Koibito wa Maid-sama!
Summary : Kau isi apa koperku?/Ya pakaianmu, lah!/Sejak kapan aku memakai bra!/Warning : AU, OOC bertebaran, typo dimana-mana, gaje tingkat tinggi. SasuSaku, slight SasoSaku.
Disclaimer : M-A-S-A-S-H-I ~ K-I-S-H-I-M-O-T-O
A/N : Oke, update lagi setelah sekian lama ^^
Wah, chapter kemaren lupa ngasih tulisan TBC! Gomen2 *nunduk2*
Dan untuk lemonnya, sayang sekali setelah melakukan penerawangan(?) bersama Master Lambad(?) dan Pak Haji Kempet(?), TIDAK ADA. Wakakakakak—ohok*keselek menyan* Yah, demi kebaikan bersama, lah! Saia juga ga bisa bikin gituan. Ngetik yg kemaren aja udah sukses bikin saia mimpi aneh *malah curhat*
Sebenernya chapter ini mau dibuat sebagai chapter penghabisan, tapi setelah diketik kok…. Panjang amaaaat? Ya sudah saia memutuskan untuk memotongnya menjadi dua. Jadi artinya chapter depan sudah selesai ^^b
Happy Reading! *tebar-tebar sobekan Icha-Icha Tactics* *Kaka : novel guee!*
Special Gratitude : ALL REVIEWER. Gomen ga bisa disebutin satu-satu, lagi buru-buru ^^
~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~
Sasuke menempelkan bibirnya di leher Sakura sementara Sakura hanya bisa menutup matanya karena ruang geraknya yang terbatas. Desah nafas Sasuke bisa dirasakan oleh Sakura.
"Sa-Sasu—" kata-kata Sakura tertahan saat dia merasakan sebuah gigitan di lehernya. Sebuah bercak merah muncul pada bekas gigitan itu.
"Hukuman untuk maid nakal," bisik Sasuke yang membuat tengkuk Sakura merinding.
'Apa yang akan Sasuke lakukan?' batin Sakura berkecamuk. Dia mencoba berontak tapi gagal karena Sasuke semakin memperkuat genggamannya.
Bibir Sasuke berpindah ke telinga Sakura dan mengecup pelan bagian itu. "Jauhi aku saat studi lapangan besok," bisiknya seraya melepas tangan Sakura dan berdiri.
5th chapter : Serpihan Kenangan
Sakura masih syok dengan apa yang dilakukan Sasuke barusan. Matanya yang terbuka menatap Sasuke tak mengerti. "Hah?" hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Sasuke mengulurkan tangannya untuk membantu Sakura bangkit. Setelah keduanya berdiri berhadapan Sasuke menepuk ujung kepala Sakura pelan. "Gomen."
Sakura terbelalak. Sejak pertama kali dia bekerja sebagai maid-nya dan selalu disuruh-suruh dengan biadab, baru kali ini Sasuke meminta maaf padanya. "Kau sakit lagi?" tanya Sakura heran. Dia seperti melupakan apa yang baru saja Sasuke lakukan padanya.
Sasuke hanya berdecak geli. "Kenapa kau datang ke kamarku?" tanyanya langsung.
"Uhm… Aku hanya ingin mengambil pakaianmu untuk besok," jawab Sakura seadanya.
Sasuke mengangguk-angguk. "Kenapa pake ngelus-elus pipiku?"
Wajah Sakura kembali memerah. "Aku kan sudah bilang kalau aku hanya ingin membetulkan selimutmu!" bentaknya gugup. Secepat kilat dia mengambil tumpukan pakaian Sasuke dan segera berlari keluar kamar itu.
BRAAK!
Sakura membanting pintu kamarnya, tidak menghiraukan fakta bahwa sekarang sudah malam dan mungkin dia bisa membangunkan orang atau yang paling parah membuat Pein dan Kakuzu—duo satpam Uchiha berlari ke kamarnya.
"Sasuke brengsek!" rutuk Sakura seraya membanting tumpukan pakaian Sasuke di atas kasurnya. Dia berkacak pinggang sambil mencoba mengatur napasnya yang memburu. "Kali ini udah bukan little devil lagi, tapi devil beneran! Harus hati-hati!"cetusnya.
Tangan Sakura terangkat ke bibirnya yang masih agak basah. Dia memejamkan matanya sejenak kemudian menatap lurus dengan pandangan kosong. 'Apa aku pernah menciumnya, ya? Kok rasanya familiar…' batinnya bertanya-tanya. Dia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, sadar akan pikiran ngawur barusan.
"Oh, iya! Aku kan mau ambil jaket!" celetuknya lalu membuka kembali lemarinya dan mengambil hoodie berwarna biru muda dengan strip putih sepanjang lengan dan simbol magekyou sharingan—simbol resmi distro Uchiha— yang agak besar pada kerudungnya. Hoodie itu adalah hadiah dari Itachi setelah dia mendengar Sakura berkunjung ke distro.
Setelah melepas gantungan baju dari hoodie itu, Sakura melipatnya asal-asalan lalu diletakkan di atas tumpukan pakaian Sasuke. Lalu dia menatap kopernya yang sudah terbuka. "Yah… Aku lupa mengambil koper Sasuke," Sakura mendesah malas. "Terpaksa balik lagi, deh!"
