Koibito wa Maid-sama!

Summary : CHAPTER 2; "…dia jadi begini karena kamu, Sakura-chan." Sasuke sakit abis ngeliat Sakura sama Sasori! Itachi pun membongkar kemungkinan di balik sifat iblis Sasuke pada Sakura. Warning : AU, OOC bertebaran, typo dimana-mana, gaje tingkat tinggi. SasuSaku, sligh SasoSaku n SaIno.

Disclaimer : Masih Masashi Kishimoto, tenang sajo!

A/N : Reviewer no minna-san, hounto ni arigatou gozaimasu m(_ _)m *baru pulang ngejar Sasu-koi naik odong-odong*

Ga nyangka tanggapannya positif gini. Haha, jadi ge-er *disambit* Makasih yang udah nge-fave, nge-alert, nge-injek2 author *hah?*, nyumpah2in author *eh?*, nge—*mulai ngaco, dibuang ke lumpur lapindo*

Sekali lagi saia tekankan bahwa fic ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan manga K**chou wa Maid-Sama!, saia hanya tertarik dengan judulnya makanya saia buat judul yang serupa. Sekian.

Special Gratitude : Pitophoy, Nakamura Kumiko-chan, Kazuma big tomat, VhieHime, Chi, Tobi Anak Baik, Hikaru shinju, Seiichiro Raika queen of MM2, Shard VLocasters, Merai Alixya Kudo, Icha yukina clyne, Ichaa Hatake Youichi, Hikaru Meiko EunJo, Uchiha Narachi, Vampire 9irl, -, Ran, yuna mkuzuki, Lin Narumi, Reygi 'Arata' Andreas, Rievectha Herbst, kakkoii-chan, Mozza Dio, taralala trilili, Thia2rh, Michi-chan, Mila Mitsuhiko, Kawaii Tanti-chan, aya-na rifa'i, me, Kiran-Angel-Lost, 4ntk4-ch4n, 00 Ayuzawa Gabrielle Karumi 00, Shena BlitzRyuseiran, ninabobok, Uchiha Sakura97, Riscle-coe, Putri Hinata Uzumaki, Momo Hinamori, Just Ana, lady uchia, Ayano Hatake, Devil's of KunoiChi, OscuroMagiaMalfoy.

~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~

"Apa yang kau katakan?" Tanya Sakura lagi. Sasuke menatapnya dengan mulut agak terbuka, kemudian dia mendengus cukup keras.

"Huh! Aku cuma bilang jangan lupa tutup pintunya. Oyasumi!" nada bicara Sasuke terdengar seperti mengusir Sakura dari situ.

"Ohh…" Sakura merasa belum yakin dengan jawaban Sasuke. "Oyasuminasai!" kata Sakura sambil menutup pintu kamar kamar Sasuke.

Dia masih belum beranjak dari depan pintu kamar Sasuke. "Aku yakin banget yang dikatakan Sasuke lebih panjang dari sekedar menutup pintu…"

"Ah, sudahlah! Palingan bukan hal yang penting!" Sakura cuek kemudian melangkah menuju dapur karena masih merasa haus.

Sementara Sasuke sudah berada di atas ranjangnya yang empuk, bergelut dengan selimut dan guling. "Dasar Sakura… Telinganya benar-benar bemasalah! Untung saja…" gumamnya setengah tertidur.

2nd chapter : Berbicara tentang Sasuke

Sakura mengerjap-ngerjap matanya yang terasa berat, sesekali menguap. Dia duduk sambil menopang dagu. Pandangannya kosong. "Ngantuk…" keluhnya.

Dia menghela nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan suasana hatinya. "Benar-benar iblis!" rutuknya.

"Siapa yang iblis?" sebuah suara riang mengagetkan Sakura, membuatnya terlonjak.

Sakura mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak keras, dia menoleh ke belakang. "Ino-chan!" seru Sakura.

"Hahaha! Ohayou! Lagian pagi-pagi gini udah ngomel-ngomel ga jelas. Ga baik tau!"

"Ohayou… Lagian siapa yang ngomel?" Sakura ngeles.

"Iya, deh!" Ino langsung duduk di sebelah Sakura. "Kenapa? Kok lesu? Kurang tidur? Gara-gara ngerjain laporan Tsunade-sensei?" cerocos Ino.

"Gitu, deh!" jawab Sakura ngasal.

"Ohh… Jadi iblisnya itu Tsunade-sensei?" Ino menyimpulkan. Sakura tidak menanggapinya. Biarlah Ino berpikir seperti itu, batinnya.

'Sebenarnya bukan Tsunade-sensei, tapi…' Sakura menerawang mencoba mengingat kejadian tadi pagi.

Sakura merasa dia baru memejamkan matanya selama beberapa menit ketika tiba-tiba dia merasa tubuhnya diguncang-guncangkan, saat itu masih sekitar jam 2 malam. Ternyata Sasuke ingin dibuatkan nasi goreng plus disuapin! Dengan sabar sambil sesekali mengumpat di dalam hati Sakura melayani majikannya yang kayak anak kecil itu.

