tak terlupakan? Atau mungkin ibumu memberi kalian sebuah cincin warisan milik neneknya nenekmu? Apapun itu, kalian melihatnya dan bersumpah bahwa kalian akan menjaga selamanya. Karena benda itu spesial. Berharga.
Tak tergantikan.
Dan kemudian suatu hari, kalian tidak tahu bagaimana atau kapan terjadinya, kalian menyadari benda itu hilang.
Lenyap.
Dan kalian sedih karenanya. Kalian akan memberikan apapun untuk menemukannya lagi. Untuk mendapatkannya kembali, di mana seharusnya ia berada.
...
YiFan meringkuk di sekitar bantal. YiFan tidak tahu berapa lama ia disana, tapi waktu berikutnya saat YiFan membuka matanya dan melihat keluar jendela, di luar sudah gelap. Menurut kalian apa yang sedang Junmyeon dan Jonghyun lakukan sekarang? Merayakan mungkin. Pergi keluar. Atau mungkin tetap di rumah.
YiFan menatap langit-langit. Ya, itu adalah air mata. Cairan penyesalan.
Silakan, panggil YiFan cengeng. Panggil YiFan tukang merengek. YiFan layak mendapatkannya. Dan YiFan tidak peduli.
Tidak lagi.
Apa menurut kalian Jonghyun tahu betapa beruntungnya dia? Betapa diberkahinya dia?
Tentu saja dia tidak tahu. Dia si idiot yang membiarkan Junmyeon pergi. Dan YiFan adalah idiot yang tidak bisa menjaganya.
Mungkin mereka tidak akan bertahan. Mungkin mereka akan putus lagi, ketika Junmyeon menyadari dia pantas mendapatkan yang lebih baik. Tapi kurasa itu tidak akan membuat perbedaan bagi YiFan, ya kan?
Tidak setelah apa yang YiFan katakan pada Junmyeon. Tidak setelah YiFan mengakibatkan ekspresi itu di wajahnya.
Ya Tuhan.
YiFan berguling dari tempat tidur dan jatuh ke arah tempat sampah. Hampir tidak berhasil sampai di sana sebelum YiFan muntah dan tersengal. Dan apapun yang ada dalam perutnya.
Dan pada saat itu—YiFan di sana sedang berlutut. Saat itulah YiFan berkata pada dirinya sendiri bahwa ia terkena flu. Karena...manusia kacau ini tidak mungkin YiFan yang sesungguhnya.
Selamanya tidak mungkin.
Jika YiFan sekedar sakit, maka YiFan dapat minum aspirin, tidur sebentar, dan YiFan akan merasa lebih baik. YiFan akan menjadi dirinya lagi. Pada akhirnya. Tapi jika YiFan mengakui bahwa ia sudah remuk. Jika YiFan mengakui bahwa hatinya telah hancur menjadi jadi ribuan keping…maka YiFan tak tahu kapan ia pernah akan sembuh lagi. Mungkin tidak pernah.
Jadi YiFan kembali ke tempat tidur. Untuk menunggu saja.
Sampai YiFan sembuh dari flu.
...END..
*going comando: no panties at all;)
Kekeke~ just kidding, oke saya akan menulis ulang jadi ...TBC...
Ini hanya tanda bahwa kita sudah mengakhiri flashback YiFan, dan mulai chap depan akan bercerita tentang masa sekarang. Oke, dan saya mau ngasih tau kalo minggu depan saya sudah mulai bisa mengupdate fic ini seminggu sekali, mungkin kalo mood saya sedang bagus saya akan mengupdate dua kali seminggu. :D
Ucapan terima kasih kepada: LiezxoticVIP, Emmasuho, kim hae rim, Uki69, kmskjw21, faul, joonmily, dhearagil, honeykkamjong, hae15, marchtaotao, doremifaseul, Nisa wonkyu, dirakyu, PikaaChuu, tinaYJS, utsukushii02, sasya, Choensa, nam mingyu, rizqibilla, everadit, HamsterXiumin, Kim XiuXiu Hunnie, XG-Lay 34 Army, kiutemy, ling-ling pandabear.
Yang sudah mereview. Maaf sudah update terlambat lagi. Dan terima kasih kepada mereka yang sudah mensupport fic ini. See ya in the next chapter. Bye...
