Berhubung sebentar lagi saya mo mudik dan kayaknya gak mungkin kabur ke warnet kalo dirumah, makanya dibuat double-update. fic ini juga sebenarnya mo dibuat one-shot makanya singkat. buat memperjelas, bagian flashback itu 5 tahun lalu, disini umur G saya buat 22 jadi umur di flashback 17
Disclaimer: KHR punya Amano Akira, andai saja punya saya... *mimpi aja lu sana!*
pair: G-ugetsu, slight 8059 and alaude-giotto
warning: chara death, OOC, AU, rada gj, shounen-ai
silahkan baca chap terakhir ini ^^
Chapter 2 and Epilogue
G akhirnya keluar dari rumah sakit dan beraktivitas seperti biasanya, hanya saja kali ini ada 1 kegiatan tambahan tiap dia pulang sekolah, mengunjungi Ugetsu. Hari ini pun dia tidak melupakan aktivitas itu, namun begitu membuka pintu dia terkejut setengah mati melihat Ugetsu batuk keras mengeluarkan darah.
"Ugetsu!" G hendak memanggil suster tapi Ugetsu menggelengkan kepala, pertanda tidak usah. Setelah beberapa menit batuk Ugetsu mereda.
"Tidak apa-apa?" Tanya G, membantu Ugetsu membaringkan badan. Ugetsu mengangguk pelan. "Perlu kupanggil dokter?" Kali ini dijawab dengan gelengan.
"G, mungkin sebaiknya kita tidak bertemu lagi." Kata Ugetsu dengan suara lemah.
"Apa maksudmu?" Tanya G, berusaha tidak mempercayai apa yang dia dengar.
"Jangan temui aku lagi…aku tidak ingin melihatmu."
"Jangan bercanda!" Seru G.
"Aku tidak bercanda. Selama ini aku mau bersamamu hanya karena aku kesepian terus berada di rumah sakit." Ucap pemuda berambut hitam itu dengan nada dingin. Dia menatap lurus ke arah G, mengucapkan kalimat terakhir yang sangat menyakitkan. "Aku tidak pernah mencintaimu."
Ucapan itu seperti hantaman keras bagi G. Tidak ada yang bisa dia ucapkan, hanya terdiam, berusaha semua ucapan tadi hanya kebohongan, berharap ini hanya mimpi.
"Keluar G. Aku tidak mau melihatmu lagi."
-xXxXxXx-
Esok harinya G kembali. Dia masih tidak bisa menerima ucapan Ugetsu, dia butuh penjelasan yang sebenarnya. Hanya saja hari ini tidak terlihat siapapun di kamar itu, kosong.
"Kau mau menjenguk Ugetsu? Dia dipindahkan hari ini." Ucap suster yang kebetulan lewat.
"Kemana?"
"Maaf. Aku tidak bisa memberitahu, permintaan keluarganya."
Hari itu G mencari Ugetsu ke rumah sakit lain, tapi tidak ada satupun rumah sakit yang mengaku merawatnya. Dugaannya Ugetsu memang sengaja meminta pihak rumah sakit untuk tidak memberikan informasi. Dia terus mencari tapi berakhir dengan hasil nihil. Ugetsu benar-benar lenyap dari hadapannya.
Setelah dengan mengancam tidak akan mengizinkan Yamamoto menemui Gokudera lagi, G akhirnya berhasil membuat Yamamoto membawanya ke tempat Ugetsu.
Selama perjalanan G merasakan firasat tidak nyaman, Yamamoto memang sudah memperingatkan dia tidak akan suka dengan apa yang dia lihat tapi dia tetap bertekad akan kesana seburuk apapun keadaannya.
Yamamoto membawanya ke sebuah tanjung kecil di pinggiran kota yang menghadap ke laut. Pemandangannya seharusnya sangat indah tapi bagi G itu mimpi buruk saat melihat makam disana, nama 'Asari Ugetsu' terukir di batu nisan.
"Kakak meninggal 4 tahun lalu. Selaput di paru-parunya tidak normal sejak lahir, dokter sudah memprediksi umur kakak tidak sampai 20." Kata Yamamoto.
