TANGLED

...

Main Cast: Wu YiFan, Kim Junmyeon

...

Other Cast: Member EXO, Lee Jonghyun (CNBlue)

...

Genre: Romance

...

Rate: M

...

Disclaimer: Remake dari novel dengan judul yang sama karya Emma Case

...

...

13

SO THAT'S IT. That is YiFan's story. The rise. The fall. The end.

Dan sekarang, di sinilah YiFan. Luhan dan Chanyeol menyeretnya ke restoran jelek ini, di mana YiFan baru saja selesai menceritakan kepada mereka kisah yang hampir sama seperti yang sudah kuceritakan pada kalian.

Ketika YiFan berumur enam tahun, YiFan belajar naik sepeda. Sama seperti semua anak-anak ketika mereka pertama kali belajar naik sepeda, YiFan jatuh. Sering. Setiap kali itu terjadi, Luhan adalah orang yang ada di sana. Dia membersihkan debunya, mencium lecetnya dan meyakinkan YiFan untuk naik lagi. Jadi wajar saja jika kali ini YiFan juga berharap kakaknya akan bersikap penuh kasih tentang patah hatinya. Lemah lembut. Simpatik.

Tapi apa yang YiFan peroleh adalah, "Kau sungguh-sungguh idiot, kau tahu itu, Kris? Begitu menyedihkan." Luhan mengatakannya dengan cukup keras lengkap dengan ekspresi jijik di wajahnya.

YiFan yakin kalian mulai bertanya-tanya kenapa mereka memanggilnya Si Menyebalkan. Nah, ini untuk kalian.

Pemuda itu memandang Luhan dengan tatapan tidak percaya."Aku menyedihkan?"

Luhan mengangguk, "Ya, menyedihkan adalah persis dirimu sekarang. Apakah kau tahu kekacauan apa yang sudah kau buat? Aku selalu tahu kau manja dan egois. Bahkan, aku adalah salah satu dari orang-orang yang membuatmu menjadi seperti itu. Tapi aku tidak pernah berpikir kau orang bodoh."

Huh?

"Dan aku berani bersumpah kau lahir dengan testis." Luhan memberikan penekananan pada akhir kalimatnya.

Mendengar itu YiFan tersedak oleh minumannya. Dan Chanyeol tertawa.

"Aku serius. Aku ingat dengan jelas saat mengganti popokmu waktu bayi dan melihat organ kecil yang lucu tergantung di sana. Apa yang terjadi dengan organ itu? Apakah menyusut? Menghilang? Karena itulah satu-satunya alasan yang bisa kupikirkan untuk menjelaskan kenapa kau berperilaku seperti pengecut menyedihkan tak punya nyali."

"Demi Tuhan, Luhan!" YiFan memandang kakaknya dengan tatapan tidak percaya.

"Tidak, kurasa bahkan Tuhan tidak bisa memperbaiki ini."

Kemarahan meresap ke dalam dada YiFan. "I really don't need this right now. Not from you. I'm already down—why the fuck are you kicking me?"

Luhan mencemooh, "Karena tendangan cepat di pantat adalah apa yang kau butuhkan untuk bangkit lagi. Apa kau pernah berpikir ketika Junmyeon mengatakan bahwa mereka 'benar-benar baikan,' mungkin maksudnya adalah mereka tidak bermusuhan? Bahwa mereka telah memutuskan untuk menjadi teman? Berpisah secara damai? Jika kau tahu setengah saja tentang wanita seperti yang kau pikir kau tahu, kau akan memahami bahwa tidak ada wanita yang ingin mengakhiri hubungan sepuluh tahun dengan saling membenci."

What the hell?! That doesn't even make any sense. Why would anyone want to be friends with someone they used to be able to fuck and can't anymore? What would be the frigging point? Oh God.

"Tidak. Kau benar-benar salah, Lu." YiFan berusaha membela diri.

Luhan menggeleng. "Tetap saja, seharusnya kau bertindak seperti seorang laki-laki bukan seorang anak kecil yang terluka, kau seharusnya mengatakan kepadanya bagaimana perasaanmu."

Sekarang Luhan membuat YiFan jengkel. "Apa aku terlihat seperti bajingan untukmu? Karena sejujurnya aku tidak seperti itu. Dan tidak mungkin aku akan pergi ke sana dan mengejar seseorang yang ingin bersama dengan orang lain."

