TOURNIQUET

Chapter 2

.-.

2010

.

.

.

.

A SasuSaku story

.

.

Author : RainingOutsideTheWindow

Rated : T (okay insert + here xD)

Pairing : SasuSaku (They always break my heart T.T)

Genre : Angst/ Romance (Cause they are so beautiful in their pain, haha)

Warning : Heavy Angst, (may be a bit cheesy and cliché), canon. And Yes I DRAMA QUEENING MY STORY ! xD

Disclaimer : Masashi-san owns Naruto story ever after.

.

.

o-o-o-o-o is present

x-o-x-o-x-o-x is flashback scene

Cerita ini bukan sambungan chapter sebelumnya!

…..

oo—PAINKILLER—oo

PART I

.

.

(Don't cling to me, you know I can't fix you)

.

.

Give me—

Your heart

.

.

I crave your heart—badly

.

.

.

(—to search your own painkiller in a fairy tale)

_._

_._

_._

Suatu hari.

Di tengah musim bunga Sakura. Ketika udara masih bisa kau percayai menjadi selimut yang hangat, rumput di bawah kakimu masih segar. Ketika kau kemudian akan berpikir tentang masa kecil. Kaki-kaki mungil yang berlarian, sepatu yang kotor, kenangan menangis sendirian di kotak pasir, gula-gula, komidi putar, lutut yang sering terluka karena terjatuh, kecupan lembut ibu ketika kau terluka, dan dongeng.

—dongeng.

Bagi Sakura hal terakhir inilah yang sangat disukainya ketika kecil. Matanya yang hijau (sangat cerah) besar akan sejenak menari-nari ketika ibunya duduk, mengangkat tubuhnya dan memangkunya di bawah pohon sakurajika sedang musim bunga sakura. Atau kalau tidak duduk di tengah tempat tidur di kamarnya yang kecil (dan terlalu berwarna) dengan tembok bergambar bunga kertas warna-warni.

Bagian yang paling disukainya adalah kisah tentang puteri dan pangeran. Atau kadang tentang istana, penyihir jahat, pondok tua, awan yang cerah. Banyak hal yang disukainya tentang kisah-kisah dongeng yang biasanya diceritakan oleh ibunya.

Sesuatu yang sewajarnya disukai oleh anak perempuan seusianya.

Tubuhnya yang bersandar pada dada ibunya menggeliat pelan. Merentangkan tangannya satu-satu kemudian menguap lebar. Memandang sekeliling dengan mata jadenya, mengawasi kelopak-kelopak bunga sakura yang diterbangkan angin.

"Sudah bangun, Sakura-chan?" bisik ibunya dengan lembut.

Kepala berambut merah jambu itu menggeleng sebentar mengikuti gerakan tangannya sendiri yang sibuk mengusap kelopak matanya dengan pelan. Kemudian mendongak memandang wajah di atasnya. Senyuman hangat menyambut mata jadenya.

"Hoamm—" Sakura mengangguk pelan. "Kaa-san, aku tadi juga bermimpi indah," gumam Sakura mengalihkan pandangannya ke rerumputan lagi, memainkan ujung bajunya. Menyandarkan diri lebih erat pada tubuh ibunya.

"Oh ya, bermimpi apa?"

"Puteri Salju?" sahut Sakura sambil tersenyum lebar.

"Puteri Salju lagi?" tanya ibunya sambil mengacak-acak rambut Sakura dengan penuh kasih sayang,"apa kau tidak bosan?"

"Tentu tidak, tapi belikan aku buku baru ya Kaa-san, ya?"

"Kau sudah punya cukup banyak buku, Sakura-chan," sahut ibunya semakin mempererat pelukannya. Demi mendengar jawaban ibunya, gadis itu mendengus pelan. Menggembungkan pipinya dengan kesal.

"Tapitapi, semua buku itu sudah Sakura baca semua." sahut Sakura lagi, tidak mau kalah. Ibunya hanya tersenyum geli melihat tingkah anaknya.

"Bukan membaca, tapi dibacakan, Sakura-chan," kata ibunya, berusaha menahan tawa melihat warna merah mulai menyelimuti pipi porselen yang menggembung itu. "Kau kan sudah bisa membaca, hmm?"

Sakura hanya nyengir lebar.

"Kenapa aku harus repot membaca kalau ada yang mau membacakan," balas Sakura sambil tertawa kecil. Rambut merah mudanya bergoyang-goyang terkena angin.