Sekitar satu jam kemudian Sakura sudah siap untuk tidur lagi. Namun lagi-lagi pintu kamarnya terbuka, Sasuke sudah berdiri di sana sambil membawa bantal, guling, dan selimut. 'Mau apa lagi dia?' gerutu Sakura dalam hati.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia langsung merebahkan tubuhnya di sebelah Sakura. Jelas aja Sakura langsung turun dari kasurnya.

"Aku mau tidur di sini," kata Sasuke sambil menyelimuti dirinya.

"Terus aku gimana?" Tanya Sakura.

"Terserah!" jawab Sasuke cuek dan mulai menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Sakura sadar sekarang Sasuke sedang membalas dendam. Tanpa banyak bicara dia langsung mengambil bantal dan selimut dan memutuskan untuk tidur di sofa ruang tengah. Butuh waktu lama sampai dia benar-benar terlelap.

Tapi saat dia bangun keesokan paginya, dia sudah berada di atas kasur kamarnya. Sendirian.

'Menyebalkan!' Sakura masih merutuk dalam hati.

"Ino-chan!" seru seseorang, membuyarkan lamunan Sakura.

"Sai!" balas Ino berbinar-binar. Sakura merasa aneh.

"Ohayou, Sakura-san!" sapa Sai sambil tetap senyum.

"Ohayou, Sai-senpai!" balas Sakura juga sambil tersenyum.

"Psstt, pssstt. Itu kan Sasuke-senpai! Ngapain pagi-pagi udah kemari?" bisik teman sekelas Sakura.

Sakura mencoba mencari keberadaan Sasuke. Ternyata benar, Sasuke berdiri di belakang Sai dengan kedua tangan di saku celananya. Dia langsung membuang muka saat menyadari Sakura menatapnya.

"Iya. Sasuke-senpai kenapa ada di sini juga?" Tanya Ino, cukup mewakili Sakura dan teman sekelasnya.

"Oh, dia! Ga tau juga, tiba-tiba ngikut aja pas aku mau ke sini. Katanya sih bosen di kelas," jawab Sai panjang lebar. "Ya kan, Sasuke-kun?"

"Hn," jawab Sasuke singkat.

"Irit banget ngomongnya," komentar Ino.

"Hn."

"Oh ya, Ino-chan. Aku ke sini cuma mau ngasih ini," kata Sai sambil menyerahkan selembar tiket masuk taman bermain. "Minggu pagi aku jemput, ya?"

Ino menerima tiket itu dengan tampang sumringah kemudian mengangguk. "Aku tunggu!"

Kemudian Sai segera pamit. Mau tak mau Sasuke juga harus segera pergi dari tempat itu. Kalau masih di situ, bisa bikin curiga, kan? Hehe.

"Kalian udah resmi, ya?" Tanya Sakura beberapa saat kemudian.

Ino mengangguk semangat. "Iya, hehe. Kamu kapan nyusul?"

Sakura tertegun. "Entahlah," jawabnya asal sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Masih menunggu, ya?" Tanya Ino. Sakura cuma mengangkat bahunya.

"Yang kemarin juga ditolak, kan?" lanjut Ino.

"Apanya?" Sakura balas bertanya. Tak mengerti.

"Cowok yang kemarin menembakmu. Kurasa dia lumayan juga."

Sakura tidak menjawab. Dia pura-pura sibuk dengan bukunya.

"Ano, nee Sakura-chan! Kau memang punya hak untuk menunggu sampai kapanpun, tapi apa salahnya sih kau mencoba setidaknya sekali saja membuka hati untuk yang lain?" bujuk Ino.

"Ya. Akan kuusahakan."

Ino menepuk dahinya. "Aduuuh! Kenapa sih aku bisa punya teman seperti ini?"

"Mau gimana lagi? Memang aku ga minat."

"Trus kamu minatnya sama siapa? Sasori-senpai?" tebak Ino.

Sakura terbelalak. "Kok Sasori-senpai, sih?"

"Abis, satu-satunya makhluk cowok yang akrab banget sama kamu tuh dia. Gimana? Mau aku bantu?" tawar Ino. Tenu saja dia ga tau 'keakraban' Sakura dan Sasuke.

Sakura memalingkan wajahnya ke arah luar kelas. "Kayaknya ga perlu," jawab Sakura. Tiba-tiba sosok Sasori melintas di depan kelasnya, membuat Sakura tertegun.

'Akrab, ya?' batinnya sambil tersenyum.

~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~

"Gomen! Aku ga bisa pulang sekarang. Kamu duluan aja," kata Sakura sambil sedikit membungkuk.

"Emang mau kemana?" Tanya Sasuke datar.

"Aku ada sedikit urusan."

"Sama yang namanya Sasori itu?" tebak Sasuke. Sakura terdiam.

"Ya… gitu deh!" jawab Sakura kikuk.

"Huh! Terserah!" kemudian Sasuke pergi meninggalkan Sakura.

