Kris Wu | Oh Sehun | Ace Wu | Park Chanyeol | Kim Jongin | Byun Baekhyun | Shim Changmin | Xi Luhan | Cho Kyuhyun

rappicasso

presents

an alternate universe fanfiction

Sleeping Child

:: chapter 2 ::

.

000

I'll sing for you, I'll sing for mother and praying for the world

000

.

"Berdasarkan laporan yang sudah kami kumpulkan, tercatat 17 pemberontakan di daratan Eropa selama sepekan terakhir." Kim Minseok―perwakilan dari Divisi Pertahanan melaporkan mengenai peningkatan pemberontakan di kawasan Eropa dalam rapat dadakan yang diadakan di gedung One-World Federation di Washington D.C.

Setelah enam tahun dengan keadaan yang tenang dan aman, pemberontakan mulai bermunculan dimana-mana. Dan itu sudah berlangsung selama hampir dua tahun. One-World Federation (OWF) sudah berusaha keras untuk membentuk dan mengirim pasukan terbaiknya untuk mengatasi pemberontakan-pemberontakan yang muncul di berbagai belahan dunia―tentunya berdasar laporan-laporan yang masuk ke OWF, karena OWF tak ingin bertindak gegabah dan dianggap sebagai federasi tingkat dunia yang gagal.

"Bagaimana dengan kawasan Asia?" tanya Changmin―selaku Sekretaris Jenderal OWF―pada Minseok.

"Terdapat beberapa dugaan pemberontakan yang mungkin muncul. Kami sudah mengirimkan intel untuk memastikan kebenarannya, namun ternyata tak ada pemberontakan di kawasan Asia," jelas Minseok yakin.

"Mungkin ini karena luka lama," celetuk Yang Hyunsuk―Menteri Pertahanan Amerika Serikat.

Kris, selaku Perdana Menteri Amerika Serikat―yang tentunya mengenal baik sosok Hyunsuk sebagai gurunya itu pun langsung memperbaiki duduknya dan menyimak penuturan pria paruh baya itu dengan seksama.

"Luka―lama?" Changmin menaikkan sebelah alisnya―bingung.

Hyunsuk mendesah pelan, lantas membenahi kancing jas yang dikenakannya. "Ya―tapi ini hanya pendapatku," ucapnya. "Seperti yang kita tahu, Perang Dunia III dimenangkan oleh China dan Rusia. Faktanya, pihak China-Rusia berhasil bekerja sama dengan hampir seluruh negara di Asia. Sementara Amerika sebagai lawan China-Rusia lebih banyak melakukan kerja sama dengan negara di dataran Eropa," jelas Hyunsuk. "Hal itu sudah membuktikan bahwa wajar saja, jika orang-orang Eropa kurang setuju dengan kepemimpinan China dan Rusia di kancah internasional," lanjutnya. "Dan―jauh sebelum Perang Dunia III, bangsa-bangsa Eropa banyak yang mengambil peran besar di dunia internasional. Mungkin dengan kepemimpinan China, mereka merasa―" Hyunsuk berdeham pelan, lalu melanjutkan, "―direndahkan, mungkin?"

Para petinggi dunia dan perwakilan dari beberapa divisi OWF yang menghadiri rapat siang itu mulai merenung. Sebagian dari mereka mengiyakan pemikiran Hyunsuk.

"Jika kasusnya seperti dugaan Hyunsuk, lantas langkah pencegahan apa yang mungkin bisa kita lakukan?" Perdana Menteri China―Tan Hangeng mulai membuka suara.

"Kita tetap harus melakukan banyak penelitian dan penyelidikan. Kuharap, pimpinan divisi Pertahanan bisa mengirimkan intel yang lebih banyak untuk meneliti kasus ini, sehingga kita bisa memutuskan langkah preventif yang bisa kita lakukan," balas Choi Seunghyun―salah satu Panglima Perang yang ikut diundang dalam rapat tersebut.

