L'Storia di Cielo, A Katekyo Hitman Reborn! Fanfiction (c) Mitoia Cavallone.

Katekyo Hitman Reborn! (c) Amano Akira.

.

Malam pergantian tahun kali ini lebih dingin dari biasanya.

Sehangat-hangatnya kuah soba, tidak akan bisa menutupi fakta bahwa hari ini memang sangat dingin. Hari dimana salju membeku dengan kokohnya, seakan membentuk karang seperti es yang digarami. Padahal suhunya tidak ekstrim, sekitar -10 derajat Celcius.

Semua orang merasakan hawa dingin itu, termasuk mereka yang tengah tinggal di base Vongola cabang Jepang. Bahkan aura mereka jauh lebih dingin dari suhu di luar, mengingat kematian bisa memangsa mereka kapan saja. Saat-saat dimana senjata harus digunakan dengan lihai tinggal menunggu waktu saja. Lorong-lorong base yang sepi itu bisa didatangi gerombolan manusia-manusia haus darah dalam hitungan jam, bahkan menit. Furnitur yang statis itu bisa saja langsung porak-poranda. Satu yang harus diingat: jaga nyawa sendiri.

Dingin hari itu mencekam.

Pria tenang itu pun merasakannya. Merasakan dingin yang menyayat-nyayat tubuhnya. Merasakan angin kering yang menguntai rambut hitamnya. Merasakan atmosfir yang bergerak-gerak memilukan, seolah ingin mencekik tubuhnya. Ya, seluruh tubuhnya, bukan hanya lehernya. Suara-suara mistik itu pun menghantuinya pelan-pelan, walaupun dia tidak terhantui.

Tapi tetap saja, ia tidak nyaman dengan semua ini. Dingin dan sunyi-itu memang tipikal dirinya, namun kali ini saja ia ingin keluar dari cekaman ini. Atmosfir ini mengejar-ngejar napasnya. Napasnya teratur, namun panjang-pendeknya dinamis. Ketakutan memburunya dari jauh, dan ia mati-matian melawannya.

Posisi tidurnya berubah-ubah, sofa yang ditidurinya terkadang mengeluarkan bunyi decit, karena yang meniduri terus bergerak-gerak. Bukan hanya badannya, otaknya pun berputar-putar. Menyesaki ubun-ubunnya, menjalari seluruh syarafnya. Walaupun hanya ia yang tahu itu, wajahnya yang penuh teror menyembunyikannya dengan halus.

"Jadi hanya sampai di sini, huh? Herbivora?"

Ia menatap langit-langit kamarnya.

"Hanya sampai di sini, kerja kerasmu selama ini?"

.

.

Chapter 2: Storia di Perseveranza

.

.

Menyadari sifatnya, seharusnya dia memang hanya tertarik pada bayi bersetelan jas itu.

Karena itu, pemuda bermata hitam onyx-hitam dari segala warna hitam-dan berambut warna senada itu terus menantang sang bayi setiap kali mereka bertemu. Dan setiap kali itu pula, akanbou itu menolaknya dengan disertai penyombongan tingkat tinggi.

"Aku terlalu kuat, jika dibandingkan dengan dirimu.

Heran saja, ada orang yang berani bilang begitu pada Hibari Kyouya, ketua komite kedisiplinan Namimori-chuu, sekaligus orang paling berkuasa atasnya. Ralat, atas seluruh kotanya. Namun orang-maksudnya bayi itu berani mengatakan ia lebih kuat daripadanya dengan nada ringan begitu.

Maka, saat bayi itu menyuruhnya mengunjungi rumah herbvore di Nami-chuu, Sawada Tsunayoshi, pemuda tanggung itu menerimanya dengan senang hati. Dan ia datang dengan cara yang cukup menakjubkan, masuk melalui jendela lantai dua. Dan sukses membuat seisi rumah itu sport jantung-kecuali bayi itu, yang hanya tersenyum penuh arti. Tapi bayi itu memang menunggu kedatangannya, bukan?

