TANGLED

...

Main Cast: Wu YiFan, Kim Junmyeon

...

Other Cast: Member EXO, Lee Jonghyun (CNBlue)

...

Genre: Romance

...

Rate: M

...

Disclaimer: Remake dari novel dengan judul yang sama karya Emma Case

...

...

14

OKAY. SO THAT DIDN'T GO VERY WELL.

Kalian benar, itu adalah bencana. Mungkin kalian berpikir jika YiFan seharusnya mengejar Junmyeon, bukan? Well, kalian keliru. Apakah kalian pernah membaca The Art of War karya Sun Tzu? YiFan pernah. Ini adalah buku tentang strategi militer. Seorang jenderal yang baik tahu kapan harus menyerang. Seorang jenderal yang hebat tahu kapan harus mundur. Untuk menggalang kekuatan.

YiFan sudah memberitahu Junmyeon apa yang perlu ia katakan. Sekarang adalah saat dimana YiFan harus menunjukkan kepadanya.

Aksi untuk memenangkan perang. Aksi untuk menyembuhkan luka. Bukan kata-kata. Kata-kata itu murah. Milik YiFan terutama, saat ini kata-kata YiFan setara dengan nilai gabungan dari seluruh kotoran yang ada di saku.

Jadi...YiFan punya rencana. Dan kegagalan bukanlah pilihan. Karena ini bukan hanya tentang dirinya, tentang apa yang ia inginkan. Tidak lagi. Tapi ini juga tentang apa yang Junmyeon inginkan. Dan gadis itu menginginkannya. Tentu, Junmyeon melawannya, tapi keinginan itu ada di sana. Seperti yang selalu terjadi.

Tidak akan pernah ada seorang pun yang bisa memahami Junmyeon seperti YiFan. Dan—sebelum kalian benar-benar marah pada YiFan—YiFan tidak mengatakan ini karena rasa percaya diri yang berlebihan. YiFan mengatakan ini karena di balik kemarahan, di bawah lukanya...Junmyeon sama jatuh cintanya dengan dirinya seperti dia yang jatuh cinta kepada gadis itu.

Melihat Junmyeon seperti melihat dirinya sendiri ke dalam cermin.

Jadi YiFan tidak akan berhenti. YiFan tidak akan menyerah. Tidak sampai mereka berdua mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Memiliki satu sama lain.

Hei, apa kalian tahu apa lagi yang jenderal besar akan lakukan?

Yeah, memanggil pasukan cadangan.


...


Berikut ini adalah fakta untuk kalian: Kebanyakan pria tidak bisa melakukan multitasking.

Itu benar.

Itulah kenapa kalian tidak bisa mendapati banyak pria yang mencoba membuat masakan lengkap untuk makan malam Thanksgiving. Itulah yang menjadi alasan bagi ibu-ibu di seluruh dunia untuk segera pulang ke lokasi bencana ketika mereka meninggalkan anak-anak mereka bersama suami di rumah selama beberapa jam. Sebagian besar kaum pria hanya bisa benar-benar fokus pada satu hal pada suatu waktu.

Sebagian besar kaum pria, tapi tidak untuk YiFan.

Sebelum YiFan keluar dari pintu kantor, ia menghubungi Kyungsoo melalui ponselnya. Tidak, YiFan bukan atasan yang rewel. Jika kalian seorang asisten dari salah satu bankir investasi paling sukses di Seoul, panggilan larut malam merupakan bagian dari deskripsi kerja. Sekarang setelah seminggu YiFan mengacuhkan segala masalah di sekitarnya, YiFan perlu tahu apakah dia masih punya klien untuk ditangani.

Dan untung bagi YiFan, karena dia masih punya klien.

"Kuharap kau dapat menumbuhkan ginjal ketiga, Kris," kata Kyungsoo. "Karena jika Chanyeol, Jongin, dan Xiumin membutuhkannya pada saat bersamaan, kau harus menyerahkannya pada mereka."

Oh, rupanya, mereka orang-orang yang sudah menggantikan pekerjaan YiFan ketika pemuda itu sedang membuat lekukan permanen pada sofanya.

"Pesankan Jongin satu meja di Scores akhir pekan ini. Aku yang bayar."

Oke, tidak ada yang lebih baik untuk urusan mengucapkan terima kasih seperti penari telanjang prabayar.

Sedangkan untuk Chanyeol dan Xiumin, YiFan perlu berpikir tentang urusan yang satu ini. YiFan punya ide bar striptease terlarang untuk mereka yang sudah masuk ke dalam the Dark Side. Oh, God—semoga Luhan tidak tahu tentang ini.