"Sejak kecil dia tahu hidupnya tidak akan panjang. Dia menghabiskan banyak waktunya di rumah sakit, meskipun begitu dia tetap berusaha santai agar orang lain tidak sedih dengan kondisinya." Yamamoto melanjutkan meski G tidak merespon, pandangannya masih terpaku pada makam Ugetsu.
"Kakak pernah bilang, saat-saat terbaiknya di rumah sakit saat dia ditemani oleh orang yang sangat memperhatikannya. Dia dan teman-temannya sangat akrab, bahkan tanpa ragu menganggap kakaksebagai bagian dari mereka padahal kakak mengenal mereka tidak lama."
G bergerak mendekati makam, memegang erat batu nisannya.
"Kalau begitu kenapa dia menghilang dari hadapan kami?"
Yamamoto menyerahkan selembar surat. "Semua jawabannya ada disitu."
Dengan tangan gemetaran G membukanya. Dia mengenali tulisan di surat itu, tulisan Ugetsu.
G, kalau kau membaca surat ini artinya kau sudah bertemu dengan Takeshi. Entah bagaimana kalian bertemu, tapi aku harap bukan dalam masalah. Dan kalau kau membaca ini, itu artinya aku sudah tidak ada di dunia ini lagi.
Kau pasti bertanya-tanya kan kenapa aku menghilang dari hadapanmu? Apa kau sadar aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku? Itu karena aku sangat menyayangimu. Aku terlalu menyayangimu dan tidak ingin melihatmu terlalu mencemaskanku atau bersedih karena aku harus meninggalkanmu selamanya. Karena itu aku harus menghilang dari hadapanmu.
G, maaf sudah melukai perasaanmu dengan kata-kata terakhirku. Semua yang kukatakan waktu itu bohong. Aku ingin terus berada disisimu tapi kalau itu kulakukan aku hanya membuatmu sedih. Waktuku sudah tidak banyak dan aku takut satu-satunya cara untuk berpisah denganmu hanya dengan mengatakan kata-kata kejam. Aku benar-benar minta maaf.
Waktu yang kuhabiskan denganmu adalah momen terbaik dalam hidupku yang singkat ini. Aku sangat senang bisa berkumpul dengan teman-temanmu, bercanda bersama, semuanya menyenangkan bagiku. Belum pernah aku sebahagia itu. Dengan keberadaanmu, aku semakin merasa kebahagiaan ini sempurna. Tapi aku tahu, momen sempurna itu adalah hadiah terakhir Tuhan untukku sebelum dia mengambil nyawaku. Kau masih ingat saat Giotto mengajak kita keluar berempat? Aku ingin sekali pergi tapi aku sadar, dengan kondisi seperti ini jangankan keluar rumah sakit, aku sudah beruntung tidak perlu ditempatkan di ICU. Jujur aku sempat takut harus berpisah dengan kalian, tapi kebahagiaan kalianlah yang terpenting bagiku, dan kalau kematianku hanya membuat kalian sedih, sebaiknya kalian tidak pernah tahu.
Kau ingat kata-kata terakhirku sebelum mengusirmu keluar? 'Aku tidak pernah mencintaimu'. Mengucapkan itu adalah penyesalan terbesarku. Aku ingin memutar balik waktu dan mengatakan ini, aku mencintaimu G, sangat mencintaimu.
Kumohon setelah kau membaca surat ini, jangan bersedih atas kepergianku. Aku terus berada disisimu.
Mata G terasa pedas menahan airmata yang dia tahan sejak awal membaca surat terakhir dari Ugetsu. Sekarang penjelasan yang dia inginkan sejak 5 tahun lalu terjawab semua. Dia tidak menyangka Ugetsu bertindak sejauh ini hanya untuk tidak membuatnya sedih.
"Terus berada disisiku? Tapi kau sudah tidak disini." Guman G, semakin menggengam erat nisan makam sampai tangannya berdarah.
"Sebenarnya ini rahasia, tapi kurasa kau perlu tahu." Ucap Yamamoto. "Coba kau lihat tanggal di makam itu."
Disitu tertera bulan kematian Ugetsu adalah akhir April.
"4 tahun lalu, awal bulan Mei, kau menjalani operasi transplantasi jantung kan."
