"M-mommy? Mommy siapa?"
Jantung Kris serasa berhenti berdetak saat itu juga. Ia tidak salah dengar kan? Kris menatap wajah istrinya lekat-lekat. Pria manis di hadapannya itu justru memasang wajah penasaran dan penuh tanya. Bagaimana bisa? Apakah Sehun sudah melupakannya dan Ace? Apakah kondisi dimana seseorang mengalami amnesia setelah koma cukup lama itu memang benar adanya? "Kau tidak mengingatnya, Sehun?" gumam Kris tak percaya.
Sehun berbalik menatap Kris. "Ingat apa?" Keningnya berkerut. "Bukankah kau Kris Hyung? Kenapa kita bisa ada disini?"
Kris merasa lega karena nyatanya Sehun masih mengingatnya. Namun hal yang paling menyakitkan adalah fakta bahwa Sehun tidak mengingat anaknya sendiri. Betapa Ace akan sangat sedih mendengarnya. Betapa penantian Ace selama ini seolah sia-sia. Kris menatap sekilas ke arah putranya yang nampak sedih. "Ace? Apakah kau mau bermain diluar sebentar dengan Paman? Dad harus berbicara dulu dengan Mom."
Ace menatap tak rela pada Ayahnya. Ia sudah menantikan saat-saat seperti ini dalam waktu yang lama. Ia tak ingin saat ia pergi, ia akan kehilangan Ibunya lagi. "Tapi Dad, Mom―"
"Tenanglah. Dad pasti akan menjaga Mom." Kris mengusap kepala Ace―berusaha memberikan ketenangan pada putra semata wayangnya.
Ace mendesah kecil, kemudian mengangguk setuju. "Baiklah, kalau begitu," ucapnya lirih.
Kris pun menurunkan putranya dari gendongannya dan membiarkan anak kecil itu berjalan keluar dari kamar inap Sehun. Nampaknya Ace begitu kecewa―kecewa pada Sehun dan dirinya. Kris berusaha mengenyahkan kekhawatirannya pada Ace untuk sejenak. Ia berpaling kembali ke arah Sehun dan melemparkan tatapan sendu.
Wajah Sehun seolah menunjukkan raut penuh tanya saat mendengar percakapan kecil di hadapannya. "Hyung, siapa anak itu tadi?"
Jantung Kris terasa diremas hingga hancur. Ia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi anak kecil berusia 7 tahun seperti Ace yang harus menghadapi kenyataan bahwa Ibunya sama sekali tidak bisa mengingatnya.
"Ngomong-ngomong, dimana Chanyeol Hyung?"
DEG!
"C-chanyeol?"
"Ya, Chanyeol―kekasihku."
rappicasso
presents
an alternate universe fanfiction
Sleeping Child
.: chapter 3 :.
starring
Kris Wu | Oh Sehun | Ace | Park Chanyeol | Kim Jongin
I'll sing for you, I'll sing for mother and praying for the world
"Ini adalah hal yang sangat wajar terjadi pada orang yang koma untuk waktu yang cukup lama. Apalagi, istri Anda sudah koma selama 8 bulan. Hal ini bisa disebabkan oleh benturan keras yang dialami saat kecelakaan atau karena suatu trauma tersendiri. Untuk kejelasan yang lebih lanjut, saya harus melakukan rontgen dan city scan." Dokter Smith menjelaskan panjang lebar tentang kondisi Sehun pasca koma.
Kris mengusap wajahnya dengan kasar. Ia nampak begitu kacau dan letih. Ia sudah sangat bersyukur saat Sehun berhasil tersadar dari koma panjangnya. Namun apa yang didapatinya sekarang? Sehun amnesia? Melupakan tentang kisah indah yang telah mereka berdua jalani? Mengabaikan sosok Ace? Bisakah Kris bertahan untuk waktu yang lebih lama dengan kondisi yang seperti ini? "Kenapa Sehun masih bisa mengingat saya, tapi tidak dengan Ace?" Inilah yang menjadi pertanyaan Kris sejak tadi.
Dokter Smith menarik nafas sebelum kembali menjelaskan. "Tidak semua orang yang mengalami amnesia akan melupakan segala aspek dalam kehidupannya. Dan sepertinya, untuk kasus yang terjadi pada istri Anda, istri Anda melupakan kejadian dalam kurun waktu tertentu," jelasnya. "Untuk kejelasannya, kita bisa bertanya langsung pada istri Anda dan memastikan kejadian mana saja yang masih bisa diingat olehnya. Jadi saya harap, kita bisa bekerja sama untuk hal ini."
"Maksud dokter?"
"Begini―kita tak bisa langsung bertanya apakah dia ingat kejadian ini atau tidak, karena itu akan membawa efek rasa sakit tersendiri jika pasien berusaha mengingat sesuatu yang tak bisa diingatnya. Jadi kita bisa mencobanya dengan menanyakan kegiatan terakhir apa yang diingatnya," jelas Dokter Smith lagi.
