Holaaaaa... saya kembali.

Wahhh... lama sekali saya tidak kemari dan meneruskan fic saya ini.

Maafkan saya minna-sama karena melupakan fic saya yang ini.

Saya kekurangan inspirasi jadi saya. Dan setelah saya bertapa (baca: menghayal) kebosanan setelah menghajar musuh (baca: mengerjakan ulangan) saya akhirnya nemu ide #nari-nari

Maaf kalo ceritanya nggak jelas dan super aneh.. mana alurnya kecepetan lagi.. hahaha. Gak papa kok. Saya masih tahap belajar juga. dan saa akan perbaiki di chapter ini. tapi nggak bisa langsung secra bertahap. Mungkin alurnya masih ada yang kecepatan atau Typo yang menggunung. Maaf yaa *bungkukbungkuk

Sudahlah saya langsung saja.

^_^ Selamat membaca ^_^

Warning : GaJe, Abal, OOC, typo(s), alur maju mundur dan ikut motoGP a.k.a kecepetan dan berbagai kesalahan lainnya yang jika ditulis tidak ada habisnya.

3. buku

"Itu dia! Bangunan sejarah sihir" ucap Erza mengumumkan kepada teman temannya ketika ia melihat sebuah bangunan yang bisa dipastikan bahwa itu adalah bangunan sejarah sihir. Lucy, Carla dan Wendy mengangguk menyetujui dan Natsu berteriak-teriak bersama Happy memproklamasikan kesuksesan misi mereka.

"Yosh.. kita sudah menemukannya sekarang tinggal kita mengambil buku kuno itu." Ucap Natsu sambil mengangkat tangannya keudara.

"Aye, sir" Happy juga menanggapi perkataan Natsu dan mengangkat tangan kecilnya keudara.

Natsu yang memang ceroboh dan tak bisa menahan semangatnya berjalan kearah bangunan itu. Baru beberapa langkah ia mendekati bangunan itu. Tubuh Natsu tersetrum dan membuatnya terjungkal.

"Huaaaa..." ucapnya kesakitan. Tubuhnya terlempar kebelakang dan jatuh terduduk. Erza yang sejak tadi megamati hanya memandang Natsu tanpa niatan untuk menolong. Diletakkannya tangannya memegangi dagunya, berfikir tentang apa yang terjadi pada Natsu.

"Sudah kuduga. Bangunan ini memiliki penghalang." Ucap Erza datar dan matanya menjelajahi bangunan itu dan sekitarnya berharap menemukan cara untuk melepas penghalangnya.

"Kalau begitu. Kenapa tak beritahuku dari tadi?!" Teriak Natsu yang langsung berdiri di depan Erza. Erza yang diteriaki oleh Natsu mengalihkan perhatiannya pada Natsu dan menjitak kepalanya keras.

"Kau yang bodoh. Seharusnya kau itu tahu kalau bangunan seperti ini berpenghalang." Omel Erza kepada Natsu yang hanya direspons dengan memegangi kepalanya yang dipukul keras oleh sang titania. Lucy, dan yang lainpun hanya sweatdrop melihat situasi yang memang hampir setiap hari mereka jumpai.

"Ma..ma.. sudahlah. Lebih baik kita mencari tahu bagaimana menghilangkan penghalang ini." ucap Lucy menengahi sebelum Erza menghajar Natsu sampai babak belur karena kebodohannya sendiri.

"Lucy benar. Kalian berpenCarlah dan cari tahu bagaimana cara menghilangkan penghalang ini." perintah Erza kepada semuanya. Lucy dan yang lain pun mengangguk semangat kecuali Natsu yang masil mengomel karena dipukul Erzatadi.

"Huhh.. kenapa repot-repot sih.. tinggal hancurkan saja. karyu no koen." Teriak Natsu menggunkan salah satu teknik sihir yang dipunyainya. Api yang dilemparkan Natsu untuk menghancurkan penghalang malah memantul dan berbalik merenyerang Natsu. Natsu yang tak sempat menghindar karena dekatnya ia api yang dipantulkan penghalang hanya bisa pasrah terkena serangannya sendiri. Erza kembali menatap bekas serangan Natsu dan bergumam menyimpulkan analisanya.