"Tentu saja. Saya akan menyampaikan hal itu pada pimpinan divisi kami," balas Minseok sambil mencatat pesan Seunghyun.

"Dan kurasa―" Seunghyun belum melanjutkan kalimatnya. Ia melirik ke arah Kris terlebih dahulu sebelum melanjutkan, "―kita juga harus mewaspadai bentuk serangan lainnya dari para pemberontak ini―salah satunya adalah dengan melukai para petinggi dunia dan keluarganya." Seunghyun melirik Kris sekali lagi.

Kris hanya menunduk sekilas. Ia teringat dengan Sehun―dan juga Ace yang mungkin keselamatannya bisa terancam kapan saja.

Changmin ikut melirik ke arah Kris. Ia tahu jika Seunghyun sedang menyinggung masalah Kris. Ini bukan karena ingin membuat Kris kembali memikirkan masalah Sehun, tapi ini juga demi keselamatan siapapun, karena Changmin pun tak ingin ada anggota keluarga yang kembali terluka.

"Aku―" Kris membuka suaranya, lalu menghela nafas. "―aku sangat berterima kasih pada seluruh pihak yang sudah banyak membantuku dalam kasus ini." Ia tersenyum―seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja.

Hyunsuk menepuk pundak Kris dengan lembut.

Kris hanya tersenyum kecil sambil menggumamkan terima kasih. "Tapi ada satu hal yang perlu kita ketahui bahwa―" Kris menghela nafas lagi. "―bahwa granat tidak perlu dibalas dengan granat. Masih ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikan masalah-masalah ini," lanjutnya. "Biarkan pihak-pihak keamanan yang mengurus pemberontakan yang sedang terjadi. Dan tugas kita disini adalah untuk mencari akar permasalahannya dan menemukan solusi terbaik yang tidak melukai salah satu pihak."

Beberapa orang di ruang rapat tersebut mengangguk setuju atas ucapan Kris.

"Kita masih bisa memperbaiki sistem yang ada―lakukan apapun, usahakan untuk tidak menggunakan kekerasan," lanjut Kris.

Semakin banyak orang yang setuju dengan Kris.

Kris tersenyum. "Karena sesungguhnya, apapun hal itu―yang tidak membunuh kita, hanya akan membuat kita lebih kuat."

.

000

.

"Tetap saja, aku khawatir pada Kris." Changmin menggumam pelan, sambil memandang suasana kota Moscow sore itu. Setelah menyelesaikan rapatnya, ia segera kembali ke Rusia―ke Gedung Pusat OWF, karena ada banyak hal yang harus diurusnya kembali disana.

"Siapapun mengkhawatirkan kondisi Kris," balas Seunghyun yang berada di dalam ruangan yang sama dengan Changmin. Ia menatap punggung kakak kandung Kris itu dari sofa di dalam ruang kerja Changmin. Jika diperhatikan, Changmin dan Kris memang memiliki beberapa kesamaan―meski banyak yang tidak menyangka bahwa keduanya merupakan saudara kandung―seperti punggung yang kokoh dan kedua kaki mereka yang jenjang. "Bahkan Hyunsuk mulai mengkhawatirkan keadaan adikmu," imbuhnya.

Changmin membalik tubuhnya. Kedua tangannya menyusup ke dalam saku celananya. "Apa saja yang dikatakan Hyunsuk tentang adikku, eh?" tanya Changmin penasaran.

"Banyak." Seunghyun menjawab singkat, kemudian mengambil nafas yang dalam. "Kau tahu kan, Hyunsuk sudah menganggap kalian sebagai anak kandungnya sendiri?"

Changmin mengangguk.

"Dia sangat peduli pada keadaan Kris. Sejak Sehun kecelakaan, kondisi kejiwaan Kris sempat memburuk―dan itu bukanlah hal yang baik. Tapi entah kenapa, Kris selalu berhasil terlihat baik-baik saja di hadapan orang-orang," ucap Seunghyun.

