Koibito wa Maid-sama!
Summary : "…tolong jangan ganggu Sakura-chan dan Sasori-senpai!" pinta Ino. Tanpa diduga Sasori mengajak Sakura pergi kencan! Sasuke pun punya pekerjaan baru sebagai spy. Warning : AU, OOC bertebaran, typo dimana-mana, gaje tingkat tinggi. SasuSaku, sligh SasoSaku.
Disclaimer : Kalau saia bilang semua chara di sini punya saia, percaya ga? *MK : jelas enggak, sarap!*
A/N : Tadaima… *pulang sambil bawa clurit yang berlumuran darah(?)*
Akhirnya saia bisa meneruskan fic ini, senangnya… Maaf ya update-nya lama. Soalnya saia baru berani update kalo chapter depannya udah selese ^^
Btw, sekedar curhat nih! Kemarin2 saia sempet ngobrak-abrik Naruto Archive n nemuin banyaaak banget cerita yang temanya tentang maid gitu. Jujur saia KAGET BANGET! Ga nyangka tema kayak gini tuh udah lama booming di FFn *pundung cz ketinggalan jaman*
Yah, harapan saia sih semoga minna nggak bosen ama fic saia *ditampol raket nyamuk*
Special Gratitude : Vampire 9irL, Seiichiro Raika queen of MM2, Ichaa Hatake Youichi, Nakamura Kumiko-chan, VhieHime, Micon, Reygi 'Arata' Andreas, Icha yukina clyne, Rievectha Herbst, Hikari Shinju, Kazuma Big Tomat, Tobi Anak Baik, yuna mikuzuki, 4ntka-ch4n, Putri Hinata Uzumaki, tralala trilili, Shard VLocasters, Merai Alixya Kudo, Winterblossom Concrit Team, Just Ana, Miss Shifa, Pitophoy, Mi, cherrysakusasu, StarrZ, Ran Ishibazaki, Key. Ada yang kelewat? Silakan lapor lewat review ^^
~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~
Sakura dan Sasuke sudah duduk di sofa berhadapan dengan Sai dan Ino. Beberapa waktu yang lalu Sakura telah menceritakan tentang pekerjaannya sebagai maid pribadi Tuan Muda Sasuke.
"Ja-jadi, kau bekerja sebagai maid pribadi Sasuke-senpai?" tanya Ino sekali lagi. Mencoba memastikan apa yang ia dengar dari Sakura tidak salah.
"Begitulah," jawab Sakura seadanya.
"Hn," sambung Sasuke.
3rd chapter : Berbicara tentang Sakura
"Kenapa lebih keliatan kayak suami-istri, ya?" Ino terlihat sangsi.
Sakura membuang muka sementara Sasuke pura-pura ga denger. Tapi yang pasti wajah keduanya memerah.
"Mengagumkan! Sungguh mengagumkan! Dua orang paling diminati di Konoha High School tinggal dalam satu atap! Kira-kira apa reaksi para siswa kalau tahu berita ini, ya?" celetuk Sai. Membuat Ino mendelik tak percaya, kebiasaan menggosipnya telah berpindah pada Sai!
"Tentu mereka ga akan pernah tahu. Ya kan, Sai-senpai?" Sakura memberikan penekanan pada kata terakhir. Semakin memperjelas pengintimidasian pada kalimat yang ia ucapkan.
"Hn," dukung (?) Sasuke.
"Bisa kupastikan itu!" timpal Sai sambil tersenyum.
"Ini dari teman sekelas," ujar Ino sambil menyodorkan sekeranjang buah.
"Arigatou," sahut Sakura sambil menerima keranjang itu. "Yah, walaupun sebenarnya aku tak benar-benar sakit. Atau ini untukmu saja?" tanya Sakura pada Sasuke yang duduk di sebelahnya.
"Itu kan milikmu," tolak Sasuke dingin.
"Jadi yang beneran sakit itu Sasuke-senpai ya? Sakit apa?" tanya Ino.
"Sakit jiwa!" jawab Sakura cepat.
"Cih!" Sasuke melengos.
"Tapi… Bisa melihat Sasuke dalam balutan piama, ooohhh aku memang beruntung!" ucap Ino berbinar-binar saat memandang Sasuke yang memakai setelan piama biru tua dengan garis-garis vertikal putih.
"I-Ino-chan…" Sai tidak terima.
"Tapi aku yakin kamu pasti lebih seksi," lanjut Ino menenangkan pacaranya. "Oh ya, Sakura-chan! Seragam itu…"
Sakura memandang seragam maid yang ia kenakan. "Ah, ini! Sebentar aku ganti—" Sakura yang baru saja akan beranjak dari duduknya tiba-tiba terhenti karena Sasuke memegangi tangannya.
"Ga boleh," ucap Sasuke datar.
"Ta-tapi—"
"Aku kan belum menyuruhmu ganti," lanjut Sasuke. Masih dengan nada datar.
Sakura menatap Ino dan Sai bergantian dengan sorot kebingungan.
"Ga papa kok, Sakura-san! Lagipula kamu terlihat manis memakai seragam itu," celetuk Sai yang langsung disambut tendangan manis dari Ino.
