Step by Step

A BoboiBoy fanfiction by Chikara Az

BoboiBoy © Animonsta Studios

This fanfiction © Me

Rating : T

Warning : BL/sho-ai, OOC akut, semi-Canon, kumpulan ficlet/drabble

Don't Like Don't Read!

Enjoy~

.

Hal-hal sederhana yang secara sadar-tak-sadar membuat orang-orang di sekitar mereka menyadari kalau ada sesuatu di antara mereka. Dan secara sadar-tak-sadar menumbuhkan hal yang aneh di hati mereka.

.

.: :.


6. Popular


"Fang, ayo main!"

"...Huh. Kali ini apa yang kau mau, hah?"

"Caranya begini, aku akan berkata kalau kau lebih populer dariku, dan kau juga harus berkata kalau aku lebih populer darimu. Yang tidak bisa harus memberi ciuman pipi pada yang menang."

"He? Tunggu—"

"Siap? Aku dulu ya! Fang lebih populer dariku di sekolah—ah, tidak, di Pulau Rintis!"

"Huft. Baru sadar?"

"Sekarang giliranmu."

"Hah?"

"Kuberi tiga kesempatan. Ingat, ciuman dari yang kalah untuk yang menang!"

"Tunggu, aku tidak bilang akan ikutan!"

"Kenapa? Dengan yang begini saja kau takut?"

"T-tentu saja tidak! Argh, oke, oke!"

"Nah, giliranmu, mulai!"

"Boboiboy lebih—eh, dia lebih—Boboiboy lebih pop—"

"Dua kesempatan lagi!"

"Yang tadi dihitung? Sial! Eh, um, Boboiboy lebih popu—lebih—a-aku tidak bisa! Tidak mau!"

"Satu kesempatan lagi, Fang~"

"A-aku tidak mau mengakuinya, bodoh! Tidak bisa—"

"Kau benar-benar ingin memberiku ciuman, ya?"

"TIDAK! Sial! Umh, Boboiboy lebih... dia, lebih—Boboiboy lebih populer—ARGH!"

"Kesempatan habis! Siap-siap dengan hukumanmu Fang~"

"Tunggu dulu— berikan aku kesempatan sekali lagi!"

Hanya sebuah pagi biasa di mana Fang dan Boboiboy adalah dua siswa pertama yang datang ke sekolah.

.

.: :.


7. Sport


Boboiboy senang bermain sepak bola. Mengoper bola bermotif hitam-putih itu ke kawan setimnya dan meluncurkannya menembus gawang. Dia menyukai perasaan puas ketika melihat bola itu menyentuh ujung-ujung jari kiper dan terus melaju menyentuh jaring gawang dan memberi timnya sebuah poin.

Tapi dia juga suka melihat seorang anak lelaki berambut ungu kebiruan memainkan basket tepat di lapangan di sebelahnya. Tubuh ramping itu men-dribble bola oranye dengan lincah dan melompat, menembakkan bola di tangannya ke jaring berlubang di atas sana. Boboiboy diam-diam menyukai bagaimana keringat meluncur dari pelipis ke dagu, leher, dan tulang selangkanya. Dia menyukai cara bahu yang tidak lebih lebar darinya itu naik turun, menyerasikan dengan gerakan dadanya mengambil napas.

Meskipun begitu, dia tidak akan mengakui bahwa ia sering tidak bisa memusatkan perhatiannya ke permainan sepak bola yang sedang ia lakukan. Ia tidak akan mengaku pada Gopal bahwa ia luput menjaga bola hingga bola itu diambil lawan karena memerhatikan seorang anak lelaki. Ia tidak akan mengaku pada anggota timnya yang lain kalau ia terlalu sibuk mengagumi gerakan lincah seseorang hingga tidak sadar seorang lawan yang tepat di depannya menembakkan gol.

Oh, sungguh, ia tidak akan mengakuinya.

.

.: :.


8. Compliment


Jika ditanya, apakah Adu Du pernah membuatnya iri, Boboiboy tidak bisa menjawab dengan jujur.

Memang, sebenarnya ia lebih merasa kasihan pada alien satu itu. Terbuang dari planetnya dan dilecehkan sesamanya, pernah kehilangan seorang partner yang sangat berharga baginya. Jika saja Boboiboy yang melalui semua itu, ia tidak tahu apakah dia bisa bertahan.

Mungkin, dia bisa berkata bahwa ia iri pada kegigihan Adu Du, yang terus menerus mencoba mengalahkannya meski lebih sering gagal. Namun... ada yang membuatnya lebih iri lagi.