'Kenapa sih dia selalu sinis gitu?' batin Sakura bingung.

"Sakura-chan!" panggil seseorang. Sakura menoleh.

"Sasori-senpai! Kenapa ada di sini?"

"Tadi aku ngeliat kamu jalan ke belakang lab. Karena penasaran makanya aku ikutin. Cowok tadi kalo ga salah Uchiha yang baru pindah beberapa minggu yang lalu, kan?"

Sakura kelabakan. "Ah! I-i-iya. Dia Uchiha. Ahahahaha!" jawab Sakura salting.

"Akrab banget keliatannya. Pacarmu, ya?" tebak Sasori.

"BUKAN!" Sambar Sakura cepat sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

Sasori menatap Sakura. "Bukan, ya? Syukurlah, aku masih ada harapan," ucapnya lirih.

"Kenapa?" Tanya Sakura.

"Ah, tidak! Aku hanya heran kenapa kau belum punya kekasih. Padahal kamu kan cantik," puji Sasori sambil menyentuh kepala Sakura.

DEG!

"Sasori-senpai bisa saja," semburat merah muncul di pipi Sakura.

Tiba-tiba Sakura merasa ada sesuatu yang menetes di hidungnya. Dia melongok ke atas. "Hujan!"

"Ayo cepat!" seru Sasori kemudian menggandeng tangan Sakura.

Mereka berdua segera berlari dari belakang lab, tanpa menyadari Sasuke yang masih berdiri mematung di depan lab. Menyaksikan apa yang mereka berdua lakukan.

Hujan semakin lama semakin deras, Sasuke berjalan tanpa menghiraukan hujan yang menerpa tubuhnya. Kemudian Sasuke mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pesan.

To : Driver Hidan

Text : Pulang duluan saja. Aku dan Sakura ada urusan. Bilang sama Aniki ga usah dicari.

Message sending…

Sent.

~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~

"Jangan berdiri dekat jendela gitu. Kata orang, kalo dekat-dekat jendela pas hujan bisa kesamber petir, lho!" bujuk Itachi saat melihat Sakura masih saja berdiri memandang jendela dari ruang tamu. Posisi sama yang ia lihat dua jam lalu saat baru pulang dari kampus.

"Tapi Sasuke belum pulang, Itachi-sama!" ujar Sakura tidak tenang. Jelas terdengar nada khawatir pada suara Sakura. Jam sudah hampir menunjukkan pukul 6 sore, langit sudah gelap, tetapi majikannya belum pulang tanpa kabar sedikitpun—kecuali pesan singkat yang ditunjukkan Hidan.

Dia merasa gagal menjadi maid.

"Apa aku tunggu di beranda depan saja, ya?" kata Sakura tiba-tiba. Dia mulai berjalan menuju pintu depan.

"Jangan!" seru Itachi yang tahu-tahu sudah memegang lengannya.

"Tapi, Itachi-sama…" Sakura tetap bersikukuh.

"Kalau kamu kenapa-napa, Sasuke bisa menyalahkanku!" kata Itachi spontan. "Eh! Maksudku…" dia melepaskan lengan Sakura dan menggaruk-garuk pelipisnya.

"Benar juga!" Sakura menjentikkan jarinya. "Kalau aku sakit, Sasuke bisa kalang kabut karena ga ada yang ngurus," celetuk Sakura.

Itachi menghela nafas lega, "Sekarang kau mengerti kan? Makanya tunggu saja di dalam. Aku akan mencoba menghubunginya sekali lagi."

Belum sampai lima langkah yang Itachi ambil, terdengar suara pintu diketuk. Sakura dan Itachi berpandangan.

"Pasti Sasuke!" kata Itachi yakin. Sakura tidak menjawab dan langsung membuka pintu tergesa-gesa.

Setelah pintu terbuka…

"Ya Tuhan, Sasuke…!" tanpa sadar kedua tangan Sakura terangkat ke depan bibirnya saat melihat sosok di depannya.

"Sasuke! Kenapa bisa basah kuyup begini? Ayo masuk!" Itachi segera memapah menuju ruang tengah, Sakura mengikutinya dari belakang.

"Konan! Kisame! Cepat ke sini!" teriak Itachi memanggil dua pembantunya.

Serta-merta dua orang muncul di hadapan mereka. Yang satu seorang wanita berambut ungu, yagn satu seorang pria bertubuh tinggi dan bermata kecil. "Ada apa, Tuan?" ujar mereka bersamaan.

"Konan, tolong ambilkan handuk! Kisame, tolong buatkan minuman hangat! Cepat!" perintah Itachi panik sambil mencoba mendudukkan Sasuke di sofa.

"Teh, kopi, atau cokelat?" Tanya Kisame lagi. Sementara Konan sudah lenyap.

"POKOKNYA YANG PALING HANGAT! Kau tidak lihat adikku nyaris membeku?" Itachi marah-marah. Akhirnya Kisame juga lenyap dari pandangan Sakura.

Untuk sesaat Sakura merasa dia tidak berada dalam dimensi yang sama dengan mereka. Dia merasa keberadaannya tidak kasat mata.

