A Star

Chapter Three: Something Hidden in the Letter

Disclaimer: Bleach © Tite Kubo

-XxX-

"Hey Renji, maaf menunggu lama…" ujarku seraya keluar kelas.

"Ah, don't mind, mau langsung pulang nih?" tanya anak berambut merah itu.

"Iya, ayo…" kataku. Hey, ada yang mau tahu kenapa aku pulang bersama anak Direktur perusahaan Elektronik ini? Yap, benar, hari ini jadwal ia untuk mengantarku pulang, sebenarnya ini jadwal Momo, namun Renji meminta dia saja.

"Hey, kau masih kesal dengan Ichigo?" tanya Renji.

"Tentu saja, anak itu menyebalkan, bagaimana jadinya kalau aku pulang bersamanya, ya? Woah~" kataku, menghela napas, sedangkan Renji hanya mendengus tertawa.

"Tapi sebenarnya dia itu baik, lho, tapi kalau sama perempuan emang gitu, aku sendiri heran…" kata Renji, menerawang ke langit-langit.

"Hmm, yah, nanti kucoba deh, bicara baik-baik dengannya…" kataku akhirnya.

"Hati-hati di cuekkin lagi, hehehehehe…" katanya, setengah tertawa.

"Hey!" kataku, memukul lengannya.

-XxX-

"Wah Rukia, senang melihatmu segar seperti ini.." kata Dokter Unohana.

"Hehehe, terima kasih…" kataku senang.

"Wah, Rukia!" kata suara seorang perawat yang sangat ku kenal, Isane.

"Hai Isane!" sapa ku, rasanya lama juga aku tak melihat wajah Isane.

"Ayo sini, kita periksa tekanan Darah dulu.." ujar Isane, mengajakku ke tempat tidur pasien. Lalu mengukur tekanan darahku. "110/90, baik…" gumam Isane seraya mencatat.

"Wah, tekanan Darahnya stabil…" kata Dokter Unohana. "Ya sudah, kalau mau menjenguk Yumi boleh, kok.." ujar Dokter Unohana lagi.

"Wah! Iya, aku mau menjenguk Yumi!" kataku senang lalu langsung keluar dari ruangan Dokter khusus penyakit dalam Unohana itu.

"But I will be waiting for you, to say you want me to be with you.." senandungku di koridor Rumah Sakit itu. Tiba-tiba saja aku melihat sekelebat rambut orange keluar dari ruangan Dokter khusus penyakit dalam yang lainnya. "Ichigo!" panggilku. Ternyata anak itu menoleh.

"Hee? Kau sedang apa?" tanya Ichigo.

"Aku yang harusnya tanya begitu! Aku sedang control, kau?" kataku, balik bertanya.

"Ng, i-itu, menemani ayahku…" katanya, lagi-lagi memalingkan wajahnya.

"Wah, ayahmu sakit apa?" tanyaku.

"Ng, memeriksakan gula darahnya, ia takut diabetes.." katanya.

"Hey, mau ikut aku menjenguk anak kecil yang waktu itu?" tawarku.

"Hmm, baiklah.." kata Ichigo pada akhirnya.

-XxX-

"Rukia-nee!" kata Yumi begitu melihatku.

"Hai Yumi! Kau terlihat sehat!" kataku, senang melihat anak imut itu.

"Ng, ada apa?" tanya Ichigo, karena merasa tidak enak ditatap langsung oleh Yumi.

"Kakak pacar Rukia-nee, ya?" ujar Yumi, polos.

"Eh! Bu-bukan!" sanggahku cepat.

"Oh wah, tapi kalau kakak sama Rukia-nee pasti cocok.." katanya lagi, dengan senyum mantap. "Ah Rukia-nee, ada anak baru lho, sini, deh…" kata Yumi seraya menarik-narik tanganku.

"Eh? Siapa?" tanyaku.

"Itu, yang rambut biru di ujung itu." kata Yumi. "Zero!" panggilnya, lalu anak itu menoleh.

"Yumi, ada apa?" tanya Zero, tanpa ekspresi.

"Kenapa dia?" bisikku, karena anak itu terlihat sehat, namun cemberut.

"Dia itu tidak sakit apapun, tapi dia punya indra ke enam, namun tak ada yang percaya, tapi aku percaya, lho!" ujar Yumi.

"oh.." kataku, seraya mendekati anak itu. "hai, aku rukia, kau Zero, kan?" tanyaku lembut.

"Ya, ada apa?" kata anak itu, lagi-lagi tanpa ekspresi.

"Aku percaya padamu, kok!" kata Rukia, menyemangati anak itu.

"Uhh…" tiba-tiba Zero menangis.

"Eh? Eh? Ada apa?" tanya ku, bingung.

"Papa tak mau percaya Zero…" ujar Zero, sesenggukkan.

"Hey," ujar Ichigo, menepuk pundak anak itu. "Laki-laki tak boleh menangis, kau harus buktikan kepada ayahmu, kalau kau benar…" kata Ichigo, tersenyum.

"Baik.." kata anak itu, menghapus air matanya. "Kak Rukia sebentar lagi akan di panggil pulang.." ujar anak itu tiba-tiba.

"Eh?" belum sempat kebingunganku terjawab, ternyata Isane benar memanggilku. "Wah, Zero, kau pasti bisa meyakinkan ayahmu!" ujarku.

