Chapter 4

"Mereka Bilang Ini Cinta"

Langkahku terhenti ketika lamunanku sampai pada saat aku teringat tentang diriku yang baru saja sadar bahwa Hagen sedang bertarung melawan Hyoga. Tentang cosmo Hyoga yang melemah saat itu. Lilin yang kupegang meleleh perlahan, aku pun mempercepat langkahku menuju tempat penyimpanan kayu balok.

Hagen dan Hyoga sedang bertarung! Tidak! Tidak! Aku tidak ingin keduanya meregang nyawa! Hagen! Aku tidak ingin kau gugur! Dan aku tidak mau Hyoga sampai meninggal juga. Aku pun segera berlari secepat yang kubisa, menuju tempat itu. Tempat dimana Hagen mendapatkan jubah perangnya. Jangan Hyoga…!

Tepat ketika aku sampai, Hyoga sedang terkapar lemah akibat menerima serangan Hagen. Aku berlari kearahnya dan membantunya bangkit.

"Putri Freya apa yang kau lakukan disini?!"

"Cukup Hagen, aku tidak akan membiarkanmu membunuh Hyoga…"

Hagen tersentak kaget. Lalu wajahnya berubah serius.

"Jadi benar… Bahwa kaulah yang membantu saint Athena ini kabur dari penjara… Putri Freya…"

"Hentikan Hagen! Aku tidak ingin kau juga sampai gugur dalam pertarungan ini…"

"Minggirlah Putri Freya, lagipula aku tidak akan kalah apalagi gugur dalam pertarungan ini… Biarkan aku menyelesaikan saint Athena itu…"

"TIDAAAAKKK! Aku tak akan memaafkanmu jika kau membunuh Hyoga! Aku tak mau Hyoga sampai mati! Tidak! Kalau kau mau, bunuh saja aku! Bunuh aku Hagen!"

Hagen menahan serangannya ketika aku melindungi Hyoga, kini wajahnya benar-benar marah.

"Kalau begitu… MATILAH PUTRI FREYA! DEMI ASGARD!"

.

.

.

"AAARRRRGGGHHHH!" jerit Hagen, matanya menatap jelas kedalam mata Freya yang meneriakkan namanya ketika ia terjatuh.

Hyoga mengambil kesempatan ketika Hagen sedang berusaha menyerang Freya, Hagen jatuh tersungkur setelah menerima serangan Hyoga. Hagen mencoba bangkit lagi dan Hyoga mencoba menyerangnya kembali.

"Tidak… Hyoga, hentikan… jangan bunuh dia…"

"Putri Freya, aku adalah saint Athena, sampai ia menyerah barulah aku akan mengampuninya…"

"Jangan… Hyoga! Jangan lakukan itu… Kumohon…"

Hyoga justru menatapku dan tersenyum lemah, sepertinya ia tidak mengerti maksudku.

"Tenang saja Putri Freya aku tidak akan membiarkanmu terluka… Sekarang minggirlah… Biarkan aku melindungimu dan Asgard…"

Dan seketika aku mengikuti kata-katanya… Aku begitu ingin mengatakan tentang Hagen adalah sahabatku, bahwa aku tidak ingin Hyoga membunuhnya. Tapi lidahku seakan begitu kaku, aku tak mampu mengucapkannya. Bahkan kakiku berjalan begitu ragu untuk mencegah Hyoga. Hatiku menjerit-jerit ketakutan, doaku… Tuhan kumohon kabulkan doaku…

Aku berjalan cepat menuju perapian kamarku, tanganku memegang erat keranjang berisi balok kayu kering, sementara tangan yang lainnya memegang lilin… Aku berjalan lebih menyusuri kamarku yang besar ke arah perapian. Akhirnya aku berlari pelan. Api di perapian mulai redup sedikit demi sedikit… Aku pun sampai dan hendak melemparkan balok-balok kayu yang kubawa, namun aku terlambat… Api di perapian terlanjur redup… kayu-kayu bakar itu sudah hangus sepenuhnya, kuperhatikan abu-abu yang tersisa dengan cahaya lilin yang ada di tanganku. Kuletakkan keranjang berisi balok kayu bakar dengan lesu. Abu-abu sisa kayu tersebut seakan bersinar-sinar sedikit… Seperti ada serpihan berlian yang ikut terbakar bersamanya…

Bibirku bergetar… Tanganku perlahan meraih gelas berisi ramuan cinta sesuai dari lagu yang kudengar itu.

"Are you going to scarborough fair…" kulantunkan dengan ragu lagu cinta itu.

"Parsley sage rosemary and thyme…

Remember me… to one… who lives… there" lantunku tersendat, namun kuberanikan diri untuk melanjutkan lirik selanjutnya.

"He once was… a…

-a… true…

"Aaaahhhhhh!"

Aku jatuh tersungkur menangis begitu lemah.

