Koibito wa Maid-sama!

Summary : "…dia lebih dari seorang maid."/Saat Sakura mencoba membuka hatinya untuk Sasori, justru Sasuke yang masuk ke dalamnya. Warning : AU, OOC bertebaran, typo dimana-mana, gaje tingkat tinggi. SasuSaku, sligh SasoSaku.

Disclaimer : Au :Masashi Kishimotoooo! Naru-chan buat aku ya?

MK : Oke. Tapi langkahin dulu mayat dia! *tunjuk Neji*

Au : Huwwwaaaa! Kalo dia mah mending aku langkahin idup2 XP

A/N : Ah, sial dia kabur! *clingak-clinguk nyari Saku*

Eh, udah mulai toh penpiknya? Ehehehehe…

Maaf update-nya lama lagi, soalnya seperti yang saia bilang saia hanya akan update kalo chapter selanjutnya udah selesai diketik, hahay!

Banyak yang nebak kalo bocah itu Sasuke, ya? Hmm… Kita liat aja ntar! Apa bener Sasuke ato orang lain. Huehehehe *tawa setan*

Makasih buat review-nya, saia jadi bisa ngembangin fanfic ini. Pokoknya saia usahain endingnya sesuai harapan minna ^^b

Yap, saia ga bakalan banyak bacot lagi, happy reading aja!

Special Gratitude : Hikari Shinju, Thia2rh, 4ntk4-ch4n, Ai-Chibi, Merai Alixya Kudo, Miss Uchiwa 'Tsuki-Chan, Vampire 9irl, D-kiro YoiD, Icha yukina clyne, Made kun, Nakamura Kumiko-chan, VhieHime, Reygi 'Arata' Andreas, Aoi Shou'no, 7color, Rievechta Herbst, Just Ana, akarichan, Uchiha Sakura97, tralala trilili, M0m0 Aika, Onaji sora no shita, Saya-theLastGift.

~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~

"Maid?" gumam Sasori penasaran. Dia menahan pintunya agar tetap terbuka sedikit.

"Ka-kau nanya apaan, sih?" sungut Sakura yang tiba-tiba sudah lepas dari pelukan Sasuke. Wajahnya memerah dan mata sembab setelah menangis.

Sasuke melipatkan tangannya di depan dada. "Sasori-senpai, kalau masuk ya masuk aja!" ujar Sasuke sambil menatap malas pada pintu.

Sakura terperanjat saat melihat Sasori masuk. "Haha, kenapa bisa tahu aku di sini, Sasuke-kun?" ujarnya sambil garuk-garuk kepala. Sasuke menatapnya dengan sorot dingin.

4th chapter : Antara Sasuke dan Sasori

"Gimana keadaanmu sekarang?" tanya Sasori basa-basi. Dia memposisikan berdiri di sebelah Sakura.

Sasuke diam, membuat Sakura mau tak mau mengambil alih. "Kata dokter pingsan karena demam. Selebihnya ga masalah."

"Sasori-senpai," Sasuke mulai membuka suara. "Sejauh mana kau mendengar pecakapan kami?" lanjutnya dengan tatapan tajam menusuk ke arah Sasori.

Sakura terhenyak. Dia tahu pasti kemana arah pembicaraan Sasuke. Dia juga baru sadar kalau ada kemungkinan Sasori-senpai mendengar percakapan mereka.

Dia mengetuk-ngetuk dagunya dengan ujung jari telunjuk—seolah sedang berpikir keras. "Uhm… Bagaimana, ya? Hal terakhir yang aku dengan adalah tentang maid," ujar Sasori jujur.

"Ah! Soal itu… aku… sebenarnya—" kata Sakura terpotong.

"Sakura itu maid pribadiku," lanjut Sasuke yang masih tajam menatap Sasori.

Sasori sendiri memilih untuk melihat tangan Sasuke daripada balas menatapnya. Dia tahu resiko apa yang bisa didapat jika berani memandang langsung mata Uchiha yang sedang dalam kondisi tidak begitu baik.

"Kenapa sepertinya kau sedang menegaskan bahwa Sakura-chan itu sepenuhnya milikmu?" balas Sasori. Sasuke masih diam, ketenangannya tetap terjaga.

"Sa-Sasori-senpai?" kata Sakura yang setengah tak percaya pada apa yang baru saja dikatakan senpai-nya itu.

"Kau… tidak menyukai Sakura-chan kan, Sasuke-kun?" lanjut Sasori.

"Apa maksud pertanyaan itu, Sasori-senpai?" Sakura meminta kejelasan. "Sasuke?" Sakura beralih pada Sasuke.

"Hn," hanya itu yang keluar dari bibir Sasuke. Sebuah jawaban ambigu yang sama sekali tidak menyelesaikan apapun.

"Sakura-chan?" panggil Sasori.

"Ya?" tanyanya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Aku mau pulang dulu. Lagipula sepertinya kau saja sudah cukup untuk menjaga Sasuke-kun," jawab Sasori. Dia menoleh ke arah Sasuke. "Ya kan, Sasuke-kun?"

"Cih!" Sasuke membuang muka.

"Kalau begitu aku juga mau keluar sebentar!" timpal Sakura.

"Mau kemana?" tanya Sasuke.

"Aku akan membelikanmu makanan di kantin. Tunggu sebentar, ya?" pamit Sakura sambil mendorong Sasori keluar ruangan itu.

"Semoga lekas sembuh, Sasuke-kun!"

Di kantin rumah sakit…

"Beneran nih ga apa-apa? Kan udah mulai gelap," tanya Sakura memastikan. Dia dan Sasori duduk di salah satu kursi kantin yang kosong sambil menunggu pesanan mereka.

"Ga masalah. Lagian aku juga sekalian mau beli makanan untuk makan malam nanti," balas Sasori.

"Oh ya, senpai! Tentang yang terjadi di taman tadi… Gomen!" Sakura sedikit menundukkan kepalanya.

Sasori menepuk kepala Sakura pelan. "Harusnya aku yang minta maaf karena aku yang melakukannya."

"Tapi, kalau saja aku tak menangis, Sasori-senpai tak perlu menenangkanku, kan?"

"Jadi, kau menyesal kita sudah berciuman? Walapun hanya kecelakaan?" tanya Sasori pura-pura kecewa.

Wajah Sakura memerah. "Ke-kenapa aku harus menyesal?" sahutnya gugup. Matanya bergerak-gerak gelisah.