Setelah Kyungsoo memberikan info terbaru tentang pekerjaannya, YiFan meminta gadis itu untuk mengosongkan jadwalnya dan memberinya daftar hal-hal yang ia perlukan untuk besok. Karena YiFan punya hari yang panjang untuk membuat perencanaan tapi itu tidak ada hubungannya dengan investasi perbankan.

Setelah mereka menutup telepon, YiFan berjalan melewati pintu apartemennya. Oh Tuhan. YiFan menutup hidung dengan tangannya. How the hell did he live with that smell for seven days?

Oh, iya benar—YiFan sedang mati otak.

YiFan memperhatikan sekeliling ruangan. Kantong sampah berjajar di salah satu dinding. Botol kosong ditumpuk di atas meja. Piring kotor memenuhi bak cuci, dan bau udara di apartemennya seperti aroma pengap yang merembes melalui ventilasi mobilmu ketika kalian terjebak kemacetan lalu lintas di belakang truk sampah. Luhan berusaha sebaik mungkin untuk membersihkannya, tapi kondisinya masih saja kacau.

Mirip seperti hidup YiFan pada saat itu, bukan? Ini adalah contoh yang sangat bagus dari simbolisme.

YiFan berjalan ke kamar tidur di mana ia benar-benar bisa bernapas melalui hidungnya. Ia duduk di tepi ranjang dan menatap telepon. Ingat pasukan cadangan yang tadi YiFan sebutkan? Yeah, saatnya untuk memanggil mereka.

YiFan mengangkat telepon dan menghubungi seseorang. Kemudian sebuah suara menenangkan menyapa gendang telinganya setelah deringan kedua. Kombinasi sempurna dari kekuatan dan kenyamanan, dan YiFan menjawab.

"Hi, Mom."

Kalian pikir YiFan akan menghubungi orang lain, benar, kan?

Tsk! Kuberi tahu kalian, jauh di lubuk hati, YiFan adalah anak mama. YiFan cukup jantan untuk mengakuinya. Dan percayalah, YiFan bukan satu-satunya yang seperti ini. Cukup banyak menjelaskan, bukan? Itulah alasan kenapa pacarmu tidak mampu menaruh dengan tepat kaus kaki atau celana dalam ke dalam keranjang cucian, karena dia dibesarkan dengan mamanya yang melakukan hal itu untuknya. Itulah kenapa pacarmu mengatakan jika masakanmu lumayan, bukan enak, itu karena selera pacarmu sudah terpaku pada makanan buatan mamanya di hari minggu.

Ditambah lagi, kalian tahu istilah "Ibu tahu yang terbaik"? Ya, itu menjengkelkan. Tapi apakah itu akurat? Sangat-sangat akurat. Sampai saat ini YiFan belum pernah tahu ibunya melakukan kesalahan. Dalam hal apa pun. Jadi pada saat ini, pendapat ibunya adalah sumber yang paling berharga baginya. Sebenarnya, YiFan tahu apa yang menurutnya harus ia lakukan untuk memperbaiki keadaan dengan Junmyeon, tapi YiFan ingin mengkonfirmasi bahwa itu memang tindakan yang benar untuk dilakukan. Ini adalah wilayah baru baginya. Dan YiFan tidak boleh mengacaukannya.

Lagi.

Nyonya Wu mulai bicara tentang sup ayam dan kompres dingin. Tapi YiFan memotong kata-katanya.

"Mom, sebenarnya aku tidak sakit. Maksudku bukan seperti yang kau pikirkan."

Sambil mendesah, YiFan mulai menceritakan kisah kotornya. versi G-rate yang dipersingkat.

Mirip seperti suatu pengakuan.

Setelah YiFan menguraikan kejadian pagi di kantornya di mana ia mengacaukan keadaan dengan Junmyeon—oke, kalian benar, di mana YiFan mengacaukan segalanya—nyonya Wu menghembuskan napas penuh kesedihan.

"Oh, Kris."

Hanya dua kata, tapi mampu membuat YiFan merasa perutnya terbalik oleh rasa penyesalan dan kekecewaan. Sesuatu yang yang tidak akan pernah ia berikan pada mesin waktu.

YiFan selesai menceritakan tentang keterpurukannya dan mulai menjelaskan rencana untuk memperbaiki keadaannya besok. Setelah YiFan selesai, nyonya Wu terdiam selama beberapa saat. Dan nyonya Wu melakukan sesuatu yang tak pernah YiFan kira akan dilakukan oleh ibunya yang sopan dan menahan diri.

Nyonya Wu tertawa. "You're so much like your father. Terkadang aku bertanya-tanya apakah kau punya sedikit saja DNA dariku."

Demi Tuhan, YiFan benar-benar tidak pernah bisa melihat adanya kesamaan antara dirinya dan ayahnya. Kecuali kecintaan mereka akan bisnis, dorongan mereka untuk sukses. Mereka selalu seimbang dalam bidang itu. Sebaliknya, Tuan Wu sangat ketat dalam berperilaku. Seorang pria yang berdedikasi, yang setia pada keluarga sepenuhnya. Bertolak belakang dengan YiFan dalam segala hal.