"Dasar anak manja," kata ibunya sambil mengacak-acak rambut anaknya lagi—kali ini dengan sedikit gemas.

"Kaa-san, apa lagi yang bisa kau harapkan dari gadis kecil berumur enam tahun sepertiku," tukas Sakura dan tertawa lagi.

"Sudah pintar bicara kau ya sekarang," sahut ibunya, kali ini benar-benar tertawa lepas," kata-katamu itu tak pantas untuk anak seusiamu, Sakura-chan."

"Hmph tapi aku ingin buku tentang cerita seorang puteri."

"Kau ingin menjadi seorang puteri rupanya?"

"Tentu tidak." Kali ini Sakura tidak hanya menggembungkan pipinya lagi tapi juga menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Lalu kau ingin jadi apa?"

"Tentu saja seorang ninja, Kaa-san ini bagaimana?"

Ibunya hanya tergelak.

.

.

.

Don't you cry

—just because your heart is blackened.

Can't you see that my heart has already faded away?

….

Matahari mulai tenggelam, membawa kesadaran akan kepenatan yang mulai menyusup penuh di tubuh. Mungkin kita bisa merangkak ke pembaringan, membiarkan mimpi datang menguasai, memberikan sedikit penawar pada racun hari-hari yang kaku dan melelahkan.

Tapi, aku ingin memulainya bukan dari cerita tentang nyamannya selimut ataupun harapan-harapan yang tidak tercapai dalam mimpi.

Aku ingin memulainya pada rumah di pinggir danau, ketika suara ombak ringan memecah karang di tepian danau. Mungkin memaksa diri untuk menciptakan suasana sore yang sesuai dengan imajinasi. Matahari tenggelam, meninggalkan semburat biru-hijau di ufuk barat.

Rumah itu sederhana, dihiasi beberapa tanaman yang terurus dengan baik, pintu geser dan tatami yang kelihatan bersih.

Matahari sudah benar-benar tenggelam sekarang, bayangan sosok itu hanya seperti sesuatu berwarna hitam yang berdiri tegak di depan pintu. Jika diperhatikan dengan hati-hati ada senyum (sangat-sangat) tipis yang tersungging di bibir sosok itu. Warna hitam matanya membuat malam yang merayap merasa malu, tapi mungkin kali ini ada sesuatu lain yang tergambar di bola mata hitam pekatnya—tidak seorang pun tahu apa itu. Rambutnya yang masih berantakan ia biarkan menjuntai ke keningnya, celana hitam dan pakaian ANBU membalut dengan nyaman sosok tampannya. Tapi sekali lagi matanya masih menunduk dengan cahaya aneh—walaupun sulit tapi mungkin ada sepercik kehangatan di sana. Matanya masih menunduk memandangi sebuah benda yang dipegang tangan pucatnya.

Uchiha Sasuke sedang memandangi sebuah cincin di kotak hitam—digenggamnya kotak itu dengan sangat hati-hati seolah takut akan hancur di telapak tangannya—tangan yang telah dilumuri darah berkali-kali. Permata hijau itu masih tetap saja bisa bersinar di tengah kegelapan. Batu zamrud yang dipilihnya dengan cermat di toko perhiasan beberapa saat yang lalu.

Sedetik kemudian kotak itu sudah kembali ke sakunya.

Dengan langkah tak bersuara, Sasuke menghampiri pintu depan rumah itu. Untuk beberapa saat tubuhnya tertegun—baru menyadari bahwa rumah itu begitu gelap, tidak ada cahaya setitik pun. Hanya saja bulan yang mulai bersinar terang malah membuat bayangan rumah itu semakin suram. Angin malam mulai berhembus dengan kencang.

Dengan tergesa-gesa Sasuke menggeser pintu, melepas alas kakinya dan melesat masuk. Dinding masih bertahan pada ketenangan.

Keheningan yang menulikan menyambutnya.

"Sakura?"

Sunyi.

"Kau dengar aku? Kau dimana Sakura?"

Mau tidak mau darah mulai mengalir lebih cepat dalam tubuh Sasuke. Membantu kepalanya untuk membayangkan gambar-gambar yang sebenarnya tidak ingin dibayangkannya. Tidak peduli lagi mempertahankan ketenangannya— sebenarnya sejak awal ia ingin kehadirannya yang lebih awal sebagai kejutan, tapi sekarang semua itu tak penting lagi, dengan membabi-buta dibukanya semua ruangan di tingkat pertama, derak pintu demi pintu menjerit karena perlakuan kasar Sasuke.

