Chapter 2
"Mereka Bilang Ini Cinta"
Aku melamun dekat perapian, sedikit rasa takut dan gelisah berkeliaran bebas dihatiku. Api… Entah kenapa sepertinya api begitu menakutkan, tapi aku membutuhkannya. Tak peduli seberapa menakutkan hal yang dapat disebabkannya, tanpa api… Aku tak bisa hidup.
Aku kembali melamun mengenai hari-hariku setahun yang lalu, ketika hatiku terasa nyaman ketika aku bertemu dengan Hyoga. Ketika mata birunya yang lembut menatapku, senyumnya yang hangat terbentuk setiap kali aku melihatnya dan kata-katanya yang seperti mengandung sihir yang membuatku tak mampu berkata "tidak" untuknya.
…
"Apa kau tidak kedinginan…?" tanyaku.
Dia menatapku yang sedang duduk dengan mantel dekat perapian dengan bingung. Lalu senyum itu kembali menghiasi wajahnya. Sepertinya, senyum itu tak pernah absen hadir di wajahnya.
"Aku merasa cukup hangat saat ini, aku sudah terbiasa dengan dingin…"
"Terbiasa dengan dingin? Dingin di Asgard tidak sama dengan dingin ditempat lain, dingin disini bisa perlahan-lahan membunuhmu. Apalagi semenjak Syd kembali untuk menyampaikan perang pada Athena, badai salju itu semakin sering terjadi. Matahari sudah tidak pernah muncul sejak saat itu."
"Kalau begitu kau harus ke rusia nanti setelah perang ini selesai…"
"Rusia?"
"Aku berasal dari negara rusia, saat aku belajar menjadi saint aku tinggal di Siberia. Kedua tempat itu sama dinginnya dengan Asgard, matahari juga jarang muncul, jadi aku sudah terbiasa dengan dingin…"
Aku masih berpikir dan membayangkan tentang tempat yang ia ceritakan. Aku benar-benar masih ragu akan tempat yang sedingin Asgard.
"Jangan khawatir putri Freya. Kau justru harus mengkhawatirkan dirimu…" kata Hyoga.
Putri Freya… Aku tidak ingin ia memanggilku begitu… Aku kembali menatap ke arah perapian dan menghangatkan diri. Sementara Hyoga tampak sedang membaca sebuah buku sambil memegang bandul berbentuk salib ditangannya. Sepertinya ia sedang berdoa… Aku mulai bertanya-tanya… Saat ini aku bersamanya karena aku ingin menyelamatkan diriku dan negeriku, ia pasti berdoa akan keselamatan teman-temannya, Athena dan negeriku. Tapi, apa aku ada dalam doanya?
Akhirnya kuputuskan untuk berdoa juga pada Odin, untuk keselamatan negeriku, untuk kakakku, untuk teman-temanku, dan berdoa agar setelah perang selesai, Hyoga juga mencintaiku… Lalu aku akan pergi ke negeri yang ia bilang sedingin Asgard dengannya. Dan kami akan menjadi raja dan ratu di negeri itu.
…
"Hhh…"
Aku menghembuskan nafas kearah telapak tanganku lalu menggosok-gosoknya. Masih melamunkan perang Asgard dengan saint Athena. Kali ini, tidak ada kakak yang akan menghentikan lamunanku. Api diperapian mulai meredup perlahan, kulemparkan beberapa balok kayu kering agar api tersebut tetap menyala… Lalu mulai merapikan letaknya dengan tongkat. Kali ini api berwarna sedikit biru dan terasa amat hangat. Dan kumulai melanjutkan lamunanku mengenai kejadian tahun lalu.
…
"Putri Freya… Putri Freya…"
"Hhh… Ada apa Hyoga…"
"Jangan tidur dekat perapian, nanti kau bisa terbakar…"
"Tapi di gubuk ini dingin sekali…"
"Kalau begitu menjauhlah sedikit dari perapian dan gunakan mantelku…"
"Ehh? Jangan, nanti kau bisa kedinginan dan jatuh sakit…"
"Sudah kukatakan kan kalau aku sudah terbiasa dengan dingin?"
Hyoga kembali tersenyum, lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ia melepaskan mantelnya dan membalutkannya padaku. Ia berkata "tidur yang nyenyak, mimpi indah ya…" lalu pergi lagi dengan sebatang lilin.
Wajahku berubah begitu merah ketika ia membalutkan mantelnya padaku, kurasakan wangi tubuhnya sedikit, kuperhatikan rambut pirangnya yang terbias cahaya perapian dan berwarna keemasan. Dan senyumnya yang hangat… Andai aku punya keberanian… Aku ingin mencium bibirnya yang terlihat begitu hangat ketika ia tersenyum.
Tapi, lagi-lagi… Aku hanyalah Freya. Yang mampu kulakukan hanya berdoa saja, satu-satunya keberanianku adalah berdoa bahwa. Dan aku kembali berdoa agar aku dan Hyoga bisa bersama suatu saat nanti. Karena aku rasa aku mencintainya…
Setelah tiga hari bersama Hyoga, aku pun akhirnya bertemu Athena ketika Athena akhirnya datang. Aku segera mengucapkan keluh kesahku, memohon bantuannya. Setelah Athena mengerti kronologisnya, para saintnya menyusun rencana. Sedangkan ia sendiri, mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan kami semua.
Perang tak terelakkan antara saint Athena dan prajurit Asgard tidak terelakkan lagi. Aku masih berdoa didekat Athena. Cosmonya begitu hangat, sangat mirip dengan cosmo kakakku. Satu persatu, bintang para prajurit Asgard yang gugur kembali ke gugusannya… Bintang milik Thor sudah kembali ke gugusannya, lalu disusul oleh bintang milik Fenrir. Hatiku bersedih akan kepergian mereka, tapi aku tetap berdoa demi keselamatan para saint Athena…
Demi keselamatan saint…Athena…
…
to be continue