Beberapa detik kemudian Konan sudah muncul dengan setumpuk handuk putih tebal, disusul Kisame yang membawa secangkir cairan berwarna gelap—cokelat panas dan menaruhnya di meja depan Sasuke.

"Ini Tuan," kata Konan sambil menyodorkan tumpukan handuk. Itachi menerimanya dan mulai mengelap wajah Sasuke yang basah kuyup.

Saat melihat handuk yang tergeletak di belakang Itachi, Sakura mengambil inisiatif untuk ikut mengeringkan Sasuke.

"Jangan sentuh aku!" bentak Sasuke sambil menepis tangan Sakura yang baru saja akan mengelap lengan Sasuke.

Sakura diam terpaku.

Itachi secara tak sadar juga menghentikan kegiatannya. "Err, Sakura-chan. Kau siapkan saja air hangat untuk Sasuke mandi," saran Itachi.

"Baik," jawab Sakura.

"Jangan berani masuk kamarku!" bentak Sasuke lagi. Sakura jadi serba salah.

Sakura tahu pasti Sasuke sedang marah besar, dia juga yakin Itachi berpikiran sama. Tapi kenapa dia yang menjadi sasaran pelampiasan? Memang apa salahnya?

"Kalau begitu tolong kau suruh Deidara atau Konan atau siapa saja untuk menyiapkan air mandi Sasuke," perintah Itachi. Sakura mengangguk kemudian pergi dari tempat itu.

Setelah sampai di dapur—daerah kekuasaan para pembantu Uchiha, Sakura langsung menyandarkan tubuhnya di tepi meja ubin tempat biasa Kisame meracik masakan.

"Kenapa, Sakura-chan? Mau tambah cokelat panas?" Tanya Kisame—koki rumah, yang masih sibuk dengan panci besar.

"Itachi-sama nyuruh nyiapin air mandi buat Sasuke," jawab Sakura lesu.

"Kok malah ke sini? Kamar Sasuke-sama kan di lantai dua," ujar Deidara yang membawa penyiram tanaman—dia pembantu merangkap tukang kebun.

"Sasuke ngelarang aku masuk ke kamarnya," gumam Sakura lesu.

"Ya udah entar biar aku saja yang siapin!" Konan—pembantu segala divisi *halah* mengambil inisiatif. "Sasuke-sama marah besar, ya? Sampe kamu aja diamuk gitu."

"Ga tau. Aku nggak ngerti sama jalan pikiran dia," Sakura menerawang.

"Yang sabar, Sakura-chan! Kamu kan tau sendiri Sasuke-sama itu angin-anginan. Kadang baiknya kayak malaikat tapi sedetik kemudian bisa berubah jadi setan laknat," Deidara bermaksud menghibur, tapi tidak sadar bahwa perkataannya tadi bisa mengancam pekerjaannya.

"Kayaknya dulu Sasuke-sama pernah kayak gini juga ya? Pulang basah kuyup maksudnya," Kisame mencoba mengingat-ingat.

Konan mencoba mengingat-ingat pula, sementara Deidara diam saja. Dia memang baru setahun ini kerja di kediaman Uchiha.

"Kalau ga salah, pas hari keberangkatan Tuan dan Nyonya Besar serta Sasuke-sama ke luar negeri, ya? Pas Sasuke-sama umur 8 tahun," ujar Konan setelah berpikir agak lama.

"Iya! Sebelumnya dia ngamuk karena menolak ikut Tuan dan Nyonya Besar ke luar negeri. Katanya dia masih ada urusan di sini," Kisame juga mencoba mengingat. "Hari itu hujan deras, penerbangannya ditunda. Tahu-tahu Sasuke-sama sudah lenyap di bandara. Satu rumah kalang kabut nyari dia."

"Ternyata dia pulang dengan berlari dari bandara ke rumah," tutup Konan.

"Hah? Dari bandara sampai rumah?" Sakura terkejut tak percaya. Begitu juga Deidara.

"Iya. Sampai rumah pun larut malam. Malahan dikira setan sama Pein dan Kakuzu yang jaga di pos satpam," tambah Konan.

"Besoknya dia kena demam tinggi dan menolak bicara dengan orangtuanya. Tapi meskipun sakit keras dia malah senang. Anak yang aneh!" gumam Kisame.

Sakura termenung. Dia memang mengerti tentang sifat Sasuke yang satu itu, tapi dia tidak mengira Sasuke bisa se-ekstrim itu. Dia sadar harus melakukan sesuatu.

~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~

Sasuke sedang mencoba memposisikan kepalanya yang sejak semalam terasa penuh dan berat agar terasa nyaman. Namun tiba-tiba dia merasa ada cahaya terang mencoba menerjang kelopak matanya.

"Ohayou, Sasuke!" sapa Sakura yang sudah memakai seragam sekolah lengkap diiringi senyum sumringah. Ternyata dia telah membuka tirai yang menutup jendela besar yang berada tepat di depan ranjang Sasuke.