Makanan yang mereka pesan datang. Bungkusan yang berisi sup jagung dan ramen dibawa Sasori, sementara Sakura membawa 2 porsi okonomiyaki.

"Kita bicarakan besok saja, ya?" ucap Sasori.

"Satu lagi. Tentang aku dan Sasuke…" bola mata Sakura berputar-putar lucu.

"Kau mau aku mengatakannya pada semua orang?"

Sakura terbelalak. "Jangan!" serunya setengah berteriak.

Sasori terkekeh. "Aku nggak sebodoh itu, kali! Tenang saja, rahasiamu aman!"

~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~

"Enggak!" tolak Sakura ngotot. Dia dan Sasuke sudah kembali ke rumah. Mereka kini sedang duduk bertiga—bersama Itachi di ruang tengah.

"Apa tidak bisa dipikirkan lagi Sakura-chan? Lagipula hanya untuk sementara, kok!" bujuk Itachi agar Sakura mau menambah jam kerjanya saat di sekolah selama kesehatan Sasuke belum pulih seutuhnya.

"Tapi Itachi-sama, kalau jam kerja juga diberlakukan di sekolah, konsentrasi pelajaranku akan terganggu!" Sakura tetap teguh pada pendiriannya.

Itachi tampak diam berpikir. Dia mencoba menemukan solusi yang tepat untuk permasalahan ini. Sementara pihak yang sedang diperdebatkan a.k.a Sasuke malah asyik main PSP. Sungguh Tuan Muda yang tidak patut dicontoh…

"Begini saja. Aku tidak akan menyuruhmu di sisi Sasuke selama sekolah, tapi usahakan kau selalu ada disaat dia sedang butuh. Bagaimana?" tawar Itachi.

"Yang kita bicarakan itu Sasuke, Itachi-sama! Meskipun dia tidak dalam kondisi gawat, dia tetap akan meminta yang aneh-aneh. Sama saja," tolak Sakura.

"Cih!" dengus Sasuke tanpa beralih dari PSP-nya.

"Aku tahu yang ada dalam otakmu!" sergah Sakura.

Sasuke menatap Sakura dalam diam kemudian kembali sibuk dengan PSP-nya. 'Sial, Sephiroth kuat juga!' batinnya kesal. Ohh… ternyata.

"Hufh… Kenapa jadi aku yang repot, sih?" desah Itachi. "Sasuke, kau maunya bagaimana? Keputusan akhir ada di tanganmu," lanjut Itachi sambil menoleh ke arah Sasuke.

Sasuke masih berkutat dengan PSP-nya sementara Sakura mendapatkan firasat SANGAT buruk.

"BAKA-OUTOTO!" teriak Itachi sambil merebut PSP Sasuke dan bersiap membantingnya.

"Gini aja kok repot, sih?" ujar Sasuke sambil garuk-garuk kepala. "Palingan besok juga sembuh total!"

"Kemarin kau juga bilang begitu! Dan lihat apa yang terjadi setelahnya? Kau tepar di rumah sakit!" cerocos Sakura.

"Kau mau menjagaku?" pancing Sasuke.

"Tentu saja!" jawab Sakura reflek.

Seringai iblis tersungging di bibir Sasuke. "Yak, sudah diputuskan! Mulai besok peraturan 'Tidak Saling Mengenal Selama di Sekolah' dihapus!" ujar Sasuke santai sambil merebut PSP dari tangan Itachi.

Sakura terbelalak. "Ditolak!" sahutnya.

"Kau tidak bisa menjagaku kalau kita tidak saling mengenal, Haruno Sakura!" goda Sasuke sambil menggoyang-goyangkan PSP-nya.

Gigi Sakura bergemeletuk, tangannya mengepal keras. "Terserah! Tapi aku ingin mengajukan syarat lain," ujarnya terlihat senang.

"Silakan."

"Jangan ganggu hubunganku dengan teman-temanku," kata Sakura mantap. "Dan pastikan semua fansmu tidak mengganggu ketenanganku!" kedua mata Sakura menatap tajam pada mata Sasuke.

"Deal," timpal Sasuke.

Itachi menatap kedua manusia itu bergantian. Setelah beberapa saat terpaku dia akhirnya hanya menghela napas. "Baiklah, kau boleh kembali bekerja, Sakura-chan!"

"Sebelumnya saya ingin meminta maaf telah berkata tidak sopan di depan Itachi-sama. Permisi," pamit Sakura sambil sedikit menunduk kemudian pergi.

"Maid macam apa itu tidak pamit pada master-nya?" komentar Sasuke. PSP-nya sudah ia geletakkan di sela sofa.

"Kau ini bodoh atau apa sih? Berdebat sejauh ini hanya untuk menghilangkan peraturan sepele itu?" celetuk Itachi sambil menyenderkan punggungnya pada sofa.

"Karena di sekolah muncul penyakit baru. Kalau aku tidak bisa bergerak leluasa di dekatnya, bisa-bisa penyakit itu semakin parah."

"Tapi jangan lupa dengan syarat baru dari Sakura-chan," Itachi mengingatkan.

"Bukan syarat yang berat. Tidak masalah," sahut Sasuke. Kedua matanya terlihat serius.

~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~

Dalam kamus hidup Sakura, Sasuke beranjak sembuh sama artinya dengan BERJALAN MENUJU NERAKA. Lebih jelasnya; yang paling dalam tingkatannya. Penyakit lama Sasuke a.k.a sindrom maid-teaser—sebuah sindrom dimana seorang master sangat senang menyiksa-err menggoda maid pribadinya untuk kesenangan sendiri—malah semakin parah.

Pagi hari, saat Sakura akan membangunkan Sasuke, dia malah berakhir mengerjakan semua PR Sasuke—empat mata pelajaran berbeda dengan 25 soal tiap mata pelajaran. Belum selesai sampai di situ, Sasuke juga mengancam tidak mau mandi kalau Sakura tidak memandikannya—seember air dingin mengguyur tubuhnya beberapa saat kemudian. Dan yang terakhir—yang paling membuat Sakura ingin setidaknya bisa menghilang seperti Sue Storm—adalah Sasuke bersikeras agar Sakura turun dari mobil bersama dengannya, tidak seperti biasa dimana Sakura turun di tikungan dekat gerbang sekolah.

Seluruh mata memandang Sakura yang berjalan di belakang Sasuke. Beberapa menunjukkan ekspresi heran dan sisanya ekspresi kesal, cemburu, ingin membunuh, dan sejenisnya. Sebuah fakta baru ditemukan; berjalan berdekatan dengan seorang Uchiha Sasuke bisa menimbulkan stress berat karena tekanan mental yang didapat dari lingkungan sekitar.