"Dugaanku benar. Sihir tidak akan mempan dan menggunakan sihir hanya akan melukai dirinya sendiri." Gumam Erza yang ditanggapi dengan teriakan marah Natsu untuk kedua kalinya.

"Kenapa kau tidak bilang dari tadi." Teriak Natsu marah dan sekali lagi dihadiahi pukulan keras dari sang titania.

"Makanya kalau mau bertindak berfikir dulu. Bodoh." Umpat Erza kesal.

Erza berbalik dan berjalan mengelilingi bangunan itu mencari kelemahannya. Setelah ia mengelilingi bangunan itu ia sama sekali tak menemukan cara untuk masuk. Sampai ia berkumpul bersama Lucy dan yang lainnnya.

"Lihat hari sudah semakin panas." Ucap Lucy sambil menengadah ke atas. Memang udaranya sangat panas dan berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Ini aneh, ini tidak normal. Erza mendongak untuk melihat matahari. Ada sebuah pancaran panas aneh dari atas bangunan itu.

"Sekarang jam berapa Lucy?" tanya Erza tiba-tiba. Memang hutan sangat lebat dan ditumbuhi pohon-pohon tinggi dengan daun yang lebar sehingga membuat mereka tidak bisa mengetahui letak matahari.

"Eh? Jam 3 sore." Ucap Lucy kebingungan dengan pertanyaan Erza yang tiba-tiba. Erza melihat kompasnya dan menyerngit heran karenanya.

'Jika sekarang jam 3 sore maka matahari seharusnya sudah lebih condong kebarat namun mengapa panasnya berasal dari timur atas? Mungkinkah?' pikir Erza menganalisa.

"Lucy panggil Sagutarius dan panah sumber panas yang ada di atas bangunan itu!" perintah Erza kepada Lucy.

"Eh? Kenapa?" tanya Lucy heran dan hanya dihadiahi deathglare dari sang titania yang membatnya langsung patuh tanpa di perintah dua kali.

"Eh.. baik... Hirake! Jinbakyuu no Tobira! Sajitarusu,!" ucap Lucy memanggil roh surgawinya. Di depan mereka muncullah sesesosok manusia dengan kostum kuda dan membawa panah ditangannya.

"Sagitarius, panah sumber panas diatas bangunan itu!" perintah Lucy sambil menunjuk atas bangunan itu. Sagitarius mematuhinya dengan senang hati. Dia mengangkat busurnya dan mengambil anak panah yang ada dipunggungnya. Diletakkannya anak panah itu dan ditariknya mengincar sumber panas itu.

"Semua dalam satu anak panah, moshi-moshi!" ucap Sagitarius melepaskan anak panahnya. Anak panah itu meluncur mengarah atas bangunan itu. Tidak seperti Natsu tadi yang sihirnya berbalik dan menyerang Natsu, panah itu meluncur langsung menuju dalam batas penghalang. Anak panah itu tertancap tepat pada sasaran. Bagai kaca yang retak-retak, penghalang itu terdapat retakan-retakan yang diakibatkan oleh panah Sagitarius.

"Plarrr.." penghalang itu pecah berkeping-keping. Lucy tersenyum puas dengan pekerjaannya.

"Nice.. Sagitarius."

"Tentu saja, moshi-moshi." Ucap Sagitarius sambil hormat kepada Lucy dan menghilang kembali ke dunia roh.

"Bagus Lucy. Natsu sekarang masuklah!" perintah Erza kepada Natsu.

"Haa..? Kenapa aku?" ucap Natsu protes kepada Erza. Erza yang mendengar itu memberika deathglare andalannya kepada Natsu. "Aye, sir" ucap Natsu pasrah dan berjalan menuju bangunan itu. Langkah demi langkah Natsu berjalan dengan ketakutan dan bersiap menerima rasa sakit yang diakibatkan penghalang tadi. Namun saat kakinya menyentuh tempat penghalang tadi ia tidak merasakan apapun. Seperti biasa dia akan berteriak-teriak heboh mengumumkan kepada teman-temannya.