Karena Sasuke tak kunjung melepaskan tangannya, akhirnya Sakura kembali duduk.
"Lepasin!" ujar Sakura sambil mengibaskan tangannya yang digenggam Sasuke.
Sasuke tidak menjawab, malah berdiri dan mulai pergi dari tempat itu.
"Mau kemana?" tanya Sakura.
"Tidur. Lagipula mereka kan tamumu. Jadi kau yang wajib menemani mereka," jawab Sasuke yang sudah berdiri membelakangi Sakura. Kemudian dia menoleh lagi ke arah Sakura. "Atau kau lebih memilih tidur denganku?" seringai kecil timbul di wajah Sasuke.
Wajah Sakura memerah. "Mati aja sana!" omelnya sambil melempar bantal sofa ke arah Sasuke. Namun sayang lemparannya tidak kena karena Sasuke sudah terlebih dahulu berlari pergi.
"Aku nggak nyangka ternyata Sasuke-senpai seperti itu di rumah. Bisa bikin kaget satu sekolah kalo sampai mereka tau!" jiwa penggosip Ino telah bangkit.
"Jangankan mereka, aku yang udah lama tinggal sama dia aja kaget sama tingkahnya!" tukas Sakura.
"Mesum, ya?" komentar Sai blak-blakan. Tanpa komando Ino langsung menampolnya, membuat Sai diam tak bergerak—mungkin pingsan.
"Kamu nggak diapa-apain ama Sasuke-senpai, kan? Maksudku… Yah… Kau tahu, kan? Kalau melihat Sasuke-senpai yang seperti itu…" Ino terlihat bingung memilih kata yang tepat untuk menggantikan 'berbuat seronok'.
"Enggak, kok!" jawab Sakura sambil tersenyum. "Emang sih kadang Sasuke itu bejat, tapi selebihnya dia sopan."
"Syukurlah…" kata Ino lega.
"Lagipula di sini kan ada Itachi-sama, kakak Sasuke, yang udah janji mau ngelindungi aku dari Sasuke. Kalo Sasuke berani macam-macam, bisa-bisa dia ditendang pulang oleh Itachi-sama."
"Kakaknya Sasuke-senpai? Cakep juga nggak?" tanya Ino antusias. Mumpung Sai lagi pingsan, cari-cari kesempatan boleh, dong? Haha.
"Dasar!" seloroh Sakura. "Yang pasti dia lebih baik Sasuke. Cerdas, bijak, penyayang, dan sedikit cool. Yah, mungkin sifat semua Uchiha memang kayak gitu."
"Tipeku banget, tuh!" sorak Ino senang. "Oh iya! Tadi Sasori-senpai dateng ke kelas lho! Nyariin kamu," lanjutnya.
Mata Sakura membulat mendengar perkataan Ino barusan. "Trus kenapa? Emang dia sering nyariin aku kan? Palingan masalah klub."
Terlihat Ino mengaduk-aduk tas tangannya. "Hmm… Kalau emang masalah klub, kenapa dia nitipin ini sama aku ya?" gumam Ino sambil melambai-lambaikan selembar tiket di depan Sakura.
"Ah! Tiket yang sama seperti punya kita, Ino-chan!" seru Sai tiba-tiba. Ternyata dia sudah sadar!
"Yup! Tadi sebenarnya dia mau menyerahkannya langsung, tapi karena kamu ga ada—dan tahu aku akan menjengukmu, dia menitipkan ini padaku. Katanya, kalau kau mau kencan denganku besok, tolong sms aku, begitu!" ujar Ino sambil menyerahkan tiket itu pada Sakura. "Dan ini nomor ponselnya," lanjutnya sambil menyerahkan kertas yang lain.
Sakura membolak-balikkan tiket itu. "Aku ga yakin bisa. Sasuke belum sembuh, mustahil aku bisa ninggalin dia dalam kondisi kayak gitu."
"Sakura-chan!" Ino meninggikan suaranya sambil menggebrak meja pelan. "Aku paham sama kerjaanmu sebagai maid, tapi kau juga punya kehidupanmu sendiri kan?"
Sakura terdiam. "Baiklah, akan kupikirkan."
Ino mendengus kesal. "Aku harap besok kita bertemu di taman bermain!" katanya terdengar memaksa.
Sakura membalasnya dengan senyuman.
"Kalau begitu kami pamit dulu, ya? Mau malam mingguan, nih!" kata Ino centil.
"Ino-chan, Sai-senpai. Soal aku dan Sasuke…" ujar Sakura tiba-tiba.
"Kami tahu. Cukup jadi rahasia kita aja, kan?" balas Ino sambil mengedipkan mata.
~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~
Tubuh Sakura menyandar pada sisi bak ofuro-nya. Matanya terlihat kosong dan badannya tidak bergerak sama sekali. 'Dateng enggak, ya? Tapi Sasuke masih sakit…' batinnya bingung.
Sasuk membuka pintu kamar Sakura dan melihat ke dalam. "Sakura?" panggil Sasuke karena tak menemukan sosok Sakura di dalam kamarnya. Dia langsung masuk dan tiduran di kasur Sakura. "Kemana, sih?"
Pandangan mata Sasuke menangkap secarik kertas di atas meja kecil di samping kasur Sakura. Dia mengamati kertas itu agak lama kemudian mengembalikannya ke posisi semula.