Sasuke merasa terlalu lemah untuk menyuruh Sakura memanggilnya Sasuke-sama, dia cuma menyelubungi tubuhnya dengan selimut sampai menutup seluruh badan hingga kepala.

"Matahari sudah tinggi. Kalau nggak segera bangun nanti telat sekolah, lho!" Sakura tetap berkoar sambil menarik selimut Sasuke.

"Apaan sih! Lagian aku kan ngelarang kamu masuk ke sini!" balas Sasuke sambil menarik selimutnya lagi.

"Kalo aku ga masuk, gimana cara aku ngebangunin kamu?" sahut Sakura, kembali menarik selimut Sasuke.

"Ga perlu dibangunin!" Sasuke menarik selimutnya.

"Dengar ya SA-SU-KE-SA-MA, aku memang tidak tahu apa yang membuatmu bisa semurka itu padaku, makanya aku minta maaf. Sekarang bangun, ya?" bujuk Sakura sambil tetap menarik selimut Sasuke.

"Ga mauuuu!"

"Kenapa ga mau?"

"Aku pusing! Puas?" Akhirnya Sasuke mendapat kendali selimut seutuhnya.

Sakura terdiam. Sebuah pikiran terlintas di kepalanya. Tanpa komando maupun briefing terlebih dahulu, tiba-tiba dia naik ke ranjang Sasuke.

Merasa ranjangnya bergoyang Sasuke menyibak selimutnya sedikit. "Ngapain kamu?" teriak Sasuke saat melihat Sakura mulai merangkak ke arahnya. Dia langsung mengambil posisi duduk.

Sakura tidak menjawab, kini posisinya sudah berada di samping Sasuke. Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Sasuke.

"Sa-Sakura! Ka-kamu mau apa?" Sasuke terlihat panik saat wajah Sakura semakin dekat. Dia menjauhkan wajahnya. "Kam—"

TUK!

Dahi keduanya beradu. Sasuke merasa jantungnya ingin meloncat keluar dan tangannya gemetaran sementara Sakura terlihat sedang memejamkan mata.

Wajah keduanya sangat dekat, sampai Sasuke tidak bisa melihat wajah Sakura sepenuhnya. Dia merasakan nafas Sakura yang tenang mengenai bibirnya. Dia semakin panik.

"Ternyata benar. Panas," gumam Sakura kemudian turun dari ranjang Sasuke. "Aku ambil termometer dulu, ya?" lanjutnya kemudian keluar dari kamar Sasuke.

Meninggalkan Sasuke yang merasa kehilangan sembilan puluh sembilan persen energinya.

"Sasuke belum bangun?" Tanya Itachi yang bertemu Sakura di depan kamar Sasuke.

"Sudah. Tapi sepertinya badannya panas. Mungkin demam," jawab Sakura.

"DEMAM?" Itachi berteriak nyaring. Sedetik kemudian sudah menghambur masuk ke kamar Sasuke.

"Sasuke, gimana keadaanmu? Bagian mana yang sakit? Konan! Konan! Tolong ambil kompres untuk Sasuke! CEPAT!" Itachi terlihat panik seperti semalam, sementara Sasuke terbujur lemah di ranjangnya. "Aniki panggilkan dokter, ya?"

"Ga mau dokter," tolak Sasuke lemah.

"Tapi kalo ada apa-apa gimana?"

"Pokoknya ga mau dokter!" tegas Sasuke.

Konan muncul sambil membawa sebaskom air dingin dan handuk kecil. "Ini Tuan."

"Sakura, tolong kompres Sasuke!" perintah Itachi.

"Eh? Ah, iya!" setelah menerima baskom itu Sakura dengan sigap langsung merendam handuk, memerasnya ringan, kemudian menempelkannya pada dahi Sasuke.

"Apaan, sih!" Sasuke mencoba merebut kompres itu.

"Berisik, deh! Nurut napa?" bentak Sakura sambil menepis tangan Sasuke.

Itachi yang tadinya duduk di tepi ranjang kini berdiri. "Aku ga bisa bolos kuliah. Jadi, tolong kamu rawat Sasuke ya, Sakura-chan?" pinta Itachi.

"Hah? Tapi kan saya harus sekolah, Itachi-sama!" balas Sakura merasa keberatan.

"Kamu maid-nya kan? Lagipula ini kan hari Sabtu, ga masalah dong kalau sehari libur?" Tanya Itachi, membuat Sakura terdiam. "Akan kubuatkan surat ijin untuk kalian berdua. Jadi tenang saja."

"Ah, sudah waktunya. Aku harus berangkat sekarang. Titip adikku yang bandel ini, ya?" ujar Itachi lucu. "Jangan bikin orang repot, Sasuke!" tegas Itachi.

"Akan saya usahakan," sahut Sakura sambil sedikit menunduk.

"Kalau begitu aku berangkat dulu. Itte kimasu!" pamit Itachi kemudian keluar kamar Sasuke.

"Itte irasshai!" balas Sakura dan Sasuke bersamaan.

