Chapter 4~ Chapter 4~ *nari-nari gaje*
Baiklah, saya mengaku keseluruhan cerita ini emang OOC banget dan di chapter depan rate akan jadi M, so kalo nggak suka nggak dibaca juga gapapa~
Oya, ketidak-akuratan waktu dalam fic jangan dihiraukan~ -dilindes panzer-
Discl: Hidekaz Himaruya-sensei~
'Apa itu tadi?' Batin Amaria. Dia berdiri dan menoleh kesana-kemari, namun tidak ada apa-apa.
Perasaannya mulai tidak tenang. Amaria berjalan ke dapur untuk membuat segelas coklat panas.
Telepon berdering di ruang tamu. Amaria kembali ke ruang tamu, menaruh gelasnya di meja, kemudian mengangkat telepon.
"Halo? Di sini Amaria."
Tidak ada yang menjawab.
"Halo?"
Tak ada yang menjawab. Amaria mengira itu adalah Feliciano yang usil, kemudian dia menutup telepon.
"Ada-ada saja, fratello Feli," Cibir Amaria, kemudian beranjak ke ruang keluarga untuk menonton televisi.
Dia tidak menyadari kilatan merah di jendela samping kanannya.
Tanggal 29 November. Halloween sebentar lagi. Amaria bermaksud untuk mengundang temannya merayakan malam Halloween di rumahnya, namun semua temannya ternyata sudah punya acara sendiri. Mau tidak mau Amaria merayakan malam Halloween sendirian. Maklum, di sekitar rumahnya tidak ada anak-anak.
"Ah, ternyata Arthur juga tidak ada," Keluh Amaria. "Mandi dulu, ah."
Amaria melempar jaketnya ke sofa kemudian dia beranjak ke kamar mandi. Setelah menanggalkan pakaiannya dia menyalakan shower dan mulai mandi.
Tiba-tiba airnya mati. Amaria sedikit terkejut.
"Kok mati, sih? Huh, dasar, apa mereka tidak pernah memperhatikan meteran air?" Gerutu Amaria. Terpaksa dia keluar dari kamar mandi dalam keadaan berhanduk. Sedikit berlari, dia kembali ke kamarnya dan berpakaian.
"Ah, iya, buku hariannya," Amaria melesat keluar setelah berpakaian. Tapi aneh, buku harian itu sudah raib.
"Bagaimana bisa... buku harian itu...?" Ketakutan mencekam Amaria lagi. Cepat-cepat dia kembali ke kamarnya dan memutuskan untuk tidur saja, meskipun malam belum juga setengahnya.
-x-x-x-
"Apa? Yang benar? Calon suami tuan putri Giselle dibunuh oleh pangeran Gilbert?"
"Iya! Pangeran Gilbert mengklaim kalau tuan putri Giselle itu adalah calon istrinya..."
"Bohong, ah! Beliau berdua kan kakak-adik!"
"Serius! Kasihan tuan putri Giselle... Calon suaminya dibunuh di depan matanya... Yang paling menyakitkan, yang membunuh kakaknya sendiri..."
"Shush! Diam kalian!"
Para pelayan kembali diam setelah dibentak Vash. Pangeran berambut pirang sebahu itu berjalan cepat ke penjara bawah tanah.
"Bruder Gilbert."
Gilbert menoleh dari balik jeruji.
"Ada apa, Vash? Apakah Vatti sudah memutuskan hukuman untukku? Hukuman matikah, atau hukuman buangkah?" Tanya Gilbert sedikit sinis.
Vash memandang kepada kakaknya itu agak dingin. "Keluarlah."
"Hah?"
"Keluarlah. Kau harus lihat oleh mata kepalamu sendiri."
Vash membuka gembok. Gilbert berdiri lalu keluar dari penjara. "Apa yang ingin kau perlihatkan?"
"Ikut aku."
Vash menarik tangan Gilbert dan membawanya ke atas dengan cepat. Gilbert sedikit terantuk-antuk ketika menyesuaikan langkah dengan Vash. Mereka berjalan keluar istana dan pergi ke mansion yang terletak tak jauh dari sana.
"Ada apa ini, Vash? Kenapa ramai sekali?" Tanya Gilbert heran. Vash tidak menjawab, dia terus membawa Gilbert masuk dan berhenti di lorong lantai 1.
"Lihat," Vash baru berbicara setelah mereka sampai. "Lihat akibat perbuatanmu, Bruder."
Apa yang dilihat Gilbert sungguh meremukkan hatinya. Giselle, adiknya yang sangat dia cintai itu, tergantung tak bernyawa di lorong lantai 1 di mansion itu. Dia masih mengenakan gaun pengantinnya, gaun yang sudah kotor terkena darah ketika Giselle memeluk Antonio yang tewas di hari pernikahannya.
"Apa-apaan ini... Apa yang terjadi, Vash? Kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Hah?" Gilbert meledak dan mencengkeram kerah baju Vash.
"Jangan salahkan aku! Harusnya kau tanya pada dirimu sendiri! Apa kau tak pernah berpikir kalau obsesi gilamu untuk menikahi Giselle itu membebani pikiran Giselle? Apa kau tahu bagaimana perasaan Giselle ketika calon suaminya kau bunuh di depan matanya? Hanya demi obsesi gilamu, Bruder! Dan kau tahu kalau Giselle Maria Beilschmidt itu adalah adik kandungmu sendiri!" Vash pun ikut meledak.
Seluruh tubuh Gilbert lemas. Dia berjalan terseok-seok ke arah mayat Giselle dan menurunkannya, kemudian menutup matanya dan memeluk tubuhnya yang dingin.
"Giselle, maafkan aku..." Bisik Gilbert terbata, meskipun dia tahu Giselle takkan bisa mendengarnya. "Kau pasti kesepian di sana... Bruder akan menemanimu, Giselle, jangan takut..."
Gilbert mengambil pistol yang diselipkan di pinggangnya. Masih pistol yang sama, yang dia gunakan untuk membunuh Antonio.
Vash bersiaga. "Bruder Gilbert, apa yang akan kau lakukan? Jangan nekat!"
"Sudah jelas, kan? Aku akan menemani Giselle di sana... Kau tahu dia paling takut sendirian..." Jawab Gilbert sambil menodongkan pistol ke kepalanya sendiri.
"Bruder!"
"Jangan mendekat!" Bentak Gilbert. "Jangan mendekat atau kau akan kubawa sekalian bersamaku!"
Vash tertahan.
"Nah, begitu lebih baik..." Gilbert mundur selangkah. "Giselle... Apa kau ketakutan? Apa kau sendirian? Jangan takut, karena sebentar lagi aku akan menemanimu, Giselle... Bruder akan menemanimu selama yang kau inginkan..."
Gilbert menarik pelatuk.
"Bruder Gilbert!" Teriak Vash.
DOR!
-x-x-x-
"Ah!" Lagi-lagi Amaria terbangun dengan kaget. Nafasnya memburu.
Tanpa dia sadari, dia menangis...
-TO BE CONTINUED-
Note:
-Vatti: Ayah
Review~ Review~ :3