"Really?"

Nyonya Wu masih terkekeh. "Suatu hari akan kuceritakan padamu bagaimana ayahmu dan aku akhirnya bersama di universitas Columbia. Dan aku akan memasukkan semua rincian kecil dan jorok yang ayahmu sendiri tak pernah ingin kau mengetahuinya."

Oke, kita berhenti disini sebentar, jika ceritanya melibatkan seks dalam bentuk apa pun, sejujurnya YiFan tidak ingin mendengarnya.

Sekali pun.

Karena menurut pendapat YiFan, orangtuanya melakukan hubungan seks hanya dua kali sepanjang hidupnya. Sekali untuk mendapatkan Luhan dan sekali untuk mendapatkan dirinya. Itu saja. Oke, pada tingkat tertentu YiFan sadar bahwa ia menipu diri sendiri, tapi ini adalah salah satu topik di mana ia lebih suka hidup dalam penyangkalan.

"Sedangkan untukmu dan Junmyeon, aku membayangkan dia akan jadi cukup...terkesan dengan apa yang telah kau rencanakan. Nantinya. Pada awalnya, aku menebak dia akan marah besar. Kau harus bersiap untuk itu, Kris."

YiFan juga memperkirakan akan hal itu. Ingat garis tipis yang Chanyeol bicarakan?

"I have to ask you though, dear—are you sure? Are you absolutely positive that Junmyeon is the young lady for you? Not just as a lover but as a friend, a companion, a partner? You need to be certain, Kris. It's wrong to toy with someone's feelings; you don't need me to tell you that."

Sekarang ada nada celaan dalam suara Nyonya Wu—nada yang sama seperti yang ia gunakan saat YiFan berumur delapan tahun dan tertangkap basah membaca buku harian Luhan.

"I'm a hundred percent sure. It's Junmyeon or…nothing."

YiFan masih terkejut betapa tepatnya ini. Dan, terus terang, YiFan ketakutan setengah mati.

Maksudku, bahkan sebelum YiFan bercinta dengan Junmyeon, ketertarikannya untuk bercinta dengan wanita lain sudah mulai memudar. Drastis. Dan itu bukan karena mereka pasangan seks yang buruk. Itu karena mereka bukan Junmyeon. Jika, karena suatu malapetaka, Junmyeon tidak akan menerima YiFan kembali, YiFan mungkin akan mencukur kepalanya dan pindah ke Tibet.

Pemuda itu dengar para biksu sedang dibutuhkan di sana.

"Kalau begitu, ini saran mommy: Bertindaklah secara tak kenal lelah. Pantang menyerah. Benar-benar gigih dalam mengejar keinginanmu. Jika sedikit saja kepercayaan dirimu goyah, Junmyeon akan menganggap itu sebagai tanda bahwa kasih sayangmu mungkin juga goyah. Kau sudah memberinya beberapa alasan untuk tidak percaya padamu, jangan biarkan ketidakkukuhanmu memberinya alasan lagi. Bersikaplah yang manis, Kris. Jujurlah. Bersikaplah seperti pria yang kubesarkan. Pria yang kukenal."

YiFan tersenyum. Dan saat itu juga, ia tahu—tanpa pertanyaan—entah kenapa, dengan cara tertentu, ia akan memperbaiki situasinya.

"Thanks, Mom."

Saat YiFan akan mengucapkan selamat tinggal, nyonya Wu menambahkan, "Dan demi Tuhan, segera setelah kau menjernihkan situasi ini, aku ingin kalian berdua mampir ke rumah untuk makan malam. Aku ingin bertemu wanita yang membuat putraku bertekuk lutut padanya. Dia pasti luar biasa."

Kemudian seratus bidikan gambar tentang Junmyeon melompat masuk kepala YiFan sekaligus...

Junmyeon di mejanya, berkacamata. Cemerlang dan penuh tekad. Suatu kekuatan yang harus diperhitungkan.

Junmyeon tertawa pada salah satu komentarnya yang tidak pantas. Memperkenalkan Chanyeol ke Baekhyun. Membantu Xiumin keluar dari kemacetan.

Junmyeon dalam pelukannya, begitu bergairah dan memberi. Percaya dan terbuka. Junmyeon yang berada di bawahnya, di atasnya, di sekitarnya, menyesuaikan gerak demi gerak dirinya, erangan demi erangan.

Membayangkan itu semua membuat senyum YiFan bertambah lebar.

"She is, Mom. She really is."


...


Oke, saatnya pelajaran sejarah, nak.