Sasuke hanya diam karena dia terlalu lemah untuk bicara. Sakura membalikkan badannya dan menatap Sasuke yang terlihat sangat lemah.

"Kayaknya memang harus dipanggilin dokter," saran Sakura. "Aku panggilin, ya?"

"Aku kan udah bilang GAK MAU! Cerewet amat, sih? Urusi aja urusanmu sendiri!" balas Sasuke, membuat urat marah Sakura timbul satu.

"Kamu pikir aku cerewet begini buat siapa, hah? Lagian, omongan apa itu? Memangnya kau pikir kesehatanmu itu bukan urusanku?" Sakura mengomel sambil menoyor-noyor dahi Sasuke yang tertutup kompres.

Sasuke memalingkan wajahnya. "Cih!"

Sakura mencoba menenangkan dirinya. "Maafkan aku. Aku hanya ingin kau cepat sembuh. Kalau kau begini terus aku kan ikutan ga tenang."

Entah kenapa Sasuke malah merasa senang. Sejak dulu, dia selalu bersyukur setiap kali jatuh sakit. Karena orang-orang di sekitarnya akan menuruti apapun yang dia inginkan. Dasar anak iblis!

"Aku ambilkan sarapan, ya? Setelah itu minum obat."

"Kalau begitu, kau harus pakai seragam maid!" perintah Sasuke.

"Apa?" Sakura terbelalak.

"Kalau kau mau merawatku sampai sembuh, kau HARUS memakai seragam maid!" Sasuke ngotot.

"Pernyataan ditolak!" tolak Sakura mentah-mentah.

"Kau bisa minta sama Konan," lanjut Sasuke tanpa menggubris Sakura.

"Aku kan bilang ga mau! Lagian Konan juga ga pake!"

"Berarti kau tidak mau aku sembuh!" tuding Sasuke.

"Terserah!" balas Sakura kemudian keluar dari kamar.

BRAAKK! Pintu kamar Sasuke dibanting dengan biadabnya.

~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~

"Kali ini kamu harus makan. Tadi pagi kamu udah menolak sara— Sasuke?" panggil Sakura saat melihat ranjang Sasuke kosong. Di tangannya terdapat nampan berisi semangkuk bubur, beberapa tablet obat, dan segelas air putih.

"Sasuke?" panggil Sakura sekali lagi. Dia meletakkan nampan itu di atas meja di samping ranjang Sasuke. Tidak ada jawaban.

"Sasuke kau dimana?" Sakura mengeraskan suaranya. "Sasuke jawab aku!" tanpa sadar Sakura berteriak.

"Apaan sih ribut ba…" Sasuke muncul dari dalam kamar mandi. Wajahnya memerah saat melihat Sakura. "…nget."

"Kamu ga segera jawab panggilanku, sih!" dengus Sakura sambil mendekati Sasuke. "Lihat? Gara-gara kamu ga mau sarapan sekarang wajahmu merah begini," dia meletakkan tangannya di pipi Sasuke. " Pasti sakitnya tambah parah, deh! Bikin repot aja…"

Sasuke melengos. 'Huh! Wajahku memerah begini kan gara-gara kamu!' dumal Sasuke dalam hati. Dia memandang Sakura yang sekarang dibalut dengan seragam maid putih-biru lengkap dengan headdress putih di atas rambut pink-nya.

"Pokoknya aku ga mau tau. Sekarang kamu harus makan!" perintah Sakura seraya mengambil mangkuk berisi bubur dari nampan.

"Oke, karena kamu udah pake seragam maid, aku akan makan," kata Sasuke jahil. "Tapi kamu suapin!"

Sakura memijit keningnya yang berdenyut. "Iya-iya!" ujarnya menurut.

~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~

"Gokurou-sama!" ujar Itachi yang berdiri di depan kamar Sasuke, membuat Sakura yang baru saja menutup pintu menjadi terkejut.

"Ah, Itachi-sama! Membuat saya kaget. Okaerinasai!" sambut Sakura.

"Maaf kalau mengangetkanmu. Bagaimana keadaan Sasuke?"

"Sepertinya semakin buruk. Wajahnya tambah merah. Mungkin karena tadi pagi dia menolak makan. Untung saja sekarang dia sudah mau makan dan minum obat," lapor Sakura.

"Sasuke yang sedang sakit memang lebih merepotkan. Terima kasih sudah merawatnya," ujar Itachi tulus.

"Itu sudah menjadi tugas saya," Sakura menunduk. "Uhm… Saya mau mengembalikan ini dulu. Permisi," pamit Sakura sambil membawa pergi nampan beserta isinya.

"Ngomong-ngomong, Sakura-chan!"

"Ya?"

"Kamu cantik pakai seragam itu."

"Te-terima kasih," Sakura melanjutkan langkahnya dengan wajah merona.

CEKLEK… pintu kamar Sasuke terbuka pelan.

"Ada apa lagi, Sakura?" tanya Sasuke.

"Maaf mengecewakanmu. Tapi aku bukan Sakura," balas Itachi.

