Chapter 3

"Mereka Bilang Ini Cinta"

Aku pernah mendengar sebuah lagu, kakak yang menyanyikannya untukku… Kakak bilang lagu ini berasal dari tanah britania. Sebetulnya lagu tersebut berisi sebuah cerita dan dalam cerita itu terdapat resep untuk membuat ramuan cinta…

Aku selalu ingin mencobanya, namun aku butuh keteguhan hati lebih lagi… Dan kuputuskan untuk kembali pada lamunanku terlebih dahulu demi memupuk keteguhan dalam hatiku.

Aku masih berdoa didekat Athena, tanganku terkepal erat didepan dadaku. Sedikit demi sedikit rambut panjangku tertiup angin Asgard yang begitu dingin. Cosmo Athena melemah, semakin lemah cosmo Athena, kehangatan mulai menyusut disekitarku. Namun aku menahan rasa dingin itu untuk pertama kalinya. Aku menatap ke arah langit, memperhatikan bintang-bintang prajurit Asgard yang telah kembali ke gugusannya. Bintang berikutnya adalah Merak Beta.
Aku sedikit bergetar, bintang itu milik seorang prajurit berkulit agak sedikit gelap. Aku mengenal dengan baik kekuatan Merak Beta, dengan keadaan saint Athena saat ini yang mulai melemah, aku berdoa semakin kuat untuk kemenangan saint Athena.
Tapi…

Merak Beta… Prajurit yang mendapatkan posisi itu, adalah seorang pemuda seumurku bernama Hagen. Ia sangat kuat, begitu kuat sehingga ia selalu menjadi tiga besar prajurit terkuat Asgard. Tapi ia bukan orang jahat, kebalikan dari prajurit-prajurit Asgard yang lain, Hagen adalah orang yang begitu lembut, tidak banyak prajurit Asgard yang kukenal dengan baik, hanya ada dua orang sebenarnya dan keduanya adalah prajurit terkuat yang pernah kami miliki. Siegfried dan Hagen. Mereka telah bersama-sama denganku dan kakak semenjak kami kecil. Bahkan bisa dibilang, Hagen adalah sahabat terbaikku dan satu-satunya sahabatku.

Aku sedang berusah untuk tidak membayangkan kengerian yang mungkin diterima saint Athena yang bertarung dengan Hagen. Namun dalam hati aku tetap berdoa mereka berhasil, tapi… Aku turut berdoa demi keselamatan Hagen. Berharap sahabatku itu dapat tersadar tanpa terluka… Tak mampu kubayangkan jika aku harus kehilangan sahabat terbaikku. Tak mampu… Tak akan mungkin mampu…

PRAAAAKKK

Jendela kamarku terbuka karena angin kencang, aku segera berlari dan menutupnya kalau tidak api di perapian akan segera mati… Setelah kututup rapat kedua jendela kamarku, aku kembali ke arah perapian… Balok-balok kayu kering yang kulempar sebelumnya mulai terbakar setengahnya. Aku hampir tidak memperhatikan waktu dan kembali kedalam lamunanku.

Tanganku perlahan-lahan terasa sedikit membeku, seluruh tubuhku bergetar menahan dingin, sementara Athena masih bertahan dengan tegar didekatku dan memancarkan cosmonya sedikit lebih untuk menggapai dan menjagaku tetap hangat. Perlahan-lahan aku kembali merasa nyaman, aku terbuai dengan kenyamanan tersebut dan berdoa lebih kuat untuk kekalahan Hagen. Untuk Athena, untuk para saintnya, dan tentunya untuk kebersamaanku dan Hyoga. Aku yakin Hyoga akan selamat… Aku yakin…
Untuk beberapa waktu yang cukup lama, cosmo Athena menjagaku tetap hangat. Namun tiba-tiba cosmonya melemah…

Dingin mulai menjangkauku perlahan… Namun aku masih melamun sambil memperhatikan balok-balok kayu yang sebentar lagi akan hangus. Ku pegang erat mantelku… Kuperhatikan perapian tanpa berkedip, tak kusadari sebentar lagi akan redup karena semua kayu hampir habis terbakar… Tanganku meraih kearah keranjang berisi balok kayu. Namun ternyata keranjang itupun telah kosong… Aku pun berlari keluar untuk mengambil balok-balok kayu diluar kamarku. Lamunanku berlanjut ketika aku menyusuri kamarku yang besar dan koridor istana yang dingin dan gelap.

Dingin mulai menggapaiku, cosmo Athena melemah, bahkan Athena sempat terjatuh sesaat lalu berdiri lagi dengan berani. Bintang Merak Beta masih bersinar begitu terangnya, itu artinya saint Athena yang menghadapi Hagen kemungkinan sedang kewalahan. Aku masih tak henti-hentinya berdoa, berulang-ulang kali sampai aku hapal setiap kalimat dalam doa yang kupanjatkan. Kalimat-kalimat tersebut mengalun begitu lancar dalam benakku.

Rambut panjangku kembali tertiup angin dingin, tiba-tiba aku merasakan hal yang aneh… Aku mencoba menghindarinya namun akhirnya kusadari, cosmo ini… Cosmo milik Hyoga… Kenapa? Kenapa? Padahal sebelumnya cosmo miliknya terasa paling kuat dibanding cosmo saint yang lainnya. Tapi kini kurasakan melemah begitu drastis. Aku memperhatikan Athena yang sepertinya sudah sangat kelelahan tapi memaksakan dirinya untuk tetap berdiri memancarkan cosmonya.

Tidak mungkin!

Tiba-tiba aku tersadar… Aku menoleh cepat ke suatu arah… Hyoga… Hyoga dan Hagen sedang bertarung saat ini. Tidak… tidak… Kenapa harus Hyoga yang melawan Hagen, aku tidak ingin keduanya sampai meregang nyawa… Tidak… Tidak… Tidak…!

to be continue