Genre : Romance/Humor

Pairing : SasuNaru, SaiNaru, SasuNaruSai

Rating : M... (Maksa)

Disclaimer : udah pada tau kan? *dikemplang* Aduh... Iya, iya, Naruto punyanya Masashi Kishimoto. Puas? *dihajar reader*

Warning : Yaoi, Lemon, Lime, PWP, OOC, rape, gaje, nista, typo, de-el-el... DON'T LIKE DON'T READ!!! Neko udah memperingatkan!!! Bagi yg ga suka, silahkan klik 'Back' yg ada di kiri atas sana. *nunjuk2*

Special thanks to :

My Futago Sista' MizuKana, ga suka yaoi tapi suka baca fict Neko yang jelas2 isinya YAOI BANGET. Aneh dasar *sweatdrop*.

Seme Ablay, temen cowok Neko yang nerima Neko sbg fujoshi & tetap menganggap Neko sobatnya.

Senpai2 di ITI jurusan Teknik Mesin semua angkatan 'tua'. Bulan ini pada diwisuda kan?

NakamaLuna, Lars Tenobor, Kuroikiru no Mikazuki Chizuka, paly with the immogen, Yuuzu-chan, .kurukaemo, Uchiha no Vi-chan, Mixmiu Murmur, Namikaze Uchiha, Perut-saia-Bundar, AnnBaaChan, fariacchi, Blue Sky Ichigo, Claudia Cha-ching, Azk KirillVessalius Azaziel Savior, dan yang lainnya. Maaf nggak kesebut semua. *sujud2*

Kamu dan Kamu

By : Akaneko the Demon Queen

Pagi ini begitu cerah. Sinar mentari pagi yang hangat menembus jendela sebuah kamar dimana ada 2 pemuda yang masih terlelap diatas ranjangnya. Ya, itu adalah Sasuke dan Naruto. Mereka masih tertidur tanpa mengenakan pakaian sehelaipun. Maklum, mereka habis... (ehem) bercinta semalaman.

Cahaya matahari yang hangat membuat pemilik mata biru langit itu terbangun. Tepat disampingnya ada seorang pemuda tampan yang masih terlelap. Pemuda berambut hitam kebiruan yang memeluk pemuda berambut pirang yang telah terbangun, Naruto.

'HAH?! SASUKE?!' batinnya terkejut.

Naruto langsung bangkit dari tidurnya. Dia terduduk dengan tangan Sasuke yang masih memeluk pinggangnya. Mencoba mencerna apa yang telah dilakukannya semalam. Langsung saja wajahnya berubah menjadi merah merona.

"Ah... Iya, semalam aku dan Sasuke..." gumamnya malu.

Tiba-tiba saja ada yang menarik tubuhnya hingga terjungkal kebelakang. Dan itu adalah Sasuke yang telah terbangun.

"Kenapa, Dobe? Kok bicara sendiri, hem?" tanya Sasuke sambil menyeringai.

"Sa-Sasuke! Kamu sudah bangun?!" seru Naruto terkejut.

"Sudah. Gara-gara kamu tiba-tiba terduduk tadi," ucapnya.

"A-A-Aku... Aku..."

"Ng? Kenapa? Kamu mau ciuman selamat pagi dariku?" tanya Sasuke.

"Eh? A-Aku... anu..."

"Ssssshhh..."

Jari telunjuk Sasuke menempel pada bibir Naruto. Lalu dia menciumnya dengan lembut. Dan Naruto menerimanya sambil memejamkan mata. Perlahan dia melingkarkan tangan mungilnya dileher putih Sasuke. Menikmati ciuman Sasuke yang hangat. Err... Bukan. Tapi lumatan yang ganas. Kini tangan Sasuke mulai meraba-raba tubuhnya.

"YAMERO!!!"

"Ouch..."

Naruto langsung melepas ciuman itu dan mendorong tubuh Sasuke agar menjauh malah berakibat Sasuke terjatuh dari tempat tidur.

"Apa yang kamu lakukan, Dobe?!! Kenapa kamu malah mendorongku?!!" bentak Sasuke kesal.

"Ha-Harusnya aku yang bertanya, Teme!! Aku lelah, tahu! Aku nggak mau pagi-pagi begini melakukan 'itu' lagi! Dasar Teme hentaiiii....!!!" seru Naruto sambil melempar bantal dan mengenai tepat diwajah Sasuke.

"Sakit, Dobe!" bentak Sasuke semakin kesal.

"Urusai!!! Keluar sana!!! Aku nggak mau jadi korban mesummu dipagi hari, Sasu-Teme!!!" bentak Naruto tak kalah kesal.

"Cih. Usuratonkashi," dengus Sasuke.

"Teme hentai!" desis Naruto.

Dengan perasaan kesal Sasuke mengambil pakaiannya yang berserakan dilantai. Dia hanya memakai bagian bawahnya. Bajunya ditaruh dipundaknya. Lalu dia menoleh kerah Naruto yang menutupi tubuhnya dengan selimut.

"Huh... Padahal semalam kamu bilang sangat menikmatinya," sindir Sasuke.

"Eeehh... I... Itu kan..." wajah Naruto semakin memerah.

"Siapa yang semalaman terus memanggil namaku dan mengatakan ingin lebih merasakan kenikmatan yang kuberikan, huh?"

"Sa... Sasu-Teme~...!!! Keluar sana!!!"

Naruto sudah tidak tahan lagi dengan perkataan Sasuke dan langsung melemparkan kembali bantal yang tak jauh darinya. Tapi kali ini Sasuke dapat menghindar dengan sukses.

"Jangan lupa bersihkan dirimu, Dobe. Aku nggak mau kalau kulit eksotismu jadi tidak mulus lagi hanya karena 'cairan-cairan' yang masih menempel ditubuhmu. Yah... walaupun sudah mengering, sih," ucap Sasuke santai.

"KELUAR!!! BAKA TEME HENTAI!!!" teriak Naruto semakin kesal dengan wajah yang sangat merah seperti buah tomat yang disukai Sasuke.

Sasuke keluar dari kamar dengan santainya. Meninggalkan Naruto seorang diri yang masih berbalut selimut. Naruto tengkurap diatas ranjang sambil memukul-mukul ranjang dengan sangat kesal.

"Teme hentai... Walaupun mengatakan suka padaku dan sudah melakukan 'itu', tetap saja dia menyebalkan. Dasar..." keluh Naruto dengan wajah yang masih memerah.

Sementara Sasuke berjalan menuruni tangga sambil tersenyum. Mengingat reaksi Naruto yang menggemaskan tadi membuat senyuman terus terkembang diwajah tampannya. Tapi dia lupa akan 1 hal.

"Kamu sudah puas bersenang-senang kan, Sasuke?"

Sesosok yang menyeramkan dengan aura hitam yang mengelilinginya berdiri dihadapan Sasuke. Sangat menyeramkan walaupun wajahnya tersenyum. Tidak. Justru karena tersenyum sehingga terlihat jauh lebih menyeramkan. Siapa lagi kalau bukan Sai. Tapi Sasuke tak terpengaruh akan hal itu.

"Begitulah. Kalau lo mau mencicipi si Dobe itu, silahkan saja. Gua nggak akan mengganggu," ucap Sasuke.

Sai diam sejenak masih dengan senyuman menyeramkan yang menghiasi wajahnya.

"Baiklah. Aku percaya dengan kata-katamu. Kalau kamu ingin sarapan, aku sudah menyiapkannya. Aku akan mengantarkan sarapan untuk Naruto dulu," ucap Sai sambil membawa nampan berisi makanan untuk Naruto.

"Hn."

Mereka berpapasan. Sai naik ke lantai atas dan Sasuke menuju dapur untuk sarapan. Dia duduk dikursi meja makan. Diam memandang deretan makanan diatas meja makan. Lalu dia menghela nafas.

