Huaaaaahhhhh... Ada yang review n follow fic absurd saya.

Terimakasih

Maaf kalau kata-katanya berbelit-belit dan banyak pakek banget Typo nya. Entah mengapa Typo selalu ngikut. Dan maaf kalau OOC.

Saya akan membalas review

Synstropezia:iya GraZa itu GrayXErza klo gk salah hehe. Untuk alasan kenapa Gray masuk kedalam kristal ada di fic absurd saya yang satunya. "Kristal es" (promosi. He..he...). Mungkin saya update kalau imajinasi dan waktunya ada. He...he...

Mikasa-chan: gak kok. Gak tega saya haha..terima kasih bimbingannya. Karena saya kebiasaan langsung nulis aja, jadi saya lupa kalo nama orang pakai huruf besar. Dan juga saya ngetiknya pakek HP. Terima kasih banyak.

Terima kasih banyak untuk yang telah mereview dan membaca fic saya.

Langsung saja

Happy reading

2. Bangunan

"Indah"

"Ya..."

"Eh...?"

Karena terlalu menikmati mentari yang disenangi sahabat kecilnya. Ia tersentak ketika sebuah suara menyahutnya. 'Suara itu...' Suara yang dirindukannya. Suara yang ingin di dengarnya. "Gray" ia menoleh kekiri dan kekanan. Namun tak ada sosok yang dicarinya. Perlahan bulir-bulir air mata berjatuhan dari bola mata Erza. Dengan segera Erza menghapus air matanya. Dan hal yang tidak disadari Erza bahwa kristal di kalungnya mulai meredup setelah secara singkat sebuah sinar terpancar dari kristal itu.

"Erza? Ada apa? Mengapa kau menangis? "

Bertubi-tubi pernyataan dilontarkan sahabat pirangnya. Penyihir roh itu memang orang yang mengertinya. Lucy yang melihat Erza sendirian memutuskan untuk duduk di sebelahnya dan menemaninya melihat sang mentari.

"Menangislah Erza"

Ketika Lucy berbicara Erza mendongakkan kepalanya melihat ke arah Lucy.

"Kau tahu...?(bulir air mata lolos dari kedua bola mata Lucy) aku menangis semalaman setelah kau menjelaskan apa yang terjadi. Kau tahu aku tidak ke guild karena apa? Aku sakit karena aku tidak tidur semalaman menangisi Gray. Aku..."

Lucy tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Setelah menarik nafas Lucy melanjutkan.

"Aku menyesal, Erza. Seharusnya aku membantumu menghalangi Gray menjalankan misi itu. Tapi aku yakin kita bisa mematahkan segel itu. Meski Master bilang tak ada cara. Aku yakin pasti ada" kata Lucy optimis. Sudut bibir Erza terangkat.

"Ya... Aku yakin."

Setelah percakapan itu, mereka memandangi mentari yang malu-malu menampakkan dirinya dilangit.

"Kau ingat?"

"Hmm...?"

"Kau ingat tidak? Gray tidak akan beranjak jika matahari belum benar-benar bersinar"

"Tentu.. Aku ingat"

Flash back.

Pafi menjelang. Terlihat beberapa orang yang tengah tertidur dan seorang pemuda memandangi mentari yang mulai bermuncul. Sepasang kelopak bunga mulai terbuka menampakkan sepasang bola mata yang indah. Seperti biasa jika mereka tidur di alam bebas saat menjalankan misi. Orang yang pertama dilihatnya adalah Gray. Dan seperti biasa pula, dengan baju yang seharusnya melekat ditubuhnya tergeletak didekat pemuda itu.

"Gray?"

"Oh.. Kau sudah bangun Erza?"

"Hmm... Bersiaplah kita akan berangkat. dan pakai bajumu!" perintah sang Titania kepada Gray.

