A Star

©Dee

Bleach © Tite Kubo

Chapter Five: Tell the Truth

-XxX-

"Tik, tik, tik,"

"Rukia, ayo pulang dulu, ini sudah jam sebelas," ujar Otousan. Aku melirik jam yang masih berdetak. Benar.

"Iya Rukia, tidak baik untuk kesehatanmu, pulanglah, aku juga akan pulang, Ichigo akan baik-baik saja," ujar Renji. Aku beranjak, lalu melihat—untuk kesekian kalinya—kedalam ruangan 209, tempat Ichigo sedang berbaring ditemani wajah pucatnya. Dia masih menutup matanya.

"Kita gak akan berguna disini, jadi ayo pulang," ujar Uryuu. Benar, ini gak akan berguna. Akhirnya aku melangkah mendahului otou-san.

-Flashback—

"Namun pada tempatnya, cahayanya jauh lebih besar ketimbang Bulan," kata Ichigo, lalu menggenggam kedua tanganku. "Sama seperti aku, yang tidak terlihat mendukungmu sembuh, tapi sebenarnya aku, sangat berharap kau sembuh…" kata Ichigo, dengan wajah merah padam, namun ia tetap menatap mata Violetku.

"te-terima kasih…" kataku, mulai mengeluarkan bulir-bulir airmata.

"Sama-sama," kata Ichigo, tersenyum tipis. "Rukia, boleh ku minta bantuanmu?" tanya Ichigo.

"Ya?"

"Tolong, panggilkan… Seseorang…" gumamnya tak jelas.

Bruk!

Ichigo Ambruk di sebelah ku dengan wajah sangat Pucat. Ini apa? Dia tidak bercanda kan?

"Ichigo? Ichigo?!"

-end—

Setelah itu aku menelepon Renji. Dan yang lainnya juga berdatangan. Lalu Otousan juga. Tapi tidak ada yang tahu ia kenapa. Ayah Ichigo bilang, Ichigo yang harus mengatakannya. Aku kesal.

"Rukia? Kau tidak apa-apa nak?" tanya Otousan, aku mengangguk, meski aku menyadari ada air yang mulai mengalir di sudut mataku. "Tidur saja, tidak apa."

"Yaa," jawabku. Sepertinya Otousan tahu suasana hatiku saat ini, yah mungkin aku harus berterimakasih nanti. Lalu aku mulai menutup mataku. Dan aku sadar,

Aku takut kehilangan Ichigo.

-XxX-

"Nona, apakah anda mau sekolah?" tanya Kaori. Pertanyaan yang tidak biasa. Tapi aku menggeleng. Aku memang tidak mau sekolah. Aku ingin ke rumah sakit, berharap Ichigo sudah sadar.

"Baiklah, Nona, Sarapan saya taruh di Meja nona, saya permisi dulu," ujar Kaori. Pasti Otousan yang menyuruhnya.

"Tring tring…" handphone ku, ada pesan masuk. Aku meraba-raba kasur. Ternyata ponselku ada di bawah kakiku.

From: Momo-chan

Msg.: Rukia-chan? Aku akan kerumah mu nanti pulang sekolah, jangan murung ya

Momo, dia selalu peduli padaku. Aku tidak murung, kok, tenang saja. Tapi aku tetap bertanya-tanya, ada apa dengan Ichigo. Dia step? Tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda anak step, terbukti dari Renji dan yang lainnya terkejut saat melihat Ichigo terbaring pucat.

Tiba-tiba seperti ada meteor yang jatuh ke kepalaku. Aku sepertinya mengerti. Dan surat yang kemarin itu pasti ada hubungannya.

Tidak. Ini hanya delusiku. Dia tidak mungkin… dia pasti hanya kecapekan atau semacamnya, atau mungkin ia lagi demam atau apa.

Dan ku harap itu benar.

-XxX-

"…na, nona…" aku membuka mataku. Ada Kaori, sepertinya aku tertidur lagi setelah berpikir yang tidak-tidak tadi. Bahkan sarapanku belum kusentuh.

"Ya?"