Dengan langkah malas Sakura kembali berjalan menuju kamar Sasuke. Kali ini dia tidak langsung masuk dan memilih untuk mengetuk pintu sampai si empunya kamar membukakan.
"Apaan lagi?" tanya Sasuke dengan wajah setengah sadar dari celah pintu yang terbuka. Kamar Sasuke terlihat sudah gelap.
"Koper," jawab Sakura singkat.
Sasuke menggaruk-garuk rambutnya kemudian berbalik dengan langkah sempoyongan.
"Sama jaket juga! Suhu di daerah lembah lumayan dingin," seru Sakura sebelum Sasuke terlalu jauh.
"Hn," Sasuke mejawab ogah-ogahan. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan koper yang diseret tangan kanannya dan hoodie putih di tangan kirinya. "Nih! Jangan ganggu tidurku lagi!" sungut Sasuke sambil menyerahkan hoodie-nya di depan wajah Sakura.
"Nggak usah disuruh juga aku nggak bakal ganggu kamu!" balas Sakura tak kalah sebalnya. Dia langsung meraih pegangan koper dan bersiap pergi.
"Oi, Sakura!" panggil Sasuke tiba-tiba. Sakura menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Apa?"
"Yang tadi kita lanjutkan kapan-kapan, ya?" ujarnya dengan seringai mesum.
"Dalam mimpimu!" seru Sakura dengan wajah memerah.
Sasuke terkekeh pelan. "Oke, aku akan memimpikannya," ujarnya santai. "Sebagai pemanasan sebelum kita benar-benar melakukannya," tambahnya.
"MESUM!" teriak Sakura tertahan. Dia berniat melempar sandal rumahnya tetapi diurungkan karena Sasuke sudah duluan menutup pintu kamarnya.
Sesampainya di kamar, Sakura melempar hoodie Sasuke sembarangan hingga menutupi pakaiannya. Dia mendesah pelan kemudian berjongkok untuk membuka koper Sasuke. Dengan malas-malasan dia mengambil tumpukan pakaian dengan hoodie putih di atasnya, memasukkan ke dalam koper, kemudian menutup koper serampangan.
"Biar kusut semua!" ucap Sakura puas. Lalu dia mengambil tumpukan pakaian sisanya dan memasukkannya ke dalam kopernya sendiri.
Setelah meletakkan dua koper itu di depan lemari, Sakura langsung menaiki kasurnya dan merebahkan tubuh. "Aku punya firasat harus bangun pagi buta besok," gumamnya sambil menatap langit-langit kamar.
~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~
"Sai-kun, mau yang mana?" tanya Ino sambil menyodorkan kotak yang berisi coklat aneka bentuk pada kekasihnya yang duduk di kursi seberang kanannya.
Sai tampak memilih sebentar kemudian mengambil satu yang berbentuk bulan sabit. "Ini, deh!" katanya dengan senyum andalannya.
"Sasuke-senpai mau?" tanya Ino pada Sasuke yang duduk di sebelah Sai. Dia sedang mengenakan penutup mata berwarna hitam.
"Aku nggak suka makanan manis," tolak Sasuke datar tanpa membuka penutup matanya.
Sai tertawa pelan. "Sasuke-kun sukanya cewek manis, bukan makanan manis," celetuknya disambut gelak tawa dari beberapa siswa yang mendengar.
Sakura memilih diam sambil memperhatikan jalanan dari kaca. Tangannya menopang dagu dan kepalanya tersender di kaca.
Mereka semua sedang berada di sebuah bus pariwisata dengan tujuan Takigakure. Bus besar dengan kapasitas 55 orang itu berisi masing-masing empat siswa dari 12 kelas dan 4 guru pengawas. Setiap kelas dibagi menjadi lima kelompok dan dan tiap kelompok menempati bus berbeda. Semua kelompok satu menempati bus 1 dan seterusnya.
Sakura, Ino, Shikamaru, dan Kiba adalah kelompok dua. Dalam bus 2 juga ada Naruto, Chouji, Hinata, dan Tenten kelas 1-2; delapan siswi dari kelas 1-3 dan 1-4; Sasuke, Sai, Temari, dan Hana dari kelas 2-1; Tayuya, Sakon, Jirobo, dan Kidomaru dari kelas 2-2; Neji, Lee, Shino, dan Kankurou dari kelas 2-3; (lagi-lagi) empat siswi dari kelas 2-4; Sasori, Tobi, dan dua siswi lain dari kelas 3-1; dan dua belas siswi dari kelas 3-2 sampai 3-4.
"Gila, bus ini banyak ceweknya!" celetuk Ino setelah melongok ke belakang. Dia dan Sakura duduk di barisan keempat sebelah kiri. Di depannya ada Hinata dan Tenten, di belakang ada Temari dan Hana, dan di samping ada Sai dan Sasuke.
"Kiamat udah dekat. Makanya banyakan cewek daripada cowok," timpal Sakura asal.
"Hm… Kayaknya mereka tau deh kalo Sasuke-senpai masuk bus 2," lanjut Ino tanpa menggubris komentar Sakura. "Sasori-senpai juga di sini," tambahnya.
"Ada apa denganku?" tanya Sasori yang tahu-tahu ada di samping Ino. Di belakangnya terlihat Sai agak dongkol karena dihalangi Sasori.
"Sasori-senpai!" ucap Sakura dan Ino riang.