'Sebenarnya aku nggak rela kalau harus berbagi si Dobe itu dengan Sai. Tapi semua itu adalah kesepakatan kami bersama. Aku nggak mungkin menghalangi mereka untuk melakukannya,' batin Sasuke sambil meremas kedua tangannya diatas meja.

Hening. Mata Sasuke menerawang memandang kedua tangannya.

'Siapa yang akan kamu pilih, Dobe? Aku... ataukah Sai? Atau kau tidak memilih diantara kami? Kuharap kau memilik jawaban yang pasti. Dan kuharap itu aku,' batinnya sambil menghela nafas.

Sementara itu Sai berada dikamar Naruto untuk membawakannya sarapan. Sai terpaku ketika melihat Naruto yang tanpa busana dan hanya berlapiskan selimut. Ditubuh Naruto terdapat banyak tanda kemerahan. Selimut dan sprei berantakan, serta bantal yang berserakan dilantai.

'Sepertinya permainan mereka semalam hebat sekali, sampai bantal berada didepan pintu masuk. Kalau begitu, aku tak boleh kalah dari Sasuke dalam melayani Naruto,' batin Sai tak mau kalah.

"A-Ada apa, Sai?"

Suara Naruto membuyarkan lamunannya pada ruangan kamar itu. Lalu dia tersenyum seperti biasa pada Naruto.

"Aku mengantarkan sarapan untukmu. Mungkin kau lapar," sahut Sai sambil berjalan mendekati Naruto dan menaruh nampan sarapan Naruto diatas meja kecil yang berada disampingnya.

"Ah... Eh... Iya. Terima kasih, Sai," ucap Naruto.

"Apakah kamu ingin mandi, Naruto? Aku akan menyiapkannya kalau kamu mau," ucap Sai menawarkan dengan ramah.

Wajah Naruto memerah. Dia tampak ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Sai. Setelah beberapa detik berlalu, barulah dia menjawabnya.

"Mu-Mungkin aku akan sarapan dulu, baru setelah itu aku akan mandi,"

"Begitu? Kalau begitu aku akan segera menyiapkan air untuk mandimu."

"I-Iya... Terima kasih, Sai,"

Sai tersenyum lalu berjalan menuju pintu kamar mandi yang ada dikamar itu. Naruto hanya memandangi punggung Sai. Lalu memandang kenampan berisi sarapannya.

"Sepertinya enak," gumam Naruto.

Tak lama Sai keluar dari kamar mandi dan berjalan melewati Naruto menuju pintu masuk kamar.

"Aku keluar sebentar dan mengambil aroma terapi untuk kamu mandi, Naruto," ucap Sai sambil tersenyum.

Naruto hanya mengangguk. Setelah Sai keluar dari kamar, Naruto mencoba untuk beranjak dari ranjang. Tapi...

"A-Adudududuh... Bokongku sakiiiit... Gara-gara Teme sialan itu! Adududuh..." keluh Naruto.

Dengan susah payah Naruto berjalan untuk mengambil bajunya yang berserakan dilantai. Lalu memakainya perlahan. Naruto kembali keatas ranjang dan mengambil sarapannya. Saat sedang makan, Sai kembali dan masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa sebuah botol oranye ditangannya.

'Apa itu? Aroma terapi yang dimaksudnya?' batin Naruto heran.

Naruto tak terlalu memperdulikannya dan dia melanjutkan sarapannya. Tepat saat Naruto menghabiskan suapan terakhirnya, Sai keluar dari kamar mandi.

"Naruto, air untuk mandimu sudah siap. Kamu bisa mulai mandi sekarang. Aku juga sudah menyiapkan produk kesehatan dan aroma terapi agar kamu bisa lebih rileks," ujar Sai penuh senyum.

"Terima kasih, Sai,"

"Kalau begitu aku keluar dulu untuk menaruh piring kotor ini. Setelah itu aku akan menyiapkan baju ganti untukmu,"

"Iya,"

Lalu Sai keluar dari kamar sambil membawa piring kotor bekas sarapan Naruto. Setelah Sai keluar, Naruto mencoba untuk berjalan menuju kamar mandi dengan susah payah. Saat pintu kamar mandi terbuka, tercium aroma jeruk didalamnya.

"Wah... Wangi jeruk. Sai baik sekali," ucap Naruto senang.

Naruto membuka semua pakaiannya dan menaruhnya diatas keranjang cucian. Lalu masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya. Dia melihat ke dalam bath tub yang tertutup tirai terdapat genangan air berwarna oranye. Saat menyentuhnya, air itu terasa kenyal dan licin ditangannya.

"Aroma terapinya seperti jelly. Aneh. Apa ini produk kesehatan dengan aroma terapi yang dikatakan Sai?" gumam Naruto.

Tapi dia tidak terlalu perduli. Sebelum masuk ke dalam bath tub, Naruto membersihkan dirinya terlebih dahulu dengan menggunakan shower. Setelah bersih, barulah dia berendam di dalam kolam jelly beraroma jeruk itu.

"Hmm... Jelly ini lembut dan kenyal. Wangi jeruknya juga membuat seluruh tubuhku rileks. Nyamannya..."

Naruto tampak menikmati kegiatan berendamnya. Saat itu dari luar kamar mandi Sai memanggilnya.

"Naruto, aku sudah membawakan baju gantimu. Akan kutaruh di depan pintu," ucap Sai.

"Ah... Iya. Terima kasih, Sai," sahut Naruto.

Setelah itu Naruto tak mendengar suara Sai lagi. Dia kembali menikmati waktu berendamnnya. Membasuh jelly lembut itu keseluruh tubuhnya perlahan. Sekilas matanya melihat botol berwarna oranye yang sepertinya tadi dibawa Sai didekat shampoo. Lalu dia mengambilnya, membaca sampul belakan botol itu.

"Hati-hati... Sangati licin... Dan jangan terkena mata,"

Naruto menganggukan kepalanya mengerti. Saat membalikkan botol itu dan membaca sampul depannya, Naruto langsung membelalakkan matanya selebar mungkin.

"ADULT BATH JELLY?!!! APA-APAAN INI?!!!" teriak Naruto terkejut.

"Itu produk agar kita lebih mudah berhubungan seks, Naruto,"

Tiba-tiba saja Sai sudah berada di dalam kamar mandi tanpa mengenakan pakaian sehelai pun. Kontan saja Naruto semakin terkejut dan dia langsung mundur sehingga dia terpeleset karena berdiri diatas bath tub berisi jelly yang licin dan terjatuh.

"Waaaa~...!!!"

"Naruto! Kamu nggak apa-apa?!!!"

Sai langsung menghampiri Naruto yang terduduk lemas di dalam bath tub. Dia ikutan masuk ke dalamnya. Sai menyentuh tubuh Naruto dan langsung ditepis olehnya.

"Sai! Kenapa kamu membawa-bawa produk seperti ini, sih?! Dan lagi, kenapa kamu masuk ke dalam sini tanpa mengenakan baju?!" bentak Naruto kesal dengan wajah yang sangat merah.

"Naruto, kamar mandi itu kan tempat untuk mandi, tentu saja tanpa memakai pakaian. Aku membawa produk itu karena kau ingin melakukan hubungan seks denganmu,"

Naruto langsung bengong dengan jawaban Sai yang to the point itu. Wajahnya semakin memerah dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Tiba-tiba Sai melebarkan kaki Naruto.

"E... Eh... Apa yang kamu lakukan, Sai?!" Naruto terkejut.

"Memulai permainan kita. Semalam kamu sudah melakukannya dengan Sasuke. Jadi sekarang giliranku,"

"A-Apa?! AAH~..."

Sai memegang 'milik' Naruto tanpa berkata apa-apa lagi. Hal itu membuat Naruto mengerang karena terkejut. Dengan lembut Sai memijit 'milik' Naruto sehingga membuat Naruto mendesah dengan keras. Permainan tangan Sai membuat 'milik' Naruto menegang dengan sempurna.