Sakura memandang malas Sasuke. Dia berjalan sekitar satu meter di depannya, tangan kanannya memegangi tas yang tersampir di pundaknya, matanya menatap lurus ke depan. Hanya sebagian wajah kanannya yang bisa Sakura lihat. Entah kenapa, melihat dari sudut pandang ini membuat Sakura berpikir bahwa Sasuke begitu…

"Kenapa sih dari tadi ngeliatin terus? Naksir?" seloroh Sasuke. Dia berhenti dan melirik Sakura tajam.

Sakura ikut berhenti dan menatap Sasuke dengan sorot tidak berminat. "Kayak nggak ada laki-laki lain aja!" balas Sakura. "Aku cuma sedang berpikir, apa yang harus aku katakan kalau orang-orang bertanya kenapa aku bisa turun dari mobil yang sama denganmu."

"Mudah, kan? Bilang aja kita ketemu di jalan. Trus, karena kebaikan seorang Sasuke-sama, kau kuijinkan untuk menumpang sampai sekolah."

Sakura tidak merespon. Sasuke berbalik dan berdiri tepat di hadapan Sakura, membuat Sakura sedikit mendongak untuk bisa melihat keseluruhan wajah masternya itu. "Atau jangan-jangan kau berniat untuk mengaku kalau kau adalah maid-ku?" tanya Sasuke sok serius.

"Hh!" Sakura mendorong tubuh Sasuke pelan. "Memangnya aku segila itu?" ujarnya sambil berjalan meninggalkan Sasuke yang masih berdiri pada posisi tadi.

Sasuke sedikit menoleh dan memandang punggung Sakura yang menjauh dari ekor matanya. Seulas senyum tipis tergambar di sudut bibirnya. Namun tiba-tiba senyumnya buyar saat melihat bayangan laki-laki berambut merah marun berjalan mendekati Sakura.

"Ohayou, Sakura-chan!" sapa Sasori lengkap dengan senyum.

"Ohayou, Sasori-senpai!" balas Sakura ramah.

"Hmm..?" wajah Sasori sedikit cemberut. "Masih memanggilkan dengan embel-embel senpai? Berarti kita belum resmi berkencan, ya?" katanya kecewa.

"Kencan?" mata Sakura terbelalak.

"Mungkin terlalu awal, ya? Lagipula kita juga baru sekali jalan bareng," ujar Sasori sambil garuk-garuk kepala.

Sakura baru saja akan membuka suara ketika tiba-tiba sosok Sasuke lewat di antara dirinya dan Sasori.

"Ahhh… Tiba-tiba aku ingin menginjak serangga yang mengganggu bunga di taman," celetuk Sasuke saat melewati Sakura dan Sasori.

"Ohayou, Sasuke-kun!" sapa Sasori.

Sasuke menoleh dan memasang wajah malas. "Ohayou," balasnya kemudian melanjutkan perjalanannya.

"Sepertinya Tuan Muda sedang tidak bersemangat. Apa karena aku sedang bersamamu, ya?" tanya Sasori saat jarak Sasuke sudah lumayan jauh.

"Kurasa bukan itu. Dia memang senang menggangguku," jawab Sakura. "Oh iya, tentang yang kemarin—" kata-kata Sakura kembali terpotong karena telunjuk Sasori sudah berada di bibirnya.

"Hal seperti itu tidak baik kalau dibicarakan di sini. Nanti saja kalau sudah tidak ada orang lain yang bisa mendengar. Oke?"

Sakura mengangguk. Jantungnya berdegub kencang saat Sasori memandangnya sambil tersenyum manis. Hatinya sedikit demi sedikit luluh oleh sikap Sasori. Apa dia harus mencobanya?

~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~

"Syukurlah kalau dia sudah sembuh. Tidak ada kamu di kelas membuatku merasa bosan," ujar Ino yang duduk di lantai gym di samping Sakura. Mereka duduk agar terpisah dari yang lain.

Jam pertama adalah olahraga, kelas Sakura mendapat jatah di dalam gym karena lapangan sudah terlebih dahulu digunakan oleh kelas 2-1—kelas Sasuke. Karena guru pengajarnya sedang absen, dua jam ke depan bebas diisi dengan kegiatan apapun selama tidak meninggalkan gym. Beberapa siswa tengah sibuk bermain basket sementara sisanya melakukan senam lantai di pojokan gym. Kebanyakan siswi hanya duduk-duduk sambil mengobrol di dekat bangku penonton.

"Iya. Aku juga tidak betah jika harus selalu merawatnya," desah Sakura. "Tapi kenapa kemarin kalian bersama-sama mengikutiku?"

"Hey! Aku tidak sengaja bertemu dengannya! Lagipula rencananya aku ingin double-date denganmu, tapi Sai malah tidak bisa pergi!" gerutu Ino.

Sakura terdiam. "Orang itu… Sampai sekarang aku tidak tahu apa yang dipikirkannya," kata Sakura lemah. "Memberiku ijin untuk pergi, kemudian mengikutiku," dia memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya di sela-sela lutut dan dadanya.

"Oh iya, Sakura-chan!" tukas Ino tiba-tiba. "Kemarin aku sudah menceritakannya pada Sasuke-senpai!"

"Cerita tentang apa?" Sakura mengangkat wajahnya dan menatap Ino sendu.

"Tentang bocah yang menyelamatkanmu dulu."

"HAH?" Sakura terkaget. "Buat apa?"

Ino mengangkat bahunya. "Tau, deh! Aku cuma merasa Sasuke-senpai harus mengetahuinya," ujarnya santai.

"Dasar ember! Dia kan tak perlu tahu masa laluku," dumal Sakura.

"Lalu, bagaimana rasanya?" tanya Ino tanpa menghiraukan kekesalan Sakura, membuat Sakura kembali memasang wajah tidak mengerti.

"Ciumanmu dengan Sasori-senpai kemarin!" lanjut Ino menegaskan.

Mata Sakura membulat dan mulutnya menganga. "Ino-chan!" bentak Sakura tertahan. Lalu Sakura berusaha menjelaskan bahwa ciumannya dengan Sasori adalah murni kecelakaan. "Sekali lagi, KECELAKAAN!" tandasnya berapi-api.

"Iya-iya…" Ino mengalah dan tersenyum jahil.