"Mau coklat?" tanya Ino sambil menyodorkan kotak tadi.
"Aku nggak suka makanan manis, gomen," tolak Sasori sambil mengibaskan tangan kanannya.
"Kalau onigiri mau?" tawar Sakura. Kemudian dia mengaduk-aduk tas selempangnya dan mengeluarkan sebuah kotak bento kecil berwarna merah bata.
"Kenapa bawa makanan seperti itu, sih?" komentar Ino.
"Tadi pagi balita asuhanku merengek minta dibuatkan onigiri. Karena kebanyakan, jadinya kubawa saja," terang Sakura. "Silakan, Sasori-senpai! Isinya okaka*), kok!" ujar Sakura sambil menyodorkan kotak yang berisi beberapa onigiri.
"Itadakimasu!" ujar Sasori sambil melahap onigiri itu.
"Enak?" tanya Sakura meminta pendapat Sasori. Sasori meresponnya dengan anggukan dan cengiran yang lebar.
"Enak!"
"Aku juga mau, dong!" celetuk Ino kemudian menyomot satu onigiri dan langsung mencoba satu gigitan. "Enak," komentar Ino setelah dia menelan onigiri tadi.
"Sakura-chan, kok lehernya merah?" tanya Sasori.
Sakura yang tersadar akan bekas 'gigitan' Sasuke di lehernya reflek langsung menutupinya dengan tangan. Ino juga memperhatikan leher Sakura.
"Iya, ih! Kok tadi aku nggak nyadar, ya?" ujar Ino.
"I-ini… Kemarin digigit serangga pas lagi ngebersihin kebun," jawab Sakura berasalan.
"Udah dikasih obat?" tanya Sasori lagi. Sakura mengangguk sambil tersenyum.
"Yosh-yosh! Tidak baik menggoda anak gadis pagi-pagi, Sasori-kun!" kata Kakashi-sensei yang tiba-tiba merangkul pundak Sasori.
"Sensei!" seru Sakura, Ino, dan Sasori bersamaan.
"Segera kembali ke kursimu, Sasori-kun!" perintah Kakashi-sensei.
Dengan langkah malas-malasan Sasori kembali ke tempat duduknya yang berjarak tiga baris dari tempat duduk Sakura. Kakashi-sensei juga langsung kembali ke kursinya di depan.
"Akhirnya dia pergi juga," ujar Sai seraya menghela napas lega.
"Sai-kun!" seru Ino tak percaya.
"Cemburu, ya?" goda Sakura sambil terkekeh pelan.
"Bukan aku, tapi dia!" bisik Sai sambil menunjuk Sasuke
Sasuke sudah melepas penutup matanya dan sedang menatap jalanan dengan dahi berkerut dan muka cemberut. Matanya terlihat tajam dengan sorot haus darah(?).
"Balita yang cemburu memang menyeramkan," bisik Ino.
"Anak-anak, lima belas menit lagi kita sampai di museum. Jadi, tolong siapkan segala sesuatu yang penting seperti buku catatan, dan alat tulis. Kita akan melakukan observasi dilanjutkan makan siang," instruksi Kurenai-sensei.
~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~
"Kau yakin akan menanyakannya pada Sasori-senpai di sana?" bisik Ino pada Sakura yang berjalan di sampingnya. Semua murid Konoha High School sedang melakukan observasi di Museum Takigakure.
"Belum seratus persen, sih! Karena masih ada satu hal yang harus kupastikan," gumam Sakura sambil berhenti di sebuah miniatur daerah Takigakure. "Tapi waktu dan tempat kejadiannya sama persis!" lanjutnya sembari menyalin keterangan tentang miniatur itu di buku catatan.
"Apa lagi yang ingin kau pastikan? Katanya sudah sama persis?" ujar Ino sambil menyalin catatan Sakura.
"Aku menitipkan kalung pada bocah itu. Kalau Sasori-senpai punya, berarti memang dia!" lanjut Sakura sambil terus menulis.
"Kalau misalnya memang Sasori-senpai gimana?" bisik Ino lagi.
Sakura menghentikan kegiatan menyalinnya. Matanya menatap lurus ke depan. "Aku nggak tahu. Harus senang atau marah."
"Kenapa marah?"
"Sepuluh tahun itu nggak sebentar, Ino-chan! Walaupun sedikit, aku tetap punya rasa kesal pada bocah itu."
"Yah… Normal sih kalau kau marah akan hal itu," komentar Ino sambil terus berjalan. Sakura juga mengikutinya.
"Tapi mengingat kondisi Sasori-senpai yang sekarang… Kayaknya mustahil untuk mengingatkan tentang kejadian itu," ujar Sakura pesimis dan langkahnya terhenti.
"Sakura-chan?" panggil Ino khawatir. Dia memegang bahu Sakura.
"Apa aku diam saja, ya? Tujuanku selama ini kan hanya untuk bertemu dengannya. Dan sekarang sudah," ujar Sakura getir.
"Lakukan yang menurut hatimu benar, Sakura-chan!"
Sakura menatap Ino dalam. Tiba-tiba bel pemberitahuan berbunyi.
'BAGI PARA SISWA DARI KONOHA HIGH SCHOOL, WAKTU KUNJUNGAN SUDAH SELESAI. SILAKAN BERKUMPUL DI DEKAT PINTU MASUK AGAR BISA SEGERA MENUJU TEMPAT BERIKUTNYA. KAMI ULANGI…'
"Untung saja kita sudah selesai! Ayo cepat!" ujar Ino sambil menggandeng tangan Sakura.