"Bagaimana, Naruto? Permainanku tak kalah hebat dengan Sasuke kan?" ucap Sai sambil menyeringai.

"Ah... Nn... Ngh... Sai... Oh..."

Naruto hanya bisa mendesah karena nikmat. Tubuhnya pasrah untuk tidak melawan dan lebih menikmati permainan tangan Sai. Tiba-tiba Sai menghentikan permainan tangannya. Hal itu membuat Naruto sedikit kecewa. Sai tersenyum melihat reaksi Naruto.

"Tenanglah, Naruto. Nikmatilah sensasinya di dalam jelly ini,"

Sai melebarkan kaki Naruto dan memegangnya dengan kedua tangannya. Naruto merasakan sesuatu yang hangat menyentuh 'miliknya'. Dan itu adalah 'milik' Sai. Sai menggesek-gesekan 'miliknya' dengan Naruto. Membuat Naruto merasakan sensasi nikmat yang berbeda. Lalu Sai mencium bibir ranum Naruto. Naruto mendesah nikmat diantara ciuman. Dia melingkarkan kedua tangannya dileher Sai. Ciuman mereka semakin lama semakin panas, begitu juga permainan mereka dibawah sana. Ciuman berganti dengan lumatan. Semakin memanas dan bernafsu dalam sensasi kenikmatan. Tiba-tiba Sai melepaskan ciumannya.

"Maaf, Naruto, aku sudah tidak tahan lagi," ucap Sai.

Sai langsung membalik tubuh Naruto. Tanpa diminta, Naruto menaikkan pinggulnya sehingga Sai dapat melihat 'lubang' Naruto yang menjadi tujuan utamanya. Dengan tangan yang berlumuran jelly, Sai tak kesulitan untuk membuka perlahan 'lubang' surga yang dinantinya itu. Walaupun begitu, Naruto tetap menahan sedikit rasa sakit karena permainan dengan Sasuke semalam masih terasa ditubuhnya.

"Sssshh… Sai… Sa-Sakiiiiittt…" erang Naruto.

"Bertahanlah, Naruto. Sedikit lagi,"

Naruto mencoba untuk bertahan. Ketika ketiga jari Sai telah masuk dan menemukan titik terang didalmnya, Naruto langsung mengerang nikmat. Melihat reaksi Naruto, Sai mengeluarkan jari-jarinya perlahan. Naruto tahu bahwa Sai akan memulai 'serangannya'. Dia berpegangan pada pinggiran bath tub dengan kencang. Berusaha memposisikan tubuhnya dengan baik agar tidak merusak permainan Sai.

Tanpa aba-aba, Sai langsung menusukan 'miliknya' ke dalam 'lubang' Naruto sehingga membuat Naruto menjerit sekeras-kerasnya menahan sakit walaupun berlumuran jelly yang licin.

"AAAAKKHH…!!! SAI!!!"

Mata biru safir itu menitikan air mata bening. Rasa sakit yang luar biasa menyelimuti tubuhnya. Padahal 'lubang' itu masih terasa sakitnya karena berhubungan dengan Sasuke semalam. Tapi kini harus dihantam kembali oleh 'milik' Sai yang tak kalah besar dengan 'milik' Sasuke. Apalagi Sai tak membiarkan dirinya untuk mengambil nafas sejenak hanya untuk membiasakan diri dengan 'milik' Sai di dalam tubuhnya.

"Na-Naruto… Oh…"

"Ah… Sai… Nghh…"

Rintihan berubah menjadi desahan dan erangan nikmat setiap Sai menghentakan 'miliknya' ditubuh Naruto. Suara-suara yang dikeluarkan menjadi irama yang mengiringi gerakan mereka dalam bercinta. Sai menciumi punggung Naruto dengan lembut. Menjilati cuping telinga Naruto. Menyentuh setiap inci kulit Naruto dengan bibirnya. Kenikmatan yang menderu tubuhnya membuat Naruto tidak dapat mempertahankan posisinya lebih lama lagi. Dia mencoba berkata-kata diantara desahan-desahan nikmatnya.

"Ah… Ng… Sai… A-Aku… Ahnn… Sudah… Tidak… Aaahh…"

"Naruto…"

Walaupun Naruto sudah memberikan isyarat, Sai belum juga menyentuh 'miliknya' yang sejak tadi terlupakan. Naruto sudah tidak dapat menahan kenikmatan yang terus menyerangnya. Rasa nikmat bercampur dengan rasa sakit. Kepalanya kini berkunang-kunang. Pandangannya sedikit mengabur dan pegangannya hampir terlepas. Naruto sudah tidak tahan lagi dan akhirnya mengeluarkan semua 'cairan' yang sejak tadi ditahannya. Tubuh Naruto yang mengejang membuatnya menghimpit 'milik' Sai dengan kencang. Tak lama Sai pun mencapai klimaksnya di dalam tubuh Naruto.

"Sai… Ah… Ah… AAAAHH~…"

"Na-Naruto… Ngh…"

Setelah mengeluarkan semua isinya di dalam tubuh Naruto, Sai mencabut 'miliknya'. Saat itu Naruto langsung menjatuhkan dirinya lemas. Dengan sigap Sai menangkap tubuh Naruto yang sudah sangat kelelahan. Kelopak mata itu menyembunyikan iris biru langitnya.

"Ba-Bagaimana, Naruto? Apakah aku lebih baik dari pada Sasuke? Apakah sekarang kamu sudah bisa menentukan pilihanmu, hem?"

Hening. Tak ada respon dari Naruto.

"Gawat. Sepertinya aku terlalu berlebihan sehingga membuatnya pingsan seperti ini," sesal Sai.

Sai mengangkat tubuh Naruto yang lemah lalu membersihkannya dari jelly yang membalut tubuh mereka. Mengeringkan dengan handuk dan memakaikan pakaian Naruto, begitu juga dengan dirinya. Dengan hati-hati Sai menidurkan Naruto diatas ranjang.

"Maafkan aku, Naruto,"

Sai mencium dengan lembut bibir Naruto. Lalu perlahan keluar dari kamar. Meninggalkan sang 'Putri tidur' untuk beristirahat.


Sang 'Putri tidur' telah terbangun. Memperlihatkan mata sebiru langit miliknya. Memandang langit-langit kamarnya lalu melihat kesekelilingnya. Tak ada seorang pun disana. Naruto menoleh kearah jam yang berada di meja kanan ranjangnya. Jarum jam menunjukan pukul 13.25 siang karena matahari masih bersinar dengan cerahnya.

Naruto berusaha beranjak dari tidurnya. Tapi tubuhnya lemas dan tubuh belakangnya sangat sakit. Labih sakit dibandingkan tadi pagi. Dia menjatuhkan kembali tubuhnya diatas ranjang.

"Aduh… Adudududuh… Gara-gara mereka berdua, bokongku jadi sakit begini. Brengsek!" umpat Naruto kesal.

Sekarang Naruto tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Dia hanya melamun memandang lurus kedepan.

"Sasuke… Sai…" gumamnya lirih.

Naruto memjamkan matanya. Di dalam benaknya terdapat 2 orang yang mengganggu pikirannya. Lalu dia menghela nafas panjang.

"Aku harus memilih salah satu dari mereka. Aku tidak boleh terlalu naif untuk bersama mereka selalu. Tapi…"

Naruto diam sejenak.

"…Aku nggak tahu harus dengan siapa…" lirihnya.

Naruto benar-benar dilema diantara 2 pilihan. Dia bingung, karena kedua orang itu memiliki kesan tersendiri untuk menarik perhatiannya. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang tak bisa dibandingkan satu sama lain.

"Aargh~… Aku harus bagaimana?! Aku butuh tempat curhat!" keluh Naruto sedikit frustasi.