Pada jaman dahulu kala, ketika dua klan sedang berperang, mereka akan mengirim bangsawan ke lapangan sebelum pertempuran untuk mencoba dan merundingkan resolusi tanpa kekerasan. Jika para penguasa bisa menemukan kompromi, maka tidak akan ada pertempuran. Namun jika tidak bisa mencapai kesepakatan—maka dimulailah pertempuran.

Dan YiFan bicara tentang kapak perang jaman dulu, panah berapi, peluru-meriam-yang-akan-memotong-kakimu-tepat-di-lutut.

Ya, ini adalah adegan di film Braveheart. Tapi itu masih akurat dilihat dari sudut pandang sejarah.

Maksudku adalah, untuk mencapai setiap tujuan, ada dua cara untuk mencapainya: cara yang keras dan cara yang lunak. Orang-orang jaman dulu menyadarinya. Dan begitu juga YiFan. Itulah sebabnya YiFan berdiri di luar gedung kantornya menunggu untuk bertemu dengan Junmyeon sebelum dia berjalan masuk ke pintu. Untuk menawarkan rekonsiliasi. Untuk mencari solusi damai.

Kita akan menyebutnya "cara lunak" milik YiFan.

Dan dia datang. Lihat seorang gadis di seberang blok? Ya, ya, ya, itu adalah gadis yang sedang kita bicarakan sedari tadi, Junmyeon. Rupanya, YiFan bukan satu-satunya orang yang hari ini berangkat kerja siap untuk berperang. Junmyeon pasti memakai baju besinya.

Junmyeon mengenakan celana panjang hitam dan sepatu hak yang sangat tinggi sehingga dia akan berdiri sejajar dengan YIFan. Rambutnya dipelintir menjadi sanggul yang ketat dengan hanya beberapa lembar membelai wajahnya. Dagunya terangkat, matanya keras, dan dia berjalan dengan langkah terarah penuh semangat.

Luar biasa.

Detak jantung YiFan bertambah cepat, dan kejantanannya bangkit setengah tegang, tapi YiFan mengabaikannya. Memang benar, sudah lama sekali YiFan tidak berhubungan seks, tapi YiFan akan mendapatkannya nanti. Saat ini, fokusnya sepenuhnya hanya pada Junmyeon dan langkah selanjutnya.

YiFan bertolak dari gedung dan bertemu dengannya di tengah perjalanan gadis itu.

"Hai, Junmyeon. Kau terlihat lezat pagi ini."

YiFan tersenyum dan mengangsurkan bunga lavender warna ungu. Junmyeon tidak menerimanya. Sebaliknya, gadis itu berjalan melewati YiFan tanpa kata.

YiFan berjalan mundur namun ia masih ada di depan gadis itu. "Pagi, Junmyeon."

Junmyeon mencoba berjalan melingkari YiFan, tapi pemuda itu memblokir langkahnya dan menyeringai.

Tidak bisa menahannya.

"Apa? Kau tidak mau bicara denganku? Kau pikir itu benar-benar pantas mengingat kita bekerja bersama-sama?" ucap YiFan.

Suara Junmyeon terdengar datar dan terlatih, seperti robot. "Tentu saja tidak, Mr. Wu. Jika Anda memiliki urusan bisnis untuk dibicarakan dengan saya, saya akan senang untuk bicara dengan Anda. Tapi jika itu tidak menyangkut pekerjaan, maka saya lebih suka—"

"Mr. Wu?" I don't think so. "Apa ini semacam permainan peran yang *kinky? Aku bos jahat dan kau sekretaris seksi?"

Rahang Junmyeon terkatup, dan tangannya mengepal kencang pada tasnya.

"Atau kau bisa menjadi bosnya, jika kau suka. Dan aku bisa menjadi asisten penurut yang membutuhkan hukuman. Aku pasti bisa masuk ke segala hal yang berbau dominatrik." Junmyeon membuat suara muak. Dan berjalan pergi.

YiFan dengan mudah mengejarnya. "Tidak, tunggu, Junmyeon. Aku bercanda. Itu lelucon. Tolong tunggu. Aku sungguh perlu bicara denganmu."

Junmyeon menghentikan langkahnya. Suaranya tajam—kesal. "Apa yang kau inginkan?"

YiFan tersenyum dan mengangsurkan bunganya lagi. "Makan malamlah denganku pada hari Sabtu."

Mendengar itu, alis Junmyeon berkerut. "Apa kau minum sejenis obat yang tidak aku tahu?"

Dahi YiFan berkerut, "Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Apa perkataanku tadi malam tidak cukup jelas, huh? Kenapa kau berpikir jika aku akan mempertimbangkan untuk pergi keluar denganmu lagi?"

YiFan mengangkat bahu. "Aku berharap suasana hatimu lebih bagus pagi ini. Mungkin saja setelah tidur nyenyak kau akan menyadari bahwa kau masih...menyukaiku."