Samar-samar terdengar suara air yang tumpah. Sasuke sedikit beranjak dan menyadari bahwa Sakura ada kamar mandi. "Wah, telat…" gumamnya kecewa. Telat ngapain coba?
Beberapa detik kemudian Sakura keluar dengan kimono mandinya serta kepala yang dibungkus handuk putih. "Udah selesai, ya? Padahal mau mandi bareng," celetuk Sasuke sambil memasang wajah kecewa.
"Sasuke! Ngapain kamu di situ?" pekik Sakura saat menyadari Sasuke yang ada di atas kasurnya. Kedua tangannya reflek terangkat ke depan dada.
Sasuke kembali berbaring di atas kasur Sakura. "Hm… Jadi lupa deh tadi mau ngapain," gumamnya.
Sakura masih tetap pada posisinya. Dia enggan untuk bergerak. Tubuhnya yang baru saja bersih kini kembali berkeringat. 'Apa yang dia rencanakan sekarang? Menyelinap ke dalam kamarku saat aku sedang mandi… Ugh! Kutarik kata-kataku pada Ino tadi. Dia ini bener-bener BEJAT! Ga ada sopannya!' gerutunya dalam hati.
"Eh? Ngapain di situ terus? Ga mau ganti baju?" tanya Sasuke saat menyadari Sakura sama sekali tidak beranjak dari posisinya.
Gigi Sakura bergemeletuk. 'Gila! Dia itu GILA!' umpat Sakura dalam hati.
"Atau kau berencana tidur dengan pakaian seperti itu? Nanti masuk angin, lho!" celetuk Sasuke.
Grrrr… Sakura mulai emosi. "Gimana aku mau ganti baju kalo kamu aja masih di situ?" urat marahnya muncul satu.
"Ohhh… Gitu, ya? Tenang, ga usah peduliin aku! Kalo mau ganti, ya ganti aja!" kata Sasuke cuek. Urat marah Sakura bertambah menjadi dua.
"Emangnya aku sebodoh itu sampai membiarkan seorang laki-laki macam kamu melihatku ganti baju?" urat marah di dahi Sakura muncul lima sekaligus.
"Aaa~h!" gumam Sasuke cuek. "Oke aku keluar. Lagian aku ga nafsu liat kamu ganti baju," lanjutnya sambil bangkit dari kasur Sakura lalu berjalan keluar.
Sakura tidak berkomentar. Emosinya sudah meledak-ledak. Kalau di anime-anime, mungkin kepala Sakura sekarang sudah mengeluarkan asap layaknya kereta api uap.
"Oh, iya!" Sasuke berhenti tepat di pintu kamar Sakura. "Besok… pergi aja!"
Sakura terdiam, emosinya seakan menguap tak berbekas. "Hah?" dia memasang wajah cengo.
"Tiket itu… untuk besok, kan? Pergi aja!" kata Sasuke lagi.
Secara tidak sadar Sakura mendekati Sasuke. "Tapi aku kan harus menguru—"
"Pergi aja!" potong Sasuke. "Aku udah sehat, kok!" lanjutnya kemudian keluar kamar Sakura dan menutup pintunya.
"Satu lagi!" seru Sasuke yang kembali membuka pintu kamar Sakura. "Mulai besok, kau harus bekerja menggunakan seragam maid!"
BRAAK! Pintu kamar Sakura ditutup dengan agak keras.
"Dia emang suka membuatku malu dan merana," dengusnya. Sakura masih memandangi pintu kamarnya. "Tapi, bolehkah…?" tanyanya pada diri sendiri. Kepalanya berputar ke arah tiket yang tergeletak di meja. Dia berjalan mendekati meja itu dan mengambil tiket serta nomor ponsel Sasori.
"Kurasa ga ada salahnya mencoba," ujarnya riang. Dia meraih ponselnya kemudian mengetikkan pesan dengan cepat.
To : Sasori-senpai
Text : Besok kita ketemu di gerbang depan taman. Pukul 10 tepat, ya? Sakura.
Message sending…
Sent.
Drrrtt Drrtttt
Ponsel Sakura bergetar, ada sebuah pesan diterima.
Text : Yokatta! Sudah sembuh, ya? Kalau begitu besok, ya? Yakin tak mau kujemput saja?
Sender : Sasori-senpai
Received : 20:29:16
Sakura memandang layar ponselnya geli. Seulas senyum tergambar di bibirnya. "Bisa jadi perang dunia kalo Sasori-senpai jemput aku di rumah."
~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~
"Yakin nih ga apa-apa?" tanya Itachi lagi. Dia dan Sasuke tengah memandang keluar dari jendela ruang tamu. Beberapa saat yang lalu Sakura pergi diantar Hidan.
"Hn," jawab Sasuke. Matanya masih tidak lepas dari gerbang depan rumahnya yang kini sudah ditutup.
"Ga usah sok dingin kayak gitu deh!" komentar Itachi sambil memukul lengan Sasuke pelan. "Emangnya aku orang asing?"
"Aku lagi ga mau berdebat. Ada pekerjaan yang lebih penting daripada berdebat dengan aniki," ujar Sasuke sambil pergi meninggalkan Itachi.