Deja vu menerjang Sasuke tanpa ampun. Lantai dingin. Ruangan kosong. Derap langkah yang berlari dengan ketakutan dan detak jantung yang bahkan bisa menggema di dinding-dinding dingin itu.

Akhirnya setengah berlari Sasuke menaiki tangga ke tingkat atas. Dadanya bergejolak, jantungnya berdentum di antara tulang-tulang rusuknya.

Dengan sentakan keras ia menggeser pintu kamar paling ujung itu. Aliran darah yang berdesir hampir menulikan pendengarannya sendiri.

"Saku—"

.

.

.

x-o-x-o-x-o-x

"Kaa-san," kata Sakura sambil menoleh ke arah belakang, memandangi ibunya yang sedang asyik menyulam sweater musim dingin. Tubuh mungilnya berbaring terkelungkup di atas tempat tidur dengan kaki yang ia goyang-goyangkan ke atas. Buku cerita di depannya masih terbentang lebar.

"Hmm?" jawab ibunya masih belum mengalihkan perhatian dari kesibukan menyulamnya.

"Kenapa pangeran selalu berhasil menyelamatkan sang puteri dan mereka hidup bahagia selamanya?"

Tangan ibunya berhenti sejenak, meletakkan jarum sulamnya ke pangkuan. Tersenyum memandang anaknya yang selalu tak pernah kehabisan pertanyaan.

"Kenapa ya," ibunya pura-pura berpikir keras,"menurutmu karena apa Sakura-chan?"

Sakura hanya mengangkat bahunya dan menunggu lagi,"entahlah, karena puteri sangat cantik dan pangeran sendiri tampan dan kaya?"

"Mmm—kurasa tidak."

"Jadi apa Kaa-san?"

"Menurutku karena mereka saling mencintai," kata ibunya sambil tersenyum lagi.

"Saling mencintai?"

"Ya."

"Seperti aku mencintai Kaa-san?"

"Seperti itu."

Kepala dengan rambut merah jambunya mengangguk-angguk tanda mengerti.

.

.

.

.

.

"Sasuke-kun," kata Sakura dengan wajah berseri-seri, membungkukkan badannya untuk melihat kertas gambar di depan anak laki-laki berambut raven itu. Tangannya yang sejak tadi terlipat di belakang akhirnya turun meraih ujung bajunya—memilin-milin dengan gugup melihat anak laki-laki di depannya belum memberikan respon.

"Umm—Sasuke-kun, boleh aku pinjam crayonmu?" tanya Sakura sambil tersenyum (terlalu) cerah. Menanti dengan mata hijau yang terbuka lebar.

Tanpa mendongak dan hanya menjawab dengan dengusan napas terganggu. Menaikkan satu alis hitamnya."Hn.."

"A—ugh, maafkan jika aku merepotkan tapi aku baru saja menggambar kastil—kau tahu warna coklat akan bagus sekali tapi setelah aku membangun atapnya yang—sangaaat besar, kemudian aku sadar crayon punyaku su—"

"Ambil saja sesukamu," potong Sasuke masih sibuk mewarnai sebuah jembatan besar dengan sangat hati-hati.

"Ah—ya, terimakasih," dengan hati-hati Sakura mengambil crayon warna coklat dari kotak. Memegangnya dengan erat di depan dada.

.

.

Satu menit kemudian.

Kali ini kepala Sasuke benar-benar terangkat sepenuhnya menyadari sepasang kaki kecil bersepatu merah di depannya tetap tidak beranjak pergi.

"Apa lagi?" tanya Sasuke hampir dengan nada yang tidak sabar.

"Engg—kau tahu, Sasuke-kun, tentang pertanyaan dari Ibu Guru Sachiko kemarin—tentang kenapa pangeran selalu menyelamatkan puteri dan mereka hidup bahagia selamanya—yah tidak ada dari kita yang bisa menjawab, bahkan kau yang selalu bisa menjawab," kata Sakura di sela kesibukannya memandang sepatunya sendiri. Seakan ada sesuatu yang menarik menempel pada sepatunya.

"..."

"Ano, aku sudah tahu jawabannya—pada awalnya aku pikir karena puteri yang cantik dan pangeran yang—"

"Aku tahu."

