A/N: Ahaha... Kali ini saya nggak banyak ngomong sih, cuma mau peringatkan kalau chapter ini jadinya OOC bangeeet~ -dilindes panzer-
Silakan menikmati~!
"Amaria, aku dengar kau sudah pindah rumah, ve~?" Tanya Feliciano saat mereka bertemu di tempat kerja.
"Ah... Iya, fratello maggiore." Jawab Amaria.
"Vee~ Kalau begitu, nanti aku, Lovi, dan Kiku mampir, ya?"
"Boleh saja."
"Vee~ Grazie, mio sorella~" Feliciano memeluk adiknya itu.
-Mansion-
"Selamat datang di rumah baruku."
"Vee~ Besar sekali!" Feliciano takjub.
"Desainnya bagus sekali, Amaria-san," Komentar Kiku. "Ini gaya Renaissance?"
"Iya," Balas Amaria. "Oh iya, fratello Feli, kenapa fratello Lovi tidak ikut?"
"Ve~ Lovi mendadak galak saat kuajak kemari. Jadi cuma kami berdua saja yang kemari."
"Ooh... Silakan masuk. Duduklah sementara aku membuat teh."
Amaria meninggalkan tamu-tamunya ke dapur untuk membuat teh,
"Il mio Dio!" Jerit Amaria saat sampai ke dapur. Dapurnya berantakan seperti habis terkena angin topan. Tepung, gula, garam, teh, saus, piring, sendok, semuanya acak-acakan. Jendelanya pecah, salah satu toples bumbunya ada di luar.
"Kenapa?" Kiku dan Feli mendatangi Amaria.
"Dapurku berantakan... Oh, sepertinya ada maling." Jawab Amaria sambil beres-beres.
"Kalau begitu, kami bantu."
"Grazie."
Mereka pun beres-beres. Amaria membuka keran bak cuci untuk mencuci tangannya. Namun begitu dia membuka keran, bukan air yang mengucur, melainkan darah segar berwarna merah kecoklatan.
"Kyaaaa!" Spontan Amaria menjerit dan menutup keran.
"Kenapa, mio sorella?" Tanya Feliciano.
"Itu... Kerannya..."
"Keran?" Kiku membuka keran. Air segar yang dingin mengalir. "Kenapa dengan kerannya, Amaria-san?"
"Ah... Tadi... Lupakan saja." Amaria cepat-cepat mencuci tangannya.
Tepat pukul lima sore, Kiku dan Feliciano pamit pulang. Amaria menghadiahi mereka sedikit makanan dan kue.
"Oh..." Amaria menjatuhkan diri ke sofa. "Mio Dio, ada apa dengan rumah ini..."
Baru saja dia hendak memejamkan mata, dia mendengar suara langkah kaki yang berlari turun dari tangga menuju lantai satu dan melewati lorong, saling bersahutan. Dan diakhiri dengan bantingan di pintu.
"Siapa itu?" Pekiknya. Amaria berlari di lorong dan membuka pintu kamarnya, tapi tak ada siapa-siapa.
Amaria masuk ke kamarnya. "Jangan sembunyi! Keluar kau!"
Dari jendela kamarnya yang terbuka, dia melihat burung perak itu lagi, terbang melintasi kamarnya.
'Burung itu lagi,' batin Amaria. Perasaannya tak menentu, seperti dicekam ketakutan yang sangat.
Klotak. Suara hiasan dinding yang jatuh. Amaria berbalik dan nafasnya tertahan.
Dinding di belakangnya tiba-tiba seperti bekas dipahat, membentuk sebuah nama.
"Gilbert... Beilschmidt..." Amaria membaca nama itu. Setelah huruf terakhir dia ucapkan, sesuatu yang menyakitkan menghantam kepalanya dengan telak, dan itu membuatnya pingsan dengan kepala berdarah.
-x-x-x-
"Kau sudah lihat mademoiselle Giselle?"
"Iya! Signorina Giselle cantik sekali dalam gaun pengantinnya."
"Senor Antonio beruntung sekali mendapatkan senorita cantik dan elegan seperti senorita Giselle."
"Iya, ya! Meister Antonio beruntung sekali. Aku yakin beliau dan fraülerin Giselle akan menjadi pasangan serasi."
Semua ucapan bahagia itu adalah pedang yang menghujam jantung Gilbert Beilschmidt, pangeran kerajaan Prussia. Di hatinya yang mulai membeku, tersirat penyesalan atas pertalian darahnya dengan Giselle Maria Beilschmidt, putri kerajaan Prussia, juga adiknya yang kedua.
Pernikahan Giselle dengan Antonio Fernandez Carriedo, sang pangeran kerajaan Spanyol yang juga masih sahabat Gilbert, adalah untuk menjalin hubungan aliansi antara Königreich Preußen dan Reino de España.