"Oi, baka-outoto! Ingat ya, ini semua keputusanmu! Kalau kau sampai menghancurkan semuanya, aku nggak akan memaafkanmu!" ancam Itachi.
Sasuke hanya memperlihatkan jempol tangan kanannya sambil terus berlalu.
Itachi melipat tangannya di depan dada sambil melihat Sasuke yang semakin menjauh. "Baka-outoto! Kalo emang ga kuat, kenapa masih dipaksain, sih? Aneh!"
Sementara itu, di sebuah taman bermain yang sangat terkenal…
"Mau dijemput jam berapa, Sakura?" tanya Hidan dari spion depan mobil pada Sakura yang duduk di jok belakang sesaat setelah mereka sampai di depan gerbang taman.
"Ga usah. Nanti aku pulang sendiri aja," tolak Sakura. Kemudian dia membuka pintu mobil dan turun.
Hidan menurunkan kaca samping mobil. "Ya udah. Hati-hati, ya?" katanya.
Sakura mengangguk. "Arigatou, Hidan!"
Mobil mewah yang dikendarai Hidan pun melaju meninggalkan taman itu. Setelah mobil itu cukup jauh Sakura berjalan ke arah air mancur yang terletak di dekat pintu masuk. Dia melirik ke arah jam tangannya, Sembilan lebil lima puluh delapan.
"Gomennasai! Aku telat!" kata seseorang yang tahu-tahu sudah menunduk di depan Sakura. Nafasnya terengah-engah dan lututnya terlihat gemetaran.
"Sasori-senpai!" seru Sakura. Orang itu pun membenahi posisinya. Kini ia berdiri tegak, lurus menatap Sakura.
Sakura memakai rok one piece berwarna pink lembut dengan dalaman t-shirt putih polos yang agak lebar bagian pundaknya, celana jeans yang dilipat ujungnya, tas selempang putih, dan sandal cokelat. Sasori terpana melihat penampilan Sakura. Reaksi berlawanan ditunjukkan Sasuke di rumah, dia terlihat uring-uringan saat melihat Sakura.
Sasori sendiri memakai jaket krem-cokelat muda yang dibiarkan terbuka dengan kerah yang tidak dilipat, kaos garis-garis hitam-putih yang ditumpuk dengan kaos ungu muda yang agak rendah bagian dadanya, celana kain putih, dan sneaker putih. Entah kenapa saat memandang Sasori Sakura merasa 'adem'.
"Maaf membuatmu menunggu! Sudah lama?" tanya Sasori. Sakura menggeleng.
"Baru saja, kok!" jawabnya sambil tersenyum.
Sasori menggapai tangan Sakura. "Masuk, yuk!"
Sakura agak terkejut saat tangannya digenggam Sasori, tapi kemudian dia hanya tersenyum dan mengikuti Sasori menuju pintu masuk.
Sakura dan Sasori mencoba semua permainan yang ada di taman bermain itu. Mulai dari roller coaster yang membuat Sasori mual sampai obake yang menurut Sakura sama sekali tidak menyeramkan.
"Setelah ini apa?" tanya Sakura antusias.
Sasori mencermati peta yang ada di tangannya. Dia mendapatkannya dari penjaga di pintu depan. Di situ tertulis semua wahana bermain yang ada di taman itu. "Bagaimana kalau Istana Cermin?" usul Sasori. "Letaknya tidak terlalu jauh dari sini."
Sakura mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya. Dia berpikir sejenak. "Kedengarannya tidak seburuk obake yang tadi," celetuknya.
"Hmph—kita takkan terluka kalau mencobanya, kan?" ujar Sasori geli. "Bagaimana?"
Sakura mengangguk semangat. Mereka berdua berjalan ke arah yang ditunjukkan dalam peta.
Tanpa sepengetahuan mereka, sejak awal mereka berdua tengah diperhatikan oleh seseorang. Dia terus mengawasi semua gerak-gerik kedua remaja itu. Kemanapun mereka pergi, orang itu selalu mengikuti.
"Are? Sasuke-senpai? Sudah sembuh?" panggil seorang gadis sambil menepuk bahu 'pengawas' itu.
Orang itu terlonjak dan tanpa sadar berteriak. "APA?"
Sedetik kemudian dia sadar akan teriakannya. Setelah melihat sekitar dan memastikan dua 'target'-nya tidak mengetahui keberadaannya, dia mendorong gadis yang tadi menepuk bahunya ke samping sebuah mesin penjual otomatis.
"Lepasin dong, Sasuke-senpai!" pintanya.
Orang yang dipanggil Sasuke itu menatap gadis di depannya. Dia menggunakan sweater tanpa lengan berwarna ungu, rok lipit abu-abu 10cm di atas lutut, kaus kaki tipis hitam selutut, dan sepatu pantofel ungu pucat dengan sol tebal.
"Kau… Ino, kan? Temannya Sakura," kata Sasuke sambil mencoba mengingat-ingat.
Ino memandang laki-laki di depannya dengan tatapan tak percaya. "Kita baru aja ketemu kemarin malam, kan? Nggak sopan deh kalo udah lupa!"