Boboiboy hanya pernah dipuji sekali oleh Fang, waktu dia berhasil mengalahkan Ejo Jo. Tapi... yah, hanya itu. Tidak ada lagi. Setelah memuji begitu pun, Fang tetap bilang bahwa Boboiboy tidak lebih hebat darinya. Anak berkacamata itu terlalu keras kepala untuk memuji saingannya lagi. Bahkan, ketika ditembak Pistol Emosi Y pun, Fang tidak pernah memujinya.

Padahal anak berdarah Cina itu jelas-jelas pernah menyebut Adu Du tampan!

Ia ingat sekali. Saat dia dan teman-temannya baru saja sampai ke Kedai Tok Aba untuk melaporkan situasi, dalam keadaan kacau karena sifat mereka yang bertolak belakang, Fang mengatakan bahwa Adu Du yang tampan menembak mereka dengan pistol perubah emosi.

Boboiboy yang saat itu sudah terlalu putus asa semakin hilang harapan. Ia masih ingat perasaan kosongnya ketika mendengar kata Adu Du dan tampan diucap dalam satu kalimat oleh Fang. Ayolah, banyak orang menyebutnya tampan, lho! Ia cukup percaya diri bahwa tampangnya jauh lebih baik dari kepala kotak hijau itu. Tapi Fang tidak pernah menujukan pujian seperti 'tampan' padanya!

Segitu tidak sukanya kah Fang pada dirinya? Padahal tidak harus tampan, apa saja...

Atau itulah yang dipikirkannya sebelum ia mencuri dengar pembicaraan Ying dan Fang tempo hari. Saat dia kembali dari kantin terlebih dahulu, meninggalkan Gopal yang memutuskan untuk di luar kelas lebih lama, karena sudah merencanakan sesuatu.

"Menurutmu Boboiboy itu orang seperti apa?"

"Dia berisik dan menyebalkan."

"Haiya... segitu saja? Yang lebih spesifik, dong!"

"Ish, jawaban apa yang kauharapkan? Dua kata itu cukup merangkum sikap Boboiboy, kau tahu! Yah, dia terkadang kelewat baik, terlalu peduli pada orang lain sedangkan dirinya dalam bahaya. Menyebalkan dan sok jadi pahlawan. Dan coba kau lihat seringainya itu! Urgh, membuatku ingin menamparnya agar seringai itu hilang!"

"Hee.. lalu, lalu?"

"Seringainya adalah hal terakhir yang kusukai. Tapi dia bisa menjadi perhatian kadang-kadang, tanpa diduga. Aku heran dengan sikapnya, selalu berubah-ubah. Mungkin pengaruh dari tiga kekuatannya...? Tapi yaa, itu! Aku tetap saja membencinya! Dia mengesalkan sekali!"

Saat mendengar ucapan panjang Fang mengenai dirinya, Boboiboy tidak tahu harus mengatakan apa. Anak itu membencinya, oke, tapi pendapat Fang mengenai kebaikannya? Seharusnya Boboiboy membawa ponsel untuk merekam ucapan itu agar bisa ia putar berkali-kali.

Rencananya untuk memakan donat lobak merah di depan Fang dan membuat anak yang lupa membawa uang bekal itu jengkel setengah mati pun berantakan. Didorong oleh perasaan senangnya, Boboiboy pun memasuki kelas (karena entah kenapa ia tidak suka melihat Ying akrab dengan Fang) dan mengusik pembicaraan keduanya. Ia akhirnya memberikan sebungkus donat lobak merah pada Fang.

Heh, tidak pernah ia merasa sesenang itu.

.

.: :.


9. Cute


"Dia itu iri pada ketampanan dan keimutanmu, Boboiboy." Ucap Yaya suatu hari.

"He? Siapa?"

Mereka berdua sedang melaksanakan piket kelas bersama. Yaya menyapu lantai sementara Boboiboy mengelap jendela. Teman-teman yang lain sudah pulang. Sebenarnya ada seorang lagi yang piket, namun kebetulan dia sedang sakit.

Gadis berjilbab itu menghela napas sambil menghentikan kegiatan menyapunya sejenak untuk menyempatkan diri berkacak pinggang pada sahabatnya. "Siapa lagi, lah. Fang."

"Ooh..." Boboiboy manggut-manggut. "Eh, tunggu, Fang? Iri dengan keimutanku?"

"Yup. Teman-teman kan bilang kau lebih imut darinya tepat di depan mukanya. Dia iri karena kau tampan, imut, lebih pintar, lebih hebat, dan segalanya. Makanya dia sebegitu judesnya padamu."

