Kuburan Jeruk Nipis. Kuburan angker berpenghuni kuntilanak seksi berbaju warna-warni compang-camping, mas pocong yang suka lompat-lompat ala iklan To-piip- - -piiip-Cheese Cracker, om pastur yang doyan nelanjangin cewek dengan kekuatan kepala buntungnya, dan masih banyak hantu lainnya yang jika dihitung dengan jari tak cukup, termasuk suster cantik berbodi gitar spanyol korban yang kabarnya bunuh diri tapi ga tau juga sih ini bener atau gak di kamar yang sekarang ditempati oleh Naruto...

~El-Terras~

By: Child From Hell 666

Disclaimer: Naruto belong to Masashi Kishimoto.

Warning: Alternate Universe, Out of Character

~El-Terras~

"Lee senpai..!!"

Seorang anak berkepala duren berusia delapan belas tahun tetapi perilaku seperti anak enam tahun ga dikasih permen berlari-lari tanpa lihat-lihat –alias tutup mata- dan menabrak apapun yang dilewatinya, termasuk manekin pakaian dalam simbol keberuntungan dan icon kost angker ini.

"Ada apa sih Naruto?" tanya Lee. Wajahnya yang tadinya kusut karena dihukum guru favoritnya, Gai sensei, makin kusut lagi setelah mendengar teriakan Naruto yang cempreng, gak ada seksi-seksinya. Padahal tadi dia berharap dipanggil-panggil kuntilanak legendaris kuburan Jeruk Nipis, hihihihi –modus soundtrack film horror: nyala-.

"Hiks, hiks, hiks. Tadi aku... Tadi aku... Tadi aku..." Naruto terus mengulang-ngulang perkataannya, seperti kaset rusak milik Shino yang selalu memperdengarkan suara jangkrik mendengkur. Krik, krik, krik...

"Tadi apa?!" bentak Lee menahan emosi.

"Tadi, hiks, hiks, aku dilemparin tomat sekarung sama Sasuke-kun, hiks, hiks, hueeee...!!!!" Naruto menangis kacang panjang. Kenapa disebut kacang panjang? Karena bentuknya mirip kacang panjang, panjang-panjang gimana gitu. "Sekarang giliran Lee-san yang marahin Naru, huueeee....!!!!" Tangisan Naruto makin kencang, mengingatkan Lee pada anak tetangganya yang suka menangis tanpa alasan yang jelas. Lee benar-benar kagum dengan kedua orangtuanya yang SANGAT sabar menghadapi anak bawel sakit jiwa yang hobinya nangis melulu, padahal usianya sudah uzur. Seratus tahun lebih umur mereka, jika ingatan Lee tak salah. Padahal jika Lee punya anak seperti itu, tanpa pikir panjang ia akan membunuhnya ditempat dengan jurus karatenya. Beneran! Suer deh!

"Cep, cep... Udah, udah jangan nangis. Kalau nangis terus nanti malem didatengin Sadako telanjang!" ucap Lee menakut-nakuti. Bukannya membuat Naruto tenang, tetapi malah membuat cowok berkepala mirip duren tersebut menangis makin kencang.

"Memang ada hantu Sadako telanjang? Yang ada Sadako lagi nyari gebetan kali!" sembur Naruto.

"Bego banget lo!" jitak Lee emosi. "Hantu mana bisa nyari gebetan!"

"Bisa kok!" balas Naruto ga mau kalah. "Tuh senpai, hantu yang tanpa lelah mencari gebetan!"

Bletaakk!

"Adaww...!!"

"Dasar tolol, gue itu manusia bukan oni and the crew!!"

Naruto mengelus-elus kepala berbentuk durennya yang sangat amat teramat berharga. Tentu saja buat dirinya, kata siapa juga buat Lee?

"Senpai kejem, ntar gue laporin Om Pein baru tau!"

"Laporin aja, weeek!" Lee menjulurkan lidahnya –istilah lainnya melet-. "Good nite Narto Uzumakimaki, moga mimpi indah dan gak didatengin suster ngepot, hihihi."

"Suster Ngepot?"

"Iya, Suster Ngepot!" seru Lee dengan muka horror. "Kamu belum denger dari Sasuke?"

Naruto menggeleng.

"Begini..." Lee mulai bercerita dengan gaya . "Dahulu kala, sebelum kamu menetap di kost ini, kost ini adalah kost campuran..."

"Berarti cewek dan cowok nyampur dong?" potong Naruto sambil cekikikan ga jelas. "Pengen ngekost di kost kayak gitu."

"Sstt! Ga boleh motong orang yang lagi motong, eh ngomong!" seru Lee galak. Matanya melotot mirip leak dari Bali.