Junmyeon mendengus. "Itu tidak mungkin terjadi."

Junmyeon berjalan selangkah. Kemudian berhenti dan berbalik menghadap kearah YiFan. "Tidak, setelah dipikir-pikir. Tidak bisa."

YiFan mengimbangi di samping Junmyeon ketika gadis itu berjalan terus menuju gedung. YiFan punya waktu dua menit, mungkin kurang. Jadi ia harus bicara dengan cepat.

"Serius, Junmyeon, aku sedang berpikir—"

"Sungguh suatu kejutan." Potong Junmyeon.

Hey, apakah gadis ini selalu merasa sok pintar?

"Aku ingin memulai dari awal. Melakukan sesuatu dengan benar saat ini. Aku ingin mengajakmu pergi keluar. Mengatakan padamu segala hal yang seharusnya kukatakan sebelumnya. Tentang betapa menakjubkannya kau menurutku. Betapa pentingnya kau bagiku. Oh, dan aku tidak akan bohong lagi padamu."

Tidak sekali pun.

YiFan sungguh-sungguh.

Sepuluh tahun dari sekarang, jika Junmyeon bertanya apakah celana jins tertentu membuat pantatnya terlihat gemuk—dan jika memang begitu? YiFan akan mempertaruhkan hidupnya dan menjawab ya.

YiFan bersumpah.

Junmyeon menatap lurus ke depan saat ia menjawab, "Terima kasih atas tawarannya, tapi tidak. Dibuat merasa bodoh dan dimanfaatkan sungguh tidak masuk dalam daftar tertinggi agendaku minggu ini. Aku sudah pernah mengalaminya. Tidak mencari pengulangan."

YiFan menangkap sikunya dengan lembut dan memutar tubuh Junmyeon ke arahnya. YiFan mencoba untuk menangkap matanya, tapi Junmyeon menolak bertemu dengan mata YiFan. Suara YiFan rendah. Dan tulus.

"Junmyeon...aku panik. Aku takut, dan aku mengacaukannya. Itu takkan pernah terjadi lagi. Aku belajar dari kesalahanku."

"Kebetulan sekali." Junmyeon menatap YiFan dari atas ke bawah penuh arti.

"Aku juga."

Lalu gadis itu berjalan pergi. Dan YiFan menghembuskan napas pajang.

Oke. Ternyata menggunakan cara lembut tidak menghasilka apa-apa. Kalau begitu gunakan cara yang keras.

Kenapa YiFan tidak terkejut?


...


Saat Junmyeon membuka pintu masuk gedung, YiFan berada tepat di belakangnya. Dan begitu Junmyeon melintasi ambang pintu, musik mulai dimainkan.

Dan langkah Junmyeon terhenti seketika.

Mereka disebut The Three Man Band. Mereka musisi keliling. Secara harfiah. Sang vokalis gitarnya tergantung dengan tali bahu dan mikrofon yang terpasang ke dadanya. Sang drummer memiliki seperangkat drum lengkap yang terikat di depan tubuhnya—seperti seorang anak di marching band, tapi jauh lebih keren. Orang terakhir mempunyai kombinasi gitar dan keyboard yang terletak pada dudukan di pinggangnya.

Sebenarnya ini sangat tidak norak seperti kedengarannya. Mereka bagus. Seperti salah satu band yang memainkan lagu tema di serial tv Jersey Shore pada musim panas. Dan mereka memainkan "Caughtup in You" dari Thirty-Eight Special.

Junmyeon mendesis kearah YiFan, "What the hell is this?"

YiFan mengangkat bahunya. "Well, aku tidak tahu cara bermain gitar. Dan aku tidak bisa menyanyi. Jadi..."

Tsk! Percaya padaku, YiFan tahu apa yang kalian pikirkan. Kalian pasti akan mengatakan: 'Musik, Kris? Inikah rencana besarnya? Bukankah Jonghyun sudah pernah mencobanya?' Ya, mungkin Jonghyun sudah mencoba strategi ini, tapi dia gagal. Dan kalian harus tahu jika ini akan berbeda. Pertunjukkan yang akan Yifan perlihatkan...

Lebih bagus.

Lebih lama.

The Three Man Band is mobile. Yang berarti mereka dapat—dan akan—mengikuti Junmyeon sepanjang hari. Bernyanyi dengan tidak hanya satu tapi puluhan lagu yang dipilih dengan cermat. And no! This isn't the whole plan. This is just the first step. There's more.

"Aku membencimu." Ucap Junmyeon.

Kekeke~Of course, no. She doesn't. Junmyeon tidak akan membenci YiFan hanya karena ini. Dia hanya mencoba untuk menyangkalnya. Kalian setuju denganku, bukan?