Sesampainya di bus, mereka diberitahukan bahwa sepuluh menit lagi mereka akan sampai di sebuah restoran okonomiyaki terbesar di Takigakure untuk makan siang.
"Ino-chan! Sakura-san! Di sini!" seru Sai yang sudah duduk manis di depan meja sambil melambai-lambaikan kedua tangannya.
Ino dan Sakura yang baru saja kembali dari toilet setelah turun dari bus langsung menghampiri mereka.
"Arere, Sasuke-senpai juga di sini ternyata!" kata Ino seraya duduk di samping Sai dan berhadapan dengan Sasuke.
"Hn," balas Sasuke.
Sakura mau tak mau duduk di sebelah Sasuke. Sasuke memasang wajah sebal. "Sudah kubilang, kan? Jauhi aku saat studi lapangan!" bisiknya.
"Memangnya aku yang mau?" bisik Sakura membela diri.
Desain restoran okonomiyaki ini adalah untuk empat orang yang melingkari meja. Tak lama kemudian terlihat belasan pelayan yang berkeliling untuk membagikan adonan okonomiyaki pada tiap-tiap meja.
"Baiklah, anak-anak!" seru Anko-sensei dengan mikrofon yang menggema di restoran itu. "Kali ini kita tidak akan makan siang dengan biasa. Selain makan, kalian juga kuberi tugas untuk meneliti bahan okonomiyaki ini. Paham?"
"HEEEEE?" terdengar teriakan kecewa dari pada siswa.
"Ini juga termasuk tugas utama studi lapangan kali ini! Kalau tidak mau mengerjakan ya tidak dapat nilai!" gertak Anko-sensei.
"HAAAAA?" kali ini kaget.
"Satu lagi, untuk menghindari kerjasama yang tidak diharapkan, saya sudah meminta pemilik restoran untuk mengacak bahan adonan kalian. Akhir kata(?), ITADAKIMASU!" seru Anko-sensei bersemangat.
Beberapa saat kemudian terdengar suara penggorengan yang beradu dengan adonan okonomiyaki. Beberapa siswa terdengar sedang menebak-nebak bahan adonan okonomiyaki yang mereka masak.
"Aku harap okonomiyaki-ku tidak aneh-aneh," tukas Ino sembari menuang adonannya pada penggorengan.
"Aku baru dua kali makan okonomiyaki," kata Sai pilu. "Mana kutahu jenis-jenisnya."
"Tck!" decak Sasuke kesal saat dia menggigit okonomiyaki-nya yang baru saja matang.
Ino, Sai, dan Sakura memandangnya penuh minat menunggu reaksi selanjutnya. "Natto," desis Sasuke dengan ekspresi aneh.
"Pffft," Sakura tertawa tertahan.
"Apanya yang lucu?" tanya Ino penasaran.
"Sasuke benci natto—pffft," Sakura masih mencoba menahan tawanya. "Sial banget, sih!" ledek Sakura.
"Hh!" Sasuke membuang muka. Ngambek.
"Sakura-san, sepertinya punyamu sudah matang," kata Sai saat melihat okonomiyaki di depan Sakura yang sudah sangat menggoda.
Dengan cekatan Sakura membaliknya sebentar kemudian memotongnya dengan pisau khusus dan langsung dipindah di piringnya.
"Hmmm…" Sakura bergumam tak jelas sambil mengunyah okonomiyaki-nya. "Sepertinya katsuobushi**)," gumamnya saat selesai menelan.
"Wah, enak sepertinya!" seru Ino riang. "Punyaku hanya irisan udang."
"Punyaku malah sayuran semua," ujar Sai sedih.
"Mau tukar adonan?" tawar Sakura, dia mengangkat cawan adonannya ke depan Sasuke. Sasuke menggeleng.
"Nggak perlu," tolak Sasuke datar.
"Mau sedikit mencicipi?" tawar Sakura lagi, dia menggeser duduknya mendekati Sasuke.
"Tidak usah," tolak Sasuke
"Ayolah!" desak Sakura
"Hn."
"Sebentar," Sakura mengambil okonomiyaki dari piringnya dengan sumpitnya kemudian meyuapi Sasuke.
"CIEEEEEEEE!" teriak para siswa heboh saat melihat Sakura menyuapi Sasuke. Sakura memandang sekeliling dengan sorot panik.
"TIDAAAK, SASUKE-SENPAI!" para siswi tidak kalah heboh.
"SASUKE-SAAAAN!"
"SASUKE-KUUUN!"
Sakura merasa wajahnya memanas. Reflek dia melepas pegangan sumpitnya yang masih bertengger manis di bibir Sasuke. Sementara Sasuke cuek dan mengambil sumpit itu kemudian mengunyah okonomiyaki-nya.
"Itu… ciuman tidak langsung, kan?" celetuk Sai santai.
"Kya! Sai-kun, ayo kusuapi!" ujar Ino manja.
"Sudah hentikan!" seru Sakura malu. Sedangkan Sasuke masih sibuk menghabiskan okonomiyaki Sakura.