Sebuah ekspresi yang belum pernah YiFan lihat sebelumnya menyapu wajah Luhan. Setidaknya belum pernah ditujukan pada YiFan.

Ekspresi kekecewaan. Dengan itu YiFan segera membuang mukanya ke samping, tidak ingin melihat ekspresi Luhan yang lebih dari ini.

"Tentu saja tidak, Kris. Kenapa kau harus mengejar seseorang, ketika kau begitu puas membiarkan semua orang mengejarmu?" suaranya rendah, sehingga YiFan bisa menyimpulkan bahwa saudaranya benar-benar kecewa terhadapnya.

YiFan memandang Luhan, "What the hell is that supposed to mean?"

"Itu berarti segalanya selalu mudah bagimu. Kau tampan, cerdas, kau punya keluarga yang mencintaimu dan wanita yang berbaring untukmu seperti seekor domba kurban. Dan satu saat ketika kau harus memperjuangkan sesuatu yang kau inginkan, sekali saja kau harus mempertaruhkan hatimu untuk seseorang yang akhirnya berharga bagimu, apa yang kau lakukan? Kau menyerah. Kau bertindak tanpa lebih dulu memastikan apakah itu tindakan yang tepat. Kau bergelung dan berkubang dalam rasa iba pada diri sendiri."

Luhan menggelengkan kepalanya, dan suaranya melunak. "You didn't even try, Kris. After all that. You just…threw her away."

YiFan menunduk menatap minumannya. Suaranya tenang. Penuh penyesalan.

"I know."

Apa kalian berpikir jika YiFan tidak memikirkan hal itu? Apa kalian berpikir jika YiFan tidak menyesali perkataannya atau tidak ada kata-kata penyesalan dalam dirinya? Tentu saja itu tidak benar. Karena YiFan menyesalinya. Dengan pahit. "I wish…but it's too late now."

Chanyeol akhirnya bicara juga. "It's never too late, man. The game's not over; it's just rain delayed."

YiFan menatap pemuda Park itu. "Apakah Baekhyun mengatakan sesuatu padamu? Tentang Junmyeon dan Jonghyun?"

Chanyeol menggeleng. "Bukan tentang mereka...tapi dia punya banyak hal untuk dikatakan tentangmu."

"Apa maksudmu?"

Chanyeol membenarkan posisi duduknya, lalu menatap YiFan serius. "Maksudku Baekhyun sangat membencimu. Menurutnya, kau seorang bajingan. Serius, bung, jika kau terbakar di jalanan, aku yakin dia tidak akan meludahimu."

YiFan mengolah informasi ini sesaat. "Mungkin dia membenciku karena aku bercinta dengan tunangan dari sepupunya?"

"Mungkin dia membencimu karena kau menghancurkan hati sahabatnya?" Chanyeol mengoreksi.

Ya. Ini mungkin saja terjadi. YiFan tidak bisa mencegahnya.

"Are you in love with Junmyeon, Kris?" tanya Luhan.

Mata YiFan bertemu pandang dengan mata Luhan. "Yes."

"Is there a chance that she feels the same way?"

"I think so." Semakin YiFan memikirkan kata-kata dan tindakan Junmyeon akhir pekan itu, YiFan semakin yakin bahwa Junmyeon merasakan sesuatu pada YiFan. Sesuatu yang nyata dan mendalam.

Setidaknya Junmyeon merasakan itu sebelum YiFan menghancurkannya.

"Do you want to be with her?" pertanyaan Luhan kembali membuyarkan lamunan YiFan.

"Oh God, yes." Ucap YiFan mantap.

"Lalu apakah jika dia kembali lagi dengan mantannya atau tidak, itu tidak ada hubungannya. Pertanyaan yang perlu kau tanyakan pada dirimu sendiri adalah apakah kau bersedia melakukannya, bersedia mengambil risiko, memperbaiki keadaan? To get her back." Ucap Luhan serius.

Dan jawaban YiFan dalam urusan ini sederhana: Apa pun. Segalanya. Tenggorokan YiFan tercekat saat ia mengakuinya, "I'd give anything to have Junmyeon back."