"...Aku bisa mengerti kalau dia iri dengan ketampananku, tapi kenapa ia iri karena aku imut?"

"Dia iri karena kau lebih imut darinya, Boboiboy." Yaya memutar mata, kemudian ia melanjutkan kegiatan menyapunya. "Aduh, sudahlah, aku cuma mau memecah keheningan saja... lagian tumben-tumbenan kau mau piket. Biasanya aku harus mengejarmu dengan sapu dulu."

"Sebentar, Yaya, tidakkah kau pikir itu aneh?" Boboiboy malah ikut menjeda kegiatannya dan menyamankan diri di salah satu kursi. "Kenapa ia iri dengan keimutanku padahal dia lebih imut?"

"Hah?"

"Iya lho. Fang itu imut sekali. Apalagi kalau dia sedang marah, mukanya lucu begitu. Tidakkah kau menyadarinya?"

Yaya diam. Ia memandang Boboiboy dengan mata menyipit. Yang dipandang menaikkan sebelah alis, heran.

"Kenapa? Ada yang salah dengan wajahku?"

"...Seharusnya kau mengatakan itu pada Fang langsung, kau tahu. Siapa tahu dengan begitu ia bisa jadi lebih ramah padamu."

Wajah Boboiboy merona, sedikit sih. Anak yang menguasai tiga elemen itu buru-buru berdiri dan melanjutkan kegiatannya mengelap kaca. "Sori, lupakan saja."

Yaya hanya tertawa kecil.

.

.: :.


10. Photo


Hari itu, hal yang sudah lama Boboiboy kira akan mustahil terjadi, ternyata benar-benar kejadian.

Gopal membayar utangnya pada Tok Aba.

Err, yaa... tidak semuanya sih. Cuma seperlimanya saja. Tapi itu merupakan kemajuan besar bagi Gopal. Dengan senyum menyombong, anak bertubuh gempal itu menaruh beberapa lembar uang di meja kedai, di depan Tok Aba dan Ochobot yang tampak speechless. Tok Aba sampai jawdrop.

"W-wah, Gopal! Apa yang terjadi hari ini sehingga kau dapat membayar utangmu?" ujar Boboiboy akhirnya, setelah terlalu lama speechless bersama kakeknya dan sang robot pemberi kuasa.

"Hari ini Cikgu Papa memberitahuku bahwa Kebenaran tidak akan mati dengan utang tidak terbayar!" seru Gopal berapi-api seraya mengikuti gaya guru favoritnya.

"Huh? Perasaan Cikgu Papa tidak pernah bilang begitu di kelas..."

"Tentu saja! Karena dia mengucapkannya langsung padaku! Aku adalah murid favoritnya!" dan perkataan itu pun dilanjutkan tawa puas membahanana.

Euh, mungkin itu karena kau adalah anak yang paling suka berutang ke sana ke mari, batin Boboiboy dalam hati. Sengaja tidak diucapkan keras-keras agar tidak merusak mood Gopal yang kelihatannya sedang baik.

Tapi, ekspresi tidak percaya Boboiboy sepertinya sangat terlihat di wajahnya, karena Gopal buru-buru meringis. "Err, itu tadi cuma becanda..."

Gubrak! Tok Aba, Ochobot, dan Boboiboy terjengkang indah dengan kompak.

"Lalu, yang sebenarnya bagaimana?" ujar Ochobot yang melayang lagi setelah puas terjengkang.

"Hehe." Gopal menggaruk bagian belakang kepalanya dengan cengiran tanpa dosa. "Bisnisku sedang bagus akhir-akhir ini."

"Bisnis?" Boboiboy yang sudah kembali ke posisi duduknya mengernyitkan dahi.

"Iyalah. Aku pernah cerita kan tentang bisnisku menjual foto-foto Fang?"

Nama yang disebut terakhir membuat punggung Boboiboy tegak. "Maksudmu?"

"Entah ada angin apa, penggemarnya makin banyak membeli foto-foto Fang. Mungkin sejak aku menjual foto Fang yang memakai rok pink itu—"

"Kau memotretnya saat itu?" seru Boboiboy kaget, teringat kejadian beberapa hari lalu yang disebabkan ide gilanya sendiri. Gopal benar-benar berani mati jika ia menjual foto memalukan itu.

"Yep. Kau terlalu sibuk menutup hidung dan berteriak ke arah langit saat aku memotretnya. Untung saja dia tidak menyadarinya juga." Gopal mengangkat bahu, kemudian membusungkan dada penuh rasa bangga.