YiFan menyelipkan bunga yang tadi ditolak Junmyeon ke belakang telinganya. "Dengarkan liriknya, Junmyeon."

Sang penyanyi bersenandung tentang seorang pria yang bertekuk lutut, begitu jatuh cinta hingga dia ingin berubah, menjadi lebih baik. Untuk sang wanita.

Junmyeon merenggut bunga dari rambutnya dan membuangnya ke lantai. Kemudian ia mendorong dan melewati YiFan menuju lift lalu masuk ke dalamnya.

Dan tentu saja The Three Man Band ikut masuk ke dalam lift dan berkerumun di sekelilingnya. Masih memainkan alat musiknya.

Apa kalian melihat ekspresinya? Junmyeon terlihat ketakutan, bukan? Sejujurnya saat pintu tertutup, YiFan hampir merasa tidak enak.

Hampir.

YiFan mengambil lift berikutnya menuju lantai empat puluh. Sesampainya di sana, suara lagu "Angel" dari Aerosmith berkumandang. Mata YiFan langsung menuju The Three Man Band. Well, rupanya Junmyeon telah melarang mereka untuk masuk ke dalam kantornya. Jadi mereka berhenti di luar pintu kantor yang tertutup.

YiFan berhenti di meja Kyungsoo. Dan gadis itu memberinya kopi.

"Lagu yang bagus." Ucap Kyungsoo.

"Terima kasih. Apa semuanya sudah di atur?"

"Siap beraksi, bos." Lalu Kyungsoo menjentikkan jarinya. "Oh, dan aku membawakan ini untukmu." Kyungsoo memberi YiFan sebuah kotak berukuran sedang penuh dengan DVD. Di tumpukan atas ada Gone with the Wind, Say Anything, Beauty and the Beast, Casablanca, Titanic,dan...The Notebook.

"Apa ini?"

"Penelitian. Untukmu. Kupikir kau mungkin membutuhkannya."

YiFan tersenyum. "What would I do without you, Kyungsoo?"

"Menghabiskan sisa hidupmu berteman dengan sengsara dan kesepian?"

Oke, jawaban gadis itu tidak jauh meleset.

"Tambah liburanmu selama seminggu, oke?" ucap YiFan sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Kyungsoo.

Lalu YiFan membawa kotak itu ke kantornya dan mempersiapkan tahap kedua.


...


Bunga. Banyak sekali wanita berkata mereka tidak menginginkannya. Tapi setiap wanita senang bila mereka mendapatkannya. Munafik.

Itulah sebabnya YiFan sudah mengatur agar bunga itu di kirim ke kantor Junmyeon, setiap jamnya. Tujuh lusin sekaligus. Satu lusin melambangkan setiap hari mereka berpisah.

Romantis, kan? Kurasa juga begitu.

Dan meskipun YiFan tahu bunga favorit Junmyeon adalah aster putih, tapi YiFan secara spesifik mengatakan kepada penjual bunga untuk menghindarinya. Sebaliknya, ia memilih karangan bunga yang eksotis dengan kelopak berwarna cerah dan bentuk yang aneh. Jenis bunga yang mungkin belum pernah dilihat Junmyeon seumur hidupnya, berasal dari tempat yang belum pernah gadis itu datangi.

Tempat-tempat dimana YiFan ingin mengajak Junmyeon kesana.

Jangan lupa jika YiFan juga menyelipkan kartu ucapan di dalamnya. Pada awalnya YiFan membuat pesannya sederhana dan umum. Coba lihat:

Junmyeon,

I'm sorry.

Kris

...

Junmyeon,

Let me make it up to you.

Kris

...

Junmyeon,

I miss you. Please forgive me.

Kris.

...

Tapi setelah beberapa jam tidak ada respon apapun dari Junmyeon. YiFan mulai berfikir untuk berupaya lebih keras. Harus menjadi lebih kreatif. Bagaimana menurut kalian?

Junmyeon,

Kau mengubahku jadi seorang penguntit.

Kris

...

Junmyeon,

Kencanlah denganku hari Sabtu dan aku akan memberimu semua klienku.

Semuanya.

Kris

...

Junmyeon,

Jika aku melemparkan diri kedepan bus,

Maukah kau datang menjengukku di rumah sakit?

Kris

.

PS - Cobalah untuk tidak merasa terlalu bersalah kalau aku tidak

bisa bertahan hidup. Sungguh.

...

Karangan bunga yang terakhir datang empat puluh lima menit yang lalu. Dan sekarang YiFan hanya duduk di mejanya, menunggu. Jika kalian bertanya, menunggu untuk apa? Kalian akan melihatnya. Junmyeon mungkin keras kepala, tapi dia tidak terbuat dari batu.

Tak berselang lama pintu kantor YiFan di banting terbuka, menyisakan penyok di dinding.

