Disclaimer : I do not own Shugo Chara. Characters are belong to PEACH-PIT
Genre : Romance
Rated : T
The Necklace is Yours
Chapter 4
Malamnya...
"Rima-chan! Ayo ke sini, kita main kembang api sama-sama!" Panggil Amu dari luar penginapan.
"Nggak mau." Jawab Rima lesu, tangannya masih sibuk membaca majalah.
"Kau ini.. sikapmu benar-benar tidak menunjukan kalau kamu baru sakit." Suara Nagihiko tiba tiba terdengar dari belakang.
Rima terkesiap, tiba-tiba badannya jadi tegang.
"Hei, kamu sudah baikan Rima-chan?" Tanya Nagihiko, kali ini posisinya sudah berada di depan Rima. Kedua mata mereka saling beradu. Rima cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
"..Iya.." Jawab Rima lirih
"Oh, baguslah. Kalau begitu aku gabung sama teman-teman dulu ya. Kalau ada sesuatu, bilang saja ke aku."
"Bilang saja ke dia? Nggak akan pernah" Pikir Rima.
"Baiklah, sekarang mari kita mulai inti dari pesta kembang api ini." Kata Utau.
"Apa itu?" Amu bertanya penasaran.
Utau bangkit dari duduknya dan segera menunjuk Kukai dengan gara arogannya.
"Hei! Ayo kita tanding ramen! Yang paling banyak menghabiskan ramen berarti dia yang menang!"
Mata Kukai membesar lalu dia mulau tersenyum. "Oke, tantangan diterima. Dimana kita bertanding Utau?"
"Di sini. Tadase! Ambilkan beberapa ramen yang sudah dimasak!" Utau melihat sekeliling, tetapi Tadase tidak ada. "Kemana dia?" Tanya Utau. Tak lama Tadase muncul lengkap dengan semua tasnya.
"Em.. Nii-san, maaf aku harus pulang sekarang. Tiba-tiba Betty (anjing peliharaan Tadase-red) sakit, jadi aku harus mengurusnya."
"Oh begitu, ya udah nanti biar aku suruh supir yang mengantarmu pulang." Ikuto tiba-tiba yang berbicara, karena pertandingan antara Utau dan Kukai sudah dimulai.
"Ee..Ikuto, katanya Tadase-kun pulang duluan ya?" Amu bertanya setelah Tadase sudah berangkat.
"Iya, kenapa? Sedih ya? Jangan khawatir, kan masih ada orang lain."
"Maksudmu 'orang lain' ?"
"Tentu saja aku kan." Ikuto tersenyum menyeringai. Pipi Amu memerah
"P-pede sekali sih kamu, dasar kucing narsis."
"Hoo jadi aku ini kucing narsis ya? Tapi kamu suka kan?" Lagi-lagi Ikuto tersenyum menyeringai sambil membelai rambut Amu.
"S-siapa yang.."
"Amu, kupingmu sudah merah lho."
Amu yang sudah tidak tahan akhirnya meninggalkan Ikuto sambil marah-marah. Ikuto hanya tertawa karena berhasil mengerjai Amu.
Kira-kira sudah berapa lama Rima menunggu pesta kembang apinya selesai? 1 jam.. ah tidak mungkin lebih. Rima heran kenapa Utau dan Kukai masih saja memikirkan pertandingan memakan ramen, padahal mereka sudah makan barbeque sebelumnya. Perut mereka terbuat dari apa sih?
Karena Rima sudah dilanda rasa bosan, maka dia memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar pantai tanpa sepengetahuan siapapun. Akhirnya dia memutuskan untuk singgah sebentar di batu karang pinggir pantai.
"Ah, udara malam memang menyegarkan." Kata Rima sambil meregangkan kakinya yang pegal karena kelamaan duduk di bangku.
Kira-kira Rima berada di situ selama 15 menit. Setelah dia merasa mengantuk, dia berdiri dan berjalan pulang. Tetapi Rima tidak sadar kalau jalan yang dilaluinya tadi sudah tertutup oleh air pasang.
"Oh, sialan." Umpatnya. Untuk tak lama kemudian datanglah Nagihiko yang langsung menghampiri Rima.
"Rima! Kamu ini, semua orang mencarimu tahu! Untung tadi aku sempat melihatmu berjalan ke batu karang ini." Raut muka Nagihiko benar-benar terlihat cemas.
"Tunggu, barusan dia memanggilku Rima?" Mendengar itu wajah Rima menjadi panas
"Duh, kita tidak bisa kembali kalau air sudah pasang begini.. Apa boleh buat, terpaksa kita menunggu di sini. Kamu nggak apa kan Rima-chan?" Nagihiko memegang bahu Rima, tapi Rima menepisnya. Dia nggak ingin wajahnya terlihat oleh Nagihiko sekarang, entah kenapa.
"Nagihiko.." Panggil Rima
"Iya, Rima-chan?"
"Kamu sering memakai kalung itu ya?" Rima menunjuk kalung army milik Nagihiko.
"Oh, ini.." Nagihiko memegang kalung army miliknya. "Aku memang selalu memakainya, karena ini kalung yang berharga."
"Berharga..memangnya itu kalung pemberian siapa?" Tanya Rima. Entah kenapa dia sangat ingin tahu siapa yang memberikan kalung itu sampai-sampai Nagihiko menyebutnya kalung berharga.
Nagihiko terdiam sesaat lalu dia menjawab dengan pelan. "Ini pemberian mantan pacarku sewaktu aku di Amerika." Mendengar ini Rima langsung diam, nggak berkata apa-apa lagi. Badannya tiba-tiba menjadi panas.
"Rima-chan?" Nagihiko yang menyadari kondisi Rima aneh langsung mengecek suhu badannya. Panas sekali. Lalu tanpa basa-basi Nagihiko segera menggendong Rima sambil terpaksa menerobos air pasang. Sesampainya di penginapan, Rima langsung dibawa ke kamar oleh Nagihiko dan langsung dirawat oleh Amu.
TO BE CONTINUED
Pertama saya mau minta maaf karena hiatus terlalu lama, ini karena saya sedang disibukkan oleh aktifitas sekolah. Gomen untuk para readers yang udah nungguin cerita ini . Saya akan usahakan untuk mempublish cerita saya yang lain secepatnya.
Oh ya, chapter selanjutnya bakal jadi chapter terakhir untuk cerita 'The Necklace is Yours' jadi semoga saya bisa menyelesaikannya secepat mungkin ya.
Akhir kata please RnR yaaa! ^^