G terbelalak kaget. "Tidak mungkin….." Batinnya.
"Biarpun kondisi paru-paru kakak rusak tapi dia tidak pernah mengeluh hal itu, dia bahkan mendonorkan organnya yang bisa didonorkan, salah satunya jantung. Dia meminta dokter untuk memeriksa apa jantungnya cocok dengan salah satu pasien di daftar penerima donor, yang ternyata cocok."
"Apa maksudmu…." G tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Orang yang menerima jantung kakak itu kau."
G sudah tidak sanggup berdiri, seketika itu dia terjatuh didepan makam Ugetsu. Airmata yang sejak tadi dia tahan akhirnya mulai menetes perlahan. Semua yang dia terima hari ini terlalu megejutkannya.
Perlahan Yamamoto meninggalkan G sendirian, memberikan privasi. Gokudera yang sejak tadi bersembunyi dibalik pohon keluar.
"Apa tidak apa-apa memberitahu G semua itu?" Tanya Gokudera.
"Aku sendiri juga tidak ingin tapi kupikir lebih baik dia mengetahui semuanya."
Gokudera hanya diam, bukan sikap biasanya, dan mendadak memeluk Yamamoto.
"Kau tidak akan meninggalkanku kan? Aku tahu ini egois, tapi aku tidak akan sanggup menahan penderitaan seperti yang G alami." Kata Gokudera lirih, membenamkan kepalanya di dada Yamamoto.
Yamamoto tersenyum tipis lalu melingkarkan tangan kirinya di pinggang Gokudera sementara tangan kanannya mengusap kepala pemuda berambut abu-abu itu. "Aku sudah berjanji pada kakak. Dia memang tidak bisa membahagiakan orang yang dia cintai tapi aku harus bisa. Aku bisa dimarahi kakak kalau meninggalkanmu."
Epilogue
"Tidak kusangka Ugetsu menyembunyikan semua ini." Guman Giotto yang baru diberitahu masalah Ugetsu. "G masih shock."
"Siapapun akan bereaksi sama kalau kondisinya seperti itu." Balas Alaude.
"Hmm, kau benar." Giotto menghela nafas dan menatap keluar jendela. "G pasti mendengarkannya lagi."
Rumah G…
Nyaris tidak terlihat aktivitas di rumah itu. Gokudera masih berada di sekolah karena kegiatan klub sementara G berbaring di kamarnya. Tangan kirinya digunakan menutupi wajah, ditelinganya terpasang headphone, walkman yang diletakkan disamping tempat tidur terus mengulang-ulang 1 musik. Musik terakhir yang dibuat oleh Ugetsu khusus untuknya. Alunan seruling di musik itu seakan berusaha menyampaikan seluruh perasaan Ugetsu pada G, melodi yang ceria tapi juga sedih. Tangan kanannya diletakkan diatas badan dan ditangan itu tergenggam seruling kesayangan Ugetsu.
Yamamoto memberikan rekaman musik beserta seruling itu sehari setelah G mengetahui kenyataan tentang Ugetsu. Dia bilang kakaknya menginginkan G memiliki semua itu. Awalnya G enggan menerima, barang-barang itu hanya menguatkan kenyataan Ugetsu sudah tidak ada tapi akhirnya dia menerima.
Meski sempat berpikir untuk menyusul Ugetsu, G membatalkan niat itu. Dia tidak ingin mengecewakan Ugetsu dengan menyia-nyiakan hidup yang diberikan untuknya. Lagipula Ugetsu tidak lenyap sepenuhnya, jantung yang terus berdetak didalam dirinya itu adalah buktinya.
me: kok bisa gw tega bikin fic angst kayak gini? *nangis sesengukan*
G: gah, lain kali gw gak bakal ngizinin nih anak bikin fic kalo lagi stres. Apa-apaan fic ini! Sejak kapan gw mau nangis2 didepan makam Ugetsu! Lu seneng bener bikin gw OOC!
Ugetsu: maa, maa, jangan marah-marah G *angelic smile*
G: *blushing kayak tomat*
me: protes soal OOC padahal sendirinya blushing terus kalo ketemu Ugetsu
Makasih buat yang udah baca fic ini ^^ jangan lupa review ^^