"Heiii... sudah tak apa?"

"Hai' hai' tak bisakah kau mengucapkannya dengan tenang?" gerutu Lucy dan mengambil langkah untuk masuk kedalam bangunan. Diikuti oleh Erza, Wendy dan para exceed. Meski mereka bisa masuk kedalam penghalang bukan berarti tidak ada jebakan atau penghalang lain di dalam. Sampai lah mereka didepan pintu bangunan, Natsu menyentuh kenop pintu itu. Namun saat disentuh kenop pintu itu mengeluarkan lingkaran sihir. Reflek Natsu melepas pegangannya pada kenop dan melompat mundur. Beberapa lingkaran sihir besar terbentuk disekitar mereka. Memunculkan beberapa moster yang menurut mereka tidak terlalu kuat. Segera saja mereka bersiap untuk melawan monster-monster itu.

Spontan Erza menyiapkan dua pedang ditangannya.

"Hirake! Kyokaikyuu no Tobira,! Kyansaa" begitu pula Lucy yang memanggil salah saru zodiaknya, cancer.

"Yossa.." teriak Natsu bersemangat dan mengeluarkan api ditangannya.

"Ikuzo" ucap Erza membberi perintah yang diikuti dengan senang hati oleh teman-temannya.

Tebasan, pukulan, serta berbagai mantra sihir mereka lancarkan untuk mengalahkan monster-monster itu. Dan tentu saja mereka tumbang dengan sekejap namun lingkaran itu terus muncul dan memunculkan monster-monster yang lain.

"Ini hanya membuang waktu" Erza yang melihat pertempuran ini hanya akan menghabiskan semua energi mereka mundur beberapa langkah dan melompat naik ke atas rumah itu. Dilihatnya seluruh tempat dari atas sembari menghindari beberapa moster burung yang menyerangnya. Dari atas sana ia bisa melihat seekor monter kecil yang terdapat kristal menyala didahinya bersembunyi di semak-semak.

"Disana." Dengan cepat Erza melompat dan mengejar monster kecil itu lalu menebasnya. Semua monster yang dihadapi Natsu dan yang lainpun hancur dan menghilang menjadi serpihan-serpihan kecil.

Semua bersorak senang ketika monster-monster itu sudah menghilang. Erza yang melihat itu hanya tersenyum dan berjalan kearah rumah untuk membuka pintunya. Pintu bangunan berhasil dibuka. Erza perlahan masuk kedalam dan menatap ruangan itu. Natsu dan yang lainmengikuti Erza yang sudah masuk kedalam terlebih dahulu. Bangunan itu terlihat usang dan tak terawat. Buku-bukunyapun berserakan kemana-mana dan lembar-lembar buku berserakan kemana-mana.

"Baiklah kalian berpencar. Aku akan mencarinya di sini. Dan yang lain periksa ruangan yang lain." Ucap Erza memberi perintah.

Erza melihat teman temannya yang memsuki ruangan sendiri-sendiri. Ia kembali memandangi ruangan itu, dan mengambil buku untuk mengecek judulnya. Ia menarik sebuah buku ingin mengeceknya. Namun sebuah buku kecul ikut jatuh mengenai kakinya. Ia memungutnya dan membatu ketika melihat gambar di sampul buku itu. Sebuah gambar kristal yang sama dengan kristal yang tergantung dilehernya saat ini. butiran air mata Erza kembali berjatuhan melihat buku itu. Harapannya kembali muncul, ia tersenyum melihat buku itu.

"Ini..?"

To Be Continued

Huaaaa... ini apaan? (menatap ngeri ke layar komputer)

Ahh.. yeah saya lama sekali nggak ke fandom ini. karena terlalu fokus di fandom BBB (nggak ada yang nanya!)

Dan disini yang review sedikit sekali *pundung

Tapi nggak masalah sihh.., sudah hobby ini. jadi masih saya lanjutin.

Akhir kata REVIEW PLEASE