Tittle: Kataomoi (Unrequited Love)

Genre: Romance, Friendship, Angst

Pairing: Kyumin

Rating: T

Warning: typo(s) everywhere, BL, Failed angst (maybe?)

Disclaimer: Inspired by Miwa's song dengan judul yang sama. Kyuhyun dan Sungmin adalah milik Tuhan, SM, dan orangtua masing-masing. I own nothing but Kyumin and this story. Kkk~ :v

Summary: Kyunnie, sebenarnya aku punya banyak sekali hal yang ingin kukatakan padamu. Sayanganya waktuku takkan cukup untuk itu semua. Jadi, kumohon biarkan aku di sisimu sebentar lagi.

.

.

.

enJOY

.

.

.


Kyuhyun's PoV

Aku bergeming mendengar suara itu, suara yang kurindukan. Apa aku masih bermimpi? Apa aku mulai berhalusinasi?

Apa ini semua karena masih ada sedikit perasaan belum merelakan kepergian namja manis itu? Yah, jujur saja ... aku masih belum bisa merelakannya.

"Kyu hyung?" panggilan suara di seberang sana membuatku mengernyit heran.

Pasalnya, kali ini bukan suara Sungmin.

"Y-ye?" jawabku ragu-ragu. Oh, demi seluruh makhluk mungil dan gembul bernama kelinci, jangan permainkan orang yang baru saja bangun tidur!

"Ini aku, Sungjin."

"Ne, aku tahu." jawabku agak ketus, yang kemudian kusesali. Tak seharusnya aku melampiaskan emosiku pada orang lain. Karena terakhir kali aku melakukan itu, seseorang menghilang selamanya.

"A ... apa kau sedang sibuk, Hyung? Apa aku mengganggumu?" tanya Sungjin. Terdengar dari suaranya, ia tengah panik.

"Aniyo. Mianhae, aku hanya ... aku baru saja bangun tidur. Yah, kau tahukan bagaimana orang yang baru saja bangun tidur?" sergahku sambil bercanda padanya.

"A-ah ... begitukah?" ujarnya pelan.

Kami terdiam selama beberapa detik hingga aku mulai bertanya, "Jadi ada apa tiba-tiba menghubungiku?"

"A-ah, ye..." ujarnya terbata. "Aku punya sedikit pesan. Ah, bukan aku. Maksudku ... ini pesan dari..." suara diseberang sana terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata, "... hyung-ku."

DEG

Jadi suara tadi semacam ... rekaman?

Pantas saja.

Apa yang kau pikirkan, Cho Kyuhyun. Jangan berharap yang tidak-tidak. Jelas-jelas kau melihat jasad itu terbungkus peti yang sudah ditimbun tanah pagi tadi. Kau tau ini sudah terlambat, maka jangan pernah berharap kau akan mendapat yang lebih baik dari ini. Get over yourself, Cho!

"Hyung?" panggil Sungjin.

"N-ne?"

"Maukah ... maukah kau mendengarkannya?"

.

.

.

"Yeoboseyo?"

"Min?"

"Ne, Ini aku. Lee Sungmin."

Aku mematung mendengar suara itu lagi. Suara tenornya yang halus namun tersirat semangat di dalamnya. Kapan ia merekam suara ini? Tahun lalu?

Aku terdiam sambil berpikir hingga tak sadar suara di seberang mulai berbicara.

"Apa kabar, Kyunnie?" tanya suara itu. Nadanya sungguh ramah. Kapan terakhir kali aku mendengar suara ini?

Lagi-lagi aku hanya terdiam. Entah, aku tak sanggup menjawab apapun. Karena aku sadar, apapun yang kukatakan tak akan mengubah apapun.

Namun tiba-tiba, "Syukurlah kalau kau sehat."

"Aku tidak—"

Ini rekaman, bagaimanapun aku mencoba menjawab. Dia tak akan meresponku.

Apakah ini hukumanku? Hukumanku karena tak meresponmu, Min.

"Ah, bagaimana sekolah? Kau masih pintar 'kan, Kyu? Hahaha."

Tawanya menggema. Kapan terakhir kali aku mendengar tawanya? Terakhir kali aku melihatnya, ia tertidur.

Lelap sekali...

