TOURNIQUET

.

.

.

Chapter 3

.-.

2010

.

.

.

.

A SasuSaku story

.

.

.

.

.

Author : Rainy Verre

Rated : T

Pairing : SasuSaku

Genre : Angst/ Romance (Well, simply I'm addicted to write kind of twisted love, haha)

Warning : Heavy Angst, (may be a bit cheesy and cliché), canon. And Yes I'm DRAMA QUEENING MY STORY ! xD

Disclaimer : Masashi-san owns Naruto story ever after.

.

.

o-o-o-o-o is present

x-o-x-o-x-o-x is flashback scene

.

.

.

.

*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*

.

.

oo—PAINKILLER—oo

PART II

.

.

.

(how long will you wait for me?)

[i will wait for you—forever]

(but, how long is forever?)

.

*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*—*

-.-.-

.

.

True love never lives happily ever after

—true love has no ending

-K Knight-

.

.

.

x-o-x-o-x-o-x

Pertama kali bertemu, mereka masih berumur lima tahun. Waktu itu sehabis turun salju, ranting-ranting kosong dengan tangan-tangan kurusnya menari-nari di atas pohon—yang masih terbungkus mantel putih. Warna putih yang begitu indah—membuat Sakura lupa badai mengerikan yang membawanya semalam. Menggosok atap rumahnya dengan raungannya yang kejam.

Sakura berdiri sendirian menunggu ibunya yang sedang membeli keperluan makan malam. Di tangannya tergenggam buku-buku cerita baru yang berharga murah. Sepatu botnya meninggalkan jejak di salju kotor ketika dengan gelisah kaki-kaki kecilnya berputar-putar.

Pipi porselen Sakura memerah karena udara dingin. Hembusan nafasnya keluar membentuk asap putih dan mengembun di syal buatan ibunya—terkadang Sakura masih bisa merasakan kehangatan jari ibunya lewat syal itu.

Saat itulah, matanya tertumbuk pada dua buah sosok yang berjalan keluar dari toko buku. Lebih tepatnya sosok yang lebih kecil. Mata Sakura membulat lebar, mulutnya menganga dalam kekaguman.

Setelah mengangguk pada ayahnya—ayahnya yang punya wajah kaku segera masuk ke toko alat-alat ninja. Meninggalkan anak laki-laki tadi berdiri sendirian.

Anak itu memandangi jalanan cokelat percampuran salju cair dan lumpur dengan muka bosan. Seluruh tubuhnya tertutup rapat. Bahkan syal di lehernya hampir menutupi mulutnya sehingga semakin sulit menentukan ekspresi anak laki-laki tersebut. Tapi matanya yang hitam pekat sudah dapat mewakili semuanya. Mata hitam terindah yang pernah Sakura lihat —lebih gelap daripada hutan tempat penyihir jahat mengaduk kuali mereka dalam buku cerita Sakura. Lebih memikat daripada apel merah ranum milik ratu yang jahat.

Pipi marble-nya memerah, perpaduan yang begitu cocok dengan kulitnya yang luar biasa pucat.

Sakura segera berlari mendekat. Walaupun harus tersandung beberapa kali karena kakinya yang pendek. Berhenti dan berdiri tegak di depan anak laki-laki itu.

"KAUU—" teriak Sakura dengan wajah memerah dan nafas tinggal satu-satu.

Anak laki-laki tadi hanya mengangkat alis. Masih bersikap seperti baru bertemu serangga yang terbang melintas.

"Kau—kau seperti PANGERAN DI BUKU CERITA!" teriak Sakura lagi. Memandangi wajah di depannya dengan mata terbuka lebar.

Balik memandangi Sakura seakan sudah gila, Sasuke hanya menjawab.

"Dan rambutmu aneh, kau tahu."

Terdengar tarikan napas kaget dari Sakura— tangannya menutupi mulutnya, pipi porselennya semakin memerah karena kemarahan.

"Ap-apa kau bilang tadi?"

Tidak sampai 20 detik kemudian.

'Bukk!'

"Ow—apa yang kau lakukan!" teriak Sasuke.

Sebuah bola salju menghantam Sasuke tepat di wajahnya.

Hening.

Mereka tertegun, saling memandang lama, hanya satu dua kali berkedip. Angin berhembus dingin di sekitar mereka.

.

.

.

.

Tiba-tiba saja.

"Huaaa~ Okaa-san!"