"Pssst! Itu kan Sasuke-senpai? ... Lho, kok anak kelas dua ke sini? ... Guy-sensei kok juga ke sini?" terdengar bisik-bisik dari arah siswi yang melihat datangnya Sasuke diikuti teman sekelasnya serta guru olahraga kelas dua.

"Ah! Pemandangan yang mengerikan! Di pagi yang cerah seperti ini kalian malah duduk-duduk tanpa melakukan sesuatu!" keluh Guy-sensei setelah tiba di tengah-tengah gym. Di belakangnya rombongan siswa 2-1 sudah berdiri rapi.

"Asuma-sensei absen, Sensei! Katanya anaknya rewel," tukas Shikamaru sang ketua kelas yang kebetulan berdiri di dekat situ.

"Tentu saja aku tahu! Makanya aku datang ke sini untuk menggantikan Asuma," kata Guy-sensei bersemangat. "Ayo semuanya berkumpul di sini!" perintah Guy-sensei pada murid 1-1.

Mau tak mau mereka menghentikan aktivitas sebelumnya dan menghampiri Guy-sensei. Beberapa siswi masih sibuk kasak-kusuk ketika melihat Sasuke tengah memainkan bola basket yang dia rebut dari salah seorang siswa yang tadi bermain basket.

"Semua sudah berkumpul?" tanya Guy-sensei bersemangat.

"Sudah…" jawab para murid malas.

"Kurang semangat!"

"SUUDAAAAH!" teriak murid 1-1.

"KURANG SEMANGAT!" ulang Guy-sensei.

"SUDAH SEMANGAT!" teriak murid 1-1 lagi, Guy-sensei mengangguk-angguk puas.

"Baiklah. Agar lebih mudah mengawasinya, saya akan mengadakan tanding basket 3 on 3 antara kelas 2 dan kelas 1," kata Guy-sensei dilengkapi pose andalannya.

"Wah, ga adil dong! Anak kelas dua pasti lebih jago," protes kelas satu. Sakura hanya diam, sejak tadi dia berusaha untuk menghindari berpandangan dengan Sasuke.

"Hmm… Saya juga benci ketidakadilan," Guy-sensei tampak merenung, tiba tiba ia menjentikkan jarinya. "Oke, saya ada ide! Dari kelas dua satu cowok dua cewek, dari kelas satu kebalikannya, dua cowok satu cewek!"

"Cukup adil," gumam Shikamaru. "Aku ikut!" katanya bersemangat.

"Kalo gitu aku juga!" pekik Kiba bersemangat.

Seorang siswi dari barisan belakang menyeruak maju. "Dari kelas dua, aku dan Hana yang maju," kata Temari sambil menatap Shikamaru tajam.

"Hah? Mereka berdua kan anggota tim basket sekolah," desah siswi kelas satu.

"Cih, mendokusei…" gumam Shikamaru.

"Kenapa Nee-san ikutan, sih!" omel Kiba, membuat Hana menghadiahkannya jitakan keras.

"Lalu, ceweknya… Hmm…" Shikamaru melihat barisan siswi yang terlihat ketakutan. "Sakura, kamu ya?"

Sakura mengerjap. "Aku? Eh, oke!" katanya kemudian maju di sebelah Kiba.

"Kalo gitu kita mulai pertandingannya," ucap Sasuke yang tiba-tiba maju sambil membawa bola basket. Membuat beberapa siswi mendecak kecewa.

PRIIIITT!

Bola melambung tinggi. Sakura dan Hana sama-sama memfokuskan pandangan pada bola yang bergerak turun.

SLAP!

Bola ditampol keras oleh Hana ke arah Temari. Temari men-dribble bola maju ke arah gawang. Namun saat dia akan melakukan lay up shooting bola dirampas oleh Shikamaru.

"Maju SHIKAMARUUUU!" teriak siswa kelas satu heboh.

"Kyaaaa! Sasuke-senpai! Jangan mau kalaaaaaaaah!" teriak siswi kelas satu.

"Gimana, sih? Sasuke-senpai kan musuh!" teriak para siswa kelas satu.

"Sebodo! Sasuke-senpai ayo majuu!" para siswi tidak menghiraukannya.

Shikamaru men-dribble bola dengan cepat. Tiba-tiba di depannya sudah berdiri Sasuke. "Kiba!" teriak Shikamaru sambil melempar bola ke arah Kiba.

"Nggak semudah itu!" pekik Hana yang tahu-tahu ada di samping Kiba.

"Sial!" bola yang harusnya diterima Kiba dia pukul dengan keras kembali ke Shikamaru.

"Arigatou!" teriak Sakura yang melesat di depan Shikamaru bersemangat sambil menangkap bola. Dia maju ke arah gawang dan segera menembak bola.

PRIIIIIIIIT!

Peluit panjang Guy-sensei ditiup. Dua angka untuk kelas satu.

"Sasuke bodoh! Jaga Sakura, dong!" teriak Temari frustasi, yang diteriaki hanya membuang muka.

Permainan dilanjutkan. Hana mengoper bola kepada Sasuke. Dengan tangkas Sasuke men-dribble bola menuju gawang. Hap, Shikamaru di garis depan berhasil dilewati. Hap-hap, Kiba di tengah juga dilewati dengan mudah.

Sasuke menghentikan langkahnya saat Sakura menghadangnya dengan kedua tangan direntangkan. Wajahnya bersimbah keringat yang menurut Sasuke sangat… menggoda.

"Kenapa? Minta dipeluk?" goda Sasuke yang masih men-dribble bola.

Sakura menaikkan satu alisnya. "Dalam mimpimu!" tandasnya.

"SASUKE! CEPAT TEMBAK!" teriak Temari dan Hana berapi-api.

Sasuke melangkahkan kaki mendekati Sakura. Tangannya yang memegang bola terangkat, siap untuk menembak. Sakura melompat untuk menghalau bola, tapi sayang tiba-tiba keseimbangannya goyah karena salah satu tali sepatunya terinjak Sasuke.

GUBRAAKK!

DUNG… DUNG… DUNG…

Bola basket menggelinding keluar lapangan. Temari, Hana, Shikamaru, Kiba, Guy-sensei, dan murid lainnya diam terpaku.

Sakura menindih tubuh Sasuke. Kepalanya berada tepat di samping kepala Sasuke dengan posisi mencium lantai. Sedangkan Sasuke sendiri menutup mata karena syok.