Kris mengangguk paham. Ia mendesah keras-keras. "Tapi tadi dia sempat menanyakan sesuatu pada saya."
"Ya?"
"Dia menanyakan tentang Chanyeol. Dia adalah mantan kekasih istri saya―tepat sebelum saya menikah dengannya," ucap Kris. Rasanya sakit saat istrinya justru mengingat mantan kekasihnya―bukan dirinya.
"Ah begitukah?" Dokter Smith bergumam pelan. "Ini pasti akan menjadi fase yang cukup sulit bagi Anda, maupun Ace. Tapi apa yang dialami istri Anda jauh lebih memprihatinkan. Jadi saya benar-benar mengharapkan kerja sama Anda demi kesembuhan istri Anda."
Kris menarik nafas dalam-dalam dan berusaha menguatkan hatinya. Ia sudah bertahan cukup lama―8 bulan―dan ia yakin bisa menghadapi masalah ini. "Tentu saja. Saya akan mengusahakan yang terbaik demi kesembuhan Sehun."
Dokter Smith tersenyum menyadari kegigihan Kris selama ini. "Baguslah, kalau begitu. Jadi kita bisa melakukan terapi pemulihan ingatan pada istri Anda. Hal-hal seperti ini bisa dilakukan oleh orang-orang terdekatnya, tapi usahakan untuk tidak melakukan metode pemaksaan."
"Saya mengerti, Dok." Kris mengangguk paham.
Dokter Smith menghela nafas sejenak. "Mungkin ini akan sulit bagi Anda, tapi saya menganjurkan Anda untuk memanggil mantan kekasih istri Anda dan membantu proses pemulihannya."
"A-apa?"
"Hyung?"
Kris membalik tubuhnya, segera setelah menutup pintu kamar inap Sehun. Ia baru saja bertemu dengan Dokter Smith untuk mendiskusikan jalan terbaik bagi Sehun, kemudian mengantarkan Ace pulang ke rumah karena ia tak ingin melihat putranya itu semakin sedih karena kondisi Sehun. Ia akan menjelaskan pada Ace nanti, setelah ia bisa mengajak Sehun berbincang. "Hai, Sehun."
Sehun sedang terduduk di atas ranjangnya dengan punggung yang bersandar. "Hyung, sebenarnya apa yang terjadi padaku?" tanyanya penasaran.
Kris melangkah mendekati ranjang Sehun sambil menarik sebuah kursi. Ia mendudukkan tubuhnya di samping ranjang Sehun. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai penjelasannya. "Apa yang kujelaskan padamu nanti mungkin akan sangat mengejutkan bagimu, Hun. Kau boleh mempercayainya atau tidak, tapi percayalah―aku mengatakan yang sejujurnya padamu." Kris tersenyum tulus.
Sehun semakin penasaran dan bertanya-tanya, namun ia memilih untuk tetap bungkam.
"Sesungguhnya, kita berdua sudah menikah."
DEG!
Kejutan baru bagi Sehun. "T-tapi, bagaimana―"
Kris meraih tangan Sehun, menggenggamnya dan meremasnya pelan. "Tenanglah, ini pasti mengejutkan bagimu, tapi aku tak akan memaksamu untuk menerima kenyataan ini atau mengingatnya."
Pupil mata Sehun nampak melebar. Terlihat sorot ketakutan dari matanya, namun ia berusaha untuk percaya pada Kris, karena seingatnya, Kris adalah sosok yang baik. Sehun mengangguk pelan.
Kris kembali tersenyum. "Dan anak lelaki yang kau lihat tadi adalah anak kita. Namanya Ace. Usianya 7 tahun."
Sehun membulatkan mulutnya. Ia benar-benar tak menduga dengan fakta yang baru ini. Tadi Kris bilang mereka sudah menikah dan kini Kris bilang mereka sudah memiliki anak? Oh kepala Sehun serasa berputar pelan dan pening. "Lalu, bagaimana dengan Chanyeol Hyung?" Sehun teringat pada pria yang diingatnya sebagai kekasihnya. Jika ia menikah dengan Kris, lantas bagaimana nasib Chanyeol saat ini?
Kris berdeham pelan. "Sehun, bolehkah aku melanjutkan ceritaku dulu?"
Sehun mendesah kecil. "Baiklah." Ia mengangguk pasrah.
"Delapan bulan yang lalu, kau mengalami sebuah kecelakaan mobil. Dokter memperkirakan kau mengalami benturan yang mengakibatkan kau melupakan beberapa kenanganmu. Dan menurut apa yang kau katakan, kupastikan bahwa ingatanmu kembali ke masa sekitar 11 tahun yang lalu," tutur Kris hati-hati. "Aku bisa memaklumi bahwa kau justru mengingat kenanganmu dengan Chanyeol―itu tak apa. Aku adalah suamimu dan sudah menjadi tugas bagiku untuk membantumu keluar dari masalah ini, sembuh dan menjalani kehidupan seperti yang biasanya." Kris merasa hatinya teriris saat harus berpura-pura menerima hal ini.