~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~
Sakura menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk hotel. Setelah makan siang yang kontroversial tadi, perjalanan mereka dilanjutkan ke Pusat Seni dan Budaya Takigakure hingga petang. Kemudian mereka mampir di restoran china untuk makan malam—Sakura duduk jauuuuuuuuh dari Sasuke. Barulah mereka diantar ke hotel untuk beristirahat.
"Ahh, hari ini sangat melelahkan!" gumam Sakura sambil menutup mata.
"Jangan langsung tidur, mandi dulu!" nasehat Ino yang sudah mulai membongkar kopernya.
"Kau saja duluan. Aku masih sangat lelah," balas Sakura yang masih bertahan pada posisinya.
"Kujamin kejadian saat makan siang tadi akan bertahan minimal sampai bulan depan!" cerocos Ino yakin.
"Ino-chan!" pekik Sakura hingga membuatnya terduduk.
Ino tertawa pelan. "Sudahlah, aku mau mandi dulu!" katanya kemudian melangkah masuk ke kamar mandi.
Sakura mengekor gerak-gerik Ino dengan matanya. Lalu dia memutuskan untuk mengecek jadwal studi besok. Diambilnya agenda kecil yang dibagikan sesaat sebelum mereka berangkat tadi pagi dan mulai membacanya.
Hari kedua;
7.00 sarapan.
8.00 berangkat ke Shichibi Corp.
13.00 makan siang.
14.00 menuju Gedung Pemerintahan Takigakure.
18.00 kembali ke hotel.
19. 00 makan malam.
Hari ketiga;
7.00 sarapan, check out hotel.
8.00 berangkat ke area penelitian Takigakure.
13.00 makan siang.
14.00 wisata ke lembah Takigakure.
19.00 makan malam
21.00 kembali ke Konoha.
Sakura menghela nafas panjang. Masih sekitar 36 jam lagi sebelum sampai ke lembah itu. Hari kedua juga tampaknya akan membosankan. "Semoga besok tidak ada kejadian yang memalukan," harap Sakura.
Drrt~ Drrrt~
Sakura merasa ponselnya bergetar. Di langsung merogoh saku roknya dan melihat layar ponselnya.
Stupid U.S
Calling…
'Kenapa malam-malam begini telepon?' batin Sakura heran.
Saku : Moshi-moshi?
Sasu : Kau isi apa koperku?
Saku : Ya pakaianmu, lah!
Sasu : Sejak kapan aku memakai bra, hah?
Saku : Bra?
Sakura langsung mendapat firasat aneh. Serta-merta dia mendekati kopernya dan membukanya. Sakura tercengang. Selain hoodie putihnya, semua adalah pakaian Sasuke!
Sasu : SA-KU-RA!
Saku : Ah, iya! Pakaianmu ada di koperku.
Sasu : Kok bisa?
Saku : Sepertinya aku salah memasukkan tumpukan pakaiannya. Soalnya aku menaruh hoodie-ku di atas tumpukan pakaianmu.
Sasu : Lalu sekarang bagaimana?
Saku : Hm… Aku sih tidak keberatan memakai pakaian laki-laki.
Sasu : Jadi kau menyuruhku memakai piama pink bunga-bunga ini?
Saku : Pftt—Bercanda! Ya udah, kita tukar koper.
Sasu : Oke. Kutunggu di depan lift lantai 12.
Saku : Aku yang harus naik, nih? Kau saja yang turun!
Sasu : Maid-nya kan kamu!
PIIP-PIIP-PIIP
Sakura menghela napas dalam-dalam. Hari ini dia memang sial. Dan sekarang—catat, pukul sepuluh kurang sedikit—dia harus naik delapan lantai untuk menukar koper. Kalau ada guru yang lihat, bisa disidang sampai tengah malam!
"Sebodo! Bilang aja ga sengaja ketemu keluarga yang mau nitipin koper!" celetuk Sakura sambil mengeluarkan hoodie-nya kemudian menutup kopernya dan berdiri.
"Ino-chan, aku keluar sebentar buat nukar koper, ya?" seru Sakura dari depan kamar mandi.
"Haah? Apaan?" teriak Ino dari dalam. Tapi Sakura tidak menjawabnya karena sudah duluan keluar kamar.
"Semoga aja nggak ada yang keluar," gumam Sakura sepanjang jalan menuju lift.
Setelah memencet tombol pada dinding lift, dia melepas pegangan kopernya dan berdiri sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Di atas pintu lift terlihat lampu berkedip dari huruf EN—entrace, lantai dasar—bergerak cepat menuju angka 4—lantai empat.
TING!
Pintu lift terbuka. Ternyata di dalam lift sudah ada orang lain yang Sakura kenali.
"Sasori-senpai!" seru Sakura.
"Sakura-chan!"
Sakura melangkah masuk ke dalam lift sambil tak lupa menyeret kopernya. Setelah sampai ke dalam dia langsung memencet tombol angka 12. "Sasori-senpai dari mana?" tanyannya sesaat sebelum pintu lift tertutup.
"Dari resepsionis. Tadi ada temanku yang berkunjung karena tau aku ke sini," jawab Sasori. "Kau sendiri mau kemana jam segini? Masih pakai seragam pula!"
Sakura tertawa pelan. "Ini," katanya sambil menunjukkan kopernya. "Isi koperku dengan Sasuke tertukar. Aku disuruh mengantarnya."
"Kelas Sasuke ada di lantai 12, kan?"
Sakura mengangguk.
"Mau kuantar?" tawar Sasori.