"Sarapan dulu nona, lalu minum obat," ujar Kaori lembut. Aku hanya mengangguk. Aku melirik jam, sudah pukul 9. Akhirnya aku mengambil roti ku yang berisi selai kesukaanku, srikaya. Lalu aku menyeruput teh yang masih panas. Mungkin tadi Kaori menggantinya.

"Rrrrr, rrrrr," ponselku bergetar karena ada panggilan masuk. Aku melihatnya, Renji.

"Moshi moshi?" jawabku. Hening, tidak ada jawaban. "Moshi-moshi, Renji?"

"Ah, Rukia," ujarnya, seperti kaget. "Apa kau sedang sibuk?"

"Tidak, eh, tunggu, kau sedang tidak di sekolah, Renji?" tanyaku menyelidik. Sudah pasti dia ingin aku melakukan sesuatu.

"Err… iya," Renji menjawab dengan ragu-ragu, namun tidak merasa bersalah sepertinya. "Kalau begitu aku akan menjemputmu sebentar lagi, ok?"

Tanpa menunggu 'ya' dariku, Renji memutuskan sambungan telepon begitu saja. aku agak bingung dengan nada bicara Renji. Seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu yang sangat sulit.

-xxx-

Supir Renji datang menjemputku tidak beberapa lama setelah aku menghabiskan sarapanku dan berganti pakaian. Aku bertanya pada supirnya apakah Renji mengatakan sesuatu, tapi ia menjawab bahwa ia hanya diperintahkan untuk menjemputku dan membawaku ke rumah sakit tempat Ichigo dirawat.

Sesampainya di rumah sakit, aku melihat Renji yang sedang duduk termenung di depan ruangan Ichigo. Ia bahkan tidak sadar dengan kedatanganku sampai aku menepuk bahunya.

"Ah, Rukia," sapa Renji, sepertinya ia baru kembali setelah berpetualang entah kemana didalam pikirannya.

"Ada apa? Apakah Ichigo… eh? dimana dia?" tanyaku begitu mendapati kasur Ichigo kosong setelah melihat ke dalam ruangan 209. Renji tidak menatapku, dia kembali termenung. "Renji?"

"Dia baik-baik saja, sedang melakukan perawatan di ruangan lain." jawab Renji setelah menemukan kata yang tepat. Entahlah, tapi aku yakin dia sedang menyembunyikan sesuatu. "Kita ke taman saja, yuk."

Renji lalu beranjak dan aku mengekor saja. Dia tidak bicara apa-apa lagi setelah itu. Tapi sekali lagi dia pergi entah kemana didalam pikirannya.

"Tadi pagi-pagi sekali, Uryuu datang kemari, sebelum aku." Ucap Renji lamat-lamat. Aku diam saja seraya menatap jalan, menunggu kalimat selanjutnya. "Ternyata Ichigo sudah bangun."

Aku terperangah. "Kenapa kalian tidak memberitahuku?" tuntutku. Ini jadi menyebalkan. Maksudku, aku juga berhak tahu, 'kan?

"Dia… tidak mau." Jawab Renji sekenanya. "Uryuu menelpon kami semua, tapi Ichigo melarangnya menelponmu."

Aku menggemeretakkan gigiku. Sikapnya itu… bagaimana mungkin egonya bertahan setelah apa yang dia katakan kemarin? Aku tidak mengerti jalan pikirannya.

"Mungkin, dia tidak sanggup mengatakannya dihadapanmu." Renji menghentikan langkahnya. Tapi ia tidak berbalik menghadapiku, hanya menatap rumput.

"Apa?"

"Kanker Otak, Stadium 2A."

Renji mengatakan itu dengan suara serak hampir tidak terdengar. Tapi sudah cukup membuatku membeku.

"H-hah…?"

"Saat ini dia sedang menjalani kemoterapi." Lanjut Renji, suaranya masih serak. Aku tahu dia tidak ingin memberitahukan ini padaku. "Dari awal dia tidak berniat memberitahu kita semua."

-xxx-

"Rukia… aku takut…"

"Ichigo?"

"Nona? Anda baik-baik saja?"