Sehun menatap sendu pada Kris. Ia tak tahu tentang kenangan apa saja yang sudah dilaluinya selama menikah dengan pria berkulit pucat di hadapannya. Ia juga tidak tahu bagaimana perasaannya pada Kris. Namun entah kenapa, ia merasa begitu terharu karena Kris yang berusaha tegar demi dirinya. Kris pasti mengorbankan perasaannya sendiri demi dirinya.
"Dan jika kau bertanya tentang Chanyeol―dia sekarang sudah menjadi Kepala Divisi Pertahanan di One-World Federation," jelas Kris.
"One-World Federation? Apa itu?" tanya Sehun bingung. Seingatnya, tak ada istilah seperti itu.
Kris tertawa kecil. Sehun pasti akan kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan di jaman sekarang, karena ada banyak yang berubah selama 11 tahun ini. "Itu adalah organisasi setara United Nation Organiazation. Asal kau tahu saja, sekitar 10 tahun yang lalu, perang dunia III sudah pecah dan banyak hal yang telah berubah di dunia ini."
Sehun memiringkan kepalanya, nampak semakin kebingungan mendengar penuturan Kris.
Kris tersenyum kecil. "Jangan terlalu memikirkan hal itu," ucapnya lembut. "Yang paling penting saat ini adalah segera memulihkan kondisimu, Sehun."
Sehun mendesah pelan dan merutuki betapa merepotkannya kondisinya saat ini. "Hyung."
"Ya?"
"Terima kasih."
Kris mengernyit. "Untuk apa?"
"Semuanya. Terima kasih."
"Jadi Sehun sudah siuman?" Changmin baru saja menerima telepon dari adiknya dan turut bahagia mendengar kabar bahwa Sehun sudah terbangun dari koma.
"Begitulah, Hyung. Hanya saja―"
"Ada apa, Kris? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Changmin cemas. Keningnya berkerut karena penasaran.
Kris mendesah pelan. "Sehun amnesia, Hyung."
"A-apa?" Changmin tahu, ini bukanlah hal yang mengejutkan, tapi kenyataan ini lumayan memukulnya.
"Aku―apa yang harus kulakukan, Hyung? Sehun hanya bisa mengingat kenangan 11 tahun yang lalu, saat ia masih bersama dengan Chanyeol. Dokter bilang, aku harus membantunya mengingat semuanya secara perlahan―bahkan kalau perlu, meminta bantuan pada Chanyeol. Katakan padaku Hyung, apa yang harus kulakukan?" Nada bicara Kris terdengar begitu frustasi dan tertekan.
Ini adalah pertama kalinya Changmin mendapati adiknya dalam kondisi seperti ini dalam waktu yang sekian lama. Selama delapan bulan terakhir, ia tahu betul bagaimana Kris sangat tegar menghadapi hidupnya. Namun kenyataan bahwa Sehun amnesia saat ini membuat Kris seolah tertimpa tangga setelah terjatuh cukup jauh. "Tenanglah, Kris. Tenang." Hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya saat ini.
"Aku sudah menceritakan tentang yang sesungguhnya pada Sehun―tentang bahwa kami sudah menikah, tentang Ace dan kecelakaan yang menimpanya. Namun aku tetap tak bisa memaksakan dirinya untuk mengingat semua itu," tutur Kris.
Changmin memijat keningnya yang serasa berdenyut pelan. Ini pasti saat yang sulit bagi Kris.
"Hyung, haruskah aku meminta bantuan Chanyeol?" Suara Kris terdengar melemah.
"Kris, dengarkan Hyung dulu." Changmin berusaha memutar otaknya. "Begini, sebelum kau menempuh cara itu, bisakah kau menjaga Sehun untuk sementara waktu? Dan selama waktu itu, aku akan mencari cara lain yang bisa kita tempuh. Aku bisa bertanya pada Divisi Kesehatan atau Kyuhyun, jika saja ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk memulihkan ingatan Sehun." Ah, Changmin merasa begitu lega karena setidaknya otaknya bisa menghasilkan sebuah pemikiran. "Bagaimanapun juga, Chanyeol adalah bagian dari masa lalu Sehun. Mereka berdua pernah saling mencinta dan mungkin karena kondisi saat ini, Sehun bisa saja lebih mencintai Chanyeol dibanding dirimu. Aku tahu, hal itu pasti sangat menyakitkan. Aku juga tak mungkin membiarkan istriku harus berhubungan lagi dengan mantan kekasihnya. Jadi, marilah kita mencari jalan lain dulu."
Kris terdengar sedang menarik nafas dalam-dalam. "Lalu, bagaimana jika kita tidak menemukan jalan yang lain?" Suara Kris terdengar tak yakin.
"Kris―" Changmin bangkit dari kursinya. "―jangan pesimis. Dan apapun yang nantinya harus kita pilih, semoga itu adalah hal terbaik bagi Sehun dan kita semua."