Oh ya ampun, Gopal... kenapa di hal-hal seperti ini baru kau berani? Jika Fang tahu, kau bisa habis!

"Tapi ya, Boboiboy, akhir-akhir ini yang meminta foto Fang itu bukan hanya perempuan."

"Hah?"

"Belakangan ada juga laki-laki yang menobatkan diri sebagai penggemar Fang!"

Jika mau hiperbola, Boboiboy serasa dikejut jantung mendengar perkataan Gopal itu.

Seolah ingin memperparah kesehatan jantung sahabatnya, Gopal menambahkan, "Seriusan! Mereka bilang Fang itu lumayan imut jika dilihat-lihat. Ih, merinding! Imut darimananya? Kalau imut seperti nenek sihir sih mungkin bisa!"

Api-api kecemburuan serasa melalap hatinya, dan Boboiboy sudah siap berubah menjadi tiga lalu mencari oknum-oknum yang sudah berani membeli foto Fang, hendak menghabisi mereka. Hey, dia sendiri tidak punya!

"Um, Boboiboy, kau baik-baik saja?" ujar Ochobot yang sedari tadi hanya menyimak. Tok Aba sedang sibuk mengelap tiap cangkir di kedai demi menyibukkan diri, masih kaget karena Gopal yang tiba-tiba membayar utangnya.

"Ya." Dan Gopal bergidik ketika mendengar suara Boboiboy yang lebih mirip geraman daripada jawaban. Bocah bertopi dinosaurus itu memandang sahabatnya lekat-lekat. "Gopal..."

"Y-ya?"

Boboiboy menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Rasanya tidak enak jika ia menyuruh Gopal menjual foto-foto itu. Maka, dia mengambil jalan lain.

"Berapa harga fotomu yang tersisa? Akan kubeli semuanya."

Sementara Ochobot langsung facepalm begitu mendengar perkataan Boboiboy.

.

Sejak saat itu, Fang terus kebingungan karena tiba-tiba Boboiboy seolah-olah menempel padanya setiap waktu. Memelototi setiap orang yang mendekat ke arahnya— apalagi jika tidak memiliki keperluan apa pun, membuat orang-orang itu ketakutan dan segera menjauh. Tentu saja, siapa yang berani cari ribut dengan anak yang bisa berpecah jadi tiga?

Dan sejak saat itu, Boboiboy adalah pelanggan setia Gopal. Dialah orang pertama yang memborong foto-foto Fang setiap kali Gopal baru selesai mencetaknya.

.

.: :.


A/N :

Saya balik lagi~ XD Akhirnya saya malah ngelanjutin ini... .w.

Wah, saya tidak menyangka bakal disambut hangat di fandom ini ;;w;; Terima kasih ya!

Sepertinya chapter kemarin lebih mirip kumpulan ficlet daripada drabble (saya baru tengok Kamus Perfanfiksian Indonesia sih... /der), dan chapter sekarang baru bisa disebut drabble. Sekalipun yang ke-9 dan ke-10 bisa disebut ficlet juga—argh sudahlah pusing saya... /plakplak

Sebenarnya saya tidak begitu puas dengan chapter ini, humunya kurang =w= (suara di kejauhan : Mereka masih SD woy!) Oya, maaf jika ada beberapa hal yang salah di fanfic ini dan tidak sesuai dengan canon-nya, karena... well, saya jarang nonton acaranya. Sekali lagi saya minta maaf! ;; /thor

Terima kasih jika kalian bersedia membaca sampai sini! Kritik, saran, dan komentarnya mengenai fanfic sederhana ini sangat diapresiasi! Please expect more BBBF fics from me because I have a lot of idea for them! Dan tumben banget, saya kebelet ingin nulisnya. Biasanya saya jarang begini sih—uwu

Terima kasih lagi saya ucapkan buat yang sudah review di chapter kemarin : satandowski, AqariFiaFRsd, Ranifk, Namika Rahma, Yuka-Shuu and Raira, viziha, , barbie, Yuriko-chan, Guest, nataliezore, Hln2510, uzumaki himeka, erisaka-can, dan Mamiko Momoda. Terima kasih pula buat yang sudah nge-fave, nge-follow, atau membaca tanpa meninggalkan jejak~ ^^

Oh, terima kasih buat yang sudah nyemangatin saya dalam menghadapi tugas dan ujian—coretsekalipunsayasedangprokrastingkatakutdenganmenulisfanficinisebagaipelariancoret

Azu