Warning: Angst! Yaoi, shonen-ai, dan sebangsanya. Death chara(s). Gaje, OOC. Don't like? Nggak baca nggak apa-apa kok, saia takkan marah. Ngeflame? Maaf, tapi saia udah bawa pemadan api disini... (nunjuk Shirou dan Fuusuke)
Nee, happy reading ^^
Cross of Labyrinth
Chaopter 2
Mamoru's
Mamoru's POV
"Selamat tinggal, semuanya..." Kuarahkan pisau itu dengan kilat menuju jantungku. Kali ini semua akan selesai. Tak ada lagi yang akan menderita. Semuanya akan bahagia. Baik Ichirouta, ataupun Shuuya...
"Mamoru!" Lagi-lagi suara itu. Suaramu selalu membuatku berpaling menatapmu. Selalu membuatku terhipnotis. Kutolehkan kepalaku, memang benar itu adalah dirimu. Kau langsung menerjangku dan menepis pisau itu dariku. Mengunci gerakanku dan kemudian memelukku erat. Hangat, hangat sekali. Bahakan kehangatan itu membuatku ingin untuk tetap hidup, meski aku sudah merasa sebersalah ini pada Ichirouta. Aku... Memang sangat menyukaimu, Shuuya...
"Bodoh...! Jangan berpikiran untuk bunuh diri! Apa kau pikir hal itu akan membuat Ichirouta terbangun?" Kau mencengkram erat pundakku. Matamu menatapku lurus-lurus. Kekhawatiran tampak jelas di ekspresi wajahmu itu. Sudah cukup, berapa kali kau memasang ekspresi itu padaku? Namun tetap saja saat menatap wajahmu itu selalu ingin membuatku menangis.
"Uh... Ini salahku, Shuuya...! Aku tak pantas untuk dimaafkan..." Lagi-lagi aku menangis, dan tahukah kau? Aku hanya bisa menangis dihadapanmu. Karena orang yang akan mendekapku seperti ini selalu dirimu. Seperti waktu-waktu yang dulu, kau kembali memelukku. Aku dapat merasakan perasaanmu, yang ingin melindungiku sampai akhir hayatmu. Akupun ingin membalas perasaan itu, namun...
Samar-samar terbayang wajah orang itu, dia menangis. Ichirouta. Bagiku dia adalah sahabat yang tak ternilai harganya, namun kaupun adalah orang yang sangat berharga dalam hidupku. Shuuya, apa yang harus kulakukan...?
"Jangan menangis..." Lagi-lagi ucapan itu yang keluar dari bibirmu. Kaupun mengusap lembut airmataku. Hal yang selalu kau lakukan saat aku menangis. Tangan hangatmu menyapu airmataku, meski itu sia-sia. Tangisku takkan berhenti. Kau tahu itu kan, Shuuya? tapi kenapa kau masih terus berusaha menghapus airmata dari wajahku ini?
"Mamoru..." Perlahan, kau mendekatkan wajahmu padaku. Aku tahu apa yang akan kau lakukan, dan hal itu pasti akan membuat Ichirouta menjadi semakin sedih. Namun aku malah mengikutimu, seolah tak peduli dengan perasaan Ichirouta. Aku menyukaimu, dan perasaan itu sekarang malah membuatku buta...
Hangat, bibirmu menyentuh bibirku dengan perlahan. Kenapa aku tak berontak? Bukannya aku tak ingin melukai hati Ichirouta? Tapi kenapa? Kenapa tekadku itu kalah oleh kelembutanmu? Bahkan untuk sekedar berkata 'tidak' pun aku tak bisa. Apakah aku begitu mencintaimu? Sampai aku membiarkan sahabatku membusuk di neraka demi keinginanku atas dirimu?
Kau lepas ciuman itu dariku. Selalu tak lupa untuk memperlakukanku dengan lembut. Sebegitu sayangkah dirimu itu padaku? Kau menatapku dengan matamu yang hitam kelam bagaikan langit malam itu. Tatapanmu selalu penuh arti, aku tahu itu. Karena dulu aku selalu berpikir kalau itu adalah perasaanmu sebagai sahabat yang menyayangiku. Namun kini hal itu berubah, dan perasaan inilah yang membuat sahabat kita yang paling berharga harus terbaring dalam komanya...
"Aku mencintaimu..." Kau mengucapkannya. Kata-kata yang paling kutunggu dalam hidupku, harusnya begitu. Tapi apakah bisa aku menjawabmu disaat seperti ini? Tidakkah dalam kepalamu terbayang wajah sedih Ichirouta? Mana mungkin aku bisa bahagia diatas penderitaan orang lain? Tidak, untuk kali ini aku takkan bisa menyambut uluran tanganmu. Maafkan aku, Shuuya...