"Then, for God's sake, fight for her! Tell her." Ucap Luhan menyemangati.

Ketika kata-katanya meresap, Chanyeol menggenggam bahu YiFan. "Pada saat seperti ini, aku selalu bertanya pada diri sendiri, 'Apa yang akan dilakukan William Wallace?'" Matanya serius. Penuh perasaan.

Kemudian suaranya meniru aksen Skotlandia yang tidak dimilikinya. "Aye...maju, dan kau tidak akan ditolak...tapi bertahun-tahun dari sekarang, apakah kau bersedia untuk menukar seluruh harimu dari sekarang untuk mendapatkan kesempatan itu, hanya satu kesempatan, untuk kembali dan mengatakan kepada Junmyeon bahwa dia boleh mengambil testismu dan menggantungnya di kaca spion mobilnya, tapi dia tidak akan pernah bisa mengambil...kebebasanmu!"

Luhan memutar matanya pada kutipan film Braveheart ini, dan YiFan benar-benar tertawa. Awan hitam yang sudah ada di bahu YiFan sepanjang minggu akhirnya mulai terangkat. Sebagai gantinya adalah...harapan. Keyakinan. Tekad. Segala hal yang membuat YiFan...menjadi dirinya. Segala hal yang telah hilang sejak melihat Lee Jonghyun menyanyi pagi itu.

Chanyeol menepuk punggung YiFan. "Pergilah, dapatkan dia, kawan. Maksudku, lihat dirimu, kau tidak akan kehilangan martabatmu hanya karena kau melakukan ini, bukan?"

Yeah! He's right. Who needs dignity? Pride? They're overrated. When you've got nothing, you've got nothing left to lose.

"Aku harus pergi menemui Junmyeon. Sekarang juga."

Dan jika YiFan gagal? Setidaknya YiFan berjuang untuk tidak menyerah. Jika YiFan akhirnya jatuh dan terbakar dan Junmyeon menginjak-injak abunya di tanah dengan tumitnya? Biarkan saja. Tapi YiFan harus mencoba. Karena...

Karena Kim Junmyeon begitu berharga.


...


Ketika Luhan berumur enam belas tahun, orangtua mereka menyewa taman wisata Six Flags Great Adventure untuk sehari. Berlebihan? Ya. Tapi itu salah satu manfaat dididik secara istimewa. Itu mengagumkan. Tidak ada antrian, tidak ada kerumunan. Hanya keluarga mereka, beberapa rekan bisnis, dan seratus lima puluh teman terdekat mereka. Lagi pula, ada satu roller coasterthe Mind Bender. Benar-benar gila.

Ingat ketika YiFan bilang bahwa ia tidak pernah naik roller coaster yang sama dua kali? Ya, ini adalah pengecualian.

Chanyeol, Xiumin, dan YiFan naik roller coaster itu sampai mereka muntah. Kemudian mereka naik lagi dan lagi. Bukit pertama mengerikan. Sebuah tanjakan panjang dan menyiksa yang berakhir pada turunan vertikal setinggi 120 meter, kemudian langsung menukik. Tak peduli berapa kali mereka menaikinya, tapi setiap kali mereka naik bukit pertama itu rasanya sama. Telapak tangan YiFan menjadi berkeringat, perutnya bergolak. Itu kombinasi sempurna dari kegembiraan dan ketakutan.

Dan itulah yang YiFan rasakan sekarang.

Kalian melihat seorang pemuda di sana? Pemuda yang berlari layaknya seorang atlet. Tidak, tidak, kalian tidak salah lihat, itu memang benar, itu adalah YiFan, pemeran utama kesayangan kita.

Hanya membayangkan akan melihat Junmyeon lagi...YiFan merasa begitu bergairah karenanya, YiFan tidak akan bohong. Tapi dia juga gelisah. Karena dia tak tahu apa yang ada di sisi lain dari bukit ini, seberapa dalam turunan ini baginya.

Tsk! Apa-apaan ini? Ya, kenapa kalian mulai mengumpat lagi? Tidak adakah yang bersimpati pada pemuda ini, hah? Dasar kalian sulit terpuaskan. Kalian pikir YiFan layak menerimanya? Atau kalian berpikir jika mungkin YiFan pantas mendapatkan yang lebih buruk dari ini?