Naruto melakukan cara diam ala anak TK: meresleting –atau mengunci?- mulut, membuang kuncinya ke sembarang tempat dan mengacungkan jempol tangan tanda oke. Oke, ini benar-benar ga perlu diceritakan. Ga perlu.

"Dulu, di kamar yang sekarang lu tempati, seorang suster cantik berbodi semlohai ala gitar spanyol bunuh diri. Menurut desas-desus yang beredar, si suster bunuh diri karena pacarnya nyampurin garam ke kopinya, bukan gula. Si suster yang alergi garam, mendadak gatel-gatel seluruh ketek. Karena gak tahan, akhirnya si suster bunuh diri dengan menenggak 67 pil yang diduga berisi garam secara bersamaan." jelas Lee panjang kali lebar sama dengan tinggi.

"Kasihan. Matinya ga elit banget, makan pil garam 67 biji." komentar Naruto sambil geleng-geleng kepala kayak band Project Rock. "Pacarnya juga kurang kerjaan, masa ngasih garem ke kopi? Dasar sableng bin edan!"

Muka Lee berubah menjadi sendu memikirkan nasib malang si suster cantik nan sexy pujaan anak kost dan pak Pein. "Gue juga kasihan sama si suster nar..." ucapnya lirih. "Daripada mati bunuh diri masuk neraka mending jadi pacar gue, seneng lahir batin mati masuk surga."

Naruto dengan tidak sopannya menjitak senpainya. "Ngarep! Mendingan si suster jadi pacar gue. Secara, gue lebih ganteng, kaya, keren dan alis gue lebih tebel EH tipis dari lo. Terus, si suster bisa mati berdiri sambil BAB karena malu punya pacar alisnya ngalah-ngalahin enam biji pulpen boxy dijejerin." ucap Naruto dengan kepedean tingkat tinggi. Senpai-kouhai ga kalah narsisnya dan... malu-maluinnya.

Hening sejenak.

"Nar..." Lee memberikan isyarat untuk kouhai-nya untuk mendekat. Berhubung Naruto agak lemot, makanya agak lama, —yah kira-kira sepuluh menitlah untuk Naruto untuk mengerti isyarat Lee.

"Apa?"

"Lu tau Sasuke Uchiha kan?"

Naruto mengangguk. 'Cape deh... Gue kira ada cewek sexy yang pantes dijadikan gebetan, ternyata si Sasgay itu.' pikir Naruto dengan nistanya.

"Dia itu..." Lee memelankan suaranya, menciptakan kesan geli-geli gimana gitu di telinga Naruto.

"Dia itu kenapa senpai? Dia itu homo?" tanya Naruto penasaran dengan tampang muka antara nista bercampur jijik.

Lee mencubit lengan Naruto hingga cowok berkepala duren tersebut mengaduh kesakitan. "Bukan, baka!"

"Ya jadi apa dong?"

"Pacar si suster itu..."

"Pacar si suster itu..."

"Pacar si suster itu..."

"Pacar si suster itu..."

"Pacar si suster itu..."

Cukup sudah, Naruto muak. Senpai-nya sudah keterlaluan membuatnya penasaran seperti hantu-hantu penghuni istana Ratu Elizabeth –emang ada?-.

"LU ITU NIAT GA SIH NGASIH TAU GUE?!" teriak Naruto frustasi.

Lee buru-buru menutup telinganya. Amit-amit tuli gara-gara ngedenger teriakan toanya Naruto. "Ga usah teriak kali." Lee mencibir. "Pacarnya si suster itu si Sasuke Uchiha."

"UAAAPPAAAAHHH????!!!!!" teriak Naruto super teramat sangat lebay bin kaget gak nyangka. Nggak nyangka? Ya, ga nyangka.

Lee buru-buru membekap mulut Naruto. "Diam! Nanti ada orangnya nyahok lo!"

"Hmm hm! Hmya hm hum hem hejjem!!!" (translate: Iya, iya! Tapi lepasin dulu murid eh mulut gue!!).

Tanpa diundang, tanpa disadari, dan tentu saja tanpa di duga aura gelap mencekik yang tak diharapkan datang menghampiri, berseliweran seperti nyamuk yang setia tiap malam menggigiti tubuh malang anak kost.

"Oh tidak..." desis Naruto dan Lee bersamaan. Keringat dingin membanjiri tubuh mereka berdua.

"Lagi ngomongin apa? Sepertinya seru. Boleh ikut nggak?" tanya Sasuke sambil terus tersenyum manis semanis gulali, selembut malaikat surga (tapi di mata Naruto dan Lee, Sasuke sedang menyeringai amat menyeramkan dan sedang merencanakan pembunuhan paling sadis yang hanya bisa dibayangkan author dan sengaja author tak ceritakan karena bisa menyebabkan rating fic ini M). Ia terus mengeluarkan aura-aura gelap mengerikan yang dapat membuat lawannya ketakutan sampai ngompol di celana dalam radius 1 kilometer –author tepuk tangan-.