Pertanyaan itu mengembalikan kesadaranku. Aku melihat ke arah perawat yang menatapku bingung. Aku rupanya tertidur. Aku mengangguk lemah dan perawat itu meninggalkanku dengan mengatakan beberapa hal yang tidak kudengar dengan jelas.

Setelah Renji mengatakan hal yang sebenarnya, aku meninggalkannya. Aku mencari ruang kemoterapi dan melihat Ichigo yang sedang menahan kesakitan. Lalu aku berakhir disini, diruang tunggu lantai tiga. Aku bahkan lupa bagaimana caranya sampai disini.

Aku melihat arlojiku, rupanya aku tertidur cukup lama. Sekarang sudah saatnya makan siang, mungkin lebih baik aku ke kafetaria dan minum obat. Tiba-tiba aku teringat sekelebat mimpi sesaat sebelum aku bangun. Aku memutar tumitku dan berlari menuju ruangan tempat Ichigo di rawat.

Didepan ruang 209 sudah ada yang lainnya, termasuk Momo. Rupanya mereka langsung meninggalkan sekolah begitu bel jam makan siang berbunyi. Momo datang menghampiriku dan memberikan pelukan. Kami tidak mengatakan apapun, hanya berpelukan cukup lama.

"Sebentar lagi dia selesai melakukan sesi pengobatan," kata Renji. Tak lama setelah bicara begitu, terdengar suara kursi roda yang didorong oleh perawat. Ekspresi Renji dan yang lainnya berubah, membuatku berbalik seketika.

Ichigo membuang wajahnya. Ia berdiri perlahan, kemudian berkata sesuatu kepada perawat yang bersamanya. Perawat itu mengangguk dan berbalik meninggalkan Ichigo. "Kalian semua sedang apa disini? Ini masih jam sekolah, bodoh."

Ichigo berjalan perlahan melewatiku.

"Kenapa?" tanyaku dengan suara begetar. Ichigo menghentikan langkahnya. Namun ia tak menjawabku.

"Kenapa?!" tanyaku lagi dengan suara meninggi. "Kenapa kau tidak memberitahu kami dari a-"

"Lalu apa?!" potong Ichigo dengan suara yang lebih keras. "Supaya kalian bisa memberi wajah menyedihkan kalian semua ke diriku yang seperti ini?!"

Renji dan yang lainnya membuang muka. Aku merasa airmata mulai menggenang di pelupuk mataku.

"Aku tidak butuh wajah bodoh kalian…" ucap Ichigo pelan. Ia kembali melangkah perlahan menuju ruangannya.

"Hadapi bersama-sama, Bodoh!" jeritku, tanpa sadar tumitku sudah membawaku ke arahnya.

"Memangnya-"

Kata-katanya terpotong karena ia terhuyung hampir jatuh akibat aku yang memeluknya dari belakang. "Ayo kita hadapi sama-sama…"

Tangisku pecah. Air mata yang seperti sedari tadi ingin menetes itu akhirnya meluap. "Aku tahu itu, bodoh… aku mengetahui itu, semua ketakutanmu, semua kegelisahanmu, semua kesedihanmu… jangan kau tanggung sendiri, Ichigo, Kita disini untukmu…"

Aku merasakan tetes air membasahi lenganku. Ichigo menangis.

"Aku takut, Rukia, aku tidak berani menerima kenyataan ini, kupikir kalau aku diam saja aku akan merasa baik-baik saja…"

"Jangan jadi pengecut, bodoh." ucap Renji akhirnya. Ia mendekati Ichigo, diikuti oleh yang lainnya.

"Kau pikir kita hanya sebatas teman? Ya tidak mungkin, lah." timpal Uryuu. Kami semua berpelukan sampai sesak. Tapi aku merasakan otot Ichigo yang mengendur. Dia merasa lebih baik.

-to be Continue-

Dee's Corner:

Yokatta~ akhirnya satu lagi fic saya update~ mohon dukungannya ya :D supaya tekad saya yang maju mundur cantik ini bisa benar-benar yakin dan mantap :D terimakasih untuk yang sudah baca, jangan lupa direview, dikritik dan diberi saran, ya :D

Doumo Arigatou Gozaimasu~