Tittle: Kataomoi (Unrequited Love)
Genre: Romance, Friendship, Angst
Pairing: Kyumin
Rating: T
Warning: typo(s) everywhere, BL, Failed angst (maybe?)
Disclaimer: Inspired by Miwa's song dengan judul yang sama. Kyuhyun dan Sungmin adalah milik Tuhan, SM, dan orangtua masing-masing. I own nothing but Kyumin and this story. Kkk~ :v
Summary: Kyunnie, sebenarnya aku punya banyak sekali hal yang ingin kukatakan padamu. Sayanganya waktuku takkan cukup untuk itu semua. Jadi, kumohon biarkan aku di sisimu sebentar lagi.
.
.
.
enJOY~
.
.
.
Kyuhyun PoV
Lanjut?
.
SREK
SREK
SREK
Apa-apaan?! Kemana lanjutannya?
"Yak, Lee Sungmin! Mau mengerjaiku, eoh?! Kau minta kupukul?!" seruku kesal. Bagaimana bisa ia bertanya seperti itu? Memangnya aku bisa mendengar kisahnya dari alam sana?!
Kulempar kertas itu ke meja di depanku. Aku mendongakkan kepalaku, menatap langit-langit ruangan sambil menghela napas. Lalu kupejamkan mataku sambil mendengar degup jantungku yang tak kunjung memelan. Napasku pun memburu.
Menyebalkan.
Kenapa kau meninggalkanku, Min?
.
.
.
[flashback start]
Pagi itu lapangan sekolah sangat penuh oleh kerumunan siswa, yang baru saja selesai mengikuti upacara penerimaan siswa baru. Semua orang berebutan melihat papan pengumuman kelas, tak terkecuali aku.
Saat aku sedang berdesakkan dengan yang lain, tiba-tiba sebuah lengan menyentuh lenganku.
"Cho Kyuhyun?"
Aku segera menoleh dan menemukan sesosok namja mungil berwajah manis yang sama-sama sedang berdesakkan denganku. Tunggu... hah, apa yang tadi kukatakan?
"N-ne?" jawabku gugup. Mungil dan manis, tapi aku tak kenal siapa dia. Bagaimana dia bisa mengenal—ooh...
"Kau... yang di taman dulu sekali, ya?" tanyaku.
Seketika itu juga, matanya berbinar. "Ne, apa kabar?" tanyanya ramah sambil tersenyum, menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi. Hei, kenapa aku jadi memperhatikan penampilannya seperti ini?
"Ouh, well... baik-baik saja. Gomawo...?"
"Lee Sungmin imnida." Sahutnya masih sambil tersenyum. Nampaknya ia terlihat bahagia sekali. Lalu aku membalasnya dengan senyuman canggung. Hei! Aku baru mengenalnya... bukan?
"Yak! Kalian sudah selesai atau belum?! Menyingkirlah jika kalian tak punya urusan, disini semuanya mengantri!" teriak salah seorang yeoja di belakang kami.
.
"Jadi kau sudah lihat kau kelas berapa?" tanya Yesung, temanku dari SMP yang sama.
Aku menggeleng. "Belum, gara-gara aku bertemu dengan seorang kenalan lama. Dia malah mengajakku mengobrol, dan kami di usir karena menghalangi. Sial!" jelasku panjang lebar.
"Wah, kau sudah punya teman saja. Seingatku hanya aku yang sedari SD satu sekolah denganmu." Ujar Yesung sambil merangkul pundakku dan tersenyum menggoda.
"Teman apanya? Kau dengar tidak, sih? Kubilang kan dia kenalanku saat kecil dulu!" ulangku sambil menyingkirkan tangannya dari pundakku.
"Ya ya ya... hei, mungkin sekarang sudah sepi. Mau lihat?"
"Hmm, okay."
.
'Ah, namja itu lagi?' gumamku dalam hati saat tiba di depan papan pengumuman LAGI. Dan LAGI-LAGI aku bertemu dengan namja mungil tadi.