.

.

.

Pernahkah kau mengukur kekuatan?

Tentu saja tidak-hei, memang ada alat yang bisa mengukur kekuatan?

Tapi sepertinya orang ini punya-dia bahkan punya takaran yang dibagi dalam 2 kategori: herbivora dan bukan herbivora (mungkin bisa kita sebut karnivora).

Mendengar dan melihat Sawada Tsunayoshi berhasil membunuh seorang assassin asal lewat (heran, kenapa dia bisa percaya secepat itu?), ia langsung menaruh perhatian khusus pada herbivora yang satu itu. Seperti yang telah dilontarkan tadi, orang ini memang punya alat untuk mengukur kekuatan. Entahlah apa wujudnya, bisa saja berwujud dirinya sendiri. Yang jelas ia bisa mengukur kekuatan orang, dan akurasinya dapat disandngkan dengan rangking Fuuta.

Dan Hibari Kyouya dengan santai menebarkan death glare-nya kepada semua orang di kamar itu. Ada si herbivora yang bikin kagum-Tsunayoshi, herbivora dengan rambut seperti tentakel gurita-Hayato, dan tentu saja sang akanbou super licik-Reborn. Satu di antaranya bergidik, yang satunya menggerundel tidak jelas (tapi lumayan takut juga), dan sisanya hanya tersenyum mistis.

Itulah caranya mengenal bos-nya (yang bahkan tidak pernah ia anggap bos-nya), Sawada Tsunayoshi.

.

.

.

Hibari Kyouya, tidak ada nama lain yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan orang itu. Dan ia tidak berubah banyak selama 10 tahun.

Hanya tingginya saja yang bertambah, dan pakaiannya yang berubah. Tidak mungkin dia memakai seragam Nami-chuu terus sepanjang 10 tahun bukan? Dia kan juga tidak selamanya bersekolah di Nami-chuu. Namun dia masih saja suka tidur-tiduran siang di atap gedung, baik itu gedung Nami-chuu, Namimori-Koukou, maupun atap Markas Vongola.

Hibird pun masih setia bertengger di atas kepalanya, dan masih sering mendendangkan mars Namimori (ternyata, perbedaan lagu mars Nami-chuu dan Nami-kou hanya di bagian -chuu dan -kou-nya saja). Memang heran, burung itu tidak bertambah besar, padahal sang majikan selalu memberinya makan dengan teratur dan merawatnya dengan intensif.

Tapi keadaan di sekitarnya berubah. Namimori yang sekarang punya Departement Store yang canggih dan modern. Toko-toko berganti dekorasi, dan juga kepemilikan. Rumah-rumahnya bertambah dan berubah-ubah. Termasuk fakta bahwa rambut Kusakabe semakin tebal saja.

Yang mencolok (menurut pandangannya), markas bawah tanah Vongola cabang Jepang yang super canggih itu sudah dibangun dan dipergunakan beberapa waktu. Dan tertata dengan sangat baik. Pendirinya, siapa lagi kalau bukan herbivora itu, yang sekarang sudah bertitel Don Vongola Decimo.

Bertolak ke Vongola Decimo, perubahannya selama sepuluh tahun memang begitu mengejutkan. Kekuatannya semakin berkembang, semakin tidak terduga saja. Yah, walaupun cincin Vongola yang penuh sejarah berdarah itu sudah dihancurkannya. Tampangnya masih kekanakan dan senyumnya masih ramah dan lembut, tapi tidak ada yang bisa menduga di dalamnya. Lebih menakutkan bahkan dari dirinya. Lagipula siapa sih yang mampu mengukur luasnya langit?

Mungkin dialah salah satu yang dapat merasakan perubahan kekuatan itu. Mungkin hanya dia yang benar-benar tahu sebesar apa kekuatannya kini, karena hanya ia yang bisa mengalahkan langit itu, sementara hanya langit itu yang benar-benar bisa mengalahkannya.

