Disclaimer : I do not own Shugo Chara. Characters are belong to PEACH-PIT

Genre : Romance

Rated : T

The Necklace is Yours

Chapter 3

RIMA'S POV

"Hei, kalian. Ayo bangun. Kita sudah sampai." Kata sebuah suara. Ng... ? Memangnya sudah sampai ? Oh, paling baru sampai di POM bensin lagi. Ya.. Pasti begitu.. Sebaiknya aku melanjutkan tidurku saja deh..

"Rima-chan, bangun.." Suara lain berkata padaku.

Ah.. Nggak mauu ! Aku masih ingin tidur, jangan ganggu aku !

"Rima-chan, kita sudah sampai lho.." Suara itu tetap saja ngotot. Bahkan sepertinya bersuara di dekat telingaku.

"Rima-chaan~"

"BERISIK !" Kataku kesal sambil bangun dari tidurku. Samar-samar terlihat Nagihiko di hadapanku. Dia menutup telinganya sambil meringis.

"Hebat juga teriakanmu," Kata Nagihiko. "Telingaku sampai berdenging gara-gara mendengar teriakanmu." Lanjutnya.

Huh, malah bagus kalau lebih parah.

Aku melihat sekeliling, aku masih berada di mobil Utau, tetapi di mana teman-teman ? Kenapa yang ada hanya cowok ( aku nggak yakin) menyebalkan ini ? Seakan tahu pikiranku, Nagihiko melanjutkan kata-katanya.

"Semuanya sudah berada di penginapan Tsukiyomi. Aku di sini bertugas membangunkanmu. Habis dari tadi cuma kamu yang belum bangun." Jelas Nagihiko.

"O-oh.." Aku memalingkan muka. Sedikit malu karena aku terlihat seperti orang bodoh yang tidak bisa bangun sendiri. Aku langsung bangkit dari tempatku dan segera keluar dari mobil. Lalu menuju bagasi dengan perlahan. Tapi tidak ada barangku di situ.

"Barangmu sudah aku bawa. Kamu tinggal menuju penginapan saja. Ayo." Nagihiko mengulurkan tangannya padaku, tetapi aku mengabaikannya dan langsung berjalan ke penginapan.

"Ah, Rima-chan. Kamu sudah datang. Gimana tidurmu ? Kelihatannya tidurmu pulas sekali sampai-sampai tak bisa dibangunkan." Kata Amu sambil nyengir kuda. Aku hanya mendengus pelan.

"Oh ya, kita satu kamar lho. Sini aku tunjukin kamarnya. Barangmu sudah ada di dalam." Kata Amu lagi. Aku mengikutinya menuju kamar. Begitu sampai Amu berbicara lagi

"Hei, jangan kaget ya." Aku nggak mengerti apa maksudnya. Setelah pintu kamar dibuka aku kaget melihat isinya. Kamarnya didominasi cat berwarna peach dengan lukisan di mana-mana. Termasuk jam dinding antik berwarna perak. Lantai parquet kayu yang sangat halus. Di pojok terdapat satu set victorian bedroom dengan seprai warna krem. Di depan tempat tidur ada TV plasma. Tepat di tengah ruangan, ada karpet extacy bermotif unik. Lalu di sudut ruangan ada lampu kamar berwarna putih. Selain itu ada 2 pintu lagi. Yang satu pasti pintu kamar mandi, yang satunya.. mungkin beranda.

"Gimana menurutmu ?" Tanya Amu mengingat aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

"I.. ini hotel ya ?" Kataku setelah sadar dari kekagetanku. Ya, kamar seperti ini pasti hanya dimiliki oleh hotel.

"Bukan, Rima-chan. Ini penginapan."

"Yang kamu maksud jangan kaget itu ini kan ?"

Amu nyengir kuda lagi. Bahkan cengirannya melebihi kuda.. "Aku diberitahu Ikuto soal kamar ini sebelumnya, jadi aku nggak begitu kaget."

"Sudahlah, ayo masuk. Kita tata barang-barang kita." Amu menarikku ke dalam kamar. Wah, dilihat dari dekat kamar ini benar-benar mewah..

"Rima-chan, kamu mau tidur di mana ?" Tanya Amu.

Aku melihat tempat tidur sebentar lalu berpaling ke arah Amu. "Aku yang di dekat jendela saja."

"Oke deh." Begitu Amu selesai ngomong, terdengar ketukan pintu.