Sasuke memasukkan kedua tangannya pada saku depan hoodie-nya. Ia sekarang mengenakan hoodie biru tua tanpa lengan, dalaman kaus putih panjang, celana jeans army-look yang agak longgar, sneaker coklat belel, kacamata hitam yang lumayan gede, dan topi softball biru-putih dengan tulisan I :hati: U.S—Uchiha Sasuke tentunya, bukan United States—milik Itachi.
"Ngapain di sini? Ngikutin Sakura-chan, ya?" tebak Ino.
"Enggak!" sanggah Sasuke.
"Hmm… Emang kayaknya ga mungkin sih ngikutin orang dengan suasana rame begini," komentar Ino saat melihat serombongan wanita tua dan muda yang sejak tadi mengikuti Sasuke.
"Hn," ujar Sasuke. Sebenarnya dia tidak sadar ada banyak wanita yang mengikutinya sejak tadi.
"Yah, mau gimana lagi? Mau ditutupi pake apapun, pesona seorang Uchiha Sasuke memang ga bisa disembunyiin," kata Ino sambil geleng-geleng.
Sasuke berjalan lagi. Dia sudah ketinggalan Sakura lumayan jauh.
"Tunggu!" seru Ino sambil menggamit lengan Sasuke. Beberapa gadis yang tadi mengikuti Sasuke berkasak-kusuk.
"Psstt! … Ternyata udah punya cewek! … Wah, kita telat, deh!" begitulah kasak-kusuk yang bisa didengar.
"Sai mana?" tanya Sasuke datar. Terpaksa dia mengijinkan Ino menggandeng lengannya. Setidaknya keberadaan gadis pirang itu lebih baik daripada gerombolan orang-orang yang mencolok tadi.
"Tiba-tiba harus ke luar kota sama pamannya," jawab Ino.
"Kenapa kamu di sini?"
"Sama sepertimu!" jawab Ino riang, membuat Sasuke agak kikuk.
"Tadinya aku merencanakan double date, tapi karena Sai ga bisa dateng akhirnya aku memutuskan untuk mengawasi mereka sendirian," ujar Ino jujur. "Bagaimanapun juga ini adalah kencan pertama Sakura." Sasuke hanya diam.
Sasuke clingak-clinguk. Sosok Sakura tidak ada dalam jarak pandangnya. Dia mendengus kesal. "Cih!"
"Anou nee, Sasuke-senpai! Bagaimana kalau kita istirahat di sana?" usul Ino sambil menunjuk sebuah kedai es yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Kau sendiri aja," tolak Sasuke.
"Ayolah! Kita bisa berbincang dengan lebih santai di sana."
"Siapa yang mau berbincang denganmu?"
"Hmmm? Yakin tidak ada yang ingin ditanyakan soal Sakura-chan? Aku kan sudah berteman dengannya sejak SMP," tawar Ino dengan pandangan nakal.
~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~
"Pancake madu sama lemon squash," kata Ino pada pelayan yang tadi ia panggil.
Setelah mencatat pesanan Ino, pelayan itu beralih kepada Sasuke. "Kalau Tuan?"
Sasuke melepas kacamatanya dan menaruhnya di atas meja. "Softdrink. Esnya yang BANYAK."
Pelayan itu pun segera mencatat pesanan Sasuke. "Baiklah saya ulangi, pancake madu, lemon squash, dan softdrink dengan es yang banyak. Ada yang lain?" tanya pelayan itu.
"Enggak. Udah cukup," jawab Ino. Sasuke hanya diam.
"Terima kasih. Silakan tunggu sebentar," pelayan itu pun segera pergi meninggalkan Ino dan Sasuke.
"Hehehehehe…" Ino nyengir sambil memperhatikan Sasuke.
"Apa?" tanya Sasuke masih dengan nada datar andalannya.
"Enggak nyangka aja bisa kencan sama Sasuke-senpai," jawab Ino sambil terus nyengir. "Waaaaaah, aku pasti adalah gadis paling beruntung nomor dua di dunia ini!"
"Dua?"
"Iya, dua. Nomor satunya udah pasti Sakura. Soalnya dia kan maid Sasuke-senpai! Bisa 24 jam bersama Sasuke-senpai… Ya ampun! Sebuah anugerah yang tak ternilai harganya!" kata-kata Ino sepertinya terlalu berlebihan. Hmm, biarlah! Dia memang sedang di atas awang-awang.
Bersamaan dengan berakhirnya kalimat Ino yang ngelantur tadi, seorang pelayan yang sama datang sambil membawakan pesanan mereka. "Pancake madu, lemon squash, dan softdrink dengan es yang banyak," katanya sambil menaruh pesanan itu di depan Ino dan Sasuke. "Silakan!" lanjutnya sambil sedikit menunduk kemudian pergi.
"Yakin nih ga apa-apa minum kayak gitu?" ucap Ino saat melihat minuman yang sangat dingin di depan Sasuke. "Sasuke-senpai kan baru aja sembuh."
"Hn," jawab Sasuke sambil mengambil gelasnya. Tanpa menggunakan sedotan, dalam sekali teguk cairan di dalam gelas itu sudah berkurang setengahnya!
"Sa-Sa-Sasuke-senpai..?" Ino tercengang melihat fenomena alam di depannya.