"Begitulah Kris," gumam Changmin pelan.

"Terakhir kali―sekitar dua minggu yang lalu, Hyunsuk mencoba bertanya pada psikiater Kris tentang kondisi Kris."

"Dan hasilnya?"

"Buruk, Min," balas Seunghyun sambil tertunduk lesu. "Adikmu―dia terlalu banyak memendam rasa sakit di hatinya. Dia tak mau berbagi tentang isi hatinya sekarang. Adikmu sudah terlalu lama berpura-pura tegar," ungkap Seunghyun.

Changmin menutup wajahnya. Ia memang merasa bangga memiliki adik seperti Kris yang tak pernah egois dengan mementingkan urusannya sendiri. Tapi di saat seperti ini, ia berharap Kris bisa menjadi seseorang yang sedikit egois―adiknya benar-benar membutuhkan istirahat. "Aku tak tahu bagaimana lagi harus menegurnya. Dia terlalu gila kerja," jelas Changmin.

Seunghyun bangkit dari duduknya dan menepuk pundak Changmin. "Kau adalah Sekretaris Jenderal OWF, Wu Changmin," tegas Seunghyun. "Jika kita tidak bisa melakukan cara lembut pada Kris―" Seunghyun terdiam sejenak. "―maka kita terpaksa memanfaatkan kekuasaanmu untuk memintanya berhenti."

.

000

.

"Daddy lama sekali!" Ace menyuarakan bentuk protesnya pada Kris saat melihat Kris baru datang ke rumah sakit. Ace menunjukkan wajah cemberutnya.

Kris terkekeh pelan, lantas berjongkok di depan Ace. Ia memperhatikan wajah putra semata wayangnya itu. Matanya terlihat lebar, namun jika Ace sedang tersenyum, matanya sangat mirip dengan mata Sehun. Pipinya lumayan berisi, sehingga mengundang siapapun untuk mencubitnya. Tubuhnya kurus, namun lumayan tinggi untuk ukuran bocah seusianya. Rambutnya berwarna hitam gelap. Dan kulitnya yang putih pucat―lebih mirip dengan warna kulit Sehun. "Maafkan, Daddy. Daddy harus mengantar Uncle Changmin ke bandara," jawab Kris, lalu menggendong tubuh Ace.

"Eoh? Uncle Changmin ada disini?" tanya Ace terkejut sambil mengerjapkan kedua matanya.

Kris mengangguk sambil tersenyum.

"Yoogeun juga ikut? Kenapa dia tidak menemui Ace?" Ace kembali cemberut. Ia sangat merindukan sepupunya itu.

"Kau kan masih sekolah, Ace. Mana sempat, Yoogeun datang untuk menemuimu? Mereka kan harus segera kembali ke Rusia," jawab Kris.

"Yah." Ace membuang muka kesal.

Kris tertawa kecil, lalu menciumi pipi Ace.

Ace menatap ke arah ibunya yang masih terbaring di atas ranjang dalam keadaan tak sadarkan diri. "Mommy kenapa tak bangun-bangun ya, Dad?" gumam Ace.

Kris menatap Ace lekat-lekat.

"Apa Mommy sedang bermimpi indah ya, sampai Mommy tak mau bangun-bangun?" tanya Ace―kali ini sambil menatap ke arah Kris.

Kris hanya tersenyum tipis sambil mengelus kepala Ace.

"Kalau Mommy bermimpi indah, Ace juga ingin diajak, Dad. Pasti menyenangkan," ucap Ace.

"Kau tega meninggalkan Dad sendirian disini, hm?" tanya Kris lembut.

Jemari Ace berusaha menggapai-gapai jemari Sehun. "T-tapi, Ace rindu Mommy," jawabnya lirih.

Kris mengeratkan gendongannya pada tubuh mungil Ace. Ia berbisik pelan, "Dad juga merindukan Mommy. Sangat rindu." Matanya terpejam sambil berdoa, cepatlah bangun, Hun-ah. Kami membutuhkanmu.