Dan Sasuke sudah berjongkok sambil mengusap-usap matanya yang berair. Mengingatkan kita pada seorang anak laki-laki kecil menangis yang akan segera membuat gemas orang yang melihatnya.

Sakura hanya memandang dengan mulut lebar. Memperhatikan kesibukan anak di depannya menangis—dan ini tidak adil, bagaimana seseorang yang menangis bisa tampak begitu lucu.

"Huaaa~" isak Sasuke lagi.

Tak lama kemudian tangis Sasuke berhenti karena didengarnya suara lain. Ketika mendongak, mata Sasuke segera membulat lebar.

"Hiks...hiks..huaa~ Kaa-san!"

Sasuke kini benar-benar menganggap gadis kecil di depannya sudah gila.

"Hei! Kenapa kau juga ikut menangis, bodoh!" teriak Sasuke jengkel. Mengusap-usap air mata di pipinya sendiri.

Sakura malah menangis semakin keras.

Dan Sasuke hanya bisa melongo.

o-o-o-o-o-o-o-o

.

.

(I will cry with you.

Just ask me if you need another tears)

.

.

Malam semakin hitam, kaki Sakura gemetar ketika menapaki rumput yang mulai basah. Angin malam sedikit menggumam di sela-sela dedaunan yang saling bergesekkan. Air danau tampak tenang, dengan malu-malu rembulan berkaca pada permukaannya yang bening.

Langkah kakinya semakin menjauh dari rumah tanpa cahaya di belakangnya. Kakinya yang telanjang mulai basah, walaupun begitu tidak pernah sejenak pun ia berhenti.

Mata jade-nya memandang kosong ke depan—bukan berarti tanpa tujuan. Akhirnya kaki itu berhenti di bagian puncak sebuah tebing tinggi di tepi danau. Ombak kecil terdengar menabrak karang-karang di bawahnya.

Dengan perlahan, Sakura duduk memeluk lutut, pandangannya menerawang jauh.

Pikirannya sendiri seperti tersesat di suatu labirin imajiner. Masih ragu untuk terus maju karena akan semakin membuatnya tersesat di labirin itu. Tapi tidak melakukan apa-apa juga sama bodohnya.

Jadi Sakura memilih untuk menutup mata sejenak, membiarkan angin malam berdesing di sekitarnya. Mendengarkan suara ombak yang masih terus tanpa lelah berusaha menghancurkan bebatuan. Dan akhirnya, membayangkan setiap garis wajah, setiap ekspresi Sasuke pada kanvas imajiner di kepalanya. Membayangkan suaranya yang bergetar pada pemahaman pendengaran imajiner miliknya. Membayangkan kata-kata Sasuke yang terus tersimpan pada kotak perekam tua imajiner milik Sakura. Dia sampai tidak tahu apa itu semua kenyataan atau imajinasi belaka.

Karena pada akhirnya semua hal yang terjadi tampak imajiner bagi Sakura.

Bahkan Sakura mempunyai perasaan imajiner bahwa Sasuke benar-benar berhasil membuatnya merasa seperti berumur 12 tahun lagi.

Mata jade Sakura menerawang jauh—menantang langit malam yang membeku seperti es hitam. Rembulan masih terus saja bersinar cerah—mungkin sedikit sombong menjadi benda paling cantik di langit malam itu. Tidak seperti hati sakura yang telah menjadi buruk rupa karena hancur berkeping-keping.

.

.

.

.

Langkah kaki lagi. Tapi kali ini lebih pelan.

Tubuh Sakura masih terdiam—tidak menoleh sedikit pun untuk mencari asal suara langkah kaki itu.

Sampai akhirnya dari sudut mata bisa dilihatnya sepasang kaki tanpa alas berdiri tepat di sampingnya. Keberadaan Sasuke masih tetap memiliki efek yang tidak bisa dipungkiri—membuat hatinya yang (mungkin) masih tersisa sedikit menghangat, keberadaan Sasuke seperti sup hangat di musim dingin. Tapi juga membuat Sakura merasa tersiksa oleh rindu—semacam kerinduan akan sesuatu yang tidak mungkin bisa kaucapai.

Hening begitu lama.

Akhirnya kerinduan itu menang—dengan sangat pelan, Sakura menolehkan wajahnya, seberapa pun usahanya untuk menahan diri—hasilnya nihil. Mata jade-nya selalu kelaparan untuk memandang garis-garis tegas di sekitar dagu dan mulut itu. Rambut hitam pekat yang selalu mengingatkannya pada bulu-bulu lembut sayap burung. Matanya yang cukup hitam dan dalam bagi sekelompok penjelajah gua untuk tersesat di dalamnya. Mata yang lebih tajam daripada kunai mana pun.

