Pairing : GinRan

Disclaimer : Tite Kubo

Summary : Sesedih apakah dia, sampai menagis seperti itu, tanpa bersuara? Kenapa ya?


Love at the First Sight

Chapter 2 : Kepindahan Sekolah yang Tidak Biasa

Hari itu, ketika aku sampai di sekolah, hujan masih turun dengan derasnya. Dari dalam kelas terdengar bunyi air hujan menampar-nampar kaca jendela.

"Hei, Rangiku. Ada cowok pindahan baru ke kelas kita. Anaknya cakep, lho." Rukia, sahabat baikki, langsung saja nyerocos sambil duduk di bangku sebelahku yang kosong. "Tenang sedikit kenapa, sih. Lagi asyik baca, nih" sahutku tidah peduli.

"Jangan sok tenang, ya. Coba kalau kamu sudah liat. Bisa-bisa kamu suka, deh." Aku hanya tersenyum." Kita lihat saja nanti." jawabku masih tak peduli. Rukia hanya mendengus kesal. Tapi ia tak sempat berkata-kata lagi karena Pak Byakuya sudah masuk ke dalam kelas. Dan… oh! Yang berdiri di sampingnya itu kan…

Setelah anak-anak tenang, Pak Byakuya mulai memperkenalkan cowok itu kepada kami. "Anak-anak, kalian sekarang mempunyai teman baru. Nah, ayo Nak. Perkenalkan dirimu dengan teman-teman barumu." katanya mempersilakan.

Hatiku berdebar-debar tak karuan. Benarkah apa yang kulihat ini? Bukankah dia…

"Kenalkan, namaku Gin Ichimaru, pindahan dari Hueco Mundo." Anak baru itu membungkuk sambil mengenalkan dirinya. Ia tersenyum, manis sekali. Aku hanya terpaku, tak mampu berkata-kata. Cowok yang beberapa jam lalu kulihat di tepi pantai, sekarang sedang berdiri mengenalkan dirinya di depan papan tulis. Benarkah itu dia?

Dengan hati bergejolak, aku berkali-kali mengedipkan mata, tidak percaya dengan apa yang kulihat. Ya, benar. Dialah cowok yang kulihat berdiri di tepi pantai! Tak salah lagi. Aku memang yakin, suatu saat kami akan bertemu lagi.

Tapi… aku tak mengira pertemuan akan terjadi beberapa jam kemudian. Dia pindah ke sekolahku pada awal semester tiga, setelah pelajaran berlangsung lebih dari seminggu. Aneh! Kenapa pindah sekolah tidak pada waktunya? Mungkinkah tangisannya di pantai ada hubungannya dengan penyebab kesedihannya dan kejadian ini?

Namun, dia yang kulihat di pantai berbeda sekali dengan ketika mengenalkan diri di kelas. Benar-benar lain! Di dalam kelas, cowok itu sama sekali tidak menampakkan kesedihan. Bahkan memberi kesan sehat, periang, dan bahagia. Sosoknya berbeda dengan dirinya ketika sedang menangis di pantai dengan kesedihan mendalam.

Pak Byakuya lalu menunjuk bangku kosong di sebelahku. "Nah, kau boleh duduk di sana, Ichimaru." Dengan bersemangat, Ichimaru menyahut, "Iya, Pak!" lalu berjalan menuju bangku kosong itu.

Deg! Deg! Deg!

Hatiku jadi deg-degan tak karuan, dan aku jadi salah tingkah.

Bangku itu memang kosong. Pada akhir semester dua, murid laki-laki yang duduk di sebelahku pindah sekolah. Tapi sekarang, bangku itu akan diduduki oleh cowok yang kulihat menangis di tepi pantai.

Aduh, bagaimana jika Ichimaru sadar kalau aku melihatnya menangis di pantai?

Dua meter lagi… satu meter lagi… dia semakin mendekat.

Aku jadi panik sendiri dan merasa tampangku memerah seperti kepiting rebus. Namun, Ichimaru dengan langkah ringan terus berjalan ke arahku.

"Halo, kenalkan. Namaku Ichimaru." Dia mengatakannya sambil tersenyum manis kepadaku, lalu ia menarik kursi dan duduk.

"Ah… oh…" Aku juga harus mengenalkan diri. Tapi, Ichimaru dengan cueknya langsung menghadap kearah papan tulis. Wah, waktunya tidak tepat nih, pikirku.