"Ah, aniki sudah pulang. Ada apa?" Tanya Sasuke pada Itachi yang sudah duduk di samping ranjang Sasuke.

"Baka-Outoto!" omel Itachi sambil menoyor kepala Sasuke. "Kemarin kau ini kenapa? Pulang basah kuyup begitu, marah-marah pada Sakura-chan pula! Padahal dia sudah mencemaskanmu."

Sasuke mengelus-elus kepalanya. "Memangnya aku minta dicemaskan?"

"Huh! Kau itu memang betul-betul bodoh!" Itachi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Asal kau tahu saja, kemarin Sakura-chan diantar pulang oleh seorang laki-laki. Jangan-jangan itu pacarnya!"

Sasuke menegang. Dia mengalihkan wajahnya dari hadapan Itachi.

"Saranku sih, kau jangan terus-terusan seperti ini. Aku tidak berani jamin dia akan bertahan lama kalau kau tidak bisa jujur," nasehat Itachi sambil mengelus kepala Sasuke. "Jangan menangis kalau dia direbut orang lain," tambahnya.

"Ga akan!" sergah Sasuke cepat.

"Sudahlah, aku mau kembali ke kamarku. Cepat sembuh, baka-outoto!" Itachi keluar dari kamar Sasuke.

'Ga akan! Aku ga akan menangis karena Sakura ga bakal direbut SIAPAPUN!' batin Sasuke yakin.

Itachi bertemu dengan Sakura yang baru saja kembali dari dapur. "Sakura-chan, bisa kita mengobrol sebentar?"

"Tentu," jawab Sakura.

Itachi kemudian berjalan menuju ruang tengah diikuti Sakura. Mereka duduk berhadapan.

"Pasti berat ya mengurus Sasuke? Dalam keadaan sehat saja dia sudah merepotkan seperti itu, apalagi kalau sakit!" Itachi mulai buka suara.

"Itu kan sudah menjadi tugas saya. Apapun kondisi Sasuke saya harus terbiasa," balas Sakura sopan.

"Aku puji tekadmu. Tapi jujur saja, aku agak terkejut saat melihat Sasuke kembali seperti ini."

"Maksud Itachi-sama?"

"Sasuke itu sebenarnya sangaaaaat pendiam. Ga suka ngomong, ga banyak tingkah, pandangannya dingin terus, pokoknya tertutup banget, deh!" terang Itachi. "Terakhir kali aku melihatnya semanja seperti akhir-akhir ini adalah saat kami sekeluarga masih tinggal di sini bersama-sama. Setelah dia pindah ke luar negeri, pribadinya jadi tertutup. Anti sosial."

Sakura mencoba mencermati semua perkataan Itachi. Sejujurnya dia tak begitu mengerti kenapa Itachi menceritakan semua ini padanya.

"Saat melihatnya kembali seperti dulu, manja dan menyebalkan, aku merasa sangat lega," lanjut Itachi. "Aku yakin, dia jadi begini karena kamu, Sakura-chan."

Sakura terdiam. Bagian mana yang menunjukkan semua sifat Sasuke jadi seperti iblis kejam itu karena dia? Lalu, apakah ini sinyal baik atau buruk?

"Karena Sasuke hanya menunjukkan sifat manjanya pada orang yang sangat ia sayangi dan percayai sepenuh hati," tutup Itachi.

Perkataan Itachi barusan menimbulkan kesan ambigu pada penalaran Sakura. Jadi, Sasuke menganggapnya sebagai orang yang ia sayangi, ia percayai sepenuh hati, atau keduanya? Tapi yang telintas di kepala Sakura adalah, 'Mungkin aku termasuk orang yang ia percayai. Aku kan maid-nya!'

"Aku minta jangan benci Sasuke atas semua yang ia lakukan. Aku yakin dia punya alasan kuat," ujar Itachi tiba-tiba.

"Tentu saja tidak! Saya tidak akan pernah membenci Sasuke karena hal sepele seperti ini," sahut Sakura.

"Syukurlah kalau begitu," timpal Itachi.

~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~

Jam besar di ruang tengah kediaman Uchiha berdentang tujuh kali. Sakura memandang wajah Sasuke yang tertidur. Wajahnya terlihat sangat kesakitan dan nafasnya memburu. Sakura mengelap keringat yang membasahi pelipis Sasuke.

"Aku mohon, cepatlah sembuh…" ucap Sakura bergetar. Tak sadar ia sudah menggenggam erat tangan Sasuke.

"Menangisi aku ya?" celetuk Sasuke tiba-tiba, membuat Sakura reflek melepas tangan Sasuke.

"Sasuke! Siapa juga yang menangisimu?" sungut Sakura malu.

"Lalu, airmata apa ini?" Tanya Sasuke sambil mengusap ujung mata Sakura dengan ibu jarinya.

Sakura bersemu. "I-ini… Ini karena barusan aku membantu Kisame mengupas bawang merah!" sanggah Sakura.