"Bohong! Aku sekelas dengan Kyuhyun?!" serunya mengagetkanku. Hei, apa dia tidak menyadari keberadaanku? Lalu ia melanjutkan, "Katakan itu..." ia terdiam, aku melirik sedikit ke samping. Jarak kami tidak dekat, juga tidak jauh. Tanpa sadar aku menahan napas menunggu lanjutan kata-katanya.
"YA TUHAN! AKU SENANG SEKALI!"
DEG
Aku setengah membelalak tanpa menoleh padanya. Apa-apaan namja itu? Dia senang sekelas denganku?
DEG
Jantungku?
.
Aku mendudukkan diriku di salah satu kursi di samping jendela, spot favoritku. Kebetulan jendela kelas ini menghadap halaman belakang sekolah. Ada pohon apel disitu, dan sepertinya sudah mulai berbuah.
"Heeuuung..."
Aku menoleh, mengalihkan pandanganku dari halaman belakang sekolah menuju isi ruang kelas. Lagi-lagi, mataku menemukan sosok namja mungil tadi. Dan rupanya mata indah itu juga menatap ke arahku, dan mengerjap terkejut.
E-eh... m-mata indah?
Aku mengerjap, mencoba kembali fokus. Ia memberi hormat padaku. Kenapa? Bukankah kita seumuran? Eh, tidak. Aku lupa kalau umurku pasti jauh lebih muda daripada murid-murid angkatan ini. Ya tapi maksudku, bukankah kami satu angkatan? Kenapa ia memberi hormat padaku? Bahkan aku lebih muda darinya.
Setelah memberi hormat, ia tersenyum singkat dan langsung celingak-celinguk mencari sesuatu. Aku mecoba mengikuti arah pandangannya. Apa sih yang dia cari?
"Heeuuung... dimana ya...?" sekilas aku mendengarnya menggumamkan pertanyaan itu. Jadi, dia bingung ingin duduk dimana?
"Sungmin-ssi," panggilku, dan ia langsung menoleh. "Mau duduk denganku?" tanyaku. Mata itu langsung membelalak
.
.
.
Seminggu belakangan ini aku merindukan kedamaian hidupku. Jelas semua ini karena namja kelinci yang selalu saja berseru riang tiap berada di dekatku. Membuat kepalaku pusing saja.
BRAK
"Yak, Lee Sungmin! Bisakah kau diam?!" teriak seonsaengnim setelah menggebrak mejaku dan Sungmin.
AKHIRNYA!
"A-ah, n-ne... Mi-mianhae seonsaengnim..." ujarnnya sambil berdiri dan memberi hormat.
DUGH
Sonsaengmin memukul kepalanya dengan buku teks yang digulung. Dan hampir saja aku tertawa, HAMPIR! Kalau sampai aku tertawa, kami berdua bisa dikeluarkan dari kelas ini.
Sungmin membungkuk sekali lagi, dan sonsaeng pun pergi dari tempat kami. Kudengar Sungmin langsung bernapas lega. Aku terkekeh melihatnya. Siapa suruh hidupnya penuh kerusuhan.
.
"Nampaknya teman barumu sungguh menarik, Cho." Ucap Yesung sambil menyeruput cola-nya. Kami sedang pergi ke pusat perbelanjaan Minggu ini, dan mampir ke sebuah cafe di salah satu jajaran pertokoan kota. Aku mengernyit mendengar ucapannya.
Hah? Apa-apaan kepala balon ini? Bagian mananya yang bisa bilang menarik saat yang dilakukan teman sebangku kalian sungguh mengganggu damainya dunia.
Apalagi ia bisa-bisanya membuatku malu dengan terus meminta maaf padanya. Dan seluruh teman sekelas membantunya?! Oh, hell sekali makhluk mirip kelinci itu!
"Kau harus jadi teman sebangkunya terlebih dahulu untuk bisa benar-benar berkata kalau makhluk itu menarik." Jelasku panjang lebar dalam satu napas. Batapa mengingat hal itu memebuatku malu setengah mati. Hey, sebagai Cho Kyuhyun yang terkenal dengan kejeniusannya ini siapa yang tidak malu? Harga diriku jatuh, tahu!