"—tampan dan, huh? Kau sudah tahu Sasuke-kun?"

"Hn..."

Cengiran lebar hampir saja menyakiti mata Sasuke.

"Hebat, kata Ibuku itu—"

"Semua orang juga tahu Sakura—

.

.

.

.

.

—tentu saja karena itu adalah sebuah dongeng."

.

.

.

But, I don't have heart anymore, you know—

So, at least for now you can't break my heart again

.

.

.

.

.

Ruangan itu gelap, hanya cahaya rembulan keperakan yang menyusup lewat jendela yang membantu penglihatan Sasuke. Di pojok ruangan di bawah jendela, sosok itu bersandar di dinding, memeluk lutut dengan wajah terkubur dalam.

"Sakura," panggil Sasuke lagi, mengambil satu langkah dan berhenti. Alis hitam sempurna saling bertautan, menyadari aura sedingin es menggantung di ruangan itu atau lebih tepatnya menguar dari tubuh sunyi di depannya.

Sunyi.

Mata Sasuke yang pekat seperti onyx cair yang membara. Kedua tangannya mengepal erat. Rahangnya menegang mengiringi satu langkah yang diambilnya. "Ada apa, kenapa—"

Dan bahkan untuk seorang Uchiha Sasuke—salah satu mesin pembunuh Konoha yang dingin—harus menahan napas. Aliran darahnya serasa membeku, memang hatinya sejak dulu telah jadi batu tapi pemandangan di depannya benar-benar membuat Sasuke lupa bagaimana cara untuk bicara. Bahkan membuatnya lupa bagaimana caranya untuk menghembuskan napas.

Rambut merah muda Sakura yang pucat tergerai membingkai wajahnya yang menyala dengan cara yang dingin. Sinar rembulan memberi kesan bahwa sosoknya yang begitu kaku kelihatan sangat jauh—tidak nyata. Tubuhnya tetap diam dibalut gaun tidur berwarna kelabu tua. Tapi yang paling membuat Sasuke takjub adalah mata Sakura.

Percampuran antara api dan es yang dicetak bersama menjadi sepasang mata jade yang kelihatannya lebih jernih dari kristal. Pandangan mata yang kosong seakan bukan memandang tepat ke mata Sasuke, tapi menerobos onyx itu—memandang sesuatu di belakang Sasuke yang kelihatannya sangat jauh.

Tak berkedip.

Setelah mengetahui tak ada goresan maupun luka di tubuh Sakura, guratan-guratan rasa khawatir di wajah Sasuke menghilang, sedikit demi sedikit (atau terlalu banyak) digantikan oleh ekspresi dinginnya, topeng yang selalu digunakannya—topeng yang lebih sempurna dari topeng ANBU manapun.

Melihat ekspresi Sasuke, ujung bibir Sakura terangkat (sangat sangat) sedikit dalam senyuman yang membuat getaran dingin merambat di tulang belakang Sasuke.

"Kenapa kau sudah pulang Sasuke-kun?"

Kali ini nada suara Sakura hampir membuat Sasuke lupa bagaimana cara menarik napas. Nada suara yang terlalu lembut dan manis seakan kau bisa merasakan gula sintetis membungkus kalimat itu. Tapi tak membiarkan secuil pun tanda-tanda kekagetan itu melewati topengnya yang sempurna. Mengambil dua langkah ke depan sekaligus, Sasuke berusaha bersikap seperti biasanya. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku—sejenak bisa dirasakannya tekstur lembut kotak cincin di ujung jari-jarinya.

"Hn...kenapa kau masih di kamar, harusnya kau sudah menyiapkan makan malam," kata Sasuke sedingin es. Tidak ada yang salah dengan sikap Sasuke—bukankah sikap itu juga yang (selalu selalu) ditunjukkan ketika pulang dari misi. Segera menyuruh Sakura menyiapkan air panas dan (harus harus) ada makanan tersiap di atas meja. Hanya bersikap seperti biasanya.

"Maafkan aku," bisik Sakura sambil menundukkan kepalanya, rambut merah mudanya yang sudah sebatas punggung tergerai liar dan menari-nari oleh angin dari jendela yang tidak tertutup. Hampir saja Sasuke menganggap kata-kata itu jujur tanpa maksud tertentu. "Karena kukira kau tidak akan pulang—sibuk di tempat lain mungkin?"