Maka, Hibari Kyouya menurut saja saat diajak bekerja sama dalam proyek Tri-Ni-Sette herbivora itu, termasuk proyek rahasianya.

Ia paling tahu, kalau herbivora itu memang selalu berlatih untuk meningkatkan kekuatannya. Tak bisa dielakkan, ialah tempat herbivora itu berguru. Tentu saja ia mengerti, herbivora itu bisa seperti ini karena kegigihan usahanya.

Ya, karena kerja kerasnya.

Jerih payah, walaupun kenyataan menolaknya sementah apapun pasti akan membuahkan hasil.

Markas sebesar ini juga, semua hasil kerja kerasnya. Peralatan dan penelitian-penelitian canggih ini juga semua hasil kerja kerasnya. Peluhnya, tenaganya, darahnya, dan harga dirinya, membuat semua ini menjadi nyata.

Kerja keras herbivora itu membuat semua mimpi menjadi kenyataan.

Kerja keras herbivora itu tak kenal lelah. Bahkan menghapus peluh pun tak sempat. Kerja keras menghimpun kekuatan, menambahnya menuju ketidak terbatasan. Seolah membentangkan sayap yang terus bertambah besar di langit yang tiada batas.

Ia tahu, herbivora itu telah menembus batas kekuatannya.

.

.

.

Dingin itu membuat rusuk-rusuknya merasakan kemelutuk yang menusuk-nusuk.

Malam tahun baru yang tenang. Suasana di luar sana seperti biasa, hangat dan meriah. Ramai. Hal yang sangat ia tidak suka.

Salju turun, melayang-layang ringan. Menembus langit malam, menuju bumi yang gegap gempita bermandikan cahaya lampu warna-warni.

Begitu ia benci keramaian, tapi ia lebih membenci cekaman ini.

Gelisah; hal itulah yang terus menghantui pikirannya. Membuatnya ingin berontak sejadi-jadinya. Namun mati-matian pula ia menahannya.

Mengamuk sendirian adalah hal tabu buatnya.

Namun kepalanya seperti mau pecah.

.

"Kau yakin?"

Don Vongola itu mengangkat kepalanya, menunjukkan senyum ramah itu kepada orang di depannya. "Ya, inilah keputusanku."

Raut wajahnya sangat tenang. Setenang langit cerah yang biasa Hibari lihat saat beristirahat di atap gedung base.

Tapi jika itu langit betulan, ia merasakan sebentar lagi langit itu akan menjadi kacau dan mencekam. Gelap. Suram. Tertutupi deru-deru cuaca yang menyedihkan.

"Sesukamu saja, herbivora."

Dusta. Sebenarnya bukan itu yang ia harapkan.

.

Hibari Kyouya mendengus. Hari ini langit amat gelap.

Bintang-bintang yang biasanya bertaburan membentuk rasi, kini tertutup awan segelap hitam malam.

"Kerja kerasmu, hanya sampai di sini saja?"

Markas itu, Vongola, Tri-Ni-Sette...

...dan yang paling berharga, keluarganya...

...hanya sampai di sini kah?

Jawab itu dengan kata tidak, Tsunayoshi. Jawablah kau tidak akan mengakhirinya dengan cara begini. Meninggalkan semuanya semudah ini.

Jawablah tidak,

saat kau kembali.

"Arrivederci, Tsunayoshi."

- f i n -


Music: Sakura Addiction - Iida Toshinobu and Kondou Takashi.

Glossarium...

Nami-chuu : Namimori Chuugaku - SMP Namimori

Nami-kou : Namimori Kou-kou - SMA Namimori

Arrivederci : Selamat tinggal

Yo. Mitoia kembaliii...

Genre hari ini memang rada angsty. Tapi pembaca Reborn! harusnya udah tahu dong, nasib Tsunayoshi yang sebenernya. Fanfic ini nggak keluar jalur kok. Tenang aja, kalo ente sekalian nggak mau Tsuna modar beneran.

Yep, seperti biasanya...

MOHON REVIEW!

Thanks for reading,

Mitoia Cavallone.