"Apa?" tanya Sasuke dengan ekspresi datar.
Ino tidak bisa berkata-kata. Dirinya masih syok melihat kelakuan Sasuke. Baru saja dia akan bicara, bayangan Sakura dan Sasori terlihat dari balik punggung Sasuke, "Sakura-chan!" pekiknya heboh kemudian menutupi wajahnya dengan buku menu.
Reflek Sasuke juga melakukan hal yang sama. 'Sial, ga bisa liat…' batinnya.
Ino mengamati Sakura dan Sasori yang berjalan beriringan dengan masing-masing satu cone es krim di tangan mereka. Terlihat sekali kalau mereka berdua sangat menikmati kencan itu.
"Sakura-chan… Aku sampe nggak inget kapan terakhir kamu tertawa kayak gitu…" gumam Ino yang sedikit mengintip dari balik buku menu.
Beberapa saat kemudian Ino terlihat menurunkan buku menunya. Sasuke pun melakukan hal yang sama.
"Ternyata tebakanku tepat. Cuma Sasori-senpai yang bisa bikin Sakura-chan seneng," kata Ino sambil mulai memotong pancake-nya dengan pisau. "Maka dari itu Sasuke-senpai, tolong jangan ganggu Sakura-chan dan Sasori-senpai!" pinta Ino.
"Cih!"
Satu suapan melewati bibir Ino. Setelah beberapa kali mengunyah, dia langsung menelannya. Tatapan Ino lurus ke arah pancake-nya. "Sakura-chan… ga mau terlibat hubungan khusus dengan laki-laki karena dia sedang menunggu," ucapnya tiba-tiba.
Sasuke mengambil gelasnya lagi dan mulai meminumnya pelan-pelan dengan sedotan. Suara es yang beradu dengan tepi gelas terdengar cukup keras. Sementara Ino kembali memakan pancake-nya sedikit demi sedikit.
"Siapa yang dia tunggu?" tanya Sasuke saat melihat Ino sudah selesai dengan suapan terakhirnya.
Ino mendongak menatap Sasuke. "Seorang bocah," jawabnya singkat. Dia mengelap bibirnya dengan tissue. "Yang telah menyelamatkannya saat terbawa arus sepuluh tahun lalu."
Start of Flashback…
Hari itu adalah malam Tanabata. Legenda menyebutkan pada malam tanggal 7 bulan 7, sepasang kekasih—Orihime dan Hikoboshi—yang terpisah di Milky Way bertemu setelah setahun berpisah. Untuk mendoakan agar mereka dapat bertemu dibuatlah tanzaku yang digantungkan di batang bambu. Pada malam harinya batang bambu tersebut dibakar atau dihanyutkan ke sungai.
"Ikan… Ikan…" celoteh Sakura kecil yang sedang berjongkok sambil memandangi permukaan sungai deras yang jernih. Tangannya memegang sebatang ranting kering yang ia gerak-gerakkan di dalam sungai itu.
"Sakura-chan, jangan terlalu dekat dengan sungai! Sebentar lagi bambunya akan dihanyutkan!" seru ibu Sakura yang berdiri tidak jauh darinya.
Sakura menoleh dan tersenyum pada ibunya. "Iya, Haha-ue!" ujarnya riang.
Dari kejauhan terdengar suara nyanyian menggema, disusul bunyi bambu yang diseret mendekati sungai.
Sasa no wa sara-sara (The bamboo leaves rustle)
Nokiba ni yureru (Shaking away in the eaves)
Ohoshi-sama kira-kira (The stars twinkle)
Kingin sunago (Gold and silver grains of sand)
"Sakura mau ikut!" seru Sakura bersemangat kemudian beranjak dari posisi jongkoknya.
Namun sayang… Sayang sekali! Untung tak dapat diraih, Malang di Jawa Timur (apaan coba?). Sakura terpeleset ke dalam sungai.
"SAKURA-CHAAAAAAAAAAN!" teriak ibunya histeris dan reflek berlari ke tepi sungai. Belasan orang yang baru saja akan menghanyutkan bambu berlari setelah mendengar jeritan itu.
Tanpa diduga seorang bocah laki-laki melompat ke dalam sungai yang deras dan mencoba menyelamatkan Sakura. Tapi, karena dia juga anak kecil, dia juga ikut terbawa arus. Beberapa saat kemudian Sakura dan anak itu berhasil diselamatkan oleh orang dewasa lainnya.
End of Flashback…
Sasuke menyimak cerita dari Ino. Wajahnya terlihat menegang. "Lalu, bagaimana dengan anak laki-laki itu?" tanyanya.
"Selamat, untunglah," jawab Ino. "Tapi Sakura-chan tetap menganggapnya sebagai pahlawan. Esoknya Sakura-chan kembali ke tempat itu, berharap bisa bertemu dengannya lagi."
Tubuh Sasuke terasa semakin tegang. Keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya. "Mereka… bisa bertemu?"
"Ajaibnya iya! Tapi karena bocah itu akan pulang ke Konoha beberapa jam lagi, pertemuan mereka singkat banget," sahut Ino. "Dan mereka berjanji untuk ketemu pas malam Tanabata tahun depan. Waaah! Bagaikan Hikoboshi dan Orihime yang bertemu di malam Tanabata! Romantisnya~!"