Oke, ini argumen yang menarik. YiFan telah mengacaukannya, itu adalah fakta. Tidak diragukan lagi. Itu adalah keterpurukan, dan semua pemain yang besar pernah mengalaminya. Namun hari-hari itu sudah berakhir sekarang. YiFan turun dari bangku cadangan dan kembali masuk ke dalam pertandingan.

YiFan hanya berharap Junmyeon akan memberinya kesempatan lagi untuk memukul bola.

YiFan terengah-engah karena lari cepat sejauh tujuh blok, kemudian mengangguk sebagai tanda salam pada petugas keamanan dan berjalan melalui lobi kosong. YiFan menggunakan waktu singkat selama naik lift untuk mengatur napas dan berlatih apa yang akan ia katakan. Lalu YiFan melangkah keluar ke lantai empat puluh.

Hanya ada satu tempat di mana Kim Junmyeon berada jam setengah sebelas pada Senin malam. Dan tepatnya di sini, di mana semuanya berawal. Kantor-kantor yang lain gelap. Sangat tenang, kecuali musik yang berasal dari kantornya. YiFan berjalan menyusuri lorong dan berhenti di luar pintu kantornya yang tertutup.

Lalu YiFan melihatnya. Melalui kaca.

Ya Tuhan.

Junmyeon duduk di mejanya, menatap layar komputer. Dia menggigit bibirnya dengan cara yang membuat YiFan bertekuk lutut. Rambutnya diikat ke belakang, memperlihatkan setiap lekuk sempurna di wajahnya. YiFan rindu menatap dirinya. Kalian pasti tak tahu. Baiklah, aku akan memberi tahu, rasanya seperti...seperti sedang berada di bawah air, kalian akan menahan napas karenanya. Dan setelah beberapa saat di dalam air akhirnya kalian bisa naik ke permukaan dan bisa bernapas lagi. Itulah yang YiFan rasakan sekarang.

Junmyeon mendongak. Dan matanya menatap YiFan.

Lihat bagaimana Junmyeon menatap selama beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan? Bagaimana kepalanya miring ke samping, dan dia menyipitkan matanya? Oke, disini Junmyeon seperti tidak begitu percaya pada apa yang dia lihat.

Junmyeon terkejut. Kemudian keterkejutan berubah menjadi jijik. Seperti dia baru saja makan sesuatu yang busuk. Dan saat itulah YiFan tahu. Ketika YiFan yakin apa yang mungkin sudah kalian tahu. Bahwa YiFan benar-benar seorang idiot.

Junmyeon tidak menerima Jonghyun kembali. Tidak mungkin.

Jika Junmyeon menerimanya? Jika akhir pekan mereka tidak ada artinya bagi dia? Jika YiFan tidak ada artinya? Junmyeon tidak akan menatap YiFan seolah pemuda itu iblis terkutuk. Dia tidak akan terpengaruh sama sekali. Ini logika sederhana kaum pria: Jika seorang wanita marah, ini berarti dia peduli. Jika pacar kalian bahkan tidak mau repot-repot mengomelimu, berarti kalian begitu kacau. Sikap acuh tak acuh adalah ciuman kematian dari seorang wanita. Itu sama saja seperti seorang pria yang tidak tertarik pada seks. Dalam kedua kasus ini, semuanya berakhir. Kalian sudah selesai.

Jadi, jika Junmyeon marah, itu sudah pasti karena YiFan menyakitinya. Dan satu-satunya alasan YiFan membuatnya marah karena gadis itu ingin bersama YiFan.

Mungkin itu adalah cara berpikir yang salah—tapi begitulah adanya. Percayalah, YiFan tahu. YiFan telah menghabiskan hidupnya bercinta dengan wanita yang dia sendiri tidak punya perasaan apa pun terhadap mereka. Jika mereka tidur dengan pria lain setelah bersama YiFan? Bagus untuk mereka. Jika mereka bilang pada YiFan mereka tidak ingin melihatnya lagi? Bahkan lebih bagus lagi. Kalian tidak bisa mengambil darah dari sebuah batu. Kalian tidak bisa mendapatkan reaksi dari seseorang yang tidak peduli.