Kris menggeram pelan. "Semoga, Hyung. Semoga."
"Ini―rumah kita?" Sehun memandang takjub ke arah sebuah rumah―atau menurutnya, itu lebih pantas disebut istana―yang disebut Kris sebagai rumah mereka. Tiga hari sejak sadar dari koma, Sehun sudah mengantongi ijin untuk rawat jalan dari dokter, karena kondisinya semakin membaik, sehingga ia bisa pulang ke rumahnya. Kini ia baru saja turun dari mobil Kris dan sudah berdiri di halaman rumahnya. Ia benar-benar tak menyangka bahwa ia tinggal di rumah mewah seperti ini.
Kris yang berdiri di balik punggung Sehun hanya bisa tersenyum kecil. Lucu sekali melihat Sehun yang seperti ini. Bagaimanapun kondisinya, entah kenapa Sehun selalu saja bisa membuatnya tersenyum. Meskipun hatinya masih terasa sakit karena Sehun yang mengalami amnesia, setidaknya tingkah lucu Sehun mampu sedikit menghiburnya.
Sehun menoleh ke belakang―menatap ke arah Kris dengan mata yang masih takjub. "Apakah aku benar-benar pernah tinggal di rumah yang sebesar ini? Oh tidak―ini bahkan bukan rumah. Ini istana," pekiknya senang.
Kris tak kuasa menahan tawanya. "Kau sungguh lucu, Sehun-ah," gumamnya. "Kau tak ingat kalau aku ini adalah Perdana Menteri Amerika?" guraunya.
Sehun mendengus pelan sambil mengerucutkan bibirnya karena kesal. Kehilangan ingatannya sama sekali bukan kesalahannya, kan? Dan ia juga tak menginginkan ini semua terjadi.
Kris benar-benar gemas atas ekspresi Sehun yang ditunjukkan padanya saat ini. Jika biasanya, ia bisa langsung mengecup bibir tipis istrinya yang menggoda itu, kini ia hanya bisa tersenyum kecil sambil mengacak rambut Sehun. Sehun memang istrinya secara sah―ia bebas melakukan apapun padanya, namun ia tak mungkin melakukan hal-hal yang intim saat Sehun masih belum mengingat segalanya tentang mereka berdua. "Sudahlah, ayo kita masuk agar kau bisa segera istirahat."
Sehun mengangguk patuh.
Kris berjalan mendahului Sehun. Ia sempat melirik sekilas ke arah telapak tangan Sehun―ingin sekali rasanya menggenggamnya dengan lembut, tapi ia harus menahan itu demi kebaikan Sehun. Ia membuka pintu rumahnya dan membiarkan Sehun masuk lebih dulu. "Silakan masuk."
Sehun mendongak sekilas sebelum menunduk kembali. "Ah, terima kasih." Jujur saja, Sehun merasa canggung dengan semua ini. Ia sama sekali tak menduga bahwa ia sudah menikah dengan Kris―pria yang diingatnya sebagai sahabat dari Chanyeol. Yang ada dalam ingatannya adalah bahwa kekasihnya adalah Chanyeol―bukan Kris.
Kris memandangi Sehun saat pria manis itu berjalan melewatinya. Pria itu menundukkan kepalanya―membuat Kris bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu. "Kau baik-baik saja, Sehun-ah?"
Sehun menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya. "A-aku―"
"Ah, Anda sudah pulang. Selamat datang, Tuan." Tiba-tiba saja, seorang pria dengan balutan pakaian khas butler menginterupsi perbincangan suami-istri itu.
Kris dan Sehun menoleh serempak ke arah sumber suara.
"Ah, Chen," gumam Kris saat menyadari bahwa itu adalah Chen―kepala pelayan di rumahnya.
Sementara itu, Sehun nampak kebingungan karena tidak mengenali pria itu.
"Sehun, kenalkan ini adalah Chen―kepala pelayan di rumah ini." Kris akhirnya memperkenalkan Chen pada Sehun.
Chen tersenyum ke arah Sehun. "Saya turut berduka atas apa yang terjadi pada Anda, Tuan. Saya dan pelayan lainnya sangat mengharapkan Anda untuk segera sembuh seperti sedia kala." Chen bersungguh-sungguh saat mengatakannya. Pria itu sudah bekerja pada keluarga ini sejak pasangan suami-istri itu menikah―sudah sangat lama. Dan ia turut sedih saat mendengar bahwa tuannya kehilangan ingatannya setelah ia kembali dari komanya.
Sehun tersenyum kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "E-eh, terima kasih, Chen."
"Saya sudah menyiapkan makan siang untuk Anda. Apakah Anda ingin makan siang sekarang?" tawar Chen sambil menatap ke arah Sehun.
Kris melirik Sehun.
"Bisakah aku istirahat dulu?" tanya Sehun sambil menatap takut-takut ke arah Kris dan Chen secara bergantian.