"Kelulusanmu sudah di depan mata, ya. Dan mungkin agak terlalu cepat, tapi ... selamat atas kelulusanmu!"

Ini di rekam sebelum kelulusanku? Kenapa?

Lalu rekaman itu terdiam, layaknya orang yang sedang berpikir dalam diamnya.

Aku merasakan detak jantungku yang berdegup pelan, seakan jantungku sedang diremuk perlahan. Hingga tiba-tiba suara tenor Sungmin mengagetkanku.

"Kyunnie tidak menangis, 'kan? Kumohon ... jangan menangis." Kali ini suaranya pelan dan lirih.

Aku tak bisa menangis, Min. Rasanya air mata ini pun tak mendukungku untuk berduka atas dirimu. Tak mendukungku untuk melepas rasa kehilangan ini.

"Aku tak butuh air matamu, Kyunnie."

Aku membatu mendengarnya. Nada suaranya ... apa dia membenciku?

"Aku butuh kau hidup ... bahagia."

DEG

Sungmin...

PIK

Tiba-tiba rekaman itu seperti dimatikan oleh seseorang.

"Kyu hyung?" Sungjin memanggil dari seberang telepon.

"Ya?"

"Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir.

"Ya," jawabku. 'Kurasa. Entahlah.'

"Ada apa?" tanyaku

"Aku ... aku akan tinggalkan rekaman ini menyala." Ia berujar pelan.

"Hah? Kenapa?" tanyaku bingung.

"Yah, ternyata ... aku tidak sekuat yang kukira."

Lalu dari seberang telepon terdengar suara isakan yang makin lama makin kencang.

Sungjin sangat menyayangi hyung-nya, aku tahu. Maka tak heran sekarang ia merasa sangat kehilangan. Tak mudah hidup sendiri saat kau terbiasa memiliki seorang hyung yang sangat sayang dan mengayomimu.

Dan bodohnya aku. Merasa sebagai satu-satunya orang yang merasa amat kehilangan. Memangnya aku siapa?

.

.

.


Author PoV

[start flashback]

"... bahagia."

Sungmin menekan tombol pause, lalu menatap Donghae yang sudah beruraikan air mata. Seketika itu juga Sungmin tertawa.

"Hahaha," tawanya sambil menunjuk Donghae. Sedangkan namja ikan itu memelototinya.

"Yak! Jangan tertawa!" pekiknya.

Namun Sungmin masih saja tertawa. Hingga akhirnya ia benar-benar berhenti. Dan Donghae langsung menyesal karena meminta sahabatnya berhenti tertawa.

Sungmin menggaruk tengkuknya dan tersenyum, miris. "Aku sedang apa sih, memangnya dia mau mendengarkan ini?"

Keduanya terdiam beberapa saat. Seketika suasananya jadi makin sendu.

"Sudah, Min. Lanjutkan!" ujar Donghae sambil mencolek-colek pipi Sungmin, menggoda namja manis itu, membuat sang empunya mengerang tak suka.

"Ish, Lee Donghae!" tukasnya, sebal dengan colekan Donghae. Mungkin kalau Kyuhyun yang melakukannya ia akan tersipu. Tapi kalau namja ikan ini yang melakukannya ... menggelikan sekali.

"Demi seluruh ikan di samudera pasifik aku akan menggigitmu jika kau masih melakukan itu!" Sungmin bersumpah serapah sambil menyingkirkan tangan Donghae.

"Makanya lanjutkan rekamannya..." ujar Donghae menggoda Sungmin.

"Apa kau gila? Mana mau dia mendengarkan ini! Melihat wajahku saja dia tak mau!"

"Aku yang akan membuatnya mendengarkan ini!"

"ANDWAE! JANGAN PERNAH MEMAKSAKAN SEMUA HAL TENTANGKU PADANYA!"

Sungmin terengah setelah membentak Donghae dengan seluruh tenaga yang dia punya. Apapun demi kebahagiaan Kyuhyun. Meskipun kebahagiaan untuk Kyuhyun adalah jauh dari Sungmin.

Mereka berdua terdiam. Beginilah Sungmin, begitu sensitif jika menyangkut Kyuhyun. Bahkan rasanya menyebut nama indah itu tidak diperbolehkan. Kyuhyun segalanya bagi Sungmin, maka ia rela menjauh walau harus menahan rindu.