Tidak! Tidak! TIDAK! Kenapa kau membiarkan ini terjadi padaku… Kenapa?! Kenapa mereka katakan bahwa ini adalah cinta?! Apa cinta itu seperti ini?! Mereka bilang perasaan cinta itu indah! Katakan padaku dimana keindahan perasaan ini!

Setahun berlalu setelah semua kejadian menjijikkan itu! Dimana orang-orang yang kusayangi berubah menjadi seseorang yang tak sama sekali kukenal, dimana aku justru nyaman bersama dengan orang-orang asing yang baru kukenal, dimana aku harus melihat dia terluka, terbunuh… Dimana aku dibutakan oleh keadaan…

Tepat setelah perang berakhir, Hyoga pergi melanjutkan perangnya melawan Poseidon. Dan tepat setelah itu ia tak pernah kembali.

Kenapa?! Kenapa aku begitu bodohnya?! Mengira bahwa ia akan mencintaiku…?!

Lagi-lagi abu-abu di perapian bersinar-sinar terkena cahaya lilin. Aku menangis semakin kencang, aku tidak kuat lagi menahan semua ini.

"TIIIIIDDDDAAAAKKK!" jeritku menderita.

"Kembalikan! Kembalikan dirinya padaku Tuhan! Kenapa kau tidak memberiku keberanian saat itu?! Kenapa tak kau kabulkan saat itu Tuhan?! Kenapa kau butakan aku dengan 'cinta itu' Tuhaaaannn?! Bahkan sampai saat terakhir, aku tidak menyadari bahwa kehangatan itu bukan milikku?! Kenapa kau butakan aku?! Kalau memang inilah cinta yang sesungguhnya, kenapa yang kudamba tidak bisa menyadari apa yang aku inginkan?! Kembalikan! Kembalikan! Kembalikan padaku Tuhan… ! KEMBALIKAN CINTA SEJATIKUUUUU! HHAAAAGGGEEEENNNN!"

Sekali lagi aku memaksakan diri meneguk ramuan cinta itu untuk pertama kalinya, berharap aku bisa mencintai Hyoga. Berharap dengan ramuan itu aku dapat melupakan cintaku pada Hagen, yang terlambat kusadari. Namun pada akhirnya tak setetespun kuminum ramuan tersebut. Jauh di lubuk hatiku aku yakin, ramuan manapun tak lagi mampu merubah perasaanku pada cinta sejatiku yang sesungguhnya. Ribuan doa pun tak akan bisa lagi dikabulkan, karena aku berdoa untuk hal yang tak lagi mampu kucapai.

Bukan Hyoga yang sesungguhnya kucintai, tapi dia hadir ketika aku belum memahami apa itu cinta sejati. Sehingga aku pikir aku mencintainya. Seharusnya aku sadar bahwa saat aku berdoa untuk bersama, doa itu bukanlah doa yang tulus, itu hanya keegoisanku agar segera lepas dari hal yang sama sekali tak kuinginkan.

Tangisku pecah tidak karuan, kugapai serpihan abu yang berkilauan itu, kugenggam erat namun mereka justru lepas dari genggamanku. Semakin erat kugenggam mereka semakin cepat berjatuhan. Teringat dan terasa begitu pahit, bahkan ketika Hagen tersenyum dan mencoba meraih tanganku ketika itu… Aku butuh waktu untuk menyadari bahwa ia membisikkan bahwa ia mencintaiku… Memoriku tentang Hagen yang kucoba lupakan lepas dan bermunculan satu persatu dalam benakku. Kenangan-kenangan dimasa kecil kami… Kenangan-kenangan dimana ia menunjukkan rasa cintanya pada saat kami remaja, namun aku tidak menyadarinya.

Aku, memang bodoh… Karena aku hanyalah aku… Freya…

Seharusnya aku sadar bahwa ketika aku merasakan rasa yang tak kukenal saat itu. Seharusnya aku sadar, tatapan mata lembut Hyoga padaku bukan cinta, tingkah laku baiknya padaku bukan cinta. Itu karena Hyoga memberiku senyum sehangat senyum yang selalu Hagen berikan padaku. Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku begitu naïf? Hyoga sejak awal pun tidak pernah melihatku dengan cinta yang seperti itu, ia melindungiku karena itu tugasnya sebagai saint Athena saat itu. Kenapa? Kenapa?! Kenapa?!

Bahkan aku tak mampu menyentuh tangan cinta sejatiku di saat terakhirnya… Tangannya… Bahkan jemarinya saat itu tak lagi mampu kuraih… Aku begitu lemah… Dan dia pergi demi aku yang lemah ini, Hagen…

.

.

.

Sesal

Aku mengenali rasa sesal itu jauh lebih baik dari 'cinta' saat ini.

Aku terlambat

Aku lemah

Yang kudamba bukanlah yang seharusnya

Yang kucinta tak mampu lagi ku gapai

Tidak mungkin lagi

Jika doaku adalah kekuatanku

Aku ingin selamanya mengenangmu

Cintaku

.

.

.

~He once was a True Love of mine~