"Tentu. Chen bisa mengamankan makan siangnya untukmu nanti," ucap Kris menenangkan. "Kalau begitu, ayo kuantar ke kamarmu."
"Urm, Hyung."
"Ya?" Kris membalik tubuhnya setelah menutup pintu almari berukuran besar yang tersedia di dalam kamar Sehun.
"Apakah kita―urm―" Sehun memainkan ujung jarinya sambil menyembunyikan wajahnya. Ia bingung untuk menyusun kata-kata yang harus ia katakan.
"Tidak." Kris tersenyum lembut―seolah mampu membaca pikiran Sehun.
Sehun mengernyit heran di atas ranjangnya.
"Aku tahu, kau pasti merasa canggung dengan semua ini. Jadi aku sudah memutuskan untuk memisahkan kamar kita. Aku tidak ingin terlalu memaksamu untuk menerima keadaan," jelas Kris. Ia memang sudah memikirkan hal ini matang-matang. Demi Sehun, ia harus sedikit berkorban.
Sehun mendongak menatap Kris. Entah kenapa, Sehun merasa begitu bersyukur mendengar kebaikan Kris. Apakah Kris memang selalu sebaik itu padanya? Apakah ini alasan kenapa ia lebih memilih Kris dan meninggalkan Chanyeol di masa lalu? Perlahan, kepala Sehun mulai berdenyut pelan.
"Maafkan kalau kamar ini tidak semewah kamar kita yang dulu. Aku harus menggunakan kamar utamanya karena lebih dekat dengan ruang kerjaku. Kau tak apa, kan?" tanya Kris memastikan.
Astaga, kenapa ada pria yang sebegitu baiknya seperti Kris? Kris pasti sudah banyak menderita selama ini, tapi ia masih begitu peduli pada kondisinya? Sehun pasti sangat beruntung memiliki Kris sebagai suaminya. Betapa Sehun merutuki keadaannya yang kehilangan ingatannya―ingatannya sejak bersama Kris. "Tentu tidak apa-apa." Sehun mengangguk cepat. "Aku justru harus berterima kasih padamu, Hyung."
Kris tersenyum simpul. "Anything for you," ucapnya. "Hm apakah kau ingin istirahat dulu?"
Sehun memalingkan wajahnya. Ia merasa jantungnya mulai berdegup dua kali lebih cepat saat melihat Kris tersenyum dengan begitu menawan padanya. Sejak dulu, Kris memang sangat mempesona, namun ia tak pernah merasakan kegugupan saat menatap pria itu. Mungkin perasaan itu mulai tumbuh kembali di hatinya? "Ya, kurasa aku akan istirahat dulu. Kepalaku agak pusing."
"Pusing?"
"Ya―tapi tak perlu mengkhawatirkanku," jawab Sehun dengan cepat. Wajahnya terlihat begitu panik saat menyadari nada khawatir dari Kris. "Aku bisa menanganinya sendiri, Hyung," gumamnya.
Kris mendesah lega, meski masih terdapat rasa khawatir. "Baiklah, kalau begitu," putusnya. "Ah ya, Ace pulang sekitar satu jam lagi. Apakah kau mau aku membangunkanku saat dia pulang dan kita bisa makan siang bersama?"
"Ace?" Sehun mencoba mengingat nama itu. Ah, Ace―anaknya dengan Kris. Ngomong-ngomong, sejak ia siuman dan Kris menyuruh Ace keluar dari kamar inapnya, ia belum melihat Ace lagi. "Ah ya, sudah tiga hari ini kami tidak bertemu ya?"
Kris mengangguk. "Dia sangat merindukanmu dan ingin segera bertemu denganmu," ungkapnya. 'Begitu pula denganku, Hun. Aku sangat merindukanmu,' lanjutnya dalam hati.
"Baiklah kalau begitu."
"Ya sudah, aku akan meninggalkanmu dulu. Selamat istirahat, Hun-ah."
"Kyuhyun ingin bicara padamu, Kris."
Saat ini, Kris dan Changmin sedang melakukan video call. Kris segera menuju ruang kerjanya, segera setelah ia mengantar Sehun ke kamarnya. Keduanya sedang membicarakan tentang peningkatan kasus pemberontakan di kawasan Eropa dan Amerika. "Adakah kabar baik untukku?" tanya Kris penuh harap. Kakak iparnya itu adalah kepala dokter di Rumah Sakit Internasional Rusia. Jadi ia benar-benar berharap agar Kyuhyun menemukan cara alternatif untuk membantu penyembuhan Sehun.
Changmin mengangguk, kemudian ia memanggil nama Kyuhyun. Tak lama kemudian, Kyuhyun muncul di layar―pria itu duduk tepat di samping Changmin. "Hai, Kris. Bagaimana kabarmu? Kau nampak jauh lebih baik dari terakhir kali aku melihatmu," sapanya sambil tersenyum.