Semua demi Kyuhyun.

"Mi-mianhae, Donghae-ah." Ucap Sungmin sambil menunduk. "Jeongmal mianhae. A-aku..."

Tiba-tiba Donghae memeluknya. Terdengar isakkan pelan dari Donghae. Pelukan Donghae makin erat seiring elusan tangan Sungmin di punggungnya. Ia takut, sungguh. Tak terpikirkannya olehnya bahwa namja manis itu akan membentaknya seperti itu. Ia tak ingin dibenci Sungmin, sunguh.

Sungmin tertawa kecil, namun lama-lama air matanya jatuh juga. Perasaan bersalahnya yang telah membentak Donghae semakin besar. Dia juga sayang pada namja yang sering dipanggilnya 'ikan' tersebut. Bagaimanapun, pemuda itu selalu ada dalam tangis dan tawanya.

"Harusnya kau menyukaiku saja, Min."

BUK

Sungmin memukul punggung Donghae, kencang. Dan Donghae meringis nyeri dan kaget.

"Mau kau kemanakan, Hyukjae!" omel Sungmin sambil menjauh dari pelukan Donghae. Kembali tersadar mereka melakukan hal menggelikan.

"Hahaha, aku bercanda tahu! Bercanda! Kau ini..." tukas Donghae sambil merengut dalam tawanya. Abaikan.

"Nah, ayo mulai lagi."Ujar Donghae.

Sungmin menarik napas dalam dengan cepat, dan membuangnya. Lalu menekan tombol 'play' dan mulai rekamannya yang tadi terpotong. "Hahaha, Kyunnie mian. Salahkan manusia ikan bernama Donghae ini!" lapor Sungmin sambil tertawa tanpa dosa.

"Yak!" rajuk Donghae tidak terima.

"Psst, Kyunnie. Dia tidak membencimu. Malah dia kagum denganmu. Kau jangan sensi dengan sikap dia yang seakan membencimu, dia itu pemalu." jelas Sungmin panjang lebar sambil diselingi tawa.

"YAK, LEE SUNGMIN!" Donghae berteriak makin jadi.

"Hahahaha,"

Sungmin tertawa dengan lepas lagi. Donghae sebenarnya merasa kesal. Hey, dialah yang ditertawakan Sungmin. Tapi biarlah. Asal bisa melihat dan mendengar sahabat manisnya ini tertawa ...

Ia rela jadi bahan tertawaan.

"Ah, sudah! Kita ganti!" ujar Donghae setelah puas mendengar Sungmin tertawa—yang tawanya makin lama membuat Donghae kesal setengah mati.

Saat Donghae hendak merebut ponsel miliknya yang dijadikan alat perekam, Sungmin langsung saja mendekap benda itu. "A-ah, chakkanman! Aku belum menutup sambungannya!" ucapnya terbata, panik.

"Pffft—" Donghae menahan tawanya.

"A-apa?!" taya Sungmin panik.

Tiba-tiba saja Donghae terbahak. Akhirnya tiba juga gilirannya menertawakan Sungmin. "Hahaha, kau babo ya, Lee Sungmin?" tayanya diselingi tawa.

Tapi tak heran Donghae tertawa kali ini. Pasalnya, Sungmin menganggap dia sungguh-sungguh sedang berbincang dengan Kyuhyun di telepon.

"Yak! Siapa yang kau sebut babo, eoh?!" protes Sungmin tak terima. Dan pipinya memerah. Entah malu atau apa.

Donghae yang melihatnya menganggap hal itu teramat manis. Lalu dia mencubit gemas pipi Sungmin.

"Appo!" pekik Sungmin kesal sambil mem-pout-kan bibirnya. Sahabatnya lagi-bertingkah sungguh menggelikan.

"Hahaha ... ya sudah, cepat sana tutup!"

"A-ah Kyunnie ... mianhae, sampai sini dulu, ya. Donghae bilang kita akan membuat pesan lain. Jadi kalau kau sudah mendengar ini ... mau kah kau dengarkan sampai akhir?"

PIK

[flashback end]

.

.

.

Di sinilah sekarang Kyuhyun berada. Sebuah kafe tempatnya bekerja sambilan tak jauh dari tempat kuliahnya.