Tiba-tiba Naruto teringat pada seseorang yang bisa diajaknya berdiskusi. Naruto mencoba meraih telepon yang berada di meja kiri ranjangnya. Dengan susah payah tentunya. Setelah berhasil mendapatkannya, Naruto segera menekan nomor yang diingatnya. Teman wanitanya yang jauh lebih tua darinya sebagai tempat curhat Naruto, Akaneko.

Tak lama terdengar sambungannya. Tapi saat diangkat, Naruto mendengar suara yang berada diseberang sana adalah laki-laki. Dia mengernyitkan dahinya bingung.

"Halo?"

"Ha-Halo? I-Ini siapa, ya?"

"Lho, kok nanya balik? Ini siapa?"

"A-Aku Naruto. Maaf, bukankah ini nomor Neko?"

"Oh… Jadi kamu yang namanya Naru-chan? Ternyata suaranya imut juga, ya? Hehe…"

"He? Maksudnya apa? Kamu kenal aku?"

"Nggak juga. Makanya, kita kenalan dulu, yuk. Namaku Adam,"

"Oh… Be-Begitu, ya? Aku… Uzumaki Naruto,"

Tiba-tiba dari seberang sana terdengar suara seorang gadis yang diyakini Naruto sebagai suara 'Neko'.

"Siapa, Blay?" tanya gadis itu.

"Ini Naru-chan," sahut Adam.

"HAH?! SERIUS LO?! SINI!"

Terdengar suara telepon yang direbut dan suara bising lainnya. Seperti benda yang terjatuh.

"Aduh… Neko! Kok dorong, sih? Gua kan jadi jatoh, nih. Aduh…" keluh Adam kesal.

"Sorry, Blay. Emergency. Halo, Naru-chan? Ada apa?"

"Ah… Neko-chan. Tadi aku sempat bingung saat yang mengangkat teleponnya orang bernama Adam tadi,"

"Gomen, Naru-chan. Soalnya lo 'nelpon gue pake nomor yang gue kenal, sih. Kan lo tahu kalo' nomor yang nggak gue kenal, gue males ngangkatnya. Makanya tadi gue kasih sama Ablay," ujar gadis itu.

"Ablay? Tadi dia bilang namanya Adam," ucap Naruto heran.

"Ablay tuh nama panggilan dari gue. Emang dia ngomong apa sama lo? Jangan-jangan dia minta lo jadi pacar, selingkuhan, TTM, HTS, atau yang lainnya, ya?"

"Eh? Nggak, kok," sahut Naruto.

"Bagus. Kalo' lain kali dia minta kayak gitu sama lo, jangan mau, ya? Asal lo tahu aja, dia itu Seme yang hentai. Padahal dia punya cewek yang lumayan cakep, tapi waktu gue kasih lihat foto lo ke dia, dia malah pengen jadiin lo Uke-nya. Gila kan? Pokoknya kalo' dia ngomong macem-macem sama lo, jangan ditanggepin, ya? Cuekin aja," ujar Neko panjang lebar.

"Eh? Anu…"

"Sembarangan aja lo, Neko! Jangan ngomong kayak gue nggak ada disini, donk!" terdengar suara protes Adam.

"Makanya… Lo jangan ada disini kalo' nggak mau denger gue menghina lo. Sono pergi. Naru-chan mau curhat hal penting sama gue. PRIVATE. Jadi, lo nggak boleh tahu dan nggak boleh ada disini. Minggat sono. Hush… hush…" ucap Neko dengan nada mengusir.

"Iya, iya…" sahut Adam dengan sedikit kesal.

Kini Naruto mendengar suara diseberang sana cukup hening.

"Nah… jadi Naru-chan mau curhat apa? Dapet gebetan baru? Lebih cantik dari Sakura? Atau tipenya beda? Mungkin yang sedikit pemalu, ya? Atau yang 'cool' gitu?" tanya Neko panjang lebar.

"Ng… Itu… Sebenarnya…"

Naruto mulai menceritakan semua permasalahannya. Hubungan antara dirinya dengan Sasuke dan Sai yang membuatnya dilema. Dia menceritakannya sedetil-detilnya. Bahkan hingga mereka melakukan 'itu' terhadap dirinya.

"Astaga… Parah banget tuh 2 bocah. Seenak jidatnya pake lo suka-suka. Emangnya lo kartu perdana apa?" ucap Neko tak percaya.

"Neko-chan... Lalu aku harus bagaimana?"

"Hmm… Gimana, ya? Menurut lo, hal apa yang ngebuat lo jadi bingung milih salah satu diantara mereka?"

"Ng… Sekilas mereka memang mirip, tapi kenyataannya kesan mereka sangat berbeda dihatiku. Semua yang ada pada mereka masing-masing tak bisa dibandingkan satu sama lain. Mereka memiliki karisma tersendiri. Karena itu aku bingung…"

"Emangnya… Apanya yang beda? Menurut gue mereka sama aja," ucap Neko. "Sama-sama brengsek!" lanjut Neko penuh penekanan.

"Yah… Kalau itu, sih…"

Naruto sweatdrop mendengarnya. Kata-kata Neko memang ada benarnya juga.

"Sebelumnya… Gue mau tahu pendapat lo tentang mereka berdua. Menurut lo Sasuke gimana?"

"Sasuke…" gumam Naruto. "Dia itu orang yang paling nyebelin yang pernah aku temuin. Selalu membuat aku kesal dan marah sama dia. Selalu manggil aku 'Dobe' atai 'Usuratonkachi'. Hah! Memangnya dia siapa seenaknya memanggilku seperti itu! Dasar Sasuke-Teme!" ucap Naruto semakin emosi.

"Euh… Kok, yang jelek-jeleknya aja? Emangnya nggak ada yang bagus dari dia?"

"Ng… Ada, sih… Dia sangat tampan dan juga pintar. Nggak cuma dibidang pelajaran, tapi juga dibidang olahraga. Tubuhnya tinggi dan juga tegap. Bahunya lebar dan sangat hangat jika dia memelukku,"

"Naru-chan… Gue nggak nanya dari segi fisik, tapi secara personal. Gimana kepribadian dia yang baiknya? Duh… Kok, lo jadi ngaco gitu, sih?" ujar Neko heran.

"Eh? Ma-Maaf, Neko-chan…" Naruto merasa wajahnya memanas karena malu.

"Ha'i, ha'i, wakatta. Sorekara, Sasuke wa dou…?"

"Ah… Ng… Walaupun dia sangat menyebalkan, tapi dia cukup perhatian padaku. Dia selalu membantuku bila aku sedang ada masalah. Selalu melindungiku dari orang-orang yang ingin menjahiliku. Sebenarnya… Dia baik,"

"Hmm… Terus kalo' Sai gimana? Jangan ngomongin dari segi fisiknya," ujar Neko mewanti-wanti.

"I-Iya, iya… Kalau Sai itu… Dia selalu baik padaku dan selalu tersenyum ramah. Sama seperti Sasuke, dia selalu perhatian, membantuku, dan melindungiku. Sehari-harinya dia tampak lebih baik bila dibandingkan dengan Sasuke. Tidak seperti Sasuke yang selalu membuatku marah," ujar Naruto.

"Ok. Sekarang gue tanya yang lainnya. Gimana perlakuan mereka saat mereka melakukan 'itu' sama lo?"

"HAH? A-APA?!" seru Naruto terkejut mendapat pertanyaan yang tiba-tiba seperti itu.

"Yee… Kurang jelas pertanyaan gue? Gimana sikap mereka sama lo saat melakukan hubungan seks? Nanya lagi 'apa'? Gue ulangin lagi, nih," ucap Neko sedikit jengkel.

"Ne…Neko-chan… Ke-Kenapa menanyakan hal itu?"