"Kamu yang buka ya Rima-chan. Barang-barangku masih belum beres nih." Kata Amu. Tanpa mengeluh aku bangkit dan membuka pintu.

"Hey, Rima-chan." Ternyata Nagihiko. Uh, kenapa dia selalu muncul terus sih di hadapanku ?

"Ngapain kamu ke sini ?"

"Cuma mau bilang, jam 10 nanti disuruh ke bawah untuk makan. Bilang Amu-chan juga ya."

Aku melirik jam dinding di kamarku. Jam 09. 45.

"Ya ya. Nanti aku bilang. Sekarang cepat keluar sana. " Aku mendorong Nagihiko keluar kamar karena dia sempat masuk ke dalam kamar. Karena aku mendorongnya dengan tiba-tiba, Nagihiko jadi tersandung. Sewaktu dia bangkit, ada barang yang terjatuh. Aku memungutnya. Sebuah kalung army.

"Sejak kapan kamu hobi mengoleksi kalung ?" Aku menyerahkan kalung itu pada Nagihiko.

Nagihiko langsung menyimpan kalung itu di saku celananya. "Ah, kan wajar saja Rima-chan."
"Oh iya ya, kamu kan dulunya cewek." Kataku sambil tersenyum menyeringai padanya. "Pantas saja." Lanjutku.

"Haha, ya sudah lah Rima-chan, aku kembali ke kamarku dulu." Nagihiko meninggalkan kamarku.

Begitu aku membalikkan badan, sudah ada Amu di depanku. Wah, jangan-jangan dia mendengar ucapanku barusan ?

"Rima-chan akrab ya sama Nagihiko ?" Aku melongo. Kukira Amu mau menanyakan apa.. Aku memutar mataku. Memangnya aku kelihatan akrab sama dia ?

* * *

"Aaah, Yaya kenyang ! Masakannya enak sekali, bikinan siapa nih Utau-chan ?" Tanya Yaya seusai makan.

"Tentu saja koki pribadi kita." Jawab Utau sambil meletakkan sendok dan garpu di atas piring.

"Hee ? Kalian punya koki pribadi ? Berarti tiap hari dimasakkin makanan enak terus dong." Kukai berkata takjub.

"Iya dong." Utau berkata dengan nada sedikit sombong.

"Oh, iya. Nii-san. Kapan kita ke pantainya ?" Tadase menyela pembicaraan.

"Kalian mau ke pantai sekarang ?"

"Mau ! Yaya ingin berenang di pantai !" Jawab Yaya

"Kalau gitu kalian ganti dengan baju renang dulu sana. Aku tunggu di pantai ya."

* * *

Uh. Aku benar-benar tidak mengerti.

Kenapa orang tahan berenang di saat matahari berada tepat di atas kita ?

Padahal itu membikin kulit jadi belang dan terbakar.

Ya, memang aku ini anti matahari. Kalau terlalu lama berada di bawah matahari, kulitku bisa memerah.

Dulu waktu kecil, aku pernah dipaksa berada di bawah matahari dengan alasan untuk kesehatan.

Dan hasilnya ?

Aku terpaksa di bawa ke dokter kulit karena hampir seluruh kulitku terbakar. Butuh waktu sebulan untuk memulihkan kulitku agar kembali seperti semula.

Sejak saat itu aku benci terpapar sinar matahari.

"Rima-chan ! Kamu ngapain ?!" Teriak Amu begitu melihatku. Saat ini aku sedang bersantai di kursi pantai, lalu kedua tanganku masing-masing memegang majalah dan minuman. Plus aku memakai kaca mata hitam.

"Berisik ah, memangnya kamu tidak tahu kalau ada orang memakai kaca mata hitam artinya tidak ingin diganggu ?" (A/N : baca Shugo Chara manga chapter 18). Dasar, bukannya dulu Amu pernah aku beritahu ? Masa dia tidak ingat sih ?

"Memangnya aku peduli ? Semua sedang bermain air lho. Kenapa kamu tidak ikut ?"

Bermain air ? Seperti anak kecil saja. Lagian aku tidak tahan matahari.

"Yah, kamu tahu kan aku sedang sibuk ?"

"Tapi katanya mereka mengadakan lomba renang."

Apalagi itu. Selain anti matahari, aku juga tidak bisa berenang.

Tapi tentu saja aku tidak akan memberi alasan itu pada Amu.

"Aku nggak tahan terkena matahari lama-lama. Jadi aku nggak mau berenang."