Lagipula siapa yang tidak reflek tertawa mendengar namja se-luar biasa manis itu ikut klub bela diri? Tampang anak manja seperti itu?
Ah tapi, siapa peduli?
Yesung hanya tersenyum miring, aku tahu dia mencoba menggodaku. Dasar kepala balon! "Ah, sudahlah Cho. Nanti juga kau sadar kenapa aku mengatakan ini." Ujarnya sambil sedikit terkekeh.
Aku mendengus. "Terserah."
.
"Di mana ada Sungmin, di situ ada Kyuhyun."
Rasanya aku sudah mendengar kalimat itu puluhan kali, atau mungkin ratusan. Bukannya aku ingin marah. Hanya saja rasanya sekarang terdengar lucu, karena tahun lalu...
"Di mana ada Kyuhyun, di situ ada Sungmin."
Ya, tak kusangka aku memang akan senang berada dekat namja manis itu. memang dia sangat rusuh dan berisik, tapi dia juga pribadi yang menyenangkan. Bukan hanya itu keluarganya pun tak kalah menyenangkan. Eomma dan Appa-nya menganggapku seperti anak sendiri. Dongsaengnya bahkan lebih menyukaiku ketimbang kakaknya sendiri.
"Sejujurnya aku bingung, aku ini punya hyung atau namdongsaeng..." ungkap Sungjin.
"Yak! Namdongsaeng kurang ajar!" pekik Sungmin yang hampir menulikan kedua telingaku. Dan ia memukul kepala Sungjin seenak jidatnya.
Meskipun manis dan mungil, jangan lupakan Sungmin itu ahli beladiri. Jangan macam-macam dengannya!
.
.
.
"Min, kurasa aku menyukai Seohyun. Kau tahu? dia yeoja dari kelas sebelah." Aku berseru padanya dengan riang. Meskipun ada sedikit keraguan dalam kalimatku, tetap saja aku mengatakannya.
"Eh?" sahut Sungmin terkesiap. Aku bisa melihat itu dari matanya. Tak lama ia menggerakkan kedua bola matanya gelisah dan memalingkan wajahnya, menghindari tatapan mataku.
"Min, Wae?" tanyaku kebingungan. "Kau sakit?"
"A-anni... gwaenchana..." ujarnya pelan. Bisa kulihat ia tersenyum tipis, kepalanya tidak menunduk hanya saja matanya menatap ke bawah. Ia terlihat lesu.
"Aku akan medekatinya, Min. Doakan aku!" seruku melanjutkan beritaku yang sedikit tertunda tadi. Sungmin menoleh sekilas sambil tersenyum.
Deg
Kenapa? Kenapa ia tersenyum lirih seperti itu? Tidakkah ia bahagia atas bahagiaku?
.
Brugh
"Kalau kau juga menyukainya, bersainglah, Min! Aku tak suka caramu mencari simpati orang lain!"
Deg
A-apa yang sudah kukatakan?
"Yak, Cho! Kau tak perlu sekasar itu!"
Cih, apa-apaan namja ikan ini?!
Baru hendak kumaki, tiba-tiba Sungmin sudah menarik lengan ikan badut itu. Dengan pelan ia menggelengkan kepalanya, lalu ia menunduk. Tak lama ia mendongak dan mengarahkan pandangannya ke mataku. Namun entah, rasanya aku sungguh kesal. Langsung saja kuputuskan bahkan sebelum pandangan kami sempat bertemu, dan pergi dari tempat itu.
Saat berbalik dari tempat itu, rasanya punggungku panas. Aku ingin menoleh, tapi kuurungkan niatku. Setelah aku berada di balik pintu atap, tiba-tiba terdengar sebuah isakan. Aku pun menoleh dan mengintip lewat kaca di pintu besi itu.
"Hiks... hiks..."
"Ssstt, Minnie-ah... uljima... ne?"
Minnie-ah?
Namja ikan itu memanggil namanya semanis itu?
DEG
Kenapa rasanya...
Sakit?