"Lo kan curhat sama gue, jadi gue harus tahu semua pendapat lo tentang mereka dari berbagai sudut, donk. Udahlah, jawab aja,"

"I-Itu… Aku…" gumam Naruto. Akhirnya Naruto memutuskan untuk mengatakannya juga. "Ng… Ka-Kalau Sasuke… Dia menyentuhku… dengan sangat lembut… Memanjakan diriku… Dan memuaskan hatiku…"

"Wow… So sweet… Emangnya dia memanjakan lo kayak gimana, Naru-chaaann…" goda Neko.

"A-Apa?! Neko-chan! Itu nggak harus dibahas kan?" protes Naruto dengan wajah yang merona.

"Cieee… Malu-malu nih yee… Hahahaha…" Neko semakin menggodanya.

"Ne-Neko-chan! Serius, donk! Kita kan nggak membahas yang itu!" protes Naruto sedikit kesal walaupun wajahnya merona.

"Hehe… Iya, iya. Sorry, Naru-chan. Soalnya lo lucu, sih. Gue jadi pengen godain lo, deh,"

"Lucu? Memangnya aku badut?" sungut Naruto sedikit kesal.

"Mirip. Tapi lo lebih cute," sahut Neko. "Ok, balik lagi ke masalah. Terus, gimana dengan Sai?" tanya Neko.

"Hmm... Sedangkan Sai... Dia justru kebalikan dari Sasuke. Awalnya dia menyentuhku dengan lembut, tapi semakin lama dia seperti hanya ingin memuaskan dirinya sendiri. Dia seperti tidak perduli padaku dan hanya menganggapku sebagai pemuas nafsunya saja. Aku bisa merasakan kehangatan disetiap sentuhan Sasuke. Tapi Sai..." Naruto tak melanjutkan kata-katanya.

"Jadi begitu? Sikap mereka sehari-hari bertolak belakang walaupun memiliki banyak kesamaan. Tetapi saat mereka berhubungan seks, malah kebalikannya, ya?"

"Begitulah. Makanya aku bingung pada siapa aku harus memilih,"

"Bingung? Ya pegangan, donk," ujar Neko.

"Hah? Maksudnya?" tanya Naruto tidak mengerti.

"Nggak usah dibahas. Itu lelucon di kampus gue. Gue jelasin juga, lo nggak bakalan ngerti,"

"Maksudmu aku bodoh, begitu?" desis Naruto merasa tersinggung.

"Kurang lebih begitu," sahut Neko dengan santainya.

'Kadang-kadang sifat Neko-chan sama dengan si Teme. Sama-sama menyebalkan!' batin Naruto. "Neko-chan! Aku sedang serius, nih!" seru Naruto kesal.

"Serius udah bubar, Naru-chan," ucap Neko.

"Hah?" Naruto semakin bingung. 'Serius? Bukannya Serieus, ya?' batinnya.

"Ok, kita balik lagi ke masalah. Lo bener-bener nggak bisa milih diantara mereka?" tanya Neko sedikit serius.

"Ng... Sulit, " sahut Naruto.

"Ya udah, dua-duanya aja. Gampang kan?"

"Nggak mungkin! Kalau aku melakukannya, itu akan membuat kami semua terluka. Aku nggak mau menyakiti siapa pun," sergah Naruto.

"Naru-chan... Naru-chan... Lo terlalu naif. Pantesan selalu ditolak cewek dan ditaksir cowok. Parahnya lagi lo nggak pernah nyadar,"

"Apa maksudmu? Selalu ditaksir cowok? Aku nggak pernah merasa seperti itu," ucap Naruto heran.

"Makanya gue bilang lo terlalu naif dan polos. Sebenarnya banyak teman cowok lo yang naksir sama lo. Gue bisa tahu waktu mereka mandangin lo dari matanya. Gue sih, nggak heran kalo mereka naksir sama lo yang kelewat 'cantik' dan 'manis' dibandingkan cewek asli. Tapi nggak gue sangka yang suka sama lo segitu banyaknya. Misalnya aja Shikamaru, Kiba, Neji, bahkan sampai si 'Panda' Gaara yang cool itu. Lo punya feromon yang kuat," ujar Neko panjang lebar.

"Be-Benarkah? Rasanya nggak mungkin kalau mereka suka padaku," ucap Naruto tak percaya.

"Impossible is nothing. Bukti nyatanya udah ada kan? 'Tuh 2 orang brengsek, si Sasuke sama Sai. Mereka ini tipe orang yang ekstrim, yang berani ngomong apa aja yang mereka mau. Apakah itu normal atau nggak dimata orang lain, mereka ga bakal perduli. Itu karena lingkungan hidup mereka yang menuntut mereka untuk bersikap tegas. Sedangkan teman-teman lo itu tipe orang biasa yang dibesarkan dilingkungan sederhana yang masih berpikiran secara 'normal' menurut mereka. Jadinya mereka itu rendah diri dan nggak berani bilang 'suka' sama lo," jelas Neko panjang lebar.

"Be-Begitukah? Tapi... Kenapa aku selalu ditolak cewek? Aku nggak mengerti. Apa ada yang salah padaku?"

"Dibilang salah, sih... Nggak... Tapi..." kata-kata Neko terputus.

"Tapi apa?"

"Gimana ya, ngomongnya? Ng... Lebih tepatnya itu emang udah nasib lo," ucap Neko ragu-ragu.

"Nasibku? Maksudnya?" tanya Naruto bingung.

"Ya... Nasib lo yang punya wajah Uke 'manis' dan polos yang bisa mengundang para Seme mesum. Cewek-cewek yang ngelihat lo lebih 'menarik' dari pada mereka jadi benci sama lo. Makanya lo selalu ditolak cewek yang lo suka kan? Mereka nggak mau sama lo karena nggak mau dianggap lesbi gara-gara wajah 'cewek' lo dan nggak mau kecantikan mereka disaingi sama lo. Yah... Cewek emang begitu," ujar Neko sambil menghela nafas.

'Memangnya Neko-chan sendiri bukan cewek?' batin Naruto sambil sweatdrop.

"Kalau seandainya gue cowok Seme, gue juga pasti naksir lo. Tapi biarpun gue cewek, gue juga sebenarnya mau aja kok sama cowok kayak lo, Naru-chan. Cuma sayangnya gue nggak suka sama bocah yang umurnya dibawah gue," ujar Neko lagi.

"Me-Memangnya wajahku sebegitu menariknya dimata para seme, ya?" tanya Naruto ragu-ragu.

"Yupz... B-A-N-G-E-T,"

"Ugh... Pantas saja aku sering merasa dipandangi dengan aneh oleh cowok-cowok disekitarku kalau aku sedang sendiri," ujar Naruto sambil menghela nafas.

"Ho-oh... baru sadar kan?"

Tiba-tiba dari seberang sana terdengar suara seseorang yang memanggil-manggil Akaneko. Orang itu sepertinya marah-marah padanya. Lalu Akaneko juga marah-marah pada orang diseberang sana.

"Ada apa, Neko-chan? Siapa yang memanggilmu?" tanya Naruto heran.

"Teman gue. Nanti malam gue mau balapan motor bareng teman-teman setim gue. Kalo menang bisa dapet duit taruhan yang lumayan banyak. Nah, sekarang ini gue bareng mereka lagi bongkar motor supaya nanti malam bisa pesta-pesta. Dia marah gara-gara kerjaan gue buat meriksain komponen mesinnya belum selesai. Nyebelin banget 'tuh anak. Motornya nggak kenapa-kenapa, juga. Yang rusak kan cuma kampas rem sama karburatornya doank. Diganti juga langsung jadi. Masalah klep juga bisa dikencangin. Settingan gas dan anginnya juga gampang. Itungannya kan 1,5 puteran doank. Dia senang banget membesar-besarkan masalah yang sepele," ujar Neko panjang lebar dengan nada kesal.