Oh, betapa inginnya Sakura menelusuri wajah dingin itu dengan jari-jarinya.

Merasakan bahwa sosok di sampingnya ini adalah nyata, bukan hanya sebuah patung rupawan tanpa jiwa.

Dan akhirnya selalu sama, dirinya yang berujung pada sikap seorang pemuja tanpa logika, berakhir pada sikap seorang tokoh cerita menyedihkan yang dibutakan oleh cinta.

Pada awalnya Sakura berpikir itu karena keindahan fisik yang membutakannya, seseorang yang tampan seperti pangeran dalam imajinasi-imajinasi terliarnya. Tapi perasaan sakit hati, lemah, dikhianati—darah, kematian, air mata, pertempuran antara hidup dan mati, kegagalan—semua itu membuatnya menjadi (sangat) ragu-ragu.

Atau mungkin karena karisma dan kepribadian Sasuke yang memikatnya. Seperti sebuah ironi dalam kisah-kisah gelap, seorang laki-laki dengan wajah rupawan, tapi dengan hati hitam yang hancur. Hidup dengan salah dan tanpa arah. Tumbuh bersama kekosongan tanpa ujung. Hal-hal yang akan menarik seorang gadis periang, naif, berkehidupan sempurna bermimpi untuk bisa memperbaiki hati laki-laki tersebut. Kisah-kisah yang akan disambut baik oleh penulis-penulis melankolis.

Tapi mungkin juga bukan itu, Sakura tidak tahu yang mana alasannya.

Sakura bangkit dengan perlahan. Kali ini pandangannya kosong dan sedih, tidak ada bantahan, sarkasme, kemarahan, maupun ironi pada mata itu. Benar-benar jendela jiwa seperti padang pasir.

Mata mereka bertemu—kali ini lama. Seakan sedang berperang filosofi yang sudah diketahui sama-sama sesat. Tapi apa lagi yang bisa diharapkan? Gaun pengantin? Buket bunga? Lonceng pernikahan?

Sebuah ciuman dari pangeran untuk membangunkan si gadis dari kebodohannya?

Atau malah ciuman dari sang puteri untuk merubah si anak laki-laki agar tidak buruk rupa lagi?

.

.

"Selalu seperti ini kan, Sasuke-kun?"

Air mata mengalir lagi, tapi mungkin karena si gadis mulai belajar pada kisah-kisah bodoh miliknya—bahwa air mata memang harus dipakai oleh tokoh utama kisah-kisah sedih agar saat akhir bahagia nanti tampak indah.

"..."

"Aku bicara, kau diam, kukira—ya kukira kita bisa sedikit lebih dewasa." Suara yang begitu kosong—membuat kesunyian menggeliat iri di sekitar mereka. "Apakah sejak awal kau pernah menganggapku?"

"Kau tidak butuh jawaban semacam itu, Sakura."

Mata Sasuke sekeras batu alam.

"Ah—kau memang benar, hanya ini caranya—kau tidak pernah memberitahuku kebenaran—membuatku masih bisa terus berharap dan menebak-nebak. Sebenarnya tidak ada salahnya, memang hanya itu yang bisa kulakukan—berharap."

"..."

"Apakah—semua yang kau katakan tadi benar?"

Suara mengambang bersama angin.

"Ya."

"..."

"Kau tidak percaya?"

"Ya, aku tidak percaya."

Angin berhembus lagi.

"..."

"Aku selama ini selalu bertanya-tanya kenapa aku menerimamu kembali—dan aku tidak tahu lagi, mungkin aku yang egois berharap sesuatu akan berubah—berharap kisah kita ini seperti kisah cinta epik dengan kesabaran dan kekuatan cinta, benar-benar bodoh kan?"

"Aku mencintaimu, Sakura."

"Jangan bertindak di luar karakter seperti itu, Sasuke, membuatmu semakin tidak masuk akal."

"Aku mencintaimu."

Aliran air mata yang semakin deras.

"Kau boleh mengatakannya seribu kali, tapi sayangnya—kau tidak tahu apa itu cinta."

"Jadi kau pikir kau tahu?"

"Ya, dulu—"

.

.

.

—karena sekarang aku tidak bisa membedakannya lagi."

.

.

.