"Tidak perlu. Lagipula Sasuke menunggu di depan lift," tolak Sakura.
"Kalau begitu kuantar kembali ke lantai 4. Bagaimana?" bujuk Sasori.
"Baiklah," Sakura menyerah dan tersenyum ke arah Sasori.
Tepat saat itu lift berdentang dan pintunya terbuka. Sasuke sudah berdiri menyandar pada tembok di dekat pot besar. Dia masih memakai seragam dan sebuah handuk putih kecil bertengger di puncak kepalanya. Saat melihat Sakura dan Sasori wajahnya mengeras.
"Ini," kata Sakura.
Sasuke langsung meraih pegangan koper Sakura. "Jangan berkeliaran malam-malam."
"Kau sendiri kan yang menyuruhku ke sini?" sahut Sakura yang sudah memegang koper Sasuke.
"Jangan khawatir, Sasuke-kun! Aku akan mengantarnya sampai depan lift," ujar Sasori.
"Hn," Sasuke melengos kemudian meninggalkan Sakura dan Sasori.
"Menyebalkan!" dengus Sakura. "Ayo kembali, Sasori-senpai!" lanjutnya sambil mendorong Sasori ke dalam lift yang sudah dibuka oleh Sasori.
"Sasori-senpai, apa sudah ada rencana di hari ketiga?" tanya Sakura malu-malu.
"Hari ketiga? Ah, ke lembah itu?" tanya balik Sasori.
"Iya. Tapi kalau sudah ada…" Sakura terdiam sebentar.
"Kau mengajakku kencan?" goda Sasori.
"Ya… Bisa dibilang begitu, sih…"
"Hmm… Baiklah!" Sakura terlihat sumringah. "Asal kau yang traktir!"
"Hee?" protes Sakura.
"Bercanda! Di sana kan tidak ada yang jual makanan!" canda Sasori. Mau tak mau Sakura ikut tersenyum.
Setelah itu lift terbuka. Sakura langsung keluar tak lupa berterima kasih dan mengucapkan selamat malam pada Sasori. Kemudian pintu lift tertutup lagi, membawa Sasori naik ke lantai 14.
"Dari mana?" tanya Ino saat melihat Sakura masuk. Dia sudah memakai nightgown krem dan separuh wajahnya tertutup masker.
"Tadi kan aku sudah bilang, mau menukar koper," jawab Sakura malas. "Kau mau tidur dengan wajah seperti itu, Ino-chan?"
"Sudah biasa, kali! Setiap malam juga aku memakainya!" celetuk Ino sambil terus mengusapkan masker ke pipinya dengan semacam blush on.
Sakura bergidik melihat penampakan wajah Ino. Alih-alih memperhatikannya, dia membuka koper untuk mengambil pakaian dalam. Sakura sedikit tersenyum saat melihat bra-nya. Pasti benda ini yang tadi dilihat Sasuke. Entah kenapa bukannya malu Sakura malah merasa geli.
Lalu mata Sakura menangkap sebuah benda panjang putih yang menjulur dari kantong dalam tutup koper. Karena penasaran sakura menariknya. Ternyata sebuah kalung. Kalung dengan rantai putih dan liontin persegi panjang dengan motif bunga sakura. Saat Sakura membalik liontin itu, terdapat ukiran nama 'Sakura' dalam tulisan kanji.
Kalung ini…
Start of Flashback…
Pagi hari setelah kejadian mengerikan itu…
Sakura berdiri gugup di bawah pohon dekat sungai. Di dahinya masih tertempel plester kompres dan dari hidungnya kadang masih keluar ingus. Dia menderita flu berat setelah semalam terseret arus sungai yang dingin.
Sudah hampir satu jam Sakura bertahan pada posisi itu. Matanya bergerak menyusuri setiap jengkal area dekat sungai itu. Berharap yang dia tunggu segera muncul. Sakura memutuskan untuk menunggu lebih lama, meskipun Sakura tahu ibunya pasti akan marah besar karena dia telat pulang.
"Heeeeeeii!" sebuah teriakan merambat di gendang telinga Sakura. Segera saja Sakura menoleh ke arah sumber suara itu. Seorang bocah dengan pakaian musim dingin lengkap dengan topi wolnya berlari riang mendekati Sakura.
"Kau… yang kemarin… jatuh ke sungai… kan?" tanya bocah itu dengan tubuh sedikit menunduk dan napas terengah-engah. "Huatchii!" ingus keluar dari hidungya.
"Ini," Sakura mengulurkan kotak tissue kecil. Bocah itu mengambil dua helai tissue dan langsung membersihkan ingusnya.
"Arigatou!"
"Iie… Seharusnya aku yang berterima kasih," ujar Sakura malu-malu. "Kamu sudah menyelamatkanku semalam."
"Hahahahahaha! Aku kan juga nyaris mati! Yang menyelamatkan adalah orang lain!" sanggah bocah itu sambil tersenyum lebar.
"Tapi… kamu yang pertama menolongku," desis sakura lirih.
"Apa?" tanya bocah itu sambil menyeka ingusnya lagi. "Oh, iya! Jangan main dekat sini lagi, ya? Katanya kemarin ada bocah lain yang tercebur!"
"Benarkah?" tanya Sakura. Bocah itu mengangguk sambil terus mengusap hidungnya yang mulai memerah.