Kris tersenyum malu. "Keberadaan Sehun sedikit mengubahku," jawabnya jujur. Ia baru sadar bahwa selama ini penampilannya benar-benar kacau―kulitnya semakin pucat, pipinya tirus, dan tumbuh rambut pendek di sekitar dagunya. Jadi semenjak Sehun sadar, Kris mulai memperbaiki penampilannya dan memperhatikan pola makannya.
"Baguslah kalau begitu." Kyuhyun tersenyum simpul. "Aku sudah membicarakan masalahmu pada tim dokter di rumah sakitku dan mereka mengatakan bahwa ada sebuah alat yang sedang dirancang oleh Divisi Kesehatan OWF," jelas Kyuhyun.
Kris menyimak baik-baik. "Alat apa itu?"
"Err―haruskah aku menjelaskannya secara rinci?" Kyuhyun menaikkan alisnya. Ia agak meragukan jika Kris tertarik dengan segala hal berbau medis―mengingat bahwa kebiasaannya yang satu ini sangat mirip dengan Changmin.
Kris meringis tertahan. "Tidak."
Kyuhyun mendengus, sementara Changmin tertawa di sampingnya sambil membisikkan sesuatu ke telinga istrinya. "Secara singkat, alat ini bisa digunakan untuk memulihkan ingatan seseorang yang hilang. Hanya saja―"
"Ada efek sampingnya?" tebak Kris cepat.
Kyuhyun mendesah kecil. "Ya, itu benar. Alat ini sebenarnya adalah salah satu bentuk kemajuan teknologi di bidang kesehatan, namun karena efek sampingnya agak menyiksa, alat ini tidak disebarluaskan dan hanya ada beberapa di pusat Divisi Kesehatan di Berlin," jelas Kyuhyun lagi.
"Memangnya, apa efek sampingnya?" tanya Kris penasaran.
Kyuhyun menggigit bibirnya. "Aku tak yakin, apakah kau akan menerimanya atau tidak nanti―tapi ketahuilah, orang yang sudah pernah mengenakan alat ini akan sering terserang sakit kepala yang begitu menyiksa. Jika orang tersebut tidak cukup kuat untuk menerima rasa sakit yang parah, kusarankan jangan menggunakan alat ini."
Changmin yang duduk di samping Kyuhyun nampak terkejut. "Separah itukah?"
Kyuhyun menoleh ke arah suaminya sambil mengangguk, kemudian kembali menatap ke arah layar. "Bagaimana menurutmu, Kris?"
Kris masih mematung dan nampak berpikir keras. Apakah Sehun harus menderita separah itu hanya demi keegoisannya yang tidak ingin terlupakan oleh Sehun? Atau lagi-lagi, ia harus mengorbankan perasaannya―membiarkan Sehun tetap dalam ingatannya yang saat ini dan melakukan terapi yang membutuhkan waktu lama atau yang lebih buruk, bisa saja tidak berhasil? Kris memijat pelipisnya.
"Kris?" Kyuhyun menegur Kris.
Kris menarik nafas dalam-dalam.
TOK! TOK! TOK!
"Tuan, ini saya―Chen."
Kris memberikan isyarat untuk menanggapi Chen yang berdiri di balik pintu ruang kerjanya. "Ya, Chen?"
"Tuan Muda baru saja pulang dari sekolahnya," ucap Chen memberitahu.
"Ah, baiklah. Suruh Ace untuk langsung ke meja makan. Aku akan segera turun bersama dengan Sehun," balasnya.
"Baik, Tuan."
Kris kembali menatap ke arah layar dengan wajah bersalah. "Maaf Hyung, kurasa aku harus menemui Ace dulu. Aku akan menghubungi kalian segera dan memberikan keputusanku."
"Take your time, Kris. Kau benar-benar harus memikirkan keputusan ini baik-baik," pesan Kyuhyun.
"Terima kasih, Hyung."
Sehun sedang berbaring di atas kasur baru miliknya yang jauh lebih empuk dan nyaman dibanding kasur di rumah sakit. Meski begitu, sejak tadi ia tak bisa tidur karena terlalu banyak hal yang dipikirkannya. Ia berguling-guling kesana kemari, hingga saat ini ia berada di tengah-tengah dengan posisi terlentang dan menatap ke arah langit-langit.
Sehun pikir, amnesia hanya terjadi pada karakter-karakter di film atau drama yang ditontonnya. Siapa yang menyangka bahwa saat ini ia sedang mengalaminya? Bahkan parahnya, ia melupakan bahwa ia sudah bersuami dan memiliki seorang anak. Yang lebih parah lagi adalah dia justru mengingat mantan kekasihnya. Sehun tak bersalah disini. Ia tak menginginkan kecalakaan itu, apalagi mengalami amnesia. Tapi apa boleh buat? Hal itu sudah terjadi dan kini Sehun seolah menjadi sosok dari masa lalu yang tiba-tiba saja hidup di masa depan. Rasanya aneh dan janggal.