"Aduduh…" Sakura bangkit dan duduk di sebelah Sasuke yang masih terlentang. Dia memegang kepalanya yang berdenyut.

Sasuke akhirnya membuka mata dan duduk. "Berat, tau!" dumalnya.

"Gomen…" desis Sakura sambil menatap Sasuke.

Mata Sasuke membesar saat melihat darah segar mengalir dari lubang hidung Sakura. "Kau mimisan!" pekik Sasuke panik. Tanpa menunggu respon dari Sakura, Sasuke menggendongnya ala bride style ke UKS. Meninggalkan orang-orang yang masih mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.

~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~

"Sudah tidak keluar lagi, kan?" tanya Shizune-sensei, penjaga UKS.

"Arigatou, Shizune-sensei," kata Sakura dengan suara agak bindeng. Semua lubang hidungnya tersumpal tissue.

"Benar kamu sudah baikan, Haruno-san?" tanya Guy-sensei prihatin.

"Iya, Sensei. Saya sudah tidak apa-apa. Maaf telah membuat keributan," kata Sakura susah payah.

"Udah, jangan kebanyakan ngomong dulu," nasehat Sasuke khawatir. Dia duduk di kursi sebelah ranjang UKS menghadap Sakura.

"Sensei dan yang lainnya melanjutkan pelajaran saja. Jamnya kan belum selesai," saran Sakura.

"Baiklah. Kau istirahat dulu, ya? Aku akan mengurus ijinmu kalau sampai pergantian pelajaran kamu belum pulih," lanjut Guy-sensei.

"Arigatou," balas Sakura sambil tersenyum.

"Ayo semuanya kembali ke dalam gym!" instruksi Guy-sensei. Semua siswa menurut dan keluar dari ruang UKS.

"Sakura-chan…?" panggil Ino cemas. Di sebelahnya ada Sai yang merangkul pundaknya.

"Ga apa-apa kok, Ino-chan! Kamu balik aja! Aku kan cuma mimisan dan sedikit pusing," jawab Sakura.

"Ya sudah. Nanti pas istirahat aku ke sini, ya?" Sakura mengangguk.

"Uchiha-kun? Kenapa masih di situ?" tanya Guy-sensei.

"Aku juga terluka," jawab Sasuke.

"Baiklah. Kalau sudah diobati langsung kembali!"

Akhirnya UKS kembali sepi. Hanya ada Sakura yang masih menekan-nekan hidungnya sambil mendongakkan kepala, Sasuke yang memperhatikan Sakura, dan Shizune-sensei yang tengah berbicara di telepon.

"Saya keluar sebentar. Tolong obat-obatannya diberesi ya, Uchiha-san?" pinta Shizune-sensei. Sasuke mengangguk.

"Gimana? Masih nyeri?" tanya Sasuke sambil menyentuh pipi Sakura. Sakura menggeleng.

"Nggak apa-apa kok! Darahnya juga udah berhenti," jawab Sakura sambil memegangi tissue di hidungnya. "Kamu sendiri gimana? Katanya ada yang luka?"

Sasuke menghela napas. "Hanya alasan. Aku baik-baik saja."

"Apa berbohong juga salah satu hobimu?" goda Sakura sambil mulai memasukkan obat-obat ke dalam kotak.

"Aku kan hanya ingin merawatmu!" sergah Sasuke ketus.

"Pffttt…" Sakura menahan tawanya.

"Apanya yang lucu?"

"Aku kan maid-mu. Tapi malah kau yang merawatku," lanjut Sakura dengan nada geli.

Beberapa detik kemudian pundak Sakura terasa berat. Kepala Sasuke sudah bersandar di sana dengan posisi menghadap ke bawah. "Memangnya salah kalau seorang master mencemaskan maid-nya?" bisiknya.

Sakura termenung. Deru napas Sasuke terasa di lehernya. Tanpa sadar kepala Sakura tersandar di atas kepala Sasuke dan tangannya melingkar di punggung Sasuke. "Arigatou…"

Sebuah perasaan aneh mencuat di dalam hati Sakura. Jantungnya berdetak tak teratur dan wajahnya terasa memanas. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari hidungnya.

"Aduh, keluar lagi!" serunya sambil mendorong Sasuke agar tidak terkena darah mimisannya. Sasuke dengan cepat mengambil tissue lagi dan membantu Sakura mengganti penyumpal hidung.

Kedua mata mereka beradu. Sasuke masih terlihat tenang dan dingin, tetapi kilatan di matanya menunjukkan bahwa pemuda itu sedang gelisah akut. Sakura sendiri memandangnya dengan sorot bingung.

"Sakura, aku—"

"Uchiha-san, Haruno-san! Saya ada surat edaran dari petugas TU," kata Shizune-sensei yang baru masuk ke dalam UKS. Sontak Sakura san Sasuke menjauh.

"Uchiha-san? Haruno-san?" Shizune-sensei tampak bingung melihat keadaan dua manusia itu. Sakura menunduk dengan tangan diapit di kedua lulut, sedangkan Sasuke memegangi dagunya sambil memandang ke langit-langit dengan wajah memerah.

Shizune-sensei tersenyum simpul sambil mendekati mereka berdua. "Ini surat edaran tentang studi lapangan kalian minggu depan," katanya sambil menyerahkan dua surat itu kepada mereka.

Sakura dan Sasuke menerimanya. Beberapa saat kemudian mereka sibuk membaca isi surat tersebut. Mata mereka bergerak mengikuti deretan huruf-huruf di dalam surat itu, setelah beberapa saat keduanya terbelalak.

"Studi lapangannya ke lembah dekat perbatasan Takigakure?" tanya Sakura.

"Iya. Untuk event di hari terakhir. Hitung-hitung penyegaran, lah!" balas Shizune-sensei.

Sakura terdiam sebentar. "Sebenarnya dulu saya sempat tinggal di sini. Saya juga masih sering mengunjunginya setiap tahun," jawab Sakura.

"Tempat yang bagus untuk menjernihkan pikiran, kan?"

Sakura mengangguk. Kemudian Shizune-sensei kembali ke mejanya di depan UKS. Sakura membaca-baca lagi surat edaran itu. 'Di sini juga dulu aku nyaris mati tenggelam,' batinnya sambil tersenyum tipis.

"Oh ya, Sasuke. Mungkin kau tidak tahu tentang studi lapangan ini. Tiap tahun sekolah di bawah Yayasan Konoha Academy selalu melakukan studi lapangan yang diikuti semua siswa dari SMP hingga SMA. Biasanya studinya berlangsung tiga hari," jelas Sakura panjang lebar.