Walaupun telah melihatku, tampangnya sama sekali tidak berubah. Padahal aku sudah tidak bisa menahan diri untuk berkenalan.

Apakah dia tidak mengenalku? Wah, pelupa amat. Padahal kami baru saja bertemu. Atau tampangku memang tak layak untuk diingat? Tak cukup cantik untuk diingat cowok? Aduh, aku kok jadi kepikiran macam-macam sih? Hmm, mungkin karena pertemuan di pantai tadi hanya sebentar. Atau karena aku memakai seragam sekolah, terus tampangku jadi lain? Atau sangkin sedihnya, ia sama sekali tak mempedulikan keadaan di sekelilingnya? Hmm… kukira bukan karena itu. Tapi, kenapa aku begitu hafal dengannya, sementara dia sendiri sepertinya sama sekali tidak ingat? Padahal aku yakin, di pantai kami bertatapan.

Aku mencuri pandang dengan ekor mataku kearah Ichimaru. Aku yakin yang berada di pantai tadi memang dia. Tidak mungkin aku salah liat. Seperti sudah kubilang, mataku masih normal, ingatanku lumayan (apa lagi kalau soal cowok cakep).

Tapi, Ichimaru yang kulihat sekarang tampangnya jauh lebih tampan. Rambut silver bagian depannya terjurai ke dahi, dan bola mata merahnya yang indah menatap tajam.

Ketika Pak Byakuya keluar ruangan setelah memberikan beberapa pengumuman, teman-teman sekelas langsung datang mengerumuni Ichimaru. Mereka menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan. Mereka ingin tahu kenapa Ichimaru pindah sekolah di catur wulan yang tanggung. Yah, biasa. Anak baru memang selalu menarik perhatian, batinku.

"Hei, Ichimaru. Kamu kayaknya jago dalam olahraga, ya?" kata seorang cewek berambut panjang dan berwarna orange yang bernama Orihime Inoue.

"Jago sih tidak. Tapi aku suka sekali berolahraga. Ngomong-ngomong, kamu tahu dari mana aku suka berolahraga?"

"Dari bodimu. kelihatan, kan?" Sahut seorang cewek berambut pendek yang bernama Tatsuki Arisawa.

"Kelahatan bagaimana?" Tanya Ichimaru dengan wajah innocentnya.

"Kamu gagah, atletis, tinggi, dan selalu riang." kata Orihime.

"Ah, kamu terlalu berlebihan." Ichimaru tertawa dengan wajah yang sedikit blussing.

Huh, dasar cewek. Nggak bisa tahan lihat cowok cakep, batinku kesal.

"Di sekolahmu yang dulu, kamu ikut olahraga ekstra kulikuler apa?" Tanya seorang cowok berambut merah yang bernama Renji Abarai.

"Atletik. Kakiku cocok dan kuat untuk melakukannya. Tuh lihat, kakiku panjang, kan? Ini sangat membantu, lho."

"Wow, percaya diri juga kamu." Sahut Renji.

"Eh, Ichimaru. Apa kamu tidak kaget, pindah dari kota besar ke desa seperti ini?" Tanya cowok berambut orange, Ichigo Kurosaki.

"Nggak, tuh. Kakekku tinggal di sini. Sewaktu aku kecil, aku sering datang kemari. Pokoknya aku suka dengan kota ini. Suasana laut dan alamnya begitu indah."

Semua pertanyaan teman-teman sekelas di jawabnya dengan ramah dan gembira.

"Ngomong-ngomong, kenapa kamu pindah kesini?" Tanya Rukia.

Deg! Jantungku berdegup keras mendengar pertanyaan itu.

"Yah, mungkin karena keadaan rumah tangga keluargaku yang amburadul," jawab Ichimaru dengan wajah innocentnya.

Semua tertawa mendengarnya.

"Alasan apaan sih itu." Kata Tatsuki.

"Ichimaru, kamu lucu, deh" kata Orihime sambil tersenyum.

Namun, aku sama sekali tidak bisa tertawa. Karena di benakku terbayang wajah sedihnya ketika dia berada di pantai. Aku teringat terus pada perkataannya. Dia main-main atau sungguhan, ya?

"Eh, Ichimaru. Emm… Kamu sudah punya pacar belum?" Tanya Sun-sun.

Deg! Deg! Jantungku berdegup lebih kencang lagi. Berani amat tuh cewek, batinku kesal. Tapi, Ichimaru hanya menangapinya dengan tersenyum dan tertawa.