Dan kemudian Sasuke yakin memang ada sesuatu yang salah.

"Apa maksudmu, Sakura?" sahut Sasuke—masih menolak untuk mengeluarkan ekspresi apa pun. Tetap berdiri tegak di tempatnya—berusaha sekuat tenaga untuk tidak berjengit sedikit pun ketika tubuh Sakura bangkit. Matanya berubah sendu— seperti seorang gadis kecil yang kehilangan mainannya.

Walaupun Sasuke tidak mau mengakuinya tapi sampai sekarang kadang-kadang Sasuke tetap tidak bisa menebak pikiran gadis di depannya. Dan mungkin itu juga berlaku sebaliknya, hubungan mereka lebih terlihat seperti teka-teki atau permainan dalam catur. Menunggu yang mana dari mereka yang akan membuka diri terlebih dahulu ketika salah satu benteng telah kalah.

Pandangan mata Sakura yang begitu asing membuat Sasuke sadar bayangan gadis ceria dan (sangat) mengganggu 7 tahun silam tinggalah samar-samar. Tapi terkadang tetap muncul juga gadis itu di mata itu— memohon untuk diperhatikan dan dilindungi. Yang akan terus mengekor seperti anjing yang setia. Selama gadis itu muncul di mata jade itu, versi lain yang sekarang lebih banyak muncul akan segera memberontak keluar.

Versi yang lebih dewasa, keras, lebih berambisi sekaligus lemah, berhati lembut. Versi yang tidak bisa ditebaknya lagi, berbeda dengan sosok 12 tahun Sakura yang bisa dibaca semudah membuka buku. Dulu ketika ia terluka (pasti) Sakura akan menangis dan memeluknya, ketika ia berhasil dalam suatu hal akan ada teriakan kekaguman, ketika ia bertingkah dingin dan keren pasti ada warna merah di pipi itu. Seperti mengerjakan soal dengan jawaban yang pasti diketahui.

Dan versi baru inilah yang terkadang membuat Sasuke takut. Versi yang mempunyai daya gelombang perasaan bagai badai yang siap menghempasnya, versi yang bisa mengatakan 'aku mencintaimu' seribu kali hanya dengan satu pandangan mata.

Kalian boleh menyebut Sasuke penakut, dan memang ia tidak siap menerima semua ini, ia memang takut untuk membuka diri, ia memang takut untuk merasakan, ia memang takut untuk merasa lemah, ia memang takut untuk—memulai sesuatu yang baru.

Sunyi.

"Aku tidak mengerti maksudmu Sakura?"

"Oh, benarkah?"

Membingungkan, dan Sasuke tidak suka dibuat bingung maupun tidak mengerti akan sesuatu. Walaupun di matanya, gadis lemah itu masih tergenggam erat di bawah telapak tangannya akan tetapi ketakutan akan apa yang dipikirkan Sakura tentang dirinya masih terus merambat. Tentu Sasuke tidak berusaha untuk membuat Sakura mengerti, bagaimana dan untuk apa?

Hidupnya sempurna, kedua orang tuanya masih ada, dia tidak punya masa lalu mengerikan, dia dibesarkan oleh cinta, semua orang bersikap lembut padanya kecuali Sasuke sendiri tentunya, ia punya masa remaja normal bertengkar dengan sahabatnya hanya untuk mendapatkan perhatian seorang anak laki-laki. Dia mempunyai bakat dan dilatih oleh seorang Hokage tanpa harus memiliki hati yang hancur karena mengkhianati desa untuk mencari kekuatan. Jadi apa masalahnya?

Angin berhembus semakin kencang melalui jendela.

Mereka hanya memandang tajam satu sama lain.

"Kau tahu, Sasuke," suara Sakura masih seperti bisikan," kurasa aku memang orang terbodoh di dunia ini."

"Apa yang kau bicarakan, Sakura?"

Tiba-tiba saja tawa berdering seperti lonceng di ruangan itu— walaupun bagi Sasuke lebih terdengar seperti lonceng kematian.

"Berhenti bersikap seperti orang gila," desis Sasuke. Dagunya mengatup rapat, menubrukkan giginya satu-sama lain.

