Di balik hembusan angin yang membawa helai-helai kelopak bunga Sakura yang berguguran itu, seorang lelaki tinggi, tegap dan tegar tengah berdiri kukuh. Angin musim semi yang harum itu juga menerbangkan ujung-ujung rambutnya yang lurus dan mereka beterbangan searah sesuai angin membimbing.
Musim semi memang hangat, tapi tak sehangat musim panas. Kosong dan penuh dengan harapan, silakan kau lukis sendiri-sendiri.
Tapi ada yang tak akan berubah.
Hari ini pun sama saja.
Matanya hari ini, sama saja dengan hari itu.
Senyumnya hari ini, sama saja dengan hari itu.
Biar bagaimanapun, dia orang yang sama. Tidak mungkin berubah secara drastis begitu saja.
Ya, Rokudou Mukuro selalu menyadarinya. Sikapnya padanya, ralat, pada siapapun tak akan berubah. Matanya tetap lembut dan hangat. Senyumnya tetap mengembang seperti itu; semanis muffin coklat yang hangat, baru matang.
Lelaki berkepala nanas itupun mendengus.
Hyper Dying Will pun tak mengubahnya. Huh.
Lelaki itu melewati sang bos dengan gayanya yang seperti biasa-necis dan mempesona, menebarkan senyuman yang membawa kita ke dunia ilusinya yang indah. Sejenak ia menilik wajah sang Don Vongola. Ia tersenyum penuh ilusi, lagi.
"Kembalilah dengan selamat, Mukuro."
.
.
Chapter 3: Storia di Innocenza
.
Kokuyou.
Distrik kecil yang dipenuhi komplotan kriminal bawah tanah.
Setidaknya begitulah yang harus diungkapkan jika mendeskripsikan keadaan Kokuyou yang sekarang.
Distrik kecil yang keras dan bobrok.
Ya, ya, ya. Hanya di belakangnya saja.
Bagian muka terlihat damai sebagaimana mestinya. Ramah dan tenang, seakan menganggap konflik antar gangster yang terjadi di sudut-sudut gelap lorongnya itu tidak pernah dan tidak akan ada.
Ya, ya, ya. Seperti ilusi, bukan?
Dan itulah kediamannya sekarang. Kediaman sang raja iblis. Yang tengah melampaui 6 dunia beringas dan terkekang dengan jumlah yang sama pula. Sementara, sekarang raja iblis itu tengah berongkang-ongkang ria di salah satu sudut distrik Kokuyou yang beringas dan liar. Kotor. Menikmati "kebebasan" yang entah kapan akan terrenggut kembali, sepertinya.
Hei, lihat saja posenya sekarang. Di sofa empuk berukuran satu orang yang didapat entah dari mana, ia tengah duduk berselonjor ria dengan rileks-nya, seperti raja. Jika matamu tidak beres sedikit saja, kilauan mawar merah yang menawan bisa saja tampak di sekeliling wajahnya yang... aduhai necis sekali. Sekalipun dalam balutan seragam hijau bobrok nan kusam itu. Jangan lupa, jemarinya yang menggantung di rahang samping, sementara tangan yang menyangganya
Adapun raja iblis itu punya dua pengikut. Yang satu tengah berdiri tanpa ekspresi di sebelah kursi tempat sang bos duduk, sesekali membenarkan letak kacamatanya yang sayang sekali hanya miring satu milimeter. Yang satunya lagi? Sedang berada di posisi entah mana. Jajan, mungkin. Kalau punya cukup uang, sih.
Oh iya, ada satu anak buah bonus lagi. Perempuan cantik berambut merah yang sama sekali tidak dilirik oleh sang bos. Entah apa yang ia lakukan sekarang. Mungkin bermain-main dengan benda kesayangannya atau... memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan uang?
Dan jangan lupakan orang ini. Mukuro palsu. Siap bertempur dan menampakkan mukanya.
Dimanapun perlu.
Yang jelas, hari ini penghuni bekas Pusat Kesehatan Kokuyou itu bertambah satu. Seorang anak kecil yang sangaaaaaat manis, membawa sebuah buku besar.
.
.
Fuuta.
Ya, dimana dia sekarang?
Sawada Tsunayoshi memutar otaknya.
Di sana.
Pasti Fuuta ada di sana.
Semuanya berlangsung begitu cepat, seperti fast forward, kalau kau menganalogikannya sebagai kaset video.
Tahu-tahu saja yang tersisa tinggal mereka yang berdiri di tengah-tengah saja.
Dan satu orang bayi bersetelan jas hitam, yang menutupi matanya dengan ujung topi.
Dan sesuatu yang melayang di atas, bercahaya. Tunggu, itu bukan bola disko.
Jelas, saat-saat genting seperti ini. Dilihat ke bawah sedikit juga, yang tampak adalah gelimangan orang-orang tidak sadar yang membuat Sawada Tsunayoshi ingin menangis.
Tidak, dia tidak menangis.
Saat ini saja ia sedang menatap benda melayang yang bersinar itu penasaran. Sedikit was-was juga sih, di depannya sang raja iblis tengah menyelesaikan tahapan reinkarnasinya.
Glove?
.