"Kamu sakit, ya? Pasti gara-gara aku…" gumam Sakura sedih.
"Siapa bilang? Aku nggak sakit, kok!" bantah bocah itu. "Kayaknya kamu deh yang sakit," lanjutnya saat melihat plester di dahi Sakura.
"Kalau nggak sakit, kenapa pakai baju hangat dan topi wol? Sekarang kan sudah hampir musim panas. Pasti karena aku, ya?" mata Sakura mulai berkaca-kaca.
"Sudah, nggak usah dipikirkan!" hibur bocah itu. "Namamu… siapa?"
"Sakura."
"Nama yang bagus! Orangnya juga cantik!" puji bocah itu. Pipi Sakura merona.
"Tuaaaan?" panggil seseorang dari kejauhan. Bocah itu menoleh.
"Kayaknya aku harus pergi, deh!" katanya malas.
"Pergi? Kemana?" tanya Sakura kecewa.
"Pulang. Rumahku bukan di sini, sih!"
"A-apa kita bisa bertemu lagi?" tanya Sakura gugup. Bocah itu memiringkan kepalanya dan memandang wajah Sakura lucu.
"Bisa! Tahun depan aku akan ke sini lagi! Saat Tanabata! Bagaimana?"
"Benarkah?" Sakura terlihat antusias. Bocah itu mengangguk kuat-kuat, tidak peduli kalau lehernya bisa saja patah.
"Kalau begitu, sampai ketemu tahun depan!" pamit bocah itu.
"Tunggu!" cegah Sakura yang tahu-tahu sudah menahan tangan bocah itu.
"Apa?"
Sakura melepas kalungnya dan mengalungkannya pada leher bocah itu. "Kalung itu… Kembalikan padaku saat kita bertemu, ya?" pintanya.
Bocah itu memperhatikan liontin kalung Sakura, kemudian pandangannya beralih pada Sakura. "Tapi aku tidak punya apa-apa untuk dititipkan," katanya bingung.
"Tidak apa-apa," balas Sakura sambil tersenyum.
Setelah diam agak lama, bocah itu maju beberapa langkah hingga berada tepat di depan Sakura.
CUP!
Sebuah kecupan manis mendarat di bibir Sakura. Awalnya Sakura terkejut tetapi kemudian dia hanya bisa menutup mata. Setelah beberapa saat mereka melepas kecupan itu.
"Itu… Uhm…" Bocah itu menggaruk-garuk kepalanya gugup. "Kamu harus mengembalikannya saat kita bertemu! Jangan berikan pada orang lain!" ujarnya dengan pipi merona.
Mata Sakura membulat bingung. Kemudian ujung bibinya terangkat. "Baik!"
Lalu bocah itu pamit lagi dan berlari meninggalkan Sakura yang masih berdiri di sana menatap punggung bocah itu yang semakin lama semakin mengecil.
End of Flashback…
"Sakura-chan!" suara Ino memecah lamunan Sakura.
"Apa?" sergah Sakura gugup. Dia menggenggam kalung itu erat.
"Kau ini kenapa, sih? Bikin orang ngeri aja!"
"Nggak apa-apa, kok! Ya udah aku mandi dulu!" ujar Sakura sambil membawa pakaian dalam dan piamanya. Kalung itu masih dia genggam erat.
'Kenapa bisa ada di koper Sasuke?' gumam Sakura dalam hati setelah pintu kamar mandi tertutup.
~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~
Selama hari kedua studi lapangan, dia sama sekali tidak punya kesempatan untuk menanyakannya pada Sasuke. Entah karena lokasi studinya yang berbeda—meskipun masih dalam satu area, atau karena Sasuke selalu dikelilingi fans-fansnya. Saat di dalam bus Sasuke lebih sering menutupi matanya dengan penutup mata dan mendengarkan iPod. Ketika jam makan pun Sasuke tidak bisa ditemukan. Sebenarnya ingin sekali Sakura menanyakan via telepon, tapi rasanya tidak etis kalau tidak menanyakan hal sepenting ini secara langsung.
Hanya tersisa satu kesempatan, nanti siang saat di lembah Takigakure!
"Sejak kemarin, lho!" kata Ino pada Sakura yang duduk di sebelahnya.
"Apanya?"
"Kau memandangi Sasuke terus! Emang kenapa, sih?"
"Ah, nggak juga!" elak Sakura. Dia mengalihkan perhatiannya pada jalanan di luar bus.
"Hoi-hoi! Aku ada di sampingmu terus sejak kemarin. Mana mungkin nggak ada apa-apa," selidik Ino. "Sai-kun juga bilang Sasuke jadi aneh."
"Aneh gimana?" Sakura penasaran.
"Katanya jadi sering gugup, ga tenang. Trus sering telpon kakaknya sambil ngeluh ga jelas," jelas Ino.
Sakura berpikir sejenak. "Apa dia sakit lagi, ya?" gumamnya.
"Mungkin aja. Kata para fansnya sih Sasuke keliatan kayak kurang darah gitu. Lemes banget!"
Sakura memandang sosok Sasuke yang meringkuk di sebelah Sai. Matanya masih tertutup dan kepalanya tersandar ke jendela. "Coba kutanyakan pada Itachi-sama aja, deh! Aku jadi khawatir," ujar Sakura kemudian mulai mengetikkan pesan.