Tangan Sehun bergerak menyentuh dadanya sendiri. Ia masih bisa merasakan degupan jantungnya yang terdengar keras dan lebih cepat dari biasanya. Itu semua bermula saat ia berduaan dengan Kris di kamar ini, saling bertatapan dan Kris sedang tersenyum ke arahnya. Ia tak pernah menyadari betapa Kris bisa memikat hatinya seperti itu. Seingatnya, hanya Chanyeol yang bisa membuatnya merasakan hal itu. Apakah perasaannya tak bisa dibohongi? Apakah tautan cinta diantara mereka belum terputuskan? Namun rasanya sangat sulit menerima kenyataan ini. Di ingatannya hanya ada Chanyeol―bukan Kris. Namun di hatinya―entahlah, Sehun tak mengerti dengan hatinya sendiri.
TOK! TOK! TOK!
Sehun berjingkat dari posisi tidurnya. Ia langsung terduduk di atas ranjang dengan mata yang membuka sempurna. "Y-ya?" ucapnya gugup dengan suara yang dikeraskan.
"Ini aku―Kris. Bolehkah aku masuk?"
Sehun merasakan pipinya terasa panas. Ia baru saja memikirkan Kris dan tiba-tiba saja, Kris sudah berdiri di balik pintunya. Di jaman yang modern ini, Kris tak punya alat untuk mendengar isi pikirannya kan? Semoga saja tidak. "Masuklah, Hyung."
CKLEK!
Kris membuka pintu kamar Sehun dan mendorongnya pelan. Ia melongokkan kepalanya ke dalam. "Ace sudah kembali dari sekolahnya. Kau mau ikut makan siang atau tidak?"
"Tentu," jawab Sehun cepat. Ia merasa terlalu gugup dan tak ingin terlalu berlama-lama dengan Kris dalam kondisi seperti ini.
Kris mengernyitkan dahinya melihat Sehun yang menjawabnya dengan cepat. "Kau sudah baik-baik saja? Kepalamu tidak sakit?" tanyanya sambil menatap Sehun lekat-lekat.
Jujur saja, Sehun merasa aneh saat Kris menatapnya seperti itu. Jadi ia menundukkan kepalanya dan menjawab, "Aku sudah merasa baikan."
Kris tersenyum kecil. "Kalau begitu, ayo segera turun. Ace sudah menunggu di ruang makan."
"Mommy!" Ace yang mendengar suara derap langkah kaki, segera menoleh ke arah Kris dan Sehun. Saat matanya menangkap sosok sang ibu yang begitu dirindukannya, ia langsung berteriak girang dan melompat turun dari kursinya. Ia langsung memeluk pinggang Sehun dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di perut sang Ibu.
Sehun tertawa kecil melihat tingkah Ace. Memang sulit menerima kenyataan bahwa ia sudah memiliki seorang anak, tapi dia pikir dia akan baik-baik saja dengan anak manis dan menyenangkan seperti Ace. "Selamat siang, Ace." Sehun mengacak gemas rambut putranya.
Ace mendongakkan kepalanya dengan tangan yang masih melingkari pinggang Sehun. "Ace rindu Mommy," ucapnya setengah merajuk.
Sehun bisa menangkap ketulusan dari ucapan Ace. Ia memang tidak bisa mengingat Ace, namun ada rasa yang tak bisa didefinisikan saat Ace memanggilnya 'mommy', memeluknya dan mengatakan bahwa anak itu begitu merindukannya. "Mom juga merindukanmu." Lidahnya memang terasa sulit mengucapkannya, namun hanya kalimat itulah yang bisa ia keluarkan.
Kris tersentuh melihat Sehun dan Ace. Ia salut pada Sehun. Meski pria itu tidak bisa mengingat Ace, namun pria itu bisa bersikap seolah ia tak mengalami amnesia. "Ace, bisakah kita ke meja makan sekarang? Mom belum makan sejak tadi dan Dad juga mulai kelaparan," tegur Kris.
Ace menatap kesal ke arah Ayahnya saat pria itu mengganggu momennya bersama sang Ibu. Namun sedetik kemudian, Ace kembali menatap Sehun sambil menarik tangannya. "Mom, ayo ke meja makan. Mom pasti sudah lapar."
Sehun tersenyum. Matanya membentuk eyes smile yang indah. "Benar, Mom memang sangat lapar," ucapnya sambil mengusap perutnya sendiri.
Ace pun segera mengajak Sehun mendekati meja makan, sementara Kris mengikutinya dari belakang. Sehun menarikkan kursi untuk Ace dan anak lelaki itu segera menduduki kursinya. Saat Sehun hendak menarik kursi untuk dirinya sendiri, Kris sudah menarikkan kursi untuknya. Kedua pasang mata itu sempat saling bertemu dan lagi-lagi Sehun merasakan degupan aneh di dadanya. Sehun gugup sendiri, sementara Kris nampak santai menanggapinya―ia tersenyum ke arah Sehun.
"T-terima kasih, Hyung." Sehun menundukkan kepalanya―hanya untuk berjaga-jara jika saja muncul semburat merah tipis di pipinya. Akan sangat memalukan jika Kris sampai melihat itu.