.

x-o-x-o-x-o-x

"Okaa-san!"

Sasuke meletakkan tangannya di bawah dagu dan menggoyang-goyangkan kakinya di bawah meja.

"Ya, Sasuke-kun?" sahut ibunya dengan senyum manis. Menghentikan kegiatannya mengaduk sup.

Warna merah menyeruak dari pipi marble yang menurut Mikoto sangat menggemaskan itu. Dengan malu-malu Sasuke tersenyum canggung. "Umm—aku hanya ingin tahu kok, bagaimana rasanya jatuh cinta itu?"

Tawa renyah Mikoto mengisi ruangan dapur yang hangat itu.

"Aaa—Okaa-san," rengek Sasuke, warna merah semakin kentara di pipinya.

"Iya—iya maaf, tapi kenapa kau bertanya seperti itu, Sasuke-kun, kau kan baru 5 tahun!" tukas ibunya dengan mata menari-nari geli.

"Aku melihat opera sabun yang biasa ditonton Tsubasa-onee-chan!"

"Ah, kalau menurut, Sasuke-kun?"

"Karena kulihat jatuh cinta itu sangat luar biasa, jadi umm— apakah jatuh cinta itu lebih menyenangkan dari pada punya tomat di seluuuruh—dunia?" jawab Sasuke sambil merentangkan tangannya lebar-lebar memperlihatkan betapa luasnya dunia.

Mikoto hanya bisa tertawa geli.

"Ya, mungkin juga, Sasuke-kun, tapi kurasa kau harus berhenti menonton opera sabun seperti itu," sahut Mikoto meraih pipi anaknya dan mencubitnya pelan.

"Hmph—Okaa-san!" kata Sasuke pura-pura merajuk. "Tapi seperti Otou-san mencintai Okaa-san?"

Mikoto hanya mengangguk sambil tersenyum lebar.

"Jadi kalau begitu Otou-san memberikan Okaa-san banyak tomat ya?" kata Sasuke, menelengkan kepalanya bingung—kenapa ia tak pernah melihat tomat-tomat itu.

Kali ini Mikoto benar-benar tertawa keras.

"Sasuke-kun, Sasuke-kun," ucap Mikoto sambil membungkukkan badannya ke arah Sasuke dan berbisik," sebenarnya bukan tomat, tapi mawar—mawar putih."

.

.

.

.

White roses

White roses for your coffin

In a glass coffin, you are sleepin'

Waiting a prince that never comin'

.

.

.

Sakura menggoyang-goyangkan kepalanya, membuat air mata berjatuhan turun, bergabung dengan dinginnya embun malam.

Sedangkan onyx dingin itu seperti batu retak-retak. Kesedihan—tidak-tidak Sasuke sudah melewati fase merasa sedih itu—lebih tepatnya keputusasaan.

"Aku memang seperti ini, Sakura."

Tubuh Sakura membeku mendengar perkataan Sasuke. Bibirnya bergetar menahan tangis. Sasuke mengatakannya seakan dirinya sudah sehancur debu—mengatakannya seakan usahanya untuk menyatukan—menyatukan entah apa pun yang tersisa dalam dirinya telah gagal.

Aliran air mata mulai turun lagi.

"Bisakah kau berhenti menangis, Sakura, terutama menangisi diriku—kau selalu seperti ini bahkan sejak kita masih genin."

Senyuman getir menghiasi bibir Sakura.

"Aku sedang patah hati...lagi, Sasuke-kun, memangnya apa yang bisa kau harapkan?"

"Aku mencintaimu, Sakura."

Mata jade Sakura memandang sosok di depannya. Terus memandang—memandang tanpa henti.

"Bagaimana kau bisa mencintai kalau kau tidak punya hati, Sasuke?"

Kedua tangan Sakura terkepal erat. Tubuhnya terasa begitu dingin, seakan detak jantungnya hanyalah samar-samar.

.

.

Suatu hari.

Hanya ada anak lelaki muram yang suka duduk sendirian di kelas.

Suatu hari.

Hanya ada gadis kecil naif dan menyebalkan yang berisik, berusaha sok baik pada anak lelaki itu.

Suatu hari.

Hanya ada anak lelaki yang tidur dinina-bobokan oleh kebencian.

Suatu hari.

Hanya ada gadis yang menyukai anak lelaki itu—bukan cinta.

Suatu hari.

Takdir menabrakkan kehidupan mereka secara kasar.

Suatu hari.

Mereka masih saja menunggu akhir dari kisah mereka.