.

000

.

Ace masih berusia 7 tahun, saat ia harus menerima kenyataan bahwa ibunya mengalami kecelakaan yang parah. Namun, Kris berusaha memberikan pengertian pada Ace bahwa ibunya baik-baik saja dan akan selamanya begitu. Kris juga memberi tahu Ace bahwa ibunya itu sedang kelelahan, jadi ia sedang tertidur dalam waktu yang lama. Masalahnya, Kris pun tak tahu kapan istrinya itu akan terbangun. Jadi, ia hanya bisa meminta pada Ace untuk berdoa agar Sehun segera bangun dari tidur panjangnya. Sebagai anak yang patuh, Ace mengikuti perintah ayahnya dan selalu berdoa selama 8 bulan terakhir ini. Sesekali, ia melihat jemari ibunya bergerak-gerak. Ia semakin yakin bahwa suatu saat nanti, ibunya memang akan terbangun kembali―kembali berbincang, bercanda, menyuapkan makanan, menemaninya tidur dan mengantarnya ke sekolah.

Namun, suatu ketika, sang ayah bertanya, "Ace akan selalu di samping Daddy, kan?"

Dan Ace kecil hanya mengangguk.

Ace tak mengerti apa maksud tersembunyi dalam ucapan ayahnya. Namun tiba-tiba, pria itu langsung memeluk tubuh Ace dan mendekapnya erat. Ia berbisik, "Berjanjilah, Ace. Berjanjilah untuk tetap bersama Dad―apapun yang terjadi."

Ace kembali mengangguk patuh. "Ace janji Dad."

Pasalnya, Ace tak tahu, apa saja yang mungkin terjadi pada mereka berdua.

.

000

.

Selalu ada hari, dimana harapan mulai pupus, cahaya sudah meredup dan kekosongan melanda hati. Dan pada hari itulah, Tuhan bermurah hati―memerintahkan salah satu malaikatnya untuk turun ke bumi dan membisikkan kalimat pembangkit jiwa pada sosok yang lemah tak berdaya.

Pada hari itu juga, harapan berubah menjadi kenyataan, muncul sinar yang menerangi sudut-sudut yang gelap dan ruang yang hampah telah kembali terisi.

Oh Sehun membuka kedua matanya yang sempat terpejam selama lebih dari delapan bulan. Kelopak matanya terbuka secara perlahan. Jemarinya bergerak-gerak.

Dan hal itu sudah biasa dilihat Ace di hari-hari sebelumnya―meski ia juga sudah cukup lama tak melihat pergerakan itu. "Mo-mommy?!" Ia memekik tertahan―antara senang dan ragu. Ia tak tahu apakah kali ini ibunya akan terbangun kembali. Ia hanya tak ingin dikecewakan untuk yang kesekian kalinya.

"Ugh."

Dengan pendengarannya, Ace bisa menangkap suara lenguhan yang berasal dari sang ibu. Ini adalah pertama kalinya Ace mendengar suara semacam itu selama ibunya koma. Ia meloncat turun dari kursinya dan berjinjit, berusaha memastika keadaan ibunya. Sekilas, ia bisa melihat kelopak mata ibunya bergerak-gerak. Ini benar-benar suatu keajaiban karena Ace belum pernah melihatnya.

Bolehkah Ace berharap?

Ace segera berlari keluar kamar ibunya dirawat agar ia bisa mendapat kepastian tentang ibunya. Ia menghampiri para Pasukan Pengawal yang berjaga-jaga di luar kamar perawatan ibunya. "Uncle, uncle~" panggil Ace pada salah satu pengawal tersebut.

Pengawal dengan rambut berwarna hitam itu menoleh ke arah temannya yang berdiri di sampingnya. Ia nampak bingung dengan keberadaan Ace. "Y-ya?"