.
Ya, putarannya begitu cepat seperti roda mobil Formula yang sedang melaju di arena balap.
Tahu-tahu anak itu sudah menampakkan api jingga di jidatnya. Air mukanya tampak begitu tenang. Sorot matanya dalam. Ia tahu, anak itu sudah terlalu banyak disakiti. Olehnya. Ia tahu, dada anak itu sesak, melihat gelimpangan orang di sekitarnya.
Tapi ada hal lain yang terasa.
Jauh di dalam bola matanya, bersinar pancaran yang hangat dan lembut.
Ini sama, seperti sebelumnya.
Kenapa?
Tatapan yang harusnya mematikan itu, malah mengunci keinginan membunuhnya.
Kenapa?
Pendosa besar yang harusnya dihukum kejam ini, malah diberikan kehangatan implisit yang terpancar jauh dari dalam tubuhnya.
Kenapa?
Ia tidak takut.
Seakan lubuk hatinya berkata,
"Berhentilah merangkul dingin dalam kegelapan."
.
.
Orang ini tidak punya niat membunuh.
Jangankan membunuh, menyakiti pun sepertinya tidak.
Setelah aku melakukan semua ini? Menyakiti orang yang disayanginya seperti ini?
DImanakah dendam dalam dirimu? Pergikah? Atau tidak adakah?
Ini sangat menakutkan.
Kau... polos sekali.
.
.
Raja iblis pun belajar.
Ada orang yang tidak termakan dendam sedikitpun. Hanya karena disakiti terlalu dalam.
Kalau orang itu kesepian, yang ia lakukan hanyalah menemaninya.
Kalau orang itu butuh kebebasan, yang ia lakukan adalah membuka langit tanpa batas untuknya.
Kalau orang itu tenggelam dalam kegelapan, yang ia lakukan adalah mengulurkan tangan dan menariknya keluar sekuat tenaga.
Ada orang yang sangat sederhana, tapi sangat lapang dan hangat.
Seperti langit biru yang tergantung tanpa batas di atas sana.
Sederhana, tapi luas dan merangkul semuanya.
"Plain." Senyum asimetris terlukis di wajah sang raja. "Innocent."
Ia adalah raja iblis.
Orang itu adalah raja yang merangkul raja iblis.
Begitulah. Rokudou Mukuro mengakuinya.
.
.
.
Musim semi, musim yang bagus untuk memulai hal baru. Mungkin itu juga sebabnya tahun ajaran baru di Jepang dimulai di musim semi.
Saat semua baru dimulai, saat semua yang selesai selesai sudah terbawa oleh aliran salju yang mencair. Menyisakan tunas-tunas baru yang bermunculan, burung-burung terbangun dari kebisuan panjangnya, hewan-hewan yang berhibernasi memulai aktivitasnya, dan orang-orang memulai pekerjaannya dengan semangat baru, seperti kuncup daun yang baru muncul.
Hari yang bagus untuk bekerja. Ditemani sinar mentari yang hangat dan nyaman dan angin harum yang membelaimu lembut.
Hari ini Rokudou Mukuro akan melaksanakan misinya yang seperti biasa... khusus dan tersembunyi. Semboyan ilusi? Memang benar.
Dan seperti biasa, dimana ada anak buah—lebih menyenangkan kalau disebut teman—yang akan berangkat menjalankan misinya, di situlah Tsunayoshi memberi sekedar salam hangat, alih-alih jampian canggung yang keluar dari mulutnya.
Tapi kali ini berbeda.
Kali ini lebih... khusus. Dan sedikit tersembunyi. Mukuro tidak senang menampakkan diri seperti bapak-bapak yang akan meninggalkan istri dan anaknya di depan orang banyak.
"Cepatlah kembali, Mukuro."
Senyuman itu, tatapan mata itu... masih sama seperti sebelumnya. Tak berubah sedikitpun.
Sederhana, tapi luas dan menyelimuti semuanya.
Dan Mukuro selalu menyukainya. Saat dimana ia terangkul dan hangat karena langit itu.
Kesederhanaan yang terdapat dalam dirinya. Polos seperti langit luas yang biru muda.
"Ya, pasti..."
Menatap senyumnya itu membuatnya ingin berlama-lama tapi... ya sudahlah.
"...mio innocente."
Selang sepersekian detik, Mukuro berhenti menatap senyum itu dan tertawa lirih dengan trademark "kufufu"-nya.
Lelayangan kelopak sakura yang gugur menemani keberangkatannya. Mereka berguguran, melayang-layang anggun, dan berkumpul di satu tempat.
Lalu Mukuro menghilang.
.
- f i n -
.
.
.
.
.
Hello world!
Oke, tema hari ini kembali ke fluff. Agak ada hint romance sepertinya... tapi setelah aku bener-bener sadar ternyata ngga ada ya. *digebukin*
Niatnya mau di-pair 6927, tapi otakku menolak memproduksi genre romance, jadi ya sudahlah.
Btw flashback-nya ngga mutu bener yak. Musim semi-nya juga Cuma masuk di depan dan belakang. Secara Kokuyou arc udah masuk musim panas...
Lotta thanks,
Mitoia Cavallone.