"Ng... Maaf, aku nggak begitu mengerti, Neko-chan," ucap Naruto sambil sweatdrop.

"Ah... Aduh, sorry, Naru-chan. Gue lupa. Ya udah, curhatnya terusin lain kali lagi kalo' 'lubang' lo udah sembuh. Kalo' mereka macem-macem sama lo, bilang aja sama gue. Biar gue hajar mereka. Ok, Naru-chan?"

"I-Iya... Baiklah, Neko-chan..." sahut Naruto.

Dan pembicaraan melalui ltelepon itu pun terputus. Naruto kembali menerawang memandang kesekeliling kamarnya. Dia menghela nafas panjang.

"Setelah ini aku harus bagaimana?" lirihnya.

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan membuat Naruto sedikit terkejut. Dari balik pintu, muncullah Sasuke. Wajah Naruto jadi sedikit merona mellihatnya.

"Kamu sudah bangun, Dobe?"

Walaupun Sasuke menampakan ekspresi datar, tapi nada bicaranya terdengar cemas. Naruto tahu itu. Dia berjalan mendekati ranjang dan duduk dipinggirnya.

"I-Iya..." sahut Naruto gugup.

"Dobe..." panggil Sasuke.

Naruto menoleh pada Sasuke dengan gugup. Tangan putih Sasuke menyentuh wajah Naruto dengan lembut. Mata onyxnya memandang tajam kedalam bola mata safir dihadapannya. Dengan perlahan Sasuke mendekatkan wajahnya pada Naruto.

"Sa-Sasuke..."

Tinggal beberapa senti lagi hingga bibir mereka dapat menyatu, tapi tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah Sai yang membawa makanan. Dia terdiam melihat posisi Sasuke dan Naruto yang akan berciuman.

"Sa-Sai..." panggil Naruto gugup.

Sasuke melepaskan tangannya dari wajah Naruto dengan perlahan. Sai tersenyum lalu berjalan mendekati ranjang dan menaruh makanan yang dibawanya diatas meja kecil disamping ranjang.

"Kubawakan makanan untukmu, Naruto. Kamu pasti lapar kan?" ucap Sai.

"Eh... I-Iya... Terima kasih, Sai..." sahut Naruto masih gugup.

"Sasuke..." panggil Sai tiba-tiba. "Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak saling mendahului?" tanya Sai dengan nada yang tajam.

"Gua nggak melanggar apa pun," balas Sasuke dengan dingin.

Naruto terdiam memandang 2 orang disisinya yang sedang perang dingin. Naruto paling tidak tahan dengan keadaan seperti.

"Hei, hei, kalian sudahlah! Aku nggak suka kalau kallian jadi bertengkar seperti itu, tahu!" seru Naruto.

Mereka terdiam.

"Maaf, Naruto," ucap Sai sambil tersenyum. "Lalu... Bagaimana keputusanmu? Apakah kau sudah memutuskan siapa yang akan kau pilih?" tanya Sai tiba-tiba.

GLEK. Naruto diam terpaku. Tak disangkanya Sai akan langsung mengungkit masalah itu. Masalah yang membuatnya dilema. Masalah yang dibuat oleh para pembuat masalah yang kini berada dihadapannya. Sasuke dan Sai.

"Jadi... Kamu masih belum bisa menentukan pilihanmu, Dobe?" tebak Sasuke.

JLEB. Tepat sasaran. Naruto tak dapat berkutik lagi.

"Naruto, kalau kau tidak bisa memutuskannya, kau akan tetap menjadi milik kami bersama. Tapi tentu kau tahu bahwa kita tidak bisa seperti itu selamanya kan?" ujar Sai.

"A-Aku tahu itu. Karena itu, berikan aku waktu untuk berpikir lagi. Tunggulah sampai aku sembuh dari rasa sakit ditubuhku ini. Selama itu aku tidak ingin kalian berbuat macam-macam padaku. Aku ingin kalian memperlakukanku dengan baik. Mungkin dengan begitu aku bisa memutuskan yang terbaik. Bagaimana?" ucap Naruto.

Sasuke dan Sai saling pandang. Lalu mereka memandang pada Naruto.

"Baiklah," sahut mereka.

Naruto pun tersenyum lega. Ternyata mereka bisa mengerti dengan baik. Syukurlah. Naruto sempat khawatir jika mereka keras kepala. Kalau mereka tetap memaksa juga, Naruto tak tahu apa yang harus dilakukannya.

Sesuai permintaan Naruto, Sasuke dan Sai benar-benar memperlakukannya dengan baik. Mereka tidak berbuat yang macam-macam padanya. Memenuhi keinginan Naruto hingga kondisi tubuhnya baik kembali. Setelah ini perjuangannya baru akan dimulai.


Beberapa hari kemudian...

Diatas ranjangnya yang sangat besar itu, Naruto duduk dipinggirnya. Dia memegang telepon yang ada di meja samping ranjangnya. Jari-jari lentiknya menekan tombol-tombol telepon dengan cepat. Terdengar sambungan dari seberang.

Ada dua cinta dihati

Belum bisa aku pastikan

Bila aku harus memilih, sepertinya cinta takkan memilih

Getaran cinta makin hebat

Ruang hati makin berguncang

Degup jantungku makin keras, bila kubersama kamu dan kamu

'Aku merasa tersindir. Sejak kapan Neko-chan memakai nada sambung seperti ini? Rasanya saat aku menelepon sebelumnya tak ada. Apa dia bermaksud menyinggungku? Huh...' batin Naruto kesal.

Lalu terdengar sahutan suara gadis.

"Halo?" sapanya.

"Halo? Neko-chan?" sahut Naruto sedikit heran.

"Oh... Bukan. Ini Mizu, adiknya. Neko lagi bongkar motor di depan rumah. Ini siapa, ya?" tanya Mizu dengan sopan.

"Ah... Rupanya, Mizu-chan. Ini aku, Naruto," ujar Naruto ceria.

"Wah... Naruto-kun. Apa kabar? Mizu dengar Naruto-kun sedang liburan di pantai, ya? Pasti menyenangkan,"

"Iya. Tapi... Nggak bisa dibilang senang juga, sih..." sahut Naruto sedikit lesu.

"Oh... Masalah Sasuke-san dan Sai-san, ya?" tebak Mizu.

"Lho? Mi-Mizu-chan tahu?!" seru Naruto terkejut.

"Iya. Neko cerita sama Mizu masalah Naruto-kun. Katanya, dia juga agak susah nyari jalan keluar buat Naruto-kun. Makanya Neko juga minta bantuan Mizu," ujar Mizu.

"Be-Begitu, ya? Rupanya Neko-chan jadi kesulitan karenaku, ya? Aku telah merepotkan Neko-chan dan Mizu-chan," lirih Naruto merasa bersalah.

"Tenang saja, Naruto-kun. Neko nggak akan merasa seperti itu kok. Justru kalau Naruto-kun sedang kesulitan dan merasa sungkan meminta bantuan pada Neko, dia pasti akan marah. Soalnya Neko kan sayang banget sama Naruto-kun," hibur Mizu.

"Iya," sahut Naruto senang.

"Jadi... Apa Naruto-kun masih bingung?" tanya Mizu.

"Sebenarnya... Iya. Aku masih bingung menentukan siapa yang akan kupilih. Sasuke dan Sai benar-benar berbeda," sahut Naruto.

"Coba pikirkan baik-baik. Ingat-ingatlah. Mungkin sebenarnya Naruto-kun sudah tahu siapa yang ada dihati Naruto-kun. Rasakan saat Naruto-kun disentuh oleh 'dia'. Pasti diantara mereka ada yang sungguh-sungguh mencintai Naruto-kun dengan tulus. Kehangatan... Kelembutan... Dan perasaan cinta terasa oleh Naruto-kun saat 'dia' menyentuhmu," ucap Mizu dengan lembut.