Sasuke mulai merasa kepalanya agak pening. Dia mencoba menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Setahun kemudian Sakura-chan datang lagi, tapi bocah itu ga ada," lanjut Ino tanpa menyadari keadaan Sasuke. "Ga pernah dateng… sampai sepuluh tahun juga ga dateng. Tapi Sakura-chan ga pernah lelah buat nunggu bocah itu."
"Aku mau pulang," kata Sasuke tertahan. Kepalanya benar-benar terasa berat seperti kemarin pagi.
"Sasuke-senpai?" tanya Ino yang akhirnya menyadari keadaan Sasuke.
"Pulang," kata Sasuke lagi. Tangannya mencoba menopang kepalanya yang makin lama makin terasa berat.
Ino beranjak dari duduknya dan mendekati Sasuke. "Sasuke-senpai kenapa? Wajahnya merah gitu," kata Ino. Dia mencoba menyentuh dahi Sasuke. "Ya ampun panas banget!"
Ino gugup menghadapi Sasuke. 'Aduuuh, aku harus gimana? Sakura-chan… tolong aku!' batinnya kalut. 'Tenang… tenang…' Ino mencoba menenangkan dirinya.
Nafas Sasuke mulai memburu. "Pu… lang," rontanya.
"Oh, oke! Tapi aku harus bayar ini dulu. Aku ambilin es buat ngompres sekalian, ya?" Ino segera berlari ke arah counter.
Sasuke mencoba merogoh ponselnya yang tersimpan di saku samping celananya. Setelah bersusah payah, ponsel itu akhirnya berada di genggaman tangannya. Dia segera mengetikkan pesan.
To : Driver Hidan
Text : Jemput sekarang!
Message sending…
Sent.
"Ini, Sasuke-senpai!" kata Ino sambil menempelkan saputangannya yang membungkus beberapa bongkah es. "Bisa berdiri?"
"Hn," Sasuke mencoba bangkit dan merebut kompres yang dipegang Ino. "Aku bisa sendiri."
Sasuke berjalan agak membungkuk. Tangan kanannya memegangi kompres sementara tangan kirinya dipegangi Ino. Mereka berjalan menuju pintu keluar.
"Sakura…" ujar Sasuke pelan matanya tidak sengaja melihat Sakura dan Sasori berjalan menuju taman belakang. Dia mempercepat langkahnya, meninggalkan Ino.
"Ah! Sasuke-senpai!" seru Ino dan mencoba mengejar Sasuke.
Sakura dan Sasori duduk di sebuah bangku taman di bawah pohon maple. Satu tangan Sakura memegang boneka kelinci pink. "Arigatou, Sasori-senpai!" kata Sakura tiba-tiba.
"Ah, tidak masalah. Lagipula aku mendapatkan boneka itu akrena diberi pemilik stand," balas Sasori sambil memandangi boneka di tangan Sakura yang ia dapat setelah kalah bermain sebanyak hampir 50 kali.
"Bukan cuma bonekanya. Tapi semuanya," koreksi Sakura. Wajahnya tertunduk
Sasori menatap Sakura. "Seharusnya aku yang berterima kasih. Jarang-jarang kan seorang Haruno Sakura mau diajak kencan?"
Sakura tersenyum tipis. "Iya. Bisa dibilang ini adalah kencan pertamaku," katanya sambil memainkan telinga bonekanya yang terjulur.
"Ternyata aku tidak salah, Sakura-chan memang sangat baik."
"Arigatou…"
"Sakura-chan, ada yang ingin aku tanyakan," nada bicara Sasori berubah menjadi agak serius.
"Apa?" Sakura mendongakkan wajahnya.
"Apakah ada orang yang Sakura-chan sukai?"
Sakura terpaku. Dia kehilangan kata-katanya.
"Maaf kalau aku bertanya seperti itu. Aku hanya penasaran kenapa Sakura-chan selalu menolak ajakan kencan laki-laki lain. Kalau tidak mau menjawabnya juga tidak apa-apa," sambung Sasori yang menyadari Sakura menunjukkan reaksi tidak nyaman.
Sakura tersenyum tipis dan mulai menceritakan tentang bocah yang ia tunggu. Sasori mendengarkan dengan seksama dan mencoba mencerna semua yang Sakura ceritakan.
"Sakura-chan menyukainya ya? Bocah itu maksudnya," ujar Sasori setelah Sakura selesai berceritanya.
Sakura mengangguk. "Aku konyol ya, senpai? Mengharapkan sesuatu yang nggak mungkin. Aku sendiri tak tahu siapa bocah itu, dimana dia sekarang, bagaimana keadaannya," setitik air jatuh dari pelupuk mata Sakura. "Ah, maaf! Kenapa aku selalu begini sih setiap kali mengingatnya?"
"Apa yang mereka bicarakan, ya? Jadi penasaran," celetuk Ino yang berdiri di belakang Sasuke. Sasuke sendiri berdiri di belakang air conditioner besar di dekat taman.