"Oh ya ? Jangan-jangan kamu tidak bisa berenang Rima-chan ?" Suara itu mengagetkanku. Nagihiko ! Lagi-lagi dia !

"Siapa bilang ? Lagian alasan aku nggak mau berenang karena aku nggak tahan sama matahari." Aku mencoba membuat alasan yang bagus.

"Benar ?" Nagihiko tersenyum menyeringai padaku. Sial, dia memojokanku.

"Ah, iya iya. Aku memang tidak bisa berenang ! Puas kamu ?" Kataku sambil memalingkan muka. Uh, terpaksa aku mengaku. Wajahku pasti sudah memerah saking malunya.

Nagihiko tertawa. "Hahaha. Wajahmu lucu sekali Rima-chan.." Perkataan itu membuat aku cemberut.

"Kalau kamu tidak bisa berenang, minta ajari Nagihiko saja." Kata Amu. Sial, aku lupa kalau Amu masih berada di sini.

"Nggak mau !" Kataku tegas.

"Eh, harus mau Rima-chan !" Sebelum aku menjawab, Amu sudah menarik tanganku ke tepi pantai.

* * *

AMU'S POV

"Nggak mauuu !!" Rima berteriak seakan dia baru saja diseret ke penjara.

"Kamu harus mau Rima-chan, tenang saja. Airnya dangkal kok." Aku tetap memegang erat lengan Rima sambil masuk ke dalam air.

"Eng.. Amu-chan. Kurasa kamu berlebihan." Ternyata Nagihiko mengikutiku dan Rima sampai ke dalam air.

"Ah, Nagi ! Tolong kamu ajarkan Rima-chan ya." Kataku.

"Eh.. Tapi kelihatannya Rima-chan tidak mau kuajari~eh b-baiklah.." Haha, tatapan memohonku memang selalu berhasil untuk Nagihiko. Lalu aku segera keluar dari air sambil tersenyum-senyum sendiri.

"Apa sih rencanamu ?" Tiba-tiba Ikuto sudah berada di depanku.

"Eh ? Hanya ingin mereka berdua menjadi lebih dekat kok. Gimana ? Aku cocok menjadi cupid kan ?" Jawabku.

"Hmm, ya," Kata Ikuto. "kalau begitu aku boleh minta tolong padamu supaya aku bisa lebih dekat dengan seseorang ?" Lanjutnya.

"Eh ? S-siapa ?"
"Kamu."
Mukaku memerah. "Ah ! Dasar jahil ! Aku kira siapa !"

"Pasti kamu deg-degan kan sekarang ?" Ikuto tersenyum menyeringai padaku.

Aku spontan memukul pelan bahunya. "Enggak lah !"

NORMAL POV

"Baiklah, pertama kamu harus bisa meringankan tubuhmu di atas air.." Nagihiko menjelaskan kepada Rima.

"Boleh aku selesai sekarang ?" Tanya Rima.

"Rima-chan, ini bahkan belum ada 10 menit."

Rima mendengus lalu melirik ke arah Amu. Ternyata Amu masih sibuk sama Ikuto.

'Awas kamu ya Amu' Kata Rima dalam hati.

"Rima-chan, kamu mendengarkan ?" Rima tersadar lalu menoleh ke arah Nagihiko.

"Kamu tidak mendengarkan ya ?" Tanya Nagihiko.

"Eh.. Habisnya dari tadi kamu mengoceh panjang lebar terus. Aku jadi bosan.." Rima menguap.

"Oh, kamu ingin langsung latihan berenang ? Ayo, nggak apa kok." Nagihiko menuntun Rima ke permukaan air yang lebih dalam-bagi Rima, karena badannya lebih pendek daripada Nagihiko.

"Hei, tunggu ! Ini terlalu dalam !" Rima tidak merasakan kakinya berpijak pada daratan. Dia meronta-ronta.

"Nggak apa Rima-chan."

"T-tapi..."

"Sudah, sekarang coba kamu meluncur dengan kedua tanganmu dari sana." Nagihiko menunjuk ke air yang lebih dalam lagi.

"Apa ? Gimana kalau aku tenggelam ?"

"Kamu nggak bakal tenggelam. Aku bakal memegangimu kok. Kamu mulai dari batu karang yang di sana ya." Nagihiko mengantar Rima ke batu karang. Lalu menjauh dari Rima kurang lebih sejauh 5 meter.