.

.

.

Jika Sakura memandang Sasuke, dia selalu berharap ada tempat kecil di hati Sasuke untuknya—tidak-tidak sebenarnya banyak tempat malah, karena Sakura selalu membayangkan ketika ia berdiri di dalam hati hitam Sasuke yang dilihatnya hanya kekosongan dan debu yang berterbangan.

Kira-kira seperti itu.

"Buktikan padaku, Sasuke. Karena selama ini aku selalu bertindak bodoh, kenapa tidak kuteruskan saja kebodohanku."

Tiba-tiba saja Sakura tersenyum tipis.

"Apa maksudmu, Sakura?"

Sakura mengambil satu langkah mundur.

"Buktikan padaku kalau kau mencintaiku."

Satu langkah yang lain.

Mata Sasuke melebar ketika menyadari apa yang tergambar pada jade itu.

"Kau gila, Sakura."

Satu langkah yang lain.

"Buktikan padaku."

"Sakura—hentikan."

"Buktikan padaku, Sasuke-kun."

Jika sekarang kita sedang bicara tentang kegilaan, maka kita mungkin berpendapat sama. Jika wanita lebih sering menggunakan perasaan—mungkin lebih sering juga menggunakan kegilaan. Atau lebih tepatnya tidak menggunakan kewarasan.

Dan Sakura sudah menutup mata ketika kakinya tidak memiliki pijakan lagi.

Angin yang berhembus keras seperti menarik tubuh Sakura ke bawah. Horor luar biasa menyapu onyx Sasuke. Perasaan yang sama—perasaan yang selalu sama.

Lemah.

Penyesalan.

.

.

Kata 'bodoh' bergaung di telinga Sakura dengan kejam.

'Tidak punya otak'

'Lemah'

"Buktikan—"

.

.

BYUURR!

.

—padaku.

Air, air yang sangat dingin.

.

.

.

.

.

Suatu hari gadis itu ingin sekali tidur untuk selamanya.

Dan hari itu agaknya tercapai.

Seperti dalam cerita-serita—gadis itu jatuh dalam koma yang panjang. Sebenarnya tidak ada yang tahu kapan gadis itu akan bangun.

Dan si anak laki-laki—sang pangeran sudah datang.

Dia selalu menunggui si gadis, siang malam. Musim panas, musim dingin.

Kebiasaannya berusaha berbicara pada kesunyian membuatnya semakin sunyi juga. Matanya semakin menghitam—kalau itu mungkin. Mata selalu redup menghiasi wajahnya yang suram. Bibir yang kaku dan dingin.

Tapi sekali lagi ada hal yang tak pernah berubah di mata itu.

Kosong.

Kosong.

.

.

.

Tahun pertama.

Si anak laki-laki selalu membawakan bunga mawar putih setiap berkunjung. Dengan mata kosong, dia akan duduk di samping ranjang, mendengarkan detak jantung si gadis. Semakin lama, semakin sering.

Akan dipandanginya tangan si gadis untuk sesaat.

Kemudian mengangkat tangannya untuk menyentuhkan jari-jari gadis itu yang semakin kurus dan dingin ke bunga tersebut.

Tidak ada senyum sebagai ucapan terimakasih.

.

.

.

.

Tahun keempat.

Sahabat-sahabat si anak laki-laki mulai khawatir. Bisa dibilang anak laki-laki itu akan selalu datang—seperti hantu. Kadang pada siang hari, tapi juga kadang malam hari. Selalu ada mawar putih di tangan si anak laki-laki. Perawat-perawat menjadi hapal dengan anak laki-laki itu. Walaupun begitu, ketampanan suramnya tak pernah memudar. Hanya lingkar hitam di bawah matanya semakin kentara. Kulitnya juga bertambah pucat.

Seperti biasa, ia duduk di samping tempat tidur.

Memberikan mawar putih kepada si gadis.

Tidak ada perubahan.

Onyx itu semakin sunyi.

.

.

.

.

Tahun ketujuh.

Waktu itu musim dingin.

Masih seperti biasa. Waktu masih beputar—bagi mereka yang masih merasa hidup.

Si anak laki-laki membawakan mawar putih untuk si gadis.

Diangkatnya tangan si gadis.

Tapi mawar putih yang dibawanya semakin lama, semakin tua dan menguning karena ia tak bisa pergi keluar seperti dulu.

