Akhirnya sampe juga di chapter terakhir moga-moga kalian suka. Seperti bias Mina ga banyak omong pokoknya nikmatin aja apa yang ada

Disclaim : poenya Yana Toboso-san

Pairing : Sebastian x Ciel

Rate : M (cuma becanda) yg bener T

Warning : gaje,, Lemon cuma sedikit,, nanggung

Summary : sebastian melakukan hal yg tak senonoh pada Ciell… Benarkah demikian??

Don't like?? Don't read tinggalkan saja!!!!!


The last Puchii

"Saya lebih suka meneruskan kegiatan kita." Menghentikan kegiatannya.

Ciel merasa lega sebastian sudah menghentikan kegiatannya. Tetap tetap saja wajah merah padam Ciel tak bisa di sembunyikan dari Sebastian.

"Jangan bicara ngawur!!" mengambil sesuatu yang ada di sana dan melemparkannya ke Sebastian, tapi Sebastian berhasil menghindari benda tak bersalah yang di lemparkan Ciel.

"Sayang sekali sudah tengah malam lebih baik anda segera tidur. Tidak baik seorang 'Bocah' tidur kemalaman." Ucap Sebastian berusaha menggoda Ciel. Dan..... "Enak saja siapa yang kau sebut dengan'BOCAH' hah?!"

"Lho, bukannya benar?" goda Sebastian lagi. "Cerewet!! Iya, iya bentar lagi. Aku masih mau bekerja." Kembali ke ruang kerjanya, tapi tiba-tiba Sebastian menarik tangan Ciel. "Jangan sering tidur larut tuan muda, tidak baik untuk tubuhmu." Memeluk Ciel dari belakang. "Sebastian kau jangan mencar kesempatan, ya." Mencoba untuk melepaskan pelukan Sebastian, tapi karena Sebastian terlalu kuat, sedangkan Ciel kurus dan kecil apaboleh buat dia tak dapat melepaskan pelukan Sebastian.

"Kesempatan apa tuanku??" Ciel menghadap Sebastian. "Jangan pura-pura bodoh."

"Makanya tuan muda anda ingin bicara apa?" Seringai licik keluar dari bibir sang butler tersebut.

"Sudah ngomong sama kamu bikin capek." Ciel yang diperlakukan seperti itu hanya bisa memegang keningnya, tanda bahwa ia heran dengan perilaku butlernya satu ini.

"Kalau begitu istirahatlah, atau anda ingin saya temani mengerjakan ini semua?."

"Ya, jika kau tak keberatan." Mendudukkan diri di kursi kerjanya.

"Silakan HerbTeanya." Menyerahkan secangkir herbtea.

"Terima kasih. Lalu Sebastian bisa kau ambilkan aku kudapan?."

"Ya, tentu saja." Keluar dari ruangan Ciel.

"Hufftt.... kerja, kerja."


5 menit kemudian

Cklek "kudapan sudah jadi tuan... ah malah tidur." mendekati meja kerja Ciel. "Tuan muda kudapan sudah jadi." Berusaha tuk membangunkan Ciel, tapi apa boleh buat Ciel yang sudah kelelahan tetap tertidur dengan pulas.

Tiba-tiba terlintas pikiran licik di otak Sebastian. Dibawanya Ciel ke kamar untuk menjalankan rencana super licik itu.

"Tuan muda…. Bangun… kudapan sudah jadi…." Berbisik di telinga Ciel. "Nghh.... 5 menit lagi..." bergerak ke samping. "Tak bisa tuan muda... anda harus bangun. Anda belum makan apapun" Sedikit menggoncang. Akhirnya usaha Sebastian tercapai untuk membangunkan Ciel berhasil juga.

"Nghh... iya, i.. ya!? Apa-apan ini Sebastan."

"Apa maksud anda??"

"Kau… kenapa aku diikat seperti ini?!" Ciel mencoba untuk melepas ikatannya.

"Haaahh… itu karena anda tidak bangun-bangun juga, karena saya bosan menunggu sampai anda bangun, ya saya ikat saja." Kata Sebastian dengan sangat santai dan panjang lebar.

"Kan nggak usah pakai diikat-ikat segala!!" teriak ciel seraya berusaha melepaskan ikatan Sebastian.

"Karena saya sedang bosan bagaimana kalau kita main saja tuan muda??" melepas pakaian Ciel satu persatu.

"Hei!! Hentikan perbuatanmu inihh…" Untuk membuat Ciel tenang Sebastian menciumnya bukan cium lebih tepat menempelkan bibirnya saja. Makin lama tempel-tempelan bibirnya semakin ganas. Sebastian semakin bernafsu mencium Ciel.

"Ngh… nh…" erangan demi erangan di keluarkan Ciel. Sebastian semakin dalam mencium Ciel. Lidah Sebastian mencoba untuk masuk ke dalam rongga mulut Ciel. Tapi karena Ciel tetap menutup rapat bibirnya terpaksa Sebastian meminta ijin terlebih dahulu agar lidahnya di perbolehkan masuk.