"Aku tidak akan membicarakan kegilaanku Sasuke, aku sedang membicarakan kebodohanku," kata Sakura di sela tawanya. " Aku masih bingung kenapa 1 tahun yang lalu, ketika tiba-tiba saja kau menghadangku di lorong rumah sakit yang gelap—padahal kau tahu aku sangat lelah karena shift malam," sambung Sakura lagi masih tertawa seakan sedang menceritakan sebuah lelucon. "Kemudian tiba-tiba saja kau menarik tanganku dan berkata 'tinggalah bersamaku!' dan kau tahu," tiba-tiba dering lonceng tawa itu berhenti, belum ada dua detik, air mata yang mengalir deras telah menutupi pipi Sakura. "Aku menyetujuinya, kau dengar AKU MENYETUJUINYA!"

Tangan Sakura terkepal sangat erat, matanya begitu terluka sampai Sasuke tidak berani memandangnya. Kemudian pelan-pelan sapuan-sapuan kemarahan mulai menutupi wajah itu dengan cepat.

"Kau tahu? Kau tahu! Aku seharusnya waktu itu belum bisa memaafkanmu, aku hampir bersyukur ketika Naruto akan gagal untuk menyelamatkanmu dari dewan, karena kau tidak berhak kembali! Kau tidak berhak mendapatkan semua ini, kau tidak berhak mendapatkan maaf dari Naruto dan Kakashi-sensei!" teriak Sakura dengan tubuh bergetar hebat karena amarah. Air mata mulai jatuh satu persatu di atas tatami yang dingin.

Sasuke masih berdiri tenang, mengawasi ledakan emosi Sakura dengan wajah kaku.

"Telah kulakukan apa saja untukmu Sasuke!" kata Sakura dengan gemetar. " Aku memang bodoh, itu lah salah satu penjelasan yang waras dari semua ini, kau menyuruhku tinggal di rumah ini, kau menyuruhku untuk berhenti bekerja, APA LAGI YANG BELUM KULAKUKAN, bahkan...bahkan ketika kau menyuruhku memanjangkan rambutku, aku juga menurutinya," Sakura sedikit memainkan rambutnya dengan wajah sendu. "Kau menyuruhku berubah, kau menyuruhku berhenti menerima misi—aku juga..."suara Sakura mulai pecah oleh isakkan. Kepalan tangan Sakura semakin kencang, air matanya berkilauan terkena sinar bulan yang sudah tinggi di langit.

"Aku telah memberimu pilihan malam itu Sakura, dan kau menerimanya," sahut Sasuke sambil menarik napas panjang. Walaupun ekspresinya masih dingin, tapi mau tak mau hatinya seperti diremas sampai berkeping-keping.

Kemudian rasa sakit di rongga dadanya membawanya pada sebuah titik yang membuat darahnya membeku dingin.

Apakah dia mencintai Sakura?

"Kau brengsek, kau tahu itu Sasuke," nada Sakura semakin tegang dan penuh kemarahan. Matanya yang telah sembab kemerahan berkilat-kilat tajam.

Apakah—

"Kurasa kau memang hanya membutuhkanku untuk membangun klanmu— tapi kenapa kau tidak mengambil pelacur-pelacur jalanan itu untuk membantumu, eh?"

Sasuke mendesis demi mendengar kalimat kasar Sakura. Mata onyxnya menyipit berbahaya.

"Oh, aku salah ya Sasuke-kun?" tukas Sakura dengan nada kekanak-kanakkan. "Kau memang sudah melakukannya!" sambungnya kemudian ditelan tawa histeris.

Sasuke membeku di tempatnya.

Dengan mata membesar karena kaget Sasuke mengikuti sosok Sakura yang masih belum berhenti tertawa menghampiri meja kecil di samping tempat tidur. Tangannya dengan gemetar mengambil tumpukan kertas kecil. Detak jantung Sasuke semakin tidak keruan.

"Tahu tidak, aku menemukannya di pembuangan sampah—ah kau ceroboh sekali Sasuke-kun, kurasa ini surat dari penggemar-penggemarmu—atau mungkin lebih, kau dulu kan tidak pernah mau menerima surat dariku?"

Ketika Sakura membuka mulut untuk membacakan isi surat itu keras-keras. Sasuke sudah melesat, merebut surat-surat itu dan melemparnya dengan kasar ke pojok ruangan. Nafas mereka berat, dua tubuh yang gemetar melawan emosi masing-masing.

Air mata Sakura mengalir lagi, dan kali ini, untuk pertama kali Sasuke begitu ingin mengusap air mata itu dan membuatnya berhenti untuk selama-selamanya.