Ketika jari-jari kaku si gadis menyentuh mawar itu—kelopak-kelopaknya yang telah agak coklat dan kering hancur dan jatuh berguguran ke lantai.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari si anak laki-laki.

.

.

.

You know—

You know it perfectly

That you are my only sanity

.

.

.

.

Tahun kesebelas.

Sahabat-sahabat si anak laki-laki kali ini semakin khawatir dengan kewarasannya. Maka mereka berusaha menyembuhkannya—yang sebenarnya dengan mengurungnya di dalam ruangan serba putih dengan satu jendela.

"Kau tidak bisa terus seperti ini, Sasuke. Sakura hanya mempunyai harapan kecil sekali."

Mata biru seorang sahabat yang begitu sedih dan terluka.

"Tidak, Naruto. Kau tidak mengerti—Sakura hanya tertidur."

Dan mereka benar-benar khawatir dengan kewarasan si anak laki-laki.

Selalu, ketika dokter atau perawat rumah sakit jiwa itu masuk mengantarkan obat atau makanan ke dalam selnya yang dingin—mereka selalu memperhatikannya duduk di pojokan lantai yang dingin. Dengan rambut raven tergerai ke depan—dan perkembangan barunya— ia memiliki aura yang familiar dengan semua penghuni rumah sakit itu. Aura ketika sedikit demi sedikit kakinya terangkat menjauh dari kenyataan.

Kulitnya pucat—benar-benar pucat. Setiap gerakannya luar biasa tenang disertai mulut yang tak pernah buka suara—oh kecuali jika sahabat-sahabatnya yang mengajak bicara. Dinding-dinding putih di sekitarnya seperti memusuhinya karena menodai warna monoton di ruangan itu. Seakan di ruangan itu hanya ada malam.

Tapi Sasuke—anak laki-laki itu punya kebiasaan aneh.

Ketika pintu alumunium di ruangan itu terbuka, dan ada seseorang masuk, ia selalu bertanya.

"Apa sekarang sudah pagi?"

Dan para dokter serta perawat hanya mengernyit bingung.

Lagi, Terus menerus.

"Apa sekarang sudah pagi?"

Hingga seorang perawat merasa sangat penasaran.

"Memangnya kenapa kalau pagi, Uchiha-san?"

.

.

.

"Tentu saja, Sakura akan terbangun dari tidurnya."

.

.

.

.

.

And one day, ask the mirror—

Ask the mirrorwho has the ugliest heart in the world?

.

.

.

.

.

.

Waktu itu matahari sudah hampir tenggelam ketika mata jade itu terbuka setelah 11 tahun selalu tertutup. Bibir itu kering—tak pernah disiram oleh senyum, kulit yang mulai mengerut. Sosok itu tak bersuara—hanya samar-samar terdengar hembusan napas tipis yang terdengar layaknya benang kehidupan yang hampir diputuskan oleh Morta dan saudarinya.

"Sakura."

"Sakura-chan."

"Bagaimana keadaannya, Ino?"

"Benturan di kepalanya membawa kerusakan cukup parah, tubuhnya lumpuh separuh dan kelihatannya ia juga bisu, syarafnya rusak—karena depresi yang dialaminya membuatnya terkena stroke."

Wanita pirang itu mengepalkan tangannya erat. Dia sudah cukup lelah menangisi sahabatnya itu.

"Apakah—apakah itu artinya Sakura-chan benar-benar tak bisa menggerakkan tubuhnya lagi?"

"...Mungkin...dengan pengendalian cakranya yang hebat, dia bisa sedikit menggerakkan tubuhnya yang tidak lumpuh...tapi dia tidak akan bisa kembali seperti semula—dia...dia tidak akan bisa menghancurkan batu hanya dengan pukulan satu jarinya, dia tidak akan bisa kuajak bertengkar lagi—Sakura."

Dan yang dilakukan sahabat-sahabat yang baik adalah menangis sambil memandangi sosok di tempat tidur itu.

.

.

.

.

.

.

.

Awan hitam berarak-arakan di langit. Burung-burung camar berputar-putar di atap. Cahaya putih tampak terlihat di antara mega-mega hitam itu. Gumpalan hitam yang cukup mengerikan itu tetap tunduk pada sang angin, dibawa kesana-kemari, kadang tersesat dan kadang bertemu dengan awan lain untuk menurunkan hujan.

Tapi dua manusia ini sudah cukup merasa sendirian.