Dijilatnya bibir Ciel pertanda ia ingin lebih intim lagi dalam mencium. Dengan sedikit malu tapi pasti Ciel membukakan mulutnya. Sebastian yang sedikit kaget dengan apa yang di lakukan tuan mudanya itu.

Lidah Sebastian yang sudah masuk kedalam rongga mulut Ciel mengabsen satu persatu gigi Ciel. Setelah selesai mengabsen gigi Ciel, Sebastian menyapu rongga mulut Ciel.

"Nhh… aahhh…" Ciel sesekali mendesah tertahan ketika Sebastian menyapu rongga mulut Ciel. Lidah Sebastian berganti bermain dengan lidah Ciel yang masih kaku. Walaupun mereka selalu melakukan hal ini, Ciel selalu malu saat lidah Sebastian memasuki rongga mulutnya.

Sebastian mengajak lidah Ciel untuk bertarung, untuk mengetahui lidah siapa yang paling dominan. Akhirnya tentu saja Sebastianlah yang menang. Lidah Sebastian kembali mengabsen gigi Ciel dan menyapu rongga mulut Ciel.

Entah sejak kapan baju Ciel sudah terlepas dari badannya, dan memperlihatkan lekuk tubuh bagian atas Ciel yang akan membuat para seme tergiur saat melihatnya. Kulit seputih mutiara dan lembut selembut kain sutera kontras dengan tonjolan kecil di kedua dadanya yang berwarna merah muda.

Lidahnya yang tadinya masih menyapu rongga mulut Ciel, berpindah ke tonjolan kecil di dada Ciel. "Aaahhh... Sebas...." Ciel megerang saat Sebastian menciumi dan sesekali di plintir puting Ciel itu.

Tangan Sebastian yang masih bebas yang lainnya menuju ke 'adek' Ciel yang sudah menegang sedari tadi. Dilepasnya celana Ciel sehingga tak ada sehelai benangpun yang menutupinya.

"Curang!! Sebastian kamu masih pakai baju lengkap."

"Bisakah anda membantu saya melepaskannya??" goda Sebastian yang sepertinya berhasil membuat Ciel malu.

"Ung.. baiklah." Mendekati Sebastian dan melepaskan pakaian yang ia pakai. Terlihatlah tubuh kekar yang berwarna putih pucat kaya orang mati itu berhasil membuat muka Ciel blushing seketika.

"....... Sebastian bisa ngga kamu lepas yang satu ini sendirian??" sambil menunjuk celana yang di kenakan Sebastian.

"Memanganya kenapa??" tanya Sebastian dengan seringai jailnya.

"Kan aku sudah menolong melepas pakaianmu, sekarang kamu lepas sendiri ajah." Sambil memalingkan muka karena malu.

Sebastian yang menyadari hal itu mendapat ide yang sangat jail.

"Sayang sekali sepertinya kita harus menyudahi permainan kita ini." Berdiri meninggalkan Ciel yang tanpa menggunakan pakaian.

"Eh..?? kenapa??" Keluh Ciel yang masih terduduk di tempat tidurnya.

"Apa anda tidak menyadarinya?? Ini sudah pagi, dan saatnya saya menyiapkan sarapan." Ujar Sebastian sambil mengenakan bajunya.

"Sebastian…." Ujar Ciel sambil menarik lengan Sebastian.

"Haah.. iya,, iya,," Mendekati Ciel dan menciumnya sekilas.

"Sudah puas tuan muda??" Melihat Ciel dengan tampang mengejek.

"Belum, dan tak akan pernah puas hanya dengan begitu saja."

"Jika begitu anda belum puas bagaimana dengan ini??" Sebastian mendekatkan bibirnya ke telinga Ciel, untuk membisikkan sesuatu di telinga Ciel. Seketika muka Ciel memerah seperti kepiting rebus saus tiram sambil memegang telinganya.

"Aishiteru..."

ooOoo The End ooOoo


Huraaayyyy.... selese. Gomen kalo kebanyakan di sini mina ngepol-polin semuanya jadinya gini dah semoga readers puas. Kalo ga puas juga ga papa. Ini akan menjadi chapter terakhir mina di fandom kuroshitsuji, sekarang mina akan beralih ke naruto karena mina suka SasuNaru bukan berarti mina ga suka SebbyCiel tapi apa boleh buat.


Mina akan ngebalas reviewan teman-teman yang udah ngereview mina.

Ryuu Arasa : yaa.... makasiihh... Mina akan sangat berjuang untuk cerita selanjutnya

Lady Yuu Phantomhive : ya makasiihh.... Mina akan berjuang..,, sama Mina juga ga bisa ngomong apa2 lagi

Namikaze Lin-chan : mina juga ga percaya lo pas buatnya,,, hehehehe..... mina masih kurang bahan buat bikin jadi di pendekin aja. Mina maunya dua minggu sekali tapi apa boleh buat. Salam kenal juga,, boleh aja mina sangat senang sekali!!