Here we go.

"Kau membuatku gila!" teriak Junmyeon. Pipinya memerah, napasnya memburu, dan matanya memancarkan sinar pembunuhan.

Beautiful.

YiFan mengangkat alisnya penuh harap. "Gila? Seperti kau ingin merobek bajuku terbuka lagi?"

"Tidak. Gila seperti gatal oleh infeksi jamur yang tidak mau hilang."

YiFan tersentak. Tidak bisa mencegahnya.

Maksudku—Ya Tuhan.

Junmyeon melangkah menuju meja YiFan. "Aku mencoba untuk bekerja. Aku harus fokus. Dan kau justru menyuruh Jaejoong, Yoochun, dan Junsu memainkan setiap lagu murahan tahun delapan puluhan yang pernah ditulis di luar pintu kantorku!"

"Murahan? Benarkah? Hah. Kupikir kau tipe gadis yang suka lagu tahun delapan puluhan."

Well, aku baru tahu sekarang.

"Aku serius, Kris. Ini adalah tempat kerja, aku pasti bukan satu-satunya orang yang terganggu oleh suara ini."

Bagus. Junmyeon memanggil YiFan dengan nama Kris lagi. Kemajuan, bukan?

Dan sejauh ini mengganggu seluruh staf? Oke, perlu kalian catat YiFan sudah memikirkan hal ini sebelumnya. Ia bicara dengan sebagian besar orang di lantai ini dan memberi mereka informasi lebih dulu tentang hiburan hari ini. Dan mereka sepertinya tidak keberatan.

"Aku juga serius, Junmyeon. Kau tidak seharusnya bekerja. Kau seharusnya mendengarkan. Aku sendiri yang memilih daftar lagunya. Ini adalah aksi besarku. Untuk menunjukkan padamu bagaimana perasaanku."

"Aku tidak peduli tentang perasaanmu!"

"Well, itu kasar."

Junmyeon menyilangkan lengannya, dan mengetuk kakinya di lantai.

"Kau tahu, aku tidak ingin melakukan ini, tapi kau tidak memberiku pilihan. Kau jelas belum dewasa untuk menangani urusan ini seperti layaknya orang dewasa. Jadi...Aku akan memberitahu ayahmu."

Benar.

'Dia lah orangnya yang akan melapor ke ayahku, tapi aku yang dituduh belum dewasa.' Batin YiFan.

Tentu saja.

Dan untuk yang satu ini YiFan juga sudah memikirkannya. Ingat stategi perang. "Well, sebenarnya ayahku ada di California selama dua minggu ke depan. Jadi, aku tidak terlalu khawatir tentang apa yang akan dilakukannya padaku lewat telepon."

Junmyeon membuka mulutnya untuk mencoba lagi, tapi YiFan dengan cepat memotongnya. "Kau bisa mencoba bicara dengan Manager Kim. Tapi dia sedang di luar, di lapangan golf Trump yang baru saja dibuka. Dan Direktur Park berada di kantornya." Junmyeon berbalik, tapi kata-kata YiFan berikutnya membuatnya berhenti. "Tapi aku harus mengingatkanmu...Direktur Park sebenarnya punya titik lemah oleh sesuatu yang romantis. Dan ya, jika aku menjadi dirimu, aku tidak akan terlalu berharap. Karena dia...adalah ayah baptisku."

Junmyeon menatap YiFan sejenak. Dia mencoba memikirkan kata-kata balasannya. Di sisi lain, YiFan senang karena ia sudah membersihkan semua benda keras dari mejanya. Kalian tahu, benda yang mungkin ingin Junmyeon lemparkan ke kepala YiFan sekarang juga.

"Kau tidak bisa melakukan ini. Ini adalah pelecehan seksual."

YiFan berdiri dan bersandar ke depan meja kerjanya. "Kalau begitu, tuntut aku."

Mulut Junmyeon terbuka untuk memuntahkan apa yang aku yakin akan menjadi semburan dengan ukuran gunung berapi. Tapi YiFan segera memotongnya. Dan suaranya tenang. Rasional.

"Atau, kau bisa menghindar dari kesulitan dan pergi berkencan denganku pada hari Sabtu. Satu kencan. Satu malam, dan semua ini akan hilang. Setelah itu, jika kau masih tidak ingin berhubungan denganku, aku tidak akan mengganggumu. Sumpah pramuka."

Secara teknis, ini bukan kebohongan. Kita sudah sepaham bahwa Pramuka bukanlah kesukaan YiFan. Memanfaatkan celah, ingat?

Wajah Junmyeon berubah menjadi ekspresi muak. "Sama sekali tidak. Aku tidak akan bisa diperas untuk pergi kencan denganmu."

