Iyey!
Sudah 2 chapter belum ada repiw juga... TwT *pundungisme*
Aaah ya sudahlah! Mari kita sambut chapter 3~~~!
Discl: Hidekaz Himaruya-sensei~~ (lupa cantumin disclaimer di chappie 2~)
"Ini tehnya."
Arthur kembali dengan secangkir teh mint di tangannya.
"Grazie. Tolong taruh di meja saja."
Arthur menaruh cangkir teh di meja, kemudian berjalan mendekati Amaria.
"Apa kau yakin sudah baikan, Amaria?"
"Iya, aku betul-betul sudah tidak apa-apa."
"Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu, jika ada apa-apa hubungi aku saja."
Arthur mengecup lembut dahi Amaria, kemudian meninggalkannya sendiri di kamar.
Setelah memastikan bahwa Arthur sudah benar-benar pergi, Amaria turun dari ranjang. Dia berjalan perlahan keluar kamar dan dia melihat sesuatu yang membuatnya terjatuh.
Sesosok gadis yang mengenakan gaun pengantin, berdiri di depan pintu gudang. Rambutnya panjang, berwarna putih keperakan. Dia masih mengenakan tiara dan mahkota kecil. Gaun pengantinnya kotor karena bercak darah kemerahan yang jelas sekali terlihat. Meskipun begitu, dia tidak terlihat menakutkan. Bagi Amaria, wajah gadis itu terlihat sedih.
Gadis itu menoleh kesana-kemari, seperti kebingungan. Kemudian menghilang begitu saja, meninggalkan tetesan air mata di lantai. Amaria bergegas menyelidikinya.
"Ini air sungguhan... Mungkinkah roh menangis...?" Gumam Amaria. Tak lama kemudian, dia mendengar suara kelontangan di lantai 2. Bergegas dia naik ke atas dan membuka pintu kamar terdekat, dia melihat burung perak itu bertengger di jendela.
Nyali Amaria menciut. Gara-gara dia mengusir burung itu, kejadian-kejadian dan mimpi-mimpi aneh selalu menghantuinya. Belum lagi nama yang terpahat di kamarnya... Amaria merasa nama itu bukanlah sembarang nama.
Kaki Amaria menyandung sesuatu. Dia mengambilnya dan ternyata itu adalah sebuah buku harian.
"Buku harian?" Amaria membersihkan debu yang menempel, kemudian turun ke bawah. Dia membuka halaman pertama dan dia melihat tulisan indah khas gadis bangsawan tergores di situ.
"Giselle Maria Beilschmidt..." Amaria membaca nama itu. Kemudian membuka halaman kedua.
"Dear diary, tanggal xx bulan xx tahun xxxx. Hari ini aku mulai beranjak dewasa. Namun tingkah laku Bruder semakin aneh..."
-x-x-x-
"Giselle."
Giselle menoleh dan dia melihat kakaknya, Gilbert. Giselle menghampirinya dengan riang.
"Bruder! Aku senang sekali Bruder datang kemari."
Giselle tidak menyadari raut wajah Gilbert yang berubah.
"Ada keperluan apa sehingga Bruder datang kemari?"
"Anu... Giselle, maukah kau..."
"Rupanya kalian di sini," Permaisuri datang menghampiri mereka. "Mari kita masuk, sebentar lagi pestanya akan dimulai."
Giselle mengangguk dan dia mengikuti Permaisuri dengan wajah cerah. Hanya Gilbert yang masih terdiam...
-x-x-x-
Amaria membuka halaman berikutnya.
"Dear diary, tanggal xx bulan xx tahun xxxx. Hari ini Onkel Francis datang ke rumah. Tapi beliau tidak sendiri, beliau datang bersama temannya, pangeran negeri Espana. Namanya Antonio Fernandez Carriedo. Namun dia memintaku memanggilnya Antonio saja. Atas usulan Onkel, kami jalan-jalan berdua di taman. Namun tampaknya Bruder tidak senang..."
-x-x-x-
"Bonjour, mon cheri." Sapa Francis Bonnefoy kepada Giselle yang tengah belajar di taman. Namun reaksi Giselle tidak seperti yang diharapkan Francis, gadis cantik itu lari lalu bersembunyi di belakang pengasuhnya.
"Ah, Giselle," Pamannya menghela nafas. "Oh iya, Giselle. Ini temanku, Antonio Fernandez Carriedo. Dia pangeran negeri Espana."
Giselle melongok dari balik punggung pengasuhnya. Dia melihat seorang laki-laki muda berambut coklat pendek, berpakaian rapi selayaknya seorang pangeran. Mata hijaunya memancarkan keramahan dan kehangatan. Giselle terpana.
"Hola, princesa," Sapa Antonio. "Mi nombre es Antonio."
Giselle keluar dari tempat sembunyinya dan menghampiri Antonio. "Mi nombre es Giselle."
Francis kelihatan senang dengan lancarnya pertemuan ini. "Bagaimana kalau kalian berdua jalan-jalan di taman?"
Giselle tertunduk malu. Antonio tersenyum, dia meraih tangan sang putri dan membawanya jalan-jalan di taman kerajaan sambil mengobrol.
Tiba-tiba Gilbert muncul. Dia nampak tak senang dengan hal ini.
"Ah, Bruder," Giselle menyadari kehadiran kakaknya. "Bruder, ini..."
"Kenapa kau ada di sini, Antonio?" Tanya Gilbert tajam.
"Aku disini atas ajakan pamanmu. Kami tadi bertemu di gedung opera, kemudian dia mengajakku kemari. Dia bilang kalau dia punya sepupu cantik yang mungkin cocok denganku."
Kembali Giselle tertunduk malu. Gilbert makin tidak senang, dia menarik tangan Giselle, membawanya masuk ke dalam kastil.
-x-x-x-
Sejenak Amaria merasa berat untuk membuka halaman selanjutnya. Dia menaruh buku harian itu di meja. Kepalanya terasa pusing.
Amaria merasakan sesuatu melewatinya dengan begitu cepat. Dia terbangun dengan kaget.
'Apa itu tadi?' Batinnya.
Note:
-Onkel: Paman
-Mi nombre es... : Nama saya/namaku
Repiwnya dong~ dong~~ :3