"Nanti saja Erza. Toh mereka semua masih tidur dan juga telalu berbahaya jika masih gelap seperti ini kita melanjutkan perjalanan"

"Bilang saja kau ingin melihat matahari terbit"

Gray hanya nyengir sebagai balasan. Beberapa menit telah berlalu dan mereka masih memandangi matahari yang mulai keluar. Erza memutuskan untuk duduk disamping pemuda yang memandangi matahi itu. Karena tidak menyukai situasi sunyi seperti ini Erza membuka suara.

"Gray?"

"Hmm.. Ya Erza"

"Kenapa kau menyukai matahari terbit?"

Gray menjawab namun tatapannya tetap tertuju pada sang matahari.

"Hmmm... Karena matahari terbit itu indah, terang namun tidak menyilaukan dan enak dipandang. Serta menyejukkan hati. Seperti orang yang ada di sampingku saat ini"

BLETAK..

"Ittai.."

"Dari mana kau belajar menggombal seperti itu?"

Sebuah jitakan gratis mendarat dikepala Gray dari sang titania. Dan sebuah pertanyaan bernada sinis terlontar dari mulut gadis yang digombali Gray.

"Loki"

Jawab Gray singkat tanpa mempedulikan nada sinis dalam pertanyaan Erza.

"Mungkin aku harus meminta Lucy untuk memanggil Loki dan menghajarnya nanti"

Meski ia berkata seperti itu. Dia merasa senang dan semburat merah yang sangat tipis menghiasi pipi penyihir kelas S tersebut. Meski Erza bergumam sangat lirih namun Gray masih dapat mendengarnya.

"Rencana yang mengerikan"

Setelah cukup lama duduk diam dan matahari yang sudah bersinar terang. Gray memutuskan untuk membangunkan teman-temannya dan melanjutkan perjalanan.

Saat Gray berdiri, suara Erza menghentikan langkahnya.

"Kau mau kemana?"

"Membangunkan mereka, hari sudah cukup siang"

"benar-benar jika matahari sudah terbit sempurna baru mau membangunkan yang lain.. Biar kubantu." ucap Erza sambil menggelengkan kepalanya.

"jangan lupa pakai bajumu Gray!" perintah Erza bosan karena setiap hari harus memerintah Gray dengan topik yang sama. 'bagaimana bisa dia tetap lupa? Padahal hampir setiap saat orang memerintahnya untuk memakai baju.'

"oh.. sial. Dimana bajuku?" jawab Gray yang sedang kebingungan mencari bajunya.

"nih..." ucap Erza sambil menyerahkan baju Gray. Tanpa berkata apapun Gray langsung memakai bajunya.

Flashback end.

"Ya. dia benar-benar takkan beranjak jika matahari belum terbit sempurna dan jangan lupa selalu tanpa baju"

Setelah melihat mentari yang bersinar dan mengingat masa-masa bersama sahabat masa kecilnya itu. Senyum merekah dibibir mereka berdua.

"Benar-benar takkan beranjak dan lupa" sahut Lucy.

Tanpa mereka sadari Natsu mendengar dan melihat mereka menangis.

"Dasar kepala es. Bagaimana bisa kau membuat mereka menangis? Saat kau kembali nanti, aku akan menghajarmu"

Hari telah siang mereka memutuskan untuk bergerak.

1 jam berlalu sejak mereka bergerak namun ada monster yang menghadang mereka. Dan tentu saja kurang dari sepuluh menit saja monster itu telah babak belur dan gosong.

Semakin mereka bergerak semakin banyak monster yang menghadang mereka. Dan tentu saja mereka mengalahkannya dengan mudah.

3 jam mereka berjalan akhirnya mereka menemukan sebuah bangunan yang dapat dirasakan sihirnya.

Sebuah bangunam kecil dan dihiasi kristal berwarna-warni dan memancarkan sihir.

"Itu dia! Bangunan sejarah sihir"

TBC...

Hehehe maaf kalo absurd. Soalnya saya bikinnya tanpa kerangka jadi ya kayak gini deh...

Terimakasih telah membaca fic saya yang absurd ini.

Akhir kata review please

^_^ karena saya author baru jadi mohon bimbingannya senpai ^_^