To : Itachi-sama
Text : Sepertinya Sasuke tidak enak badan. Apa Sasuke mengatakan sesuatu pada Itachi-sama?
Message sending…
Sent…
Itachi yang sedang mengobrol dengan orangtuanya lewat Skype berhenti sejenak kemudian mengambil ponselnya dan membaca pesan dari Sakura itu. Senyum tersungging di bibirnya, dia langsung membalas pesan itu.
To : Sist-in-Law
Text : Iya, dia mengatakan sesuatu padaku. Tapi aku percaya padamu, Sakura-chan! Kau pasti bisa mengatasinya. Dan jangan hubungi aku dulu, aku sedang sibuk.
PS : Jangan lupa janjimu ^^b
Message sending…
Sent…
Sakura membaca pesan Itachi dengan dahi berkerut. Apa maksud pesan ini? Ingin sekali Sakura menanyakannya, tapi dia sadar Itachi sedang sibuk sekarang. Dan dia masih cukup waras untuk menuruti perkataan atasannya.
"Anak-anak, sebentar lagi kita sampai," kata Shizune-sensei. "Sekali lagi saya ingatkan bahwa kita tidak bermalam di sini. Jadi tidak perlu mengeluarkan koper. Tapi kalau ada barang yang ingin diambil, silakang ambil tepat setelah sampai di lokasi. Mengerti?"
Seluruh penumpang bus itu menjawab 'ya' atas instruksi Shizune-sensei barusan.
"Ganbatte, Sakura-chan!" seu Ino menyemangati.
"Ganbatte ap—Ya Tuhan! Aku lupa!" pekik Sakura tertahan. Dia memukul-mukul dahinya pelan.
"Huuuh! Padahal kau sendiri yang berjanji! Lalu bagaimana?" sungut Ino.
"Nggak masalah. Lagipula hanya berjalan-jalan, nggak lebih."
"Baiklah anak-anak, kita telah sampai! Segera kemasi barang yang akan di bawa. Jangan lupa untuk berkumpul dekat parkir sebelum matahari terbenam," kata Shizune-sensei.
Seluruh siswa langsung berdiri dan berebutan turun. Di sela-sela kegiatan Sakura membereskan barang-barangnnya, terlihat Sasuke yang turun dari bus dengan terburu-buru. Tak lama kemudian Ino sudah digandeng Sai.
"Duluan ya, Sakura-chan!" pamit Ino. Sakura membalasnya dengan satu anggukan.
Kini di bus hanya tersisa beberapa orang yang sudah berbaris untuk turun.
"Ayo, Sakura-chan!" ajak Sasori yang sudah berdiri di dekat kursi Sakura. Sakura tersenyum kemudian berjalan keluar kursinya.
Tiba-tiba matanya melihat ponsel Sasuke yang tergeletak di sela kursi. Cukup lama Sakura melihatnya. 'Dasar teledor!' gumam Sakura dalam hati.
"Sakura-chan?" panggil Sasori yang sudah ada di ambang pintu bus.
"Eh? Uhm… Sasori-senpai duluan aja! Kayaknya masih ada beberapa barang yang harus kubawa!" ujar Sakura beralasan.
Sasori memandangnya sejenak. "Baiklah, kutunggu di dekat pintu masuk parkir, ya?" Sakura mengangguk.
Setelah sosok Sasori menghilang dari pandangannya, Sakura segera meraih ponsel tadi. Saat tangannya tak sengaja menggeser slide ponsel itu, layarnya menjadi terang dan terpampang deretan huruf di sana. Karena penasaran Sakura membacanya.
Itachi-aniki : Kurasa sekarang adalah waktunya. Semakin lama kau menyembunyikannya hanya akan membuat Sakura-chan semakin sakit.
Aku tak menyangka seorang UCHIHA SASUKE bisa jadi berantakan seperti ini.
'Apa maksud pesan ini? Kenapa diriku disebut-sebut?'
~*~ TBC ~*~
~*~ Koibito wa Maid-sama! ~*~
*) Katsuobushi kering yang dicacah lalu dibumbui dengan kecap asin.
**) Ikan cakalang.
A/N : Yup, selesai lagi. Senangnya~! *nari parapara*
Oke, besok chapter terakhir! Mohon doa dan dukungannya agar saia semangat ngetik *ngelirik tumpukan DVD anime yang mau ditonton* Semoga barang nista itu tidak membuat saia lupa untuk mengetik chapter terakhir *komatkamit*
Saso : Ya dibuang aja biar ga ditonton.
Au : Hah? Sasori! * pasang wajah sok imut* Apa kabar, ganteng?
Saso : Buruk! Elo sih bikin gue jadi pihak ketiga. Merana nih perasaan gue! *mewek*
Au : Cup-cup… Ayo nonton DVD bareng eke aja biar sedihnya ilang! *nuntun Saso pergi*
M.A.T.A., N.E.E.!
Mohon maaf, tidak menerima flame dalam bentuk apapun sebelum mendapat ijin dari Presiden setempat dan SekJen PBB. Jadi, hanya akan menerima review berupa saran, kritik yang membangun, pujian, dan caci maki (ini juga termasuk flame, kan?). Eh, caci maki tidak diterima juga!
Thursday, October 21, 2010
12. 35 P.M
Ryuuta
(setia mengharapkan menjadi—pemenang Nobel Perdamaian *dibakar Raja Namrud(?)*)