"Nggak ngomongin apa-apa kok, hehehe..." Naruto tertawa gugup. "Ya kan Lee?"

Lee mengangguk mengiyakan.

"Oh ya? Tapi rasanya tadi aku mendengar namaku disebut-sebut."

"Nggak kok!"

"Beneran?" Sasuke mengeluarkan sesuatu berbau tidak mengenakkan dan berwarna hitam dengan bentuk tak jelas. Kontan Lee dan Naruto menutup hidung, tak tahan dengan bau menyengat dari benda-yang-ga-jelas-apa-itu yang sedang dipegang Sasuke (tapi tampangnya si Sasuke masih cool cool aja tuh).

"Itu apa?" tanya Naruto sambil nunjuk-nunjuk benda-yang-ga-jelas-apa-itu dengan nista dan jijik.

"Makan..." desis Sasuke. "Makan!!!"

"Nggak! Kami masih kenyang." kata Lee.

"Makan gak?" Sasuke tetap tidak mau kalah, keukeuh memaksa dua makhluk invetebrata –bener ga tulisannya?- untuk memakan entah apa itu.

"Ogah!"

"Pilih mana, makan ini," Sasuke menunjuk benda yang ia pegang. "Atau gue cium?"

"Mending gue mati aja," gumam Lee dan Naruto.

Sasuke makin jengkel. "Kalau begitu makan aja!!" teriaknya.

"SEKALI GAK MAU YA GAK MAU, IDIOT!" Naruto dan Lee tetep tidak mau kalah menolak habis-habisan hingga titik darah penghabisan seperti saat-saat para pejuang Indonesia melawan tentara brengsek Belanda –buset, bisa-bisa nyambung ke Hetalia nih. Author was was-.

Karena letupan emosi yang tak tertahankan dan harus segera diledakkan jika tidak mau gosong, akhirnya dengan segenap jiwa dan raga Sasuke berhasil memaksa kedua invetebrata tersebut memakan –yang rupanya- masakannya si Ibu kost, Konan.

~El-Terras~

Naruto's POV

"Hooek... Sialan tuh si Sasuke, masa gue disuruh makan kotoran sapi sih? Ga elit." umpat gue sepanjang perjalanan ke kamar yang berada di koridor paling ujung. Tahu begini seharusnya gue memilih kamar sebelah Shino, walau bobrok dimakan rayap peliharaannya tapi setidaknya masih bisa ditempati. Ngomong-ngomong, Shino itu siapa sih?

"Huhuhu... Hiks, hiks, hiks."

'Ah, siapa sih yang nangis malam-malam begini?' batin gue was was. Entah mengapa perasaan gue gak enak dan jantung gue berdegup lebih kencang seperti waktu nonton film horror sama bokep. Siapa tau itu hantu kuntil legendaris yang sering diceritaiin sama Pak Pein setiap ada orang yang mau ngekost disini. Gak heran sih kalau jarang ada yang mau ngekost disini. Lha, pemiliknya aja suka cerita-cerita seram, ya terang aja pada ketakutan.

Desiran angin dingin halus melambai-lambai, (?) menggelitik telinga gue yang jarang dibersihin. Sumpah, rasanya geli kayak di kerubungin semut.

Gue tetep jalan. Keinginan mata dan badan yang kuat untuk beristirahat di kasur empuk yang memaksa gue terus berjalan. Kalau dipikir-piki, badan gue manja juga ya, minta tidur di kasur empuk padahal di kampung dulu tidur beralaskan tikar ASLI Persia, huehehehe.

"Huhuhu... Hiks, hiks, hiks."

Lagi-lagi suara tangisan itu terdengar. Semakin dekat gue ke arah kamar gue, semakin keras suara tangisan tersebut.

Tapi setelah dipikir-pikir, suaranya seksi juga.

Gue langsung lari secepat kilat ke arah kamar gue untuk membuktikan apakah suara tersebut bener-bener milik cewek cantik berbodi gitar spanyol atau cuma rekaman suara milik Sasgay yang lagi ngerjain gue.

Kriieeet.

Pintu dibuka dan apa yang gue lihat sodara-sodara?! Seorang suster yang cantiknya ngalahin Miss Universe! Uwoooo... –nosebleed gak berhenti-henti-.

Si suster tetep aja nangis sampai-sampai kamar gue jadi becek terkena air mata mutiaranya –lebay-.