"Tempat yang kau tanyakan tadi," Sasuke berhenti sejenak. "Sepertinya istimewa?"

"Kau—"

"Sasuke-sama!" koreksi Sasuke.

"Iya, Sasuke-sama!" ujar Sakura lucu. "Sasuke-sama pasti udah dengar dong cerita masa kecilku dari Ino?" Sasuke menggangguk. "Di sungai dekat lembah inilah dulu aku tenggelam."

"Kau berharap bertemu dengan bocah itu saat studi lapangan besok?"

Sakura menggeleng. "Kami berjanji bertemu saat Tanabata. Tanabata kan sudah lewat lama sekali. Pastinya dia takkan datang," jawab Sakura. "Saat Tanabata juga tak datang," lanjutnya lirih.

"Bocah yang merepotkan," komentar Sasuke.

"Kurasa kau jauh lebih merepotkan," timpal Sakura, membuat Sasuke sewot.

~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~

"Nggak pulang?" tanya Sasori pada Sakura yang duduk termenung dengan kepala disandarkan di meja ruang klub karate.

Sakura mendongak dan mendapati Sasori berdiri di sampingnya dengan seragam karate lengkap. Wajahnya bersimbah peluh dan rambutnya agak basah. "Mmmm," gumamnya sambil menggeleng.

"Hidungmu kenapa?" tanya Sasori lagi saat melihat dua tissue menutupi lubang hidung Sakura. Dia berjongkok dan memposisinya wajahnya di dekat wajah Sakura.

"Ini?" Sakura tersenyum tipis. "Mimisan. Tadi jatuh pas jam olahraga," katanya dengan suara yang masih bindeng. "Tapi sudah nggak apa-apa kok! Aku cuma merasa keren memakainya," tambah Sakura cepat-cepat.

Sasori tertawa pelan sambil menepuk ujung kepala Sakura. "Dasar! Kenapa ya aku bisa suka sama cewek seperti kamu?" celetuknya disela tawa.

Wajah Sakura memanas. Matanya membulat saat menatap kedua mata Sasori yang teduh. Lagi-lagi dia merasa ada sesuatu yang hangat mengalir di hidungnya.

"Ya ampun!" pekik Sasori saat menyadari hidung Sakura mulai berdarah lagi.

Sakura langsung mengaduk-aduk tasnya dan mengambil tissue basah. Setelah membuang tissue yang sudah kotor, dia mengelap hidungnya sampai bersih dan menyumpalnya lagi dengan tissue kering yang baru.

"Kayaknya masih parah, deh!" ujar Sasori khawatir.

"Iya. Apa jangan-jangan pendarahan otak, ya?' sahut Sakura ngasal sambil tertawa. Membuat Sasori mau tak mau ikut tertawa.

"Kenapa nggak pulang?" tanya Sasori lagi.

Sakura menegakkan posisi duduknya. "Teman sekelas Sasuke sedang main ke rumah. Aku dilarang pulang sampai dia menyuruhku," jawabnya.

"Berat ya jadi seorang maid? Harus menuruti segala perintah masternya."

"Tadinya memang iya. Sasuke sering memerintahku yang aneh-aneh. Tapi sekarang entah kenapa dia jadi agak baik padaku."

Sasori terdiam. "Hm… Berarti sekarang kau tidak sibuk, kan?"

Sakura kembali menggeleng.

"Jalan-jalan, yuk!" ajak Sasori.

"Kemana?" tanya Sakura.

"Kemana saja," jawab Sasori. "Hitung-hitung kencan kedua kita," lanjutnya sambil mengedipkan mata.

Sakura tidak langsung menjawab. Dia memandang Sasori agak lama kemudian mengangguk semangat. "Oke!"

"Baiklah, aku ganti baju dulu. Tunggu di depan, ya?" instruksi Sasori dengan mata berbinar.

Sakura menurut dan langsung mengemasi barang-barangnya. Dia berjalan riang menuju gerbang depan sekolah. Sambil berjalan dia mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan.

To : Stupid U.S.

Text : Jangan jemput aku di sekolah, aku sudah pergi.

Message sending…

Sent…

Sasuke yang tengah jenuh menunggui teman-temannya bermain PS3 di ruang tengah terkaget saat ponsel yang ada di sakunya bergetar. Dia membaca pesan itu dan langsung membalasnya.

To : Ma Chérié-Blossom

Text : Nanti kuhubungi lagi. Aku sedang tidak mood sekarang

Message sending…

Sent…

Sakura menatap layar ponselnya sejenak kemudian memasukkannya ke dalam saku. Dia melihat sekitar dan menangkap bayangan seseorang sedang menaiki sebuah motorsport berwarna merah yang Sakura kenali. Dia melambai ke arah Sakura.

"Maaf menunggu lama!" kata Sasori—orang itu saat motornya berhenti di depan Sakura. Dia mengangsurkan helm berwarna putih pada Sakura.

Setelah memakai helm, Sakura langsung naik dan berpegangan pada jaket yang dikenakan Sasori. Beberapa saat kemudian motor yang Sasori kendarai melaju cukup kencang.

Sasori mengarahkan motornya pada sebuah distrik penjualan pakaian yang cukup ramai. Banyak orang berlalu-lalang dan gedung-gedung pertokoan berdiri di sana. Setelah mendapatkan tempat parkir yang cukup strategis, mereka berdua langsung turun. Tak lupa Sakura membuang penyumbat hidungnya.

"Kok dilepas?" tanya Sasori heran. "Katanya keren?"

"Aku sih memang merasa keren, tapi nanti aku mempermalukan senpai," jawab Sakura sambil nyengir. Sasori hanya tersenyum tipis.

"Saat aku kecil aku sering diajak nenek ke sini," kata Sasori saat mereka mulai menapaki trotoar. "Biasanya untuk belanja pakaian saat tahun baru."

"Ini pertama kalinya aku ke sini sejak di Konoha," timpal Sakura. "Saat aku masih hidup sendiri semua pakaianku kubawa dari kampung. Setelah bekerja di rumah Uchiha, semua pakaianku disuplai oleh Itachi-sama."

Sasori terlihat baru saja teringat sesuatu. "Kalau tidak salah Uchiha punya satu distro di sini. Mau mampir? Siapa tahu mereka mengenalmu," tawar Sasori.

Sakura merenung sesaat kemudian menjawab, "Sepertinya asyik!"