"Iya!" tambah Yumi.

"Yumi, Zero, aku pulang dulu…" kataku akhirnya.

"Iya!" kata dua anak kecil itu.

"O ya, kalian berdua cocok, lho!" teriak Ichigo dari kejauhan. Seketika kedua anak itu memerah.

"hey, kau ini.." kataku, geli menahan tawa.

"Lho? Benar, kan?" katanya, meyakinkan.

"Hahaha, iya, sih.." kataku, lalu tanpa terasa, kami bertiga sudah melewati tempat dimana Ichigo tadi keluar.

"Otousan…" kata Ichigo. "Ah, duluan, ya, bye.." ujarnya, lalu tampaknya ayahnya memberinya sesuatu, spertinya surat, lalu ia membukanya, entah hanya perasaanku, atau memang wajahnya saat itu memucat.

-XxX-

"Hari ini bersama Toushiro, ya?" tanya Momo, saat itu memang jam pulang.

"Iya, ehem.." kataku, berdeham di sengaja.

"A-ada apa, ya?" katanya, pura-pura tidak tahu, yah, dia mengagumi cowok berambut putih itu.

"kapan nih?" tanyaku.

"Ng, yah, aku kan belum akrab dengannya…" katanya.

"Ah, masa? Sampai tukaran bekal gitu?" goda ku.

"Ah Rukia!" katanya, muncul semburat merahmuda di pipinya.

"Mau kumintakan nomor hand phone nya?" tawarku. Belum sempat Momo menjawab, anak yang sedang kami bicarakan itu muncul.

"Nomor Hand phone siapa?" tanyanya.

"Ah, bu, bu.." kata Momo, gelagapan.

"Nomor hand phone mu!" potongku, rupanya hari ini aku sedang jahil.

"Rukia!" desisnya, sekarang wajahnya menjadi merah.

"Oh? Mau? Sini, mana Hand Phone mu? Aku sedang tidak membawa hand phone-ku.." ujar Toushiro, santai.

"Eh, ng.." gumam Momo, akhirnya ia menyerahkan Hand phone-nya kepada Toushiro.

"Jangan SMS aku sore-sore, ya, biasanya aku sedang latihan, jadi malam saja…" kata anak berambut putih itu sambil menekan keypad hand phone Momo.

"Oh eh, i-iya.." kata Momo, lalu mengambil Hand phone-nya dari Toushiro.

"ehem!" lagi-lagi aku berdeham di sengaja, membuat pipi Momo kembali memerah.

"Kau tidak mau pulang bersama kami?" tanya Toushiro.

"Eh ng, aku ada Acara sore ini, aku harus menari di sebuah pertemuan teman-teman Otousan…" katanya.

"Wah, begitu, ya, kalau begitu semoga berhasil, ya…" ujar Toushiro.

"Oke, aku duluan, ya!" kata Momo, lalu keluar kelas.

"Hey, kau tahu Ichigo kemana?" tanya Toushiro.

"Ng, tidak, dia tak masuk?" kataku, baru saja sadar kalau si orange nyentrik itu tak masuk.

"Tidak.." kata Toushiro.

"Hmm, kemarin aku bertemu dengannya, di Rumah sakit…" kataku.

"He? Rumah sakit? Rasanya ia tak pernah bilang kalau dia sakit…" kata Toushiro, mengerutkan dahi.

"Katanya sih menemani ayahnya, karena ayahnya takut Diabetes.." kataku mengingat-ingat.

"Hey, kita kerumahnya saja?" tanya Toushiro.

"Hmm, boleh, tapi jangan lama-lama, nanti Otousan bisa ribut sendiri.." kataku.

"Baiklah.."

-XxX-

"Hey Bro, kenapa kau tak masuk?" tanya Toushiro, begitu memasuki kamar Ichigo.

"Ng, sakit, hehehehe.." katanya.

"Dasar, beri tahu kami, donk!" kataku.

"Malas ah, enggak penting.." kata Ichigo.

"Hey Ichigo, aku mau pinjam Toilet, donk.." kata Toushiro.

"Astaga, dasar bodoh, ya sudah sana…" kata Ichigo, mendengus tertawa.

"Hey, ini kan surat yang kemarin.." kataku, melihat surat di meja di sebelah kasur Ichigo.

"Jangan, kembalikan.." katanya, sepertinya memelas.

"Tidak mau, lihat sedikit kenapa.." kataku, mulai membuka amplopnya.

"Kubilang jangan ya jangan!" bentaknya, merebut dengan kasar surat itu dari tanganku.

"Eh, ma-maaf…" kataku.

"Haah.. lega…" kata Toushiro. Namun sepertinya ia sadar bahwa mars-nya berubah menjadi tidak enak, karena ia langsung berkata, "Er, Rukia, aku harus latihan ayo kita pulang.."

"Eh, ba-baik.." kataku, mengambil tasku.

"Ichigo, cepat sembuh, besok giliranmu mengantar pulang, lhoo…" kata Toushiro mengingatkan.

"I-iya.." jawabnya.

"Bye.." ujarku pendek.

"Tadi kau cekcok lagi?" tanyanya begitu keluar dari rumah Ichigo.

"Ng, tidak kok.. hehe.." jawabku, berbohong. 'Sebenarnya apa yang di sembunyikannya? Kenapa ia begitu marah ketika aku mau membuka surat itu?'

-To be continued-