Naruto terdiam. Dia memejamkan mata safirnya. Membayangkan seseorang yang benar-benar mencintainya. Menyentuhnya dengan lembut dan penuh perasaan. Terlintas bayangan seseorang didalam pikirannya. Dengan perlahan dia membuka kelopak matanya.

"Mungkinkah... Sa..."

"Zu? Siapa yang nelpon?"

Terdengar suara Akaneko dari seberang sana.

"Neko? Ini Naruto-kun," sahut Mizu.

"Hah? Mana? Sini," seru Neko dengan nada sedikit tergesa-gesa.

Lalu terdengar suara telepon yang direbut.

"Halo, Naru-chan? Gimana kabarnya? Udah baikan keadaannya? Oh iya, gimana masalah sama 2 brengsek itu? Udah 'nemu jawabannya belom?" tanya Neko bertubi-tubi.

Naruto bingung dengan pertanyaan Neko yang datang 'menyerang'-nya tiba-tiba. Pertanyaan yang mana dahulu yang harus diwajabnya. Lalu terdengar suara Mizu yang bicara pada Neko.

"Neko... Kalau nanyanya kayak gitu, Naruto-kun jadi bingung jawabnya," ucapnya.

"Hah? Oh... Gitu, ya? Ya udah, deh, gue ulang," sahut Neko. Dia berdehem pelan, "Naru-chan... Gimana keadaannya sekarang? Udah baikan belum sakitnya?" lanjut Neko lemah lembut.

Naruto yang mendengarnya jadi sweatdrop. Merinding mendengar suara Neko yang jarang didengarnya. Yang menurutnya malah sangat menjijikkan.

"I-Iya... Neko-chan... Aku... Baik-baik saja..." sahut Naruto merinding.

"Teru gimana? Udah tahu siapa yang bakalan lo pilih?"

"Ng... Entahlah. Aku nggak yakin,"

Neko diam sesaat sebelum berbicara pada Mizu.

"Zu, tadi lo ngomong apa aja sama Naru-chan?" tanyanya.

"Cuma menyarankan aja sesuai dengan pendapat Mizu kok," sahut Mizu.

"Hmm... Naru-chan masih benar-benar bingung?" tanya Neko pada Naruto.

"Aku... Nggak tahu... Aku nggak yakin..." sahut Naruto lirih.

"Nggak yakin? Jadi maksudnya lo punya perasaan lebih sama salah satu diantara mereka?"

"Mu-Mungkin... Tapi... Entahlah..." sahut Naruto semakin bingung.

Terdengar Neko yang menghela nafas panjang. Mereka berdua sama-sama terdiam. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar Naruto. Dan masuklah Sasuke bersama Sai. Membuat Naruto terkejut.

"Sa-Sasuke... Sai..." gumam Naruto.

"Hah? Para brengsek itu masuk ke dalam kamar lo?" tanya Neko heran.

"I-Iya..." sahut Naruto gugup.

"Dobe..." panggil Sasuke.

"Naruto, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Sai.

"Eh... Ah... Ini... Aku hanya..." ucap Naruto terbata-bata.

"Kebetulan ada mereka. Naru-chan, kasih teleponnya sama mereka," ujar Neko tiba-tiba.

"Heh? Apa?" sahut Naruto bingung.

"Udahlah... Kasih aja teleponnya sama mereka. Gue mau ngomong sesuatu sama mereka,"

"Uh... Ba-Baiklah..." sahut Naruto ragu. "Sa-Sasuke... Sai... Neko-chan ingin bicara pada kalian..." ucapnya pada Sasuke dan Sai.

"Akaneko-san ingin bicara pada kami?" tanya Sai heran.

Naruto hanya menganggukan kepalanya. Lalu Sai mengambil telepon yang dipegang Naruto dan mendekatkannya pada telinganya. Naruto tak bisa mendengar pembicaraan Neko dengan Sai. Dia hanya mendengar suara Neko yang sayup-sayup.

"Ya... Baiklah... Tidak masalah bagiku... Aku mengerti..." ucap Sai ditelepon.

Lalu dia menyerahkan telepon itu pada Sasuke. Sasuke hanya diam saja ketika terdengar suara Neko dari seberang telepon. Awalnya ekspresi Sasuke tampak dingin, tapi tiba-tiba berubah sekilas menjadi terkejut. Lalu saling berpandangan dengan Sai. Kembali dia memasang wajah stoic-nya lagi dan berubah menjadi seringaian.

"Baik. Aku setuju," ucap Sasuke sambil menyeringai.

Naruto merasa aneh melihat wajah Sasuke dan Sai sumringah setelah berbicara pada Neko. Lalu Sasuke menyerahkan telepon itu kembali pada Naruto.

"Nih," kata Sasuke sambil menyodorkan teleponnya.

Naruto menerimanya sedikit heran lalu mendekatkannya pada telinganya.

"Ha-Halo... Neko-chan?" sapa Naruto.

"Naru-chan, gue udah kasih solusi sama Sasuke dan Sai supaya lo bisa dengan pasti milih salah satu diantara mereka. Mereka setuju dan mau kerja sama. Nah, sekarang tinggal lo yang harus ikut berparisipasi dalam rencana gue," ujar Neko ceria.

"Memangnya apa rencanamu, Neko-chan?" tanya Naruto penasaran.

"Ja-Jangan mau, Naruto-kun! Nanti-Hmph~"

"Diem, Zu!"

Terdengar suara Mizu yang panik tapi langsung dibungkam oleh Akaneko.

"A-Ada apa? Kenapa dengan Mizu-chan, Neko-chan?"

"Ah… Nggak apa-apa. Nggak usah lo perduliin, Naru-chan. Yang penting sekarang, mau nggak mau lo harus setuju sama rencana gue. Lo nggak bisa nolak lagi, soalnya Sasuke dan Sai udah mau,"

Entah kenapa naruto merasa punya prasangka buruk akan hal ini.

"Me-Memangnya rencana Neko-chan itu apa?"

"Naru-chan harus melakukan 'ITU' lagi sama mereka. Tapi kali ini harus bertiga. THREESOME. Kalo' mereka melakakukan 'itu' bersamaan pada naru-chan, mungkin dengan begitu lo bisa makin yakin siapa yang bakalan lo pilih. Gimana? Hebat kan solusi dari gue? Hehe…" ujar Neko sambil terkekeh licik.

Naruto terdiam. Tapi matanya melebar seolah-olah akan keluar dari tempatnya. Dan mulutnya mengangan lebar seperti mempersilahkan serangga untuk masuk kedalamnya.

"UAPPUAAA~…??!!! RENCANA APA ITU?!!!" teriak naruto penuh keterkejutan dan emosi yang meluap.

"Waduh… Responnya lambaT. Udah gitu teriak pake toa' lagi," ucap Neko dengan nada malas. "Lo udah terlambat, Naru-chan. Lo nggak akan bisa kemana-mana sampai rencana gue ini selesai. Coba lo lihat kearah Sasuke dan Sai. Mereka pasti udah semangat '45 buat melakukan rencana gue kan?" lanjutnya.

Naruto langsung menoleh kearah Sasuke dan Sai yang berdiri disamping ranjangnya. Wajah mereka menyeringai mesum kearahnya. Naruto pun merinding dengan wajahnya yang memucat.

"Kamu sudah mengerti dengan rencananya kan, Dobe?" ucap Sasuke dengan seringaian licik khas Uchiha-nya.

"Bagaimana kalau kita segera memulainya, Naruto?" kali ini Sai yang bertanya dengan senyuman licik miliknya.

"Tuuh kan… Mereka udah nggak sabar. Sekarang tugas lo cuma nentuin siapa yang paling baik nyentuh lo diantara mereka. Gampang kan?" ujar Neko dari seberang telepon dengan santainya.

"APANYA YANG GAMPANG, HAH?!!" bentak Naruto penuh emosi.