"Mommy! Mommy berge―"

"Ace? Ada apa?" Tiba-tiba saja, dari arah kiri, Kris muncul dan berjalan menghampiri putranya. Ia berjongkok di hadapan Ace dan bertanya sekali lagi, "Ada apa, Ace?"

"Daddy, Mommy sudah bangun!" pekik Ace.

"Apa?" Suara Kris nyaris tak terdengar. Ia tak percaya dengan fakta yang dikatakan Ace. "K-kau yakin, Ace?"

"Jari Mommy bergerak, lalu matanya juga. Dan tadi Mommy juga bersuara pelan," celoteh Ace senang.

Kris segera berdiri dan berkata pada dua pengawalnya, "Panggilkan Dokter Smith sekarang!" Kris menggendong tubuh Ace, kemudian mengintip ke arah kamar Sehun.

Dan demi Tuhan, Kris yakin bahwa tubuh istrinya itu bergerak pelan!

.

000

.

"Tuan Wu, ini adalah―" Dokter Smith menunjukkan raut wajah yang tak bisa dideteksi oleh Kris. "Ini sebuah keajaiban," lanjut Dokter Smith. "Usaha dan penantian kita tidaklah sia-sia. Istri Anda sudah tersadar dari koma panjangnya."

Kris tak bisa berkata-kata. Namun dalam hatinya, ia mengucapkan syukur pada Tuhan karena telah mengembalikan Sehun-nya.

"Dad, bagaimana Mommy?" tanya Ace yang nampak kebingungan.

"Mommy-mu sudah terbangun, Ace. Selamat," jawab Dokter Smith sambil mengusap kepala Ace yang berada dalam gendongan Kris. "Kalian bisa masuk ke dalam, tapi saya mohon untuk tidak membuatnya terlalu banyak bergerak karena kondisinya masih sangat lemah."

"Baik, Dok." Kris tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

"Saya permisi dulu, Tuan Wu."

Kris mengangguk. "Saya berhutang banyak pada Anda, Dokter Smith."

Dokter Smith hanya tersenyum kecil, kemudian berlalu―membiarkan Kris dan Ace untuk segera memastikan keadaan Sehun.

Kris langsung melangkah masuk ke dalam ruang perawatan Sehun. Dilihatnya mata Sehun yang terbuka sedikit itu. "S-sehun-ah."

"M-mommy?"

Sehun berusaha membuka matanya lebih lebar. "Nggh."

Kris berdiri tepat di samping ranjang Sehun. "Ya Tuhan, akhirnya kau terbangun juga, Hun-ah."

Sehun menatap Kris dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu, berbalik memandang Ace.

Ace yang ditatap ibunya merasa sangat senang. "Mommy! Ace rindu Mommy!" pekiknya senang.

"M-mommy? Mommy siapa?"

DEG!

.

TBC

.

Ini pendek, ya? Maaf huhuhu u,u

Disini seharusnya udah mulai terlihat konflik beratnya (?) Hayoo, ada yang bisa nebak? wkwk

Dan itu Sehun udah bangun, sesuai dengan keinginan para readers hehehe. Tapi pasti bakalan muncul masalah baru, karena saya suka banget nyiksa Krisseu (secara dia bias saya :3). Di review kemarin ada yang nanya, muka Ace itu lebih mirip siapa? Hm tadi udah aku jelasin ya, wajahnya Ace itu kayak gimana/? Yah intinya dia itu ganteng kayak Kris, tapi manis juga kayak Sehun (?) wkwk. Banyak juga yang nanya, KrisKai-nya manaaa? Okay, calm down, guys. KrisKai bukan main pairing di ff ini (sorry to say). Karena saya udah terlalu banyak bikin ff KrisKai, jadi saatnya saya bikin ff KrisHun hohoho :3 Tapi tenang aja, tetep ada moment KrisKai-nya nanti. Dan kan juga udah ada ChanKai? hwhwhw

Okay, sekian cuap-cuap dari saya.

don't forget to leave your review~

love,

rappicasso