"Kenapa? Kenapa! KENAPA!" teriak Sakura, jatuh ke lantai dan menjerit histeris, bahu terguncang hebat oleh tangisan, tidak peduli lagi bagaimana keadaannya. "Kau bahkan tidak pernah menciumku, memegang tanganku saja hanya sekali! Jadi kenapa! Kenapa kau bertingkah ceroboh, dan membiarkan aku tahu— aku tidak bisa, aku...kenapa...kau membiarkan aku tahu! Kenapa kau tidak berusaha membohongiku seumur hidup saja! KENAPA!"

Ya.

Dia mencintai Sakura.

Mungkin begitu orang normal mengatakannya. Tapi Sasuke bukan orang normal. Ia mencintai dengan cara yang berbeda. Ia adalah manusia yang sudah kehilangan hati. Dirinya sudah ternoda oleh masa lalu yang kelam, tangannya telah kotor oleh darah, balas dendam dan penyesalan. Dan Sasuke takut karena ia tahu ia tidak berhak mendapatkan semua ini.

Karena ia takut ketika Sakura tersentuh oleh tangan kotornya maka Sakura bisa ternodai. Karena ia takut bila ia membuka diri itu akan semakin membawa penderitaan bagi Sakura. Karena ia takut ketika ia menunjukkan cintanya, itu tak akan pernah cukup untuk menebus semuanya. Pikirannya yang telah dimakan kegelapan tidak bisa menentukan mana lagi yang terbaik untuknya—untuk Sakura.

Mungkin Sasuke seorang masochist atau sadist atau hanya anak laki-laki kecil ketakutan yang melihat keluarganya dibantai di depan matanya.

Entahlah.

Tapi ia memang egois— ia tidak ingin Sakura pergi. Walaupun itu dengan melakukan semua ini, bagi Sasuke sudah cukup dengan melihat sosok Sakura setiap pagi.

Karena Sasuke tahu, ia bisa mengorbankan nyawanya untuk menjaga Sakura tetap di sini.

Tapi apakah itu yang dinamakan cinta?

Apakah perasaan yang kelihatannya mengerikan ini bisa disebut cinta?

Sasuke tidak tahu.

Tapi Sasuke tahu bahwa ketika ia bergulat di antara sprei satin gelap dengan wanita-wanita itu, yang di pikirannya hanya ada Sakura. Gadis dengan senyum lebar yang sangat mengganggu. Wanita-wanita itu memakai parfum murahan dan lipstick pekat yang akan membuat Sasuke mengernyit jijik, tapi aroma mereka akan membantunya melupakan aroma bunga sakura yang akan membuatnya lepas kendali.

Mungkin ia tidak mencintai Sakura atau mungkin ia memang mencintai Sakura.

Diraihnya tangan gemetar gadis di depannya. Dikecupnya perlahan pergelangan tangan Sakura dengan bibirnya yang dingin. Menarik tubuhnya agar lebih dekat.

"Maafkan aku," bisik Sasuke di samping telinga Sakura, membuat tubuh gadis itu bergetar pelan. "Maafkan aku."

Tangan pucatnya melingkari pinggang Sakura dan memeluknya erat. Merasakan degup jantung masing-masing. Angin dingin berhembus pelan, memerangkap Sasuke dalam aroma Sakura yang selalu ditakutinya.

"Maafkan aku." Melihat tubuh Sakura masih bergeming, Sasuke benar-benar ingin menangis putus asa. Tangannya naik untuk membelai lengan dan sisi wajahnya, menyibakkan sedikit rambut yang menjuntai ke depan. "Maafkan aku."

Sunyi.

"Maafkan aku, kumohon?" suara dalam Sasuke mulai bergetar. Dan Sasuke sudah menyembunyikan kepalanya ke lekukan leher Sakura, masih takut melihat mata jadenya. Terus menerus berkata tanpa henti.

"Maafkan aku". "Maafkan aku."

Tubuh Sakura harus membeku ketika dirasakannya pundak dan lehernya basah. Dan Sakura tahu pasti, itu bukan air mata miliknya.

Bibir itu dingin ketika menyusuri tulang selangka dan leher Sakura dengan pelan, seperti sentuhan ringan bulu yang lembut. Tapi napas Sasuke hangat seperti angin musim semi setelah badai salju.