Tiba-tiba telepon yang digenggam Naruto direbut oleh Sasuke dan dilemparnya disudut ranjang. Kontan saja hal ini membuat Naruto terkejut.

"Waktumu untuk bicara sudah habis, Dobe. Tak ada kesempatan kedua," kata Sasuke dengan seringaiannya.

"Ayo kita bermain bersama, Naruto," ujar Sai juga.

"A…A… A…"

Naruto tak bisa berkata-kata lagi. Dengan perlahan Sasuke dan Sai mendekatinya keatas ranjang. Naruto bermaksud kabur, tapi tangannya sudah dicengkram oleh Sasuke.

"GYAAAAA~…!!! TIDAAAAKK~…!!! LEPAS-hmph~…"

Naruto berteriak dan mencoba berontak untuk melepaskan diri dari Sasuke dan Sai, tapi mulutnya dibungkam oleh bibir Sasuke. Sementara Sasuke mengurusi bibir naruto, Sai mulai melucuti pakaian naruto. Naruto hanya bisa berdoa dalam hatinya agar masih diberi kesempatan hidup setelah ini.


Sementara itu ditempat lain...

"Wah... Naru-chan kayaknya berontak 'tuh. Soalnya tadi suaranya kencang banget," ujar Neko yang masih menggenggam handphone-nya.

"Neko gila apa?! Kenapa kasih rencana kayak gitu?! Kan kasihan Naruto-kun, tahu!" seru Mizu tak habis pikir dengan otak 'gila' kakaknya.

"Yah... Mau gimana lagi, Zu? Cuma itu ide yang ada diotak gue tadi," sahut Neko dengan santai.

"NEKOOO~...!!! PERVERT!!! HENTAI!!! BEJAD!!! NISTA!!! Bla... Bla... Bla..."

Dan keluarlah semua sumpah serapah dari mulut Mizu. Sedangkan yang dihina hanya memandang adiknya dengan tampang berdosa. Lalu muncullah ide gila lain diotaknya.

"Sssshhh~... Diem dulu, Zu. Dengerin, deh..." ujar Neko tiba-tiba sambil menyeringai.

Mizu yang tadinya berteriak-teriak gaje jadi diam. Dan Neko pun menekan tombol loudspeaker yang ada di handphone-nya.

"Ah... Ah... Nn... Sa-Sasuke... Oh... Sai... Aah~..."

Ternyata handphone Neko masih tersambung dengan telepon Naruto diseberang sana. Maka terdengarlah suara desahan-desahan Naruto dari handphone Neko. Mizu langsung membelalakan matanya kaget dengan wajah yang merona.

"Kyaaaaaaa~.....!!! Kuping Mizu mendengar yang nistaaa~!!! Nggaaakk~..." teriak Mizu sambil menutup telinganya dengan kedua tangannya dan wajahnya yang semakin memerah. Lalu dia menghambur keluar dari ruangan itu.

"BUWAHAHAHAHA~...!!! BAKA MIZU~...!!!" seru Neko tertawa terpingkal-pingkal.

Neko tertawa sambil memegang perutnya yang sakit. Dia mencoba untuk menghentikan tawanya dengan susah payah. Setelah berhenti, Neko mengutak-atik handphone-nya, lalu menaruhnya diatas meja.

"Kita lihat perkembangannya nanti. Hehe... Keh keh keh..." ucapnya sambil terkekeh dengan seringaian jahat.

~OWARI~

Akhirnya... Akhirnya... Fict ini jadi juga. Fict pertama Neko akhirnya SELESAI!!! WAKAKAKAK~... Ada yg ngerti maksudnya? *dilempar telor busuk* Ga ada sih, sebenarnya... *dihajar massal* Intinya jd org jgn suka plin-plan kelamaan. Blm tentu org yg nunggu jawaban anda mau lagi sama anda setelah sekian lama nunggu. Ntar org itu keburu jamuran dan jd fosil gara2 sikap anda yg plin-plan. *digebukin rame2*

Neko minta maaf kalo fict ini kelamaan apdet. Soalnya Neko ga punya kompu/LP, jd harap maklum. *dihajar massal* Neko persembahkan fict gaje yang nista ini buat para senpai Mahasiswa Teknik Mesin ITI angkatan berapa aja yang udah pada selesai sidang. Bulan ini wisuda kan? Hoho... ^_^

Neko is Teme mode. Gue ucapin MAKASIH *maksa* buat para senpai yang udah lulus. MAKASIH ya, udah bikin gue basah kuyub gara-gara kena siraman dari berbagai macam air. Mulai dari air biasa, air cucian piring dikantin, sampe' KUAH MIE bekas makan –entah-siapa-itu- yang kena mata gue. PEDAS, TAU!!! Semuanya gara-gara Yogi, Rio, Kejot, dan 'Ayah' Jonko yang seenak jidatnya nyiram2. HELLOW~... yang harusnya disiram 'kan cuman senpai yang udah lulus aja? Kenapa kohai2nya juga kena?!!! Terutama gue sama Ema. HEI~... knp cuman kami yang diincar? Kami ini cewek yang harusnya dilindungi, BUKANNYA DIKERJAIN!!! Dasar STB (Senpai Tak Berbudi)!!! Mentang2 cewek cuman 2 ada dijurusan ini, bukannya dijagain malah makin dikerjain. Udah gitu pulangnya ampe jam 7 malem lagi. Gue harus bawa motor dengan keadaan yang mengenaskan karena harus bawa motor sambil boncengin Ema yang beratnya... BUSYET DAH... Ngos2an gue...

*Hajar. Gaplok. Tendang. Injek2 sampe mati*

Neko : *Dead* Piiiiip~...

Naru : GA ADA WAKTU BUAT LO CURHAT, SIALAN!!! *kepala berasap*

Neko : *berubah jd Demon* Nyantai donk, Naru~ Jangan pake emosi atuh~ Nyawa gue jadi tinggal 8, deh~

Naru : Gimana gue nggak pake emosi?!!! Siapa pun yg ngikutin rencana nista lo pasti marah, tau!!!

Neko : Nggak tuh. Buktinya si Sasuke sama Sai ga marah.

Naru : Ya, jelas aja setuju!!! Mereka yg keenakan!!! Tapi gue disini sebagai korban, tau!!! KORBAN!!!!

Neko : Ya udah sih, sepele~ *nyantai nan cuek*

Naru : NEKOOO~ *darah naik keubun2* AWAS LO, YA!!! *siap2 ngehajar*

Neko : Eits... STOP!!! Coba lo dengerin ini. *ngeluarin HP*

"Ah... Ah... Sasuke... Lebih dalam lagi... Sai... AAAH~..."

Naru : (O.o)" APAAAA~ (O////O);

Neko : Gue rekam. Nyehehehe~ *evil smirk*

Sasu : Sudahlah, Dobe. Percuma saja kau marah2 seperti itu.

Naru : SASUKE! (O.O);

Neko : Kok cuman lo, Sas? Mana si Sai?

Sasu : Gue buang ke laut. Kan gue yg kepilih sama si Dobe ini. Perjanjiannya yg kalah harus dibuang2 jauh2. *evil smirk*

Neko : Hooh~ Bagus2~ *ngangguk2*

Naru : BAGUS2 'PALE LO PEYANG!!! GUE BELOM SELESAI MARAHNYA SAMA LO, NEKO!!! *ngejar Neko sambil bawa kunai(?)*

Neko : Sas, tolong lanjutin, ya? Ciau~ Adios~ Babay~ *ngacir*

Naru : BIAR GUE AJA!!! SILAHKAN PARA READER UNTUK REVIEW. TERSERAH MAU REVIEW APA AJA!!! FLAME JUGA GPP!!! *ngejar Neko lagi* SINI LO, NEKO SIALAN!!!

Sasu : Review dibawah sini. *nunjuk kebawah*