"Sama-sama." Kris pun duduk di kursi yang memang selalu menjadi tempat biasanya duduk.
"Mommy, Mommy." Ace menarik ujung kemeja yang dikenakan Sehun.
"Ya, Ace?" Sehun menoleh ke ara Ace.
"Mommy harus makan yang banyak ya? Kata Daddy, Mommy belum benar-benar sembuh, jadi Mommy harus makan yang banyak agar cepat sembuh. Okay?"
Sehun tertawa pelan. Ia gemas melihat tingkah Ace, kemudian mencubit pipi Ace. "Tentu, Ace."
Sementara itu, Kris hanya terdiam di tempatnya sambil memandangi istri dan putranya. Mereka kedua terlihat baik-baik saja dan begitu bahagia. Tegakah Kris untuk mengusik ketenangan diantara mereka berdua dengan membiarkan Sehun menjalani penyembuhan seperti yang dijelaskan Kyuhyun?
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat. Kris benar-benar mensyukuri segala hal yang terjadi hari ini―Sehun yang sudah kembali ke rumah, serta melihat Sehun dan Ace yang bercanda bersama.
Usai makan malam, Kris meminta Sehun untuk segera kembali ke kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih, meski Sehun masih sangat ingin bersama dengan Ace dan menemani putranya belajar. Sehun hanya bisa patuh pada Kris saat pria itu menatapnya dengan mata elangnya―Sehun benar-benar tak kuasa menahan kekuatan yang dipancarkan oleh tatapan mata Kris. Sementara itu, Kris-lah yang menemani Ace belajar untuk malam itu―mengajarkan hal-hal yang tidak dipahami oleh Ace dan membantu putranya mengerjakan beberapa PR dari sekolah. Saat jam menunjukkan pukul 9, Ace menyudahi kegiatan belajarnya dan bersiap-siap untuk pergi tidur. Setelah memastikan Ace sudah terlelap, Kris kembali ke ruang kerjanya.
Kris mendudukkan tubuhnya di atas kursi kerjanya―merilekskan punggungnya sejenak. Ia memang merasa lelah, namun semuanya serasa terbayar lunas saat ia mendengar tawa yang keluar dari Sehun dan Ace. Ia juga sedikit bersyukur karena ia bisa mengambil cuti untuk hari ini dan mengontrol pemerintahan dari rumahnya―ingatkan Kris untuk berterima kasih pada Baekhyun dan Lay yang membantu tugasnya hari ini.
Sayangnya, Kris tidak bisa bernafas lega dengan begitu mudah. Ia harus segera memutuskan penanganan yang tepat bagi penyembuhan amnesia Sehun. Ia tak bisa berhenti memikirkan hal ini sepanjang hari itu. Ia memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi jika ia memilih salah satu dari dua pilihan yang ada. Dengan kepala dingin, akhirnya Kris membulatkan tekadnya untuk memilih salah satunya.
Pria bertubuh jangkung itu segera mengambil ponsel yang diletakkannya di atas meja―menghubungi Kyuhyun untuk membicarakan keputusannya. Setelah menyelesaikan panggilannya pada Kyuhyun, Yifan merenung sejenak sambil menatap ke arah ponselnya. Ia sudah memutuskan hal ini dan ia hanya bisa berharap bahwa inilah yang terbaik bagi dirinya, Sehun, ataupun Ace.
Kris kembali mengetikkan angka-angkat di ponselnya dan menempelkan ponselnya ke telinga.
Terdengar nada sambung.
"Halo?"
"Halo, ini Perdana Menteri Amerika Serikat, Kris Wu. Bisakah Anda menyambungkan telepon saya pada Park Chanyeol?"
to be continued
dee's note:
hello. ini udah berapa bulan lamanya saya nggak update fic ini *hide*
maaf ya menghilang terlalu lama, tapi semoga saja chapter kali ini bisa mengobati kerinduan pembaca *eaa* ada sedikit perubahan dari rencana awal saya sih. awalnya saya bikin kris menderita banget karena penyakitnya Sehun. tapi saya nggak tega. nggak tega sama Ace ;-; kan kalo Kris menderita, otomatis Ace juga menderita huhuhu
oh ya, kalo yang di chapter dulu ada yang nanya kayak gimana wajahnya Ace, kayaknya saya mau pake si Zhuyi buat ngegambarin ace. ada yang tau Zhuyi? itu anak kecil yang mirip banget kayak kris hehehe
dan masalah pairing, saya tegaskan sekali lagi, main pairings di fic ini adalah KrisHun dan ChanKai. tapi tetap akan ada ChanHun dan KrisKai moment. nah di atas tadi Chanyeol udah beberapa kali disebut. ada yang bisa nebak, kira-kira Jongin bakalan jadi siapa disini? (ya jadi jongin-lah *slapped*)
sebelum saya ngomongnya ngelantur, jadi saya sudahi disini (?)
mind to review dear?