Mata Sasuke terus mengamati Sakura dan Sasori. Tapi posisi bangku yang agak kurang tepat membuat tubuh Sakura terhalang sebagian besar tubuh Sasori. Hanya pundak ke atas saja yang bisa Sasuke lihat.
Terlihat Sakura memejamkan matanya lalu mengerjap-ngerjap. Tangan Sasori menyentuh pipi Sakura dan Sakura hanya menggeleng-geleng sambil mengucek matanya. Sasori pun mendekatkan wajahnya.
"Hah! Jangan-jangan mereka—" kata-kata Ino terhenti saat dia melihat Sasuke mengayunkan tangannya.
BLETAK!
Kepala Sasori dilempari sesuatu, tapi malah membuat wajahnyanya dan wajah Sakura menempel.
CUP!
Sakura menjauhkan wajahnya dan tanpa sadar kedua tangannya terangkat ke depan bibirnya. Sasori sendiri sedang mengusap-usap belakang kepalanya, dia melihat sekitar dan menemukan sebuah bongkahan es cukup besar ada di dekat kakinya.
"I-i-itu tadi…" suara Ino tertahan.
Sasuke merasa lututnya mati rasa, matanya kabur, dan sulit bernafas. Selanjutnya dia hanya bisa mendengar suara Ino meneriakkan namanya dengan samar.
~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~
Sasuke mencoba membuka matanya. Hal yang pertama ia lihat adalah langit-langit putih. 'Pasti rumah sakit,' batinnya yakin, kemudian telinganya menangkap suara sesenggukan lemah. Dia memutar kepalanya ke arah sumber suara.
"Sekarang, kau pasti sedang menangisiku. Benar, kan?" katanya saat melihat Sakura yang sedang tertunduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
Sakura menurunkan tangannya dan memandang ke arah Sasuke yang sedang nyengir. Matanya kembali berkaca-kaca. Dia mengangkat tangan kanannya dan…
PLAKK!
Sebuah tamparan bersarang di pipi kiri Sasuke. Sasuke tetap mematung sementara rasa sakit mulia menjalari pipinya.
"BAKA!" teriak Sakura emosional. "Mengikutiku dengan kondisi seperti itu… Sebenarnya apa sih yang ada di kepalamu? Untung saja kau bersama Ino-chan…" Sakura kembali terisak. Airmatanya mulai mengalir di pipinya
Sasuke meraih lengan Sakura dan menarik tubuh Sakura ke dalam pelukannya. "Gomen… Aku hanya ingin melihatmu bersenang-senang. Tapi saat melihatmu tertawa bahagia seperti itu, aku jadi tidak sadar dengan kondisiku sendiri," katanya sedikit berbohong.
"Kalau kau bilang masih sakit kan aku ga perlu pergi! Bikin cemas aja!" sungut Sakura. Dia membiarkan airmatanya membasahi dada Sasuke.
Sasuke tidak menjawab. Dia mempererat pelukannya. "Ngomong-ngomong, Sakura…" katanya tiba-tiba. "Dadamu besar juga."
"Dasar mesum!" protes Sakura yang mencoba lepas dari pelukan Sasuke. Tapi usahanya sia-sia karena Sasuke memeluknya sangat erat.
Pintu ruang rawat Sasuke terbuka pelan. Terlihat sosok Sasori yang mulai terlihat. "Sa—" kata-katanya terhenti saat melihat pemandangan di depannya. Dia mengurungkan niatnya untuk memanggil Sakura dan mulai menutup pintu itu secara perlahan. Namun, sebelum pintunya tertutup sempurna, Sasori bisa mendengar perkataan Sasuke.
"Kau mencemaskanku, sebagai seorang maid… atau seorang wanita?"
~*~ TBC ~*~
~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~
A/N : Satu chapter lagi telah selesai. Hmm.. di chapter ini perasaan posisi Sakura sebagai seorang maid agak kurang diekspos ya? Maklum, dia kan lagi kencan ^^a. Wah, ternyata chapter ini pun jadinya panjang, haha. Semoga kalian puas membacanya ^^b
Untuk review-nya terima kasih banyak! Karena masukan dari semuanya saia bisa mengetahui kekurangan saia dan mencoba memperbaikinya. Semoga kali ini lebih baik dari sebelumnya *Guy's nice smile*
Bentar ah, mau ngegodain orang, hehe…
Au : Cie… Cie… Cie… yang dapet first kiss dari Sasori. Ngiri, deh!
Saku : *blush* Alah, sok bego lo! Elo kan author-nya, jadi elo tau dong kalo itu bukan first kiss gue!
Au : *ngebekep Saku pake boneka kelinci* Wah, kaco lu! Jangan ngebocorin rahasia pabrik, dong! *seret Sakura pergi*
M.A.T.A., N.E.E.!
Mohon maaf, tidak menerima flame dalam bentuk apapun sebelum mendapat ijin dari Presiden setempat dan SekJen PBB. Jadi, hanya akan menerima review berupa saran, kritik yang membangun, pujian, dan caci maki (ini juga termasuk flame, kan?). Eh, caci maki tidak diterima juga!
Monday, October 04, 2010
16.13 P.M.
Ryuuta
(tetap mengharapkan menjadi—pemenang Nobel Perdamaian *dikitikin Kaisar Akihito*)