"Sudah siap ? Ayo mulai !"

Rima meluncur dengan menendang batu karang. Awalnya dia meluncur dengan mulus. Tetapi tiba-tiba dia merasa kakinya sakit seperti keram. Rima tidak bisa bertahan lebih lama lagi di atas air. Dia pun tenggelam. Berusaha naik ke permukaan air, tetapi nafasnya sudah tidak kuat. Dia mulai tidak sadarkan diri. Matanya sudah tidak bisa melihat sekeliling. Termasuk seseorang yang menyelamatkannya.

* * *

RIMA'S POV

Gelap.

Aku tidak bisa melihat sekitarku.

Yang kulihat hanya kegelapan.

Aku mendengar suara Amu yang histeris meminta pertolongan.

Oh, ya. Aku kan tenggelam. Gara-gara aku menendang batu karang terlalu kuat. Konyol sekali.

"Rima-chan !" Aku mendengar suara seseorang. Walaupun aku tidak bisa melihatnya tapi aku bisa merasakan kedua tangannya mengangkatku ke permukaan air. Tetapi aku sudah tidak sadarkan diri.

NAGIHIKO'S POV

Aku merasa bersalah pada Rima.

Ya, Rima tenggelam gara-gara aku yang menyuruhnya berenang.

Aku lihat kakinya terluka. Pasti dia menendang batu karang terlalu kuat. Lagi-lagi aku yang menyuruhnya.

Harusnya aku tidak membawanya ke air yang dalam-baginya.

Sewaktu dia tenggelam, aku langsung meluncur menyelamatkannya. Karena memang itu tanggung jawabku. Aku berhasil mengangkatnya ke permukaan air, tetapi dia sudah tak sadarkan diri. Amu menawarkan supaya dia yang merawat Rima tapi aku menolak. Segera kubawa Rima ke kamarnya. Selagi aku mengambil obat Amu sudah menggantikan bajunya Rima dan membalut luka di kakinya. Jadi sekarang aku tinggal meemberinya obat-lewat mulut tentunya karena dia pingsan. Lalu aku menungguinya sampai aku tertidur.

RIMA'S POV

Aku membuka mata perlahan. Aku berada di kamarku. Siapa yang membawaku ? Aku melihat ke samping tempat tidurku.

Terlihat Nagihiko tertidur di kursinya.

Nagihiko ?

Jangan-jangan dia yang membawaku ?

Uh, kakiku sakit ! Begitu aku melihatnya, ternyata diperban.

CKLEK ! Pintu kamarku terbuka. Amu datang sambil menunjukkan wajah kaget.

"Rima-chan ! Kamu sudah sadar !" Tentunya dia berkata seperti ini dengan berbisik karena ada Nagihiko yang sedang tertidur.

"Emm.. Amu-chan. Siapa yang membawaku kemari ?"

"Oh, itu Nagihiko. Dia juga yang menyelamatkanmu."

Sudah kuduga.

"Hei, kamu sudah meminum obatnya ya ? Syukurlah, kupikir kamu belum meminumnya." Amu melihat ke meja kecil di samping tempat tidurku. Ada segelas air putih dan sebungkus obat.

Eh ? Masa aku meminumnya ? Seingatku belum deh.

"Kalau begitu, kutinggal ke bawah ya. Kamu istirahat dulu aja. Nanti kalau sudah baikan, kamu boleh bangun. Oh ya, nanti malam ada pesta barbeque. Semoga nanti kamu bisa ikut." Amu meninggalkan ruangan.

Aku tidak peduli soal pesta barbeque. Yang kupedulikan siapa yang meminumkan obat padaku ? Mataku tertuju ke arah Nagihiko yang sedang tertidur.

M-masa dia sih ?

TO BE CONTINUED

* * *

(A/N) Akhirnya Chapter 3 updated juga ! Maaf kalo lama ya updatednya. Soalnya authornya lagi disibukkin sama ujian. Jadi telat deh nulisnya. Terus, makasih banyak yang udah review,(Ichikawa Ami, Runa Tsukiyomi, dan JuZt DrEam) sama yang udah add cerita ini jadi favorite story. Huhu, saya terharu :') Oh ya, saat ini saya lagi dalam proses pembuatan cerita baru nih. Nanti tokoh utamanya ada 3. Amu, Rima dan Utau. Tapi ceritanya masih harus digodok. Jadi sepertinya publishnya masih lama. Yang penting please R&R this story !