Sasuke berdiri di depan pintu ruang rumah sakit itu. Diam. Pikirannya masih berusaha memilah-milah yang mana kenyataan dan yang mana bukan. Kakinya yang pucat tanpa alas kaki melangkah di atas lantai rumah sakit. Kurasa dia juga terkena kutukan—ketampanan suramnya tak pernah bisa memudar walaupun malam-malam tanpa tidur sangat sering menyapanya. Rambut raven yang tak pernah terurusi—mata obsidian yang lebih suka bercengkerama pada lantai selnya.

Tempat tidur Sakura diletakkan di samping jendela. Wajahnya telah berubah, terlihat lebih tua dan kurus. Tapi mata itu masih tetap bisa membuat Sasuke menahan napas. Walaupun tak seberwarna dulu—setidaknya masih monokrom. Hitam dan putih. Hidup dan mati.

Dengan langkah kaki pelan ia menuju ke arah ranjang.

"Hari ini tidak ada mawar putih, maafkan aku," gumam Sasuke—kelihatan kecewa memandangi tangan pucatnya yang kosong. Seakan masih kebingungan kemana perginya mawar putih yang biasanya selalu ada di tangannya. Alis hitam sempurna mengernyit,"aku janji untuk membawa satu ikat besok pagi—kau sudah bangun bukan?"

Ekspresi wajah Sasuke sanggup membuat patung gargoyle menangis—masih kosong dengan wajah pias. Matanya memandang dengan tidak fokus—berusaha untuk tidak kehilangan akal sehatnya.

Jade itu hanya membuka dan menutup, bibir beku itu juga ikut membuka dan menutup tapi hasilnya hanyalah kesunyian.

Kaki Sasuke dengan susah payah semakin mendekat. Sesaat kemudian agaknya mata itu tak sekosong sebelumnya—onyx itu hanya memantulkan warna hijau jernih.

"Kenapa kau tidak mau bicara padaku, Sakura?"

Lapisan gelas tipis menutupi onyx itu.

Bibir Sakura berusaha bergerak-gerak, tapi hanya kebisuan yang menjawab Sasuke. Akhirnya tangan Sasuke meraih tangan Sakura, membelai jari-jarinya. Jari-jari yang mengingatkannya pada ranting kurus dingin di musim dingin saat mereka pertama kali bertemu dulu.

"Seharusnya waktu itu ada cincin indah yang menghiasi jarimu tapi..." Kata-kata Sasuke terhenti sebentar. Alis hitamnya melengkung bingung.

"—kurasa aku menghilangkannya," gumam Sasuke mengamati jari-jari di genggamannya.

Hening.

Hujan mulai turun dengan sangat deras. Panggung kehidupan mereka sudah mempersiapkan latar untuk tragedi berikutnya. Masih memilih dan mengulur-ngulur waktu yang paling tepat untuk mencari kesempatan yang paling menyakitkan. Mata jade yang gersang itu tetap bertemu dengan onyx sunyi itu.

Mereka tidak bisa memikirkan masa lalu maupun masa depan karena mereka merasa tidak mempunyai itu lagi. Mungkin ini kutukan—terlalu banyak kutukan—terlalu banyak kesalahan, Sakura yang selalu menginginkan kisah-kisah dongeng dramatis—walaupun dalam jenis yang seperti ini.

"Kenapa kau tidak menjawab, Sakura?" sambung Sasuke lagi," bukankah aku sudah menunggumu?"

Hening.

"Aku mencintaimu," bisik Sasuke, menempelkan punggung tangan Sakura ke pipinya, dan menutup mata. Seperti melihat orang lain saja, tokoh yang berbeda—bukan Uchiha bungsu yang sedang bermain peran. Memaksanya untuk bertingkah di luar karakter.

Walaupun tidak ada sahutan, tapi satu persatu air mata mulai meleleh di pipi cekung Sakura. Matanya menggambarkan sejuta perkataan yang tidak bisa diucapkan.

"Lihat kan, aku masih menunggumu?" bisik Sasuke lagi.

"...'"

"Sekarang kau percaya?"

"..."

Dengan sekuat tenaga, Sakura melepaskan tangannya yang masih berfungsi dan mengarahkannya ke kaca jendela.

Jarinya dengan pelan menuliskan sesuatu di kaca jendela yang mengembun.

.

.

.

Aishiteru

Dan untuk sekian lama mereka bisa tersenyum satu sama lain.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan paginya, ketika Sasuke terbangun. Berharap bahwa dirinya melihat jade yang cerah itu bukan hanya mimpi belaka. Tangannya berpegangan erat dengan tangan Sakura.