Sasuke duduk di depan Sakura. "Aku tahu cara cepat untuk menghilangkan demam ini!" katanya bersemangat.

"Bagaimana?" Tanya sakura tanpa curiga sedikitpun.

"Katanya kalau kita berciuman, sakitnya akan berpindah," lanjut Sasuke. Tanpa menunggu reaksi Sakura dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura.

Ternyata tidak ada perlawanan dari Sakura! Dia hanya duduk mematung pada posisinya semula. Lama-kelamaan dia bisa merasakan hembusan nafas Sasuke menerpa wajahnya.

Semakin dekat… Sakura mulai memejamkan matanya. Dia tidak ingin melihat wajah Sasuke.

Dekat… nafas Sasuke seakan memenuhi wajahnya.

Dan… PLUK!

Sasuke menepuk puncak kepala Sakura. Dia sudah menjauhkan wajahnya dan nyengir lebar.

"Tapi kalau gantian kau yang sakit, aku bisa repot setengah mati," ujarnya santai. "Lagipula ciuman itu hanya bekerja pada sakit flu. Aku tak tahu apakah juga bekerja pada demam. Apa kita coba saja? Bagaimana Sakura?"

Grrrr… wajah Sakura merah padam. "MESUM!" kemudian berlari meninggalkan Sasuke.

Sasuke menjulurkan lidah. "Kau sendiri tidak menolaknya. Kenapa meneriaki aku mesum?" dumalnya. "Tunggu, Sakura!" teriak Sasuke sambil meloncat turun dari ranjangnya.

"Dasar iblis! Mau sakit apa enggak tetap saja iblis! Huh!" Sakura mengomel sepanjang jalan.

"Hei, Sakura!" teriak seseorang, membuat Sakura menghentikan omelannya.

"Pein? Ada apa?' Tanya Sakura kemudian menghampiri Pein—satpam Uchiha.

"Aku mencarimu. Ada tamu untukmu. Sekarang ada di ruang tamu," kata Pein.

"Terima kasih. Aku segera ke sana," sahut Sakura. Dia segera melangkah menuju ruang tamu.

"Sakura, tunggu!" teriak Sasuke yang berjalan lemah mengekor Sakura.

Sakura tidak menggubrisnya. Dia tetap berjalan menuju ruang tamu. Saat dia sudah sampai di ruang tamu, dilihatnya dua orang sedang duduk dan salah satunya membawa sekeranjang buah.

Menyadari kehadiran Sakura, orang yang membawa keranjang buah segera bangkit. "Sa—"

"Oi! Aku kan sudah bilang tunggu. Ga denger, ya?" sungut Sasuke yang tahu-tahu sudah memegang lengan Sakura.

"—kura-chan…?" orang itu terbelalak melihat Sakura dalam seragam maid-nya dan Sasuke dalam piamanya. Keranjang buahnya terjatuh.

"Sasuke-kun?" orang yang satunya ikut berdiri.

"I-Ino-chan? Sai-senpai?" pekik Sakura. Sementara Sasuke hanya memandang kedua orang tamu itu dengan ekspresi datar.

~TBC~

~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~

A/N : Puah, jadinya panjang amat *geleng2 kepala* Hm… saia jadi punya firasat kalau chapter depan bakalan pendek =,=a *disetrum* Romens ama humornya juga ga ada lagi! Ih, ini semua gara2 si Sasu-koi sakit, sih! *toyor2 jidat Sasu* cepetan sembuh ye? Biar bisa nyiksa Sakura lagi *ditendang Sakura*

Maap kalo chapter ini mengecewakan. Saia emang sering kena sindrom 'Penurunan Kualitas di Chapter 2' *nangis dipojokan*

Kali ini memang saia sengaja lebih banyak menyorot Sasuke daripada Sakura. Bagaimana perasaannya, pikirannya, dan sedikit masa lalunya. Mungkin chapter depan gantian Sakura yang akan saia sorot! *senyum pasti*

Btw, itulah alasan kenapa Sasuke jadi manja sama Sakura. Udah bisa dimengeri? *reader: -timpukin author pake kardus- belom bego!* Kalau belum, mari kita tanyakan pada yang bersangkutan.

Au : Jadi Sas, Sakura itu orang yang kamu sayangi, kamu percayai sepenuh hati, atau keduanya?

Sas : *blush* Au, ah! Pikir aja sendiri! Yang jadi Author-nya kan elo! *kabur lagi*

Au : Ah, ga asik lo kabur mulu! *ngacungin clurit sambil ngejar Sasu*

M.A.T.A., N.E.E.!

Mohon maaf, tidak menerima flame dalam bentuk apapun sebelum mendapat ijin dari Presiden setempat dan SekJen PBB. Jadi, hanya akan menerima review berupa saran, kritik yang membangun, pujian, dan caci maki (ini juga termasuk flame, kan?). Eh, caci maki tidak diterima juga!

Tuesday, September 21, 2010

9.33 A.M.

Ryuuta

(masih mengharapkan menjadi—pemenang Nobel Perdamaian *diinjek Ratu Elizabeth*)