Aku mencengkram dadaku erat. Tentu saja aku sadar bahwa itu tangisannya. Sebegitu parahnya 'kah aku menyakitinya? Karena bagaimanapun, dia sahabatku.
.
Berkali-kali aku ingin meminta maaf padanya sejak kejadian di atap beberapa waktu yang lalu. Namun rasanya lidahku kelu. Jujur, aku merasa kesepian. Sudah seminggu lebih aku tak bicara dengannya. Meskipun kami duduk bersebelahan, tapi yang selalu kulihat adalah Sungmin yang selalu menunduk. Aku merasa hancur, dimana Sungminku yang ceria?
Dan ini tak boleh dibiarkan terlalu lama!
"Min," panggilku.
Seketika itu juga ia menoleh padaku dengan raut yang memilukan hati. "Kyu, mianhae..." ujarnya pelan.
DEG
"Jeongmal mianhae..."
DEG
Aku membiarkannya bicara, juga membiarkan jantung ini berdebar lebih cepat dari biasanya. Tak pernah kusangka aku bisa mendengarnya menyebut namaku lagi. Kenapa? Kenapa aku sangat merindukan suara ini?
"Entah kau akan percaya atau tidak... tapi aku tak menyukai Seohyun." Ujarnya lagi namun kali ini ia tak lagi menatapku. Dan apa aku percaya akan kata-katanya? Tentu saja. Seorang Lee Sungmin bukan seorang ahli dalam berbohong.
Lalu kenapa aku menuduhnya begitu?
Karena setelah aku memeberitahunya soal Seohyun, ia seakan menghilang. Lalu kutemukan ia duduk di taman sendiri. Baru saja hendak kuhampiri, seorang namja bermuka ikan menghampirinya. Menyodorkannya minuman dan mereka tertawa bersama. Kukira dia menjauhiku karena ia menganggapku rival. Sungguh bodoh.
Aku kehilangan Lee Sungmin sejak saat itu.
Dan tiba-tiba saja...
Tes...
"Y-yak! Min?!" pekikku kaget melihat darah yang mengucur deras dari hidung Sungmin. "Gwaenchhana?"
"A-ah... kurasa aku harus ke ruang kesehatan..." ujarnya sambil memegangi hidungnya yang mengucurkan darah segar. Ia lalu bangkit dari kursi dan berlari dengan terburu-buru. Aku mengikutinnya dari belakang, ia terus berlari hingga akhirnya...
BRUGH
Ia terjatuh dan pingsan di tengah lorong kelas. Seketika itu juga aku berlari dan mengangkat tubuhnya, menggendongnya sampai ke ruang kesehatan.
"Seonsaengnim, apa dia baik-baik saja?" tanyaku berusaha tenang. dan seonsaengnim itu hanya terkikik geli.
"Yak, Cho! Dia baik-baik saja. Kau ini sudah seperti namjachingunya saja!"
DEG
"MWO?!"
"Hahaha, lihat wajahmu memerah seperti kepiting rebus!" Ia terbahak. "Sudah sana kembali ke kelasmu!" ujarnya sambil mendorongku keluar ruang kesehatan dan menutup pintu tepat di depan wajahku.
.
"Oppa, aku suka padamu." Ungkap Seohyun sambil tersenyum malu-malu. Namun ia memilih waktu yang salah. Otakku sedang dikacaukan oleh kejadian tadi.
"O-oh... jeongmal?" tanyaku.
Apa aku harus menerimanya?
.
.
.
Aku melewati liburan musim dinginku berdiam diri di rumah. Kembali kekehidupan lamaku, hidup hanya dengan tumpukan makanan ringan, tugas liburan, dan benda kotak hitam bernama PSP. Dan setelah liburan musim dingin usai, ternyata aku dihadiahi dengan suasana sepi yang hampa.
"Donghae-ssi," panggilku pada namja ikan. Aku bertemu dengannya di lorong kelas. Ia menoleh padaku dan wajahnya seakan berkata, 'Oh, kau bocah Cho?'
"Ne?" sahutnya dingin. Oh, rupanya dia membenciku.
"Kau tahu kemana Sungmin?" tanyaku datar, berusaha tak memedulikan tatapannya.