Junmyeon, di sisi lain, dipenuhi oleh emosi. Terlihat jelas di matanya perasaan marah, curiga, dikhianati, dan semua itu terpancar di wajahnya. Kenyataan bahwa ia masih merasakan sesuatu untuk YiFan, bahkan meski itu adalah kebencian. Tapi itu sudah cukup untuk memberi pemuda itu sebuah harapan. Harapan untuk memperbaiki. Karena pemuda itu yakin dia dapat memperbaikinya.

YiFan membuka pintu kantor Junmyeon dan berjalan masuk. Gadis itu menatap kembali ke laptopnya dan menekan beberapa tombol.

"Apa yang kau inginkan, Kris?" Suara Junmyeon terdengar begitu dingin di telinga YiFan.

"Aku perlu bicara denganmu."

Junmyeon tidak mendongak. "Aku sedang bekerja. Aku tidak punya waktu untukmu."

YiFan melangkah maju dan menutup laptopnya. "Sisihkan waktumu."

Junmyeon mengalihkan pandangannya ke arah YiFan. Matanya keras. Beku, seperti es hitam.

"Pergilah ke neraka!"

YiFan menyeringai, meskipun tidak ada yang lucu tentang hal ini. "Aku ada di sana. Sepanjang minggu."

Junmyeon bersandar di kursinya, menatap YiFan dari atas ke bawah. "Ya, itu benar. Kyungsoo memberitahu kami tentang penyakit misteriusmu."

"Aku tinggal di rumah karena..."

"Apa naik taksi begitu menyedot banyak energimu? Butuh beberapa hari untuk pulih, huh?" potong Junmyeon.

YiFan menggeleng. "Apa yang kukatakan hari itu adalah suatu kesalahan."

Junmyeon berdiri. "Tidak. Satu-satunya kesalahan di sini adalah kesalahanku. Bahwa aku pernah berpikir ada sesuatu yang lebih tentangmu. Bahwa aku benar-benar membiarkan diriku percaya ada suatu...keindahan dibalik pesona sombong dan sikap percaya dirimu. Aku salah. Kau kosong di dalam. Hampa."

Ingat ketika YiFan mengatakan Junmyeon dan dirinya memiliki banyak kesamaan? Itu benar. Dan maksudku bukan berarti hanya di ranjang atau di kantor. Mereka berdua memiliki kemampuan luar biasa untuk mengatakan hal yang tepat. Untuk melukai. Untuk menemukan titik lemah masing-masing dari mereka, dan menyerangnya dengan sebuah granat kata-kata.

"Junmyeon, aku—"

Junmyeon kembali memotong kata-kata YiFan. Dan suaranya tegang. Tercekat.

"Perlu kau tahu, Kris, aku, aku tidak bodoh. Aku tidak mengharapkan lamaran pernikahan. Aku tahu apa yang kau suka. Tapi kau terlihat begitu..." Junmyeon berhenti sebentar, tenggorokannya terasa tercekat. Dengan susuah payah dia menelan ludah dan mencoba menenangkan dirinya kembali. "Dan malam itu di bar? Caramu menatapku. Kupikir..."

Suaranya semakin tersendat, dan YiFan seakan ingin bunuh diri saja.

"...I thought I meant something to you."

Ya, kenapa kalian memberi Junmyeon tatapan simpatik sementara kalian memeberi tatapan mencemooh pada YiFan? Ini sangat tidak adil. Oh, ya Tuhan kenapa semua wanita selalu mudah untuk membela kaumnya sementara pada kenyataannya yang paling menderita adalah kaum laki-laki? Kalian kaum wanita belajarlah untuk sedikit berempati.

YiFan melangkah lebih dekat, ingin menyentuhnya. Untuk menghibur Junmyeon. Untuk mengambil kembali semuanya.

Membuat semuanya lebih baik.

"Yes, you did. You do, Junmyeon."

Junmyeon mengangguk kaku. "Benar. Itulah kenapa kau—"

"Aku tidak melakukan apa pun! Tidak ada kencan. Tidak ada naik taksi terkutuk. Itu semua bohong, Junmyeon. Xiumin hyung yang meneleponku hari itu, bukan Hyuna. Aku hanya mengatakan semua itu agar kau berpikir itu adalah dia." YiFan memotong kata-kata Junmyeon cepat.