Ya, ia berkuliah. Permintaan ayahnya untuk meneruskan studi di bidang bisnis, dan ia menolak dengan tegas. Dan pergi meraih cita-cita jauh dari keluarganya. Ibunya menangis, namun ia katakan ini demi menebus kesalahannya.

Sekarang pukul 9 pagi. Dan keramaian di kafe pun mulai mereda. Pengunjung yang telah selesai sarapan pun langsung melangkahkan kakinya ke kasir, membayar dan segera kembali ke aktivitas masing-masing.

Sekarang menu sarapan pun berganti menjadi menu brunch, kudapan sebelum makan siang. Dan tak banyak pengunjung yang datang pada jam seperti ini.

Kyuhyun memiliki temu janji dengan Sungjin, namdongsaeng Sungmin, di kafe ini. Kyuhyun bisa melihatnya sedang berdiri di seberang jalan, hendak menyeberang.

"Hai, Hyung!" sapa Sungjin dengan ceria saat sampai di kafe dan medekati Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum sambil menggeleng. Sungjin mengernyit, "Kau kenapa, Hyung?" tanyanya.

"Dasar bocah," ujar Kyuhyun pelan. Sungjn pun makin-makin mengernyit, sampai-sampai terihat seakan alisnya menyatu di tegah keningnya.

"Apa sih, Hyung?" tanyanya bingung sekaligus tak suka dibilang bocah oleh Kyuhyun, yang hanya lebih tua setahun darinya.

Kemarin Sungjin bilang ia tak sanggup mendengar suara hyung-nya. Ia mencurahkan perasaannya pada Kyuhyun setelah menangis. Dan bisa dilihat sekarang, kantung matanya membesar. Namun anehnya ia tetap bisa berwajah ceria. Atau memaksakan diri?

"Kau mau minum sesuatu? Atau makan sesuatu?" tanya Kyuhyun mengabaikan tatapan protes Sungjin.

"Ani, gwaenchana. Aku sudah makan tadi." jawab Sungjin sopan.

"Padahal mau kutraktir. Ya sudah kalau tidak mau."

"Hahaha, tak apa."

Mereka terdiam sesaat. Sungjin terlihat ragu, seperti ingin bertanya sesuatu. Kyuhyun tahu apa yang ingin di tanyakan padanya, sepertinya.

"Hyung," panggil Sungjin pada akhirnya. Kyuhyun menatap Sungjin yang juga menatapnya. "Bolehkah aku menanyakan sesuatu?"

"Ya, tentu saja," jawab Kyuhyun.

Sungjin terdiam. Jantungnya berdetak begitu kencang. Menanyakan ini tak mudah.

"Sungjin-ah? Kau baik-baik saja?" tanya Kyuhyun bingung melihat Sungjin yang malah terdiam—ragu sepertinya—sambil menggigit bibir bawahnya.

Tiba-tiba Sungjin mengangkat kepalanya, menatap lurus kepada dua bola mata Kyuhyun. Kyuhyun mengerjap dengan gugup.

"Hyung, apa kau ... menyukai Sungmin hyung?"

DEG

Kenapa?

Kenapa Ia menanyakan hal itu?

Kenapa jantung bodoh ini berdetak dengan kencang?

Kenapa aku ingin berteriak?

Kenapa baru ada seseorang yang menanyakannya sekarang?

Kenapa bukan dulu?

Kyuhyun membatu. Pikirannya pergi entah kenama. Meskipun Sungjin sudah memanggilnya berkali-kali, meskipun namja itu sudah mengguncang tubuh yang terdiam di depannya itu, Kyuhyun tetep bergeming.

Tiba-tiba Kyuhyun merasa kelopak matanya terasa berat, bola matanya terasa panas, hidungnya terasa sakit, dan pandangannya mulai kabur. Dan rasanya ia mulai berhalusinasi.

"Min?" panggil Kyuhyun saat melihat ke arah Sungjin.

"Hyung-ah?"

"Min kenapa kau masih di sini?" tanya Kyuhyun saat melihat sosok yang kabur di depannya. Sosok seharusnya tidak ada. Bahkan sebenarnya ia tahu itu bukan sosok yang diharapkannya, bahkan ia tahu kalau itu Sungjin.