"Tidak masuk, 'kan?" tanyanya.
"Maka dari itu aku bertanya padamu."
"Tentu saja dia tidak berada di sekolah."
"Hah, terserah kau saja."
Aku berbalik meninggalkannya, yang telah lebih dulu juga berbalik meninggalkanku. Tak ada gunanya aku bertanya padanya. Tapi siapa lagi yang harus kutanyai?
.
.
.
Hari minggu ini aku pergi kencan dengan Seohyun, dan aku juga akan memberikan jawaban padanya. Kami pergi ke bioskop, karena ia bilang ada film yang sangat ingin dia tonton. Film yang menarik, hanya saja aku tak terlalu fokus menyaksikannya. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku, entah apa itu...
"Mianhae..." ujarku saat kami sedang makan di sebuah cafe. Kami mengambil spot di samping jendela cafe yang menghadap ke jalan dimana orang berlalu-lalang.
"Hmm, ne... arasseo..." ujarnya singkat.
"Eh?"
"Sudahlah, Oppa... kau mau menemaniku hari ini saja aku sudah sangat senang." Paparnya sambil tersenyum, meyakinkanku bahwa ia baik-baik saja. "Tapi..."
"Ne?"
"Bolehkah aku... menciummu?"
"Eh?!"
CUP
Aku membelakakkan mataku, kaget. Napasku tertahan membuat otakku tak fokus. Seohyun tersenyum dan menunduk setelah menciumku di pipi. Aku bersyukur tempat ini cukup sepi, sehingga tak akan ada yang sadar akan apa yang dilakukan yeoja itu. Namun...
DEG
Aku melihatnya. Mata itu jelas tertuju padaku. Sosok itu berdiri dalam diam, seakan kakinya di paku tepat di tempat yang ia pijak. Menatapku dari balik kaca toko di seberang jalan dengan tatapan yang memilukan. Aku merindukannya.
DEG
Sial. Kenapa namja ikan itu memeluknya?! Yak!
"Oppa? Wae geurae?"
"E-eh?" sahutku saat Seohyun memanggil.
"Gwaenchana?" tanyanya.
"N-ne."
"Kita pulang sekarang?" tanyanya lagi. Dan aku hanya mengangguk mengiyakan.
.
Sampai dirumah, aku merebahkan tubuhku di tempat tidurku. Kupegang pipiku yanga tadi menjadi sasaran Seohyun. Aneh, bahakan hingga saat ini aku tak merasakan getaran apapun.
[flashback end]
.
.
.
Kurasa aku terbangun dari tidurku.
Drrrt Drrrt
"Eungh," Aku mengerang tak nyaman mendengar getar dari ponselku. Ya, aku mengaktifkan silent mode pada ponselku, karena nada dering bagiku sangat mengganggu pendengaran.
Drrrt Drrrt
Biasanya aku langsung mengangkatnya, namun aku ingat sedang bermimpi. Kau tahu rasanya bermimpi tapi tidak sampai tamat? Aku bisa mati penasaran! Yah, meskipun aku sudah tahu akhirnya seperti apa.
Jadi aku akan melanjutkan mimpiku yang terpotong...
Drrrt Drrrt
"Aish!" seketika itu juga aku bangun dan menyambar ponselku yang tergeletak di atas meja. Tanpa melihat nama penelpon yang tertera, aku menjawab, "Yeoboseyo?"
"Annyeong, Kyunnie."
DEG
Suara ini?!
"S-sungmin?"
.
.
.
—to be continued—
Yo, annyeong~
Gimana? Aneh? Saya merasa ini aneh banget lho... *pundung bareng Mommy Min*
Hayoloh... siapa itu di telpon? Hayoloooooh...
Saya terhura akhirnya bisa update :')
Ada yg nunggu? Nggak juga gapapa kok... gapapa banget... *pundung lagi bareng Mommy*
Sankyu buat yg udah review di 2 chap sebelum ini. Saranghae~! *love sign*
Ya udahlah, saya nggak tau harus ngomong apa lagi disini.
Annyeong~ :***