Wajah Junmyeon berubah pucat, dan YiFan tahu gadis itu percaya padanya. "Kenapa...kenapa kau lakukan itu?"

YiFan menghembuskan napas. Suaranya pelan dan tegang. Memohon pada Junmyeon agar mengerti.

"Karena...aku jatuh cinta padamu. Aku sudah jatuh cinta padamu sejak lama. Aku tidak menyadarinya sampai hari Minggu malam. Dan kemudian ketika Jonghyun muncul di sini...Kupikir kau menerima dia kembali. Dan itu menghancurkanku. Begitu menyakitkan hingga aku ingin membuatmu merasa...sakit yang sama seperti yang kurasakan."

Bukan momen terbaik YiFan, bukan? Ya, aku tahu—YiFan seorang bajingan. Percayalah, YiFan mengetahuinya juga.

"Jadi aku mengatakan semua itu dengan sengaja, agar kau berpikir bahwa kau tidak berarti apa pun bagiku. Bahwa kau seperti wanita yang lain. Tapi kau bukan, Junmyeon. Kau tidak seperti siapa pun yang pernah kukenal. Aku ingin bersamamu...benar-benar bersamamu. Hanya kau. Aku belum pernah merasakan seperti ini pada siapa pun. Dan kutahu aku terdengar seperti kartu ucapan Hallmark, tapi itu benar. Aku tak pernah menginginkan segala hal yang ingin kumiliki ketika bersamamu."

Junmyeon tidak mengatakan apa pun. Dia hanya menatap YiFan. Dan YiFan tidak bisa tahan lagi. YiFan memegang bahu Junmyeon, lengannya. Hanya ingin merasakannya.

Junmyeon menegang, tapi tidak menarik diri. YiFan mengangkat tangannya kewajah cantik Junmyeon. Ibu jarinya mengelus pipi dan bibir gadis itu.

Oh Tuhan.

Mata Junmyeon tertutup oleh sentuhan YiFan. Di hari lain sebelum hari terkutuk itu, Junmyeon begitu menikmati saat-saat seperti ini. Hari dimana jari-jari itu menyentuhnya dengan sangat lembut. Bagaimana tubuh kokoh itu mendekapnya. Dan bagaimana bibir panas itu menyapu bibirnya. Ya, sejujurnya Junmyeon ingin kembali merasakannya. Tapi saat ini, kemarahan mengalahkan rasa rindunya.

Di sisi lain gumpalan di tenggorokan YiFan terasa seperti mencekiknya. "Kumohon, Junmyeon, bisakah kita...kembali? Semuanya begitu indah sebelumnya. Itu sempurna. Aku ingin kita seperti itu lagi. Aku sangat menginginkannya."

YiFan tidak pernah percaya pada penyesalan. Pada rasa bersalah. Dulu YiFan berpikir itu hanya ada di kepala seseorang. Seperti takut akan ketinggian. Tidak ada yang tidak bisa dilewati jika kalian memiliki tekad. Kekuatan. Tapi YiFan tidak pernah memiliki seseorang yang spesial sebelumnya, namun ia telah berhasil melukai seseorang yang lebih berarti baginya bahkan dibanding dengan...dirinya sendiri. Dan YiFan tahu bahwa ia telah mengacaukan ini karena ketakutannya, kebodohannya semata, ini sungguh...tak tertahankan.

Junmyeon menepis tangan YiFan. Dan melangkah mundur.

"Tidak."

Junmyeon mengambil tasnya dari lantai.

"Kenapa?" YiFan berdehem. "Kenapa tidak?"

"Apa kau ingat ketika pertama kali aku mulai bekerja di sini? Dan kau berkata ayahmu ingin aku menyusun 'latihan' presentasi?"

YiFan mengangguk.

"Kau mengatakan itu karena kau tidak ingin aku mendapatkan klien itu. Benar, kan?" cecar Junmyeon.

"Benar."

"Dan kemudian malam itu ketika kita bertemu dengan Anderson, kau bilang bahwa aku menyodorkan payudaraku ke wajahnya karena...bagaimana kau mengatakannya? Kau ingin 'membuatku marah.' Ya atau tidak?"