"Aku juga mencintaimu..."
Tidak! Kenapa? Kenapa ucapan itu yang keluar dari bibirku? Tidak! Kenapa aku mengiyakan pernyataanmu? Kenapa? Kenapa aku mengkhianati Ichirouta?
Kau kembali memelukku. Pelukan yang selalu membuatku merasa aman dan nyaman. Aku memang selalu menyukaimu, Shuuya. Tapi apakah aku harus berbahagia diatas penderitaan sahabatku sendiri? Aku tak ingin melukai siapapun, baik Ichirouta ataupun dirimu. Namun apa yang harus kulakukan? Ataukah harus kulepas pelukanmu atas diriku ini? Tidak. Aku tak sanggup melakukannya. Karena aku sangatlah mencintaimu...
"Jadilah kekasihku, Mamoru..." Aku tahu. Akhirnya kau meminta padaku. Dan lagi-lagi aku mengiyakan permohonanmu itu...
Tralala... Pembatas cerita...
'Mamoru...' Aku ingat suara itu. Tapi siapa yang memanggil namaku?
'Mamoru... Aku takut... Gelap, disini hanya ada keputus-asaan... Tolong... Tolong Aku...' Ichirouta. Tak salah lagi. Sosok itu, suara itu, semuanya milik Ichioruta. Dia memanggilku. Memeluk lututnya sendirian di tengah kegelapan abadi. Suara isak tangisnya terdengar jelas ditelingaku.
'Seharusnya kau tak meninggalkanku.. Tapi kenapa kau malah lari dan pergi bersama Shuuya..?' Sosok itu mulai melepas dekapannya dan menatapku dengan tajam. Hancur. Wajah milik sosok yang kuyakini sebagai Ichirouta itu terlihat rusak. Kulit luarnya telah mengelupas dan terkoyak. Mata cokelat madunya berubah warna menjadi semerah darah. Beberapa belatung tampak menghiasi wajahnya itu. Dia menatapku dengan sorot penuh dendam. Datang perlahan padaku...
'Aku benci Mamoru yang seperti itu...! Lebih baik, kau mati saja...!'
"TIDAAAAK!"
Sunyi. Disini hanya ada aku sendiri. Di kamarku yang hangat dan nyaman seperti biasa. Kutatap sekitarku, tak ada tanda-tanda bahwa hal yang kualami tadi benar-benar nyata. Kemudian kulirik sejenak jam wekerku, masih pukul 04.00 pagi.
"Hanya mimpi..." Aku hanya menenggelamkan wajahku dalam bantal putih bersih milikku. Aku takut, apakah Ichirouta akan menjadi dendam padaku? Apakah dia akan membunuhku? Apa aku memang tak boleh mencintai Shuuya...?
Sang matahari sore mengahangatkan jiwaku. Kini aku dan Shuuya duduk berdua di tempat yang jadi favoritku ini. Duduk berdua tanpa bicara. Hanya menatap matahari sore sambil sesekali saling melirik satu sama lain. Hal ini memang telah menjadi rutinitas Kami berdua sejak kami menjalin hubungan. Hangat. Terpaan matahari menerpa lembut tubuhku, diriku juga merasakan hangatnya pundak Shuuya yang menjadi tempat sandaran kepalaku. Sangat nyaman. Aku sangat menantikan saat-saat seperti ini sejak dulu. Namun, disatu sisi aku merasa takut. Bayangan Ichirouta dalam mimpiku itu mulai terngiang kembali...
'Aku benci Mamoru yang seperti itu...! Lebih baik, kau mati saja...!'
"Kh...!" Kalimat itu terus terngiang dikepala ini. Bagaikan alunan nada yang akan membawaku kepada ajal. Aku takut, entah apa yang kutakutkan. Tapi... Aku takut, takut sekali. Meski yang kutakutkan adalah hal yang tergolong cukup abstrak. Kututup kedua telingaku agar suara Ichirouta tak terdengar lagi. Namun percuma, suara itu justru makin kencang dalam benakku. Aku mulai menjerit histeris, menghiraukan Shuuya yang saat ini panik karena keadaanku.
"Mamoru...!" Kurasakan tangannya yang menyentuh pundakku. Tapi aku tetap menjerit. Aku takut. Dan tak ada yang bisa menghilangkan rasa takut luar biasa ini.
"Hentikan! Jangan...! Ichirouta!" Aku mulai berteriak tak karuan. Membuat Shuuya tertegun sejenak saat mendengar nama 'Ichirouta'. Dia mencengkram tubuhku, berusaha untuk menyadarkanku dari kepanikan ini. Percuma, aku tak dapat merasakan apa-apa. Tidak satupun kecuali rasa takut yang luar biasa ini.