YiFan duduk lagi. "Itu adalah pilihan yang kuat. Feminisme yang menunjukkan aku-seorang-wanita-maka-dengarkan-aumanku. Aku bangga padamu, Junmyeon."

Junmyeon menyipitkan matanya dengan curiga.

Gadis pintar.

"Ditambah lagi, aku tidak sabar menunggumu melihat apa yang sudah kurencanakan besok. Aku tidak akan merencanakan rapat apa pun. Mungkin itu akan jadi terlalu bising." Lanjut YiFan.

Junmyeon menatap YiFan lekat. Suaranya meninggi dalam setiap katanya. Seperti petir dari badai yang mendekat. "Kau adalah bajingan manipulatif, kekanak-kanakan, pendendam!"

"Aku tidak berusaha jadi seperti itu." Ucap YiFan santai.

Kemudian Junmyeon berjalan mengelilingi meja YiFan dan pemuda itu berdiri untuk menyambutnya.

"Seorang bajingan egois, menyebalkan!"

"Aku tahu."

Junmyeon memukul dada YiFan dengan kedua tangannya.

Buk.

"Aku berharap tak pernah melihatmu di klub bodoh itu!"

Buk.

"Aku berharap tak pernah mendapat pekerjaan ini!"

Buk.

"Aku berharap tak pernah bertemu denganmu!"

Saat Junmyeon akan kembali memukul dada YiFan, dengan cepat pemuda itu mencengkeram pergelangan tangannya dan menarik tubuh gadis itu lebih dekat.

Ya, di waktu yang lain dan di situasi yang lain, mungkin inilah saat dimana mereka biasanya mulai berciuman.

Apakah kalian berharap untuk melihat bagian itu? Maaf. Takkan terjadi. Karena ini bukan hanya tentang YiFan dan ereksinya yang mengamuk. Tidak lagi. Dan YiFan harus membuktikannya pada Junmyeon.

Jadi, ia menahan diri. Tapi jangan berpikir ini mudah, karena ini sulit. Tidak ada yang lebih YiFan inginkan selain meleburkan bibirnya dengan bibir Junmyeon dan mengingatkan Junmyeon betapa nikmat ciuman itu di antara mereka. Betapa masih sama nikmatnya.

YiFan membungkuk dan menempelkan dahinya di dahi Junmyeon. Gadis itu menutup matanya. YiFan menggesek hidungnya dengan hidung Junmyeon dan menarik napas, ia perlu memuaskan rasa candunya terhadap gadis itu. Aromanya bahkan lebih enak daripada yang ia ingat. Seperti kue-kue hangat di Taman Eden.

Dan kemudian YiFan berbisik, "Aku menyesal menyakitimu. Aku tidak bermaksud melakukan semua itu. Tidak sepatah kata pun. Tolong percayalah."

Junmyeon membuka matanya. Ada keterkejutan pada mata coklat indahnya. Dan ketakutan, seperti rusa yang baru saja menangkap aroma pemburu. Karena Junmyeon ingin percaya pada pemuda itu. Dan dia tahu bahwa YiFan juga tahu.

Lalu Junmyeon berkedip. Dan matanya menjadi keras. Sulit untuk mengatakan apakah dia lebih marah pada YiFan atau marah pada dirinya sendiri.

Mungkin pada YiFan, kurasa.

Dengan cepat Junmyeon mendorong dada pemuda itu, hingga membuat YiFan jatuh kembali ke kursinya.

"Fuck You!"

Setelah mengatakan itu, Junmyeon berjalan menjauh dari mejanya menuju pintu.

"Di sini? Sekarang?" YiFan menatap langit-langit, seakan ia sedang menperdebatkan kemungkinan ini. "Well...oke. Tapi bersikaplah yang lembut. Sofaku masih perawan."

YiFan melonggarkan dasinya dan mulai membuka kancing kemejanya.

Junmyeon tergagap. Tidak menyangka jika keadaannya akan seperti ini. Ia mengarahkan jarinya ke arah YiFan sambil menggeram.

Yeah, it's fucking hot.

"Ugh!" Hanya itu, tanpa sepatah katapun, Junmyeon berjalan keluar dari kantor YiFan. Dia berhenti di depan The Three Man Band, yang telah menunggunya di luar. "Dan jangan ikuti aku!"

Saat Junmyeon menghilang di lorong, sang vokalis menatap YiFan.

Pemuda itu mengangguk.

Dan mereka kembali mengikuti langkah Junmyeon, melantunkan "Heat of Moment" dari Asia.

Hei—memang apa yang salah? Kenapa kalian terlihat khawatir? Tolong jangan memasang ekspresi seperti itu. YiFan tahu apa yang ia lakukan. Jadi kalian tenang saja. Karena ini semua bagian dari rencana.


...TBC...


*kinky: perilaku seksual yang tidak biasa.