Perlahan-lahan, gue dekati si suster itu.

"Mbak, mbak ngapain disini?" tanya gue selembut mungkin, ngalahin iklan lembutnya molto ultra –digibeng gara-gara ngiklan sembarangan-.

Si suster tetep aja nangis. Baru lima menit kemudian ia menatap gue dalam-dalam, sedalam dalamnya sumur kost.

"Kamu Naruto kan?" tanya si suster. Ajiib, bibirnya bo! Seksoy!

Gue mengangguk sambil menelan ludah.

"Aku mau cerita ke kamu. Boleh?" tanya-nya lagi.

"Tapi, sebelumnya, gue mau tau namamu dulu."

"Namaku Suster Ngepot. Begitulah teman-teman di kuburan Jeruk Nipis memanggilku."

"Oh... Suster Ngepot." Lagi-lagi gue ngangguk-ngangguk.

"Dulu aku adalah pacarnya si Sasuke Uchiha, temanmu itu,"

"Sasuke Uchiha cowok yang ngakunya paling kece, paling keren, paling jenius, dan paling-paling lainnya itu?" potong gue.

"Ya," si suster ngelanjutin cerita sedangkan gue cuma bisa mangap. Kok bisa si Sasuke dapat cewek sebohay ini padahal tampangnya –menurut gue- lebih cakepan gue daripada dia?

"Hubunganku dengan Sasuke baik-baik saja hingga... Hingga... Hingga pria brengsek itu datang dan meracuniku hingga aku mati. Bahkan sebelum aku diracuni aku diperkosa berkali-kali dan akibatnya hanya bisa ngepot sana-sini, ga bisa jalan!!"

"Pria brengsek itu siapa?" tanya gue penasaran.

"Dia itu... Namikaze Minato." jawabnya sendu.

"AAAPPPPUUUAAAHHH?????!!!!!!!!!!!!!!!!!" tereak gue kaget, gak ikhlas, gak rela, dan gak gak laennya. Masalahnya Namikaze Minato itu kan, itu kan, itu kan... AYAH GUE!

"Kenapa?" si suster bengong ngeliat tampang gue yang ancur-ancuran (Author : tapi emang udah hancur dari sananya kan?? –author dirajam sama Naruto FC-)

"Mi... Minato itu... Ayah gue..."

~El-Terras~

~To Be Kontinyut~

A/N: At least, I can update this fanfic... My bloody hell d#mn teachers give me a lot of exams and exercises this month T_T. Hell yeah, I'll burn that f#cking school, soon.

Sudah cukup acara maki-makinya, yang penting fanfic ini bisa di update.

Balas review dulu

Sasutennaru: IPK paling tinggi itu 40,00, jadi Sasuke kelewat jenius wakakakaa.

Sebenarnya sih bukan tergantung author baru atau nggaknya, tapi seberapa bisa si author memasukkan unsur humor ke dalam fanficnya. Btw, thanks for review.

Melody-Cinta: Masa sih? Padahal saya kira fanfic ini garing banget loh.

Azuka Kanahara (bener gak namanya?): Makasih senpai –sujud-sujud-. Sudah saya duga, fic ini garing T_T.

Pochi-kun: Hooi lama tak jumpa! –digetok-. Reviewnya kurang panjang, panjangin lagi!! –dicekek-.

Fujimoto Izumi: Kosan cowok yang dulunya kosan campur –aseek-.

Ok, thanks buat semuanya yang telah capek-capek mereview + membaca fanfic ini –bows-.

Tunggu saya di El-Terras berikutnya! –plaaakk!-

Omake!

"Dia itu... Uzumaki Kushina." jawabnya sendu.

"AAAPPPPUUUAAAHHH?????!!!!!!!!!!!!!!!!!" tereak gue kaget, gak ikhlas, gak rela, dan gak gak laennya. Masalahnya Uzumaki Kushina itu kan, itu kan, itu kan... IBU GUE! Berarti ibu gue lesbi dong!

"Kenapa?" si suster bengong ngeliat tampang gue yang ancur-ancuran (Author : tapi emang udah hancur dari sananya kan?? –author dirajam sama Naruto FC-)

"Uz... Uzumaki Kushina itu... Ibu gue..." kata gue sambil menelan ludah. "Dan gue gak nyangka ternyata lo adalah selingkuhan Ibu gue yang ternyata adalah lesbi."

"Oh..." si suster ber'oh-ria'. "Gue jadi ukenya loh! Ibu lu tuh kalau jadi seme mantep! Gue sampai ketagihan ML sama dia!" ucap si suster girang kayak anak kecil dibeliin permen.

Naruto sweatdrop.

'Ya Tuhan, apa salah gue sama lu???!!!'