Tapi mata onyxnya segera membulat lebar. Detik jam serasa berhenti. Kenyataan meraung-raung di pikiran Sasuke —menertawakan dirinya sekuat tenaga.

Tangan dalam genggamannya sedingin es. Wajah dibingkai rambut merah jambu berantakan itu pucat pasi dihiasi senyuman tipis yang sangat indah.

Dan seakan bisa didengar oleh Sasuke derak hatinya yang hancur di rongga dadanya.

Karena pada akhirnya kadang-kadang, pangeran harus tetap berusaha mencari sang puteri dan biarkan sang puteri tertidur untuk selamanya.

Hanya salah satu dongeng bodoh yang(mungkin) belum berakhir.

.

.

Once upon a fairy tale

I loved you

And you loved me

.

.

.

.

.

.

And they all lived happily ever after

-THE END-

.

.

Terimakasih telah membaca :D *bungkuk*

.

.

Tunggu sebelum readers sekalian melempar sandal maupun telur busuk biarkan saya menjelaskan beberapa hal xDDD

Yaap. Sakura mati, Sasuke enggak. #dibantai

Ternyata bikin cerita kepotong-kepotong begitu sulit bangetttt~ jujur chapie 3 ini yang paling sulit, semoga tidak mengecewakan. Ini lebih sedih dari chappie kemaren kan? T.T #melas

Mungkin karena minggu-minggu kemaren UAS jadi otak saia udah tumpul buat nulis fic,haha #keliatan ngelesnya, :'(v

Bagian Sakura mau nyemplung jurang itu sampai saia ganti dua kali, AAA~ #pundung di pojokan

Permasalahan yang lain adalah ini canon, tapi kenapa lebayyyy #frustasi

Kalo untuk chap 1 agaknya masih bisa dilogika, lha kalau chap ini pada OOC orang-orang merana semua #sobbing madly T.T

Nulis canon itu punya beban mental, kalau AU sih terserah saia, tapi...tapi mungkin masih sulit dibayangkan SasuSaku kayak gitu ya? Damn my imagination. Tapi semoga readers sekalian bisa memaklumi ketidak-kompetenan ini-halah- =3

Saia udah perhitungkan scene-scene-nya tapi tetep saja tambah geje #headbang

Readers: =='

Ada beberapa hal lain, waktu Sakura tinggal bareng sama Sasuke, Saku enggak diperlakukan seenaknya, tapi lebih seperti ditekan. Dia enggak diperlakukan seperti pembantu yang disiksa, nangis-nangis di pojokan(?) karena kalau saia pikir-pikir itu namanya kemunduran sifat tokoh, di manganya Saku kan udah lumayan enggak cengeng-cengeng amat :P #dikemplang

Dan kalau lebih amannya, daripada nanti menimbulkan prasangka(?) perasaan Sasuke itu muncul pelan-pelan, enggak tiba-tiba balik ke konoha langsung happily ever after. Ini fic saia, jadi background faktanya terserah saia, jangan dikaitkan dengan yang asli nanti dikira saia author gila yang buat fic ga masuk akal...sigh...

Oh, ya untuk chap 3 ini saia terinspirasi dari beberapa fic dan film, contoh ide sakura nyemplung jurang dan sasuke masuk rsj itu dari room 227 by O-renji-un. Jadi kalau ada kesamaan jangan kaget, tapi Cuma bagian itu doang kok soalnya gatel pengen bikin cerita yang ada loncat di tebing kayak Bella, hehe ^^v

Readers: Author ini ngomong apa sih!

Btw, saia termasuk SasuSaku fans jadi ya.. membuat pairing kesayangan menderita ga papa kan? #sok innocent

Tapi saia menganut ideologi multipairing kok, semua pairing itu sama d

Yak, sekian saja bawelan saia T.T

.

.

Terimaksih sekali buat para readers sekalian yang sudah setia membaca fic ini sampai 3 chapter, benar-benar makasih. Terimakasih juga untuk semua favorite dan alert serta yang membaca anonim, Love you all guys! :) #pelukerat

Terimakasih untuk semua yang sudah bersedia memberikan concrit maupun pujian, sungguh saia tak bisa maju tanpa kalian :DDDD

Setelah ini kan libur panjang, saia usahakan untuk apdet fic enigma dan sanctuary of dream : ))

Akhir kata.

C u at the next fic.

And Ganbatte :D