Gilbert ditemani burung peliharaannya berjalan gontai menuju aula kerajaan dan duduk di samping ayahnya, Magna Germania, dan adiknya yang paling kecil, Dietrich Beilschmidt.
Matanya meneliti dan mengikuti setiap prosesi upacara pernikahan. Matanya yang merah menyala itu berkilat-kilat, seperti elang yang hendak menangkap mangsanya.
"Bila ada yang tidak setuju atas pernikahan ini, silakan buka suara kalian, atau diam di dalam kekudusan." Umum pendeta kerajaan.
Ini saat yang ditunggu Gilbert. Dia berdiri dengan cepat dari kursinya dan berteriak, "Aku tidak setuju!"
"Yang Mulia Pangeran, mengapa anda tidak setuju?" Tanya pendeta.
"Giselle Maria Beilschmidt adalah calon istriku! Aku takkan membiarkan lelaki lain memperistrinya meskipun itu sahabatku sendiri!"
Kali ini sampai seisi aula terkejut.
"Gilbert, apa kau sadar apa yang kau katakan?" Tegur ayahnya. "Giselle itu adik kandungmu, kau tidak boleh menikahinya! Ayah bisa mencarikan putri bangsawan lain untukmu, putraku."
"Aku tidak peduli, ayah! Yang kuinginkan hanya Giselle; aku tidak peduli meskipun dia adalah adikku!"
Gilbert menarik pistol yang diselipkan di pinggangnya dan menembakkannya ke arah Antonio. Peluru panas yang dimuntahkan pistol itu menembus dada Antonio dan menghentikan detak jantungnya dalam sekejap. Sang pangeran España jatuh bermandikan darah.
Giselle dan hadirin wanita menjerit. Permaisuri memeluk Dietrich yang masih kecil dengan erat agar jangan sampai melihat kejadian itu.
"Meister Antonio! Meister!" Giselle memangku calon suaminya yang sudah tak bernyawa itu sambil menangis. "Meister Antonio!"
Gilbert tidak membuang kesempatan. Dia melompat melewati meja dan menarik tangan Giselle hingga sang putri berdiri.
"Bruder?" Giselle terkejut.
"Pendeta, cepat nikahkan kami berdua!" Paksa Gilbert. Tangan kanannya menahan Giselle dengan kuat.
"Tapi, Yang Mulia..."
"Cepat!" Ancam Gilbert dengan pistol di tangan kirinya.
Suasana semakin tegang. Raja memberikan isyarat kepada putranya yang lain, Vash Zwingli. Vash mengangguk, dia menyergap Gilbert dari belakang dan menjambret pistolnya. Giselle yang terbebas kembali ke arah mayat calon suaminya, memeluknya sambil menangis dan dia terus memanggil-manggil namanya. Para pengawal mengamankan sang putri.
"Gilbert, kelakuanmu sudah tak termaafkan. Kurung dia di penjara bawah tanah, dan mulai hari ini, Giselle Maria Beilschmidt adalah putri mahkota Königreich Preußen yang baru."
Ultimatum Magna Germania memukul telak Gilbert. Dari sudut matanya, dia melihat Giselle yang masih saja tidak mau melepaskan mayat Antonio, dan jeritan kesedihannya masih terekam dengan jelas di benak Gilbert bahkan setelah pintu tertutup...
"MEISTER ANTONIO!"
-x-x-x-
"Hah!" Amaria terbangun dengan kaget.
"Kau sudah sadar? Syukurlah."
Mata Amaria melotot. Dia melihat Arthur Kirkland, tetangganya, duduk di sampingnya. "Arthur...?"
"Iya, ini aku. Aku kaget sekali saat menemukanmu pingsan dan kepalamu berdarah, maka kupindahkan kau ke ranjang dan kubalut lukamu."
Amaria meraba kepalanya. Dia merasa masih sedikit pusing.
"Apakah kau sudah merasa baikan?" Tanya Arthur.
"Iya... Sedikit."
Arthur menghela nafas lega. "Biar kubuatkan teh untukmu."
Arthur pergi ke dapur dan meninggalkan Amaria sendiri. Sementara Amaria masih tak bisa melupakan mimpinya tadi. Mimpi yang sangat nyata untuknya.
Sedikit demi sedikit Amaria mulai tahu masa lalu Beilschmidt Mansion. Namun dia masih belum bisa menyimpulkannya, hal itu masih menjadi misteri baginya.
Keindahan yang menyelimuti Beilschmidt Mansion menyimpan sebuah misteri yang harus Amaria pecahkan, agar dia tahu apa yang terjadi pada rumah ini.
-TO BE CONTINUED-
Note:
-Fratello maggiore: Kakak laki-laki
-Sorella: Adik perempuan
-Mio Dio: Tuhanku
-Grazie: Terimakasih
-Mademoiselle, signorina, senorita, fraülerin: Nona (bhs. Prancis, Italia, Spanyol, dan Jerman)
-Senor, meister: Tuan (bhs. Spanyol dan Jerman)