"Mamoru..." Wajahnya memandangku dengan tatapan khawatir bercampur sedih. Sakit! Rasa sakit mulai menyeruak dalam tubuhku. Dadaku serasa berdenyut kencang saat melihat ekspresi dari orang yang paling kucintai itu. Rasa sakit dan takut ini... Apakah ini konsekuensi dari semua perbuatanku? Mungkin aku benar-benar akan mati...? apakah Kurelakan saja supaya eksistensiku lenyap ditelan kegelapan ini...?
"Ah...!" Mataku langsung terbuka saat menyadari ada sesuatu yang menyentuh bibirku. Kubuka mataku untuk melihat Shuuya yang ternyata sedang menciumku. Rasa frustasi dan kepanikannya dapat tercermin dari rasa ciuman itu sendiri. Namun didalamnya juga terkandung rasa ingin melindungi. Ingin menyadarkanku supaya kembali ke realita. Agar aku tak merasakan sakit itu lagi...
"Shuu... Shuuya...!" Mendengar suaraku, akhirnya dirinya melepas ciuman itu. Ditatapnya mataku dengan ekspresi khawatir. Dirinya juga merasa ketakutan, sama sepertiku. Mungkin takut kalau terjadi sesuatu padaku.
"Mamoru... Aku akan selalu melindungimu..." Dia mendekap erat diriku. Seolah esok adalah hari kematianku. Dia tak hanya berjanji, aku tahu itu. Shuuya akan selalu menepati ucapannya padaku. Aku... Akan percaya padanya. Aku ingin hidup. Bersama Shuuya, juga bersama dengan Ichirouta nantinya. Karena itu, Ichirouta. Cepatlah bangun agar nantinya kita bisa berjalan beriringan seperti dulu lagi...
Akan kudoakan agar suatu saat nanti kau terbangun dan mendapatkan cinta sejatimu...
Tralala... Pembatas cerita...
'Mamoru...' Suara itu. Lagi-lagi mimpi burukku tentangmu datang kembali.
'Lebih baik, kau mati saja...!' Lagi-lagi kau berucap seperti itu padaku. Aku tahu ini bukan realita, tapi apakah sesunguhnya kau memang menginginkan kematianku, Ichirouta?
"Kh...!" Kurasakan leherku mulai tercekik. Seketika itu juga diriku terbangun dari mimpi buruk itu. Dan yang ternyata kudapati adalah sebuah realita yang mengejutkan bagiku.
"Shu, Shuuya...?" Leherlu dicekik oleh tangan miliknya. Tangan yang biasanya selalu merengkuhku ini. Tak salah lagi, karena aku dapat melihat wajahmu berkat adanya sinar rembulan yang menembus jendela kamarku. Ada apa denganmu?
Kucoba untuk meronta dari cekikanmu dan memanggil manggil namamu. Nihil, kau tak bereaksi sedikitpun dan masih tetap mencekikku erat. Seolah benar-benar ingin menghabisi nyawaku. Kupandang mata hitam kelammu itu. Kosong, matamu tak berkilat memantulkan cahaya apapun. Tatapanmu kepadaku terasa hampa. Ini bukan dirimu. Setidaknya, aku merasa kalau kau seperti dikendalikan sesuatu...
'Mamoru...' Kulihat siluet Ichirouta samar-samar terlukis di sebelah Shuuya. tatapannya seolah ingin membunuhku. Wajahnya seolah penuh dengan dendam. Apakah ini benar-benar sebuah realita? Apakah kau benar-benar ingin membunuhku dengan menggunakan orang yang paling kucintai ini...?
Tidak, kau sama sekali tidak bersalah. Akulah yang berkhianat padamu, Ichirouta. Akulah yang mengkhianati persahabatan kita bertiga. Aku memang tak pantas untuk hidup. Aku tahu itu...
Kurasakan tangan Shuuya yang menggeretku dengan kasar ke arah jendela. Kemudian dia mulai mendorongku agar aku terjatuh dari kamarku. Refleksku membuatku menjadi melawanya dan memilih untuk mempertahankan posisiku. Meski sebenarnya tenagaku kalah jauh bila dibandingankan dengan Shuuya. Terjatuh dan kemudian mati. Mungkin ini memang takdirku. Aku harus mati. dan bila itu terjadi aku ingin mati ditanganmu, Shuuya. Hanya kau seorang...