Tunggu. Hey, sebenarnya kemana arah pembicaraan ini?

Walau diliputi rasa bingung, Yifan tetap menjawab. "Ya."

"Dan kemudian minggu lalu, setelah semuanya, kau membuatku percaya bahwa kau bicara dengan wanita itu karena kau ingin menyakitiku?"

"Memang, tapi—"

"Dan sekarang, sekarang kau bilang kau jatuh cinta padaku?" potong Junmyeon.

YiFan sedikit mengerti maksud Junmyeon, setidaknya ia mempunyai gambaran kemana arah pembicaraan mereka, lalu berkata, "Ya."

Junmyeon menggeleng pelan. "Jadi kenapa aku harus percaya padamu, Kris?"

YiFan berdiri di sana. Terdiam. Karena YiFan tak punya apa pun untuk diucapkan. Tidak ada pertahanan. Tidak ada alasan yang akan membuat perbedaan nyata. Tidak untuk Junmyeon.

Ketika Junmyeon tidak mendapatkan respon apapun dari YiFan, ia berbalik untuk pergi. Pemuda itu melihatnya dan panik. "Junmyeon, tunggu..."

YiFan melangkah di depan Junmyeon. Gadis itu berhenti namun pandangannya melewati YiFan. Bahkan seolah YiFan tidak di sini.

"Aku tahu aku mengacaukannya. Parah. Cerita tentang gadis taksi itu bodoh dan kejam. Dan aku minta maaf. Lebih menyesal daripada yang pernah kau pahami. Tapi...kau tidak bisa membiarkan itu merusak apa yang telah kita miliki."

Junmyeon tertawa mengejek. "Apa yang bisa kita miliki? Apa yang kita miliki, Kris? Semua yang pernah kita miliki adalah argumen dan persaingan dan nafsu..."

YiFan menggeleng, "Tidak. Ini lebih dari itu. Aku merasanya akhir pekan itu, dan aku tahu kau merasakannya juga. Apa yang kita miliki bisa menjadi...spektakuler. Jika kau memberinya kesempatan. Beri kita...aku, satu kesempatan lagi. Kumohon."

Kalian tahu lagu "Ain't Too Proud to Beg" dari Rolling Stones? Ini lagu tema baru YiFan.

Bibir Junmyeon tertekuk satu sama lain. Lalu dia bergerak mengelilingi YiFan.

Tapi YiFan meraih lengannya.

"Lepaskan aku, Kris."

"Aku tidak bisa." Dan maksudku bukan hanya lengannya.

Junmyeon menyentakkan tangannya. "Cobalah lebih keras. Kau pernah melakukannya sekali. Aku yakin kau bisa melakukannya lagi."

Lalu Junmyeon berjalan keluar pintu. Demi Tuhan Junmyeon sangat ingin sekali menghambur di pelukan pemuda itu saat YiFan memintanya untuk kembali dan mengatakan 'aku masih milikmu'. Namun sekali lagi egonya tidak mengijinkannya. Junmyeon tidak ingin YiFan memandangnya sebagai gadis yang mudah untuk didapatkan setelah ia mencampakkannya begitu kejam. YiFan harus tahu ada harga yang harus ia bayar atas perbuatannya.

Di sisi lain YiFan hanya bisa melihat kepergian Junmyeon dan tidak mengikutinya.


...TBC...


Hai... saya datang lagi walaupun belum bisa menepati janji saya. Maaf... Tapi saya akan lebih berusaha untuk chap depan.

Oke, seperti biasa ucapan terima kasih pada: kuitemy, Dazzlingcloud, Guest, rizqibilla, hae15, Kim XiuXiu Hunnie, ChanB, HamsterXiumin, SILENT READER, anon, Nisa wonkyu, doremifaseul, dirakyu, pinzame, suho kim 5011, Bear, LiezxoticVIP, XG-Lay 34 Army, Cho Hyunjo, Adamas Azalea, Emmasuho, marchtaotao, joonmily, yeolzdae, Gevenear, Raemyoon, Uki96, utsukushii02, j12, dhearagil, chobangmin, krishoaddicted, nam mingyu, Kim Hae rim, ling-ling pandabear.

Yang sudah meluangkan waktu untuk mereview fic ini. Akhir kata, terima kasih. ^^