Naik menyeberangi pipi Sakura yang masih sembap oleh air mata. Ciuman itu tidak penuh nafsu maupun dingin—lebih seperti curahan rasa sakit. Kemudian Sasuke mengecup dahi Sakura sambil berbisik, "maafkan aku". Tak lama ciuman itu turun melewati kelopak matanya yang tertutup—tak ada dari mereka yang berani membuka mata, melewati ujung hidungnya dan akhirnya menekan lembut bibir Sakura. Memeluk tubuhnya semakin erat.

"Lepaskan aku, Sasuke."

Mata Sasuke menyentak terbuka, memandang nanar demi mendengar nada Sakura yang luar biasa dingin.

"Tidak." Sasuke semakin mempererat pelukannya—seperti anak kecil yang ketakutan.

"LEPASKAN AKU!" Dan Sakura mendorong Sasuke sekuat tenaga. Air mata membanjir turun dari mata jadenya. "Beraninya kau—beraninya kau melakukan semua ini,"desis Sakura—kali ini penuh kebencian.

"Saku—"

"Diam!" Tubuh Sakura menegang, berjalan mengitari Sasuke dan mulai membuat jarak semakin jauh.

"Dengarkan aku, Sakura," Sasuke memohon sambil berjalan mendekat.

"Maafkan aku, Sasuke, tapi aku tidak percaya lagi padamu," ultimatum Sakura seperti berdengung di telinga Sasuke.

"Aku—"

"Diam!" teriak Sakura kembali histeris.

"Aku me—"

"Kubilang diamm!" jerit Sakura, kedua tangannya menutupi telinganya dengan putus asa. Matanya menutup erat di antara aliran air mata yang terus turun.

"Aku mencintaimu."

Dan Sakura sudah melesat keluar.

Saat itu juga Sasuke tahu ia kehilangan kekuatan untuk menggapai sosok itu kembali.

.

.

"Sasuke-kun, I love you!"

"…"

.

.

"I love you."

"…"

.

.

"I love—"

"..."

.

.

My love is never enough

.

.

(No, You have not broken my heart

You—burnt it to ashes)

To be continued

.

.

.

Thanks for reading, minna-san

Tunggu, tunggu jangan bunuh saia~

Masih ada kelanjutannya kok, it's not meaningless fic with overly angst plot. Okay. Ini memang angst, apakah kalian nangis? Karena saia nangis…sigh….ya karena cuma saya yang tahu endingnya, hehe ^^v

Ini fic pemikiran saia selama dua bulan tersiksa penyakit typus, padahal saia ga suka jajan sembarangan dammit! Okay sorta may be. Lol. Sekarang kambuh lagi gara-gara hari sabtu kemarin saia makan saus (tapi kentang goreng tanpa saus benar-benar menyiksa!) #lupakan

Daaaan menghadapi mid semester yang mengerikan! #tepar

Btw, fic ini sebenarnya mau saya ringkas jadi 1 chapter, tapi malah kepanjangan jadi akhirnya saia bagi dua dengan beberapa tambahan, tee hee.

Bagi yang belum jelas tentang chapter kemarin, Sakura dan Sasuke mati sama-sama, dan itu hanya 1 chapter =)

And I LOVE THIS FIC! #dihajar. Tapi tetap nomor satu saia enigma, hehe. Saia suka sekali menyiksa Sasu dan Saku. Tapi untuk pemberitahuan saja enigma itu happy ending kok #malah promosi!

Entahlah, saia lebih serius ketika bikin not so happy ending story (kecuali enigma,hehe)—bukan berarti yang lainnya bikinnya ga serius, tapi umm hasilnya kadang tak sebagus sad story (siapa bilang bagus coba!)

Oia, antiklimaksnya ada di chap berikutnya, untuk masalah gimana resolusinya, mohon bersabar saja Jadi fic tourniquet ini hanya sampai 3 chapter. Next chapter will be the last chapter.

Dan saia tahu saia masih banyak kekurangan, semoga saja tulisan saia yang mendramatrisir keadaan ini tidak membuat kalian ingin muntah ^_^v

Concrit diterima! #big hug

Makasih buat Nee-chan (Kagurazaka Suzuran) untuk sarannya, cookies for you!

And for all of my beloved readers. Tanpa dukungan kalian saia tak bisa berkembang :D

Please review. Your reviews make me write.

Ganbatte!