Mereka berjalan agak cepat menyusuri trotoar yang padat pejalan kaki. Setelah berjalan sekitar 50 meter mereka sampai di sebuah toko yang lumayan elit dengan simbol kipas putih-merah dan papan nama bertuliskan AREA U-1.5 yang penuh sesak.

"Masuk?" tanya Sasori. Sakura menggeleng.

"Aku tidak suka berdesakan," tolak Sakura. "Bagaimana kalau kita cari makan? Aku lapar."

Sasori melihat sekitar dan menemukan kios takoyaki kecil di seberang jalan.

"Takoyaki mau?"

"Oke."

Mereka segera menyeberangi jalan dan menghampiri kios itu. Setelah memesan dua porsi takoyaki, mereka duduk di bangku kecil dekat kios.

"Katanya distro itu usaha sampingan putra Uchiha, lho!" celetuk Sasori. "Berarti punya Sasuke-kun, ya?"

"Sepertinya bukan," balas Sakura. "Akan lebih masuk akal kalau distro itu milik Itachi-sama. Sasuke mana mampu mengelola distro?"

"Sakura-chan… Kau sangat mengenal Sasuke-kun, ya?"

"Aku kan maid-nya, jelas aku mengerti tentang sifatnya."

"Jadi menurutmu Sasuke-kun itu hanya mastermu?"

"Tentu saja!"

Setelah Sakura mengucapkan kalimat tersebut pedagang kios tadi menyerahkan dua porsi takoyaki pada Sakura dan Sasori. Saat Sakura sedang melahap takoyaki, tiba-tiba ponselnya bergetar.

Stupid U.S

Calling…

Dia segera menekan tombol jawab.

Saku : Moshi-moshi?

Sasu : Sekarang dimana?

Saku : Di kios takoyaki depan distro.

Sasu : Distro mana?

Saku : Area U-1.5

Sasu : Ngapain kamu di situ?

Saku : Main aja!

Sasu : Tunggu di situ. Jangan kemana-mana

TUUUT-TUUUT-TUUUT

Sakura memandang ponselnya dengan tatapan tak percaya.

"Sasuke-kun, ya?" tebak Sasori. Sakura mengangguk sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

"Cuek aja," celetuk Sakura sambil meneruskan makannya.

"Oh ya Sakura-chan, soal pembicaraan kita pagi tadi…"

Sakura seperti agak tersedak. "Ah, itu… Uhmm…"

"Aku takkan memaksamu kalau kau tak mau," potong Sasori.

"Bukannya aku tak mau, hanya saja… aku merasa belum siap," jawab Sakura dengan wajah tertunduk.

Sasori membelai rambut Sakura. "Kita coba pelan-pelan saja. Dari pertemanan juga bisa berkembang menjadi cinta, kan?"

Sakura mengangkat wajahnya dan tersenyum sumringah.

"Huuuh… hari terakhir studi kita berkunjung ke lembah ya?" desah Sasori tiba-tiba.

"Iya. Di sana ada sungai arus deras juga, lho!" balas Sakura semangat.

"Justru itu yang membuatku malas," sahut Sasori.

"Kenapa?"

"Aku punya trauma parah terhadap arus deras," kata Sasori sambil menerawang. "karena aku pernah hampir mati tenggelam saat kecil di sungai dekat lembah itu."

DEG!

"Kok bisa tenggelam?" tanya Sakura agak gugup.

"Entahlah. Setelah kembali ke Konoha aku dibawa ke psikiater, tapi karena terlalu parah psikiater itu membuatku menekan memori masa laluku," jawab Sasori. "Jadinya aku tak ingat persis."

"Berarti kejadiannya sudah lama, ya?" Sakura mencoba tenang.

Sasori mengangguk. "Iya. Malam Tanabata sepuluh tahun yang lalu."

Baru saja Sakura ingin bertanya lagi, sebuah mobil mewah yang sangat Sakura kenali berhenti di depan mereka. Beberapa saat kemudian pintu belakang mobil itu terbuka dan muncullah seseorang berambut biru-hitam dengan style mohawk yang tidak awam memakai kemeja coklat tua agak tebal tanpa lengan, celana kain warna senada, dan sandal hijau lumut.

"Sasuke!" seru Sakura berbarengan dengan Sasori.

"Sasuke-kun?"

"Cepet banget?" komentar Sakura.

Sasuke tidak merespon. Dia melangkah mendekati mereka berdua. Matanya bertemu dengan mata Sakura. "Masuk ke mobil," perintahnya dingin.

"Tapi aku kan sedang bersama Sasori-senpai!" tolak Sakura.

"Tidak apa-apa, Sakura-chan. Lagipula aku juga berniat mengantarmu pulang setelah ini," nasehat Sasori.

"Tapi…" Sakura memandang Sasori yang tersenyum padanya. "Baiklah. Terima kasih untuk takoyaki-nya!" ujar Sakura sambil mengangkat kotak kecil yang berisi tiga buah takoyaki.

"Sama-sama."

Sasuke menoleh sebentar, memastikan kalau Sakura sudah di dalam mobil. "Masih tidak menyerah?" tanyanya pada Sasori.

"Setidaknya usahaku tidak sia-sia," balas Sasori.

"Cih!"

"Ingat, di mata Sakura kedudukanmu hanyalah sebagai masternya. Nggak lebih," tambah Sasori.

Sasuke membalikkan badannya dan bersiap pergi. "Dimataku dia lebih dari seorang maid."

Sasori menatap kepergian mobil yang ditumpangi Sasuke dan Sakura dengan perasaan galau. "Akhirnya dia mengatakan hal seperti itu," desahnya. "Jadi semakin sulit saja."

~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~

"Jangan-jangan bocah itu Sasori-senpai… Mungkin saja karena ingatannya ditekan dia tak ingat akan perjanjian itu. Makanya dia tidak pernah datang," gumam Sakura sambil menatap lurus buku catatannya.

"Ah, sial! Dari semuanya kenapa wajah bocah itu yang sama sekali tidak bisa kuingat?" rutuknya. Beberapa saat kemudian dia menutup buku catatannya. Dia melongok ke arah jam di samping tempat tidurnya. Sepuluh lebih lima belas.

"Sudah malam," dengus Sakura. "Padahal aku belum mempersiapkan pakaian untuk studi lapangan besok," sungutnya malas.