'Tes...' Entah kenapa aku mulai menangis, bulir-bulir air mata jatuh dari kedua mata cokelatku. Entah menangis bahagia atau menangis sedih. Mungkin karena aku bahagia dapat mati ditanganmu, atau mungkin sedih karena aku masih terus ingin hidup bersamamu? Apapun itu, airmataku tak kunjung berhenti mengalir. Kau yang biasanya akan menghapus airmata ini hanya tetap membisu sambil terus berusaha mendorongku. Perlahan, kugenggam kedua tanganmu. Kukerahkan sisa tenagaku untuk mendekat padamu dan mencium bibirmu, untuk yang terakhir kalinya. Hangat, selalu seperti ini adanya. Meski kurasakan bahwa tanganmu menjadi sedingin es, namun bibirmu tetaplah terisi dengan kehangatan. Shuuya, mungkin ini terakhir kalinya aku mencium bibirmu. Karena aku akan mengikhlaskan diriku untuk mati demi menghapus dosa ini.
Kulepas ciuman terakhir itu darimu. Kemudian menjatuhkan diriku sendiri ke bawah, menatap dirimu yang terbelalak. Cahaya itu kembali ke matamu. Matamu kembali berkilat indah, walaupun ekspresimu terbelalak dan terkejut mendapati diriku yang menjatuhkan diri ini. Aku masih tetap menangis, namun aku tersenyum bahagia. Bahagia karena akhirnya aku dapat menebus dosaku pada Ichirouta dan juga padamu. Bahkan aku diberi kesempatan melihat mata indahmu itu untuk yang terakhir kalinya. Aku bahagia dan sangat puas. Meski nantinya aku akan dijatuhkan ke neraka sekalipun...
"Aku mencintaimu, Shuuya..." Kubisikkan kata terakhirku padanya saat aku melayang di angkasa, dan akhirnya terjatuh menghantam tanah dengan keras. Kurasakan darah keluar dari kepalaku, dan pemandangan yang terakhir kalinya kulihat adalah dirimu yang meneriakiku...
"MAMORU...!"
Selamat tinggal Shuuya. Aku akan terus mencintaimu... Sekarang dan selamanya...
To be Continued
Ah... Chapter ini kok... ANCUR BANGET! 0_0
Tedaak! Saia benar-benar jadi author angst ini! DX
Uuh... Chapter ini Saia buat se-angst mungkin, tapi sepertinya masih banyak kekurangan dan kurang berasa angstnya ya...?
Um... Saia balas review dulu...
yue:
Ufufufu... Saia jadi cinta sama angst.. (plaaak!)
Iya. Saia masih pemula(?) di genre angst ini, jadi...
Kasihan Ichirouta dan Mamoru... T_T
Ichi: Terus kenapa aku dibikin koma?
Mamoru: Dan aku disuruh bunuh diri?
Dika: Mamoru kan masih dapet kesempatan hidup ampe chap 2. dan Ichirouta juga nantinya akan bangun lagi kok... =_=
Arigato reviewnya, yue-san... ^^
Miyuki Shinra:
Welcome, welcome! (plak!)
Kalau di chap 1 adalah curhatan(?) Ichirouta, maka di chap ini adalah isi hati Mamoru! XD
Kalau chap depan? Kira-kira siapa lagi yah yang akan kena bencana? (author digebukin seluruh chara Inazuma)
Wah, Miyuki-san adeknya Yue-san? XD
Arigato... X3
De-chan Aishiro:
Nyawa Ichirouta masih di awang-awang(?), sedangkan Mamoru hanya selamat untuk 1 chapter saja... (plakk!)
Uh... Saia gak tega ama mereka, tapi saia ingin mengeluarkan(?) isi hati mereka masing-masing. Dan akhirnya Mereka harus kena bencana(plak!) supaya perasaan Mereka jadi lebih berkesan... T_T
Huu... Sebenarnya, situasi Ichirouta di fic ini agak sama seperti saia... T_T (author buka kartu)
Huhuhu... Saia terharu, De-chan... T^T
Ung...? Diary Ichirou? Hmm.. Mungkin bagus juga kalau dibongkar di chapter terakhir?
Mamoru terlanjur merasa bersalah banget ama Ichirou, jadinya gelap mata...(?)
Arigato, De-chan... XD
'Aka' no 'Shika':
Jangan khawatir, Dilla-san. Mamoru tak jadi bunuh diri. Setidaknya sampai akhirnya dia jatuh dari rumahnya sendiri... (plak!)
Dan akhirnya Shuuya akan jadi gila... (Dikeplak seluruh fans Shuuya)
Hn.. Sepertinya tema fic ini memang 'cinta yang tak terbalas', 'cinta tak kesampaian', 'cinta bertepuk sebelah tangan', dan lainnya... (bukannya ketiga kalimat itu artinya sama saja? 0_0)
Jadi.. nantinya Ichirouta akan sama... Ee.. Siapa ya? 0_0 (plak!)
Uh, lihat saja dulu perkembangan ceritanya...?
Arigato krn sudah menyempatkan diri untuk mereview fic gaje saia diantara kesibukan Anda... ^^
~With Kuriboh's egg piece~
Dika the Reborned Kuriboh