Ia tahu.

Tapi kenapa sosok itu sangat mirip. Bahkan saking miripnya, ia rela tidak mengusap air matanya demi melihat sosok yang terlihat mirip itu dengan pandangannya yang kabur.

Sungjin terdiam dan mulai sadar akan apa yang terjadi pada sosok di hadapannya, yang tiba-tiba menitikkan air matanya. "Aku Sungjin, Hyung..." ujarnya pelan sambil memasang raut khawatir. Hyungnya yang satu ini mulai berhalusinasi rupanya.

Tiba-tiba Kyuhyun mengerjap cepat. Seketika itu juga ia mengusap kasar air matanya dengan punggung tangan. "M-mianhae," ucap Kyuhyun pelan.

"Kau menakutiku, Hyung!" seru Sungjin sambil menghela napas kasar, pertanda lega. Lega karena kegilaan Kyuhyun yang tiba-tiba tak berangsur lama.

Mereka terdiam lagi. Masing-masing dari mereka menyesap minumannya secara bergantian. Sungjin mulai tidak enak dengan suasana yang tiba-tiba hening pun mulai membuka suaranya.

"Hyung," panggilnya.

Yang dipanggil hanya menyahut tanpa menoleh dari pekerjaannya mari-melihat-orang-berlalu-lalang. "Ne?"

"Aku ingin kau memiliki ini," Seketika itu juga Kyuhyun menoleh, dan melihat tangan Sungjin yang terulur, menyodorkan sebuah album foto yang diikat dengan pita merah muda.

"Ini..."

"Untukmu, Hyung," ujar Sungjin sambil tersenyum. "Oh, dan ini juga," tambahnya sambil membawa sebuah kantung berwarna biru ke atas meja.

"Ige ... mwo?"

Baru saja Kyuhyun hendak membuka kedua bungkusan itu, Sungjin menghentikannya.

"Mmm, bukanya nanti saja."

"Wae?"

"Tolong tunggu aku pergi, jangan sekarang."

Kyuhyun melihat raut memohon di wajah Sungjin. Ia tertawa kecil melihat kelaukannya. Ia paham, sangat.

"Arra, arra..."

Seketika, Sungjin bangun dari duduknya. "Kalau begitu, a-aku akan kembali sekarang,"

"Y-yak! Jeongmal?"

"Ne, eomma menyuruhku cepat pulang. A-annyeong," Sungjin pamit, membungkuk dan langsung pulang begitu saja.

Kyuhyun menatap punggung Sungjin yang berlari sampai sosok itu menghilang di balik tikungan. Setelahnya, ia menatap bunguan yang tadi diberikan kepadanya sambil menhela napas.

'Haaah, apa lagi yang kau berikan padaku, Min?'

.

.

.

—to be continued—


ANNYEONG, MINNA-SAN! /ditendang

Huwaaaaang ... mian ya baru dilanjut. Maklumlah saya banyak kerjaan (yang mungkin cuma dibanyak-banyakin :v /digiles) *kibas poni*

Ya gimana ya, ACTUALLY tugas kuliah juga nggak banyak-banyak amat. Tapi ya dateng ke sana tuh penuh perjuangan an pengorbanan *seka air mata pake jari telunjuk dengan tengilnya* wkwk

Ottae? Mengharukan nggak? Semoga lah ya. Soalnya saya bikin ini juga sampe ngucur gitu ... *hening* ... gak deng.

Lols :v

Saya rindu fandom ini yang—menurut saya—tiba-tiba sunyi. Kalian jangan sedih terus karena ITU ya, kalian harus ngerti juga. Kita harus bisa bedain fiction dan fact. Saya sadar kok keberadaan mereka itu fact, tapi keberadaan kita ini semacam fiction. *brb puter beast - fiction*

Dan meskipun kita bagai hidup di fiction world, ingatlah dunia itu kalah indah dibanding real world...

#apaini #sayangomongapa #kokgakngambung #pleasesayangantuk #jadinyabawel

TAPI SAYA NGGAK GULUNG TIKER DARI FANDOM TERCINTA INI KOK 333

Well...

OTP NEVER DIES! /plak

Ya udahlah, jadi kebanyakan cincong begini.

Thanks for reading and review

Saranghae, muah :*