"Wah, mau tahu urusan orang nih ye. Memangnya kenapa kalau aku belum punya pacar? Mau melamar jadi pacarku, ya?"

"Bukan begitu. Mau tahu saja boleh, kan? Hei, tapi aku kayaknya nggak mau jadi cewekmu."

"Oh, ya? Memang kenapa? Aku kurang keren?" Kata Ichimaru sambil mengedipkan mata kanannya yang merah.

"Hmm… nggak akan nolak maksudnya." Kata Sun-sun dengan wajah blussing.

"Dasar kamu!" Ichimaru tertawa lagi. Ditonjoknyalah cewek itu, Sun-sun, dengan mesra.

Bukan cuma jantungku yang berdegup kencang. Dadaku rasanya ada yang sakit, sakit sekali. Bagai diiris pisau. Aduh, mana berani aku bertanya-tanya seperti itu. Berani amat cewek-cewek zaman sekarang. Kalau aku… jangankan bertanya macam-macam begitu. Mau ngomongpun, lidahku terasa kelu, tenggorokanku tercekat. Ah, mengapa…

"Rangiku, kamu kok diam saja, sih?" Kata Rukia sambil menepuk bahuku.

"Eh…"

"Iya. Masa dari tadi diam saja. Sakit gigi ya?" Tanya Ichimaru dengan tampang innocent.

Anak-anak tertawa. Sialan! anak baru sudah berani meledek pikirku.

"Biasa, Rangiku kan begitu. Pura-puranya diam. Eh, tahu-tahu…" Rukia sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya, karena ia tertawa cekikikan. Wajahku jadi merah padam. Aduh malunya.

"Hei, Rangiku. Kalau kau begitu, kita tukar tempat duduk saja, yuk." kata Sun-sun. "Benarkan, Ichimaru?"

Berani sekali tuh cewek. Ya, walaupun Cuma bercanda. Ichimaru hanya tertawa, sementara aku tersipu malu.

Teng! Teng! Teng! Terdengar bunyi bel, tanda pelajaran akan dimulai. Untunglah, bunyi bel menyelamatkan aku dari ledekan teman-teman.

"Oke, sampai nanti, ya."

"Sampai nanti, Ichimaru" kata anak-anak cewek, kecuali aku.

Anak-anak langsung kembali ke bangku masing2. Akupun harus bersiap untuk memulai pelajaran.

Ketika aku sedang mencari sesuatu di dalam tas, tiba-tiba pundakku di tepuk perlahan. Akupun menoleh.

"Yaa…"

Deg! Pandangan mataku beradu dengan pandangan mata Ichimaru. Aduh, jantungku berdegup kencang sekali. Wow, Ternyata Ichimaru semakin dilihat, semakin tampan. Sangkin gugupnya, suaraku tidak bisa keluar.

"Maaf, aku belum punya buku. Boleh ikutan punyamu?"

"Bo… boleh… saja… silahkan."

"Makasih" jawabnya sambil tersenyum. Ichimaru melanjutkan kata-katanya. "Eh, maaf. Aku belum tau nama lengkapmu."

"Ah… Eh… namaku Rangiku Matsumoto."

"Boleh aku memanggilmu Matsumoto-chan?"

"Apa?"

"Matsumoto-chan. Tapi kalau kamu tidak keberatan tentunya."

"Oh, tentu saja boleh."

"Kamu kayaknya pendiam."

"Eh, nggak juga."

Dengan tersenyum nakal, Ichimaru mendekatkan mukanya ke telingaku, yang membuatku makin salah tingkah. Dia berbisik mesra.

"Ini kedua kalinya kita bertemu ya, Rangiku Matsumoto-chan."

Kedua kalinya? Wah, berarti dia mengingatku, pikirku senang. Wajahku bersemu merah.

Tapi aku tak sempat memikirkannya lagi. Pak Aizen telah memulai pelajarannya. Aku tak mau ambil resiko kena marah guru killer itu. Hiii…

To Be Continue


Smile : Terimakasih, thankyou, xie-xie, and arigatou gozaimasu untuk para Senior yang sudah review dan ngasih saran!

Smile: Oh y, Smile juga mau minta maaf, sorry, dui pu jie, and gomenasai, buat chapter 1 yang buanyak salah… Mohon ampun yang sebesar-besarnya ibunda… Ekh, sualah! Mohon ampun yang sebesar-besarnya para Senior…

Smile: Para Senior yang baik, Review ya? Please? hehehehehe (Senyum a la Nnoitra)