Dengan langkah ogah-ogahan Sakura menuju lemari dan membukanya. Setelah melihat-lihat sebentar dia akhirnya mengambil sebuah kemeja lengan panjang putih dengan garis coklat, T-Shirt biru muda dengan kerudung, dua celana panjang hitam, piama pink dengan motif bunga, dan beberapa pakaian dalam. Kemudian dia meletakkannya di atas kasur dan kembali membuka lemari untuk mengambil koper kecil.

"Ah! Pakaian Sasuke masih kutaruh di ranjangnya!" sontak Sakura langsung berlari kecil keluar kamar.

Sakura mengetuk pintu kamar Sasuke pelan. Tidak ada respon. Dia mencoba membuka pintunya yang ternyata tidak dikunci. "Aku mau ambil pakaianmu yang akan dibawa besok," ujarnya saat sudah memasuki kamar Sasuke.

Kamar itu masih terang benderang, sehingga dengan jelas Sakura bisa melihat meja belajar Sasuke yang berantakan. "Kebiasaan buruk, deh…" dumalnya. Dia mendekati meja itu dan membereskan buku-buku Sasuke. Setelah selesai, dia memutar kepalanya ke arah ranjang.

Terlihat Sasuke sedang tidur dengan posisi miring ke kanan dan tubuh meringkuk. Sebagian selimutnya tersingkap sampai perut. Beberapa pakaian tertumpuk rapi di bawah kakinya. Sakura mengurungkan niatnya untuk mengambil pakaian duluan dan memutuskan untuk mendekati Sasuke.

"Kayak anak kecil," gumamnya pelan. Dia membetulkan posisi selimut Sasuke, membuat Sasuke mengubah posisinya menjadi terlentang dan kepala agak miring ke kiri.

Sebenarnya ini bukan kali pertama Sakura melihat Sasuke tidur. Biasanya juga dia senantiasa menunggui masternya itu sampai terlelap. Tapi entah kenapa kali ini Sakura merasakan hal yang berbeda.

Tanpa sadar tangan Sakura bergerak menyapu lembut pipi kanan Sasuke yang sedikit tertutup rambut. Mata Sasuke yang tertutup bergerak-gerak lucu, membuat sudut bibir Sakura terangkat beberapa senti.

'Tampan juga…' pikir Sakura. '… kalo lagi tidur.'

Baru beberapa saat Sakura hanyut dalam lamunannya tiba-tiba ia dikejutkan dengan tangan Sasuke yang mencekal tangannya yang berada di pipi Sasuke. Mata Sakura membulat panik. Selanjutnya ketika ia sadar wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Sasuke.

"Mmmmm," Sakura merasakan ada yang menahan bibirnya untuk terbuka. Dia mencoba membuka matanya.

Dan yang ia lihat pertama kali adalah sepasang mata dengan iris gelap yang terbuka.

Sedetik kemudian Sakura langsung berdiri dan mundur beberapa langkah. Sedangkan Sasuke yang terbangun memposisikan tubuhnya duduk dan jari telunjuknya menyentuh bibir bawahnya.

"Hmmm? Menyerangku saat tidur? Sungguh mengesankan," ujarnya dengan sorot menggoda.

Wajah Sakura memanas. Dia menatap Sasuke kikuk. "A-aku… aku tidak—" kata-kata Sakura terpotong karena tiba-tiba Sasuke melompat ke hadapannya.

"Tidak apa?" Sasuke mendekatkan wajahnya.

"Tadi kau yang menarik tanganku sehingga keseimbanganku jatuh!" tuding Sakura.

"Aku takkan menarik tanganmu kalau tanganmu tidak berada di pipiku," sangkal Sasuke tenang. Dia berjalan mengitari Sakura dan Sakura terus mengikuti pandangan Sasuke.

"Aku hanya membetulkan selimutmu," lanjut Sakura yang mundur satu langkah.

"Sampai menyentuh pipiku?" desak Sasuke, dia semakin memperkecil jarak mereka.

"I-itu… Karena ak—kyaa!" tubuh Sakura terjatuh ke belakang sementara tubuh Sasuke sudah di atasnya dengan kedua tangan mencekal tangan Sakura.

"Kau sudah mencuri ciumanku, maid nakal!" goda Sasuke sambil mendekatkan wajahnya, membuat wajah Sakura semakin memerah.

"Apa yang kau mau?" bentak Sakura gugup. Dia mencoba menenggelamkan kepalanya ke ranjang Sasuke.

"Sebagai gantinya, aku juga harus mencuri sesuatu darimu," lanjut Sasuke sambil mendekatkan bibirnya ke leher Sakura.

~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~

A/N : Yosh! Chapter 4 yang juga panjang! Saia merinding pas ngetik bagian terakhirnya. Awww~ Otak saia konsleeeeet! *lari2 sambil bawa bola basket(?)*

Apakah chapter depan akan ada lemon, sodara-sodara? Mari kita lihat saja. Tapi jangan terlalu berharap pada author sarap ini! XD

Untuk nama kontak Saku di hape Sasu itu sebenarnya dari bahasa Perancis ma chérié yang artinya sayangku trus ditambahi blossombiar artinya jadi sakura (cherry-blossom, pengucapan chérié dan cherry sama soalnya ^^). Hahaha, nggak penting banget ya? Tapi minna pasti tahu dong maksud saia nulis beginian? Hehew.

Au : Asik banget, lu! Kemaren dicium ama Sasori, sekarang ciuman ama Sasuke. Gue aja mpe sekarang ga pernah dicium Kakashi(?)!

Saku : Yaah… Itu kan bikinan elo. Gue mah nurut aje!

Au : Kalo gitu besok gue bikin elo ciuman ama ROCK LEE! *nice guy's pose*

Saku : Sampe elo berani bikin kayak gitu, gue bocorin ending nih penpik!

Eh, minna! Sebenernya nih penpik ntar akhirnya ba—*dibekep pake selimutnya Sasukoi*

Au : Bener-bener minta dikebiri nih cewek! *pergi ngambil pecut(?)*

M.A.T.A., N.E.E.!

Mohon maaf, tidak menerima flame dalam bentuk apapun sebelum mendapat ijin dari Presiden setempat dan SekJen PBB. Jadi, hanya akan menerima review berupa saran, kritik yang membangun, pujian, dan caci maki (ini juga termasuk flame, kan?). Eh, caci maki tidak diterima juga!

Saturday, October 09, 2010

17.31 P.M

Ryuuta

(selalu mengharapkan menjadi—pemenang Nobel Perdamaian *diinjek-injek Ratu Beatrix*)